Silent Problem – Ohana

Author : @sefinarf

Genre : Romance

Rating : General

Cast :

EXO

You as Sohee

Warning : ini bukan warning. Hanya aku mau menyarankan buat readers membaca dulu chap 4 nya… lagi mungkin? Siapa tahu kalian sudah lupa ToT

 

 

 

Kau bisa saja berada di tengah pertengkaran kekanakan antara perintah keras Ayah kandungmu dan rajukanmu sendiri. Kau juga bisa berada dalam situasi adu sarkasme dalam perumpamaan cerdik antara kau dan Ibumu, Park Jinhee. Kau bisa debat seru dengan Jinri tentang siapa yang seharusnya dinikahi Sung Najung, Chilbong atau Seuregi.

Namun kau tidak bisa, dan lebih tepatnya, tidak tahu harus bertingkah seperti apa saat tepat di depanmu, Kai dan Tao saling menatap, seakan mereka akan melompat ke arah satu sama lain. Seakan tidak ada bayangan yang lebih maskulin lagi tentang dua laki-laki yang berkelahi di kepalamu. Kemungkinan terbesar bagimu, Kai dan Tao hanya akan saling mencakar. Melihat bagaimana metropolitan-nya Tao dengan baju bergarisnya yang klasik dan bagaimana Kai yang sepertinya lebih suka menjaga tatanan rambutannya agar tidak berantakan hari ini.

Apa pun itu, sekarang kau berusaha untuk tidak tertawa membayangkan bagaimana dua orang ini bisa saling mengenal.

“Kalian saling kenal?” katamu.

Tao tertawa kecil. Kai memutar bola matanya. Tetapi keduanya sama-sama tidak mau repot menoleh ke arahmu.

“Kau kenal Sohee?” tanya Kai tiba-tiba. Kau tidak bisa menahan dirimu untuk tidak berdecak sebal karena kau baru saja diabaikan.

“Tentu saja. Kau tidak lihat? Kami sangat dekat!” seru Tao sambil tertawa remeh. Kau bisa melihat dari sudut matamu bahwa Joy melirik ke meja kalian. Kau berusaha memberi gadis itu lambaian singkat untuk menyampaikan kalau kalian bertiga baik-baik saja.

Sampai Tao yang tiba-tiba saja memutuskan untuk menghancurkan harimu dengan jawabannya.

“Kami bertemu di ujian beasiswa ke luar negeri. Kau tidak lihat? Aku dan Sohee ini memiliki tingkat inteligitas yang sama,” sambar Tao. Kau berjengit.

Ujian beasiswa ke luar negeri? Benar! Maksudmu… Oh tidak

Ini mimpi buruk. Beberapa minggu yang lalu kau memang mengikuti ujian beasiswa. Kau berhasil lolos beberapa tahap, dan karena ini dan itu, kau mulai beradaptasi dengan beberapa teman, Hanya kebetulan biasa kau mengenal dan menjadi lebih dekat dengan salah satu calon pemegang beasiswa lain, yaitu Tao.

Semuanya tidak salah. Satu hal yang membuatnya menjadi sangat salah. Kau tidak memberitahu tentang beasiswa ke luar negeri ini pada siapa pun.

Termasuk Sulli.

Termasuk Oh Sehun.

Termasuk Ibumu.

Dan juga Kai.

Tidak ada yang tahu kau sudah sedekat ini untuk memegang beasiswa itu.

“Ke luar negeri? Beasiswa? Apa maksudmu?” Kai terdengar bingung dan kehilangan arah. Dia menoleh ke arahmu. Setelah melihat wajahmu yang memucat, anak laki-laki itu justru mulai merasa curiga. Kalimat selanjutnya yang dia katakan membuatmu ingin tenggelam ke perut bumi.

“Kau tidak memberitahuku sama sekali?” tanyanya.

“Dia tidak memberitahumu?” tanya Tao. Kali ini mereka berdua menoleh ke arahmu. Kau merasa sangat buruk, seperti seorang anak yang ketahuan mencontek saat ulangan.

Tapi kalau dipikir-pikir kau lebih buruk dari itu.

Oke, kau tahu kau salah. Seharusnya kau mengatakan hal ini dari dulu. Rencana pergi kuliah keluar negeri memang bukan urusan yang kecil, terlebih kalau kau memutuskan untuk tidak – bukan, maksudnya, belum sempat – memberitahukannya pada siapa pun.

Tapi ini semua tidak seperti kau memang merencanakan untuk sekolah ke luar negeri.

Kau hanya kebetulan melihat brosur beasiswa itu di papan lembaga bimbingan sooneung-mu. Lalu kebetulan mengikutinya. Lalu kebetulan lolos. Lolos hingga tahap ini.

Belum tentu kau lolos di tahap berikutnya, ya kan?

Belum tentu kau benar-benar akan ke luar negeri, ya kan?

Kau bukannya tidak berencana untuk tidak memberitahu orangtuamu, atau Sulli atau Kai. Kau hanya kebetulan sial karena Tao memberitahukannya lebih dulu daripada dirimu.

Kebetulan.

Kebetulan saja.

“Ini semua hanya kebetulan…” bisikmu. Kau berharap Kai paham, di saat kau bahkan tidak sedang menjelaskan apa pun padanya. Kau memintanya paham.

Tapi respon Kai lebih mengejutkanmu. Anak laki-laki itu meledak.

“Apa maksudmu? Kau akan pergi ke luar negeri? Dan itu kebetulan?” Kai menatapmu tajam. Tao bahkan terkejut dan Joy benar-benar menghentikan pekerjaannya sejenak dari balik counter. Pelanggan lain menoleh ke meja kalian.

Kau merasa sangat malu dan bersalah.

“Apa kau memberitahu Sulli?” tanya Kai. Kau menggigit bibir bawahmu untuk menggeleng.

Kai berdecak. “Ibumu? Apa kau memberitahunya? Atau Oh Sehun-ssi?”

Kau tidak menjawab. Kau benar-benar merasa bersalah.

“Kau tidak memberitahu siapa pun?” Kai terdengar seakan dia tahu jawaban pertanyaan itu. Anak laki-laki itu menyisir rambutnya ke belakang dengan jemarinya, seakan kau telah membuatnya benar-benar tidak percaya.

Kau tidak menjawab apa pun selain menggeleng. Kau tidak melihat Kai lagi karena kau terlalu takut. Di sisi lain, Tao menggaruk belakang lehernya tidak nyaman.

Well, kurasa dia punya alasan untuk menyembunyikan hal ini, Kai.” bisik Tao lirih. Kau memejamkan matamu mendengarnya.

Dalam keadaan normal, kau akan berterima kasih pada Tao karena anak itu mencoba membelamu. Tapi saat ini kau justru merasa ditusuk. Kau hanya semakin merasa bersalah.

“Ya, tentu saja.” gumam Kai, kau masih merasakan anak laki-laki itu mengawasimu yang menunduk ke lantai, bahkan di saat dia tengah berbicara pada Tao.

“Tentu saja dia punya alasan.”

Kau menggigit bibirmu lebih keras. Apa kau punya alasan untuk kebetulan menjadi calon pemegang beasiswa itu? Kenapa kau mencobanya?

Kau menggeleng kecil dan pelan sekali.

“Kurasa aku sendiri tahu alasannya.” bisik Kai.

 

.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

.

 

 

 

 

.

 

 

 

.

 

Kau melirik ke arah jendela kelas. Profesormu di depan tengah menerangkan materinya dengan bersemangat. Tao di sisimu menulis sesuatu di bukunya. Tapi kau memutuskan tidak untuk mengganggu dengan mengejek betapa semangat dirinya hari ini.

Kau mendesah dan sepenuhnya menoleh ke arah jendela. Pergantian tahun dua minggu lalu terasa sangat sepi bagimu. Tapi hari ini, entah mengapa, kau jauh merasa kesepian dari hari kemarin.

Mungkin karena hari ini adalah ulang tahun Kai. Kau tahu itu.

Seharian ini kau tahu kalau kau memikirkannya.

Kau memikirkan bagaimana anak itu membawamu keluar untuk pertama kalinya. Bagaimana Sulli mengartikan ajakan itu sebagai kencan, dan bagaimana kau menolak ide itu. Tapi kau tetap berakhir memakai dress dan kalian berakhir dengan mengunjungi kafe milik ayahmu, Oh Sehun.

Untuk pertama kalinya.

Bagaimana kau bertemu dengan Tao dan anak itu (dengan mulut besarnya) membuat Kai marah padamu.

Hari itu, Kai mengantarmu pulang. Itu sudah lama sekali.

Hari itu, untuk pertama kalinya, kau berusaha menyelesaikan masalahmu dengan berbicara pada Oh Sehun.

Untuk pertama kalinya.

“Apa kau berencana untuk tidak serius di kelas ini?” bisik Tao. Kau berjengit dan menoleh ke arahnya untuk mendapati anak itu masih sibuk mencatat. Kau tersenyum kecil dan menepuk kepalanya dua kali seperti yang sering kau lakukan pada Todd.

Ah, betapa kau rindu pada boneka beruang besar itu.

“Teruslah mencatat, Tao-ssi.” bisikku.

“Mungkin aku berencana untuk tidak memilih kelas ini lagi semester depan. Kau tahu kenapa?” tanyamu. Tao melirik sekilas. Mata pandanya sekilas terlihat penasaran. Jika sudah begitu maka dia akan mengingatkanmu dengan ekspresinya di hari paling penting yang terjadi setahun yang lalu.

“Kenapa?” bisik Tao.

“Karena kau terlihat sangat menikmati kelas ini dan akan memilihnya lagi semester depan. Aku hanya bosan melihatmu terus sepanjang tahun.”

 

.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

Kau menutup pintu kamarmu dan menghela nafas keras.

Kai marah padamu. Dia mungkin mengantarmu pulang sore itu, tapi dia tidak bicara apa pun.

Saat kalian sampai di depan pintu, Kai tidak repot-repot menunggumu masuk atau bahkan hanya mengucapkan sampai jumpa. Dia hanya berbalik dan mengucapkan pesan yang membuatmu merasa terbebani.

“Kau harus beritahu seseorang. Kau harus memberitahu tentang semuanya sendiri.”

Perkataan Kai membuatmu yakin bahwa dia benar-benar marah padamu.

Dan yang lebih buruk, kau tidak bisa membayangkan bagaimana dengan reaksi Sulli jika sahabatmu itulah yang tahu lebih dulu. Sulli mungkin akan menarik rambutmu dan memutuskan persahabatan kalian (walau terdengar terlalu konyol) kalau dia tahu semuanya nanti. Sulli akan sama marahnya dengan Kai.

Ibumu?

Dia mungkin akan sangat sedih dan kecewa padamu. Walaupun mungkin ibumu tidak berteriak padamu seperti yang Kai lakukan, tapi kau lebih merasa semakin bersalah sampai tidak bisa membayangkan bagaimana wajah kecewa yang menatap ke arahmu.

Kau menutup wajahmu dengan kedua telapak tangan. Kau jarang menangis, seperti yang sudah sering dibilang, kau jarang mendadak melankolis dan mendayu-dayu.

Tapi siapa pun, ketika mereka mengecewakan orang-orang terdekat mereka, maka dia akan merasa menjadi orang yang paling buruk di dunia. Kau pun tidak berbeda. Kau menjatuhkan dirimu ke lantai dan berusaha menahan tangismu. Kau tidak tahu apa yang harus kau lakukan. Kau tidak tahu kalau pilihan untuk mengikuti ujian beasiswa itu bisa membuatmu merasa seburuk ini.

Saat itulah kau mendapat ide. Sesuatu yang tiba-tiba saja dihentakan dalam kepalamu. Kau meraih ponsel di sakumu. Membuka situs beasiswa yang kau ikuti dan mencatat alamat e-mail salah satu penanggungjawab disana. Sesuatu yang bisa dihubungi.

Dengan pandangan samar karena kau terlanjur menangis, kau mencoba menulis pernyataan untuk mengundurkan diri menjadi kandidat pemegang beasiswa. Beberapa kali kau menghapus beberapa kalimat, memikirkan alasan apa yang masuk akal untuk pengunduran dirimu.

Kau belum selesai dan bahkan belum sempat mengirimnya saat tiba-tiba saja pintu kamarmu di ketuk. Seharusnya itu tidak terlalu membuatmu terkejut, tapi kau benar-benar melompat berdiri dan menggenggam erat ponselmu di depan dada karena terlalu kaget.

Lalu kau mendengar seseorang memanggil dari luar.

 

Kiddo? Apa kau disana?”

 

Suara Oh Sehun.

Entah mengapa kau merasa sedikit lega. Kau tidak yakin bisa menghadapi ibumu. Bayangan wajah kecewa itu menghantuimu lebih dari apa pun saat ini.

“Aku sudah makan dengan Kai. Aku hanya akan langsung tidur.” Ujarmu. Berusaha keras agar tidak terdengar seperti habis menangis.

Kau tidak mendengar jawaban dari Oh Sehun segera. Yang mana kau rasa sangat aneh. Seharusnya Oh Sehun tertawa mendengar kau tiba-tiba beralasan sudah makan dan ingin istirahat di saat Oh Sehun bahkan hanya sedang menanyai apa kau ada di kamar atau tidak.

“Kau lebih baik keluar sebentar, Sohee-ya. Aku yakin kau tidak ingin melewatkan ini.” Suara Oh Sehun terdengar lembut. Seakan dia sedang memintamu untuk keluar, bukan menyuruhmu untuk keluar. Seakan dia tahu kau ketakutan saat ini, seakan dia ingin membenarkan sesuatu.

Kau tidak tahu.

Sekilas kau merasa suaranya seperti suara ayahmu yang memintamu untuk keluar. Seperti ayahmu yang ingin meminta maaf setelah beliau membentakmu. Seperti ayahmu yang dulu kewalahan melihat kau sering merajuk, sehingga ayahmu terpaksa selembut mungkin menurunkan egonya dan memintamu keluar dengan hati-hati.

Sebelum kau sadar, kau sudah membuka pintunya.

Kau bisa melihat Oh Sehun tersenyum. Sebelum kau sempat bertanya ada apa, Oh Sehun lebih dulu menyodorkan jaket rajut ke arahmu.

“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Kau tidak akan ingin melewatkannya.”

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

Setelah melewati setengah jam dalam perjalanan, Oh Sehun tidak mengajakmu bicara. Seakan tahu kau sedang tidak ingin mengobrol.

Ini adalah kedua kalinya kau berada dalam Pocari tua bersama Oh Sehun. Dan untuk beberapa alasan yang kau bahkan tidak ketahui kenapa, pengalaman kedua kali ini terasa sangat berbeda dari yang pertama dulu.

Kau merasa nyaman dan sama sekali tidak canggung. Kau merasa sangat biasa duduk disana dan mendengar suara mesin yang berisik itu tidak lagi mengganggu.

Dan yang lebih membuatmu tidak percaya, sekarang kau merasa Oh Sehun bukan lagi orang asing. Kau menjadi jauh merasa nyaman dengannya. Semuanya terasa berbeda hingga kau sadar kau hampir tidak menyadari seperti apa Oh Sehun bagimu sekarang sudah banyak berubah.

Seakan kau sudah mengenalnya sejak lama.

Oh Sehun juga terlihat begitu. Dia terlihat tenang dan tampak tidak terganggu walau kau tidak berbicara sama sekali. Oh Sehun bahkan membiarkanmu memilih saluran radio yang kau suka.

Dia membiarkanmu memilih sebuah lagu hip hop yang sangat berisik yang kau yakin Oh Sehun sama sekali tidak menyukainya. Kau tahu Oh Sehun menyukai jenis musik yang sama dengan ibumu. Kau tahu saat kalian memilih lagu untuk mix album ibumu di rumah sakit. Kau sadar lagu-lagu yang dipilih Oh Sehun sebagian besar justru adalah lagu kesukaan calon ayahmu itu. Tapi kau tidak bisa menyanggah kalau lagu-lagu pilihannya adalah lagu yang sering di dengar ibumu juga.

Kau tidak tahu bagaimana, tapi sedikit banyak kau jauh lebih mengenal calon ayahmu itu dibandingkan saat pertama kali dulu.

Tiba-tiba saja kau menyadarinya.

 

“Kita sudah sampai.” Ujar Oh Sehun memberitahu.

Setelah melewati setengah jam dalam perjalanan, tempat yang disebut Oh Sehun sebagai tempat yang tidak ingin kulewatkan berubah menjadi sebuah bangunan columbarium.

Dari beberapa tempat yang kaupikirkan sebelumnya, kau tidak menebak sebuah columbarium akan menjadi tujuan Oh Sehun. Walau begitu, bukan berarti kau tidak mengenali tempat ini. Sebaliknya kau segera merasa familiar.

“Ini tempat dimana abu ibu kandungku disimpan,” ujarmu seakan memberitahu seseorang. Kau tidak menoleh ke arah Oh Sehun, tapi kau bisa melihatnya mengangguk dari pantulan kaca mobil di depanmu.

Tiba-tiba kau teringat perkataan Oh Sehun di rumah sakit. Sesuatu tentang guru Uno-nya.

Lalu kau merasa aneh menambahkan kata ‘kandung’ setelah kata ‘ibu’. Juga merasa aneh harus menjelaskannya pada Oh Sehun. Merasa aneh membicarakan seseorang–yang jika saja kau tidak menyadarinya hari itu di rumah sakit–adalah orang dengan kemungkinan terkecil menjadi topik pembicaraan antara kau dan Oh Sehun.

“Kau mengenalnya,” bisikmu. Oh Sehun tersenyum dan kau kali ini memutuskan untuk melihatnya sendiri. Kau menoleh ke arah calon ayahmu itu dan menatapnya.

“Dan kau mungkin lebih mengenalnya daripada aku.”

Kali ini kau melihat senyum Oh Sehun berubah, kau tidak tahu cara mengartikannya. Tapi kau yakin kau sering melihatnya di cermin. Senyum yang sama saat kau melihat ke cermin, ketika kau membayangkan ayahmu.

Saat itulah Oh Sehun mengatakan sesuatu yang membuatmu terkejut. Kau tidak mengira calon ayahmu akan mengatakan kalimat seperti itu. Dan sejujurnya itu adalah pertama kalinya kau mendengarnya dari siapa pun.

“Aku sangat mengenalnya, kiddo. Hingga mungkin aku lebih merindukannya daripada dirimu sendiri.”

Bahkan kau yakin kau tidak pernah mendengar kalimat seperti itu dari ayahmu sekalipun.

 

 

.

 

 

 

.

 

 

.

 

 

 

.

 

 

Seperti saat ibumu menaruh bunga di makam ayahmu, kau membiarkannya bercerita dan menangis. Kini kau melakukan hal yang sama pada Oh Sehun, betapa pun aneh kelihatannya. Tapi kau membiarkan calon ayahmu itu menata bunga di rak ibumu, mengelap fotonya, dan bahkan membiarkan Oh Sehun berdoa sendiri.

Kau mengawasinya.

Rasanya aneh kau tidak pernah menangis di pemakaman ayahmu. Tapi yang lebih aneh lagi, kau tidak pernah merasa sangat sedih di columbarium ibumu.

Kau sedih, tapi tidak sampai dalam kondisi dimana kau ingin menangis. Mungkin karena kau tidak benar-benar mengenalnya. Walau kau tahu kalau jauh dalam hatimu kau juga menyayangi dan berterimakasih pada ibu kandungmu. Kau tetap tidak menangis.

Sulli bilang kau seharusnya punya semacam ikatan pada ibu kandungmu, sekali pun kau tidak pernah melihatnya secara langsung. Jadi kau bilang padanya bahwa kau memang merasa sedih dan rindu pada ibu kandungmu sesekali.

Tapi, kau tidak pernah menangis untuknya.

Kau bertanya lagi pada Sulli apakah itu artinya kau bukanlah anak yang baik untuk ibumu? Sulli hanya memelukmu dan mengatakan tidak apa-apa. “Aku yakin ibumu sudah mengutukmu kalau menurutnya kau anak yang nakal, tapi kurasa dia tidak melakukannya sampai sekarang. Buktinya kau masih lebih pintar dariku di kelas.” Begitu kata Sulli.

Kau selalu tersenyum dan berterimakasih pada Sulli untuk perkataannya saat itu. Tapi hari ini, rasanya kau tidak setuju lagi dengan sahabatmu.

 

“Aku sangat mengenalnya, kiddo. Hingga mungkin aku lebih merindukannya daripada dirimu sendiri.”

 

Kau mengawasi Oh Sehun dalam diam. Kau mengernyitkan dahimu setiap kali melihat gerakan tangannya yang lembut seakan ibu kandungmu benar-benar ada disana menatap kau dan Oh Sehun. Tapi kau tidak merasakannya. Kau merasa bodoh karena pikirmu kau tidak bisa merasakan apa yang Oh Sehun rasakan di depan abu ibumu.

Kau selalu mengawasi ayahmu bersikap baik dan lembut dan hati-hati di depan abu ibu kandungmu dulu, bahkan Park Jinhee, ibumu, pun bersikap sangat baik dan bahkan menangis sesekali saat mengunjungi columbarium ini.

Tapi kau tidak pernah merasakan sebodohmu ini saat melihat Oh Sehun yang melakukannya.

Ayahmu bersikap lembut penuh kasih sayang, karena ayahmu adalah suaminya.

Lalu siapa Oh Sehun bagi ibumu? Kenapa dia lebih mengenal ibumu dari pada dirimu? Kenapa dia merindukannya lebih daripada kau, anaknya sendiri?

Tiba-tiba kau merasa dadamu sesak, dan kau sangat marah. Kau tidak tahu bagaimana tiba-tiba kau merasakannya. Tapi kau tahu sekarang ini kau sedang merasa cemburu.

Kenapa bukan kau? Kenapa bukan kau yang menangis di pemakaman ayahmu? Kenapa harus ibumu, Park Jinhee yang melakukannya?

Kenapa harus Oh Sehun? Dia bukan siapa-siapa. Dia tidak seharusnya mengenal ibu kandungmu. Lalu kenapa? Kenapa lagi-lagi justru kaulah yang mengawasinya di columbarium ibumu?

Kau marah pada dirimu sendiri. Dadamu sesak, dan matamu memanas. Kau mengingat hari ini bagaimana Kai menatapmu dengan kecewa dan tajam. Kai bilang dia tahu alasannya kenapa kau memilih menyembunyikan soal beasiswa itu. Dalam hati kau berteriak bahwa kau juga tahu. Sangat tahu.

 

“Kenapa kau tidak menceritakannya sekarang?”

Kau mengangkat kepalamu yang tanpa kau sadari terasa sangat berat. Kau melihat Oh Sehun menatapmu dan matanya memerah seakan dia menahan tangisnya terlalu lama.

Rahangmu mengeras dan kau pun ingin berteriak ke arahnya.

“Sore ini Joy meneleponku. Kuharap kau memaafkannya karena mencuri dengar pembicaraanmu hari ini dengan teman-temanmu,” gumam Sehun. Detik itu juga kau tidak bisa menahan tangismu. Kau jatuh terduduk di lantai kayu. Berlutut dan menangis histeris. Oh Sehun tidak mengatakan apa pun selain beringsut dan memelukmu. Lalu kau mendengarnya tertawa pelan.

“Kau tahu aku pernah menangis sehebat ini. Lucunya ada ibumu yang menenangkanku.”

Kau terus menangis. Tidak peduli bagaimana lengan baju Oh Sehun mejadi basah. Kau menggeleng memintanya berhenti bercerita.

“Aku masih kecil saat itu, ibumu adalah wanita dewasa yang sangat cantik. Kami tinggal bersama di sebuah panti asuhan, seperti yang kau mungkin sudah tahu.”

Oh Sehun menepuk pundakmu. Kau membayangkan mata kelabunya menerawang.

“Aku menangis karena ibuku meninggalkanku di sana. Aku tahu, dia selalu bilang dia hanya menitipkanku pada siang hari selama dia bekerja. Tapi, aku selalu memiliki pendapatku sendiri, yang jauh lebih buruk dari alasannya… aku tahu aku ditinggalkan.

Aku marah dan menangis. Aku benci semua orang yang datang untuk mengadopsi. Aku selalu berteriak kalau aku punya ibu sendiri, jangan ambil aku.”

Kau merasakan air mata Oh Sehun di puncak kepalamu. Dia menangis. Dan kau tidak tahu sudah sejak kapan Oh Sehun berusaha menahan tangisan itu.

“Hingga suatu hari ibumu merasa kesal denganku, dia menarikku dan membawaku ke rumahku yang dulu. Di sana aku menangis keras hingga ibuku keluar dari pintu rumah. Kau tahu apa yang kulihat saat itu? Aku hampir tidak mengenalinya. Ibuku sangat kurus dan rambutnya rontok, dia bahkan tidak kuat berdiri dan jatuh di jalan sesaat setelah aku melihatnya. Lalu aku menangkap tatapan itu…” Oh Sehun berhenti sejenak dan kau bisa merasakan tubuhnya bergetar.

Kau pun selalu takut tatapan itu, pikirmu. Kau tahu tatapan itu.

“Dia terlihat sangat, sangat kecewa. Dia kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa merawatku. Kau tahu Sohee? Dia tidak meninggalkanku. Dia tidak mau melakukan itu. Hanya saja dia harus…”

Lalu kau mengingat bagaimana kau banyak mengecewakan ayahmu dulu, bagaimana tatapan itu berusaha mengatakan padamu bahwa ayahmu mengharapkan kau tumbuh seperti anak lainnya yang memiliki ibu. Tapi kau lebih banyak mengecewakannya dan terlalu banyak merajuk.

Lalu Park Jinhee, bagaimana kalau ibumu itu tahu kalau menyembunyikan rencana ke luar negeri itu selama ini. Bagaimana kau terus beralasan bahwa ini bukan salahmu untuk menyenbunyikannya.

Kau mengingat Kai yang memintamu memberitahu semuanya. Kau mengingat anak itu dengan tajam menyadarkanmu alasan rencana kepergianmu.

“Kurasa aku sendiri tahu alasannya.”

Alasan kepergianmu?

Kau sadar kau juga tahu.

“Aku berpikir untuk pergi dan mengecewakan kalian…” bisikmu. Kau merasakan nafas Oh Sehun yang memburu dan bahunya yang masih bergetar. Kau tahu hari ini mungkin adalah pertama kalinya calon ayahmu itu menceritakan masa lalunya pada seseorang. Bagaimana dia mengecewakan orang lain, dan bagaimana tatapan itu membuatnya merasa bersalah.

Tapi hari ini kau juga akan membagi ceritamu padanya.

Mungkin juga untuk yang pertama kalinya.

“Aku mendaftarkan diriku dalam beasiswa ke luar negeri berbulan-bulan lalu,” kau masih berbisik tapi kau yakin Oh Sehun mendengarmu. Perlahan kau merasakan lengannya bergerak dan menarikmu untuk duduk tegak di depannya.

Kini kau bisa melihat matanya menatapmu. Seakan dia memintamu untuk melanjutkan. Seakan dia sudah menunggumu untuk bercerita.

“Joy tidak salah mendengarnya, aku berencana pergi setelah lulus dan hingga sekarang aku tidak memberitahu siapa pun.”

Kau menggunakan kata tidak daripada kata belum. Betapa pun sakitnya dan rasa bersalah itu menghantam dadamu, kau mencoba jujur dan tidak bersembunyi lagi.

Kau ingin melakukannya seperti yang dikatakan Kai. Bahwa kau harus menceritakan semua masalahnya sendiri dengan jujur dan tanpa menutupinya dari siapa pun, bahkan dari dirimu sendiri. Terutama dari dirimu sendiri.

“Aku tidak memberitahukan kalian, dan Kai marah padaku untuk itu. Hingga beberapa saat yang lalu aku meyakinkanku bahwa yang kulakukan tidak salah. Bahwa rencana ke luar negeri itu bukan apa-apa, dan aku meyakinkan diriku bahwa aku akan memberitahu kalian,” kau menghela nafasmu dan menatap ke arah Oh Sehun sekali lagi. Dia tidak berkomentar, namun dari matanya kau tahu dia mendengarkanmu, apa pun yang ingin kau katakan.

“Aku tidak pernah mengakuinya tapi sedikit banyak aku tahu alasanku untuk pergi. Aku ingin melepaskan kalian, aku tidak ingin menghadapi masalah ini lagi. Sejak awal aku selalu merasa semuanya terlalu berat saat aku kehilangan ayahku. Semuanya terlalu berat saat pertama kali aku mengenal Park Jinhee, aku menerimanya dengan baik, tapi beberapa orang di sekitarku tidak berpikiran sama. Aku takut dan marah saat orang-orang membicarakan betapa menyedihkannya diriku saat itu. Saat kau datang, walau aku tidak menyuarakan satu kata pun penolakan, aku merasa aku hanya tidak bisa melakukannya lagi.” Kau mengusap pipimu berulang kali hingga rasanya sangat panas. Kau menatap Oh Sehun, dan calon ayahmu itu tersenyum memintamu melanjutkan.

“Setiap hari aku meyakinkan diriku aku telah menerimamu. Aku mengatakan di cermin setiap hari aku akan menyukai pilihan Park Jinhee dan aku akan punya ayah lagi dan seorang ibu yang sangat baik padaku.”

Hingga hari ini kau mengunjungi columbarium ini lagi, Kau tidak pernah merasa segagal ini. Betapa kau berusaha sangat kuat setiap harinya, hingga kau sadar terlalu banyak menahan diri untuk tidak menangis di makam ayahmu dan ibumu sendiri. Kau hanya terlalu bodoh untuk tidak mengakuinya,

“Aku terlalu bodoh untuk menutupi masalahku dan mengatakan semuanya baik-baik saja ketika yang terjadi sebenarnya aku sangat merindukan ayahku. Ketika aku sangat marah ketika ayahku akan digantikan. Aku terus menolakmu namun tersenyum setiap kali pernikahan itu disebutkan. Aku tidak pernah mengatakannya hingga puncaknya aku hanya mengecewakan orang lain dengan mendaftarkan diri dalam beasiswa itu tanpa memberitahu siapa pun. Aku benar-benar bermasalah.” Kau meringkuk di dinding columbarium yang dingin. Oh Sehun melingkarkan tangannya di bahumu dan tidak berbicara saat kau akhirnya mengatakan penolakanmu padanya. Kau mengira mungkin dia sudah menduga semuanya. Lalu saat Oh Sehun mulai berbicara, kau benar-benar terkejut mendengarnya.

“Aku tahu rasanya ada dalam posisimu. Jika kau tidak setuju, ibumu juga tidak akan setuju. Kita bisa membatalkan pernikahan jika kau mau,” bisiknya. Kau menoleh ke arahnya dengan terkejut. Kau melihat Oh Sehun tersenyum ke arah rak di mana abu ibumu diletakan.

“Saat ibu kandungmu memutuskan untuk menikah dengan ayahmu, aku mengatakan hal yang sama. Ibumu adalah kakak perempuan bagiku. Aku hanya memilikinya setelah ibuku meninggal. Tapi kemudian dia memutuskan untuk menikah dan pergi. Aku sangat marah tapi aku tidak ingin mengecewakan orang lain lagi, jadi aku diam saja.”

Kau menatap Oh Sehun tidak percaya. Wajahnya terlihat sedih, seakan yang dikatakannya tadi itu bukan hanya denganmu, tapi juga dengan ibu kandungmu.

“Tapi tentu saja ibumu tahu. Dia bilang dia tidak akan menikah kalau itu yang aku mau. Tapi aku memintanya untuk tetap menikah pada akhirnya, tapi aku melakukan hal yang lebih kejam lagi. Aku tidak datang di pernikahannya. Tidak menjenguknya saat dia melahirkanmu. Bahkan aku terlambat tahu kalau ibumu sudah meninggal, aku tidak datang ke upacara kematiannya.” Oh Sehun mendesah lalu menundukan kepalanya. Kau hampir berpikir dia tidak berani melihat ke arahmu.

“Kau tahu di mana aku bertemu dengan Park Jinhee?” Sehun menoleh ke arahmu, kau menggeleng pelan menjawab pertanyaannya.

“Di sini,” jawab Oh Sehun. Matanya menerawang seakan dia berusaha memberitahumu seperti apa tepatnya pertemuan pertama itu. “Saat aku pertama kalinya berkunjung di columbarium ibumu. Dia melihatku menangis. Dia yang menenangkanku.”

Kau menggigit bibir bawahmu. Tiba-tiba saja kau sadar semuanya tidak hanya terasa berat untukmu. Oh Sehun pun kehilangan seseorang, ibu kandungmu. Kau bisa membayangkan bagaimana dia selalu menangis setiap kali datang ke columbarium. Park Jinhee, juga kehilangan ayahmu, kau tahu bagaimana semua itu sangat berat tidak hanya bagimu tapi juga baginya.

Lalu ketika Oh Sehun dan ibumu, Park Jinhee, bertemu dengan orang baru dalam kehidupan mereka, kenapa kau sangat egois dengan menempatkan dirimu sebagai satu-satunya korban. Satu-satunya yang kehilangan.

“Aku yakin ibu kandungku sangat mencintai ayahku saat dia memutuskan untuk menikah dengannya,” kau menoleh ke arah Oh Sehun.

“Aku mungkin terdengar seperti anak kecil yang sok tahu,” kau menghela nafasmu dan tersenyum ke arahnya. “Tapi aku juga yakin Park Jinhee, ibuku yang sekarang, juga sangat mencintaimu hingga memutuskan untuk menikah denganmu. Seperti itu saja, dan aku sudah tidak bisa menolak pernikahan kalian.”

Walau kau mengecewakan banyak orang, merasa sakit, atau menempatkan dirimu sebagai satu-satunya korban. Tetapi kau tidak punya banyak hal untuk ditawarkan sebagai permintaan maafmu pada Oh Sehun dan juga ibumu. Selain satu hal.

“Kumohon tetaplah menikah dengan ibuku,” kau menatap Oh Sehun dan menyeka air matamu yang mendesak keluar.

“Kumohon jadilah ayahku.”

Itu adalah air mata pertamamu di columbarium Ibumu.

 

 

 

.

 

Pada 12 Februari, Oh Sehun menikahi ibumu. Seperti yang kaukatakan pada Sulli di hari di mana kau memberinya undangan pernikahan mereka, ibumu mengundang hampir semua orang. Oke, tidak semua. Ibumu tidak mengundang Baekhyun dan teman-teman sekelasmu yang lain selain Sulli, dan itulah sebabnya rumor masih beredar bahkan setelah kau lulus dan menjadi perwakilan angkatan untuk berpidato di upacara kelulusan. Walau kau menyukai pernikahan ini, dan bukan lagi masalah bagimu. Semua orang bukan berarti berhenti membicarakannya. Tapi seperti yang kaubilang, itu bukan lagi masalah yang terdiam di dalam dirimu.

Pada 12 Februari, di hari pernikahan, kau tidak tahu kalau Jongin datang. Dia bahkan tidak memakai pakaian formal untuk acara sesakral itu, hanya dengan jaket dan celana jeans yang membosankan. Lalu dia bilang dia tidak datang untuk mengucapkan selamat pada orang tuamu. Dia datang untuk mengucapkan selamat jalan padamu.

Kau diterima dalam program beasiswa itu. Dan surprise!, Tao juga diterima. Jongin baru tahu saat Tao memberitahunya. Kau akan kuliah di luar negeri, dan kau tahu kau mengecewakan Jongin walau anak itu tidak mengatakannya padamu. Seperti yang Jongin minta, kau menceritakan tentang beasiswa itu pada Ibumu, pada Sulli dan mendapatkan ijin dari mereka. Ibumu bahkan memelukmu dan merelakanmu pindah dan tinggal di luar negeri bukan dengannya dan Oh Sehun segera setelah pernikahan mereka.

Kau hampir tidak punya masalah untuk itu selain tidak memberitahunya pada Jongin.

Pada 12 Februari, kau memberikan mix album yang lagu-lagunya adalah lagu pilihanmu dan Oh Sehun pada Ibumu. Ibumu hampir menangis dan kau memberitahunya tidak apa-apa menangis di acara pernikahan, semua pengantin wanita melakukannya lagi pula. Lalu ibumu benar-benar menangis setelah itu, sambil mencubit pelan lenganmu tentu saja.

Kau mendapat karmamu setelah itu. Di hari pertamamu pindah ke apartemen baru, kau bertemu dengan Tao. Coba tebak apa yang teman barumu itu katakan padamu.

“Dia memintamu menjadi pacarnya.”

Setidaknya itu yang bisa kau ingat. Tao memberimu sebuah mix album dengan nama Kim Jongin tertera di wadahnya.

“Dasar pengecut, masa’ dia menggunakan orang lain sepertiku untuk memintamu menjadi pacarnya?” ujar Tao melengos. Kau hanya ingat dia berbicara sampai itu karena setelahnya kau menutup pintu apartemen di wajahnya dan menangis keras-keras. Kau mengutuki Jongin dengan kesal.

Tiga hari. Tiga hari tepatnya Tao tidak mau bicara denganmu atau Jongin. Dia sakit hati karena diperlakukan kurang ajar setelah berperan penting menyampaikan pesan lintas benua itu.

.

 

.

 

 

 

Hari ini profesor kami di kelas menjelaskan bahwa setiap orang punya definisi sendiri untuk mengartikan kesakitan, kesepian, kesulitan, kelelahan hingga kebahagiaan, kesuksesan, kehangatan mereka. Setiap orang punya cara yang berbeda untuk menanggapi semua rasa itu. Sebagian orang mengaduh saat kesakitan, sebagian lagi menyembunyikannya. Sebagian membagi kebahagiaannya sebagian lagi tersenyum saat menanggapinya.

Sebagian lagi hanya membagi perasaan mereka pada orang-orang tertentu. Semua orang punya definisi masing-masing tentang orang-orang tertentu mereka. Sebagian mengaduh hanya pada sahabat mereka, sebagian lagi merasa malu mengatakannya bahkan pada sahabat mereka. Sebagian mengatakannya pada ibu mereka,tapi sebagian lain merasa takut bercerita pada siapa saja.

Saat itu sebagian mahasiswa di kelas diminta bercerita bagaimana rasa sakit mereka, rasa bahagia, dan bagaimana mereka mengatakannya. Lalu ditanya dengan siapa mereka mengatakan perasaan mereka.

Saat profesor menunjukmu, kau berdiri dan Tao di sisimu mengangkat kepalanya. Ekspresi Tao seperti dia khawatir padamu tapi juga berusaha menahan tawanya.

“Aku pernah merasa kehilangan,” kau menghela nafas dan mulai bercerita. “Aku menempatkan diriku sebagai korban, dan diam saat aku tahu orang-orang membicarakanku di belakang. Aku juga merasa ketidaksetujuan. Tapi aku memilih diam dan tidak menyuarakannya. Pada akhirnya yang kulakukan adalah menyakiti diriku sendiri dengan berusaha baik-baik saja. Aku sangat mengecewakan. Bagiku kesakitan adalah perasaan yang tidak hanya kau yang rasakan, tapi juga dirasakan orang-orang yang peduli padamu. Lalu kebahagiaan adalah perasaan yang bukan hanya kau saja yang harus merasakannya, tapi juga orang-orang di sekitarmu. Itu sebabnya kau harus mengatakan bagaimana perasaanmu hari ini pada orang lain, orang-orang tertentu bagi definisi kalian.” Kau ingat kau menoleh ke arah Tao yang menahan tawanya mendengar perkataanmu dan menendang kaki anak itu dari bawah meja kalian.

“Lagi pula,” katamu, “Dalam kasusku, aku punya banyak orang-orang tertentu. Aku punya banyak teman dan sahabat dekat. Dan seperti yang sering dikatakan seorang teman padaku, aku bahkan punya dua ayah dan dua ibu dalam hidupku. Aku bahkan akan punya adik baru tahun ini. Masalah apa pun yang kuceritakan pada orang-orang tertentuku. Yang pasti aku tidak akan mengatakan kalau aku kesepian.”

Kau mendengar Tao bertepuk tangan di sampingmu, dan beberapa mahasiswa lain juga. Tidak sedikit yang tertawa karena kau sendiri merasa malu dengan apa yang kau katakan barusan. Kau seperti anak 5 tahun bercerita tentang liburan musim panas di kelasnya.

Kau menutup wajahmu dengan tangan dan kembali duduk. Rasanya kau ingin pulang ke rumah dan memeluk ibumu karena malu, mungkin juga mengadu pada ayahmu. Dengan begitu semuanya tidak ada yang terasa terlalu berat bagimu.

 

  • End   –

 

Daripada seabrek quote menggurui mari selesaikan fic ini dengan kau merasa malu banget dan ingin pulang ke rumah untuk memeluk orang tuamu. Karena aku ngerasain hal itu kemarin /sigh/

 

 

 

Notes

Ohana itu bahasa hawaii untuk orang-orang terdekat kamu, gak hanya keluarga aja. Kalau gak salah istilah ini sering disebut di ‘Lilo and Stitch’ gak sih? Ga ya? Ya udah

Kith and Kin (noun) ; the people you hold the closest in life, or are related to.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s