I Like You (Chapter 11)

I LIKE YOU

I Like You

part: 11 “kebiasaan buruk yang selalu terulang.”

 

Author: lilimissro

Cast    :

Kai (EXO)

Sehun (EXO)

Chanyeol (EXO)

Byun baekhyun (EXO)

OC (original caracter)

Sub cast :

Do kyung soo (D.O EXO)

Luhan (EXO)

Genre : romance, friendship, school life.

Length : chapter.

 

Pagi itu suasana kelas yang Yangda tempati mendadak ricuh. Ada desas desus bahwa dikelas mereka akan dimasuki siswa baru dari New York. Semua orang menjadi sibuk dan ricuh sendiri dikelas mendengar berita itu. Namun Yangda hanya bertopang dagu sambil memandangi Yun Yoo yang sibuk berbicara dengan Yun Hee.

Yangda akui bahwa kepulangan gadis itu terasa sedikit aneh. Walaupun ia sangat menikmati sisa liburan itu, tapi mengingat jika Yun yoo juga sendirian di rumahnya selama liburan membuat Yangda merasa bersalah.

Apalagi si tengik Sehun itu. Dia sangat menikmati liburanya tanpa sedetikpun mempertanyakan keberadaan pacarnya. Apa mereka benar-benar berpacaran? Semua ini terasa semakin tidak masuk akal. Yunyoo akan memberitahunya lebih dulu jika ia memang berpacaran dengan Sehun. Namun sampai sekarang, ia tak pernah mendengarnya langsung dari gadis itu.

“Hei, kau tahu. Yeonsub bilang dia sudah melihat wajah anak baru itu dan dia bilang anak baru itu sangat keren!!” bisik Seolhwa tiba-tiba pada Yangda. Namun gadis itu hanya diam tanpa menghiraukannya.

Seolhwa mengerutkan dahi dan menggungcang bahu Yangda, “Kau kenapa?”

Yangda tersadar dari lamunanya dan tersenyum pada Seolhwa, “Tidak ada. apa yang kau bilang barusan? Aku tidak jelas mendengarnya,”

“Aku jadi malas membicarakannya.” Seolhwa mengibas-ngibaskan tanganya dan kembali duduk dibangkunya.

Yangda menghela nafas. Sibuk memikirkan Yun yoo tanpa memiliki keberanian untuk menanyakannya malah membuat dadanya semakin sesak. Gadis itu memutuskan untuk pergi kekantin sebelum bel pelajaran berbunyi.

Saat Yangda hendak membeli minuman ia menjumpai Sehun sedang duduk dimeja kantin sambil memainkan ponselnya. Gadis itu seolah-olah mendapat pencerahan begitu melihat Sehun. mungkin dia tak berani bertanya pada Yun yoo karna takut melukai perasaanya tapi Sehun? dia bahkan tak peduli jika pria itu mati dihadapannya.

“Oh sehun!”

Sehun terlonjak dan hampir menjatuhkan ponselnya saat tiba-tiba Yangda berteriak, “Ah!! Mengagetkan saja! kenapa kau ini?! tidak lihat orang sedang sibuk??” cerocos pria itu. Memang sudah kebiasaanya saat kaget berbicara super cepat seperti itu.

“Aku punya pertanyaan,”

“Tanyakan saja, kenapa harus berteriak seperti itu?”

“Sebenarnya kau ini siapanya Yun Yoo?”

Sehun memasang wajah malas. Ia membuka galeri ponselnya dan menunjukkan fotonya bersama gadis itu.

“Jika kau memang pacarnya, harusnya kau punya foto lebih dari satu. Yang kau punya hanya foto itu. Selebihnya? Tidak ada,”

“Lalu? Kau ingin aku bagaimana?”

“Kau tidak benar-benar pacaran dengannya kan?”

“Bicara apa kau ini? sudah pergi sana,” ujar Sehun dan kembali menatap Ponselnya.

Yang da terdiam dan mengangguk paham dan beranjak pergi membeli minuman, “Jadi memang benar tidak ada apa-apa antara kalian berdua. Lalu kenapa Yunyoo mau membiarkan bajingan sepertimu masuk kehidupannya sih?”

Sehun awalnya berlagak tak peduli dengan ucapan gadis itu. Tapi begitu Yangda pergi ia terdiam kosong. Entah apa yang ia pikirkan.

**

Bel masuk berbunyi keras. Yangda langsung kembali kekelas lalu duduk disamping Yunhee sedangkan Yunyoo beserta Seolhwa duduk di belakang mereka.

“Sepertinya desas-desus itu benar terjadi. Lihat siapa itu dibelakang Seonsaengnim,” Gumam Yunyoo. Pria yang sedang gadis itu bicarakan kini berjalan dengan tenangnya di depan kelas. Ia membungkuk sedikit dan mengucap salam.

Kim Seonsaengnim yang kala itu mengajar menepuk bahu siswa itu, “Sekarang perkenalkan dirimu,”

“Halo semuanya. Aku Lee Howon. Tapi panggil saja Hoya. Senang bertemu dengan kalian,” ujar Hoya sambil tersenyum. Para gadis mulai berbisik-bisik, bahkan ada yang sedikit menahan teriakan ala penggemar agar tak terdengar siapapun. Sepertinya murid baru itu akan memiliki popularitas yang tinggi.

Yunhee, Seolhwa dan Yunyoo juga mulai ikut berbisik-bisik seperti gadis-gadis yang lainnya. Sedangkan Yangda? Entah kenapa gadis itu malah terdiam. Sepertinya masalah Yunyoo sudah terpecahkan, namun gadis itu masih saja terlihat diam dan suram.

Yunhee langsung menyikut gadis itu, “Kenapa kau diam saja? tak biasanya kau seperti ini,”

Yangda hanya memandangnya kosong.

Baik Yunyoo dan Seolhwa mengerutkan alisnya melihat aksi diam Yangda. Yangda memang bukan tipe orang yang gampang heboh seperti Yunhee maupun Minseo, tapi Yangda juga bukan orang yang membosankan dan mudah ditebak seperti Seolhwa. Hal ini tentu membuat Yunyoo dan Seolhwa sukses penasaran pada Yangda.

Tak biasanya mereka menjadi sangat ingin tahu seperti itu.

“Howon berasal dari New York, kulturnya sedikit berbeda jadi harap maklumi dan bantu ia dalam pelajaran, mengerti?” suara Seonsaengnim kembali menarik perhatian kelas. Semua menjawab dan Howon dipersilahkan duduk di barisan kedua sebelah kiri, tepat di sebelah Yangda.

“Hei,” tiba-tiba Hoya memanggil Yang da. Gadis itu menoleh dan menatapnya bingung, “Ada apa?”

“Senang sekali bisa bertemu lagi denganmu, nona,”

“Apa yang bocah ini bicarakan?” gumam Yangda bingung sedangkan Hoya tersenyum manis padanya.

“Kita bertemu lagi,” ulang Hoya dan pria itu kembali memandang kedepan.

**

Flashback

“Bukan begitu cara membawanya Yangda! Yak! Kau tidak mendengarku!!” teriak Yunyoo saat ia melihat Yangda tidak membawa perahu karet mereka dengan sepenuh hati. Dibelakang mereka masih terdengar suara anak-anak lain yang bermain bola voli dipantai.

Teriakan Yunyoo ternyata tak berefek apapun pada Yangda. Gadis itu masih saja membawa setengah bagian perahu itu dengan satu tangan dan membuat Yunyoo menyeret bagian sisanya. Yunyoo semakin kesal dan tiba-tiba berhenti sambil memandang gadis itu kesal.

“Jika kau tidak suka, bilang saja aku-“ Yunyoo terdiam saat tidak ada orang dibelakang perahu karet yang sedang ia angkat. Yunyoo memandang kesekeliling dan melihat Yangda di sudut lain pantai yang lumayan jauh darinya.

Yangda yang sedari tadi memandangi sekitar langsung berlari begitu melihat seseorang sedang berusaha mengeluarkan anjingnya yang sedang terjebak di batuan karang. Sebagai pecinta binatang, Yangda menjadi sedikit kesal pada pemilik anjing itu. Apa yang dia lakukan hingga anjingnya bisa tersangkut disana?

Yang da langsung berteriak saat pemilik anjing itu menarik anjingnya dari bagian atasnya, “Apa kau gila??!!”

Hoya, sang pemilik anjing itu berbalik dan melihat seorang gadis dengan T-shirt putih tengah berlari kearahnya dengan panik. Mungkin hal itu terasa konyol, tapi Hoya merasa begitu terpesona begitu melihatnya. Saat Yangda berusaha mengeluarkan anjing itu dengan selamat, Hoya malah sibuk meneliti wajah gadis itu.

Akhirnya anjing itu bisa dikeluarkan. Yangda mengusap dahinya dan menghela nafas bahagia. Ia menyerahkan anjing berbulu cokelat itu pada Hoya dan memarahinya, “Kau harusnya menjaga anjingmu dengan baik! bagaimanapun ia juga makhluk hidup yang harus disayangi,”

Hoya mengangguk seperti orang bodoh dan Yangda langsung meninggalkannya karena pada saat itu Yunyoo sudah mulai berteriak tidak jelas di pinggir pantai yang mulai terasa panas.

Beberapa detik kemudian Hoya terhenyak dan langsung berteriak, “Nona! Nona! Kau belum memberitahu namamu!! Hei nona!! Aku menyukaimu,”

Mungkin hari itu banyak sekali pikiran di dalam kepala Yangda hingga gadis itu tak bisa mendengar teriakan Hoya yang mulai detik itu memutuskan untuk menyukai Yangda dan bersumpah untuk mendapatkan gadis itu.

**

Present

 

“Yangda!”

Yangda langsung menoleh saat mendengar suara Yunyoo ditelinganya. Ia mendapati Yunyoo berdiri sambil memegang minuman ringan ditangannya. Tapi bukannya meneruskan kalimatnya, Yunyoo malah membuka mulutnya lebar-lebar.

“Jadi berbicara tidak?” Tanya Yangda memastikan. Yunyoo langsung kembali ke alam sadarnya dan menggeleng keras, “Tidak ada, maaf mengganggu.” Dan gadis itu langsung melesat pergi.

Yangda berbalik kemejanya lagi dan menghela nafas kesal. Dalam hatinya ia berpikir kenapa Yunyoo harus memanggilnya jika hanya untuk melihat gadis itu bengong?

“Memangnya Yunyoo selalu seperti itu?” Yangda hanya menghela nafasnya lagi mendengar pertanyaan itu. Kemudian ia menatap orang disampingnya, “Setiap hembusan nafasnya adalah keanehan. Kau harus biasakan hal itu bila ingin berteman dengannya,”

Kai beroh dan mengangguk paham. Ia kembali meminum minumannya dan beberapa detik kemudian terhenti, “Eh, aku dengar ada siswa pindahan di kelasmu?”

“Yep,” Yangda mengangguk.

“Bagaimana penampilannya?” Tanya Kai lagi.

“Seperti murid kebanyakan,” jawab Yangda santai.

“Dia namja kan? Aku dengar banyak gadis yang menyukainya begitu melihatnya. Kau juga menyukainya? Siapa namanya?”

Yangda mengerutkan dahi   mendengar pertanyaan beruntun Kai. Sejak kapan Kai jadi seperti itu? Aneh.

“Kai, tidak biasanya kau sangat ingin tahu seperti ini,”

“Aku? Tidak, biasa saja.” Kai mengangkat alisnya. kemudian ia bertanya lagi, “jadi, bagaimana pendapatmu tentangnya?” Yangda menutup matanya menahan rasa untuk ingin memukul wajah pria itu dan meminum minumannya, “Tenang saja, yang paling tampan di sekolah hanyalah Kim Kai,”

Kai tersenyum senang selama beberapa detik dan kemudian berpura-pura tak mengerti maksud gadis itu, “Kau ini bilang apa? Kan aku bertanya pendapatmu tentang anak baru itu,”

Yang da memasang wajah datar, “Tetap Kim Kai yang terbaik, tertampan. Lee Howon itu tidak ada apa-apanya,”

Wajah Kai yang mulanya sumringah mendengar ucapan Yangda berubah masam kala melihat si ‘lee Howon’ itu duduk menempel pada Yangda. Pria itu langsung melompat ke tempat duduk di dekat Yang da begitu mengambil makanannya di kantin.

Kai menatap Yangda meminta penjelasan akan pria yang sedang duduk disampingnya itu. Yang da melirik Hoya sebentar dan berbalik pada Kai, “Dia orang yang tidak ada apa-apanya dibanding Kim Kai,”

“Siapa itu Kim Kai? Apa dia artis?” tiba-tiba Hoya menyahut.

Kai tersenyum sinis penuh kemenangan dan menatap Hoya tajam, “Kim Kai itu aku,”

“Apa?” Hoya mengerutkan alisnya, “Kau berbohong kan? Kau bahkan sama sekali tidak berada di levelku,”

Kai berusaha menahan amarah yang mulai meluap-luap dalam dirinya, “Hei anak baru. Kau itu yang bukan levelku. Kau tidak bisa menggantikan posisiku sebagai siswa terseksi disekolah ini,”

“Cih,” desis Hoya mengejek, “Kulitmu itu seperti kentang bakar, kau tahu. Hitam. H.I.T.A.M,”

“Apa??!” seru Kai tidak terima, “Dasar wajah aneh,”

Hoya tidak membalas dan hanya tersenyum. Pria itu lalu mengacuhkan Kai dan terfokus pada Yang da yang beralih pada makanannya setelah Kai dan Hoya sibuk bertengkar.

Hoya memandangi gadis itu seperti ia sedang melihat lukisan indah didinding. Bahkan kelihatannya lebih dari itu. Ia menatap Yangda seolah setiap inci dari wajah gadis itu adalah mahakarya yang sangat indah. Dan tentu saja, itu membuat Kai tambah muak dengan Hoya.

“Berhenti menatap Yangda seperti itu,” ancam Kai sambil memasang wajah serius. Setidaknya agar Hoya sedikit takut padanya.

Ancaman Kai tidak berarti apa-apa pada Hoya. Ia tetap menatap Yang da dengan rasa kagum yang bahkan bisa dilihat dari sudut manapun diwajahnya. Dan Kai? Ia masih berusaha menghentikan aksi Hoya dengan berbagai ancaman dari mulutnya.

**

Yun yoo tersenyum-senyum dan terkikik sendirian di lorong kelas begitu mengetahui Yang da bersama Kai tadi. hatinya tiba-tiba terasa begitu senang, seolah-olah yang jatuh cinta itu dirinya, rencananya yang mungkin saja berhasil setelah sekian lama itu akhirnya membuatnya bahagia. Lebih dari yang ia pikirkan.

“Ck,ck,ck, ternyata lebih cepat dari dugaanku. Kupikir setelah liburan ini mereka masih kaku. Eh, tapi, sebentar lagi kan ujian masuk perguruan tinggi, ah, biar saja, biar saja,” yun yoo pun memulai kebiasaan anehnya, bergumam tak jelas. Sekilas ia terlihat seperti orang berkepribadian ganda, namun itulah ciri khasnya. Ia lebih sering diam, tapi sekalinya bicara seperti orang gila.

“Aigoo..” tiba-tiba seseorang berucap sambil menempelkan telapak tangannya kedahi Yun yoo. Yun yoo hanya terdiam kaget saat orang di belakangnya itu tiba-tiba menyentuhnya. Bukan karena ia benci skinship, namun ia mengenal suara itu.

Sang pemilik itu memutar badannya menghadap Yun yoo tanpa melepas tangannya, “Ck, bocah ini sepertinya sudah gila,”

Yun yoo hanya membeku dalam tatapan orang itu. Mereka bertatapan dalam jarak yang dekat, sesuatu yang belum pernah terjadi diantara mereka, “Kau lapar?” lagi-lagi orang itu berkata yang mendapat jawaban kosong dari Yun yoo.

“Hei,” dia mengguncang pundak gadis itu. Dan akhirnya Yun yoo tersadar, “Oh, eung.. tidak, tidak lapar. Aku mau kekelas,”

“Kalau begitu bersama saja,” dia merangkul Yun yoo. Namun gadis itu menolaknya, “Tidak, aku bisa kembali sendiri,”

Sosok itu menautkan alisnya bingung, “Hei, jangan dingin begitu padaku. Kau ini kenapa?”

“Tidak apa-apa. Kau ini yang kenapa? Kenapa tiba-tiba mendekatiku?”

“Hah?” sosok itu semakin bingung, “Aku kan pacarmu, masa tidak boleh?”

Yun yoo memutar bola matanya dihadapan Sehun, “Itukan hanya kesepakatan kita berdua, selain itu kita masih tetap sama, kita orang a-hmmp” Yun yoo tak bisa melanjutkan ucapanya karena Sehun membungkam mulutnya. Dan tanpa menunggu ijin dari gadis itu Sehun langsung membawanya pergi sembari menutup mulut gadis itu dengan telapak tangannya.

Ternyata Sehun membawanya ke gundukan tanah itu, tempat mereka pertama kali bertemu. Wajah Yunyoo langsung berubah masam, pasti Sehun sengaja menggodanya karna tempat inilah yang membuat Yunyoo bertemu dan menyukai pria itu.

“Kau sengaja ya melakukan ini padaku? Kau senang mempermainkanku?” Tanya Yunyoo begitu mulutnya terbebas dari bekapan Sehun.

Sehun yang tak tahu apa-apa hanya menatap gadis itu sambil menautkan alisnya bingung, “Mempermainkanmu? Tapi kenapa aku harus melakukannya?”

Yunyoo menghela nafasnya keras-keras, “Tentu saja karena ini tempat kita pertama kali bertemu tuan Oh Sehun.. kau pikir aku bodoh? Mungkin kelihatannya iya, tapi aku tidak bodoh,”

Mendengar ucapan Yun yoo, Sehun yang malah terlihat bodoh karena tak bisa memahami kalimat gadis itu. Kerutan di dahi pria itu semakin dalam setiap detiknya. Sejenak kemudian Sehun hanya terdiam sambil memandangi tanah.

Yun yoo menghela nafasnya sambil memandang Sehun yang bertingkah aneh. Gadis itu mendekatinya dan menunduk berusaha melihat wajahnya. Dan saat itu pula Sehun juga hendak berbicara, sehingga bukannya kalimat yang keluar darinya malah pria itu terlonjak kaget. Yun yoopun juga kaget karena wajah mereka yang hampir bersentuhan.

Tapi Sehun segera menenangkan dirinya dan berusaha meyakinkan dirinya untuk kesekian kalinya hari ini. karena, hanya ini satu-satunya kesempatan yang ia miliki.

“YunYoo-ah. Aku sebenarnya punya sesuatu yang harus kukatakan padamu..”

“Katakan saja,” jawab Yunyoo enteng, dia lumayan kesal dengan ulah Sehun yang tiba-tiba datang dan tiba-tiba pergi. namun kali ini, entah karena cinta atau apa Yunyoo seolah tak punya alasan untuk marah pada Sehun.

Sehun mengangguk dan menarik nafasnya dalam-dalam,“Sebenarnya aku…”

**

Sehari setelah liburan berakhir Sehun berdiri di depan pintu gerbang dan mencoba menunggu Yunyoo yang pastinya datang dihari pertama sekolah. Sebenarnya hari ini hanya ada upacara saja, jadi setelah upacara berakhir mereka semua bisa pulang. Tapi Sehun tak bisa menunggu hingga bel pulang untuk bertemu gadis itu. Bisa saja dia menghilang kan? Mengingat bagaimana dia menghilang saat mereka liburan.

Sehun akhirnya melihat gadis itu. Bukan, tepatnya mobil gadis itu melewati gerbang. Sama sekali tidak sadar akan keberadaannya saat itu. Sehun tahu jika gadis itu memang sedikit acuh tak acuh, dia sama sekali tak tersinggung saat gadis itu tak melihatnya. Dia senang hanya dengan melihat gadis itu. Ternyata dia baik-baik saja. sehun sekarang dapat bernafas lega setelah hampir seluruh liburannya dihabiskannya untuk mengkhawatirkan gadis itu.

Dia khawatir, namun dia tak menunjukkannya. Lagi pula ia malu jika sampai teman-temannya tahu. Pasti dia jadi bahan ejekan untuk waktu yang lama. Tapi kenapa Sehun harus khawatir? Tidak ada yang harus di khawatirkan bukan? Yunyoo bukan siapa-siapanya. Tapi anehnya Sehun merasa begitu, ia merasa harus khawatir pada gadis itu.

Sehun mengacak rambutnya sendiri frustasi. Tepat setelah itu Kai datang dan langsung menjitak kepalanya, “Ah, Sakit!!” teriak Sehun mengaduh.

Kai tertawa menanggapi gerutuan Sehun dan menunjuk kesegala arah, “Kau ini, tidak lihat ya. lihat disana,disana,disana. gara-gara kau gerbang sekolah macet karena para siswi berebut ingin memandangimu. Aku hampir mati membantu Yunyoo memasukkan mobilnya,”

“Heh,” Sehun terhenyak, “Kenapa kau membantunya?”

“Tadi aku berangkat kesekolah bersamanya. jika tidak kubantu siapa lagi yang akan membantu Tuan Oh??”

“Andwae! Rumah kalian tidak bersebelahan!!” Teriak Sehun berusaha menutupi rasa panic yang tiba-tiba merasukinya. Kenapa Kai berangkat bersama gadis itu? Kenapa ia tak tahu? Apa jangan-jangan mereka pacaran?

Kai memutar bola matanya, “Memang tidak, tapi rumah sahabatnya kan di depan rumahku,” ujar pria itu dengan penekanan di kata sahabat.

“Jadi kau ikut berangkat bersama Yunyoo karena Yunyoo menjemput Yang da? Dan kau ingin memanfaatkan hal itu agar bisa dekat dengan Yangda?”

Sehun mendapat jitakan keduanya hari ini. kali ini Kai mengeram dengan keras dan terlihat kesal, “Bisakah kau berfikir tanpa mengucapkannya keras-keras?”

“Jadi itu memang benar? Oh.. jadi benar..” Sehun berbalik menuju dalam gedung sekolah sambil memegangi dagunya. Kai yang tertinggal di belakangnya hanya bisa mengepalkan tangannya sambil menahan kesal. Oh sehun yang bodoh itu sepertinya harus mendapat sedikit pencerahan.

Di depan Kai Sehun memasang wajah sedih setelah berpura-pura bodoh di depan sahabatnya itu. Kai saja bisa dekat dengannya, kenapa dia tidak bisa? Kenapa semua jarak ini semakin melebar saja? padahal Yun yoo sudah ia deklarasikan sebagai miliknya, tapi semuanya tidak terlihat sama seperti kelihatannya. Yun yoo pacarnya, namun kenyataannya dia hanyalah orang asing yang Sehun bahkan tidak terlalu mengenalnya.

**

Kai merebahkan tubuhnya di meja kelas dan mengeram kesal. Tanpa ia duga Yang da lebih memilih Hoya. Pria itu terlihat begitu frustasi dan mengacak-acak rambutnya asal. Saat itu Sehun masuk kedalam kelas dan melihat salah satu sahabatnya itu tengah frustasi. Sehun langsung menghampirinya.

“Kenapa wajahmu seperti habis diserang badai begitu?” Tanya Sehun tanpa memandang Kai. Ia sibuk membuka ponselnya.

Kai tersenyum kecut, “Dan badai itu bernama Hoya,”

“Hoya?” Sehun mengerutkan alisnya, “Siapa dia?”

“Anak baru sok keren dari kelas Yang da,” cibir Kai sambil menahan kesal. Ia benar-benar gemas pada Hoya hingga ingin menjambak rambut Pria itu sampai botak.

Sehun mengangguk paham dan tidak bertanya lagi. hal itu sontak membuat Kai heran, “Kau ini, temanmu sedih kau bahkan tak ingin tahu kenapa?”

“Kan aku sudah Tanya kenapa, jawabanmu begitu jadi aku harus Tanya apalagi? AWW!” Sehun mendapat jitakan hangat dari Kai yang sedari tadi menahan gemas ingin memukul seseorang. Namun tiba-tiba Kai mengerutkan alisnya bingung, “Kemana saja kau? Kau bolos pelajaran tadi kan? Kenapa tidak mengajakku hah?”

“Jika mengajakmu akan sangat tidak menyenangkan,” Sehun menggeleng-geleng.

“Memangnya apa yang kau lakukan?” Kai memicingkan matanya.

“Coba tebak..” Sehun tersenyum misterius. Kai hanya terdiam cengo dihadapannya dan membuat Sehun mendadak ikut frustasi. Sepertinya sahabatnya ini sedang malas berpikir.

“Aku pergi bersama Yun yoo menemui ibuku,” tukas Sehun singkat.

**

To be continue

 

 

Iklan

2 thoughts on “I Like You (Chapter 11)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s