BULLETS UND SCHILDE (Chapter 3)

IMG_2092

BULLETS UND SCHILDE CHAPTER 3

Author : PutriKim
Genre : Action, drama, romance
Lenghth : Chaptered
Rating : PG-15
Main cast : Thalia lee, Kai
Author note : tolong di pahami ya sudut pandang ceritanya hehhe……. makasih kemaren yang udah pada ngomen, kalo author agak ngeret updetnya maaf ya, lagi sibuk belajar bahasa korea kekekeke, tapi beneran author lagi serius-seriusnya belajar ini, doain author bisa cepet lancar bahasa koreanya ya…. hehehe, malah jadi curhat! Oh ya… jangan lupa, jangan jadi silent reader!!!


Previev chapter 2

Thalia mebelalakkan matanya mendengar apa yang baru saja lelaki yang mengunci tubuhnya katakan, bagaimana bisa lelaki itu mengetahui nama asli Thalia, bagaimana bisa. Thalia mengambil nafas dalam, Thalia mencoba tetap tenang dan mencoba mengatur rasa takutnya, namun tiba-tiba Thalia merasa sangat familiar dengan aroma parfum yang di pakai lelaki yang ada di depannnya sekarang ini.
“baiklah! Ku harap kau bisa mempermunah tugasku! Terimkasih Lee Hyunjo!” Thalia membelalakanmatanya sekali lagi, setelah menyelesaikan kalimatnya lelaki itu mencium bibir Thalia lembut, namun hanya ciuman singkat lalu meninggalkan Thalia di ruangan itu.
Thalia merasa air matanya sudah mengucur deras saat ini, Thalia keluar dari pintu ruangan perkakas itu dengan gontai, tubuhnya terduduk di lantai lorong dan tangisnya keluar dengan sempurna. Thalia melihat tangan kanannya, terdapat tulisan TND, dan Thalia sekarang ini begitu terpukul dan merasasangat hancur.

—BULLETS UND SCHILDE—

Hanya air mata yang menemaniku terduduk di lorong panjang ini, isakan demi isakan keluar dari bibirku, semuanya terasa menjadi begitu berat, pikiranku berkecamuk antara percaya dan tidak percaya, semuanya terjadi begitu cepat dan menyeramkan, aroma parfum yang sudah 2 bulan ini tak pernah ku cium semuanya kembali dengan begitu cepat, hanya aroma parfum yang begitu familiar. Tercium begitu lembut namun kenapa datang di saat yang menyeramkan. Hanya aroma itu yang sagat familiar dengan inderaku, langkahnya, suaranya, dan ciumannya semua sangat berbeda, tapi kenapa hatiku berkata untuk meyakinkan diriku bahwa lelaki menyeramkan tadi adalah Myungsoo? Apa semuanya mungkin setelah kejadian yang 2 bulan lalu terjadi di depan mataku? Semakin aku meyakinkan diriku bahwa semua yang aku alami hari ini adalah hayalanku, tapi semakin aku meyakinkan diriku semakin banyak lelehan air mata yang membuat wajahku basah.

Aku merindukan aroma itu, bahkan aku sangat merindukannya, tapi kenapa seperti ini? Kenapa kembali di saat yang sama sekali tak tepat, bukan kebahagiaan yang datang, melainkan rasa rindu menggebu yang di padu ketakutan yang menyeruak dalam diriku. Ku eratkan pelukanku di kedua lututku, ku jatuhkan kepalaku di antaranya, air mata yang semakin lama semakin menjadi, di temani dengan isakan dan suara tangisan memilukan yang ku coba ku redam sekuat tenagaku.

Kenapa aku harus terjerembab di antara rasa sakit, rasa rindu, dan ketakutan di lorong panjang yang dingin ini, kenapa semuanya seolah menjadikanku sebagai bahan siksaan? Lelehan air mata semakin membasahi kaos tipis yang ku pakai, ku usap air mataku dengan punggung tanganku. ku rasakan tubuhku terasa sangat lemas, hampir 2 jam aku tenggelam dalan fikiranku dan hanya menangis, aku sadar aku harus pulang. Aku harus mengambil tasku yang masih tertinggal di toilet.

Ku coba berdiri dengan sisa tenaga yang ada di tubuhku, ku langkahkan kakiku sekuat tenagaku, sambil berpegangan dengan tembok lorong yang terasa sangat dingin, sedingin perasaanku saat ini. Semakin aku berjalan ku rasakan tubuhku semakin terasa berat, toilet tinggal 15 meter lagi di depanku, ku langkahkan kakiku sekuat mungkin aku harus pulang, yang ku rasakan saat ini tubuhku terasa semakin melemas, semuanya terlihat buram dan akhirnya gelap.

—BULLETS UND SCHILDE—

Ku kerjapkan mataku beberapa kali, semuanya masih buram di pandanganku, yang ku tahu ruangan yang ku tempati saat ini bukan kamarku. Ku arahkan pandanganku ke seluruh ruangan yang ku tempati sekarang ini, ruangan yang di dominasi warna abu-abu dan putih yang semuanya tertata sangat rapih, terkesan sederhana namun membuat siapapun yang datang di tempatku berada saat ini pasti langsung merasa nyaman.

Ku rasakan tubuhku masih terasa sangat berat, kepalaku masih berdenyut meskipun tak terlalu menyakitkan. Aku sadar sekarang ini aku barbaring di sebuah ranjang besar yang sangat nyaman, selimut tebal berwarna putih dengan garis-garis tipis berwarna merah saat ini menyelimutiku sampai sebatas dada. Bantal berwarna putih yang terasa sangat nyaman di kepalaku. Kalau aku fikir-fikir lagi aku yakin kamar ini pasti milik seorang lelaki. Namun anehnya tak ada satupun foto atau sekedar barang yang bisa membantuku menebak siapa pemilik kamar ini.

Ku tenggelamkan kepalaku di antara kedua telapak tanganku, ku rasakan tubuhku sudah jauh lebih baik sekarang ini, ku lihat jam yang ada di atas nakas di samping tempatku tidur saat ini, jam sudah menunjukkan pukul 11.15, sudah hampir tengah malam rupanya. Tiba-tiba sebuah suara menginterupsi ku.
“rupanya kau sudah bangun! Baguslah!” Aku terpaku mendengar suara yang terdengar dari sudut ruangan, aku yakin aku bermimpi saat ini, aku yakin aku belum sadar dari pingsan yang aku alami tadi, kenapa dari sekian banyak orang di dunia ini harus manusia sejenis Kai yang menolongku.

“yah! Begitulah!”

“dasar bodoh! Kau bahkan tak pantas di sebut pengawal! Bisa-bisanya kau pingsan di depan toilet umum! Mamalukan!” aku tahu kali ini Kai pasti sedang memasang muka menyebalkannya, dan memang selalu menyebalkan, ku tarik nafasku dalam, lalu ku hempaskan pelan. Aku harus bisa mengntrol emosiku saat aku berhadapan dengan mahluk menyebalkan bernama Kai ini.

“diamlah!” jawabku malas, aku masih belum melihatnya sedikitpun, ku tutup tubuhku dengan selimut sampai menutupi kepalaku, aku terlalu malas melihat Kai dengan tampang menyebalkannya.

“aku hanya mengatakan yang sebenarnya bodoh! Kau bahkan terlihat sangat menyedihkan tadi! Untung saja ada pangeran setampan aku yang berbaik hati menolong pengawal bodoh yang pingsan di depan toilet!” ku remas selimut yang menutupi seluruh tubuhku, apa katanya? Pangeran? Tampan? Bahkan wajahnya tak lebih baik dari monyet hutan. Beraninya mengataiku sebagai pengawal bodoh berkali-kali seenak jidatnya, ku hembuskan nafasku kasar, aku tahu aku harus bersabar, setidaknya sampai Kai lelah mengejekku.

Aku masih bersembunyi di balik selimut tebal, aku sudah bersiap menerima ejekan Kai yang berikutnya, sedetik, dua detik, tiga detik, empat detik, lima detik, tak ada suara. Aku masih tetap diam. Sampai aku sudah tak tahan lagi, kenapa Kai yang biasanya menjadi mahluk menyebalkan bisa diam seperti sekarang ini.

“kai!” panggilku di balik selimut.

“kai!” ulangku

Aku bingung harus bagaimana sekarang, aku harus tetap waspada mungkin saja Kai diam karena akan tiba-tiba menyergapku, bisa saja memiliki niat buruk padaku malam ini, mungkin saja Kai ingin balas dendam gara-gara kejadian 2 hari yang lalu di kamar luna.

“Kai!” teriakku sambil membuka selimut yang menutup tubuhku kasar, namun pemandangan yang kulihat Kai sedang duduk di kursi membelakangi kaca yang ada di belakangnya, ku lihat Kai berusaha mengobati lukanya, wajahnya sangat serius, sesekali meringis, ku lihat lukanya pasti sangat menyakitkan.

Aku bangun dari posisi tidurku, ku lihat Kai sama sekali tidak memperhatikanku dia masih sibuk dengan luka-luka di punggungnya yang pasti menyakitkan, ada beberapa bagian yang ku lihat ada jahitan, aku sadar betapa cerobohnya aku melukai temanku sendiri.

Aku berdiri, dan ku langkahkan kakiku mendekati tempat kai duduk saat ini, entah kenapa kakiku yang tak beralaskan apapun tak merasakan dinginnya lantai kamar ini, ku langkahkan kakiku semakin mendekati Kai.

“kai!” panggilku pelan.

Kai hanya mengalihkan pandanganya ke arahku tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya sebagai balasan dari panggilanku. Kai menatapku dengan tatapan yang tidak bisa ku artikan, mungkin dia bingung dengan tingkahku sekarang ini, yah… wajar saja, aku selalu menghindarinya dan sekarnag aku malah memanggilnya.

“berbaliklah!” kataku pelan sambil memengang bahunya agar dia membalikkan tubuhnya. Setelah Kai membalikkan tubuhnya ku lihat luka yang terpatri di punggungnya, ku beranikan diri menyentuh punggungnya dengan jari telunjukku, ku rasakan kulitnya yang begitu hangat kehangantannya seolah mengalir ke tubuhku hanya dengan sentuhan telunjukku di punggung lebarnya.

“ini pasti sangat menyakitkan!” kataku pelan sambil terus menyentuh punggungnya dengan jari telunjukku, ku lihat Kai menatapku heran di pantulan kaca yang ada di depannya sekarang ini.

“maafkan aku! Aku terlalu emosi waktu itu!” sambungku, jujur aku sangat menyesal sekarang ini, melihat hasil perbuatanku di punggung Kai, luka yang begitu banyak dan yang pasti sangat menyiksanya. Ku lihat Kai tersenyum tipis di balik wajahnya yang sebagian tertutupi rambutnya.

“aku tahu! Dan kau melukaiku separah ini! Asal kau tahu kau telah menodai kesempurnaan tubuhku gara-gara ulah bodohmu! Dasar monster! Sebagai gantinya kau harus membantuku mengobati lukaku, ada beberapa luka yang sulit ku jangkau!” ku ambil kapas dan betadine yang ada di meja samping Kai duduk, entah kenapa semua ejekan yang Kai berikan sama sekali tak ku gubris, aku fikir rasa bersalahku jauh lebih besar daripada aku harus meladeni ocehan Kai.

Ku obati luka yang ada di punggung Kai sedikit demi sedikit, setiap ku sentuh lukanya ku usahakan aku melakukannya sehati-hati mungkin, aku bukan orang bodoh yang akan menyakiti orang yang aku buat punggungnya penuh luka keduakalinya. Ku lihat luka yang paling besar berada di punggung kanannya, ada sekitar 6 jahitan di sana, ku olesi lukanya sepelan mungkin, namun ku lihat kau sedang meringis menggigit bibir bawahnya sekarang.

“maafkan aku! Apa sesakit itu?” tanyaku sambil menghentikan kegiatanku mengobati lukanya yang paling besar.

“apa aku bodoh?! Jelas ini sangat sakit!” teriaknya dengan menatapku garang lewat pantulan kaca, ku balas tatapan matanya dengan tak kalah garang, lalu ku jambak rambutnya pelan dengan tangan kananku.

“apa kau berani mengataiku bodoh lagi?! Hah?” tanyaku sarkatis, ku lihat kai yang sedang meringis lagi sekarang ini.

“lepaskan aku! Cepat obati lukaku! Kau tidak punya rasa balas budi! Aku sudah menolongmu, aku menggendongmu dari depan toilet sampai tempat parkir depan. Asal kau tau, kau sanga berat bodoh! Ku fikir berat badanmu hampir 90 kilo, kau harus mengeceknya segera!” bisa-bisanya mahluk yang sedang aku jambak sekarang ini mengataiku bodh berkali-kali, oh… dan jangan lupa dia juga mengataiku berat? Berat badanku 90 kilo, ayolah bahkan au sebenarnya hanya sekitar 60 kilo, untuk tinggi badanku 172 bukankah itu ideal? Ku perkuat tarikan tanganku di rambutnya, aku pun tersenyum puas melihat raut wajahnya yang kesakitan.

“auuh! It’s hurt! Stop! Stop it!”

“never! You make me angry!!” jawabku, yah dan aku benar-benar marah sekarang ini, wanita manapun bila sudah di singgung mengenai berat badan pasti akan marah bukan, jadi bukan salahku bila Kai sekarang ini kesakitan karena jambakan yang aku beri.

“oh! Shit! Okay! I’m sorry! Please stop it! It’s more than hurt you know?” mohonnya dengan wajah memelas, oh…. rasanya ingin ku tendang wajahnya sekarang ini, bisa-bisanya dia memasang wajah sok polos di depanku. Ku lepaskan jambakan tanganku di rambutnya lalu aku mengambil kapas dan mulai mengobati lukanya lagi.

Keheningan menyelimuti ruangan yang aku tempati dengan Kai sekarang ini, aku sibuk mengbati lukanya sedangkan Kai ku lihat sibuk memainkan ponselnya, aku masih terus mengobati lukanya, hanya sura ketukan jari-jari kai di layar ponselnya yang mengisi suara di antara aku dan dirinya sekarang ini.
“you look beautyful!” apa aku baru saja menerima kado yang berisi bom di dalamnya, manusia pa yang ada di depanku sekarang ini, aku tahu aku memang cantik tapi aku sama sekali tak pengharapkan sebuah pujian dari seorang Kai.

Ku coba tak mempedulikan pujiannya, aku masih tetap diam sambil mengobati lukanya, aku tahu Kai sekarang ini sedang menatapku lewat pantulan kaca, rasanya canggung, bahkan sangat canggung, rasanya ingin ku tinju wajahnya agar megalihkan pandangannya dari wajahku.

“Thal!” panggilnya, sekarang ini ku balas tatapannya dengan tatapan datarku, ku lihat dia masih menatapku intens, bahkan sangat intens.

“i say you look beautyful!”

“yes! I’m the most beautyful girl in the world!” jawabku santai.

“I’m serious now!”

“I’m too!”

Lagi-lagi keheningan menyelimuti aku dan Kai, aku sibuk dengan kapas dan obat di tanganku sedangkan Kai kembali sibuk dengan ponselnya yang sedari tadi selalu berbunyi, mungkin dari temannya, dari tim saver, atau mungkin saja dari Soyu.

Ku letakkan kapas dan obat-obatan tadi di meja yang ada di samping Kai duduk saat ini, ku langkahkan kakiku menuju ranjang, ku tengok Kai masih terus sibuk dengan ponselnya. Ku raih ranselku yang tergeletak di sofa yang ada di dekat ranjang, tubuhku terasa sangat lengket sekarang ini, aku harus mandi. Ku acak-acak isinya, ku harap aku masih membawa kaos, oh setidaknya aku butuh mengganti pakaian dalamku sekarang ini.

Ku pakai sepatu ku, aku harus meminta Kai mengantarkan ku pulang, aku harus membersihkan diriku dan mengganti pakaianku, dan juga aku tidak akan tidur dengan Kai. Yang benar saja, aku harus tidur serumah, ah… se apartemen lebih tepatnya dengan Kai si monster menyebalkan.

“kau mau kemana?” ku alihkan pandanganku pada Kai yang saat ini sedang menatapku dengan wajah santainya, hey, bahkan sekarang ini dia masih topless hanya celana joger berwarna navy yang melapisi tubuh bagian bawahnya. Sangat menarik dan seksi. Oh.. hey apa yang baru saja aku fikirkan?! Tapi jujur saja abs Kai benar-benar terbentuk sempurna.

“aku harus pulang!” jawabku sambil terus memakai sepatuku.

“tinggalah! aku tidak akan berbaik hati mengantarkanmu ke apartemanmu!” apa yang baru saja mahluk menyebalkan yang ada di depanku katakan? Memintaku tetap tinggal? Ayolah, aku tidak akan mau melakukannya, aku tidak sebodoh itu, bisa saja aku di sentuhnya aat aku tidur. Itu mungkin saja bukan. Dan yang pasti aku sekarang ini perlu memandikan tubuhku dan mengganti pakaianku.

“tenang! Aku tidak akan menyentuhmu! banyak alasan aku tidak akan menyentuhmu! salah satunya, aku tidak akan membuat tubuhku kau buat remuk!” jawabnya sambil melemparkan paper bag berwarna putih ke arahku.

“benar juga, apa ini?” tanyaku sambil mengangkat paperbag yang tadi dilemparkannya.

“buka saja! Aku tahu kau perlu mandi! Kau perlu mengganti bajumu! Asal kau tahu, kau mencemari kamarku dengan bau tubuhmu!” apa katanya? Dia bilang tubuhku bau? Hey bahkan bau yang menguar dari tubuhku bukanlah bau tengik, busuk atau apapun itu. Ku buka paperbag yang ada di tanganku, ada sebuah kaos berwaarna putih, celana training hitam, dan, apa pakaian dalam? Bisa-bisanya lelaki itu membeli pakaian dalam untukku? Dan kenapa ukurannya bisa pas? Ku alihkan tatapanku ke arah Kai yang sekarang ini duduk di sofa dengan santainya.

“hey! Aku hanya membantu sebisaku!” jawabnya enteng.

“bisa-bisanya kau tau ukuranku hah?” bentakku

“tenang aku tidak memegangnya, hanya mengira-ira saja! Asal aku tahu, 34B bukan ukuran yang memuaskan untukku! Dan itu juga salah satu alasan aku tidak akan menyentuhmu! lihat saja bentuk tubuhmu! Sama sekali tidak menarik!” aku membelalakan mataku mendengar Kai menjawab pertanyaanku dengan lancar, ku lepas sepatuku dan aku lemparkan keduanya ke arah Kai sekarang ini.

“dasar prevert!” bentakku! Aku pun langsung berlari memasuki kamar mandi dengan emosi yang sudah ada di ubun-ubun.

—BULLETS UND SCHILDE—

Pagi menjelang, matahari sudah bersinar terang di luar sana, sinarnya sudah memasuki celah-celah ruangan tempat Thalia dan Kai berada. Thalia membuka matanya perlahan merasakan sinar yang masuk ke kornea matanya. Tangan kirinya sibuk meraba-raba tempat tidur yang ada di sampingnya, dan sebuah senyuman pun muncul di wajahnya.

Flashback

Thalia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masik ada di kepalanya, sepasang mata elang sudah menatapnya dari ujung kaki sampai ujung kepala Thalia. Sedangkan Thalia masih terus sibuk mengeringkan rambutnya.

“Ah! Aku lapar!” Thalia memegang perut ratanya sambil mengusap lembut perutnya.

“aku sudah delivery! Ada ayam goreng di pantry!” Thalia menatap tidak percaya lelaki yang duduk di sofa dengan handphone di tangannya.

“wah! Ayo makan bersama!” Thalia menarik tangan Kai dengan sekuat tenaga sambil setengah berlari.

Senyuman lebar tersungging di wajah Thalia, sedangkan Kai menatap ayam goreng yang ada di depannya datar, Thalia langsung mengambil satu potong paha ayam dan langsung melahapnya.

“dasar wanita monster, bisa-bisanya kau makan serakus ini! Pantas saja berat badanmu 90 kilo!” Kai nyeletuk sambil terus memainkan ponselnya, sedangkan Thalia menatap Kai penuh emosi dan langsung melemparkan tulang ayam yang ada di tangannya.

“dasar lelaki crewet! Kau bahkan tidak lebih baik dari pantatku!”

“apa kau bilang?! Setelah aku menolongmu kau mengataiku lebih jelek dari pantat ratamu itu?! Lhat karena ulahmu aku kalah di game ku!” Kai menunjukkana layar ponselnya ke hadapan Thalia, sedangkan Thalia menatap malas ponsel yang ada di depan wajahnya.

“oke! Aku minta maaf! Boleh aku menceriakan sesuatu?”

“silahkan!” jawab Kai santai, namun tetap melihat layar ponselnya.

“kau tahu? Tadi waktu aku di lorong gedung aku di bekap, dan aku yakin yang membekapku adalah Tanned!”

“bagaimana bisa kau tahu kalau itu tanned?”

“dia menuliskan huruf TND di tanganku! tapi yang membuatku menangis sampai tadi aku pingsan, aku yakin kalau Tanned adalah Myungsoo!” Kai langsung menghentikan kegiatan game di ponselnya, saat mendengar nama Myungsoo di ucapkan Thalia.

“Myungsoo sudah mati kau tahu itu Thal!”

“NO! I’m sure that Tanned is Myungsoo! Their perfume are same!”

“whatever! Kau bisa izin tidak ikut misi besok! Kau bisa saja pingsan lagi, bisa saja Tanned besok muncul, dan hanya pengawal bodoh yang di bekap lawannya langsung pingsan!” Kai mengambil satu potong ayam yang ada di depannya dan memakannya sedikit demi sedikit. Kai tahu pasti saat ini Thalia menatapnya garang.

“diam kau! Aku akan tetap ikut misi!”

Thalia langsung berdiri dan mencuci tangannya, seangkan Kai masih sibuk dengan ayam goreng di tangannya. Setelah selesai mencuci tangannya Thalia langsung memasuki kamar dan menutupnya dengan keras. Setelah Kai mendengar Thalia menutup pintu, Kai langsung mengusap kepalanya kasar. Dan hembusan nafas kasar pun keluar dari hidung dan mulutnya.

Flashback end

Seragam Saver kali ini sudah melekat pas di tubuh Thalia, sepatu bootsnya pun sudah terpasang di kakinya. Thalia mendengar suara alat-alat dapur berbenturan di luar kamar.

“good morning!” sapa Kai yang sedang mempersiapkan roti panggang.

“yeah!”

“kau masih ingin ikut misi hari ini? Kau bisa mengikutinya besok!” Kai berkata sambil menyodorkan sepiring roti panggang ke hadapan Thalia, Thalia pun mengambil sepotong dan langsung menggigitnya.

“sudah ku bilang aku akan tetap ikut!” jawab Thalia, ada sedikit nada kemarahan di ucapannya.

“kau bisa saja pingsan lagi!”

“aku tidak selemah itu!” Thalia menjawab dengan sangat ketus, Kai yang mendengar jawaban ketus Thalia langsung menarik tangan Thalia agar tubuh Thalia terhimpit di antara dinding dapur dan tubuh Kai.

“apa yang kau lakukan bodoh! Cepat menyingkir!” Thalia mendorong tubuh Kai kuat, namun tak ada sedikitpun pergerakan yang tercipta di tubuh Kai.

“ku bilang jangan ikut misi hari ini!” bentak Kai dengan wajah yang di penuhi kemarahan.

“apa kau gila? Ini pekerjaanku! Aku harus melakukannya! Dan aku mencintai pekerjaanku ini! Dan stop ! jangan sok peduli akan diriku!”

“aku tidak sok peduli! Aku hanya mengkhawatirkan keadaanmu bodoh!”

“kenapa kau menghawatirkanku? Lebih baik kau menghawatirkan Soyu, bukankah dia ikut dalam misi ini?” Tanya Thalia dengan sedikit nada sindiran di perkataannya.

“jangan bawa orang lain dalam percakapan kita!” benatak Kai.

“lalu kenapa kau menghawatirkanku?!” tanya Thalia ketus.

“kk—ka—karna aku menyukaimu!” jawab Kai sedikit tergagap, sementara Thalia mencerna kata-kata yang keluar dari mulut Kai dengan mata yang membelalak.

“persetan!” Thalia langsung mendorong tubuh Kai. Dan langsung meninggalkan aparteman milik Kai. Sementara Kai menjambak rambutnya kasar, dan langsung berjalan mengambil kunci mobilnya yang ada di nakas samping tempat tidur.

TBC

3 thoughts on “BULLETS UND SCHILDE (Chapter 3)

  1. thats it!!! syitt,ini ff yang gua cari cari,susah nyari ff yg genre nya kaya gini hampir kaya silver bullet ,btw gue suka karakter si thalia,sebenernya gua belom baca yg chap 3 ini tapi berhubung gua belom ngasih komen di chap yg sebelumnya jadi gua comment dulu lah :v.
    Btw buat chapter selanjutnya jangan lama2 thor posting nya hahaha/?

  2. Aaa makin seruuu
    makin Banyakin moment kai sama thalia ya thorr…. suka banget sama mereka berdua
    Jadian lah jadiaannnn
    Updatenya jgn lama lama yaaaa
    Fightinggg!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s