I HATE YOU, MY STEPFATHER #2

I HATE YOU, MY STEPFATHER.jpg

Title : I HATE YOU, MY STEPFATHER #2 : What this?
Author : @Aqilua

Cast : Park Chanyeol, Hwang Nana (OC)
Genre : Romance, Drama, Hurt
Rating : 17+
Length : Chaptered
Disclaimer :

Semua murni dari dalam otaku sendiri! Bila ada beberapa kemiripan dengan cerita lain sekali lagi itu hal yang tidak disengaja.

°°°

No, I’m not bitter and I’m not unforgiving. I just hate you

°°°

“Minum lah”

Chanyeol berucap seraya meletakan secangkir teh hangat di hadapan Jaerim.”Hm.. terima Kasih Yeol” jawabnya dengan setengah bergumam. Jaerim mulai meraih cangkir teh yang diberikan Chanyeol dari atas meja lalu menyesapnya pelan sementara pria itu mengambil posisi duduk di sisinya dengan mata yang tak lepas untuk mengamatinya.

“Sudah merasa baikan?” Tanyanya lagi. Jaerim menoleh padanya dan tersenyum lemah terkesan menyembunyikan kepahitan. “Jangan terlalu dipikirkan. Itu hanya membebani otakmu” Chanyeol mengulurkan satu tanganya mengusap pelan helaian rambut panjang itu.

Tidak ia pungkiri hatinya berdesir tenang di mana kala jemari panjang Chanyeol menyentuhnya, seakan hal itu memberikan sebuah efek menyenangkan tersendiri baginya. Perlahan Jaerim meletakan cangkir tehnya di atas meja seraya menghela nafas. “Aku tidak tau ada apa sebenarnya dengan anak itu..” Ucapnya sambil menerawang. “Nana bukanlah anak pembangkang yeol. Aku tidak mengerti apa yang membuatnya seperti itu” Jaerim kemudian tertunduk memijat lemah keningnya.

“Seharusnya kau tau. Nana membenciku”

Jaerim menoleh cepat padanya dengan tatapan mata yang semakin sendu, tanganya mengusap sayang pipi mulus pria itu. “Tidak.. jangan menyalahkan dirimu seperti itu. Sebelum aku bertemu denganmu.. aku dan Woobin memang sudah tidak harmonis. Aku yakin.. Nana juga menyadarinya” Ada kesedihan disetiap kata yang Jaerim ucapkan membuat kedua matanya memerah dan mulai menampakan kaca.

Semua berawal dari perasaan hambar dan bosan pada pria bernama Hwang Woobin itu. Sejak karir Jaerim melonjak pesat ia jarang pulang ke rumah dan jika ia pulang pun mereka hanya melakukan interaksi seadanya sehingga perkelahian adalah hal yang tak terelakan. Sejak perusahaan mabel yang dimiliki Woobin bangkrut ia tidak berubah seutuhnya menjadi pria pengangguran yang hanya pasrah dengan keadaan. Ia tetap bekerja walaupun hanya serabutan. Sementara Nana sibuk dengan sekolahnya tak jarang hingga malam. Ketika Jaerim mendapati rumah selalu dalam keadaan berantakan, siapa yang harus disalahkan? Pria itu menuding Jaerim sebagai istri yang tak bertanggungjawab dan begitu pula sebaliknya. Sehingga hanya tekanan lah yang selalu ia dapatkan selama masih hidup satu atap bersama dengan Woobin.

“Nana hanya beralasan supaya aku kembali rujuk dengan pria itu! Kau tau, a-aku.. aku.. tidak ingin. Cukup sudah bagiku merasakan penderitaan Yeol. Sekarang.. a-aku hanya ingin bersamamu” lanjutnya dengan suara setengah bergetar. Jaerim menundukan dalam kepalanya menyembunyikan kesedihan serta air matanya yang telah tumpah.

Chanyeol hanya bungkam dengan tangan bergerak mengusap pelan punggung Jaerim. Entah apa yang ada di dalam pikiran pria itu saat ini. Tetapi satu hal yang jelas, rasa kasihan bukan lah sifatnya. Salah besar jika ada yang mengira bahwa pria ini akan luluh hanya karena sebuah tetesan air mata. Tidak. Sedikit pun ia tidak pernah menyesali perbuatanya. “Aku mengerti. Tidak ada yang salah. Semua orang berhak meraih kebahagianya masing- masing” Chanyeol berucap datar dan kembali bersuara. “Tetapi aku sedikit tidak menyangka..”

Jaerim menyeka air matanya menegakan tubuh secara perlahan dan dengan kedua mata yang masih memerah ia menatap langsung pada obsidian pria itu. “Tidak menyangka bagaimana” tanyanya kemudian. “Keputusanmu. Apa kau tidak terlalu cepat untuk memutuskan usulanku tentang masalah kepindahan itu”

“Tidak” tegas Jaerim dengan suara pelan. “Aku tidak bisa mengawasi Nana sepenuhnya karena pekerjaanku dan apa yang kau katakan memang benar. Anak itu memang perlu pengawasan Yeol”

Tanpa sadar pria itu menarik samar sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman miring. Wanita ini memang sudah seratus persen berada di bawah kendalinya dan benar.. semua hanya tinggal menunggu tanggal mainya saja. “Tidurlah. Sudah larut, besok kau akan bekerja bukan”

Jaerim mengalihkan pandangan pada jam yang mengantung di dinding dan kembali menatap pada Chanyeol. “Baiklah” Ia tersenyum lembut bangkit dari duduknya dan sedetik kemudian ia kembali menoleh pada Chanyeol karena pria itu hanya diam tak bergeming di posisinya. “Bagaimana denganmu Yeol? Kau tidak ingin tidur?” Raut wajahnya bertanya bingung.

“Aku akan menyusul. Ada hal yang ingin ku bicarakan sebentar dengan Nana. Bisa?”

Ia tak perduli bahwa pada kenyataanya pria berparas tampan ini berusia jauh lebih muda darinya. Ketika mendapati betapa dewasa serta baik hatinya pria ini menyikapi sebuah hal, wanita mana yang tidak akan luluh karenanya. Jaerim tersenyum lembut. “Kenapa harus meminta ijin? Nana juga calon anakmu. Tentu saja boleh”

Chanyeol kemudian bangkit dari posisi duduknya dengan senyum seadanya menghiasi bibir. Ia memegangi sisi wajah Jaerim dan memberinya sebuah kecupan singkat. “Tidurlah” ucapnya datar.

°°°

NANA POV

Gemercik air yang jatuh menerpa permukaan lantai terdengar sangat mencolok di sisiku. Baru saja aku menyalakan shower dan meninggalkanya begitu saja karena aku lebih memilih untuk terus mematung di depan cermin kamar mandiku. Kedua mataku sembab, terlihat menyedihkan. Pipi kananku masih terlihat memerah akibat tamparan keras dari wanita itu. Setelah berdebat dengan eomma aku langsung masuk ke dalam kamar dengan kucuran air mata yang tak kunjung berhenti lalu menanggalkan seluruh pakaianku secara sembarang segera masuk ke kamar mandi.

Aku menghela nafasku panjang membuat cermin di hadapanku berembun karena tertutupi uap. Memori itu kembali berputar di otaku sehingga tanpa sadar air mata itu kembali jatuh melewati sudut mataku. Aku menundukan kepala dengan tangan yang sudah mengepal kuat di kedua sisi washtafel. Semua hal ini terjadi karena pria itu. Perdebatan dan tamparan itu tidak akanku terima jika pria itu tak pernah ada di kehidupanku..

Nafasku berubah menderu saat teringat bagaimana pria itu tersenyum miring. Aku melihat sudut bibir itu tertarik kecil seolah sedang mengejeku saat itu. Cukup melihat sosok itu ada di rumah ini saja sudah membuatku muak setengah mati rasanya. Apalagi.. jika sampai aku bertemu kembali denganya di sekolah. Merasa cukup dengan pergumulan otak yang bisa saja membuatku gila, aku memutuskan untuk beranjak menuju ke bawah pancuran shower itu.

Jika ada sebuah teori yang mengatakan air hangat bisa merilekskan tubuh, aku rasa itu benar. Tubuhku terasa lebih ringan serta otaku yang serasa seperti benang kusut tadinya jadi mulai teruraikan secara perlahan. Apalagi ketika aku mengusapkan sabun aroma therapy ini ke seluruh tubuh, rasanya benar-benar nyaman. Sengaja aku membiarkan tumbuhku berada di bawah pancuran shower lebih lama setelahnya. Ketika merasakan cukup, aku bergerak untuk mematikanya kemudian meraih handuk putih di dekatku lalu berganti pakaian dengan cepat mengingat betapa banyaknya tugas sekolahku yang menumpuk.

Aku beranjak keluar dari dalam kamar mandi sambil mengusap rambutku yang basah dengan handuk. Kemudian langsung saja terduduk di meja belajarku untuk membuka buku. Bukan bermaksud sombong tetapi tidak perlu waktu lama memang bagiku untuk mengerjakan soal kimia ini. Semua rumus hampir seluruhnyaku hapal di luar kepala sehingga total waktu yang ku butuhkan tidak lebih dari 30 menit untuk mengerjakanya. Dengan beralaskan lengan, aku merebahkan sisi kepalaku di atas meja. Sebenarnya aku sudah sangat mengantuk tetapi saat melihat benda persegi itu berada tak jauh dari jangkauan, aku memutuskan untuk meraihnya dan membuka Line.

Nanaxxi99 : 

Bacon kau sudah tidur?

Tanpa melepaskan ponsel ditangan dengan setia aku menunggu balasan karena biasanya Baekhyun akan membalasnya dengan cepat dan benar saja. Suara dering singkat itu sedikit menyentaku kaget sehingga kedua mataku yang sudah dalam keadaan setengah watt ini terbuka kembali. Aku segera menegakan tubuh lalu sedikit mengernyit karena ini sebenarnya bukan lah balasan Line dari si sipit itu.

Choiminho :

Hei.. sudah tidur?

Oppa merindukanmu.

Sambil mengetik balasan senyumku merekah karena ini adalah line dari seseorang yang juga sangat spesial. Namanya Choi Minho sepupu terdekatku.

Nanaxxi99 :

Belum. Aku baru saja selesai mengerjakan tugas dan aku juga SANGAT merindukan oppa!

Tidak sampai satu menit balasan itu kembaliku terima.

Choiminho :

Anak pintar. Oppa jadi ingin melihat wajahmu sekarang..

dan belum sempat jari-jariku mengetik jawaban sebuah video call tampak menghiasi layar ponselku.

“Annyeong” sapaku riang setelah menggeser tombol hijau pada layar touch screen. Pria di balik layar itu balas tersenyum menampakan deretan gigi putihnya. “Aigoo.. kau semakin cantik. Padahal rasanya baru beberapa minggu yang lalu oppa melakukan video call denganmu”

“Aish, terus saja berbohong” ujarku menyipitkan mata. “Aku tidak menyangka tuan super sibuk ini bisa menghubungiku lagi” lanjutku kemudian.

“Oppa tidak berbohong Nana-ya. Kau memang semakin cantik. Ah ani, sebenarnya sudah semenjak dulu adik oppa ini cantik” kembali ia menampakan senyumanya yang khas. “Sebenarnya.. oppa baru saja selesai mengkoreksi tugas. Kau tau? Menjadi dosen sangat melelahkan” kekehnya sambil mengusap pelan tengkuk lehernya. “Lalu bagaimana keadaanmu, sayang? Kau sehat? Jangan terlalu sering berada di bawah panas matahari. Cobalah untuk makan sayur dan buahan”

“Aku sehat” balasku dan kembali menambahkan. “Hm.. jika oppa pulang, mungkin aku bisa mempertimbangkanya?” dengan sengaja ku buat raut wajahku berpikir keras tentang permintaanya untuk memakan sayur dan buahan.

“Kau pintar memprovokasi rupanya.” Ia menggeleng kecil dan juga sepertinya sedang menahan senyuman. “Baiklah.. ku anggap ini sebuah kesepakatan. Jika oppa pulang, oppa akan membawa banyak sayur dan buahan sebagai oleh-olehmu. Tentu saja, kau harus menghabiskan semuanya”

“M-Mwo?” Tandasku dengan kedua mata membulat sempurna. “Ya! Oppa! Ini tidak adil. Aku hanya bercanda” Kali ini dengan wajah memelas aku menatap pada layar ponsel dan oppa Minho terlihat tertawa lepas sekarang. Menyebalkan. Tidak, ini salahku. Seharusnya aku tidak mengatakan kalimat yang bisa saja menjadi bumerang bagiku, pabo Nana!

Puas tertawa oppa minho kembali berkata. “Aish, lihat.. wajahmu cemberut. Jelek sekali” kekehnya pelan dan aku sengaja tetap mengacuhkanya dengan kembali merebahkan sisi kepalaku di atas meja menggunakan lengan sebagai alas. “Oppa hanya bercanda, sayang. Jangan marah hm? Jadi sekarang coba tersenyum untuk oppa” Aku sedikit mengalihkan pandanganku ke layar ponsel masih dengan bibir membentuk kerucut. Melihat wajah oppa Minho yang memelas, benar-benar membuatku geli. Kedua matanya yang tergolong besar itu terlihat lucu seperti seekor kucing yang pernahku tonton disebuah acara televisi sehingga tanpa sadar aku jadi tertawa setelahnya.

“Nah.. itu lebih baik. Oppa lebih suka melihatmu tertawa” Ucapnya dengan senyuman yang sangat lembut membuat tawaku terhenti seketika lalu menatapnya dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan. “Oppa.. gwenchana?” Tanyanyaku sedikit khawatir. Ia hanya balas mengangguk kecil kepalanya disertai senyuman tipis yang mana semakin membuatku bingung karenanya.

Ketika aku ingin membuka suara oppa Minho terlebih dulu memulainya. “Jadi.. bagaimana keadaan paman dan bibi?” Sebuah pertanyaan yang cukup menohoku tetapi dengan cepat aku menanggapinya. “Baik. Appa dan eomma baik-baik saja” tuturku setelahnya berusaha menujukan raut wajah yang terkesan wajar.

Benar. Aku telah membohongi oppa selama ini. Aku menutupi semuanya. Tentang perceraian kedua orang tuaku dan tentang kekasih gelap eomma itu. Aku sengaja melakukanya karena aku tidak ingin membuat oppa khawatir, dia sudah terlalu baik padaku selama ini. Menceritakan semuanya mungkin hanya akan membuatnya terbebani oleh masalahku. “Hm begitu” Suara bassnya jadi memudarkan lamunanku.

Setelahnya kami hanya terus berbincang tentang hal yang santai seperti bagaimana keseharianku di rumah, di sekolah dan teman-temanku. Tentu saja aku menutupi beberapa hal dari oppa dan melakukan sedikit pembalikan cerita di dalamnya sampai kemudian giliran oppa lah yang bercerita. Masih tetap dengan posisi kepala yang beralaskan lengan, aku berusaha tetap setia mendengarkan oppa yang sedang bercerita di tengah kantuk yang secara perlahan mulai mendera kedua mataku. Sedikit hal yang bisa ku tangkap dengan indera pendengaranku yang mulai hilang kasadaran ini. Aku mendengar oppa mengatakan ‘kampus’ dan setelah itu entahlah.. kalian bisa menebak apa yang terjadi padaku. Ya, aku tertidur di atas meja belajarku.

END POV

°°°

Tertata rapi dan bersih. Namun terkesan sangat feminim atau mungkin bisa dikatakan.. kekanakan.

Setidaknya itu penilaian Chanyeol saat pertama kali menjejakan kaki ke dalam kamar berukuran minimalis ini. Terlepas dari merek wewangian apa yang digunakan oleh gadis tersebut, bisa dikatakan ia sangat menyukai aroma ruangan ini yang seingatnya begitu khas dengan pemiliknya. Ia sendiri sempat mengira bahwa kamar ini tadinya tidak akan jauh mengambarkan si empunya yang bisa dilukiskan mungkin seperti warna dasar yang terkesan putih polos, itu hanya ekspetasinya saja karena pada kenyataanya adalah tidak.

Dengan warna cat dasar pink cerah dan perbotan yang serba berwarna ungu, membuatnya sedikit geli jika mengingat usia dari gadis itu yang sudah menginjak 17 tahun. Apalagi ketika obsidianya mendapati sprei biru bergambar mikey mouse yang membalut ranjang tersebut, benar-benar menggelikan. Tak jauh dari sisi ranjang itu juga terdapat sebuah benda bersenar. Gitar. Sedikit rasa ingin tau muncul di benaknya, apa gadis itu bisa memainkanya?

Setelah tanganya menutup pintu Chanyeol bergerak masuk lebih dalam untuk menghampiri sosok yang tengah duduk malas di meja belajarnya itu. Ia sendiri tidak dapat melihat dengan jelas apa yang sedang dikerjakan oleh Nana karena posisi gadis itu yang sedang duduk membelakanginya dan setelah ia amati..

ternyata gadis ini tertidur. Pantas saja, suara ketukan pintunya tidak digubris walaupun mengetuk pintu sebelum masuk bukan lah kebiasaanya dan ia melakukanya hanya sekedar formalitas belaka.

Sedetik kemudian, Chanyeol sedikit mengernyit ketika obsidianya melihat ponsel Nana yang sudah tergeletak di atas meja belajar itu masih menampilkan sebuah video call. Chanyeol dapat melihat sosok seorang pria dari balik layar tersebut. Pemuda yang mungkin berusia tidak jauh darinya itu tampak menggunakan kemeja merah maroon membalut tubuhnya. Terlihat ia sedang sibuk berkutat dengan laptop di hadapanya sambil sesekali menyesap secangkir kopi. Sosok tersebut benar-benar larut dengan kesibukanya dan sama sekali terlihat tidak sadar bahwa saat ini seseorang tengah mengamati pergerakanya. Chanyeol terus memperhatikan pria itu datar, sampai kemudian tanganya bergerak menekan tombol merah pada layar touch screen memutuskan sambungan secara sepihak.

“Ternyata kau tidak sepolos yang ku kira” Ucapnya tanpa intonasi yang jelas kepada Nana. Tadinya Chanyeol sendiri akan segera beranjak dari tempat ini. Tetapi melihat wajah tertidur itu membuatnya mengurungkan niat sejenak. Chanyeol duduk di tepian ranjang tepat menghadap pada sosok mungil yang sedang tidur pulas beralaskan lengan itu di atas meja.

Chanyeol memperhatikan wajah Nana dengan lekat tanpa ada mengedipkan mata sedetik pun. Sebenarnya dengan celana baby doll panjang dan baju kaos tanpa lengan berwarna gading tidak ada yang menarik dari penampilan gadis tersebut. Tapi entah mengapa, ia betah saja untuk terus memandangnya. Apa ini efek karena terlalu sering melihat wanita yang berpakaian seksi di hadapanya? Entahlah.

Setelah mengamati sosok itu ada banyak hal yang Chanyeol bisa simpulkan dengan segera. Ternyata Nana memiliki kulit putih yang sangat pucat terlihat jelas pada bagian lengan atasnya yang sangat jarang terekspos dan jika diperhatikan secara lebih mendetail lagi. Calon anaknya tirinya ini juga memiliki perpaduan wajah cantik dan manis yang sempurna walaupun lekuk tubuhnya kalah jauh dibandingkan dengan Jaerim.

‘Kau memang mirip dengan almarhumah ibumu ternyata’ gumam Chanyeol menampilkan senyuman tipisnya yang khas. Tangan pria itu terulur sekedar menyentuh wajah di hadapanya itu. Tidak. Mungkin lebih tepatnya tangan itu sedang menyentuh bibir tipis yang senada dengan warna buah cherry tersebut.

“Melihat wajahmu tertidurmu. Aku tidak menyangka bahwa benda ini dapat berbicara kasar pada orang lain” Chanyeol mengusap lembut bibir bawah Nana dengan ibu jarinya menimbulkan sensasi menggelitik baginya tersendiri. Sedikit pun Nana nampak tidak terusik dengan perlakuan pria ini, wajahnya tetap terlihat tidur dengan damai. “Tubuhmu akan sakit jika tidur di sini” setelah mengucapkan kalimat tersebut Chanyeol mulai menarik kembali tanganya secara perlahan.

°°°

Ada yang sedikit berbeda dengan gadis itu hari ini. Sambil mengancing baju seragamnya Nana terus tersenyum tiada henti menatap cermin di hadapanya. Bisa dikatakan moodnya dalam keadaan baik hari ini. Nana tidak bisa melupakan mimpi itu semalam, di mana ia berada di sebuah taman hijau yang dipenuhi dengan berbagai macam pohon dan bunga berwarna-warni. Ia bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang sangat cantik sedang duduk di sebuah bangku di dekat kolam sambil memangku seekor kucing kecil dengan bulu bercorak hitam putih yang lucu. Wanita cantik dengan balutan dress putih panjang itu menceritakan banyak hal padanya yang anehnya ketika Nana terbangun sama sekali ia tidak bisa mengingat kembali tentang isi pembicaraan itu.

Satu hal yang sangat membekas di hati Nana. Ketika wanita yang memiliki warna mata yang senada denganya itu memeluknya lembut entah mengapa.. ada suatu hal yang membuat hatinya seketika dilingkupi oleh rasa nyaman. Singatnya lagi, sebelum wanita itu beranjak pergi ia memberi kucing dalam pangkuanya itu kepada Nana, memintanya untuk menjaganya. Pada awalnya kucing itu sangat tidak bersahabat pada Nana. Tidak terhitung berapa kali hewan itu mencakar dan bahkan berulang kali mengigit tanganya. Tetapi Nana tetap berusaha sabar dan memperlakukanya dengan baik sehingga pada akhirnya kucing itu pun luluh.

Nana menghabiskan banyak waktu di taman dengan hewan tersebut. Bermain, tertawa dan bahkan bercerita walaupun ia tau hewan itu tidak mengerti maksud dari perkataanya. Sebelum hewan itu pergi, Nana tidak bisa melupakanya. Bagaimana cara kucing itu menggosok tubuhnya manja pada Nana dan pada akhirnya ia menjilati sisi wajah Nana bahkan sampai kepada bibirnya terkesan hewan itu sangat menyukainya.

Mimpi yang aneh.

Berbicara tentang keanehan.. sebenarnya Nana juga baru saja mengalaminya. Seingatnya tadi malam ia tertidur di meja belajar saat melakukan video call dengan Minho. Tetapi paginya saat ia bangun, Nana tau-tau sudah berada di atas kasur dengan sebuah selimut hangat yang menutupi tubuhnya. Apa eommanya masuk ke kamarnya semalam kemudian memindahkanya? Peluang untuk hal itu memang ada. Tetapi sangat kecil. Mungkin bisa saja tanpa sadar Nana melakukan sleep walking. Sedikit mustahil sebenarnya karena sepengatahuan Nana sendiri ia memang tidak pernah memiliki kebiasan aneh semacam itu. Apapun kemungkinanya.. Nana tidak ingin ambil pusing.

Tangan kecilnya bergerak menutup rapat pintu kamar, berjalan ke arah luar menuju dapur. Kamarnya yang memang terletak di bagian lantai paling dasar membuat Nana sendiri dapat sampai lebih cepat dan alangkah terkejutnya ia ketika kedua matanya mendapati sebuah pemandangan yang sedikit tak biasa itu.

Terlihat sosok eommanya dan pemuda rupawan tersebut telah terduduk manis di hadapan meja makan. Tidak biasanya kedua sejoli itu akan bangun secepat ini. “Selamat pagi, sayang. Kau sudah bangun?” Jaerim tersenyum lembut menyapanya.

Situasi ini menjadi sedikit aneh baginya mengingat pertengkaran yang mereka alami tadi malam. Nana membawa langkahnya mendekat secara perlahan tak lepas mengamati sosok eommanya kemudian terlihat memunculkan senyuman canggung. “Eomma membuatkan susu dan belum menyiapkan sarapan. Kau tau sendiri.. eomma tidak bisa memasak” Wanita itu terkekeh ringan tetapi ada tersirat sebuah kesedihan di dalam kalimatnya. Nana yang masih setia berdiri mematung di hadapan meja makan hanya mengangguk pelan kepalanya tanda mengiyakan.

“Ah, eomma sudah menyiapkan bahan-bahanya..” Jaerim menoleh ke arah meja counter yang terletak tak jauh di belakangnya lalu kembali memandang pada Nana disertai senyuman mengembang. “Sup miso sepertinya cocok untuk pagi ini” ujarnya kemudian.

Sekali lagi Nana hanya tersenyum canggung dan tanpa kata ia beranjak dari posisinya untuk menyiapkan sarapan. “Sebentar” Jaerim menginterupsi pergerakan Nana sehingga gadis bertopi itu mengurungkan langkahnya dan kembali terdiam di tempat. Dengan wajah berkerut samar Nana menatap padanya.

“Jangan lupa kita ada tiga orang. Jadi.. kau harus membuat tiga. Jangan lupakan Chanyeol hm?” Jaerim menatap sekilas pria yang duduk di sisinya sambil tersenyum lembut.

Tanpa diperintah Nana refleks menoleh pada sosok yang di maksudkan oleh eommanya sehingga kontak mata antar keduanya tidak dapat dihindari. Pemuda itu sudah terlihat rapi dan juga nampak telah menggunakan seragam sekolah yang sama denganya saat ini. Seolah-olah matanya bisa mengalami kerusakan jika menatap pria itu terlalu lama. Nana terlebih dulu mustuskan kontak keduanya dan mulai beranjak menghampiri meja counter untuk menyiapkan sarapan.

Untuk perihal memasak Nana memang tidak perlu diragukan lagi. Sejak kelas 5 SD ia sudah belajar memasak sendiri setidaknya ia sudah bisa menanak nasi dan membuat telur dadar sewaktu itu. Setelah 15 menit berlalu Nana membuka tutup panci berisikan sup miso tersebut. Uap panas mengepul ketika ia membukanya disusul dengan aroma sedap dari bebauan masakan itu. Dengan hati-hati Nana menuangkanya satu per satu ke dalam mangkuk dan sesaat ia akan menuangkanya ke dalam mangkuk terakhir Nana mengurungkan niatnya. Ia meletakan kembali sendok sup itu ke dalam panci dan meraih sebuah toples kecil berisikan garam dari dalam lemari. Sengaja Nana menambahkan lima sendok makan garam ke dalam mangkuk terakhir itu lalu barulah ia menuangkan sup miso ke dalamnya sambil mengaduknya pelan.

Saat semua pekerjaanya rampung Nana meletakan mangkuk pertama di hadapan eommanya, mangkuk kedua di mejanya sendiri dan mangkuk terakhir.. sup miso penuh garam itu ia letakan di hadapan pemuda tersebut. “Baiklah, semuanya mari makan” Jaerim berucap sembari menyuapkan sendok pertama masuk ke dalam mulutnya.

“Ah, mashita.. anaku memang pandai memasak ” Puji Jaerim memandang Nana yang hanya balas tersenyum kecil padanya. Nana menyantap tenang sup misonya dengan mata yang secara diam-diam mengamati sosok pria yang duduk di hadapanya itu. Nana tersenyum samar ketika mendapati pria itu mulai meraih sendok makanya kemudian menyedok sup miso itu masuk ke dalam mulut.

‘Uhuk uhuk’

Chanyeol terbatuk keras setelahnya. “Wae? Kau kenapa Yeol?” Tanya Jaerim khawatir, tanganya menepuk pelan punggung pemuda di sisinya itu. “Kau tersedak? Sebentar” Jaerim meraih panik gelas air putih di atas meja dan segera memberikanya kepada Chanyeol. Setelah menandaskan setengah gelas air putih yang diberikan oleh Jaerim barulah ia dapat bernafas lega.

“Apa.. ada yang salah dengan rasa supnya Yoel?” Tanya Jaerim ketika masih mendapati ekspresi aneh dari raut wajah Chanyeol. Pria tampan itu menoleh dan kemudian menjawab. “Tidak. Ini sangat lezat” Ia tersenyum lembut lalu mengalihkan tatapanya pada sosok mungil di hadapanya itu. “Anakmu sangat pandai membuatnya” suara berat Chanyeol terdengar sedikit tajam saat mengucapkanya. Nana tetap menyantap sarapanya acuh dengan wajah tanpa dosa yang ia miliki bahkan pujian yang berupa sindiran tajam dari pria itu hanya dianggapnya sebagai angin lalu.

“Nana kau sudah selesai?” Pertanyaan Chanyeol membuat Nana sedikit mengangkat wajah manisnya menatap langsung manik obsidian pria itu tanpa berniat untuk bersuara sepatah katapun. “Kalian ingin berangkat? Cepat sekali” Komentar Jaerim namun ia kembali menambahkan. “Ah, Nana-ya mulai hari ini kau tidak perlu naik bis karena Chanyeol sudah satu sekolah dengamu” Pernyataan itu sukses membuat kening Nana berkerut samar sehingga membuat Jaerim bertolak untuk menjelaskan.

“Kau bisa berangakat dan pulang bersama-sama dengan Chanyeol mulai hari ini”

What.. the hell?

“Tidak” Jawab Nana tanpa sadar dengan suara setengah membentak. Jaerim menghela nafasnya singkat, sesuai dengan prediksinya ia tau bahwa gadis ini akan menolak. “Sayang, itu lebih aman untukmu. Lagi pula Chanyeol-“

“Aku lebih suka berdesak-desakan di bis, itu lebih menyenangkan. Daripada aku harus berangkat satu mobil denganya”

Jaerim mengernyit dan ingin marah sebenarnya ketika Nana memotong pembicaraan, ditambah lagi anak itu juga sudah menolak perintahnya barusan. Jaerim meletakan sendoknya kasar di atas meja. “Bisakah sekali ini saja kau menurut pada eomma!? Ini demi kebaikanmu!”

Nana mendesah malas sambil bergerak meraih tas raselnya kemudian tampak mengenakanya. “Terimakasih. Aku sangat menghargai kebaikan hati eomma. Tapi bukan seperti itu caranya.” setelah selesai dengan kalimatnya Nana melangkah pergi dari ruang makan tanpa memperdulikan apapun. Jaerim menarik satu nafas panjang kemudian membuangnya kasar melihat kepergian sosok itu menghilang dari balik pintu rumah. Ia memijat keningnya frustasi.

°°°

Sudah semenjak tadi Baekhyun terus memperhatikan lekat sisi wajah manis di dekatnya itu sehingga ia mengabaikan tugasnya untuk mengawasi kerapian para murid yang mulai berdatangan masuk melewati pintu gerbang sekolah. Ada hal yang sedikit ganjil baginya. “Nana-ya.. bisa kau tatap aku sebentar”

Nana mengalihkan fokus mengawasnya dan dengan wajah malas ia menoleh pada Baekhyun. “Ada yang salah dengan wajahku?”

Dahi pria berkaca mata itu berkerut samar lalu tanpa menyentuh, telunjuk Baekhyun terangkat mendekat ke arah bibir Nana. “Bibirmu. apa tidak sakit?” tanya Baekhyun kemudian. Nana mengangkat tangan lalu menggunakan jari-jarinya untuk meraba sekitar area bibir bawahnya. “Ada apa dengan bibirku?” Ia semakin berkerut tak paham memandang Baekhyun.

“Ku pikir.. bibirmu sedikit lecet Nana-ya” Jelas Baekhyun sambil menggaruk belakang tengkuknya yang tidak gatal. Benar yang Baekhyun katakan. Bibir bawah gadis itu memang terlihat sedikit lecet sehingga membuat material tipis itu lebih memerah daripada yang biasanya.

Nana kembali mengangkat tanganya dan kali ini ia menekan bibir bawahnya dengan jari telunjuknya sendiri sekedar mencari pembuktian, namun ia tidak merasakan apapun. “Entahlah, mungkin aku terlalu kuat saat menggosok gigi” Jawabnya asal lalu pandanganya kembali beralih ke depan mengamati kerapian para murid yang masuk melewati gerbang.

Sementara dari dalam Lamborghini yang terparkir di kejauhan, sudah semenjak tadi Chanyeol mengernyit samar memperhatikan adegan keduanya. “Siapa pria pendek berkaca mata itu” tanya Chanyeol datar dengan padangan lurus. Sehun yang sedang sibuk merapikan tatanan model rambutnya menoleh singkat padanya. “Mwo? Pria mana yang kau maksud?”

Chanyeol mengarahkan dagunya singkat menunjuk ke arah pintu gerbang dan Sehun dengan segera cepat mengerti. “Ah.. dia? itu Byun Baekhyun, dia wakil ketua osis. Mereka memang dekat tapi ku pikir mereka hanya Sahabat”

“Sahabat? tsk, manis sekali” Chanyeol menyeringai kecil otaknya sudah dipenuhi dengan berbagai rencana saat ini. Ya mungkin ia sendiri tidak akan balas menyulut api jika Nana tidak memulainya saat di meja makan tadi. Gadis itu mencoba bermain-main denganya dan ia sendiri tidak akan segan-segan kali ini.”Sekarang aku memegang kartu as” lanjutnya hendak melangkah turun dari Lamborghininya.

“Kau mulai lagi” Sehun menggeleng singkat lalu ia kembali menambahkan cepat kalimatnya. “Ah, Chan! Aku sudah meminta bantuan salah seorang temanku untuk melacak informasi tentang pria bernama Choi Minho itu. Mungkin malam nanti dia akan mengabariku”

Seringai di wajah tampan itu masih belum pudar dengan tangan terdiam pada pintu mobil hendak menutupnya. “Kau bisa menghubungiku setelah semuanya selesai”

Baru beberapa langkah keduanya mejejakan kaki namun sudah hampir seluruh mata terutama para kaum hawa serentak memperhatikan penuh minat pada sosok itu, seakan keduanya adalah sebuah pusat magnet dengan daya tarik yang begitu besar. Sehun tak henti memepertontonkan senyum maut andalanya kepada setiap yeoja yang ia lewati sehingga para yeoja itu hanya mampu gigit jari dibuatnya. Berbeda halnya dengan sosok pria jangkung yang satu itu. Chanyeol terlihat acuh dengan mata yang tak lepas mengamati pada satu titik sampai sebuah tangan yang menggelayut di lengan kokohnya itu membuatnya mengernyit samar.

“Kau.. Park Chanyeol ‘kan? Ah, selamat pagi Sehun oppa”

Chanyeol menatap datar sosok cantik yang menempel padanya itu dengan kedua obsidianya. Entah mengapa, ia sedang tidak berada di dalam mood yang baik kali ini. “Hm selamat pagi Sena-ya” Sahut Sehun yang juga sedang berjalan santai di sebelah Chanyeol.

“Jadi sekarang Chanyeol ssi, kau pindah ke sekolah ini? Astaga! aku senang sekali.” Yeoja itu tersenyum sangat manis padanya membuat Chanyeol sendiri menjadi sangat jengah untuk melihatnya. “Jika kau ingin tau namaku, aku Sena dari keluarga Lee. Appaku adalah rekan bisnis dari ayahmu”

So, what? Ia sendiri tidak perduli apa yoeja itu adalah anak rekan bisnis dari ayahnya atau apapun yang jelas Chanyeol tetap melangkahkan kaki panjangnya tanpa memperdulikan ocehan yoeja cantik yang masih saja menggelayut manja di lenganya itu. Banyak daripada yeoja yang benar-benar memasang raut wajah iri ketika melihat keduanya. Si tampan yang bersanding dengan si cantik, what a perfect couple.

“Berhenti”

Langkah kaki ketiganya refleks terdiam dengan tujuan arah pandangan serempak menatap pada sosok mungil bertopi hitam itu.

Nana menghela nafasnya pelan. “Sudah berulang kali aku mengatakan ini padamu Sehun ssi, dilarang menggunakan sepatu berwarna di hari senin” Sehun membawa pandanganya turun menuju sepatu new balance abu putih terbarunya di sana. “Oh mianhe, aku lupa. Ottoke..” Ia menyenggir singkat pada Nana.

“Kau harus menggantinya saat jam istirahat pertama. Jika tidak, aku akan menyitanya” Suara halus Nana berucap datar namun ada sedikit penekanan pada setiap kalimatnya dan ketika mendapati sosok yoeja yang sedang menggelayut manja pada lengan Chanyeol terlihat akan berlalu pergi Nana menginterupsi. “Ku pikir rokmu sangat tidak pantas Sena ssi” komentar Nana apa adanya.

Sena berbalik menatap Nana secara langsung sambil melipat santai kedua tanganya di depan dada dengan wajah cantiknya memancarkan aura permusuhan yang sangat kentara. “Lalu? Apa masalahmu ‘huh?”

“Kau juga harus menggantinya saat jam istirahat pertama”

“Bagaimana jika aku tidak mau? Kau akan menyitanya dan membiarkan aku berkeliaran hanya menggunakan celana dalam di sekolah? Tck, ketua osis macam apa kau ini” Sena tersenyum meremehkan.

“Terserah padamu” Nana mengangkat ringan kedua bahunya. “Karena ku pikir surat peringatan sedikit berlebihan. Aku lebih memilih untuk memasangkan celana olah raga sebagai pengganti rok pendekmu itu. Tapi jika kau tetap menolak, terpaksa aku akan melaporkanya pada seonsaengnim”

Gadis ini.. menyuruhnya untuk mengenakan celana olah raga!? Hell.

Sena membolakan kedua matanya secara sempurna dengan mulut setengah menganga. Sehun bergerak menutup mulutnya sendiri dengan punggung tangan menahan tawanya agar tidak lolos keluar ketika mendapati reaksi kaget berlebihan yang sedang ditunjukan oleh yeoja di sisi Chanyeol tersebut. Sementara pemuda tampan itu sendiri terlihat sedang menarik sudut bibirnya samar membentuk sebuah senyuman miring yang khas pada bibir plum miliknya.

“K-Kau! menyebalkan!” Dengan wajah sedikit merona merah akibat menjadi bahan tononan Sena segera memilih untuk beranjak pergi dari tepat itu tanpa memperdulikan Chanyeol dan Sehun. Mengira bahwa urusan mereka telah selesai, kedua sosok itu dengan santai ikut beranjak pergi namun Chanyeol sendiri kembali terdiam di tempat karena merasakan ada sesuatu yang sedang menahan tepian baju seragamnya saat ini. Ia menoleh dan mendapati tangan kecil dengan kulit putih pucat itu ternyata pelakunya.

“Seorang pelajar tidak boleh menato tubuhnya” kalimat itu terdengar tajam dan menusuk tak kalah dengan raut wajah yang Nana tunjukan.

Setelah sekian lama Nana dapat dikatakan kenal dengan pria ini, sekarang lah ia baru menyadari bahwa pria ini memiliki tato pada bagian lengan atas kirinya dan juga pada bagian belakang lehernya. Tidak terlalu jelas memang karena sedikit tertutupi oleh seragam sekolahnya tetapi Nana sendiri memang memiliki penglihatan yang sangat jeli.

Melihat gaya bicara gadis ini dan cara tangan itu yang terkesan jijik saat menyentuhnya, Chanyeol menyeringai sangat tipis. Ia mendekat ke arah Nana yang sama sekali terlihat tidak ingin menghindar ataupun mundur saat wajah keduanya sudah semakin berdekatan. Chanyeol mengakui, bahwa gadis ini.. benar-benar bernyali besar.

“Lalu.. apa yang harus kulakukan dengan tato ini hm? Menghapusnya saat jam istirahat pertama? Sayang sekali, ini permanen ketua” Ucap Chanyeol dengan nada yang santai. Kedua obsidianya dapat melihat secara langsung ke dalam manik coklat gelap di hadapanya itu, mengingat betapa intim jarak wajah antar keduanya. Jika dipikir-dipikir.. Chanyeol sedikit menyesal melakukan ini karena sontak ia jadi teringat akan kejadian semalam.. ia bersumpah, sampai detik ini pun ia masih tidak bisa melupakanya. Sial.

“Begitukah” Suara lembut yang terkesan dingin itu mulai terdengar. Walau tidak begitu kentara, ekspresi Chanyeol sedikit berubah ketika dirasakanya nafas panas gadis itu menerpa wajahnya saat ia mulai membuka suaranya tadi. “Walau kau harus memotong tangan atau lehermu sekalipun, aku tidak perduli! Kau harus menghapusnya” Kali ini Nada suara Nana terdengar sedikit mengeras membuat Chanyeol semakin menampakan seringai di wajah tampanya.

“Kau terdengar seperti ingin aku mati dengan segera. Kau tau”Chanyeol menggantung kalimatnya lalu kembali melanjutkan. “Eommamu.. akan sangat sedih, sayang” Ucapnya sangat pelan yang mana hanya ia dan gadis ini lah yang dapat mendengarnya. Nana menggertakan giginya marah, kedua tanganya mengepal sempurna di sisi tubuhnya ketika mendengar pria ini mengatakan hal yang sedikit sensitif baginya. Ia sangat tidak suka eommanya disangkut pautkan dalam hal ini.

Mungkin tidak hanya Baekhyun dan Sehun yang sejak tadi menahan nafas melihat aura ketegangan yang terjadi antar keduanya. Tetapi hampir seluruh mata di tempat itu pun tak kalah bingung dan merasakan aura yang sama. “Nana-ya sudah lah..” Baekhyun memberanikan diri untuk menyentuh salah satu lengan Nana dan menariknya pelan untuk mundur dari posisi. Beruntungnya gadis mungil ini menurut padanya, Nana tidak melakukan perlawanan. Tetapi tatapan matanya sama sekali tidak berubah memandang pria di hadapanya itu.

Chanyeol sejenak memperhatikan keduanya. Mungkin lebih tepatnya ia memperhatikan lekat dan sedikit tersenyum meremehkan pada sosok berkaca mata di sebelah Nana. Baekhyun menelan salivanya samar dengan kepala sedikit tertunduk tidak berani membalas tatapan pria itu. Sangat mengherankan Nana berani menentang pria ini, tapapan matanya saja sudah sangat mengintimidasi menurut Baekhyun. Sampai kemudian Chanyeol terlihat membuang pandanganya dan mulai melangkahkan kaki untuk beranjak dari tempat itu disusul oleh Sehun. Sementara Nana benar-benar menyoroti tajam pada kepergian pria itu bahkan sampai kepada menghilangnya sosok tersebut dari balik penglihatanya.

°°°

Sosok cantik pemilik tubuh ramping nan seksi itu sedang sibuk meneliti berkas pemasukan dalam genggamnya. Kaca mata minus yang tengah ia gunakan semakin menambah kesan sensual pada wanita berusia tiga puluh tahunan ke atas tersebut.

Tiga puluh tahunan? Okay, tidak disangka memang.

Semua berawal dari bisnis kecil-kecilan dibidang perhotelan yang ia geluti, kini Jaerin telah menuai hasilnya. Walau belum dapat di katakan sebanding dengan hotel-hotel mewah sejenis Lotte word di Korea Selatan lainya, Staz hotel yang ia miliki selalu menunjukan lonjakan saham yang cukup besar disetiap bulan. Bahkan cabang dari hotelnya pun sudah merambah ke berbagai daerah yang salah satunya seperti Jeju penyumbang pendapatan terbesarnya selama ini.

Setelah selesai meneliti dokumen dalam genggamnya, Jaerim bergerak melepas kaca mata minusnya kemudian meletakan benda itu di atas meja. Ia membawa punggungnya untuk duduk lebih rileks pada sandaran kursi sambil maniknya memandang tenang pada sebucket bunga lily dalam vas pemberian Chanyeol beberapa waktu yang lalu. Bunga dengan warna dasar putih cerah itu masih terlihat segar dan tidak ada menunjukan tanda-tanda akan layu.

Pria itu benar-benar sudah membuatnya mabuk kepayang. Perhatianya, kedewasaanya semuanya.. tak ada satupun sisi yang Jaerim tolak dari pria tersebut. Chanyeol memang sangat tau bagaimana memperlakukan wanita dan menyenangkan hatinya. Bukan perayu ulung seperti kebanyakan pria di luaran sana. Pria itu punya cara yang lebih terkesan maskulin dari pada sekedar melakukan rayuan gombal. Jaerim tersenyum lembut ketika beberapa penggalan momen indah bersama dengan pria itu melintas di otaknya. Sampai suara ketukan pintu terdengar dan menyadarkan Jaerim dari lamunanya. Setelah ia mempersilahkan masuk, sosok sekretaris mudanya itu melangkah ke dalam ruangan dengan raut wajah yang terkesan serba salah.

“M-Maaf sajangnim.. seseorang i-ingin menemui anda” Ucapnya sedikit terbata-bata dan belum sempat Jaerim menanyakan, seseorang yang dimaksud kan itu langsung menerobos masuk ke dalam ruanganya. Jaerim menatap shock dan ia sendiri tidak memungkiri, detak jantungnya sedikit berubah tempo ketika menyadari siapa sosok tersebut.

“Woobin..” Jaerim mengerjab pelan. “A-Apa yang kau lakukan di sini?” Tanyanya dengan intonasi nada yang tetap terjaga. Pria dengan balutan jaket hagat yang terlihat sedikit lusuh itu menatapnya lurus. “Aku tidak bisa menghubungi nomormu Jae. Itu sebabnya aku kemari. Ada hal yang ingin ku bicarakan”

Jaerim menghela nafasnya malas. Ia sungguh-sungguh sudah muak berhadapan dengan pria yang satu ini. “Ku pikir tidak ada lagi hal yang perlu kita bicarakan. Silahkan keluar dari ruanganku. Aku sibuk” Tolaknya secara terang-terangan. Namun Woobin sendiri tak kalah keras kepala denganya dan hanya satu hal ini yang membuat wanita itu tidak akan mampu untuk menolak keinginanya.

“Ini tentang Nana”

Keheningan lah yang tercipta antar keduanya saat ini. Canggung tentu saja. Padahal baru beberapa saat yang lalu keduanya tiba di tempat ini dan menerima secangkir kopi pesananya masing-masing. Suasana cafe yang sunyi semakin menyesakan bagi keduanya sehingga pada akhirnya Woobin lebih memilih untuk mengalah dan membuka suaranya terlebih dulu.

“Aku ingin bertemu Nana”

Kalimat yang benar-benar ampuh membuat Jaerim seketika langsung mengangkat wajah untuk menatapnya. “Tidak” dan menyadari betapa ketus kalimat yang baru saja ia ucapkan, Jaerim meralatnya segera. “M-Maksudku.. kau tau, Nana sendiri.. tidak ingin bertemu lagi denganmu”

Wajah pria paruh baya itu berubah menerawang dengan senyum hambar menghiasi bibirnya. “Aku tau, seperti yang kau katakan.. ia bahkan sampai mengganti nomor poselnya dan melarangmu untuk memberikan nomornya padaku. Aku tau” Woobin memberi jeda sejenak pada kalimatnya. “Tapi, aku benar-benar ingin bertemu denganya Jae. Aku sangat merindukan Nana”

“Itu percuma”

“Maksudmu?” Tanya Woobin menatap tak paham padanya. Ekspresi Jaerim berubah mengeras, mulutnya terasa kelu untuk bicara tetapi ia harus.. sekali lagi, ia harus melakukanya.

“Kau tau.. semalam aku bertengkar hebat dengan Nana dan untuk pertama kalinya. A-Aku menamparnya..” Ketika mendapati pria itu ingin segera menyanggah Jaerim segera menambahkan. “Percaya lah.. berulang kali aku sudah coba mengatakan pada Nana bahwa kau sangat ingin bertemu denganya. Ia menolak dan mengatakan banyak hal kurang ajar tentang dirimu hingga pada akhirnya.. aku lepas kontrol, m-maaf”

Orang tua mana yang tidak terluka hatinya jika anak kandungmu sendiri menolak dirimu. Wajah pria itu benar-benar menunjukan raut kesedihan yang sangat begitu dominan ketika mendengar penuturan Jaerim barusan. Terlalu naif memang jika mengangap semuanya akan selalu sama. Jadi, sekarang.. Nana bukan lah gadis kecilnya yang manis seperti yang dulu. Setidaknya itu lah kenyataan yang ia dengar dari mantan istrinya ini.

“Ku pikir.. kau harus berhenti. Nana benar-benar sudah tidak mengingikanmu lagi” Tutur Jaerim sambil meremas erat cangkir Americano coffenya di atas meja membuat Woobin jadi menopang frustasi kepalanya dengan kedua tangan. “Lalu apa.. apa yang harus ku lakukan Jae..” Nada suara baritone itu terdengar putus asa.

“Kau bisa memulai hidup baru, pergi jauh dari tempat ini.. aku akan membantumu”

°°°

Jam sekolah baru saja usai sebenarnya. Tetapi sepasang kaki kecil itu malah melangkah gamang kembali masuk ke dalam area gedung sekolah. Ekspresi itu seperti sudah siap untuk membunuh dan tidak sedikit yang perpapasan dengan si ketua osis lebih memilih untuk segera membuka jalan. Benda dalam genggamnya itu lah penyebab utamanya. Sepucuk surat yang sudah tak berbentuk karena ulah dari kemarahan tanganya sendiri.

Begini kronologisnya, Baekhyun berencana akan mengantarnya part time selepas jam sekolah berakhir karena pria berkaca mata itu mengaku membawa sepedanya hari ini. Tentu saja, Nana dengan senang hati menerima tawaran Sahabatnya itu. Ketika keduanya berjalan menuju ke area parkir, sepeda Baekhyun memang ada tetapi.. roda depan dari sepeda itu telah menghilang entah kemana dan di saat itu lah Nana menemukan sepucuk surat ini tergeletak dalam keranjang sepeda Baekhyun. Awalnya Nana mengira ini hanya ulah beberapa oknum yang senang melakukan pembullyan terhadap pria tersebut dan ternyata ia salah..

Temui aku di lapangan basket

-PCY

dan Nana tidak perlu menjadi terlalu pintar untuk sekedar mengetahui siapa pelakunya..

 

TBC

 

°°°

A/N :

 

Silahkan kunjungi wp :

https://freewordpresscomdomain460.wordpress.com/

 

 

 

Regards,

Aqi. 93 liner.

 

Iklan

4 thoughts on “I HATE YOU, MY STEPFATHER #2

  1. wahh.. ak hampir lupa ama crita ini ahaha.. tapi juga tak tunggu2 lanjutannya hehe.. gila chanyeol, sbenarnya dia maunya apa sama nana,kasian nana.. author nanti akhirnya bkin nana bhagia yaa :”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s