The Name

Tittle : The Name || Author : Zila Ebina

Kim Jongin || Oh Sehun || Park Chanyeol || Choi Yena || Kim Yena || Park Chanmi

Genre : School-Life, Romance

Rating : PG-15

Lenght : Oneshoot

 

Jongin melangkahkan kakinya cepat ketaman belakang sekolahnya. Dia sudah tidak kuat menahan matanya lagi. Dia butuh tidur dan dia tidak bisa melakukannya didalam kelas yang sangat ramai karena guru yang mengajar tidak datang. Tadi malam, dia begadang dijalanan bersama teman-temannya sampai subuh. Dia baru tertidur sekitar satu jam sebelum ibunya membangunkannya dengan paksa. Jadi, wajar saja kan kalau matanya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi?

Jongin merebahkan tubuhnya diatas rumput. Dia belum benar-benar tertidur ketika telinganya menangkap suara berisik diatasnya. Dia mendecak kesal setelah beberapa saat membiarkan suara itu terus berbunyi. Serius. Dia butuh tidur!. Jongin membuka matanya, mendudukkan tubuhnya, lalu mendongakkan kepala menatap dahan pohon diatasnya, mencari sosok yang membuatnya terganggu. Dahinya mengerut heran mendapati seorang gadis sedang merangkak pelan disalah satu dahan pohon, mata gadis itu tertuju pada satu titik.

“ Hei, apa yang sedang kau lakukan? “ tanyanya cukup keras. Mungkin kelewat keras karena gadis itu terlihat terlonjak hebat hingga membuat gadis itu kehilangan keseimbangan. Jongin mengerjap bingung, melihat tubuh yang melayang pelan diatasnya, detik berikutnya, tanpa dia sadari, dia telah merelakan tubunya untuk dijadikan landasan gadis itu.

“ Jongin Sonbae? “ Jongin menghentikan gerakannya mengusap punggungnya yang terasa sakit saat gadis itu menyebut namanya. Ia mendongak. Dan detik berikutnya, ketika ia melihat wajah gadis didepannya dengan jelas, rasanya sesuatu yang aneh sedang terjadi. Bukan. Bukan aneh yang menyeramkan. Ini menyenangkan. Oh! Ayolah, laki-laki mana yang tidak terpesona melihatnya?. Gadis itu memiliki wajah oval, mata yang terlihat lebih indah, hidung mancung, bibir yang tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis. Cantik. Bahkan dengan kulitnya yang sedikit kecoklatan sekalipun. Jongin mengerjap, berusaha mengontrol dirinya untuk tidak jatuh terlalu dalam pada pesona gadis itu.

“ Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan? “ ia mengulang pertanyaannya, kali ini dengan nada sedikit kesal untuk menutupi kegugupannya. Tangan gadis itu terulur menunjuk satu titik diatas.

“ Itu “ Jongin mendongak, mencari objek yang ditunjuk, mengerutkan dahinya heran melihat seekor anjing yang bertengger ketakutan diatas sana. Jongin menarik kepalanya lagi menghadap gadis itu yang sedang menatap anjing sambil mengatakan sesuatu yang membuat hatinya bergumam memuji. “ Anjing. Tadi pagi aku melihatnya memanjat pohon ini. Dan tidak turun-turun sampai sekarang. Aku ingin menolongnya “ Jongin kembali menatap anjing diatas yang memang terlihat kasihan. Dia berdiri.

“ Kau tidak perlu memanjat untuk menolongnya “. Jongin mendekati tempat anjing itu meringkuk, berdiri tepat dibawah anjing itu. Dia mengulurkan satu tangannya, menggoyangkannya perlahan, bibirnya mengeluarkan suara untuk memancing anjing itu. Anjing itu terlihat menegakkan tubuhnya setelah mendengar suaranya beberapa saat, mata anjing itu menatap Jongin sebelum akhirnya memberanikan diri melompat turun kepelukan Jongin. Anjing itu menggonggong kecil, seakan sedang mengucapkan terimakasih, Jongin membalasnya dengan mengelus manja anjing itu.

“ Wah! Hebat “ Jongin menoleh, gadis itu sudah berdiri disampingnya. Jongin mengedikkan bahunya. Dia melihat mata gadis itu tak lepas dari anjing didekapannya.

“ Kau mau membawanya? “ tawarnya, gadis itu menatapnya, membuatnya menelan ludah mengontrol kegugupannya.

“ Oh tidak. aku hanya senang melihat anjing itu akhirnya bisa turun. Terimakasih karena sudah membantuku menolongnya. Kalau begitu, aku pamit pergi dulu Sonbae, permisi.” Gadis itu berjalan menjauh, Jongin terus menatap gadis itu, bahkan setelah gadis itu masuk kedalam gedung sekolah, dia masih diam menatap pintu yang tadi dilewati gadis itu, berharap gadis itu muncul lagi. Tapi, tentu saja itu mustahil. Jongin mengehela nafas, sedikit merasa kecewa. Jongin berniat merebahkan diri ketika teringat sesuatu yang seharusnya tidak dia lupakan. Nama. Dia tidak tahu nama gadis itu. Jongin mengerang, menyesal tidak sempat menanyakan nama gadis itu karena terlalu terpesona dengan sosoknya. Dia merebahkan tubuhnya masih dengan perasaan menyesal, mengerang lagi beberapa saat ketika menyadari matanya sudah tidak mau terpejam. Dia mendudukkan tubuhnya, mengacak rambutnya kesal.

“ Sial! “

# # #

Sehun berjalan cukup cepat sepanjang perjalanan menuju kelasnya yang berada dilantai tiga. Koridor-koridor, taman dan tempat lain disekolahnya yang biasanya ramai sudah sepi. Tidak ada murid berkeliaran. Mereka sudah duduk manis didalam kelas mendengarkan guru berceloteh tentang pelajaran. Ya, dia terlambat. Sangat terlambat. Tapi, memangnya dia peduli? Dia lebih memilih terlambat sekolah daripada terserang kantuk akut saat sekolah. Yah, walaupun sekarang rasa kantuk itu masih menyerang, setidaknya dia sudah punya baterai yang cukup untuk beberapa jam kedepan.

Sehun meringis ketika telapak tangan kirinya kembali berdenyut hebat. Dia baru akan berbelok menuju tangga ketika seorang gadis muncul didepannya dengan tiba-tiba dan membuatnya hampir menabrak gadis itu kalau saja dia tidak menghentikan langkahnya tepat pada waktunya. Gadis itu terlihat tersentak mendapati dirinya berdiri tepat dihadapan gadis itu. Gadis itu mendongak, menatapnya sebentar, lalu mengucapkan kata maaf padanya sambil menunduk. Sehun hanya melirik gadis itu tidak peduli, kembali melangkahkan kakinya melewati gadis itu. Belum sempat kaki Sehun menginjak anak tangga dengan sempurna, tubuhnya terasa ditarik. Sehun mengerjap kaget sekaligus bingung menatap gadis yang tadi hampir ditabraknya memegang tangannya dan menariknya dengan tidak sopan. Sehun mengernyit.

“ Hei, apa yang sedang kau lakukan? “ tanyanya setelah sadar. Nadanya terdengar kaget, heran bercampur kesal. Gadis itu bergeming. Sehun hampir mengeluarkan makiannya kalau saja gadis itu tidak tiba-tiba membuka pintu salah satu ruangan, membawanya masuk dan mendudukkan tubuhnya disofa ruangan itu. Sehun mengerjap, heran sekaligus tertegun melihat ruangan yang sangat familiar. Dilihat sekilas pun dia sudah tahu. Ini ruang kesehatan.

Sehun mengalihkan pandangannya mengelilingi ruangan ketika gadis itu muncul dengan kedua tangan penuh barang. Gadis itu duduk disampingnya, dengan posisi sedikit miring menghadapnya, meletakkan semua barang yang dibawanya, lalu mengambil handuk kecil dari dalam baskom, memerasnya. Sehun masih sibuk memerhatikan gadis disampingnya dengan heran ketika tiba-tiba tangan kirinya ditarik, membuatnya meringis kecil merasakan denyutan akibat pergerakan tiba-tiba itu.

Gadis itu mengerutkan kening ngeri melihat telapak tangan kirinya yang berlumuran darah. Sejujurnya dia sendiri kaget melihat keadaan telapak tangannya. Tapi kekagetan itu segera terhapus begitu melihat gadis itu tanpa ragu mengelap pelan darah ditelapak tangannya dengan handuk. Gerakannya semakin pelan saat mengelap luka melintang cukup lebar ditelapaknya. Sehun tertegun, tidak bisa berkata apa-apa. Bahkan dia tidak merasakan sakit saat luka itu tersentuh.

Sehun menatap gadis didepannya yang dengan serius dan telatennya mengurus lukanya, yang bahkan dia sendiri tidak memedulikannya. Bagaimana? Bagaimana bisa gadis itu bisa melihat lukanya?. Kenapa? Kenapa gadis itu mau repot-repot mengurus lukanya? Mereka bahkan tidak saling kenal.

Sehun mengamati wajah gadis didepannya dengan seksama. Baru menyadari kalau wajah gadis itu seperti bidadari. Ah, bagaimana dia menjelaskannya? Dia memang sering mendeskripsikan kecantikan seorang gadis, tapi kali ini sepertinya dia tidak menemukan kata yang tepat untuk mendeskripsikan wajah gadis itu. Yang jelas, gadis itu terlihat sangat cantik dimatanya. Tidak. Bahkan sepertinya dimata semua laki-laki. Sepuluh menit kemudian, gadis itu mengakhiri pekerjaannya. Sehun menatap telapak tangan kirinya yang sudah terbungkus perban, menggoyangkannya pelan. Tidak buruk. Dia menatap gadis itu yang sedang sibuk membereskan peralatan yang tadi dipakainya.

“ Terima kasih “ ucapnya setelah menimbang beberapa saat. Gadis itu menoleh kearahnya, tersenyum tipis selama satu detik, lalu kembali membereskan barang dan menghilang dari hadapannya. Sehun tediam, merasakan efek besar dari senyum satu detik gadis itu. Sehun menunduk, berusaha meredakan debaran jantungnya yang terasa tidak normal. Dia akan mengangkat kepalanya lagi ketika sudut matanya menangkap bercak darah dilantai, tepat didekat sepatunya. Dia sangat yakin kalau itu adalah darahnya. Matanya kemudian menelusuri bercak-bercak darah itu yang berhenti dipintu ruang kesehatan. Keningnya berkerut samar, sepertinya bercak-bercak darah itu ada disepanjang jalan yang dilewatinya tadi.

“ Sehun Sonbae, aku pergi dulu. Kalau Sonbae ingin istrirahat, silahkan. Permisi.” Suara lembut gadis itu berhasil memutus imajinasinya. Sehun mengerutkan kening samar ketika gadis itu menyebut namanya. Jadi, gadis itu mengenalnya?. Sehun menghela nafa lega setelah gadis itu pergi dari hadapannya. Sehun berdiri, memakai tasnya. Dia tidak butuh istirahat lagi. Tubuhnya tiba-tiba terasa lebih bertenaga. Matanya bahkan sudah tidak terasa berat lagi. Sehun akan membuka pintu ketika dia menyadari sesuatu. Nama. Dia tidak tahu nama gadis itu. Dia menghentakkan kakinya pelan, merutuki kebodohannya membiarkan sepuluh menit yang mereka lalui dengan diam.

# # #

“ Hei, kau kenapa? “ tanyanya cemas melihat tangan sahabatnya terbalut perban. Sehun hanya meringis sambil melambaikan tangannya, lalu duduk disebelahnya. Matanya tak lepas dari tangan kiri Sehun.

“ Kau tidak habis berkelahi kan? “ tanyanya cemas dengan nada sedikit menuduh. Sehun mengerutkan kening, laki-laki itu meninju bahunya pelan dengan tangan lain yang tidak diperban.

“ Hei, tenanglah. Aku tidak apa-apa. Aku hanya tergores kaca saat memanjat tembok tadi “ sahut sahabatnya ringan. Dia masih menatap Sehun penuh selidik.

“ Sungguh. Lagipula, kalaupun aku berkelahi aku akan mengajakmu dan lainnya “. Dia lalu mengedikkan bahunya setelah mendengar ucapan sungguh-sungguh temannya. Bukan apa-apa, temannya satu itu kadang memang harus diawasi. Setelah mengobrol beberapa saat, Sehun meninggalkannya, bergabung dengan anak lain yang sedang bercanda.

Jongin menghela nafas lelah. Dia merasa lemas. Tentu saja, tubuhnya butuh istirahat, tapi matanya tidak mau terpejam sama sekali. Dia pikir, setelah kembali ke kelas rasa kantuk itu akan datang lagi, tapi tidak. Jongin menatap keadaan kelasnya yang tidak terkontrol dengan malas. Dia jadi tidak minat bercanda kalau begini.

Jongin mengalihkan wajahnya ke kaca jendela disampingnya. Tangannya bergerak membuka jendela geser itu, angin pagi yang sejuk langsung berhembus menerpa wajahnya. Matanya menatap siswa-siswi kelas satu yang sedang berolahraga di lapangan basket. Jongin membelalakkan matanya ketika menyadari seorang gadis yang daritadi memenuhi pikirannya ada diantara mereka. Dia sedikit mencondongkan tubuhnya dan menajamkan matanya untuk memastikan, lalu tanpa pikir panjang memanggil Chanyeol yang sedang memejamkan matanya dengan earphone terpasang di telinga.

Jongin menoleh kesal karena Chanyeol tak juga menanggapi panggilannya. Dia menepuk bahu Chanyeol cukup keras yang duduk didepannya, laki-laki itu tersadar, menoleh kearahnya dengan kesal sambil menurunkan earphone-nya, matanya terlihat memerah. Ya, tentu saja, Chanyeol adalah salah satu temannya yang ikut begadang tadi malam, dia jadi merasa sedikit bersalah mengganggu tidur laki-laki itu. Tapi, hanya Chanyeol yang bisa menolongnya, laki-laki itu mengenal banyak anak di sekolah ini.

“ Apa?? “ tanya Chanyeol dengan suara serak bangun tidur. Jongin melambaikan tangannya kearah jendela, menyuruh Chanyeol melihat keluar. Chanyeol mencondongkan tubuh di sampingnya.

“ Kau tahu gadis itu? “ tanyanya sambil menunjuk gadis yang tadi pagi di temuinya ditaman.

“ Mana? “ Chanyeol mengerutkan keningnya, mungkin pandangannya masih buram setelah bangun tidur tadi.

“ Itu, yang rambutnya panjang sepinggang “ Jongin masih setia menunjuk gadis itu, mengikuti kemanapun gadis itu bergerak.

“ Ayolah, yang berambut panjang sepinggang itu banyak, Jongin “ erang Chanyeol kesal. Jongin juga ikut mendecak kesal, tumben sekali otak temannya yang satu itu tidak cepat tanggap tentang hal begini.

“ Ah! Nah, itu yang sedang mengobrol dengan adikmu! “ pekiknya senang melihat petunjuk yang mudah dicari. Chanyeol melihat gadis disebelah adiknya, mengerutkan kening sebentar,

“ Oh. Itu. Dia Yena “ kata Chanyeol kemudian.

“ Yena? “ tanyanya memastikan. “ Ya. Namanya Yena, Kim Yena “. Jongin tersenyum tipis.

“ Kenapa? Kau jatuh cinta padanya? “ , Jongin menoleh cepat setelah Chanyeol mengucapkan kata yang terdengar asing ditelinganya. “ Baiklah, aku tahu kau belum yakin dengan perasaanmu. Ceritakan padaku kalau kau sudah yakin, oke? “, Chanyeol menepuk bahunya pelan. Jongin tersenyum tipis, bersyukur memiliki teman perhatian seperti Chanyeol.

“ Oke. Kembalilah tidur. Terima kasih atas informasimu “

“ Yah, benar. Aku memang masih sangat mengantuk, kau tahu? Aku heran kenapa matamu masih terbuka lebar sampai sekarang.” Sungut Chanyeol sambil memasang earphone-nya, beranjak ke bangkunya untuk kembali melanjutkan tidurnya. Jongin tersenyum kecut mendengar sungutan Chanyeol. Temannya tidak tahu apa yang sudah terjadi padanya.

# # #

Sehun merangkul Jongin ringan saat memasuki kantin sekolah, lalu berpisah dengan Jongin karena makanan yang akan mereka pesan berbeda. Sekarang ganti Chanyeol yang merangkulnya, menghampiri stand pasta bersama. Sehun mengedarkan matanya saat menunggu pesanannya datang keseluruh penjuru kantin, sesekali melempar senyum kepada beberapa temannya yang menyapanya. Lalu tanpa sengaja, dan tidak ada niat sama sekali untuk mencarinya, dia menemukan gadis yang tadi pagi menolongnya. Gadis itu sedang berdiri mengantri di stand hamburger. Sehun menepuk bahu Chanyeol disampingnya tanpa mengalihkan pandangannya dari gadis itu.

“ Apa? “ sahut Chanyeol sedikit kesal karena tepukannya yang tidak berhenti. Sehun mengehentikan tangannya menepuk bahu Chanyeol, dia menoleh Chanyeol sekilas, lalu kembali menatap gadis tadi sambil mengacungkan sedikit tangannya.

“ Kau tahu gadis itu? “ tanyanya dengan penuh harap.

“ Mana? “

“ Itu, yang berdiri di depan stand hamburger. Rambutnya panjang sepinggang. Nah, disebelah adikmu itu”. Sehun merasakan Chanyeol menangguk-angguk disampingnya.

“ Oh. Itu. Dia Yena “, Sehun menurunkan tangannya, “ Yena? “ tanyanya memastikan.

“ Ya. Namanya Yena, Kim Yena “. Sehun tersenyum tipis, mengetahui nama gadis itu yang sangat sesuai dengan wajahnya. Yena. Oke. Akan dia ingat.

“ Kenapa? Kau jatuh cinta padanya? “ Sehun menoleh cepat mendengar pertanyaan Chanyeol, lalu setelah terdiam beberapa saat dia menjawab, “ Ya. Sepertinya “.

“ Aku tidak heran “ Sehun mengernyit tidak suka mendengar nada Chanyeol yang terkesan merendahkannya.

“ Apa maksudmu? “. Chanyeol mengedikkan bahu.“ Kau tahu maksudku. Jangan marah dulu “ Sehun berdehem, mencoba meredakan emosinya yang sempat naik.

“ Bagaimana menurutmu? “ Chanyeol menatapnya tak mengerti, “ Gadis itu. bagaimana menurutmu? “ ulangnya. Chanyeol memiringkan kepalanya,

“ Dia gadis yang baik “,

“ Aku tahu “ sahutnya tidak puas dengan pendapat Chanyeol

“ Cantik “, Sehun mendecak, “ Tidak usah ditanyakan “.

Chanyeol terlihat menahan tawa melihatnya yang mulai kesal, “ Hei, kau bahkan lebih tahu daripada aku “

“ Chanyeol! “ erangnya tertahan. Chanyeol menyemburkan tawanya, “ Baiklah, dia terlihat cocok denganmu. Sungguh. Ah, dan sepertinya gadis itu teman baik adikku juga “. Matanya berbinar senang begitu mendengar informasi lain dari mulut Chanyeol yang mungkin bisa berguna. Pesanan mereka datang. Sehun mengambil piring pastanya, begitu juga Chanyeol. Mereka kemudian meninggalkan stand pasta, berjalan menghampiri Jongin yang sudah duduk manis menunggu mereka.

“ Omong-omong, kenapa kau bisa jatuh cinta padanya? “ tanya Chanyeol penasaran. Sehun menatap Chanyeol sekilas, “ Nanti saja ceritanya “. Chanyeol mengedikkan bahu mengerti.

# # #

Chanyeol masih mengerutkan kening disela makannya memikirkan obrolannya dengan Sehun tadi. Dimana dia pernah mengobrol seperti itu? dan dengan siapa?. Rasanya seperti Deja Vu. Ah, ada apa dengan kerja otaknya hari ini? Kenapa terasa tidak berputar cepat seperti biasa?. Chanyeol menggelengkan kepalanya berusaha menepis pikiran tidak penting itu. Matanya memandang sekeliling, dan tidak sengaja menangkap sosok gadis. Dia menjentikkan jarinya pelan, tersenyum tipis. Dia tahu sekarang. Dia pernah membicarakan hal yang sama dengan Jongin tadi dikelas. Chanyeol mengertukan kening lagi saat sebuah pikiran buruk melintas dikepalanya, dia menatap Jongin dan Sehun yang duduk didepannya bergantian. Bagaimana ini?

# # #

Sudah satu minggu sejak dia bertemu gadis itu. Dan pikirannya selalu penuh oleh gadis itu. Ini aneh. Benar-benar aneh. Masalahnya dia belum pernah merasakan seperti ini sebelumnya. Apa benar seperti yang dikatakan Chanyeol? Dia jatuh cinta pada gadis itu?. Mungkin. Tapi dia tidak yakin. Ah, apa yang harus dia lakukan? Dia benar-benar tidak ahli dalam hal begini. Apa dia perlu bercerita dengan Chanyeol? atau Sehun? Kedua temanya itu ahli dalam hal begini. Tidak. Jongin menggeleng. Dia tidak akan menceritakan pada siapapun sebelum dia yakin.

Mata Jongin terus mengawasi gadis yang membuatnya terpesona dari kejauhan. Melihat gadis itu tertawa membuat bibirnya tertarik kecil tanpa sadar. Setelah berhari-hari mengamati gadis itu, dia tahu beberapa hal tentangnya. Gadis itu berjiwa sosial –seperti yang sudah diduganya- , ramah, periang dan sedikit ramai. Oh, baiklah, bukan sedikit. Gadis itu sangat ramai -dia jadi sedikit heran kenapa waktu itu gadis itu terlihat pendiam-. Sepertinya akan sangat menyenangkan jika gadis itu sering berceloteh disampingnya. Jongin tersentak, pikirannya terputus ketika seseorang menepuk bahunya dari belakang. Dia menoleh, mendapati Chanyeol yang sedang menatapnya dengan tatapan aneh. Jongin balik menatapnya penuh tanya.

“ Kau masih ragu dengannya? “ Jongin mengernyit tak mengerti dengan pertanyaan Chanyeol. Chanyeol terkekeh. “ Oh, ayolah. Kau tidak melepas pandanganmu dari gadis itu selama satu minggu ini “. Jongin membuka mulut, menutupnya kembali, tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk membalas perkataan Chanyeol. “ Hei, kau harus cepat bergerak, kau tahu? Sebelum dia disambar laki-laki lain “ Jongin menoleh cepat kearah Chanyeol, tidak suka dengan kalimat yang dicetuskan temannya barusan. Chanyeol hanya terkekeh.

“ Aku sedang menuggu waktu yang tepat “

“ Kenapa? Kau takut jika dia menolakmu? Itu bisa dipikirkan belakangan, Jongin “

“ Tidak. Aku masih memastikan perasaanku “

“ Astaga, kenapa masih dipastikan sesuatu yang jelas seperti itu? Kau itu jatuh cinta, Jongin. Apalagi? “

“ Apa? Jongin jatuh cinta? Sungguh? “ sebuah suara tiba-tiba menyeruak diantara mereka berdua. Jongin menoleh tergagap kearah Sehun, bersiap menghadapi ejekan dari temannya satu itu. Dan benar saja, setelah melihat wajahnya, Sehun tertawa terbahak-bahak.

“ Sungguh? Kau jatuh cinta? “

“ Tidak “ jawabnya cepat, kesal melihat Sehun yang dengan jelas mengejeknya. Sehun menepuk bahunya.

“ Hei, jangan marah. Aku hanya senang kau akhirnya jatuh cinta “, Jongin menyipitkan matanya, “ Senang? “

“ Oh, baiklah. Aku juga heran. Dan merasa lucu “ lanjut Sehun kemudian setelah melihat tatapan tidak percayanya.

“ Jadi? “ desak Sehun mulai ingin tahu. Jongin berdehem, “ Aku belum yakin “

“ Belum yakin? “ ulang Sehun tidak percaya. “ Ya “

“ Cih, omong kosong “ dengus Sehun. Jongin mengerutkan kening kesal, tidak suka mendengar ejekan Sehun barusan. Dia tahu, Sehun sudah berpengalaman dalam hal ini, tapi setidaknya, mengertilah keadaanya. Chanyeol menepuk bahu Sehun sebelum dia melancarkan protesnya.

“ Hei, jangan begitu, kau tahu sendiri Jongin bagaimana? Dia selalu berhati-hati, tidak sepertimu “

“ Kau sedang menghinaku? Memangnya kau tidak begitu? “ balas Sehun tidak terima

“ Hei, kenapa kau jadi membahasku? “

“ Kau dulu yang memulai “ tuding Sehun.

Jongin memutar bola mata malas, dia memalingkan wajahnya, tidak minat mendengarkan perseteruan kekanakan kedua temannya. Matanya kembali memerhatikan gadis itu yang sedang berjalan bersama teman-temannya meninggalkan taman tengah. Jantungnya mencelos ketika melihat gadis itu tersandung dan berakhir terjatuh, tubuhnya berdiri tanpa sadar, lalu duduk kembali. Sedikit merutuki kekonyolannya. Sedetik kemudian tersenyum kecil karena dia mendapat satu lagi kebiasaan gadis itu. Ceroboh.

Jongin menghela nafas berat. Dia harus melakukan sesuatu. Harus.

# # #

Sehun terkekeh kecil mengingat kata-kata ejekannya untuk Jongin. Dia tidak seharusnya mengatakan hal seperti itu. Lihat. Keadaanya tidak berbeda dengan temannya itu. Belum bergerak barang selangkah pun. Dia mendecak. Ini bukan gayanya, sungguh. Biasanya dia akan langsung menyambar mangsa didepannya. Tapi tidak untuk kali ini. Entahlah. Dia merasa ada sesuatu yang berbeda dari gadis itu. Seakan-akan dia harus benar-benar memikirkannya sebelum dia menyambar gadis itu.

Sehun menghela nafas kasar. Sebenarnya dia tahu salah satu hal yang mengganjal di hatinya. Ya, gadis itu terlalu baik. Terlalu baik untuknya. Sehun mengacak rambutnya, sedikit frustasi. Bagaimana tidak? Satu minggu ini, dia mencoba mengusir bayangan gadis itu dan membuang segala pemikiran tentang jatuh cinta dari pikirannya. Tapi apa? Nyatanya, mata dan hatinya berkhianat. Matanya selalu mengikuti kemanapun gadis itu pergi, mengamatinya tanpa lelah. Hatinya selalu merapal mantra nama gadis itu. Beruntunglah karena dia tidak mengorek informasi gadis itu pada siapapun. Itu pertahanan terakhirnya.

Gadis itu benar-benar baik. Sungguh. Berbeda dengan gadis-gadis yang pernah dikenalnya. Dia sudah membuktikannya dengan kegiatannya mengamati gadsi itu dari jauh selama satu minggu ini. Gadis itu -seperti yang sudah diduganya- suka menolong, bahkan benda mati tidak luput dari pertolongannya, seperti kursi yang sering ditendang murid-murid sekolah ini karena menghalangi jalan ke kantin, atau menolong buku yang terinjak-injak diperpustakaan karena terjatuh dan tidak ada yang peduli. Oh, baiklah, itu berlebihan. Tapi sikap pedulinya sama sekali tidak diragukan.

Gadis itu juga ramah pada siapapun. Dua satpam bertampang seram disekolahnya pun selalu mendapat senyuman gratis dari gadis itu setiap pagi saat berangkat sekolah dan sore ketika pulang sekolah, bahkan binatang pun selalu diberikan senyum oleh gadis itu, tidak peduli binatang itu mengerti atau tidak tentang senyum manusia. Yah, yang satu ini, dia sedikit iri. Bagaimana bisa, dia yang tampan kalah oleh dua satpam yang wajahnya jelas-jelas tidak jelas dan binatang yang tidak mengerti arti senyuman manusia?. Astaga, baiklah, dia sudah mulai gila.

Gadis itu juga sedikit-banyak membuatnya khawatir. Pasalnya, ceroboh adalah salah satu kebiasaan buruknya. Dia tidak habis pikir kenapa gadis itu selalu berlari tanpa peduli apapun jika sedang terburu-buru. Baiklah, itu memang biasa dilakukan orang lain juga. Tapi, ayolah, memangnya orang lain tidak sadar jika barang-barang mereka terjatuh saat berlari-lari? Atau tetap berlari walaupun sudah tersandung berkali-kali bahkan sampai terjatuh? Atau sepatu mereka tertinggal saat berlari-lari? -kita kesampingkan tentang berlari dengan perasaan ketakutan disini-. Yah, gadis itu seceroboh itu.

“ Hei, kau belum bergerak juga? “ Sehun tersentak dari lamunannya ketika sebuah suara yang dikenalnya menyapa gendang telinganya. Menoleh sebal kearah Chanyeol karena pertanyaanya yang terkesan menggodanya.

“ Diam kau “ Chanyeol menaikkan satu alisnya, “ Hei, ini hal baru, kau tahu? Apa kita perlu merayakannya? “, Sehun menonjok lengan Chanyeol cukup keras. Chanyeol terlihat mengetukkan jari ke dagu.

“ Jadi, kau benar-benar jatuh cinta? “ Sehun mengernyit mendengar nada Chanyeol yang terdengar mengejek dan sedikit tidak percaya padanya. Sehun membuka mulut ketika Chanyeol mengucapkan sesuatu yang semakin membuatnya mengernyit kesal.

“ Sehun. Bisakah kau tidak jatuh cinta padanya? “

“ Kenapa? Kau tidak percaya padaku kalau aku benar-benar jatuh cinta padanya? “ sahutnya kesal.

“ Tidak. Hanya saja, aku merasa sedikit khawatir, kau tahu maksudku kan? “ Chanyeol mengedikkan bahunya santai. Sehun menghela nafas, kembali mengontrol dirinya yang sempat melonjak. Sedikit mengerti ucapan Chanyeol tentang dirinya.

“ Tenang saja. Aku jatuh cinta padanya. Dan kali ini berbeda “

“ Baiklah. Aku hanya ingin memastikan. Cepatlah bergerak kalau kau tidak ingin laki-laki lain memilikinya “ Sehun mengangguk kecil mendengar nasihat Chanyeol sambil bergumam.

“ Akan segera kulakukan “

# # #

Chanmi hampir saja jatuh terjungkal kalau saja tangan itu tidak menangkapnya. Chanmi mengerjap, menatap seeorang didepannya yang dia kenal dengan baik. Seketika wajahnya berubah kesal.

“ Kau membuatku kaget saja, Oppa. Tidak bisakakah kau tidak berlari-lari dikoridor yang ramai seperti ini? “ sungutnya sambil melepaskan diri dari tangan itu. Wajah di depannya mengernyit

“ Kau yang membuatku kaget, bodoh. Salah siapa tidak memerhatikan jalan. Lagipula, memangnya ini koridor pribadimu? “ Chanmi mendesah keras, sudah mengira akan mendapat makian dari laki-laki didepannya. Laki-laki didepannya tiba-tiba menegakkan tubuhnya, menoleh kebelakang saat mendengar nama laki-laki itu diteriakkan, dia sendiri juga ikut melongokkan kepalanya dari samping tubuh laki-laki didepannya, mendapati seseorang yang juga dikenalnya dengan baik sedang berlari dikejauhan sana sambil terus meneriakkan nama laki-laki didepannya. Chanmi tersentak ketika laki-laki didepannya mendorong tubuhnya kesamping dengan kasar. Mulutnya menganga syok.

“ Jongin Oppa!! “ teriaknya kesal. Tanpa disangka, laki-laki itu berbalik, berlari kearahnya sambil memasang wajah serius. Chanmi memundurkan langkahnya sedikit ketakutan.

“ Bisa kau membantuku ? “ kata laki-laki itu setelah berada didepannya, membuat dia bernafas lega.

“ Apa? “

“ Tolong. Suruh Yena menemuiku pulang sekolah nanti ditaman belakang “

“ Apa? “ tanyanya sedikit tidak percaya. Laki-laki didepannya tidak pernah membahas wanita sebelumnya. “ Sudahlah. Pokoknya sampaikan saja “ Jongin melambaikan tangannya, mungkin mengerti arti tatapannya. Chanmi memiringkan kepalanya.

“ Baiklah. Tapi Yena? “

“ Iya. Kim Yena. Dia temanmu kan?

“ Iya. Tapi-“ ucapannya terhenti karena Jongin sudah berlari meninggalkannya sambil mengingatkan permintaan laki-laki itu.

“ Jongin !! kesini kau !! “ teriak seorang laki-laki yang kini sudah semakin dekat dengannya. “ Kembalikan rotiku !! “, Chanmi mengernyit mendengar teriakan kedua dari mulut laki-laki itu. Jadi, mereka kejar-kejaran hanya karena sebuah roti?! Astaga, yang benar saja? Chanmi tersentak disela pikirannya ketika sebuah tangan menyentakkan tubuhnya dengan tiba-tiba. Dia mendongak, menyipitkan matanya sebal melihat wajah didepannya.

“ Kau harus membantuku “ kata laki-laki didepannya dengan memaksa. Chanmi mendengus, sama sekali tidak ada sopan santunya. Tapi, dia tidak kuasa menolak dibawah tatapan tajam bercampur memelas laki-laki itu.

“ Apa? “ sahutnya malas.

“ Suruh Kim Yena menemuiku di ruang kesehatan sepulang sekolah “ katanya cepat tanpa basa-basi. Chanmi menarik nafas berusaha menghilangkan emosinya yang tiba-tiba naik karena ucapan laki-laki didepannya yang sama sekali tidak terdengar memohon.

“ Baiklah “ katanya akhirnya sambil mengangguk. Laki-laki itu menepuk bahunya keras lalu meninggalkannya, kembali mengejar Jongin.

Chanmi menatap Sehun dan Jongin yang sedang kejar-kejaran tak habis pikir. Lalu berbalik, melanjutkan perjalanannya menuju kantin yang sempat tertunda. Tapi kemudian menghentikan langkahnya. Wajahnya sedikit pucat, keningnya mengerut. Tunggu, Yena? Mereka berdua mencari Kim Yena? Bagaimana ini?. Chanmi berbalik. Menatap dua orang laki-laki yang tadi meminta bantuannya sudah sangat jauh didepan sana.

“ Jongin Oppa!! Sehun Oppa !! “

 

Chanmi menepati permintaan Jongin dan Sehun dengan hati yang masih merasa cemas dan bingung, takut melakukan kesalahan. Chanmi menghampiri Yena yang sedang serius membaca buku dibangkunya, dia duduk di bangku sebelah Yena yang kosong.

“ Yena “ panggilnya pelan. Yena hanya menoleh sebentar,“ Apa? “

“ Kau dicari “ katanya singkat.

“ Siapa? “ tanya gadis itu, kentara sekali malas dengan pembahasan ini. Yah, Yena terlalu sering dicari.

“ Jongin Oppa “ jawabnya. Juga singkat. Sengaja. Yena mengernyit didepannya. “ Jongin Sonbae? Jongin yang kelas tiga itu? “ tanya Yena tak percaya. Chanmi mengangguk.

“ Kau bercanda? Untuk apa dia mencariku? “, Chanmi mengedikkan bahunya, “ Mau menyatakan cinta mungkin? “, Yena menatapnya tak suka. Chanmi hanya nyengir.

“ Dan Sehun Oppa “ lanjut Chanmi, Yena didepannya sempurna mengerutkan keningnya, wajah gadis itu menatapnya tidak percaya.

“ Kau bercanda lagi? “, Chanmi menghela nafas pelan, menggeleng “ Sayangnya tidak, Yena “. Gadis didepannya memegangi kepalanya

“ Kau tidak bercanda kan? Untuk apa tiba-tiba mereka berdua mencariku? “ gumam Yena yang masih bisa didengarnya. Yah, wajar saja Yena merasa syok. Bagaimana tidak? Dua laki-laki itu termasuk laki-laki high-quality disekolah ini. Rumor tak sedap yang beredarpun tidak digubris. Malah semakin menambah poin mereka. Sialnya, kedua laki-laki itu bersahabat. Membuat ketenarannya semakin menjadi. Tentu saja yang membuat mereka terkenal dan dipuji bukan hanya penampilan fisik. Mereka juga mempunyai segudang prestasi yang membanggakan sekolah. Tidak perlu disebutkan, karena dia sendiri tidak hapal apa saja prestasi mereka.

Tiba-tiba Yena membelalakkan matanya, menoleh kearahnya dengan wajah takut, “ Apa aku telah melakukan kesalahan dengan mereka? “, Chanmi mengerjap, terdiam membiarkan Yena beranggapan.

“ Bagaimana ini? “, wajah Yena cemas

“ Memangnya kau telah melakukan kesalahan apa? “

“ Tidak tahu. Tapi sepertinya tidak pernah. Aku belum pernah bertemu mereka -ah, tapi-”

“ Ya sudah. Kau tidak usah khawatir “ potongnya.

“ Tapi, ini sungguh mengherankan dan membuatku takut, kau tahu? Bagaimana kalau- “

“ Sudah kubilang, mungkin saja mereka mau menyatakan cinta padamu “ potongnya lagi, asal.

“ Tidak mungkin “ sentak Yena. Chanmi menghela nafas. “ terserah kau. Tapi kau harus datang. Oke? “

“ Aku harus menemui siapa dulu? “ Yena meminta pendapatnya, menatapnya penuh harap. Chanmi memiringkan kepala sebentar, lalu mengedikkan bahunya. Yena mendesah.

“ Temui saja salah satunya “ sarannya.

“ Bagaimana kalau aku dihajar keesokan harinya dengan salah satunya? “, Chanmi mendesah lagi. Berlebihan sekali.

“ Yah, daripada kau dihajar sekarang lebih baik besok kan? “

“ Chanmi! “ Chanmi meringis.

Chanmi menjentikkan jarinya, tiba-tiba mendapat ide. “ Begini saja. Anggap saja ini sebuah pernyataan cinta. Aku bilang anggap saja, jika ini sebuah pernyataan cinta, mana yang akan kau datangi? “. Wajah Yena memerah tiba-tiba, Chanmi tersenyum, tahu benar perasaan Yena.

“ Tapi.. bagaimana dengan yang satu lagi? “

“ Aku akan menemanimu menemuinya “.

# # #

Jongin menunggu dengan resah ditaman belakang sambil merebahkan tubuhnya ditaman. Akhirnya dia telah memutuskan. Dia akan menyatakan perasaannya dengan gadis itu. Tidak masalah gadis itu membalasnya atau tidak. Yang penting, dia sudah mengatakan segala yang ada dihatinya pada gadis itu. Yah, walaupun sejujurnya, sepertinya dia akan terpuruk jika gadis itu tidak membalas perasaannya. Ah! Apapun. Itu bisa dipikirkan nanti. Sekarang, dia harus memikirkan kalimat yang akan diucapkannya pada gadis itu.

Jongin membuka matanya, bergegas bangun ketika mendengar langkah kecil yang mendekatinya. Pasti gadis itu. Jongin berdiri, membalikkan badanya tepat saat gadis itu menghentikan langkah satu meter didepannya. Jongin terperanjat. Menatap gadis didepannya. Gadis itu cantik. Sungguh. Ini kedua kalinya dia mengatakan cantik pada seorang gadis. Wajah Jongin berganti menjadi kerutan bingung. Gadis itu memang cantik. Sampai kata-kata yang tadi dirangkainya hilang sudah, tak berbekas, sejak melihat gadis yang bediri dengan malu didepannya.

Jongin membuka mulutnya, terbata “ Kau siapa? “. Jongin melihat wajah gadis itu berkerut bingung, juga melihat sekelebat kecewa dan sedih dalam mata gadis itu. Gadis itu berdehem pelan.

“ Yena. Kim Yena “

Jongin tetegun.

# # #

Dia menatap gadis didepannya dengan dahi sepenuhnya berkerut. Apa-apaan ini? Siapa gadis didepannya? Dan dengan seenaknya gadis itu bilang kalau dia mencari gadis itu?. Dia memang sedang mencari seorang gadis, tapi bukan gadis ini. Sehun mengerang dalam hati. Sia-sia penantiannya selama hampir setengah jam tadi. Dia bahkan sampai memikirkan kalimat yang akan disampaikan pada gadis itu dan belajar mengatakannya. Cih, sejak kapan dia memikirkan kalimat pernyataan cinta?. Dia lebih sering mengatakannya dengan gamblang bahkan kadang sedikit membual, tidak jarang juga dengan kata paksaan.

Tapi, kali ini dia ingin mengatakannya dengan lembut tanpa bualan dan tanpa paksaan. Apa adanya. Dia bahkan tertawa konyol selama memikirkan kalimat-kalimat yang akan dikatakannya. Dan sekarang kalimat-kalimat yang dengan susah payah dirangkainya hilang tak berbekas begitu saja sejak dia melihat gadis yang berdiri didepannya?. Dia mengerang lagi. Sedikit menatap sebal gadis di hadapannya.

Sehun menatap gadis di depannya dengan lebih seksama. Dari ujung kepala sampai kaki. Lalu kembali menatap wajah gadis itu. Cantik. Gadis kesekian yang dilabelinya cantik. Tapi, kecantikan gadis itu berbeda. Lebih tepatnya aura gadis itu.

“ Kau siapa? “ tanyanya akhirnya setelah sekian menit hanya terdiam saling pandang bingung. Sehun sempat melihat sekelebatan kecewa di mata gadis itu. Gadis itu berdehem.

“ Yena. Kim Yena “

Satu detik kemudian. Sehun menyeringai.

# # #

Oppa!! “ teriak suara seorang gadis yang sudah sangat familiar ditelinganya. Dia menoleh. Mendapati Chanmi berlari kecil kearahnya yang sedang bejalan menuju parkiran.

“ Aku ikut, ya? Oppa langsung pulang kan? “ kata Chanmi dengan mata berbinar. Chanyeol mendengus, sudah menduga.

“ Kenapa? Tidak dengan teman-temanmu? Naik bus saja sana! “ Chanmi seketika mengerutkan bibirnya, menepuk lenganya keras, “ Dasar pelit! Kenapa susah sekali memberikan tumpangan pada adik sendiri? Gadis-gadis itu saja dengan senang hati kau beri tumpangan! “ sungut Chanmi tidak terima. Chanyeol mengulum senyum.

“ Mereka dan kau berbeda. Bodoh “

“ Berbeda apanya? “

“ Kau adikku, bagaimana sih? “ jawabnya asal sedikit heran.

“ Nah, kalau aku adikmu. Kenapa Oppa tidak mau berangkat dan pulang bersama denganku? “ tanya Chanmi sebal, menuduhnya. Chanyeol tertawa.

“ Tentu saja aku tidak mau. Kau kan jelek. Aku tidak mau memboncengkan gadis jelek sepertimu, walaupun adikku sekalipun. “ katanya mengejek.

“ Apa? Aku jelek? Hah! Aku tidak percaya, Appa selalu bilang aku cantik! “

“ Kau bodoh ya? Tentu saja Appa bilang begitu, kau anak gadis satu-satunya “ sahutnya terkekeh. Chanmi menepuk bahunya keras, merengut.

Oppa juga jelek! “, Chanyeol hanya tertawa. Sebenarnya tidak ada alasan khusus kenapa dia tidak mau melakukan dua hal yang disebutkan adiknya. Dia hanya tidak mau. Itu saja.

“ Oh iya. Sehun Oppa dan Jongin Oppa menyuruhku mencari Yena “

“ Lalu? “

“ Karena aku bingung, aku mengatakan pada keduanya “

“ Apa? Apa kau juga mengatakan kalau Sehun dan Jongin mencari mereka? “ Chanyeol menghentikan langkahnya, bertanya cemas, lalu mendesah ketika melihat Chanmi yang mengangguk dengan polosnya.

“ Kau bodoh ya? “

“ Habis, bagaimana lagi? Aku tidak sempat bertanya pada mereka “ sahut Chanmi dengan memelas dan bersalah.

” Lalu Yena-Yena itu bagaimana? “

“ Aku menyuruh mereka memilih salah satu “

“ Apa? Kau menyuruh mereka memilih-” Chanyeol mengerang kehabisan kata. Chanmi hanya meringis. Dia mendesah lagi, bergumam “ Setelah ini, habislah aku “

“ Apa? “ tanya Chanmi tak mengerti.

“ Tidak. Kita berdoa saja mereka tidak salah pilih “ ucapnya pasrah.

 

  • The End –

 

 

Hallo. Ini FF pertamaku. Murni dari kepalaku. Kepanjangan banget deh kayaknya. Tapi, semoga readers suka. Maaf juga kalo banyak typo.

Oke. Makasih udah baca FF-ku ini. Jangan lupa kritik dan saran ya…

 

One thought on “The Name

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s