Hate or Love (Chapter 10)

IMG_2093

Title : Hate or Love (Chapter 10)

Author : starLinn (@StellaW_)

Genger : Romance, family, …

Rating : G

Main cast : Yoon Hagun (OC), Oh Sehun, Kim Jongin

Sub cast : Yoon Joonmyeon, Yoon Bora, Xi Luhan, ……

Length : Chapter

AAA maafkan author lama banget nyelesain chapter 10 ini. Author benar-benar sibuk dan baru sempet selesain sekarang. MAAFKAN AUTHOR READERS!!! Semoga readers tetep mau baca dan belum lupa sm ceritanya, kalo lupa silakan lihat lihat chapter sebelumnya kkkk~ Author tak mau banyak bicara, ntar readers jatuh cinta lgi/?.. Typo bertebaran dimana-mana, harap dimaklumkan! Jangan lupa RCL-nya ya readers!!! ‘0‘)/

 

Selamat membaca~~~~~

 

PYONGG!!!

 

 

************

 

 

“Tadi pagi aku membencinya, saat mengubur Roo aku kembali menyukainya, dan sebelum aku datang ke rumahmu aku membencinya kembali dan sekarang.. aku…” ucap Hagun menggantung

“Dan sekarang kau mencintainya.” Jongin melengkapi ucapan Hagun. Entah, Hagun harus memberi tanggapan apa pada ucapan Jongin. Ego-nya terlalu tinggi untuk meng-iyakan, tapi perasaannya juga tak bisa dibohongi.

“Sudah-sudah, aku tak mau melihat sahabatku gila karena masalah ini.” Jongin mengacak pelan rambut Hagun. Sedangkan Hagun hanya mengerucutkan bibirnya.

“Apa kalian sudah selesai bicara?” tiba-tiba Sehun muncul dengan tatapan dinginnya. Jongin hanya tersenyum tipis.

“Sudah, bawalah ia pulang.” Jongin bangkit berdiri dengan tangan yang menggenggam lengan Hagun. Dengan perlahan Jongin mendorong Hagun ke sisi Sehun. Dia melangkah ke samping Sehun dan mencondongkan kepalanya ke telingan Sehun.

“Jagalah ia baik-baik, Oh Sehun. Aku mempercayainya padamu.” Jongin menepuk pundak Sehun lalu pergi dari hadapannya. Baru beberapa detik pergi, Jongin kembali

“Ahh.. tolong kunci gerbang rumahku saat kalian keluar. Kalau rumah ini kemalingan, kalian akan ku jadikan tersangka utama.” Setelah mengucapkan kalaimat itu, Jongin benar-benar pergi dari hadapan Sehun dan Hagun. Dan suasana canggung menyeliputi dua orang ini.

“Ayo kita pulang, kau terlihat lelah.” Ucap Sehun berusaha mengurangi kecanggungnan di antara mereka. Hagun mengangguk pelan dan melangkahkan kakinya kelaur mendahului Sehun. Sepanjang jalan Hagun hanya menundukan kepalanya. Ucapan Jongin kembali berputar di pendengarannya.

‘Apa benar aku mencintai Sehun?’ batin Hagun.

 

 

Chapter 10

 

 

Hari ini Sehun dan Hagun harus mencari perlengkapan pernikahannya. Tapi suasana canggung masih menyelimuti mereka berdua. Apa lagi Sehun baru saja menerima pesan dari Jongin yang berisi,

 

“Jangan kecewakan Hagun, ia mencintaimu. Jaga ia baik-baik, kalau tidak, hidupmu tak akan pernah tenang, Oh Sehun.”

 

“Maafkan aku.” Ucap Sehun pelan dan ia menghentikan langkahnya.

“Hm? Un..tuk apa?” tanya Hagun yang ikut menghentikan langkahnya dan memandang Sehun bingung.

“Untuk membuatmu mencintai namja yang salah.” Jawab Sehun dengan tatapan matanya yang terlihat sedih.

“Maksudmu?”

“Aku tak sepantasnya dicintai oleh yeoja sepertimu, kau terlalu sempurna untukku.” Sehun menundukan kepalanya. Ini kali keduanya Hagun melihat ekspresi lain dari Sehun.

“Kalau begitu buatlah dirimu pantas dicintai oleh yeoja sepertiku.” Sehun terkejut mendengar ucapan Hagun. Jantungnya serasa berhenti berdetak mendengarnya. Senang, terkejut, dan bingung bercampur menjadi satu.

“Eh??!” Sehun menatap Hagun dengan tatapan tak percaya.

“Aku rasa kau tak terlalu buruk.” Ucap Hagun dan tanpa sadar ia membentuk garis lengkung di bibirnya.

“Benarkah? Kau sedang tak bercandakan, Hagun?”

“Menurutmu?” goda Hagun, lalu ia kembali melangkahkan kakinya. Sehun menggigit bibir bawahnya, ingin rasanya ia memeluk dan mencium bibir manis Hagun. Tapi ia takut Hagun akan marah dan menarik ucapannya bahwa dirinya tak terlalu buruk. Sehun berusaha menahan napsunya dan mensejajarkan langkahnya dengan Hagun.

Saranghae..” ucap Sehun tepat di telinga Hagun. Hagun sempat terkejut, namun ia kembali membentuk garis lengkung di bibirnya. Hagun tak menjawab ungkapan hati Sehun, ia terus saja melangkahkan kakinya.

“Ya.. kau tak membalas ucapanku, eoh?” tanya Sehun sambil menggerutu tak jelas. Hagun tetap saja diam dengan langkah kaki yang tak berkurang kecepatannya.

“Hagun.. Sung Hagun.. Gun-“

 

 

CHU~~~

 

 

Ucapan Sehun terpotong oleh kecupan singkat yang diberikan Hagun di bibirnya.

“Kau terlalu berisik..” Hagun kembali mengecup bibir Sehun, lalu berlari meninggalkan calon suaminya yang membeku.

“Kau ternyata cukup agresif, Hagun..” Sehun menatap tak percaya calon isterinya yang mulai menjauh.

 

 

************

 

 

Shireo! Aku tak suka cincin seperti itu!” tolak Hagun saat Sehun memilih cincin yang penuh dengan berlian untuk pernikahannya nanti.

Wae?? Menurutku ini cocok untuk kita berdua.”

“Itu terlalu berlebihan, namja asing. Kau lupa kalau kita masih pelajar, eoh?”

“Aishh.. baiklah, kau mau yang mana?”

“Hmm.. yang ini” Hagun menunjuk sepasang cincin emas dengan bentuk bintang di tengahnya.

“Bintang? Itu terlalu kekanak-kanakan!”

“Kekanak-kanakan?!! Berani-beraninya kau menghina pilihanku!” Hagun memukul pantat Sehun kesal.

“Akhhh! YA! Sakit tahu!” Sehun mengelus pantatnya yang mungkin sudah memerah.

“Kau pantas mendapatkannya!” Ketika Sehun hendak menggelitik tubuh Hagun. Pelayan toko yang melayani Sehun dan Hagun angkat bicara.

“Permisi, tolong kecilkan suara kalian. Pembeli yang lain merasa terganggu.” Ucap pelayan toko yang menggunakan name tag Byun Baekhyun.

“Ahh.. maafkan kami.” Hagun menundukan kepalanya malu saat menyadari seluruh isi toko ini sedang menatap dirinya dan Sehun dengan tatapan terganggu.

“Ini semua gara-gara kau.” Bisik Hagun sambil menyenggol tubuh Sehun.

“Enak sa-“

“Bagaimana kalau saya yang memilihkan cincin untuk kalian berdua?” ucapan Sehun terpotong oleh pertanyaan yang diberikan oleh Baekhyun.

“Hmm, baiklah.. tolong pilihkan yang cocok untuk kami.” Jawab Sehun lalu mengikuti arah pandang Baekhyun.

“Bagaimana kalau yang ini?” Baekhyun mengeluarkan cicin emas putih dengan berlian berbentuk kristal di tengahnya. Sehun dan Hagun saling memandang satu sama lain dan mengangguk secara bersamaan.

“Kami beli yang ini.” Ucap mereka kompak.

“Baiklah, biar saya ukur lingkar jari kalian.” Baekhyun menarik tangan Sehun dan mengukur jari manisnya dengan cepat. Dan saat Baekhyun mengukur jari Hagun, terasa lama bagi Sehun.

‘Apa namja ini mengambil kesempatan dalam kesempitan? Saat mengukur jariku tak selama ini.’ Batin Sehun sambil menatap tak suka tangan Baekhyun yang sedang memegang tangan calon isterinya, Hagun.

“Tenang saja, aku tak akan mengambil calon isteri anda.” Ucap Baekhyun saat menyadari tatapan tak suka dari Sehun. Saat mendengar ucapan Baekhyun, Hagun menolehkan kepalanya menatap Sehun.

“Pfft, kau cemburu?” tanya Hagun sambil menahan tawanya. Sehun hanya menatap Hagun kesal dan tak membalas pertanyaan yang dilontarkan Hagun.

“Sudah selesai, kami akan mengantarkan cincin pesanan kalian besok sore. Jadi silakan tuliskan alamat kalian di kertas ini.” Ucap Baekhyun lalu Hagun menuliskan alamat rumahnya. Setelah itu Hagun dan Sehun keluar dan melanjutkan perjalanan mereka.

“Sekarang kita kemana?” tanya Hagun yang mulai terlihat lelah.

“Hmm, mencoba pakaian pernikahan.” Jawab Sehun, ia melihat wajah kusut Hagun.

“Kau lelah?” Hagun menganggukan kepalanya.

“Belajarlah dengan rajin, dan hasilkan banyak uang. Setelah itu belilah mobil, hmm?” ujar Hagun lalu menatap Sehun.

“Aku tak mau, lebih baik…” dengan tiba-tiba Sehun mengangkat tubuh Hagun “Aku menggendongmu.” Lanjut Sehun setelah tubuh Hagun ada digendongannya. Hagun tersipu, pipinya mendadak memerah dan jantungnya berdetak tak karuan.

“Lihatlah wajahmu memerah, Sung Hagun.” Ejek Sehun dan dibalas dengan tatapan tajam dari Hagun.

“Turunkan aku!” ujar Hagun kesal.

Shireo!!” tolak Sehun, ia lebih menguatkan gendongannya kepada Hagun.

“Aishh, dasar kau namja asing!” Hagun memukuli dada dan kepala Sehun, tak lupa ia menjambak rambut calon suaminya.

“YA! HENTIKAN! INI SAKIT!” teriak Sehun menderita.

“Turunkan aku dulu baru aku berhenti!!” Sehun melepaskan gendongannya secara tiba-tiba, dan otomatis tubuh Hagun tergeletak di jalanan.

“Akhhh, sakit!” hagun mengelus-elus pantatnya yang menjadi korban dari Oh Sehun.

“YA! Apa kau sudah gila?!!” kesal Hagun, lalu berusaha bangkit berdiri. Sehun hanya diam dan meninggalkan Hagun sendiri.

“YA! Namja asing!” panggil Hagun, tapi Sehun tak menghentikan langkah kakinya.

“Hey! Kau jangan pura-pura tak mendengar suaraku!” Hagun mencoba sekali lagi, tapi tetap saja Sehun tak mengubris Hagun.

‘Apa dia marah? Aishhh, namja macam apa dia itu?’ batin Hagun lalu mengikuti Sehun dalam diam.

 

 

Sehun Pov

 

 

Aku mendiami Hagun sepanjang perjalanan menuju butik yang eomma sarankan untuk kami. Dia itu terlalu kasar untuk hitungan yeoja, aku ingin dia menyesali perbuatannya. Aku harus mendidik calon isteriku, dia harus menjadi lebih dewasa. Aku melihat dan berjalan kesana kemari, dan akhirnya butik yang eomma sarankan ada di depanku. Aku membalikan tubuhku menghadap Hagun, dan..

 

BUKK

 

“Ahh.. kepalaku” Hagun mengelus-elus kepalanya yang menabrak dada bidangku. Aish, kenapa dia berjalan tepat di belakangku?

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku dingin.

“Tentunya mengikutimu, bodoh!” jawab Hagun sekenannya.

“Cepat masuk dan pilih gaun yang kau suka.”

“Aishh, kau kembali ke sifat aslimu. Sungguh namja asing yang membosankan.” Hagun berlalu dari hadapanku. Setelah melihat Hagun hilang di balik pintu, akupun mengikuti jejaknya. Saat aku masuk Hagun telah hilang entah kemana, dan seorang wanita yang tak lain adalah pelayan di butik ini menghampiriku.

Annyeonghaseo, anda Tuan Oh, bukan?” tanya pelayan itu, aku hanya menganggukan kepalaku.

“Baiklah, perkenalkan saya Kim Yura. Selama anda berbelanja di tempat ini, saya yang akan melayani anda.” Sehun kembali menganggukan kepalanya mendengar ucapan pelayan yang bernama Kim Yura.

“Hmm, tolong carikan tuxedo yang sesuai dengan pilihan…” aku melihat sekeliling tapi aku sama sekali tak menemukan Hagun.

“Pilihan Nyonya Sung?” Yura melanjutkan kalimat menggantungku.

“Eoh? Iya dengannya.”

“Baik Tuan Oh, sila-“

“Sehun saja, jangan menambahi tuan, aku ini masih muda.” Potongku tanpa menatap Yura.

“Ah.. baiklah, Oh.. Sehun.” Yura tersenyum manis dan jujur aku terpesona. Tapi saat mengingat Hagun, aku segera mengalihkan pandangaku darinya.

“Ini tuxedo model terbaru yang kami siapkan untuk kalian berdua.” Ucap Yura,

alu menunjukan tuxedo bewarna hitam kepadaku. Entah kenapa aku tak begitu

menyukai tuxedo ini, terlihat pasaran dan kaku.

“Apa tak ada yang bewarna putih dan berbahan lembut?” tanyaku asal sambil

memandang sekeliling.

“Tentu saja ada, bagaimana dengan ini?” tanya Yura kembali dan kali ini aku menyukai pilihannya.

“Aku pilih yang ini, kau tahu dimana Hagun?” tanyaku setelah menyetujui pilihannya.

“Dia ada di ruang sebelah, di tempat ganti wanita.” Jawab Yura tak lupa dengan senyumnya. Aishh, apa dia sedang menggodaku? Tunggu, ini sudah menjadi kewajibannya untuk ramah terhadap pembeli. Dasar kau Oh Sehun bodoh!

“Baiklah, apa aku perlu mencoba tuxedo itu?” tanyaku.

“Kalau anda ingin mencoba, silakan. Semua tergantung anda.” Jawab Yura.

“Kalau begitu aku akan mencobanya.” Aku mengambil tuxedo putih yang dipegang Yura lalu aku berjalan menuju ruang Hagun mencoba gaunnya.

“Tapi ruangan untuk anda ada di sebelah sana.” Yura menahanku lalu menunjuk arah yang berlawanan dengan arahku berjalan.

“Apa dilarang mencoba bersama calon isteri?” tanyaku polos.

“Ah.. ka-kalau itu tergantung isteri anda.” Jawab Yura terlihat gugup. Aneh, kenapa dia jadi seperti itu? Aku memandangnya sebentar, dan pergi menuju ruang ganti Hagun.

“Gun-ah, apa kau sudah memilih gaunmu?” tanyaku saat memasuki ruang ganti Hagun.

“Hmm! Aku cantik bukan?” tanya Hagun balik, aku sempat menalan ludahku. Belahan dada Hagun jelas terlihat dan punggung serta pundak putihnyapun tak kalah terlihat. Apa dia gila memilih gaun seperti itu? Apa ia ingin diperhatikan oleh namja yang bukan suaminya?

“Tidak, kau jelek dengan gaun itu!” jawabku cepat, dan mendorong Hagun ke dalam tirai tempat ia mencoba gaunnya.

“Ya! Kenapa kau ikut masuk juga, eoh?” tanya Hagun bingung.

“Memang kenapa? Aku calon suamimu bukan?” jawabku sambil membuka kancing kemeja. Tentunya aku akan mecoba tuxedo putihku.

“Y-ya! Apa kau sudah gila? Kau baru calonku, namja asing.” Aku menghela napas dan setelah itu aku membuka tirai ganti yang menutupi kami berdua. Aku menatap para pelayan yang sedang berbisik mendengar ucapakku dan Hagun dari dalam.

“Kalian bisa meninggalkan kami berdua?” tanyaku dengan tatapan dingin.

“Y-ye, permisi tuan..” ucap salah satu pelayan dan semuanya pergi meninggalkanku dan Hagun. Aku kembali masuk ke dalam tirai, menutupnya, dan menatap Hagun dalam tanpa berkedip sekalipun.

“A-ada apa denganmu, eoh?” tanya Hagun gugup, aku hanya tersenyum tipis lalu mendekatinya. Mengelus pundaknya yang terbuka., mendekati wajahnya lalu mengecup pipinya yang merona.

“H-hey, jangan seperti ini namja asing..” Hagun mendorong pelan tubuhku. Tapi aku malah semakin mendekatkan tubuhku dengannya. Dalam hitungan detik, bibirnya sudah bungkam karena ciumanku.

Hagun Pov

 

 

Arasso! Aku berjanji tak akan memilih pakainan yang terlalu terbuka.” Ucapku kesal sambil mengerucutkan bibirku. Kalian tahu apa yang Sehun lakukan? Dia mencium bibirku lebih dari 5 menit. Bayangkan, selama itu aku mendapatkan oksigen yang benar-benar sedikit, aku rasa dia ingin aku mati.

“Aku pegang janjimu, Sung Hagun.” Ucap Sehun lalu mencoba tuxedonya yang

serba putih itu. Apa putih itu warna kesukaannya?

“Hey, namja asing..” panggilku tanpa melihatnya, aku tak akan membiarkan mata suciku ini ternodai.

“Hmm?”

“Apa putih itu warna kesukaanmu?” tanyaku sambil memelintir/? Rumbai-rumbai di gaun yang kukenakan.

“Bukan.” Jawabnya singkat.

“Lalu kenapa kau memilih warna putih untuk tuxedomu?”

“Aku hanya ingin mencoba hal yang baru, aku bosan menggunakan warna hitam. Dan juga tubuhku pas untuk warna seperti ini.” Aku hanya menganggukan kepalaku saat mendengar jawaban dari Sehun. Jadi Sehun suka dengan hal yang baru? Hmm, bertolak belakang denganku. Aku tak suka dengan kata ‘mencoba’ menurutku itu mengerikan.

“Apa kau akan bosan dengan warna itu dan kembali memilih warna hitam?” tanyaku lagi, semoga dia tak merasa terganggu.

“Mungkin, aku tak suka dengan hal yang sama dalam waktu yang lama.”

“Apa itu artinya kau orang yang cepat bosan?” tanyaku lagi, tapi entah kenapa aku merasa berat menanyakan hal ini.

“Hmm, bisa dibilang seperti itu.”

“Kalau begitu suatu saat nanti kau akan bosan denganku?” gumanku pelan.

“Ye? Kau bicara apa?” tanya Sehun saat suaraku tak ditangkap pendengarannya dengan jelas.

“Ahh.. aku tak bicara apa-apa. Kau sudah mencoba tuxedomu?”

Ne, bagaimana menurutmu?” aku membalikan tubuhku dan memandang Sehun dari kepala hingga unjung kakinya. Aku terpesona melihatnya dengan tuxedo putih yang melekat sempurna ditubuh jangkungnya. Aku tak mengucapkan satu katapun, aku hanya mengangguk-anggukan kepalaku serta memberikan dua ibu jariku untuknya.

“Kau menyukainya?” tanya Sehun sambil menatap dirinya di cermin. Dan lagi aku hanya mengangguk-anggukan kepalaku. Aku merasa bodoh, tapi entah aku serasa kehabisan kata-kata.

“Baguslah kalau begitu, kau tunggu disini. Aku akan memilihkan gaun untukmu.” Sehun keluar dari tirai tempatku dan dirinya mencoba pakaian. Dan setelah itu tubuhku serasa melemas. Hagun, kau yeoja beruntung yang dicintai namja sempurna sepertinya. Tapi kau harus menyiapkan diri, cepat atau lambat namja itu akan bosan denganmu.

 

 

Normal Pov

 

 

Setelah Sehun keluar dari dalam tirai, tempat ia mencoba tuxedonya. Ia memanggil Yura, dan meminta bantuan memilih gaun untuk Hagun.

“Tolong carikan gaun untuk Hagun.” Ucap Sehun sambil melihat sekelilingnya.

“Gaun yang seperti apa?” tanya Yura menatap Sehun.

“Apapun, tapi jangan terlalu memperlihatkan belahan dada, punggung, dan juga pundaknya. Dan satu lagi, gaun yang cocok dengan tuxedoku.” Jawab Sehun serius.

“Ba-baiklah, aku akan mencarikannya untukmu.” Yura menundukan sedikit kepalanya lalu menjauh dari Sehun. Mencarikan gaun yang menurutnya pas dengan larangan Sehun. Tak lama kemudian Yura kembali, membawakan tiga buah gaun yang sama-sama indah tapi berbeda bentuknya/?

“Sehun, bagaimana dengan tiga gaun ini?” tanya Yura sambil menunjukan gaun yang dibawanya. Sehun memperhatikan setiap lekuk dari ketiga gaun itu. Dan Yura mendapat jawaban tidak. Itu artinya dia harus mencacarikan gaun yang lain untuk Hagun. Dengan senyum yang tak berkurang dari wajahnya, Yura kembali meninggalkan Sehun sendiri. Membutuhkan waktu 10 menit untuk Yura kembali ke hadapan Sehun, dengan lima gaun. Dan kali ini, ia mendapat bantuan dari pelayan lain untuk membawakannya kepada Sehun.

“Bagaimana dengan yang ini?” tanya Yura. Sehun kembali memperhatikan setiap gaun yang ada di depannya. Dan saat gaun terakhir, Sehun tersenyum. Gaun putih yang dihiasi dengan butiran berlian serta tak memperlihatkan daerah yang dilarangnya. Sehun menganggukan kepalanya dan Yurapun memberikan gaun itu kepada Hagun. Tak lama setelah itu Hagun keluar dari ruang ganti, dan Sehun sangat terpesona melihat calon istrinya. Sehun mendekati Hagun, dan ia membisikan sesuatu kepadanya.

“Kau cantik..” setelah membisikan itu, Sehun mencium pipi Hagun.

“Hey, bisakah kau berhenti menciumku?” Hagun mengerucutkan bibirnya.

“Aku rasa tidak bisa. Cepat ganti pakaianmu, setelah itu kita pulang.” Sehun berlalu dari hadapan Hagun dan Hagunpun menganti gaunnya dengan pakaian miliknya.

 

 

************

 

 

Sehun dan Hagun keluar dari butik, tak tersasa sebentar lagi akan malam. Mereka melanjutkan perjalanannya untuk pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, tapi Hagun angkat bicara.

“Hey, namja asing aku ingin es krim..” pinta Hagun tiba-tiba.

“Kenapa mendadak kau ingin es krim?”

“Entahlah, belikan hmm?” pinta Hagun.

“Tapi di sini tak ada kedai es krim, Gun-ah.”

“Kau jahat!” Hagun memukul lengan Sehun berkali-kali.

“Aishh.. kau seperti sedang mengidam.” Ucap Sehun asal, dan detik selanjutnya Hagun menatap Sehun.

Wae? Kenapa menatapku seperti itu?” Sehun menatap Hagun balik dengan wajah datarnya.

“Aku tak mungkin hamilkan?” tanya Hagun sambil memegang perutnya.

“Pertanyaan macam apa itu?” Sehun memukul pelan kepala Hagun.

“Tapi kau sudah menciumku berkali-kali.” Hagun tampak khawatir, ia takut dirinya hamil diluar nikah.

“Aishh.. mana mungkin hanya berciuman, kau akan hamil Sung Hagun. Sudah kita pulang saja, sepertinya kau kelelahan.” Sehun menarik tangan Hagun dan berjalan pulang.

 

10 menit kemudian~~

 

“Kami pulang!” ucap Sehun saat membuka pintu rumah Hagun.

“Bagaimana? Apa kalian sudah memutuskan akan membeli yang mana?” tanya Dasom saat muncul dari dapur bersama Bora.

“Sudah, cincinnya akan diatar besok sore.” Jawab Sehun.

“Kalau gaunnya?” tanya Bora.

“Ah.. aku lupa menanyakannya.” Jawab Sehun sambil menggaruk kepalanya.

“Tidak apa-apa, ahjumma bisa menanyakannya. Kalian naiklah, bersih-bersih dan turun untuk makan malam.” Suruh Bora dan ia bersama Dasom kembali ke dapur.

“Hey, kenapa kau hanya diam?” tanya Sehun saat ia dan Hagun sampai di kamar.

“Eoh? Entahlah, aku hanya..” ucap Hagun menggantung.

“Hanya memikirkan kau hamil atau tidak?” lanjut Sehun. Hagun hanya menganggukan kepalanya. Sehun menarik napas dalam-dalam.

“Nona Sung, apa kau tidak pernah belajar tentang sistem reproduksi di sekolahmu?” tanya Sehun geram.

“Entahlah, aku tak pernah memperhatikan pelajaran yang aku tak suka.” Jawab Hagun menatap Sehun.

“Hah.. aku beritahu sekali lagi, berciuman tak akan menyebabkan kehamilan. Kalau spermaku masuk ke dalam tubuhmu baru kau akan hamil.” Jelas Sehun mengharapakan Hagun akan mengerti.

“Spermamu?” Hagun tampak berpikir. “Tapi bagaimana caranya bisa masuk?” Hagun memberi tatapan bingung kepada Sehun. Tersirat pikiran negatif di otak Sehun. Tapi ia buru-buru membuangnya, tak mungkin ia melakukannya sekarang. Sebentar lagi ia akan menikah dengan Hagun. Ia harus bersabar sebentar lagi.

“Sudahlah.. Setelah kita menikah aku baru akan menjawabnya.” Sehun masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya serta kepalanya. Hagun memandangi pintu yang tertutup saat Sehun masuk.

‘Aku tak suka mengunggu..’ batin Hagun lalu mengerucutkan bibirnya.

 

 

#SKIP

 

 

Hari ini adalah hari dimana Sehun dan Hagun akan dipersatukan secara hukum. Hagun tampak gugup saat melihat tampilannya di cermin, yang sedang menggunakan gaun yang Sehun pilihkan. Make up yang sederhanapun menghias wajah Hagun. Tapi itu sudah membuat Hagun sangat cantik. Hagun masih berada di rumahnya sedangkan Sehun sudah ada di gereja tempat mereka menikah.

‘Kenapa cepat sekali?’ batin Hagun.

“Gun-ah, apa kau sudah siap?” tanya Suho yang mengetuk pintu ruangan Hagun dari luar.

“Ahh.. ye, aku sudah siap appa.” Hagun memandang dirinya sebentar, ia tersenyum dan melangkahkan kakinya menuju pintu.

Omona.. kau cantik sekali Sung Hagun.” Suho tersenyum lebar melihat Hagun, anaknya benar-benar menjadi putri. Bukan putri tidur lagi, tapi putri kerajaan.

Appa bisa saja.” Hagunpun ikut tersenyum lebar mendengar ucapan Suho.

Suho menggenggam tangan Hagun sepanjang perjalanan menuju gereja, tempat di mana Sehun dan Hagun akan menikah. Waktu berjalan sangat cepat untuk Hagun, tak membutuhkan waktu yang lama ia sudah sampai di depan pintu gereja.

Appa, aku gugup..” Hagun menggenggam erat tangan Suho.
“Tenang saja, dulu eommamu juga merasakan hal yang sama.” Suho tak kalah menggenggam erat tangan Hagun.

Pintu gerejapun dibuka oleh dua orang pelayan saat Suho mengganggukan kepalanya. Sehun membalikan tubuhnya saat pintu gereja terbuka. Ia sudah berdiri di altar.

“Cantik..” ucap Sehun pelan. Suho menggiringi Hagun berjalan menuju Sehun yang sedang tersenyum menanti calon isterinya.

“Jaga putriku baik-baik, Oh Sehun.” Ucap Suho sebelum melepaskan Hagun ke tangan Sehun.

“Pasti.” Ucap Sehun yakin.

Sehun dan Hagun saling bertatapan,

“Kau seperti malaikan, Nona Sung.” Ucap Sehun. Hagun tak menanggapi ucapan Sehun. Ia terlalu gugup untuk itu.

“Baiklah, hadirin dipersilakan untuk berdiri.” Ucap pendeta yang akan mempersatukan Sehun dan Hagun.

“Oh Sehun, apakah kau menerima dan berjanji untuk menjadi pendamping hidup Sung Hagun sampai maut memisahkan?” tanya pendeta menatap Sehun.

“Ya, saya berjanji.”

“Sung Hagun, apakah kau menerima dan berjanji untuk mendampingi Oh Sehun sampai maut memisahkan?” tanya pendeta kepada Hagun.

“Sa- hmmm sa..saya” ucap Hagun terbata-bata.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

 

To Be Continue kawan~

 

Iklan

2 thoughts on “Hate or Love (Chapter 10)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s