Holiday Season: Summer Breeze Festival

Holiday Season; Summer Breeze Festival

Title                      : Holiday Season: Summer Breeze Festival

Author                 : deera

Cast                       : Park Chanyeol (EXO), Shi Jihan (OC)

Genre                    : Romance, semi-friendzoned, memories

Rating                   : General

Length                  : Oneshoot

Disclaimer         : Tidak ada fiksi yang original. Bisa saja kisah itu datang dari masa lalumu, curhatan sahabatmu, kejadian yang kau temui pagi ini di jalan, atau kelak akan membuatmu bergumam, “Ini aku banget!

Selamat tenggelam dalam setiap cerita!

 

 

.

.

.

 

Siang itu, Chanyeol berdiri di hadapan cermin setinggi tubuhnya di dalam kamar. Ia mengenakan T-shirt abu-abu yang sangat pas di badan. Walaupun panas, ia tetap tidak ingin sinar matahari yang jahat membakar kulitnya yang agak pucat. Maka ia melapisinya dengan kemeja lengan panjang berwarna navy yang sengaja tak dikancingkannya.

 

Chanyeol mengacak rambutnya sedikit, memberi kesan tak terlalu formal pada penampilannya—selain ia juga mengenakan celana jeans selutut berwarna putih dan berencana memakai Keds cokelat tanpa tali. Ia juga menyambar sebuah topi yang selalu jadi trademark-nya.

 

Ia meraih ponsel dari atas meja dan bergegas keluar kamar, mendapati Shi Jihan sedang duduk memunggunginya. Cewek itu tengah menyantap salad buah yang Mama Park buat beberapa waktu lalu.

 

Mendengar suara pintu tertutup, Jihan segera menyahut, “Kau sudah siap, Yeol?” Ia tak perlu repot-repot berbalik karena hafal betul siapa yang kini tengah berada di belakangnya.

 

“E-eoh,” tak sadar, Chanyeol bahkan gelagapan menanggapi pertanyaan Jihan barusan. “Kau sudah lama menunggu?” tanyanya sembari menarik sebuah kursi di sisi Jihan.

 

Ani, aku baru saja datang,” masih tanpa menoleh, ia meletakan garpu kecil di sisi mangkuk kosong dan segera berdiri, “ayo pergi sekarang.”

 

Keduanya hanya perlu menaiki bis dan turun di halte berikutnya. Karena hari sangat panas, keputusan untuk berjalan kaki dibatalkan sepihak oleh Chanyeol. Ia tidak mau jadi ikan asin saat sampai di tujuan. Tak perlu waktu lama, keduanya lantas disambut oleh deretan tulisan besar-besar: Festival Musim Panas Tahunan Sekolah Menengah Hoegi di sebuah gerbang tinggi menjulang di hadapan mereka kini. Mata Chanyeol memicing dan kepalanya sedikit tengadah saat membacanya.

 

“Kenapa nampak sepi begini? Jihan-ah, mungkin saja festivalnya dibatalkan,” sahut Chanyeol asal sambil sebelumnya mencolek bahu Jihan.

 

Jihan menoleh. “Tidak mungkin!” Ia mendekat ke sebelah Chanyeol. “Kau tahu kan, sekolah ini besar sekali. Jarak dari gerbang menuju kelasnya kudengar sampai satu kilo!”

 

Wajah Chanyeol melongo tak percaya. “Apa tidak ada angkutan yang membawa kita ke dalam?”

 

Jihan tertawa pelan. “Ayo jalan!”

 

Chanyeol dan Jihan memasuki pelataran sekolah. Mereka berjalan pada sebuah trotoar yang dibangun di sisi kanan dan kiri jalan utama yang diteduhi oleh pepohonan besar. Chanyeol bisa melihat jelas sebuah tiang bendera di tengah-tengah sebuah lapangan besar tepat di depan gedung sekolah. Dan semakin mereka berjalan ke dalam, suara-suara ramai mulai terdengar.

 

Sampailah mereka. Di sisi barat, sebuah tenda besar berdiri, menaungi puluhan—bahkan ratusan pengunjung yang datang. Tenda besar itu terdiri dari berbagai sub-tenda yang memajang banyak hal. Dan para pengunjung dapat membeli apapun yang mereka inginkan—tentu hanya yang ada di sana.

 

Mata Jihan membulat, takjub dengan pemandangan di depannya kini. “Yeol, aku mau cari minum dulu ya. Aku haus sekali.”

 

Baru saja selangkah Jihan beranjak, Chanyeol menahannya dengan menarik sebelah lengannya. Membuat Jihan menoleh kembali. “Ayo kita pergi bersama,” tutur Chanyeol.

 

Keduanya kini tenggelam di tengah-tengah kerumunan itu. Jihan sibuk menyeruput jus jeruk di genggamannya saat ia melihat beberapa siswa yang menjual makanan ringan. “Yeol, ayo kita ke sana.”

 

Jihan menunggu pesanannya dengan tak sabar. Sedangkan Chanyeol lebih tertarik dengan tenda di sebelahnya yang menjual miniatur gitar dari kayu. Ia menanyakan harganya dan mengerjap kaget. “Heish, mahal sekali,” komentarnya tanpa pikir panjang.

 

Siswa perempuan yang menjualnya segera mengibaskan tangan di udara. “Ini terbuat dari kayu pilihan, Oppa. Benar-benar bagus!” dua jempolnya terangkat dan senyumnya lebar.

 

Chanyeol kembali menatap miniatur gitar yang hanya sebesar genggaman tangannya itu. ia mengelus permukaannya yang terasa halus di jemarinya. “Aku akan membelinya,” katanya pada siswa penjual. Ia mengeluarkan dompet dari saku jeans dan menyerahkan beberapa lembar uang.

 

Tampak menimang-nimang, siswa itu mengembalikan selembar uang tadi pada Chanyeol. “Karena Oppa sangat tampan, aku memberikan diskon.” Tubuh siswa itu merangsek ke depan Chanyeol. “Oppa, kau dari sekolah mana? Nampaknya aku tidak pernah melihat senior sepertimu.”

 

“Heol. Sekarang kau bahkan menodongku dengan pertanyaan. Seharusnya kau memberiku gratis.”

 

Setelah pamit dari sana, kepala Chanyeol lantas menengang karena sosok Jihan tak ada di tenda sebelah. Ia bertanya kemana cewek itu pergi, tapi siswa penjual di sana tak ada yang tahu. Ia meraup wajahnya dengan telapak tangan. Lantas dengan segera ia meraih ponsel di saku celana dan menekan beberapa nomor. Setelah nada sambung terdengar dua kali dan digantikan oleh suara cewek itu, dalam hati Chanyeol benar-benar merasa lega.

 

“Aku tadi bertemu seorang muridku. Mereka menarikku supaya datang ke tempat mereka,” katanya di tengah-tengah tawa yang melingkupinya.

 

“Di mana itu? Aku ke sana.”

 

“Hm….”

 

Chanyeol menerobos lautan pengunjung yang semakin menggila. Festival macam apa yang membuatnya seterkenal ini dan banyak sekali orang yang datang, keluh Chanyeol dalam hati. Setelah mencari petunjuk yang diberikan Jihan, ia akhirnya melihat sosok mungil itu di antara belasan siswa laki-laki yang mengelilinginya dan sedang bercanda dengannya.

 

Sedikit membetulkan penampilannya, Chanyeol lantas menghampiri tenda tersebut. Dari jauh, satu dari mereka ada yang menyadari kedatangannya. Anak itu mencolek bahu Jihan dan menunjuk ke arah Chanyeol, membuat cewek yang hari ini mengikat rambutnya tinggi-tinggi itu menoleh dan menyunggingkan senyuman.

 

“Kau tidak tersesat, Yeol?” tanya Jihan saat Chanyeol tiba dan duduk di seberangnya.

 

“Sedikit,” ucapnya lirih. Ia menatap sekeliling yang ramai dan mengusap tengkuknya. Setelah diperkenalkan oleh Jihan, cowok itu menundukkan kepalanya dan bermain dengan sedotan di dalam gelas minumanya.

 

Noona,” salah seorang siswa itu memanggil Jihan, “apakah Chanyeol hyung ini yang sering kau ceritakan?”

 

Mendengar itu, Chanyeol menegakkan duduknya. Tubuhnya mendekat dengan dua tangan mendekap di depan. “Apa Noona ini sering membicarakan aku?”

 

Belasan siswa itu berebut ingin bercerita, membuat suasana menjadi hangat dan ramai bersamaan. Akhirnya satu dari mereka menjawab, “Jihan noona pernah bercerita tentang seorang hyung yang sangat malas mencatat. Ia selalu saja menguap saat Saem mengajar, juga kadang melamun dan melihat ke arah lain.”

 

Chanyeol mendengus kesal.

 

Noona juga bercerita tentang seorang hyung yang banyak makan,” anak itu menirukan gaya Jihan saat menceritakannya—meletakan kedua tangannya di pinggangnya, “’Apa di kepalanya itu hanya ada makanan? Kenapa selalu makan dan makan! Dia bilang, kalau sudah makan, ia bisa fokus belajar. Nyatanya dia malah tidur setelahnya.’” Anak itu bahkan berdecak sambil menggelengkan kepala.

 

Anak lain ikutan menyahut. “Noona juga bilang begini, ‘Kalian jangan sampai seperti salah seorang temanku yang dipermalukan Saem karena tidak bisa menjawab soal di papan tulis ya.’ Apakah itu Chanyeol hyung, Noona?”

 

Jihan menjawab semangat. “Eoh.”

 

Chanyeol tak kalah sengit membela diri. “Itu karena materinya belum diajarkan! Kau saja yang kelewat jenius. Teman sekelas kami yang lain tidak ada yang bisa mengerjakannya selain dia!” Chanyeol menunjuk Jihan tepat di hidung.

 

Tiba-tiba kumpulan itu kompak bertepuk tangan bersamaan. “Wah, Noona memang keren.” Lontaran pujian terdengar bertubi-tubi dan semua itu ditujukan untuk Jihan. Yang dipuji justru tersenyum malu dan berkali-kali menyelipkan anak-anak rambutnya di telinga.

 

Chanyeol merasa kalah telak hari itu.

 

Setelah obrolan yang cukup panjang, mereka akhirnya pamit pulang. Tentu saja mereka tidak pulang dengan tangan kosong. Anak-anak itu membekali mereka dengan macam-macam camilan yang bisa mereka makan saat perjalanan pulang.

 

“Terimakasih, uri dongsaeng untuk undangannya ke mari,” ucap Jihan sambil mengacak rambut mereka dan mengelus pipi satu-satunya siswa perempuan yang jadi murid lesnya, yang sedari tadi sibuk untuk mempersiapkan acara penutupan sehingga tidak bergabung dengan mereka.

 

“Eoh, Eonni! Kau benar-benar memakai dress favoritmu ya. Eoh, cantiknya!” pujinya lagi. Dress itu sederhana, hanya terusan selutut bermotif bunga-bunga, yang sangat bertemakan musim panas yang ceria, seperti ide festival kali itu.

 

Seorang siswa laki-laki berdiri di sisinya dan Chanyeol menyadari kehadirannya. “Ya, haksaeng! Kau harus memperlakukan Noona-mu dengan baik. Jadilah anak pintar supaya Noona-mu tidak menyesal sudah mengajarimu.”

 

Ia menatap balik Chanyeol yang sedang mengacak rambutnya. “Hyung juga. Kau harus menjaga Noona.”

 

“Kenapa aku?” Chanyeol tertawa tertahan.

 

“Kami mengundang Noona supaya datang dengan penampilan terbaiknya bersama dengan seseorang yang difavoritkannya,” anak itu menyikut Chanyeol, “dan Noona datang bersamamu Hyung. Apa artinya, kalau bukan kalian itu berpacaran?”

 

.

.

.

 

Bagaimana menurutmu, Park Chanyeol-ssi?

 

Bola mata cokelat itu menggerling nakal. “Hm…, menurutku….”

7 thoughts on “Holiday Season: Summer Breeze Festival

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s