Learning to Love : Promise

1449147556169

Title : Learning to Love : Promise

By : avatar

Main Cast : Park Chanyeol (EXO), Lee Yeonhee (OC)

Genre : AU, Marriage Life, Romance

Rating : PG-17

Length : Oneshot (series)

Disclaimer : Don’t be Siders please & also please don’t be plagiators! Imagination world is big enough for all of us so please don’t copycat my story. This story is pure from my own wild imagination. Thank you.

All cast other than OCs belongs to God, their agencies, and their relatives.

Previous Learning to Love : Confession || Learning to Love : Morning Kiss

Warning for TYPOS

Happy Reading, Guys!

.

.

.

.

.

.

 

 

Bau harum menyerang masuk indra penciumannya—yang ia yakini berasal dari kegiatan memasak sang istri. Tidak mau membuang kesempatan emas, chanyeol segera melangkahkan kedua kakinya trusun dari tempat tidur—bergegas menuju dapur. Perlahan-lahan ia membuka pintu kamar supaya gadisnya tidak menyadari eksistensinya.

 

Sedikit lagi

 

Langkahnya kini bagai singa siap menerkam mangsanya kapan saja.

 

Satu langkah

 

Dua langkah

 

Tiga langkah

 

Yeonhee merasakan kehangatan menjalari tubuhnya. Ada yang bersarang di pinggangnya. Memeluknya posesif dari belakang. Yeonhee sudah terbiasa walau jantungnya masih belum bisa diajak kompromi jika bersentuhan dengan yoda tampan yang satu ini.

“Selamat pagi, sayang.” Suara bariton favorit itu bagai melodi mengalun lembut di telinga Yeonhee. Chanyeol masih saja sibuk berlama-lama menghirup feromon istrinya bagai candu yang tidak bisa dihentikan. And wait, what?! Sayang?! Jantungnya kembali berulah mendengar panggilan baru dari si empunya suara.

“Selamat pagi juga, Yeol.” Yeonhee berusaha ‘profesional’ menutupi kegugupannya.

“Sabar sebentar. Sedikit lagi sarapannya akan siap. Kau mandi saja dulu lalu tunggu di meja makan.” Berusaha menghindari sentuhan suaminya lebih lama lagi Yeonhee mencoba beralibi.

“Baiklah aku akan menunggu.” Chanyeol masih saja betah bergeming di sana. Di leher istrinya. Menghirup semua aroma tubuh Yeonhee dengan hikmat.

“Ya sudah sana, ke meja makan. Jangan seperti ini terus.” Yeonhee mulai merasa geli dengan dengusan napas Chanyeol di leher mulusnya.

“Siapa bilang aku akan menunggu di meja makan, hm?”

Alis Yeonhee bertautan menampangkan ekspresi bingung, masih menerka-nerka arti dari sebaris kalimat tadi.

“Apa maksudmu? Jadi kau mau menunggu di mana? Di kamar mandi, begitu?” Dengan tatapan polos Yeonhee berbalik untuk menatap Chanyeol, meminta jawaban atas pertanyaannya.

“Aish, kau ini tidak peka atau bagaimana?” Chanyeol kesal karena tingkah Yeonhee yang kelewat polos itu (atau pura-pura polos).

Yeonhee masih saja menyuguhkan ekspresi bingungnya mendengar penuturan suaminya barusan.

“Aku masih ingin memelukmu tahu. Kenapa kau malah menyuruhku menunggu di kamar mandi? Apa kau benar-benar tidak mengerti maksudku?” Yeonhee hanya menggeleng sebagai jawaban.

Chanyeol mencubit gemas pipi Yeonhee melihat ekspresi polos istrinya itu.

“Aigoo, harus kuapakan kau biar peka terhadap perasaanku, huh?”

“Cih, di mana-mana seharusnya suami yang peka terhadap istrinya.” Yeonhee mencoba membela diri dengan argumentasinya. Ia segera berbalik lagi menghadap panci yang sedang mengepulkan asap yang berasal dari sup kimchi-nya. Chanyeol geli sendiri melihat tingkah istrinya.

Terasa ada sesuatu yang berat menghinggapi pundaknya. Tangan Chanyeol sudah bertengger di sana ternyata, tanpa permisi tentunnya dari sang pemilik pundak. Lengan kekarnya memutar tubuh Yeonhee, memaksanya berbalik. Kedua pasang netra hazel itu bertemu, asik beradu pandang.

“Baiklah, maaf. Kenapa jadi kau yang marah, eoh? Seharusnya aku yang marah.” Chanyeol membuka suara tanpa memutuskan kontak mata dengan istrinya.

“Baiklah, bailklah. Lain kali aku akan mencoba untuk lebih peka.” Yeonhee mengerucutkan bibirnya membalas pernyataan suaminya.

 

 

 

 

CHU

 

 

 

 

Kecupan secepat kilat mendarat di bibir Yeonhee. Tangan Yeonhee refleks melayang, tepat di kepala Chanyeol.

“YA! Kenapa kau memukulku Yeon-ah?” Posisi Chanyeol sudah mengenaskan tergeletak di lantai jika kalian bertanya seberapa hebat pukulan Yeonhee. Chanyeol masih sibuk mengusap-usapkan kepalanya yang diperlakukan secara tidak berperikekepalaan oleh Yeonhee.

“Salahmu sendiri menciumku seenak jidat. Kan sudah kuperingatkan aku belum terbiasa dengan sentuhanmu, Park Chanyeol.” Yeonhee berkacak pinggang di counter dapur sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya menatap Chanyeol.

“Tapi tidak seperti ini juga caranya.” Kepalanya yang masih terasa sakit terus diusapnya sambil mengeryitkan hidungnya.

“Baiklah maaf (lagi). Sekarang cepat mandi dan bersiaplah, kau bisa terlambat nanti.”

Tidak mau mendapat perlakuan anarkis lagi dari istrinya, Chanyeol segera bangkit berdiri melangkahkan kakinya menuju kamar. Tiba-tiba terbesit pikiran untuk menjahili istrinya di kepalanya, seringai jahil terpatri di wajahnya.

 

“AKH! Yeon-ah sakit sekali!” Chanyeol sudah terbaring di lantai (lagi) ketika Yeonhee menengok mendengar pekikkan Chanyeol yang mencuri atensinya.

Yeonhee yang sudah terlanjur panik langsung menghampiri Chanyeol dan terduduk di sebelahnya.

“Chanyeol-ah, maafkan aku tadi memukulmu terlalu keras. Di mana yang sakit?!” Raut panik jelas terlukis di wajah Yeonhee.

“Sakit… sekali Yeon-ah, aku tidak tahan.” Chanyeol melanjutkan akting tingkat langit ketujuhnya.

“Katakan, di bagian mana yang sakit? Apa kepalamu sakit, eoh?!”

“Mendekatlah…”

Yeonhee mendekatkan tubuhnya dan menundukkan kepalanya.

“Cepat katakan di mana yang sakit?!”

“Di sini… rasanya sakit sekali…” Chanyeol meremas kaosnya di bagian dada.

“Jantungmu?” Chanyeol menggeleng.

“Lalu di mana?! Aish, kau ini, cepat katakan!!”

“Hatiku Yeon-ah. Hatiku sakit karena kau tidak peka denganku.” Chanyeol mulai membuka mata menatap Yeonhee yang sedang mengerjap-ngerjapkan matanya pelan berusaha menelaah maksud perkataan Chanyeol. Seringaian jahil muncul dari bibir Chanyeol membuat Yeonhee menyadiri dirinya kini sedang dikerjai.

“AKH! YA! Kenapa kau memukulku lagi?!” kalian pasti tahu apa yang dilakukan Yeonhee terhadap Chanyeol.

Chanyeol yang masih mengusap-usap kepalanya terkejut ketika mendengar suara isakan.

Yeonhee menangis.

 

Deg

 

Jantung Chanyeol mencelos melihat gadisnya menangis. Buru-buru Chanyeol duduk lalu menangkup kedua pipi Yeonhee yang sedang menunduk sambil terisak.

“Hey, kenapa kau menangis, hm? Aku hanya bercanda, Yeon-ah.” tanya Cahanyeol lembut sambil mengusapkan kedua ibu jarinya, menghapus jejak-jejak kristal bening yang masih saja turun menghiasi kedua pipi mulus Yeonhee. Bukannya hilang, air matanya kian turun deras. Yeonhee masih saja diam sambil terisak.

“Dasar bodoh! Tak tahukah kau, aku ketakutan setengah mati tadi?! Aku takut… aku takut kalau terjadi sesuatu padamu. Aku takut kehilanganmu Park Chanyeol! Aku… aku mencintaimu.” Chanyeol hanya diam, terkejut mendengar pengakuan istrinya, yang lebih mirip lirihan. Sebesar itukah Yeonhee mencintainya?

“Aigoo, istriku ternyata sangat mencintaiku, eoh? Maafkan aku Yeon-ah. Maafkan aku yang bodoh ini. Aku juga sangaaaaat mencintaimu. Aku berjanji untuk tidak meninggalkanmu, ne? Sudahlah jangan menangis.” Chanyeol merengkuh Yeonhee yang masih terisak hebat ke dalam pelukannya.

“Dasar bodoh… bodoh kau Chanyeol.” Lirih Yeonhee—setengah merancau sambil memukul-mukul dada bidang suaminya. Chanyeol menarik dagu Yeonhee, memaksa netranya bertemu dengan miliknya.

Kedua materi lembab itu bertemu. Menghentikan waktu dan ruang gerak. Memecah segala teori fisika yang ada mengenai rotasi bumi dan ruang waktu. Chanyeol melumatnya dalam dan lembut. Tautan itu terhenti ketika Chanyeol merasakan cairan asin membasahi bibirnya.

“Sudah jangan menangis lagi. Maafkan aku, hm?” Untuk kesekian kalinya Chanyeol meminta maaf sambil menangkup kedua pipi istrinya.

Yeonhee hanya mengangguk perlahan dengan kedua ibu jari Chanyeol yang masih sibuk menghapus air matanya.

“Berjanjilah untuk tidak membuatku khawatir. Berjanjilah untuk terus berada di sisiku. Karena aku Lee Yeonhee, amat sangat mencintaimu, Park Chanyeol. Janji?”

“Aku berjanji. Dan ralat namamu, Nyonya Park Yeonhee.”

 

 

 

 

FIN

A/N:

Terima kasih untuk kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca FF gaje ini dan menyempatkan sedikit dari waktu berharga kalian untuk menuliskan komen, saya hargai sekali. Sekali lagi terima kasih ^^

Best regards,

avatar

 

20 thoughts on “Learning to Love : Promise

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s