The Pulchra Bridge [Chapter 2]

The Pulchra Bridge [Cover]

bubblecoffee97’s

Awesome poster by AXyrus

Main Cast :

Lee Aeri || Oh Sehun || Luhan

Support Cast :

Nam Mi Yoon || Park Chanyeol || Nam Ji Rin

Oh Yifan || Moon Seul Hee and other.

Genre :

Fantasy || Romance

Rating : T

Length : Chaptered

Summary :

Hidup seorang Aeri layaknya berada dalam neraka. Ia tak pernah berpikir bahwa kehidupannya akan berubah begitu ia melewati sebuah jembatan sulur. Jembatan Pulchra.

Sebelumnya :

Prolog || Chapter 1

Disclaimer :

Cast seutuhnya milik Tuhan YME. Kesuluruhan cerita murni merupakan hasil imajinasi absurd seorang rookie author yang masih perlu banyak belajar. Juga fanfic ini di-publish di beberapa blog lain.

For Plagiarist, just go away dan cobalah mensyukuri milik sendiri.

.

.

.

.

.

Tap. Tap. Tap.

Chanyeol melangkah terburu-buru. Pandangannya mengarah lurus ke sebuah rumah namun tatapannya kosong. Begitu ia masuk ke dalam rumah tersebut, langkahnya langsung menuju sebuah pintu yang tertutup. Ruas telunjuk digunakannya mengetuk pintu hingga terdengar sahutan dari dalam, baru ia membukanya.

Di dalam ada Aeri yang tengah duduk di atas tempat tidur sambil mengolesi obat pada kakinya dengan dibantu Mi Yoon. Chanyeol tersenyum melihat tunangannya yang begitu telaten mengobati orang lain. Ia merasa beruntung memilikinya.

“Oh, Chanyeol, ada apa? Kenapa kau sudah pulang?” Mi Yoon cukup heran melihat kehadiran Chanyeol yang lebih cepat dari biasanya.

“Kau tidak suka aku disini?”

“Ck, bukan begitu. Aku hanya heran saja. Apa ada yang kau butuhkan?”

Lelaki bermarga Park menggelengkan kepalanya dan berjalan ke dekat tempat tidur. Pikirannya melayang pada pembicaraan antara dirinya dan Sehun beberapa menit yang lalu.

[Flaschback on]

“Tapi-”

“Setidaknya mereka tidak bisa mendeteksi keberadaan gadis itu untuk sementara waktu selama dia berada di Das Schloss,” Sehun memotong kalimat Chanyeol.

“Bagaimana dengan Vasilias?”

Hening sesaat sebelum Sehun kembali bersuara, “Kau yang mengurusnya.”

“Aku?? Sendiri??” Chanyeol menunjuk batang hidungnya sendiri yang direspon dengan anggukan pemuda satunya.

“Kau yang mau menolong dia ‘kan?”

“Ya tapi aku juga tidak bisa melakukannya seorang diri. Kau-kan tahu bagaimana Vasilias. Aku lebih baik bertarung dengan naga daripada bertemu dengannya,” ekspresi Chanyeol berubah ngeri hanya dengan membayangkannya.

“Ayolah~ Setidaknya bantu hyung-mu ini, ya?” sambung Chanyeol.

Si rambut pirang menatap datar ekspresi memohon Chanyeol yang bisa saja membuatnya mual kemudian menghela nafas panjang, “Baiklah.”

Satu kata tersebut menerbitkan senyum lebar Chanyeol, “Terima kasih, Sehun~ Kau memang yang terbaik!” dua jempol Chanyeol terangkat tepat di depan wajah Sehun yang lalu ditepis si pirang.

“Menyusahkan.”

Chanyeol hanya nyengir menanggapi sikap dingin sosok dihadapannya.

“Dan satu lagi, jangan sampai ada yang melihat rambutnya.”

[Flasback off]

“Aku hanya ingin memberi tahu kalau kita akan kembali.”

Mi Yoon menghentikan sejenak pekerjaannya lalu menatap Chanyeol, membiarkan Aeri melanjutkan pekerjaannya sendiri.

“Apa maksudmu? Lalu bagaimana dengan Aeri?” tanya Mi Yoon was-was. Ia khawatir kalau-kalau Chanyeol bermaksud meninggalkan Aeri sendiri di rumah kecil ini. Sedang Aeri, merasa namanya disebut ia menoleh dengan pandangan bingung.

“Dia juga ikut, memang kau mau meninggalkannya? Cepatlah bersiap, aku dan Sehun juga akan menyiapkan hal lain.”

“Kalian ini sangat suka bertindak seenaknya,” keluh Mi Yoon. Hal seperti ini sudah sering terjadi. Chanyeol dan Sehun yang tiba-tiba ingin pulang atau pergi ke suatu tempat tanpa memikirkan bagaimana dirinya yang kerepotan menyiapkan segala keperluan mereka. Memang terkadang diantara keduanya akan ada yang membantu Mi Yoon tapi tetap saja ia yang paling tidak diuntungkan.

Chanyeol terkekeh, “Maafkan aku, sayang.”

Kata ‘sayang’ yang Chanyeol ucapkan membuat Mi Yoon berdecih.

“Sudahlah, cepat keluar~ Kau bilang ada hal lain yang perlu dipersiapkan bukan?”

“Sepertinya kau sangat tidak suka kehadiranku,” bibir Chanyeol melengkung ke bawah, “Oh, ya, jangan lupa pakaikan Aeri tudung, ok? Aku bersiap dulu, sampai jumpa nanti~” lanjutnya seraya mengacak rambut Mi Yoon sebelum keluar kamar.

Sampai saat ini Mi Yoon masih heran tiap melihat ekspresi Chanyeol yang sangat mudah berubah hanya dalam sepersekian detik. Begitupun dengan Aeri yang heran dengan tingkah keduanya yang membicarakan seseorang tepat dihadapan orang yang tengah dibicarakan. Tapi Aeri sama sekali tak berniat mengintrupsi mereka tadi karena sejujurnya ia tak begitu memperhatikan pembicaraan keduanya.

“Aeri, sepertinya kita akan melakukan perjalanan panjang.”

Gadis bermarga Lee mengernyit, “Perjalanan panjang? Kemana?”

“Ke rumah utama kami. Sebenarnya, ini hanya rumah untuk persinggahan saja.”

Aeri tampak ragu mendengarnya. Meskipun ia diterima dengan baik oleh Mi Yoon dan Chanyeol tapi tetap saja ia merasa tak enak hati. Bukan karena tidak nyaman, ia hanya tidak mau menambah beban orang lain. Ia tidak mau menjadi beban.

“Jangan sungkan seperti itu. Aku justru akan memarahi diriku sendiri kalau kau tidak ikut,” seolah tahu apa yang dipikirkan Aeri, Mi Yoon berusaha meyakinkan Aeri bahwa dirinya sama sekali tak merasa terbebani. Yang pada kenyataannya ia senang ada gadis lain yang dapat menjadi temannya, mengingat selama ini ia hampir selalu bersama Chanyeol dan Sehun.

“Lebih baik sekarang kita bersiap-siap sebelum dua orang menyebalkan itu datang,” lanjut Mi Yoon, bibirnya mengerucut begitu mengatakan bagian akhir kalimat. Aeri mengangguk serta mengulum senyum melihat ekspresi Mi Yoon yang menurutnya lucu. Tapi kemudian senyumnya berganti raut bingung menyadari kalimat gadis yang belakangan diketahuinya seumuran dengannya.

Dua orang?

 

© The Pulchra Bridge ©

 

“Wah, kau cantik, Aeri!”

Mi Yoon berseru senang begitu melihat Aeri memakai gaun putih sederhana serta jubah beludru berwarna merah marun. Aeri tampak begitu cocok mengenakannya. Walau dari sisi Aeri sendiri, ia belum begitu terbiasa dengan gaun panjang yang ia kenakan sebab ia lebih sering memakai pakaian kasual. Kalaupun dress itu hanya menyentuh lutut, seperti yang dipakainya sewaktu ditemukan Chanyeol.

“Terimakasih tapi sejujurnya aku merasa aneh memakai gaun dan jubah ini,” aku Aeri.

“Kalau begitu kau harus mulai membiasakan diri dari sekarang karena seluruh wanita di Omorfi memakainya.”

Oh, Aeri baru mengingatnya. Sekarang ia berada di suatu tempat yang menurut Mi Yoon adalah sebuah kerajaan yang tentu kebanyakan memakai pakaian seperti gaun dan kemeja seperti di dalam dongeng, meski ia belum yakin ada dimana ia sebenarnya. Eh, dongeng?

“Itu milikmu sekarang,” ucap Mi Yoon sambil menunjuk gaun dan jubah yang dipakai Aeri.

“Benarkah? Tapi apa tidak apa-apa?”

“Ck, kau ini masih saja sungkan padaku. Kita teman, ok? Lagi pula kau terlihat lebih cocok memakainya daripada aku. Ayo, kita akan segera berangkat!”

“Bagaimana dengan koper-koper itu?” Aeri menunjuk beberapa koper di sudut kamar yang sebelumnya disiapkan Mi Yoon dengan bantuan Aeri.

Mi Yoon mengedikkan bahu sambil mendorong kursi roda Aeri, “Biar saja Chanyeol yang membawanya.”

Di depan rumah mungil tersebut, sudah terparkir kereta kuda yang menurut Mi Yoon dipersiapkan untuk mereka berdua. Aeri benar-benar merasa seperti di negeri dongeng saat ini. Yang membuatnya tertarik adalah kuda berkulit cokelat gelap yang terlihat gagah berdampingan dengan kuda satunya yang berkulit lebih cerah.

Ia menggerakkan roda kursinya sedikit demi sedikit mendekati kuda yang menarik perhatiaannya. Menjauh dari Mi Yoon yang tengah memarahi tunangannya yang menggerutu karena harus membawa koper-koper sendirian. Tangannya perlahan ia bawa menyentuh badan sang kuda lalu mengelusnya perlahan. Aeri senang mengetahui kuda itu sama sekali tak terlihat terganggu karena sentuhannya.

“Hei, kuda, siapa namamu?”

Aeri tahu tindakannya konyol bertanya pada mahluk yang jelas tak dapat berbicara. Tapi ia tak begitu mempedulikannya sebab ia merasa seperti déjà vu akan apa yang ia lakukan.

“Alogo.”

Sebuah suara terdengar oleh Aeri seolah menjawab pertanyaannya. Untuk sejenak dahi Aeri tampak mengerut mendengar suara itu. Tidak mungkin kan kuda tersebut yang berbicara? Dan lagi yang didengarnya seperti suara… lelaki?

“Nama kuda yang kau sentuh itu Alogo.”

Aeri menoleh ke asal suara, saat itulah Aeri mendapati dirinya untuk pertama kali merasa jarum jam yang selalu berputar terhenti. Tatapannya terkunci oleh manik tajam yang menatapnya tanpa ekspresi. Seolah ia ditarik kedalam iris hitam yang meski ia coba ‘tuk jelajahi, hanya kosong disana. Kosong yang membentengi sesuatu lainnya yang tidak terbaca. Layaknya lukisan abstrak, menggambarkan bentuk tak beraturan dengan segelintir makna tersembunyi.

“Aeri, kenalkan dia Sehun. Dia bagian dari kita juga.”

Kesadaran Aeri kembali pada tempatnya begitu seseorang yang ternyata Mi Yoon menepuk pundaknya. Ia menoleh pada gadis bersurai merah muda tersebut sebelum menatap kembali laki-laki yang sempat berdehem. Apa dia termasuk ‘dua orang’ yang dimaksud Mi Yoon tadi?, pikir Aeri. Aeri tak ingat pernah melihat pemuda itu sebelumnya.

“Mungkin kau baru melihatnya karena dia sibuk di luar,” terang Mi Yoon.

“Ah, benarkah? Kalau begitu, perkenalkan aku Lee Aeri,” sapa Aeri sambil sedikit membungkuk sebagai bentuk hormat pada seseorang yang baru ditemuinya. Namun reaksi pemuda bernama ‘Sehun’ tersebut tak sesuai dengan yang diharapkan, ia hanya mengangguk tetap dengan ekspresi datar tanpa berniat sedikit pun membalas sapaan Aeri. Selanjutnya pemuda itu langsung mendekati Chanyeol yang sedang kerepotan membawa koper.

Mengerti suasana yang berubah tak enak, Mi Yoon tertawa canggung, “Maafkan Sehun, Aeri. Dia memang seperti itu pada orang baru tapi percayalah dia sebenarnya baik.”

“Tidak apa-apa, aku mengerti.”

Walau pada awalnya sempat terkejut atas sikap Sehun, Aeri memakluminya. Mungkin Sehun memang bukan tipikal yang mudah menerima orang asing sepertinya. Mi Yoon sendiri menggerutu dalam hati, mengapa Sehun selalu saja bertingkah seperti itu pada orang-orang yang berada di luar lingkarannya.

Sepanjang perjalanan Mi Yoon banyak bercerita tentang Chanyeol dan Sehun yang selalu melakukan perjalanan dadakan seperti ini. Gadis bermarga Nam itu berceloteh betapa sekarang ia merasa seperti ibu rumah tangga berusia empat puluh tahunan yang mengurus dua anak laki-laki dewasanya yang belum menikah. Ia juga sangat berterimakasih pada Aeri karena akhirnya ia punya teman untuk berbagi keluh kesah mengenai ‘dua mahluk menyusahkan’ tersebut. Sebab selama ini ia hanya bisa mengomel tanpa pernah ditanggapi serius oleh Sehun maupun tunangannya.

Sementara di bagian pengemudi, Sehun mengendalikan laju kuda dengan setenang mungkin walau tangannya terasa pegal bertahan pada posisi yang sama untuk waktu lebih dari tiga jam. Ia mesti sedikit lebih bersabar karena gilirannya untuk istirahat harus ditunda sebab Chanyeol tak kunjung bangun dari tidurnya.

Sehun tidak sabar memberi ‘hadiah’ pada Chanyeol ketika dia bangun nanti.

 

© The Pulchra Bridge ©

 

Tunggal keluarga Park mengaduh seusai kepalanya menjadi korban pukulan. Itu ‘hadiah’, Sehun bilang. Tapi Chanyeol terus merajuk walau memang dia yang salah karena tertidur selama lima jam perjalanan tadi. Untung saja Sehun masih berbaik hati dengan tidak melempar Chanyeol dari kereta kuda.

“Itu menyakitkan Sehun~” rajuk Chanyeol sambil mengusap-usap kepala.

Sehun terus berjalan, memilih tak mendengar suara menyebalkan Chanyeol yang berdengung sepanjang koridor. Juga tak menggubris beberapa orang berseragam pelayan yang membungkuk tiap berpapasan dengannya. Ia terlalu malas untuk sekedar melengkungkan senyumnya ke atas.

“Aku kan tidak sengaja tertidur jadi se-”

Hyung, kau mau bertemu Vasilias sendirian?”

Chanyeol mengggeleng, sempat kaget karena Sehun menghentikan langkahnya tiba-tiba.

“Kalau begitu tolong diam.”

Siapapun yang mengenal Sehun tahu untuk tidak memancing kekesalan pemuda yang terbiasa dengan keheningan tersebut. Dan seharusnya Chanyeol lebih tahu, hanya saja efek tidur siang panjang membuatnya tidak menyadari ekspresi tak bersahabat yang sudah ditunjukkan Sehun sejak tiba di Das Schloss. Energi Sehun pasti cukup terkuras karena mengendalikan kuda dalam kurung waktu lima jam. Chanyeol yang tidur saja merasakan tubuhnya seperti remuk.

Kalau boleh memilih, Chanyeol ingin langsung berbaring di atas kasurnya yang super empuk. Hanya dengan membayangkan, pemuda berambut keperakan itu jadi mengantuk lagi. Namun rasa kantuk yang hampir menguasainya lagi menguap begitu saja. Matanya melebar mendapati pintu putih berukir terpampang jelas di hadapannya, begitu kokoh seolah mengejek kepanikan yang mulai menderanya.

“Bersikaplah biasa,” Sehun mengingatkan. Chanyeol meneguk ludahnya gugup setelah pintu tersebut terbuka, menampilkan sosok penuh wibawa di balik meja kayu berukuran cukup besar. Keduanya berjalan mendekat kepada sosok tersebut.

“Musim berburu belum selesai, mengapa kalian sudah kembali?” tanya pria yang lebih dewasa tanpa melepaskan fokusnya pada lembaran putih di atas meja.

Pemuda bertelinga lebar melirik Sehun yang terlihat tak berniat menanggapi, “K-Kami kembali karena harus, Vasilias.”

“Apa ini ada hubungannya dengan orang asing yang kalian bawa?”

Tubuh Chanyeol menegang. Siapapun tahu tak ada yang bisa keluar-masuk Das Schloss tanpa sepengetahuan Vasilias. Yang Chanyeol khawatirkan adalah Vasilias menolak kehadiran Aeri yang dianggapnya orang asing.

“Y-ya benar, Paduka. Kami menyelamatkan dia di sekitar jembatan Pulchra dan lalu, eng, kami membawanya kesini,” sebisa mungkin Chanyeol menahan kegugupannya. Surai frost yang tadi mendominasi penglihatannya kini berganti dengan tatapan tajam. Aura dingin yang menguar di sekitar Vasilias menambah intensitas kegugupan Chanyeol.

“Orang bodoh mana yang membawa orang asing masuk ke Das Schloss?”

“Aku yang membawanya.”

Baik Vasilias maupun Chanyeol mengalihkan pandangannya pada sumber suara. Sehun tahu Chanyeol hanya akan memperburuk situasi jika ia kembali berbicara dengan nada gugup. Well, Sehun disini memang untuk membantu Chanyeol.

“Aku harap kau punya alasan yang bagus,” ujar Vasilias.

“Rambut gadis itu hitam.”

Hanya dengan empat kata yang Sehun lontarkan, ia membungkam seorang Paduka yang sempat tersulut emosi. Sang Vasilias tentu tahu maksud pernyataan anak muda disebrangnya itu.

“Apa kau pikir dia…”

“Seorang Neraida,” Sehun menyambung kalimat Vasilias yang tergantung. Chanyeol, disampingnya menunduk dalam seraya memejamkan mata rapat, tak berani bertatap muka dengan Vasilias yang entah bagaimana ekspresinya mendengar pendapat Sehun.

“Dan dia bukan Neraida biasa,” lanjut Sehun.

Jika sebelumnya Chanyeol menegang, kini giliran Vasilias yang merasakan tubuhnya menjadi tegang. Namun yang berbeda ia masih mampu menutupi keterkejutannya dengan ekspresi datar yang selalu menghiasi raut wajah.

“Biarkan dia disini dan kau-” Vasilias menatap Chanyeol hingga pemuda itu mengangkat kepalanya.

“-cari tahu semua yang perlu kita tahu.”

“A-Aku?”

“Kau kira Prionsa mau melakukannya?” tanya Vasilias, ia melirik sekilas pemuda yang sedari tadi tak berekspresi.

“Baik, Paduka. Aku akan melakukan yang terbaik,” ujar Chanyeol cepat.

Vasilias mengangguk lalu mempersilahkan keduanya keluar ruangan. Ia mengurut keningnya yang terasa berdenyut. Hari ini dan selanjutnya tidak akan mudah baginya dan mungkin juga bagi kerajaan Omorfi.

Apa yang harus ku lakukan?

***

“Ayah, aku ingin menyentuhnya!”

“Kau tidak takut?”

Gadis kecil berkepang dua menggeleng yakin. Ayahnya pun menggendongnya lalu mendekati seekor kuda dewasa berkulit coklat. Ia membantu si gadis yang kesusahan menyentuh leher serta badan kuda dan mengelusnya perlahan.

Pria yang usinya memasuki kepala tiga tersenyum melihat putrinya yang takut pada semua jenis binatang –bahkan kucing ataupun kelinci- kini terlihat begitu senang berdekatan dengan seekor kuda.

“Hei, kuda, siapa namamu?”

.

.

.

.

TBC

Author’s Note :

Haloha~ Sebelumnya mau minta maaf karena ini late update dikarenakan aku terjangkit WB T-T Semoga chapter selanjutnya aku ga kena WB lagi :’3

Terimakasih untuk yang mau baca fanfic ini dan terimakasih sebanyak-banyaknya buat yg mau meninggalkan jejak di kolom komentar ♥♥♥

See you on next chapter~ Thankseu!

 

Iklan

15 thoughts on “The Pulchra Bridge [Chapter 2]

  1. Finally~~~ lanjutannya. Karena masih di awal, jd blm ketauan ini jalan ceritanya mau kyk apa. Baru ada sedikit….sedikit gambaran di kepalaku. Trus masih bingung dengan arti2 istilah2 di atas, tp seiring ceritanya lanjut nanti pasti ngerti (semoga). Semangat ya kak lanjutinnya ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s