Just That, I Love You – Tears (Chapter 7)

Chapter-seven.jpg

Author : 610021FireThunder

Genre : Imagine, Romance, Comedy

Length : Chaptered

Rating : All Can Read

Main Cast :

– You as Nam Seul Hee

– Park Chanyeol as Himself

– Kris as Himself

– Chen as Himself

 

Just That, I Love You – Tears ( Chapter Seven )

Sepanjang langkah menuju apartemennya ia terus tertawa, ia benar benar tidak bisa lupa ekspresi Sehun dan Chanyeol. Ternyata mereka itu masih seorang manusia biasa. Tidak seperti saat dipanggung besar yang membuatnya bersinar dan terlihat seperti karakter dongeng hidup. Tetapi dalam kehidupan nyata, hanya karena seekor serangga kecil mereka bisa heboh sekali. Hingga ia pikir tidak ada buruknya mengenal EXO lebih jauh walaupun dulu hanya selalu mendengar perilaku mereka semua dari mulut seseorang, tapi sekarang ia tau EXO bisa membuatnya tertawa lagi seperti saat ini.

Kakinya terhenti ketika melihat tepat di depan apartement berdiri seorang pria dengan tatapan letih melihat kearahnya, disamping pria itu berdiri Yora yang sama menatapnya seakan berkata “ Aku tidak punya pilihan lain “.

“ Untuk apa kau kesini? “

“ Seperti itu kah cara mu berbicara kepada ayah mu sendiri? “

“ Oh kau itu ayah ku? Maaf aku sudah lama tidak melihatmu hingga aku lupa “

“ Seul Hee-ah… “ Yora merasa awkward diantara sapaan anak dan ayah itu.

“ Masuklah aku tidak mau mempermalukan diriku sendiri dengan berbicara kasar terhadap orang yang lebih tua dariku “

Seul Hee membuka pintu apartementnya dan kedua orang itu mengikuti. Sekarang mereka bertiga terduduk di sofa, dengan wajah masam Seul Hee mengarahkan pandang kepada ayahnya itu

“ Ada yang ingin kau bicarakan denganku? “

“ Aku hanya ingin tau keadaan putri tersayangku, setelah satu tahun aku tidak melihatmu “

“ tersayang? Apa aku tidak salah dengar? Sejak kapan? “

“ Hahaha.. kau masih sama seperti dulu,keras kepala. Apa kau masih marah tentang hal itu? “

“ Tidak perlu membawa hal itu lagi. Marah pun tidak akan bisa mengembalikan semuanya “

“ Aku tidak punya pilihan, lelaki itu memang tidak sepantasnya ada di group. Dan lihat sekarang apa yang lelaki itu perbuat kepadamu, dia membuatmu berperilaku seperti ini kepadaku “

“ Apa alasanmu berkata seperti itu??! Kau itu alasan terbesar aku menjadi seperti sekarang! Apa kau tidak tau ia berjuang begitu keras hingga disaat terakhir… “ Perkataan Seul Hee terputus, tidak sanggup untuk melanjutkan

“ Apa?! Kenapa kau selalu membela lelaki itu? Hya! Aku ini ayahmu! Dia tidak pernah pantas melakukan debut disini, dan tidak kah kau tahu? Dengan aku membuatnya pergi dia tidak akan menjadi seterkenal di negaranya seperti sekarang. Harusnya kau paham itu Seul Hee! “

“ Apa yang menjadi alasanmu seseorang itu pantas atau tidaknya debut disini? Dia sudah sangat pantas dan layak! Dia bahkan rela meninggalkan ibunya sendirian. Kau tidak tau itu bukan? Karena yang kau tahu itu semua hanya uang! “

“ Dia tidak punya kemampuan apa apa selain visualnya. Kau pun jatuh cinta padanya karena itu kan? Oh.. Jadi dia membawa ibunya sebagai senjata untuk memperdaya mu? Jika bukan karena uang kau tidak akan tinggal diapartement besar seperti ini “

“ Ya. Aku jatuh cinta padanya tapi bukan karena rupa yang ia miliki, tapi dia bisa memberikan apa yang tidak pernah aku rasakan selama aku hidup! Bahkan kau yang notabene seorang ayah tidak pernah mempedulikan aku sedikitpun! Setidaknya ibunya lebih baik daripada dirimu, aku tidak peduli jika kau sebut aku diperdaya “

“ Hah.. Kau sudah gila??! Kau pikir apa semua fasilitas yang aku beri padamu?? Kau masih bilang aku tidak peduli? Karena kau tidak punya ibu jadi kau bicara seperti itu “

Kata kata yang keluar dari mulut ayahnya seakan menohok tajam. Seul Hee hanya bisa diam menatap nanar ayahnya yang saat itu juga sadar telah mengucapkan suatu kata yang salah. Memang ibu Seul Hee sudah meninggal saat dirinya masih berumu 5 tahun. Saat itu adalah masa yang indah untuk Seul Hee dimana ketika ayahnya tidak buta harta dan tahta, semua begitu baik hingga ia tidak pernah percaya akan menjadi seperti ini sekarang.

“ Kau… sekarang keluar.. aku tidak ingin melihatmu lagi.. KELUAR!!! “ teriak Seul Hee dengan suara bergetar

Yora yang menyadari suasana semakin keruh mencoba membujuk ayah Seul Hee untuk pergi sementara waktu. Keduanya sedang dilanda emosi yang berkecamuk, hingga mereka saling meluapkan kata kata amarah yang menyakiti satu sama lain. Dengan berat hati ayah Seul Hee pergi, niat baik untuk melihat keadaan putrinya itu berujung pertengkaran yang membuat keduanya terluka. Setelah ayahnya pergi Yora menghampiri Seul Hee yang termenung, ia tidak tega melihat Seul hee yang sulit sekali untuk menangis dan selalu saja terlihat seperti tidak ada yang terjadi.

“ Seul Hee-ah… menangislah jika kau ingin “

“ Aniya.. Unnie.. i’m okay. Aku rasa aku ingin keluar sebentar menghirup udara segar “

“ Mau kutemani? “

“ Tidak perlu Unnie, tunggu saja disini. Ah bisakah buatkan aku secangkir cokelat panas saat aku kembali? aku tidak akan lama ko “

“ Baiklah Seul Hee.. Cepat kembali okay? Diluar sangat dingin “

“ Iya unnie.. aku pergi “

Terdengar suara pintu ditutup, Yora hanya bisa menghela napas melihat itu, sebenarnya ada hal lain yang ingin ia katakan tetapi setelah apa yang terjadi sangat tidak memungkinkan untuk mengatakannya. Tidak ada yang bisa ia lakukan ketika Seul Hee sedang dalam tahap hancur. Hanya satu yang selalu ia bisa lakukan yaitu membuatkan cokelat panas yang menurut Seul Hee itu memperbaiki suasana hatinya.

Seul Hee berjalan perlahan menuju taman kecil dekat apartemennya dan duduk di sebuah ayunan. Malam itu udara cukup dingin, meski begitu kulit Seul Hee seperti mati rasa ia tidak kedinginan sama sekali. Dalam hatinya ia ingin sekali menangis meraung tapi entah kenapa matanya tidak mau meneteskan satupun air mata. Lagi.. ia menatap kosong, setelah orang yang ia cintai satu persatu pergi dari hidupnya dirinya semakin merasa terpuruk.

“ Mungkin aku dikutuk.. haha “ ucapnya getir

“ Tomato? Kenapa dirimu harus dikutuk? “

Suara itu mengejutkannya, dan seketika ia menoleh. Dia.. Chen. Entahlah dalam hatinya ia begitu bersyukur bahwa orang yang sekarang berada disampingnya itu Chen, namun ia juga merasa tidak tepat jika Chen melihatnya dalam keadaan seperti sekarang ini. Seul Hee kemudian memaksakan untuk tersenyum seperti biasa.

“ Omo.. Chen-ssi? Apa yang sedang kau lakukan disini? “

“ Cukup Chen saja ok? Aku? Aku baru saja dari mart membeli beberapa camilan untuk member. Aku kalah dalam suit jadi aku mentraktir mereka hahaha. Kau sendiri sedang apa di malam sedingin ini? “

“ Baiklah Chen… kalian masih melakukan permainan suit itu? Hahaha. Hanya ingin mencari udara segar, terasa penat didalam apartement “

“ Tentuu.. kami sedang bosan jadi aku mengusulkan permainan itu tapi aku yang kalah, haaah. Ya~Tomato..Ini begitu dingin, kau juga tidak memakai jaket tebal. Apa kau baik baik saja? “

“ You got bad luck huh? Hihi.Tentuuu… Aku baik baik saja, aku sudah terbiasa. Ah ngomong – ngomong apa yang kau beli dari mart? “ ucap Seul Hee mengalihkan seraya melihat ke kantong belanjaan yang dibawa chen.

“ Woaaah kamu membeli permen Jelly? Aku suka permen itu, boleh ku minta? Ah kau membeli beberapa snack bar juga, aku jadi menginginkan semua yang ada di kantong belanjaanmu hehe. Apa aku terlalu rakus? “ cerocos Seul Hee tanpa menunggu jawaban dari Chen.

Chen tau memang ada hal yang telah terjadi pada Seul Hee tapi ia tidak bisa serta merta bertanya. Dilihat dari tingkah gadis itu, Chen mengira hal itu begitu menyakiti Seul Hee. Chen menarik napas dan perlahan mengusap kepala Seul Hee.

“ Seul Hee-ah.. kau melakukannya dengan sangat baik “

Seul Hee terdiam, pikirannya berkecamuk semua bayangan kejadian tadi berkelebat di kepalanya. Sesak rasanya seperti ia ingin menangis menumpahkan segalanya ketika Chen mulai mengusap kepalanya. Ia tetap menunduk tidak lagi berbicara ataupun menatap wajah Chen. Pandangannya buram akan ada yang jatuh dari kedua matanya, ia menggigit bibir menahan agar ia tidak menangis dihadapan Chen.

“ Terlalu berat untukmu menahannya bukan? Seul Hee-ah.. kau tau? Terkadang robot pun bisa menangis.. “

Ia mengangkat wajahnya dan menatap Chen yang saat itu tersenyum hangat kearahnya. Dan seluruh pertahanan yang selama ini ia buat runtuh, bulir yang menetes tak terbendung lagi. Ia tidak mengerti akan sosok lelaki didepannya ini, dia bisa membuatnya menyerah untuk membentengi diri.

Chen tidak berkata apa apa lagi, kemudian Seul Hee mengangkat wajahnya sambil menghapus sisa air mata. Ia tersenyum ke arah Chen.

“ Merasa lebih baik?? “ Tanya Chen

“ Ne… “

Lalu Chen menggosok kedua tangannya dan memegang tangan Seul Hee yang sudah sedingin es.

“ Yaa.. Sudah berapa lama kau berada diluar? Ayo masuk kau nanti kena flu “

Seketika Chen menarik Seul Hee untuk berdiri dan mengikutinya masuk ke apartement. Ia hanya menurut dengan tangannya kini berada di dalam kantung jaket Chen.

“ Chen… “

“ Mmm? “

“ Kenapa kau seperti ini padaku? “

“ Apa tindakan ku harus selalu ada alasannya? “

“ Itu…. “

“ Aku hanya merasa kau membutuhkan aku. Ya.. sangat membutuhkan aku, karena itu aku datang “

Seul Hee menegakkan kepala mendengar apa yang dikatakan Chen. Melihat punggung sesosok lelaki didepannya itu yang kini semakin erat menggenggam tangannya membuat ia takut terbuai dan merasa begitu nyaman hingga terus menerus bergantung pada Chen.

“ Ah.. Seul Hee – ah, sebentar lagi hari ulang tahun ku kau tau? “

“ Ne? “

“ A.. Mwoya.. Kau tidak tau? “

“ Bu..bukan itu, aku tau ko “

“ Kalau begitu bersiaplah. Aku akan meminta sebuah hadiah yang besar darimu “

“ Apa? Hadiah yang besar? Aku tidak akan bissa menyanggupinya kalau begitu “

“ Kau bisa.. Tunggu saja nanti oke. Pasti akan menyenangkan kekeke “

“ Geez.. apa yang sebenarnya kau rencanakan? “

“ Omo.. Uri Seul Hee sangat penasaran ya. Bersabarlah kekeke “

“ Sepertinya kau sangat senang akan rencanamu “

“ Tentu saja. Karena aku tau kau pasti akan menurutinya, kau kan sudah berjanji “

“ Ne… aku ingat janjiku, baiklah aku tunggu “

Lift sudah berada di lantai apartement Seul Hee berada dan Chen melepaskan genggamannya.

“ Masuklah dan minum minuman hangat “

“ Ne.. Terimakasih, kau menolongku lagi dan… terimakasih untuk tidak bertanya tentang hari ini “

“ Hya.. sebenarnya aku sangat penasaran ingin bertanya, tapi aku tau suatu saat kau akan menceritakannya jadi aku cukup menunggu “

“ Ah Ne… Kau terlihat seperti tokoh pangeran di komik sekarang, kau terlalu baik “

“ Oh! Apa kau sedang menggodaku? Ya hilangkan dulu bengkak matamu, aku tidak suka digoda dengan penampilan seperti itu “

“ Aisssh.. kau itu.. aku memujimu tau. “ Sahut Seul Hee hendak memberikan pukulan kecil di kepala Chen, namun tidak sampai.

“ Hahaha kau harus berlatih jika ingin memukulku. Aku pergi, jaljaaa “ ucap Chen dengan melambaikan tangan dan lift pun tertutup.

 

 

23:45 CST Beijing….

Lelaki itu menatap langit malam melalui jendela hotel. Gelap,hanya itu yang bisa ia lihat tidak ada bintang karena terhalang hingar bingar kota Beijing. Itu akan berbeda jika dilihat dari langit 2 tahun yang lalu, bersama dengan gadis yang ia cintai namun dengan sangat bodoh ia melepasnya tanpa perjuangan apapun. Hingga sampai sekarang ia masih bisa mengingat binar mata gadis itu saat bersamanya menatap langit dan ia pun ingat betul bagaimana ketika binar itu redup. Memikirkan itu semua membuatnya semakin merasa menyesal telah menjadi seorang pecundang dan tanpa sadar berkali kali menyakiti gadis itu.

“ Yi Fan.. “

Suara manager Yifan membuatnya bangun dari lamunan.

“ Ada apa manager? “

“ Waktu untuk proses hukum selanjutnya sudah ditentukan “

“ Oh begitukah? Kapan? “

“ 21 September nanti, aku harap itu bisa menjadi sidang yang terakhir “

“ Mmm.. haruskah aku pergi kesana? Sidang? “

“ Tidak perlu, semuanya sudah diurus oleh pengacaramu. Kau hanya menunggu hasil saja “

“ Baiklah, terimakasih manager “

“ Oke dan bersiaplah untuk Photoshoot besok, kau tidak lupa bukan? “

“ Tidak mungkin aku lupa, i’m Wu Yi Fan anyway “

“ Yayaya, you are almighty hahaha “

“ Ah.. manager, lalu bagaimana dengan dia? “

“ Dia? Ohh.. maksudmu gadis yang kau cari itu? Aku dengar dari sumberku dia tidak lagi berada di China. “

“ Maksudmu? Dia pergi dari negara ini? “

“ Bisa dibilang seperti itu. Yi Fan.. sebenarnya siapa gadis itu? Kau mengenalnya? Bukankah dia hanya seorang fans yang mengikutimu kemana mana? Kau tidak perlu khawatir hanya karena kehilangan seorang fans “

“ Bukan.. dia bukan salah satu fansku. Aku sangat mengenalnya banyak hal yang ingin aku katakan padanya. Aku mohon bantuanmu manager, aku akan ceritakan padamu jika aku sudah bertemu dengannya untuk saat ini tolong cari keberadaan dia dahulu “

“ Baiklaaah… aku tidak bisa berkata apa apa jika menyangkut gadis ini, dari penjelasanmu aku paham dia seseorang yang penting untukmu bukan?? Aku akan berusaha mencarinya oke “

“ Terima Kasih manager… “

 

 

September, 20 2015 06:07 KST

“ Unnieeeeeee… bangunlah, bukankah kau hari ini ada show yang harus diurus?? “

“ Haa?? Mwo?? Woah Seul Hee!! Jam berapa sekarang??!! “

“ 06:07.. Kau berangkat jam 7 bukan? Aku juga hari ini ada jadwal untuk pemotretan EXO di Fiji jadi beberapa hari kedepan aku tidak ada dirumah “

“ Yayaya.. kau sudah mengatakannya kemarin Seul Hee, ah kau sudah bersiap?? Kau bangun jam berapa? “

“ Oke, tolong jaga rumah untukku ya Unnie hihi. Aku tidak tidur semalaman, banyak hal yang perlu aku siapkan “

“ YA!! Kau harusnya membangunkanku lebih pagi. Tunggu aku bersiap, aku akan mengantarmu kita berangkat bersama “

“ Kau terlihat begitu lelah jadi aku tidak tega membangunkanmu. Ah tidak perlu aku akan berangkat sendiri. Cuaca hari ini terlihat begitu bagus jadi aku akan mengambil bus “

“ Seul Hee – ah… Kau mengada ngada? Diluar bahkan masih gelap. Lagipula bukankah kau seharusnya sampai pukul 8? Kalau kau tidak ingin aku antar setidaknya tunggu diriku membuatkan sarapan untukmu “

“ Eiiii Unnie, aku itu orang yang peka terhadap cuaca. Kau itu selaluuu saja merepotkan. Aku bisa membeli beberapa makanan dijalan nanti “

“ Aniyaaaaaa… aku tau kau tidak akan membelinya. Sudahlaah diam saja, manfaatkan selagi aku baik padamu “

Seul Hee hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan Yora. Dia memang selalu menjadi pengganti sosok keluarga yang ia tidak punya, ia selalu repot ini itu hanya untuk Seul Hee. Karena kejadian waktu itu Seul Hee meminta Yora untuk tinggal bersamanya, agar ia tidak selalu merasa sepi di apartement yang besar. Dan juga agar ia bisa melupakan kesedihan hanya dengan berbicara bersama Yora.

“ Aku buatkan beberapa sandwich, habiskan oke?? Beberapa hari ini kau tidak banyak makan, aku khawatir apalagi kau akan sibuk disana. Pastikan kau makan dengan baik, oh?? “ ucap Yora seraya menyodorkan tempat bekal berisi beberapa potong sandwich.

“ Ne… Omma. Aku pastikan akan menghabiskan ini, kau juga jangan menunda makan. Aku akan segera kembali “

“ Ya.. siapa yang kau panggil omma? Aku belum setua itu. Baiklah, ayo pergi bersama “

“ Hihihi.. Kajja!! Ah Unnie…. “

“ Mmm.. Apa? “

“ Saranghaeyo.. “

“ Woah apa ini? Kenapa kau tiba tiba menjadi berperilaku manis? Kau tersentuh dengan sandwich buatanku?? Kekeke “

“ Aigoooo.. aku hanya mengatakannya saja, ah aku tidak akan mengatakannya untuk kedua kali “

“ Baiklaaah karena aku merasa senang aku akan mengantarmu. Tidak ada penolakan “

“ Yaa~ Unnie.. “

“ Oh iya Seul Hee… Sebenarnya ada yang ingin aku katakan kepadamu hari itu “

“ Apa Unnie? “ seketika raut muka Seul Hee menjadi serius

“ Si bodoh itu, hari ini proses hukumnya. Tapi aku tidak tau apa dia akan datang ke Korea atau hanya pengacaranya saja “

“ Ahhh.. begitu?? Terima kasih.. karena sudah mengatakannya Unnie “

Yora tahu jika saja hari ini tidak ada jadwal mungkin Seul Hee akan dengan sangat bodohnya menunggu dibandara seperti waktu dulu. Berharap orang yang ditunggunya itu datang dan mencarinya untuk mengatakan alasan dia pergi atau sekedar berkata rindu. Namun hingga satu hari penuh orang itu tidak pernah datang, orang itu tidak pernah mencari, orang itu juga tidak pernah memberikan alasan kepergiannya. Yang ada hanya gadis yang terus menerus berharap dan percaya pada hal yang tidak pernah pasti.

Iklan

39 thoughts on “Just That, I Love You – Tears (Chapter 7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s