Tea

coffee_mug_glass_window_drops_rain_grief_black-and-white_45304_1920x1200

Author :  Primrose Deen

Cast : Park Chanyeol, Katherine Rose

Genre : Romance

Rating : Teenager

Length : Drabble

***

Mungkin ini sudah keseribu kalinya aku mengatakannya di telinga Chanyeol,“Aku tidak suka minum kopi. Minum kopi membuatku berdebar-debar.”

Tapi entah bagaimana, mungkin kata-kataku itu juga sudah keseribu kalinya hanya masuk ke telinga kanannya, lalu langsung keluar melalui telinga kirinya.

“Oh ya?” Chanyeol menyahut sambil lalu, tetap meletakkan secangkir minuman mengepul di bibir jendela, seakan-akan mengabaikan apa yang baru saja kukatakan.

Manik mataku mengekorinya yang merapatkan sweater kelabu selututnya sebelum akhirnya menyesap isi cangkirnya sendiri dan kembali membuka halaman buku yang telah ia semati pembatas.

Dasar kepala batu.

Aku mendengus pelan, sebelum melanjutkan untuk masuk kembali ke Distrik 12 yang sedang kacau balau karena kedatangan para peacekeeper dari The Capitol.

“Kau adalah satu-satunya orang yang membaca The Hunger Games ratusan kali dalam setahun,” celetuk Chanyeol tiba-tiba. Iris cokelat hazelnya tak beralih sedikit pun dari buku The Lord of The Rings-nya.

“Dan kau adalah satu-satunya orang yang dapat menghafal setiap baris dalam buku The Lord of The Rings, namun tak dapat mengingat sebaris kalimatku bahwa aku tidak menyukai kopi.”

Kedua tangan Chanyeol bergerak secara sinergis menutup buku di tangannya dengan cukup keras. Kini kedua iris cokelat hazelnya yang bercahaya karena pantulan cahaya dari jendela diarahkan tepat ke kedua manik mataku. Bibirnya tak bergerak sedikit pun, sama seperti tubuhnya yang bergeming. Ekspresinya tak menggambarkan apa pun; semuanya datar.

Dan anehnya, kedataran ekspresinya membuat jantungku berlari di tempat secara tak keruan.

Sial. Berhentilah menatapku, Park Chanyeol sialan.

Sekarang aku benar-benar seperti sedang berusaha diseret untuk tenggelam dalam sorot matanya yang tak berdasar.

Ia meletakkan bukunya di atas meja dan beranjak dari sofanya, melangkah ke arahku.

Satu langkah.

Ada apa dengannya?

Dua langkah.

Apakah dia akan mengomeliku lagi?

Tiga langkah.

Harusnya kan aku yang marah!

Empat langkah.

Dia menjatuhkan dirinya di ruang kosong sofa yang sedang kutempati, tepat di sebelahku. Kami hanya terpisah beberapa sentimeter, sehingga aroma mint-nya lembut menyapa indera penciumanku.

Masih dengan wajahnya yang tak berekspresi sedikit pun, Chanyeol mencondongkan tubuhnya ke arahku; mengurangi senti demi senti yang sejak tadi berada di antara kami.

Hei, hei, hei! Dia mau apa?

Wajahnya tetap datar.

Apakah Chanyeol akan menciumku? Apakah aku harus menutup mataku atau memukul kepalanya dengan bukuku?

Ketika aku bisa mendengar deru napasnya hingga embusannya menerbangkan sebagian kecil sisi-sisi rambutku, aku memejamkan mataku erat-erat.

Kenapa tidak terjadi apa-apa?

Aku sedikit membuka sebelah mataku, untuk mengintip apa yang sedang Chanyeol lakukan dalam jarak sedekat ini.

Sialan.

Tangan Chanyeol yang panjang sedang melewati sebelah kepalaku untuk mengambil cangkir yang sedari tadi ia letakkan di bibir jendela.

Untuk pertama kalinya, aku ingin sekali membunuh benda mati bernama jendela ini. Kenapa ia harus ada di belakangku?

Aku meletakkan tanganku di dada, memastikan jantungku masih berada pada tempatnya.

Chanyeol menatap cangkir yang isinya masih tetap sama sejak ia membuatnya tadi; tak berkurang sedikit pun, kecuali kepulan asap yang semakin tipis.

“Setidaknya kau harus melihat isinya terlebih dahulu, Kate.”

Dengan kikuk aku mengalihkan pandanganku ke isi cangkir yang sedang diacungkan Chanyeol di depan wajahku.

Itu bukan kopi.

Itu teh.

Aku kembali menatap iris Chanyeol. Sorot kekecewaan samar-samar terpancar dari sana.

“Maaf.”

Aku mengambil alih cangkir yang sedang ada dalam genggaman jemari panjang milik Chanyeol, lalu menyesapnya sedikit.

Ia tak bergeming sedikit pun, kecuali seulas senyum yang terbit di bibir tipisnya—yang secara otomatis juga menampilkan lesung pipinya yang membuatku gatal untuk memainkan jariku di sana.

Kurasa minuman apa pun akan tetap membuatku berdebar-debar jika Chanyeol tersenyum seperti ini ketika aku sedang minum sesuatu.

***

 

Author note :

Halo! Ini fanfic pertama saya yang ber-cast Chanyeol😄

Yang mau mampir, rumah saya selalu terbuka untuk siapa pun. \o/

Primrose Deen

 

 

3 thoughts on “Tea

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s