Win Over Deluxe (Chapter 2)

Win over deluxe pic 2.jpg

Title : Win Over Deluxe | Author : Bitebyeol | Main Cast : Choi Alessa (OC/YOU) and Park Chanyeol, other cast will find by yourself | Genre : Romance Fluff Fantasy | Lenght : 2/3 | Rating : Teen

!!THIS FANFIC IS PURE MINE, DON’T BE A PLAGIATOR!!

Originally posted in my own blog

https://hanajinani97.wordpress.com/

 

PREV >> PART 1

 

 

~Happy Reading~

 

 

“Selamat pagi Putri Choi Alessa.”

 

Degg,

Suara berat seorang pria menyapa membelakangi tubuhku.

‘Selamat pagi Putri Choi Alessa?’ Itu bukan suara Luhan dan juga bukan suara milik Sehun. Aku tidak mengenal karakteristik suaranya, sangat berbeda dengan suara berat Ayah . Kamarku berada di lantai dua dengan bangunan istana yang cukup tinggi. Seseorang telah menyusup masuk. Bahuku menegang, berusaha memutar tubuh menghadap kearah jendela dibelakang. Aku menatap sosoknya dengan kaki melemas. Pria itu menyandarkan tubuh tingginya di sisi dinding sebelah jendela. Tubuhnya terbalut setelan berwarna hitam dan shirt turtle neck menutup leher jenjangnya. Jakunnya bergerak pertanda ia menelan salivanya tak lepas menatap tubuhku. Tangan kirinya yang menjuntai tertutup oleh sarung tangan bergerak terlipat dengan lengan lainnya didepan dada. Pria itu.. dengan seringai senyum dan pandangan mata misterius ….

 

 

 

“Pangeran Chanyeol…….”

 

 

Tubuhku seperti terjebak dalam gumpalan salju es begitu melihat sosok tingginya. Meski sudut bibirnya tersemat senyuman tipis, aku tahu itu bukan pertanda baik. Hal-hal buruk mulai berkecamuk didalam pikiranku. Pangeran Chanyeol pasti memiliki niat khusus hingga menyelinap kemari. Pikiranku baru saja sedikit merasa tenang dari pertunangan tadi malam. Tetapi sekarang? Kenapa dunia ini tidak mengizinkanku relaks sedikit sih?

Sosok Pangeran Chanyeol dapat didiskripsikan sebagai malaikat dan demon yang menyatu. Benar apa yang telah Luhan katakan. Dalam jarak beberapa langkah ia tampak seperti seorang pria yang hangat. Namun, aku tak tahan dengan tatapannya yang begitu menghujam ke arahku. Bersama seringai diwajahnya, lengan Pangeran Chanyeol bergerak menurun dan ia melangkahkan mendekat.

“Mengapa tak menjawab salamku Putri Alessa?”

Salam yang berarti sopan santun? Apa menyelinap ke dalam ruang pribadi milik seorang putri dapat dikategorikan sebagai tindakan sopan? Seharusnya lidahku mampu mengucapkan kalimat itu kepadanya, namun bibirku masih setia mengatup. Aku tak peduli bagaimana caranya Pangeran Chanyeol dapat melewati penjagaan yang ketat disekeliling kastil. Kekuatannya pasti tak hanya sebatas fire controlling. Mengingat ia adalah salah satu legenda seperti yang dikatakan Luhan, menerobos masuk kekamarku dengan tinggi terletak belasan meter bukan suatu hal sulit baginya. Hanya satu hal yang harus kulakukan sekarang, keluar dari kamar ini.

Seharusnya semua berjalan seperti yang kuperkirakan, aku hanya perlu membuka gagang berlapis emas dari kedua belah pintu kamar lalu menghirup udara luar. Namun, sebuah sengatan panas merambat dengan cepat membuatku berjengit segera menarik tanganku. Gagang pintu itu berpendar kemerahan persis seperti besi yang ditempa oleh bara api. Bahkan kedua belah pintu yang menjulang dihadapanku saat ini tampak terselubungi oleh hawa panas transparan. Aku menolehkan wajah kebelakang, Pangeran Chanyeol duduk di atas tempat tidurku dengan kedua lengan terlipat. Seringainya terlihat semakin dalam dan angkuh. Ia mencoba menghalangiku untuk keluar sekaligus pamer kekuatan membuatku terkurung dikamar sendiri.

Para pelayan yang sangat mengormati privasiku tak mungkin berani datang kemari. Luhan… Biasanya ia sering datang kekamarku. Namun, sialnya bayangan Luhan yang dikelilingi para wanita di bar membuatku semakin putus asa. Hiks.. Kuhapus dengan kasar cairan hangat yang terasa menggenang di pelupuk mata. Aku tidak ingin salah mengambil keputusan lagi.

.

.

Akhirnya seperti sekarang, menuruti kemauan Pangeran East Northeast itu dengan tetap menjaga jarak dengannya. Namun, sofa yang seempuk kapas ini tetap tidak terasa nyaman bagiku.

“Santai saja Putri Alessa, tidak perlu tegang.” Apa ini artinya dia memulai pembicaraan? Perkataan lembutnya terkesan dibuat-buat. Aku hanya dapat menelan ludahku sendiri saat Pangeran Chanyeol bangkit berdiri menuju sepiring spaggeti diatas meja nakas. Tangannya yang tidak terbalut sarung tangan melakukan gerakan memutar dengan garpu. Olahan makanan khas favoritku itu sukses berakhir dalam kunyahan mulutnya. Cara dan gestur Pangeran Chanyeol makan terlihat seperti dalam tayangan iklan. Ah, kenapa perutku terasa lapar?

“Aku sering penasaran apa yang seorang putri lakukan di pagi hari seperti ini.” Begitu alasannya. Aku menatap wajah Pangeran Chanyeol lurus-lurus, menyiratkan maksud ‘Apa urusanmu?’

“Tak kusangka ternyata bermalas-malasan adalah kebiasaan putri kerajaan West.” Sepertinya dia sengaja memancingku untuk berbicara. Tapi tak perlu menyindir hanya dengan bukti seadanya. Memangnya dia pikir aku harus latihan berkuda atau merangkai bunga setiap hari?

“Jangan sembarangan menuduh. Bukankah ini pertama kalinya kita bertemu secara langsung? Aku juga terkejut mengetahui salah satu pangeran East Northeast memiliki hobi tidak berperikebangsawanan, memasuki kamar wanita melalui jendela.” Sengaja kutekankan ucapanku. Ah ternyata bisa juga ya gaya berbicara panjang lebar diterapkan kepada orang selain Luhan. Meski sedikit was-was menyadari siapa lawan bicaraku sekarang. Tetapi, bukannya kemarahan yang terpancar dari raut wajahnya, melainkan ekpresi datar seperti manusia tak berdosa. Mungkin pangeran satu ini terlalu banyak mempelajari cara berimprovisasi, seperti.. strategi perang?

“Aku sengaja menyewa kamar pribadi khusus yang menyuguhkan pemandangan indah dari hotel terbaik di kota ini. Untuk waktu berlibur beberapa hari, kurasa akan terbuang percuma jika tidak berkenalan lebih dekat dengan Putri Alessa.”

Suara beratnya seolah memantul pada dinding. Sedikit jengah mendengarnya berbicara berbelit-belit. Pangeran Chanyeol mengikuti pergerakan sudut mataku yang melirik pintu kamar. Tetapi hanya keputus-asaan yang kembali kudapat, selubung panas transparan itu masih bertahan membentuk pendar perisai.

“Menemui anggota kerajaan dapat dilakukan secara resmi dengan meminta kepada raja atau perdana menteri secara langsung.”

Lagi-lagi diluar dugaan. Sesaat setelah aku berbicara, deraian tawa ringan Pangeran Chanyeol terdengar. Ia menghentikan tangannya pada lekuk torso dimana salah satu gaunku terpasang disitu. Apa dia benar-benar tidak pernah memasuki kamar wanita sebelumnya? Ia terlihat sibuk mengamati barang-barangku sejak tadi. Oh, ya ampun baru kusadari saudara satu-satunya hanyalah Pangeran Yi Fan, berbeda dengan Luhan dan aku.

Rasanya seperti sudah satu jam berada diruang introgasi dengan ditatap seorang pangeran sebagai penyidik. Mungkin kali ini Pangeran Chanyeol merasa tersingung dengan ucapanku. Lagipula aku berbicara benar kan, kenapa dia harus menatapku seperti membidik buruan.

“Untuk menemui seorang putri seharusnya meminta izin kepada sang ayah. Seandainya saja Raja Choi Jin Hyuk tidak ada pertemuan di luar kota.”

Apa? Ucapannya itu seolah membalikkan kebenaran untuk dirinya sendiri. Meski samar, sudut di kedua bibir Pangeran Chanyeol menyiratkan senyum kemenangan. Sekilas bola matanya tertumbuk menemukan pemandangan yang bersumber dari meja riasku. Dahinya sedikit berkerut. Pangeran Chanyeol pasti menganggapku sebagai gadis yang tak tahu merapikan barang bahkan untuk peralatan kecantikannya sendiri. Luhan pantas untuk disalahkan untuk hal yang satu ini.

“Lalu sebenarnya apa maksud Anda menemui saya ?” Bicaraku terkesan secara langsung menuntut, derap langkah Pangeran Chanyeol berjalan mendekati sofa. Kali ini apa dia sedang pamer gaya berjalan bak model? Kenapa tidak langsung berterus terang saja menghadap kerajaan mengenai masalah penanaman saham atau kerja sama apalah, bukannya mendatangiku yang tidak tahu apa-apa ini.

“Aku tidak yakin Raja Choi Jin Hyuk akan menerima kedatanganku, putrinya akan menolak dan beralasan suatu hal. Bukankah diruangan ini ada seorang gadis yang merasa tertekan dengan pertunangannya sendiri?”

Bukan jenis pertanyaan yang dapat terjawab atapun dapat disangkal. Perkataannya bagai pisau yang menghujam tepat di ulu hatiku, rasa terkejut, tersinggung dan sedih seolah bercampur menjadi satu. Apa keraguan ini begitu kentara dimata orang lain? Aku tak bisa menahan lagi saat buliran kristal bening menerobos keluar, deras membasahi kedua pipiku.

.

.

.

.

.

.

Pukul 7 malam, sebuah mobil berwarna hitam metalic berhenti tepat didepan gerbang. Aku sengaja meminta bantuan Pengawal Seo untuk membantuku keluar istana dengan mudah dan tentunya merahasiakan hal ini. Aku tak mempedulikan fokus pandanganku yang lurus memikirkan hal lain. Aku dan Chanyeol sama-sama terdiam di dalam mobil. Sementara ia fokus menyetir, sesekali sudut matanya melirikku. Air mata yang sengaja telah susah-payah kuhapus tidak ingin kuperlihatkan lagi dihadapan Chanyeol. Pria brengsek dengan bungkus pangeran disampingku sekarang berhasil membuatku kembali terhempas kedasar. Bukan lagi rasa ragu, tapi kini keyakinanku telah enggan mengakui pertunangan ini. Meski cincin yang kuraba sekarang adalah buktinya.

Tak perlu lagi menambahkan sebutan formal untuk Chanyeol, beberapa jam lalu baik aku maupun dirinya telah memanggil dengan nama. Mengatainya kurang ajar berani menyudutkan hingga membuat menangis wanita sepertiku. Chanyeol yang tetap dengan raut datarnya memelukku seusai kata-kata tajamnya terucap. Meski aku tidak begitu yakin ia bersikeras menahan keterkejutannya melihat sisi terapuh seorang wanita.

“Tidak ingin turun?”

Suara berat Chanyeol mengejutkanku dari lamunan. Melihat ke arah luar mobil, pandanganku tak lagi menangkap gemerlap dari lampu-lampu kendaraan dan gedung-gedung tinggi. Aku tak sadar beberapa jam ini Chanyeol membawaku dengan mengendarai mobilnya berkeliling kota. Karena sengaja meninggalkan ponsel dan jam tangan, aku hanya dapat menebak saat ini sudah larut malam. Suasana taman  hanya dilalui oleh beberapa pejalan kaki dan saat ini gerimis mulai turun.

“Sekarang langit yang menangis karena melihatmu keluar istana.” Keadaan dramatis yang sesuai moodku saat ini tiba-tiba berubah mengesalkan. Apa memang sudah kebiasaannya berbicara tajam kepada orang lain?

“Benar-benar gadis bodoh. Jika terpaksa bertentangan dengan hatimu, mengapa harus menerima pertunangan.”

Seumur hidup baru kali ini ada orang lain yang berani menyebutku bodoh. Hanya Luhan yang boleh menyebutkan kata-kata itu. Chanyeol, kau membuatku sangat emosi. Tapi kenyataannya aku membutuhkan seseorang menegurku dengan keras. Salahku dengan mudah menerima pertunangan ini yang jelas-jelas menentukan kebahagianku dimasa depan. Tidak sampai seminggu saja aku sudah merasa tersiksa, bagaimana jika menikah seumur hidup?

“Apa yang bisa kulakukan jika Ayah yang telah memintanya? Aku tahu beliau memang bertanya mengenai pendapatku, tapi bukan jenis pertanyaan seperti itu yang kutangkap.” Secara tidak langsung mengharuskanku menerima pertunangan Pangeran Sehun. Sebaliknya aku mulai berfikir bahwa pertunanganku hanya untuk kepentingan dua belah kerajaan saja. Bagaimana bisa menjadi semudah itu. Tanpa sadar aku melampiaskan semua dengan satu kali bicara, ah ini akibat aku terlalu memendam pikiran seorang diri. Sementara aku juga tak mengerti sedang bersama Chanyeol yang merupakan musuh atau bukan.

Aku menoleh kearahnya, menunggu ia berpendapat. “Ternyata apa yang dipikirkan oleh wanita itu memang rumit.”

Bukannya terlalu berlebihan, tapi aku tidak bisa terlalu santai juga saat menyadari hubungan sakral itu. Chanyeol terlihat membuka laci dasbor dan ia menemukan sebungkus besar roti dan langsung merobek bungkusnya.

“Mau makan?”

Chanyeol menawariku makanan dengan lembut, tetapi wajah angkuhnya itu tak juga berubah melunak sedikit. Dasar pangeran yang tidak ramah. Seharusnya ia memang dilabeli sebagai seorang musuh ketimbang teman. Eh, teman? Sejak kapan?

“Roti ini baru kubeli tadi pagi.” Chanyeol berbicara, tak ingin suaranya tertelan oleh hujan yang semakin deras.

“Untukmu saja, aku sudah makan tadi sore.”

Aku menolak dengan halus, tetapi bunyi ‘kruuk’ yang berkoor bersamaan ternyata mampu mengalahkan suara hujan. Perutku ini mengapa berbunyi disaat yang salah. Chanyeol juga tampak kesusahan memasang sikap keren untuk menutupi rasa malunya. Intinya perut kami sama-sama bersalah. Chanyeol menyerahkan sebagian roti itu untukku dan tanpa sadar deraian tawa ganda kami terdengar.

“Menurutmu, apa yang akan terjadi jika pertunangannya dibatalkan? Maksudku, jika kukatakan secara langsung kepada Ayah.”

“Itu hanya akan mengecewakan banyak pihak. Aku rasa seorang raja tidak akan semudah itu memutuskannya jika alasannya terlalu klise. ”

“Hmm, ya. Ayah pasti akan semakin mendekatkanku pada Pangeran Sehun, lalu otomatis membatasiku berteman dengan pria lain.” Ah, tanpa terasa roti ini telah habis berpindah keperutku.

Chanyeol mengunyah satu gigitan roti didalam mulut dan menelannya dengan cepat. “Itu tidak akan terjadi jika kau punya satu alasan yang kuat.” Oh ya, apa itu ? Aku terbelalak terkejut saat Chanyeol membisik ditelingaku mengenai rencana gilanya. Niat untuk berbicara menjadi terhenti, Chanyeol meraih tangan kiriku dan menarik cincin yang terpasang dijari manis. Ia membuka pintu mobil, membiarkan tubuhnya basah oleh hujan. Diluar sana ia menyeringai tepat didepan mobilnya, menantangku untuk keluar.

.

.

.

Aku memeluk tubuhku yang menggigil kedinginan. Badanku menjadi basah kuyup karena hujan-hujanan tadi. Untungnya Chanyeol membawaku ke kamar hotel tempatnya menginap, biarkan saja lantainya menjadi basah oleh tetesan air dari pakaianku. Chanyeol muncul dari balik pintu dengan sekantung plastik besar ditangannya. Ketika ia menyerahkannya padaku, kulihat ada gaun berlengan didalamnya. Beberapa menit kemudian aku keluar dari kamar mandi mengganti bajuku yang sudah basah dan melepaskan gelungan handuk dari rambut. Gaun yang dibelikan Chanyeol ternyata cocok untukku. Sedikit bingung bagaimana ia tahu ukurannya ya. Jika aku tahu dia keluar tadi untuk membelikanku pakaian, sudah tentu aku akan menyuruhnya memilihkan sweeter rajut. Gaun tipis ini membuat hawa dingin semakin terasa menusuk tulangku. Tidakkah Chanyeol ingin meminjamkan mantel hangatnya? Biar bagaimanapun aku kedinginan begini disebabkan oleh Chanyeol.

Chanyeol berjalan kearahku dengan setelan kemeja hitam dan rambut acak-acakan yang setengah basah. Entah kenapa saat ini aku sudah tidak terlalu takut kepadanya. Awalnya kupikir ia akan kembali memelukku, tetapi kedua tangannya menangkup pipiku menyalurkan rasa hangat. Kusadari tangan kirinya tidak terbalut sarung tangan. Kehangatannya membuatku terpaku, kali ini sosoknya tidak lagi sedingin diawal pertemuan. Namun berganti menjadi hangat, hangat yang sesungguhnya hingga merayap membuat perutku tergelitik. Selama beberapa saat, pipiku terasa memerah karenanya. Chanyeol menurunkan tangkupannya, kulihat titk-titik aliran darah didalam telapak tangan kirinya tampak lebih merah keseluruhan, berbeda dari telapaknya yang lain. Kurasa itu sebabnya selama ini ia menutupinya dengan sarung tangan.

“Masih kedinginan ya?”

Chanyeol mulai melepas kait kancing kemejanya kemudian tangannya bergerak kebelakang punggungku, menarik resleting gaun dari sana. Ia mendorong tubuhku ke atas tempat tidur, lalu selanjutnya tubuhku yang telah polos benar-benar menjadi hangat.

.

.

.

.

.

Aku membuka mata dengan pandangan samar menghirup udara pagi yang berhembus. Kepalaku terasa sakit berdenyut-denyut. Mungkin efek akibat air hujan itu, tak hanya sakit kepala tapi badanku juga terasa pegal. Aku mengedarkan pandangan menyadari telah berada dikamarku sendiri. Otakku berusaha merangkai memori dini hari tadi. Sensasi hangat Chanyeol bahkan masih tersisa ditubuhku. Apa yang telah aku lakukan dengannya ya? Membayangkan hal itu membuat hatiku merasa senang. Beruntung sekali ia mengantarkanku pulang tanpa ada yang tahu. Sesuatu yang lembut membuatku menoleh kesebelah. Luhan menyembul dibalik sebuah boneka beruang putih besar. Ya ampun Luhan wajahmu bahkan lebih cocok menjadi boneka.

“Sehun mengantarkan hadiah boneka ini. Dia baru saja pulang setelah menjengukmu.”

Menjenguk? Apa aku sakit? Aah, badanku terasa panas. Di samping Luhan ada Dokter Ahn yang sedang berdiri. Padahal aku hanya demam biasa kan, rasanya semua orang menjadi khawatir. Tiba-tiba Luhan menyodorkan segelas air putih lalu setelah aku menenggak sedikit ia menyuguhkan sepiring spaggeti padaku. Dasar Luhan, orang sakit tetap saja diberikan spaggeti. Tidak mungkin kutolak sih. Tetapi bayangan kepala Chanyeol seolah muncul dari balik piring membuat spaggeti yang akan kutelan tersangkut di tenggorokanku. Aku cepat bangkit menuju wastafel dan muntah-muntah. Perutku rasanya seperti tak ingin dimasuki makanan.

“Alessa ?? Kau tidak apa-apa kan?” Aku hanya mengangguk lemas pada Luhan dan kembali ketempat tidur. Perutku benar-benar mual. Aku rasa ini gejala masuk angin. Tetapi aku melihat Luhan dan Dokter Ahn berbisik-bisik cemas. Menyadari itu mengingatkanku akan suatu ide.

“Kepalaku sakit, perutku terasa mual Luhan. Kenapa aku jadi ingin makan buah yang rasanya asam ya?”

.

.

.

.

Aku tidak dapat merasa senang ataupun menyesal dengan ucapanku. Faktanya, setelah aku menunjukkan gejala kehamilan, Ayah dan Perdana Menteri Kang mendatangi kamar dan mengintrogasiku. Aku berfikir pada awalnya Ayah samasekali tidak curiga mengenai kepergianku tadi malam. Namun, ternyata Ayah selalu mengawasi tanpa sepengetahuanku.

“Jadi Alessa, selama ini sering pergi keluar bersama Pangeran Chanyeol? Sejak kapan Alessa suka mengabaikan izin? Mengapa tidak memberitahu Ayah jika kalian saling mengenal?”

Aku tak tahu yang mana pertanyaan Ayah yang harus kujawab lebih dulu. Pengawal Seo berdiri diseberang dengan pandangan menyesal. Aku tahu, Ayah yang telah memaksanya berbicara. Ceroboh sekali Alessa. Aku tak mengira Ayah sudah kembali saat malam. Sebaiknya keadaan ini kugunakan untuk membicarakan mengenai pertunangan. Tapi, apa aku harus mengatakan Chanyeol sebagai kekasihku ? Sementara kami hanya sebatas saling mengenal menjadi teman lalu tidur bersama. Ah tentang tidur bersama itu juga karena Chanyeol ingin menghangatkanku. Namun, bodohnya aku sudah berlagak seolah tengah mengandung dan Dokter Ahn baru saja memberitahu Ayah mengenai indikasi ke arah sana. Lalu aku menjadi semakin tak tega melihat raut kekecewaan diwajah Ayah saat tidak bisa menunjukkan cincin pertunangan di jari manisku. Chanyeol mengambilnya tadi malam. Ayah terlihat memegang pelipisnya.

“Sepertinya pertunangan ini tak bisa dilanjutkan. Perdana Menteri Kang, kita akan berbicara dengan Raja Oh sore pekan nanti.”

.

.

.

.

.

Demamku sudah berangsur turun. Luhan benar-benar mencarikan buah berasa asam untukku. Tetapi anak itu menghilang lagi setelah menyerahkan sepiring daging buah yang telah dikupas. Luhan bilang buahnya bernama mangga dan ternyata rasanya enak sekali. Aku tidak tahu darimana Luhan mendapatkannya. Hari ini aku benar-benar merasakan kebebasan sesungguhnya, tidak peduli bagaimana perjalanan pertunanganku berakhir. Lagipula Pelayan Yoon tadi memberitahuku jika Pangeran Sehun sebenarnya telah memiliki kekasih. Pertunangan ini tentu saja akan menyakitkan untuknya yang hanya berdasar hubungan bilateral kerajaan. Mulai saat ini aku bertekad untuk menemukan cinta sejatiku tanpa adanya paksaan. Omong-omong aku jadi teringat Chanyeol. Berkat dia juga pembatalan pertunangan ini akhirnya terjadi dan secara tidak langsung mengungkap kisah percintaan Pangeran Sehun. Aku berharap Kerajaan West Northwest tetap berhubungan baik dengan kerajaanku.

“Alessa…”

Suara berat milik Chanyeol itu… Kenapa Chanyeol masih gemar muncul dari jendela. Kali ini ia memakai setelan biru tua, jangan lupakan tangannya yang terbalut sarung tangan. Ia memandangku dengan tatapan ramah yang baru pertama kali kulihat.

“Chanyeol…”

“Chan… akhirnya pertunanganku dibatalkan.” Tanpa sadar tubuhku reflek menerjang memeluk tubuhnya.

“Benarkah? Sepertinya kelihatan sangat senang.” Aku mengangguk melepaskan pelukanku. Saat ini kecanggungan diantara kami benar-benar telah hilang dan aku mulai terbiasa mendengar suara berat miliknya.

“Lalu, setelah ini apa yang akan kau lakukan?” Kuarahkan pandangan menatap langit malam melalui jendela besar yang terbuka, aku sudah rindu ingin berkuda, latihan memanah bersama Luhan, menyulam bersama Ibu dan memasak bersama Pelayan Yoon. Chanyeol mengikutiku duduk pada sofa.

“Aku masih terlalu muda, rasanya terlalu sayang untuk melewatkan kesenangan. Bagi seorang gadis sepertiku, kebebasan merawat diri dan mengembangkan bakat itu sangat penting.”

”Begitu ya.. Bagaimana mengenai calon suami dan anak-anakmu nanti?”

Pertanyaan yang satu ini… “Meskipun aku banyak memiliki teman-teman pria yang mengenalku diluar sana, namun belum satupun ada yang membuatku yakin. Tetapi, tentu saja aku juga mulai berfikir mengenai pasangan yang benar-benar kucintai kelak.” Chanyeol tampaknya tak berminat menanggapi jawabanku, aku tertarik untuk bertanya tentangnya.

“Bagaimana dengan dirimu Chan? “

“Aku…. aku sudah menemukan calon pendampingku.” Seorang pangeran seperti Chanyeol pasti sudah memiliki calon pendamping. Dalam hati aku turut senang mendengarnya.

“Ah ya, kau ini seorang pangeran, setelah ini kau akan kembali mengurus pemerintahan.” Kulihat ia tersenyum tipis.

“Ya, tentu . Masih banyak hal yang akan kuurus.”

Tiba-tiba aku menjadi teringat sesuatu, “Oh ya Chan, kau tenang saja, Ayah pasti akan mempertimbangkan masalah penanaman saham dan kerja sama perusahaan wine kerajaanmu. Bukankah dari sekedar menemui diriku, hal itu lah yang kau inginkan ?”

Wajah Chanyeol yang tertimpa pencahayaan kentara berubah sendu. Rautnya yang semula menghangat perlahan mengeras. Apa aku salah bicara? Chanyeol tidak menjawab melainkan semakin mendekat dan menautkan bibir tebalnya dibibirku. Lumatan yang semula halus menjadi semakin liar saat lidahnya mulai bermain didalam mulutku dengan sensasi menggigit. Aku hampir tak dapat bernafas dan segera mendorong dadanya. Chanyeol mencuri ciuman pertamaku. Tak jelas apa maksudnya. Selama beberapa saat kami saling terdiam.Namun tatapan Chanyeol seperti menahan sesuatu dariku. Aku butuh penjelasan darinya.

“A..apa mulai sekarang kita sudah benar-benar…berteman ?”

Untuk pertama kali aku melihat Chanyeol tersenyum penuh ketulusan kepadaku, namun sorot matanya seperti menyiratkan kekecewaan.

“Ya, Al semua yang kau katakan benar. Liburanku telah berakhir, aku akan segera pulang. Senang berkenalan denganmu, Putri Alessa”.

Tangannya merogoh saku dan mengulurkan cincin dari Sehun yang saat itu diambilnya dariku. Entah kenapa aku menangkap nada kesedihan dibalik ucapannya. Chanyeol menyentuh pelan puncak kepalaku, kemudian ia bangkit berdiri lalu menghilang kebawah jendela seolah ditelan gelapnya malam. Apa ini salam perpisahan darinya? Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang telah hilang, ia meninggalkanku sendiri.

 

Jika aku mulai mencintai seseorang, apa aku harus membiarkannya pergi ?

Dan jika seseorang mulai menyukaiku, haruskah dia pergi meninggalkanku ?

Terdengar bunyi raungan sirine pemadam kebakaran dari jauh. Pintu kamarku terbuka dan Luhan berdiri dengan raut wajah tak lagi riang.

“Kebakarannya terletak di pusat pabrik wine yang bersebelahan dengan taman anggur. Ibu terjebak disana.”

Seketika kobaran merah terbayang dalam penglihatanku. Aku tak dapat berfikir lebih jauh saat menahan dibagian bawah perut dan selangkanganku yang kembali terasa nyeri dan sakit. Pandanganku mulai buram. Aku jatuh dalam pelukan Luhan.

 

END ? . .

 

  • Halo, readers, Kira-kira hubungan Luhan Alessa itu apa? Di salah satu paragraf pada part ini udah tertulis secara gak langsung , yang tau tulis di kolom komentar ya~ Dan mohon mereview ff ini , Gamsa ^

 

13 thoughts on “Win Over Deluxe (Chapter 2)

  1. Mungkin luhan ama allessa itu saudara,…
    Dan apa mungkin yang bakar tuh gudang itu chanyeol yang udah ngerencanain dengan mendekati allesa dan menghancurkan keluarga dengan membatalkan pertunangan,,,lebih baik lanjut deh eonn , habis bikin penasaran, kan seru kalo chanyeol ada ada rasa sama allesa tp di sembunnyiin,,,,cinta di dalam permusuhan gitulah

  2. lho lho lho, ini kenapa eh? Emang luhan siapa? Bukannya saudaranya alessa? Trus kenapa tiba2 kebakaran? Apa chanyeol pelakunya? Wah wah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s