TRIPLE DATE (Oneshoot)

IMG_2095

Title : Triple Date

Genre : Romance

Length : Oneshoot

Rating : PG 15

Cast : Oh Sehun, Byun Baekhyun, Kim Junmyeon, and OCs.

Hello! Ini sudah kelima kalinya saya mengirim ff saya di exofanfiction setelah ‘After A Long Time’ , ‘Secret’, ‘Hello Baby’, dan ‘Horoscope’. Sekarang saya bawakan ff sederhana berjudul Triple Date ini. Semoga kalian suka ya dengan ff saya ini

Oh ya, jika kalian berminat membaca fanfic-fanfic saya yang belum dipublish dimanapun kecuali di wordpress pribadi saya, berkunjung saja ke : http://ohmarie99.wordpress.com jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian setelah kalian berkunjung ke wp saya!

Thanks and happy reading!

 

 

 

 

**

“Jadi, Taerin dan Jimi juga meminta bantuanmu seperti Junmyeon dan Baekhyun meminta bantuanku?”

 

Sehun yang kini tengah sibuk menekan satu-satu angka yang ada pada remot televisi guna menentukan channel yang paling tepat itu segera menolehkan kepalanya ke arah istrinya yang kini tengah membuat susu cokelat khusus untuk ibu hamil di dapur apartment mereka. Setelah mengaduk susu cokelatnya, Surin segera menghampiri Sehun dan duduk disamping laki-laki itu. Wanita yang tengah hamil delapan bulan itu juga tidak lupa memberikan suaminya yang tidak lain tidak bukan adalah Oh Sehun, sepiring buah-buahan yang sudah ia potong menjadi beberapa bagian kecil agar Sehun dapat dengan mudah memakannya.

 

 

“Begitulah. Acara arisan kemarin malah berubah menjadi acara curahan hati dua ibu hamil yang cerewet itu.” Surin menyesap susu cokelatnya sementara Sehun hanya tertawa seraya memakan buah-buahan yang sudah dipotong-potong oleh Surin itu dengan lahap. “Taerin bercerita padaku bahwa justru di umur kandungannya yang sudah sembilan bulan, Junmyeon jadi lebih sering tidak ada dirumah dan jarang menemaninya. Taerin juga berkata bahwa ia merasa Junmyeon benar-benar hanya sibuk dengan urusan pekerjaannya sampai-sampai sepertinya ia lupa bahwa ia memiliki seorang istri yang tengah hamil besar. Aku jadi tidak tega padanya.” Surin berujar panjang sementara Sehun yang berada disebelahnya tetap setia mendengarkan sambil terus menyantap buah-buahannya.

 

 

“Jadi, alasan Taerin menjadi lebih pendiam itu karena Junmyeon yang jarang ada dirumah? Baiklah, sepertinya sekarang kita sudah menemukan jawaban dari permasalahan mereka. Kemarin saat acara makan siang bersama dengan Junmyeon dan Baekhyun, Junmyeon bercerita pada kami bahwa ia bingung dengan sikap Taerin yang jadi jauh lebih pendiam dan bahkan terkadang terkesan mengacuhkannya. Ia ingin mencari kejelasan dari masalah mereka ini, namun setiap ia sampai dirumah dan ingin mengajak Taerin mengobrol, Taerin sudah lebih dulu terlelap. Lalu paginya, karena Junmyeon harus berangkat pagi-pagi sekali ke kantor, ia terpaksa meninggalkan Taerin yang masih terlelap. Dan ya, begitulah setiap harinya.”

 

 

“Ya ampun, kita benar-benar harus membantu mereka agar mereka dapat bicara berdua dan menyelesaikan masalah ini secepatnya.” Surin berujar sementara Sehun meletakan piring yang tengah ia pegang pada meja kaca yang ada di hadapannya. Sehun merangkul Surin lalu mengelus lengan wanita itu dengan sayang. “Kau harus bersyukur mempunyai suami sepertiku yang bahkan selalu menyempatkan diri untuk pulang kerja lebih awal sehingga aku dapat menemanimu.” Sehun tertawa pelan sementara Surin hanya mendengus, menanggapi. “Tentu saja. Aku bersyukur, malah sangat bersyukur.” Surin menyandarkan kepalanya pada dada bidang milik Sehun. Ia tersenyum ketika laki-laki itu mengelus rambutnya pelan.

 

 

Sehun yang bekerja sebagai kepala arsitek di perusahaan property milik keluarganya itu memang selalu sudah tiba dirumah bahkan sebelum matahari membenamkan diri. Tentu saja hal tersebut berlaku karena ia adalah anak terakhir dari pemilik perusahaan. Ayah dan Ibunya malah akan memarahi Sehun jika ia berlama-lama di kantor dan meninggalkan Surin sendirian di apartment mereka. Berbeda dengan Sehun, Junmyeon yang merupakan satu-satunya pewaris perusahaan keluarganya, tidak bisa dengan begitu saja meninggalkan kantor dan berbagai urusan penting perusahaan yang membutuhkan peran dirinya. Surin tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya berada di posisi Taerin. Oleh sebab itu, ia benar-benar bertekad untuk membantu Taerin agar sahabat sedari sekolah dasarnya itu dapat kembali seperti dulu dengan Junmyeon.

 

 

“Lalu, bagaimana dengan masalah Baekhyun dan Jimi?” Surin menautkan alisnya seperti tengah mengingat kembali persisnya cerita Jimi kemarin saat acara arisan mereka.

 

 

“Masalah Jimi masih sama seperti dulu. Semua masih karena mantan kekasih Byun Baekhyun yang kini resmi menjadi tetangga baru mereka. Perempuan itu pindah setelah bercerai dengan suaminya dan itulah yang membuat Jimi tidak tenang. Tidak hanya itu, kau tahu kan kalau Kim Jongin baru kembali ke Korea setelah sekian lamanya tinggal di London?” Sehun mengangguk, menjawab pertanyaan Surin barusan. Tentu saja ia tahu karena minggu lalu, ia dan tujuh temannya yang lain, Chanyeol, Kyungsoo, Junmyeon, Baekhyun, Minseok, Yixing, dan Jongdae menjemput Jongin dari bandara dan bahkan mereka sempat merayakan kepulangan Jongin dengan makan bersama disalah satu restaurant langganan mereka saat mereka duduk dibangku SMA.

 

 

“Dua hari yang lalu Jongin mampir ke rumah Baekhyun dan Jimi. Jongin membawakan banyak hadiah untuk calon anak Baekhyun dan Jimi. Jongin juga membawakan banyak oleh-oleh untuk Jimi dari London. Ia bahkan meminta ijin pada Baekhyun untuk mengajak Jimi makan siang bersama yang Jimi tidak sangka-sangka, langsung di setujui oleh Baekhyun. Setelah itu, Baekhyun dan Jimi langsung terlibat perang dingin. Singkatnya, Jimi berkata bahwa perang dingin itu karena ia yang cemburu pada Baekhyun dan mantan kekasih laki-laki itu, dan Baekhyun yang cemburu padanya dan Jongin.” Jelas Surin membuat Sehun mengangguk-angguk.

 

 

“Masalah mereka benar-benar tidak berubah rupanya. Tapi aku rasa Baekhyun tidak mempermasalahkan kehadiran Jongin. Buktinya ia langsung menyetujui permintaan Jongin. Lagi pula, Jongin itu juga sahabat baik Baekhyun. Walaupun dulu mereka sering bertengkar karena Jimi, tapi sekarang sepertinya Baekhyun sudah jauh lebih mengerti. Jongin pun pasti tidak ada pemikiran untuk menarik perhatian Jimi apalagi sampai merebutnya dari Baekhyun. Hal itu bukanlah tipe seorang Kim Jongin. Ia pasti mengerti bahwa kini Jimi tengah mengandung anak Byun Baekhyun. Ajakan makan siang itu pasti hanyalah sekedar reuni biasa.” Sehun mulai menganalisis sementara Surin langsung mengangguk-angguk setuju.

 

 

“Kemarin Baekhyun hanya bercerita bahwa Jimi jadi jauh lebih sensitif. Jimi jadi lebih sering marah-marah tidak jelas. Entah karena Baekhyun yang menonton televisi dengan volume yang menurutnya terlalu keras, atau bahkan karena Baekhyun yang membelikannya baju baru khusus untuk ibu hamil, yang Jimi sangka adalah sebuah ejekan karena tubuhnya yang semakin hari semakin bertambah gemuk.” Surin tertawa mendengar ucapan Sehun yang terakhir.

 

 

“Jadi rupanya perang dingin itu disebabkan karena Baekhyun yang tidak tahu alasan mengapa Jimi jadi sering marah-marah? Astaga, Jimi sudah berpikir terlalu jauh sampai-sampai menyangka Baekhyun cemburu padanya dan Jongin. Mereka itu lucu sekali.” Surin tertawa pelan. “Baekhyun sepertinya tidak tahu kalau sifat Jimi yang jadi sering marah-marah itu disebabkan karena kecemburuannya pada mantan Baekhyun yang baru pindah ke sebelah rumah mereka.” Ujar Sehun menyimpulkan membuat Surin lagi-lagi mengangguk menyetujui.

 

 

“Pada dasarnya mereka hanya butuh waktu untuk bicara satu sama lain.” Surin meraih tangan kanan Sehun kemudian menyelipkan jemarinya pada jemari milik Sehun sementara laki-laki itu masih mengelus rambut Surin dengan satu tangannya yang lain.

 

 

“Bagaimana kalau kita adakan ‘triple date’ saja pada akhir pekan ini? Sebenarnya bukan date, mungkin ini lebih ke arah para suami yang menemani istrinya melakukan apapun yang mereka inginkan. Ibu-ibu hamil juga perlu refreshing, bukan hanya diam saja dirumah. Kau dan Taerin serta Jimi, lakukanlah apa yang ingin kalian lakukan. Sedangkan aku dan Baekhyun serta Junmyeon akan menemani kalian.” Saran Sehun membuat Surin langsung mendongak, menatapnya dengan tatapan yang sangat antusias. “Sekalipun itu ke salon untuk perawatan rambut yang memakan waktu cukup lama?” Sehun mengangguk, membuat Surin langsung memekik girang. Surin benar-benar rindu dengan kegiatan yang dulu sering dilakukannya bersama dengan kedua temannya itu. Entah itu melakukan perawatan rambut di salon, ataupun hanya makan dan mengobrol sampai lupa waktu. Surin benar-benar merindukan waktu-waktu seperti itu.

 

 

“Aku yakin Taerin dan Jimi akan langsung menyetujui ide ini. Tapi, bagaimana dengan Baekhyun dan Junmyeon? Apa kau yakin mereka mau melakukan hal ini?” Tanya Surin membuat Sehun terkekeh. “Aku saja mau menemani istriku yang jauh lebih merepotkan dari Taerin dan Jimi, mengapa mereka tidak mau?” Surin mendengus kemudian memukul Sehun pelan membuat laki-laki itu hanya tertawa. “Mereka yang meminta bantuan kita, maka mereka harus mengikuti apa yang kita rencanakan.” Sehun mengeratkan genggaman tangannya pada jemari-jemari milik Surin.

 

 

“Seperti apa katamu tadi, mereka sebenarnya hanya perlu waktu untuk membicarakan hal ini berdua sampai semua kesalahpahamannya dapat segera terselesaikan.” Surin tersenyum mendengar ucapan Sehun barusan.

 

 

“Nak, dengar kan, apa yang diucapkan ayahmu barusan? Ia sudah seperti pakar cinta. Sepertinya kelak kau akan memiliki konsultan cinta sendiri.” Surin mengelus perutnya yang besar itu sementara Sehun tertawa. Sehun turut meletakan telapak tangannya pada perut Surin kemudian mengelusnya. “Aku harap kau bukan orang yang melankolis seperti ibumu kalau sudah mengenal cinta.” Sehun tertawa sementara Surin langsung menyikutnya. “Memangnya kapan aku melankolis?” Surin memicingkan matanya ke arah Sehun yang masih tertawa.

 

 

“Dulu setiap aku di dekati gadis-gadis cantik di sekolah, memangnya sikap cemburumu dengan berteriak-teriak di lapangan atas sekolah tidak dapat dikategorikan sebagai melankolis?” Surin segera membelakan matanya kemudian memukul Sehun berkali-kali. Surin memang sering melakukan hal itu dulu, namun sungguh, ia sudah berhasil melupakan masa-masa ‘remaja labil’ itu dan kini Sehun malah mengingatkannya kembali.

 

 

“Itu dulu! Sekarang, mana ada lagi yang berani mendekatimu?” Surin mengercutkan bibirnya membuat Sehun langsung mengecupnya singkat. Surin yang terkejut segera menatap Sehun tidak percaya. “Tentu saja tidak ada lagi yang berani mendekatiku. Kini aku sudah dihalangi oleh dua orang. Kau, dan yang ada di dalam perut besarmu ini.” Surin kembali mengercutkan bibirnya membuat Sehun lagi-lagi langsung mengecupnya. “Ya! Oh Sehun! Kau itu benar-benar, ya!” Surin memprotes sementara Sehun hanya menertawainya.

 

 

“Oh astaga, Jang Surin, bahkan sampai sekarang pipimu masih semerah itu setiap aku melakukan hal tersebut. Kau sangat menggemaskan.” Sehun mencubit satu pipi Surin dengan tangan yang tadinya merangkul Surin, sementara sang empunya hanya memandang Sehun dengan garang membuat laki-laki itu semakin gemas.

 

 

Surin merasa beruntung mempunyai Sehun. Sifat baik dan pengertiannya lah yang membuat Surin sama sekali tidak dapat berpaling. Saat ini Surin hanya berharap, niat baiknya dan Sehun untuk membantu pasangan Junmyeon dan Taerin serta Baekhyun dan Jimi dapat berjalan dengan baik pula.

 

 

**

 

 

“Akhirnya, ibu-ibu hamil sembilan bulan ini datang juga! Mengapa terlambat sekali?” Surin segera bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Taerin dan Jimi serta kedua suami mereka yang baru saja tiba di restaurant tempat Sehun dan Surin sedari tadi menunggu. Sehun pun segera mempersilahkan mereka untuk duduk setelah menepuk kedua bahu kedua teman dekatnya yang tidak lain tidak bukan adalah Baekhyun dan Junmyeon sebagai tanda salamnya.

 

 

“Sebaiknya kita nikmati dulu makanannya, nanti keburu dingin.” Ujar Surin membuat yang lain langsung segera bersiap untuk menyantap makanan yang sudah tersaji di meja makan panjang tersebut. Surin memang sudah lebih dulu memesankan makanan-makanan tersebut selagi menunggu kedua pasangan yang kini duduk dihadapannya dan Sehun itu datang. “Sudah lama sekali ya, kita tidak berkumpul seperti ini.” Baekhyun yang kini tengah menyantap hidangan yang ada dihadapannya berujar membuat yang lain bergumam menyetujui.

 

 

“Jadi, acara hari ini adalah acara khusus untuk para istri kita yang sedang hamil ini?” Junmyeon bersuara dengan nada suara khasnya yang dari dulu tidak berubah. “Ya, begitulah. Kasihan mereka belakangan ini waktu untuk jalan-jalannya sudah benar-benar dibatasi oleh dokter karena kandungan mereka yang sudah semakin membesar.” Jawab Sehun dan tawa dari Surin, Taerin, serta Jimi dalam beberapa detik langsung memenuhi ruangan. “Lagipula, aku juga sudah lama tidak jalan keluar dengan si ibu cantik yang suka marah-marah ini.” Baekhyun merangkul Jimi seraya mengembangkan senyumannya sementara Jimi hanya mendengus sambil menyikut perut Baekhyun dengan pelan.

 

 

“Baiklah, nikmati waktu kalian bertiga hari ini. Dan kami, para suami akan setia menemani—” Ucapan Junmyeon terpotong karena deringan ponselnya yang menandai adanya sebuah panggilan masuk. Tanpa berpikir panjang, Junmyeon segera meminta diri untuk menjawab telepon yang katanya dari orang kantornya itu. Surin segera melirik Taerin dengan tidak enak. Mood bagus yang Surin tahu sudah berusaha Taerin bangun saat sejak ia tiba di restaurant ini, dalam sekejap redup begitu saja. Suasana berubah menjadi hening untuk sesaat, namun Taerin dengan sigap langsung membentuk sebuah lengkungan berbentuk bulan sabit pada bibirnya, membuat yang lain langsung bersikap seperti semula.

 

 

“Jadi, ibu-ibu hamil yang cantik-cantik, akan kita mulai dari mana jalan-jalan kita hari ini?” Taerin berusaha memecahkan suasana sementara Surin dan Jimi hanya tertawa kecil. “Bagaimana dengan mencari baju untuk calon anak-anak kita ini? Terakhir aku berbelanja itu saat kandunganku berumur tujuh bulan dan aku rasa masih ada yang kurang.” Sahut Jimi membuat Taerin dan Surin langsung menyetujui ide tersebut. “Padahal saat itu sepertinya satu toko perlengkapan bayi sudah kita borong. Apalagi yang kurang?” Tanya Baekhyun membuat Jimi langsung mengercutkan bibirnya.

 

 

“Memangnya kau lupa kalau waktu itu kita belum membeli baju warna hijau untuk calon anak kita ini? Ya, yang kau ingat itu kan hanya warna pink dan pink saja. Pasti kau mengingatnya karena itu warna kesukaan mantanmu, kan.” Surin melirik Sehun yang ternyata juga tengah meliriknya. Tatapan mereka menunjukan tatapan saling tanya tentang bagaimana menghadapi dua pasangan tersebut.

 

 

“Apa hubungannya dengan mantanku? Pink itu warna yang lucu. Memangnya kau lupa kalau anak kita itu sudah ketahuan berjenis kelamin perempuan?” Baekhyun membalas membuat Jimi menatap laki-laki itu garang. “Tapi kan kita belum membeli baju yang berwarna hijau!” Jawab Jimi dengan kesal membuat yang lain hanya diam memandangi mereka berdua dengan tatapan ngeri. Baekhyun berdeham ketika menyadari suasana yang mulai tidak enak itu dan langsung merangkul Jimi sambil mengacak rambutnya membuat yang lain seketika menghembuskan napas lega.

 

 

“Baiklah, baiklah. Kita beli semua baju bayi yang berwarna hijau. Hijau tua, hijau muda, hijau terang, hijau gelap, beli semuanya.” Ujar Baekhyun yang langsung diikuti tawa oleh Sehun, Surin, dan Taerin. “Wah, wah, wah sepertinya aku tertinggal sesuatu yang seru. Sudah sampai mana obrolannya?” Junmyeon kembali menempatkan diri disebelah Taerin sementara wanita itu tidak terlalu mempedulikan keberadaan Junmyeon. “Belum jauh. Baru sampai Jimi yang meminta dibelikan seluruh jenis baju bayi yang berwarna hijau.” Sahut Baekhyun membuat tawa kembali memenuhi ruangan.

 

 

“Taerin-a, kalau kau mau beli baju bayi warna apa?” Junmyeon tampak berusaha untuk mengembalikan mood Taerin yang ia sendiri tahu sudah sangat buruk karena panggilan masuk dari orang kantor yang tidak dapat Junmyeon abaikan begitu saja beberapa menit yang lalu. “Apa saja asal bukan baju kerja seperti semua pakaian yang ada di lemarimu.” Jawab Taerin dengan nada yang sangat sarkastik membuat suasana lagi-lagi berubah muram. Sehun kembali melirik Surin, dan Surin pun melakukan hal yang sama. Kedua pasangan yang berada dihadapan mereka kini memang terlalu blak-blakan tentang masalah mereka. Seharusnya mereka dapat menyembunyikannya, bukan malah membuat Sehun dan Surin semakin bingung akan suasana tidak mengenakan tersebut.

 

 

“Tentu saja kita harus membelikannya stelan jas. Anak kita ini kan akan menjadi pewaris perusahaan ayahnya kelak.” Junmyeon mengelus perut besar Taerin sementara Taerin hanya mendengus pelan. “Untung saja Jimi tidak meminta dibelikan stelan jas juga untuk anak kita. Dari mana kita akan mendapatkan stelan jas berwarna lucu seperti warna hijau? Iya, kan?” Baekhyun berusaha memecahkan suasana yang tidak enak itu membuat Sehun dan Surin langsung tertawa keras-keras, agar suasana kembali hangat seperti semula. “Sepertinya sekarang kau yang lupa kalau anak kita itu sudah ketahuan berjenis kelamin perempuan.” Timpal Jimi membuat tawa seketika senyap begitu saja.

 

 

Sehun kembali melirik Surin, dan Surin pun melakukan hal yang sama. Dari tatapan mereka, ada tatapan yang mengatakan bahwa mereka ingin sekali menyerah dan segera pulang meninggalkan kedua pasangan yang ada dihadapan mereka sekarang ini. Sehun dan Surin hanya berharap rencana yang sudah disusun mereka tadi malam benar-benar dapat berjalan lancar hari ini.

 

 

**

 

 

Setelah acara makan siang, kini mereka sudah berada di dalam sebuah toko yang menjual berbagai macam perlengkapan bayi. Mulai dari baju, sepatu, dan bahkan botol susu dengan berbagai macam ukuran. Ketiga pasangan tersebut mulai berpencar dengan troli masing-masing, mencari barang yang akan mereka beli untuk calon anak mereka.

 

 

Waktu sudah berlalu selama dua puluh menit lamanya dan mereka belum juga selesai menjelajahi toko tersebut. Sehun dan Surin lah yang paling tampak antusias dalam acara belanja mereka kali ini. Melihat keantusiasan mereka berdua, tanpa disadari Jimi dan Taerin sedari tadi sudah memperhatikan pasangan tersebut dengan tatapan iri sementara Baekhyun dan Junmyeon, tidak begitu menyadari hal tersebut dan masih terlihat sibuk dengan barang-barang bayi yang baru dilihatnya.

 

 

“Woah, aku baru tahu sekarang ada sepatu bayi yang di design seperti sepatu basket. Lucu sekali, ya.” Surin berkomentar seraya mengambil sepatu bayi berukuran sangat kecil tersebut. “Modelnya sama persis seperti sepatu basket couple yang kita beli minggu lalu. Kita beli saja sepatu ini agar kita punya sepatu seragam.” Sehun yang sedang memegang dorongan troli pun menghampiri Surin seraya meletakan kedua tangannya pada bahu Surin yang sekarang sudah tersenyum senang. “Tapi aku ingin beli yang warna merah ini. Sepatu kita kan, berwarna putih.” Sehun hanya terkekeh lalu mengambil sepatu dengan model sama namun berwarna putih yang sedari tadi Surin lirik itu. “Kita beli saja dua-duanya.” Surin mengangguk setuju sementara Sehun langsung mengacak rambutnya dengan gemas.

 

 

Taerin dan Jimi yang sedari tadi memperhatikan pasangan itu pun seketika meringis bersama melihat adegan yang sangat lucu itu. Jimi bahkan sekarang sudah mengambil berbagai macam baju bayi yang ada dihadapannya dan memasukannya dengan asal ke troli tanpa dulu melihat modelnya. Wanita itu benar-benar hanya fokus pada Sehun dan Surin yang sedari tadi tampak sangat bahagia meskipun acara ini hanyalah acara belanja biasa. Baekhyun yang baru menyadari kelakuan aneh Jimi, langsung memundurkan trolinya sehingga baju yang niatnya akan Jimi lempar ke dalam troli itu malah berakhir tergeletak di lantai.

 

 

“Ya, Park Jimi yang sekarang sudah berubah menjadi Byun Jimi dan akan melahirkan Byun-byun yang lainnya, setelah kau benar-benar mengambil semua baju yang berwarna hijau, mengapa sekarang kau malah memasukan banyak baju bayi untuk anak laki-laki ke dalam troli? Lihatlah, semua baju yang kau masukan itu bergambar Iron Man.” Baekhyun berkomentar sambil mengubah posisi berdirinya menjadi ke sebelah Jimi. Baekhyun segera mengambil baju bayi bergambar Barbie lalu menunjukannya pada Jimi.

 

 

“Ini baru baju anak perempuan.” Baru saja Baekhyun akan memasukannya ke dalam troli, Jimi segera merebut baju tersebut. “Aku kan sudah bilang aku tidak mau membeli baju yang berwarna pink.” Jimi menggerutu lalu meletakan baju tersebut ke tempat semula. Baekhyun dengan cepat mengambil baju tersebut kembali. “Tapi ini lebih pantas daripada baju-baju bergambar Iron Man itu.” Baekhyun baru akan memasukannya ke dalam troli, namun lagi-lagi Jimi merebutnya namun kali ini dengan tenaga yang lebih kuat.

 

 

“Kalau begitu mengapa dari tadi kau hanya diam saja saat aku memasukan semua baju bergambar Iron Man itu dan bukannya malah mengingatkanku atau memarahiku?” Protes Jimi sementara Baekhyun kini terlihat sudah tidak sabaran. “Tadi aku kan sudah memarahimu.” Baekhyun benar-benar berusaha menahan nada suaranya sementara kini Jimi terlihat akan meledak. “Jadi kau tadi memarahiku?! Memangnya kau tidak bisa lebih halus sedikit pada istrimu yang sedang mengandung sembilan bulan ini?! Kau harusnya mengingatkanku dengan lembut dan bukannya malah memarahiku!”

 

 

“Tapi tadi kau sendiri yang minta untuk dimarah— ”

 

 

Sementara disisi lain terdengar pula suara gaduh yang sama membuat Sehun dan Surin yang sedari tadi memperhatikan Baekhyun dan Jimi dalam diam itu segera menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Sehun dan Surin saling bertatapan dan seketika menggelengkan kepala mereka bersamaan, benar-benar heran dengan kedua pasangan tersebut.

 

 

“Taerin-a, maaf. Tadi itu telepon dari ayahku dan aku tidak bisa tidak mengangkatnya mengingat ini menyangkut urusan perusahaan yang akan mengimpor—” Ucapan Junmyeon terpotong karena lagi-lagi ponselnya berdering nyaring, menandai adanya sebuah panggilan masuk. Junmyeon hanya memandang Taerin dengan pasrah, tanpa kunjung menyudahi deringan ponselnya yang sangat meminta untuk diangkat itu.

 

 

“Taerin-a.” Junmyeon bersuara pelan sementara Taerin berpura-pura tidak peduli dengan terus memilih berbagai macam perlengkapan makan untuk bayi yang berjejer rapi dihadapannya. “Taerin-a, aku benar-benar harus mengangkatnya.” Junmyeon berujar lagi dan seketika Taerin langsung menatapnya serius. “Sedari tadi aku sudah benar-benar sabar dengan deringan ponselmu yang tiap detik seakan tidak pernah berhenti itu, Kim Junmyeon. Kita baru bisa menikmati waktu berdua kita lagi hari ini dan kau mau mengacaukannya? Sekarang terserah kau saja.” Taerin mengambil alih dorongan troli yang tengah dipegang Junmyeon dan mendorongnya sendiri ke arah lain, meninggalkan Junmyeon yang tampak sangat ingin mengejar Taerin namun tertahan oleh deringan keras ponselnya yang memaksanya untuk mengurungkan niatnya mengejar Taerin. Junmyeon segera mengangkat sambungan telepon tersebut dan berjalan keluar toko untuk menemukan ruang bicara.

 

 

Setelah suasana yang tidak mengenakan itu, Sehun dan Surin akhirnya memutuskan untuk segera menyudahi acara belanja tersebut dengan menghampiri kasir yang sedari tadi sepertinya turut memperhatikan mereka. Tidak lama setelah Sehun membayar semuanya, Taerin dan Baekhyun serta Jimi turut menghampiri, bermaksud untuk juga membayar belanjaan mereka. Baekhyun dan Jimi masih saja meributkan masalah baju bergambar Iron Man, sementara Taerin hanya terlihat terdiam tanpa menaruh perhatian pada apapun yang ada disekitarnya. Surin benar-benar merasa sedih melihatnya seperti itu. Baru saja Surin ingin menghampirinya, Junmyeon masuk kembali ke dalam toko dan segera merangkul Taerin yang hanya mendengus sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.

 

 

Suasana yang sudah muram itu kini bertambah muram, membuat Surin benar-benar tidak tahan lagi. “Taerin-a, Jimi-ya, bagaimana kalau habis ini kita pergi ke salon? Sudah lama sekali kan, kita tidak melakukan perawatan rambut dan kuku bersama-sama?” Akhirnya Surin berujar membuat Taerin dan Jimi yang kini sedang menunggu Baekhyun dan Junmyeon selesai membayar itu tampak kembali bersemangat.

 

 

“Setuju. Tunggu apalagi? Kita kesana sekarang saja!” Taerin langsung menggandeng lengan kanan Surin, dan tidak lama Jimi juga sudah menggandeng lengan kirinya. “Tapi akan lebih baik kalau kita tunggu suami-suami kita ini selesai membayar dan kesana bersama—”

 

 

“Sudahlah, tinggal saja mereka. Toh, tidak akan hilang juga.” Ujar Jimi membuat Baekhyun segera menatapnya tidak percaya. Jimi menjulurkan lidahnya membuat tatapan tidak percaya Baekhyun semakin menjadi-jadi. “Ayo!” Taerin menarik lengan Surin secara paksa membuat Surin mau tidak mau hanya menurut. “Ya, Oh Sehun! Kau tahu salon langgananku di lantai tiga, kan? Kita bertemu disana ya!” Seru Surin dengan volume suara yang keras membuat Sehun dengan segera membalas seruannya dengan kata ‘iya’ yang tidak kalah keras. Ibu-ibu hamil yang umur kandungannya sudah tua itu pun langsung menghilang dari pandangan para suami yang kini hanya bertatapan satu sama lain tanpa sekalipun berkomentar.

 

 

“Kau lihat sendiri, kan? Park Jimi yang sekarang sudah berubah menjadi Byun Jimi dan akan melahirkan Byun-byun yang lainnya itu benar-benar emosian membuat kepalaku serasa ingin meledak. Aku bahkan tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu.” Keluh Baekhyun seraya menyodorkan kartu debitnya untuk membayar belanjaannya atau tepatnya belanjaan istrinya itu. “Sekarang ia malah meninggalkanku dengan belanjaannya yang luar biasa banyak ini.” Keluh Baekhyun sekali lagi sementara Sehun yang mendengarkan hanya menghela napas sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

 

“Kalian juga lihat sendiri, kan bagaimana Taerin tidak bisa mengerti posisiku sebagai direktur perusahaan yang benar-benar tidak bisa meninggalkan pekerjaanku? Aku tahu aku salah jika masih saja mengurusi semua urusan pekerjaan saat sedang bersamanya, tapi posisiku hari ini benar-benar tidak bisa untuk tidak mengurusi semua urusan penting itu.” Junmyeon mengacak rambutnya frustasi lalu segera mengangkat dua shopping bag berukuran besar yang disodorkan kasir tersebut.

 

 

“Pada dasarnya kalian memang hanya perlu membicarakan ini dengan pasangan kalian masing-masing dan segera meluruskannya. Byun Baekhyun, kau tidak tahu kalau alasan Jimi menjadi cepat marah adalah karena mantanmu yang pindah rumah ke sebelah rumah kalian dan berhasil membuat Jimi kalang kabut? Lalu, Kim Junmyeon, apa jika kau berada diposisi Taerin, kau dapat menahan diri berada bersama dengan pasangan yang bahkan sepertinya tidak dapat menyisihkan waktunya untukmu dan hanya mengurusi urusan pribadinya saja apalagi saat kalian tengah berkencan seperti ini?” Sehun mulai berceloteh panjang sementara Baekhyun dan Junmyeon yang kini sudah selesai dengan urusan pembayaran itu hanya terdiam sambil menimbang ucapan Sehun barusan.

 

 

“Aku rasa aku benar-benar harus membocorkan rencanaku dan Surin itu sekarang pada kalian agar nanti kalian tidak bingung dan dapat memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya.” Gumam Sehun lalu segera merangkul kedua sahabat sejak dari sekolah menengah pertamanya itu.

 

 

“Ayo kita bicarakan rencanaku dan Surin ini di café bubble tea favorite-ku.” Baekhyun dan Junmyeon hanya dapat menurutinya tanpa berkomentar. Semua ucapan Sehun memang benar, mereka hanya butuh waktu untuk bicara pada pasangan mereka masing-masing dan segera meluruskan semuanya dengan benar.

 

 

**

 

 

Ketiga ibu hamil yang kini sudah hampir menyelesaikan perawatan kuku tangan mereka itu tampak sangat menikmati waktu mereka. Surin bahkan kini sudah memekik girang karena hasil cat kuku dengan motif bunga-bunga yang dilakukan sang ahli benar-benar sangat bagus pada kuku-kukunya. “Aku benar-benar merindukan saat-saat seperti ini. Tidak ku sangka kita malah kembali jalan-jalan seperti ini saat kandungan kita yang sudah sangat besar, ya.” Ujar Surin membuat Taerin dan Jimi mengangguk sambil tersenyum kecil.

 

 

“Ini semua juga berkatmu, Surin-a. Kalau kau tidak mengajakku jalan-jalan hari ini, mungkin aku hanya akan menghabiskan hari sabtuku dirumah dan yang pasti sendirian.” Taerin bersuara membuat Surin berdeham tidak enak. “Terima kasih, ya. Walaupun Junmyeon sedari tadi sibuk dengan urusan pekerjaannya, sebenarnya aku senang ia masih menyempatkan waktu untuk ikut jalan-jalan hari ini.” Timpal Taerin membuat senyuman diwajah Surin mengembang begitu saja. Itu artinya, Taerin tidak sepenuhnya marah pada Junmyeon. Laki-laki itu masih memiliki kesempatan untuk membicarakan hal ini pada Taerin dan memperbaiki semuanya dan Surin tahu itu.

 

 

“Aku juga sangat berterima kasih padamu, Surin-a. Walaupun sedari tadi aku dan Baekhyun hanya bertengkar, aku bersyukur perang dingin yang sempat terjadi diantara kita belakangan ini akhirnya selesai juga dan aku dapat kembali memarahinya sepuasku. Hahahha.” Jimi tertawa membuat Surin dan Taerin turut tertawa, menanggapi. Sama seperti Junmyeon, Surin tahu Baekhyun masih mempunyai kesempatan untuk meluruskan hal ini. Buktinya saja walaupun Jimi sedari tadi marah-marah padanya, wanita yang sedang mengandung anak seorang Byun Baekhyun itu senang karena perang dingin yang sempat meliputi mereka akhirnya berakhir. Surin benar-benar senang mendengar hal tersebut.

 

 

“Pada dasarnya, kalian berdua hanya perlu waktu bicara pada suami kalian masing-masing dan meluruskan hal ini semua. Aku yakin mereka pun sudah tidak tahan dengan keadaan hubungan kalian yang seperti ini.” Ujar Surin seraya tersenyum melihat kedua sahabatnya itu tampak merenungkan ucapannya. “Nah, sekarang kuku-kuku kita sudah cantik. Waktunya perawatan rambut! Aku benar-benar sudah lama tidak melakukan hal yang dulu sering kita lakukan ini.” Surin berseru gembira lalu tertawa bersama kedua sahabatnya yang paling ia sayangi itu.

 

 

Perawatan rambut tersebut pun berlangsung seru dan tanpa mereka sadari, mereka sudah tiba pada tahap akhir yaitu hanya tinggal sentuhan akhir pada rambut mereka. Surin memilih untuk membuat bentuk gelombang-gelombang kecil pada bagian bawah rambutnya sementara Taerin dan Jimi lebih memilih untuk membuat rambut mereka lurus seperti biasa.

 

 

“Woah, lihatlah ibu-ibu hamil yang masih memperhatikan kecantikan mereka ini. Bagaimana? Apa kau menikmati perawatanmu?” Baekhyun menghampiri Jimi lalu berdiri tepat di samping kursi tempat Jimi duduk. “Tentu saja. Aku juga merasa jadi lebih baik.” Tanggap Jimi sementara Baekhyun hanya terkekeh sambil terus memperhatikan Jimi dengan senyuman yang seakan tidak mau luntur dari wajahnya.

 

 

“Mengapa kau melihatku seperti itu? Apa jangan-jangan karena handuk yang ada dibahuku ini berwarna pink?” Jimi mencubit lengan Baekhyun membuat laki-laki itu hanya mengaduh kesakitan. “Mengapa kau selalu berpikiran negatif begitu, sih? Aku melihatmu seperti itu karena kau tampak semakin cantik sekarang. Ku ulangi, kau tampak semakin cantik sekarang.” Baekhyun tertawa sambil menyolek lengan Jimi berkali-kali dengan tatapan jahil ketika mengetahui bahwa wanita itu kini berusaha menahan senyumannya.

 

 

“Kau sendiri bagaimana, Taerin-a? Apa sudah merasa baikan juga seperti Jimi?” Junmyeon yang kini tersenyum sambil berdiri disebelah pegawai yang masih sibuk dengan rambut Taerin itu berujar sementara Taerin hanya meliriknya dari kaca. “Ya, sedikit.” Tanggap Taerin seperti masih kesal. “Aku bawakan green tea latte favoritmu. Semoga jadi merasa lebih baik lagi setelah meminum ini.” Junmyeon menyodorkan satu cup green tea latte yang tengah dipegangnya pada Taerin yang langsung menerimanya. Seketika Taerin tersenyum sambil menatap green tea latte tersebut. Setidaknya Taerin jadi tahu bahwa sedari tadi Junmyeon memikirkannya sampai-sampai ia membelikan green tea latte ini yang bagi Taerin adalah sebuah ucapan permintaan maaf laki-laki itu. Seketika mood-nya benar-benar merasa jauh lebih baik.

 

 

Sehun dan Surin yang melihat hal tersebut hanya tersenyum satu sama lain. Surin yakin Sehun pasti sudah menceramahi Baekhyun dan Junmyeon habis-habisan sampai kedua laki-laki itu dapat menghadapi Jimi dan Taerin dengan kepala dingin. “Untuk acara penutup, bagaimana kalau kita karaoke saja?” Sehun berujar dan yang lain langsung menyetujui ide tersebut dengan seruan senang. Sehun segera mengetikan sesuatu pada layar ponselnya dan seketika ponsel Surin bergetar, menampilkan sebuah pesan masuk yang ternyata dari Sehun. Surin melirik Sehun dari kaca rias yang ada dihadapannya sementara Sehun sudah tersenyum sambil menatapnya lebih dulu dari kaca tersebut.

 

 

From : Hun

 

 

Aku terpaksa membocorkan rencana kita pada Baekhyun dan Junmyeon agar nanti mereka dapat menggunakan kesempatan mereka dengan sebaik-baiknya. Bersiaplah, saat di karaoke nanti, kita harus segera melaksanakan tugas kita dan menyelesaikan ini semua agar kita dapat berkencan berdua dan terbebas dari kedua pasangan itu secepatnya! Hahahaha.

 

 

**

 

 

“Byun Baekhyun, aku tidak ingin lagu yang itu! Aku ingin yang ini!”

 

 

Selama hampir tiga puluh menit mereka menikmati karaoke mereka, ucapan Jimi yang barusan sudah mereka dengar terhitung hampir lima puluh kali. Kali ini Baekhyun terlihat tidak mau mengalah. Ia terus bernyanyi sementara Jimi sibuk ingin merebut microphone yang tengah dipegang Baekhyun. Untuk kesekian kalinya, Sehun dan Surin hanya dapat bertatapan satu sama lain sambil menggelengkan kepala mereka bersamaan. Pasalnya, baru beberapa menit yang lalu mereka tampak akur, sekarang Jimi bahkan sudah bersiap ingin melempar Baekhyun dengan remot kontrol yang tengah digenggamnya membuat Sehun dan Surin benar-benar tidak habis pikir.

 

 

“Taerin-a, aku harus keluar sebentar. Ada telepon lagi dari ayahku dan sepertinya ini benar-benar jauh lebih penting dari yang tadi.” Junmyeon berujar sementara Taerin hanya menatapnya dalam diam untuk beberapa saat. “Maaf.” Ujar Junmyeon lalu berjalan keluar ruang karaoke tersebut. Sehun dan Surin yang juga melihat kejadian itu hanya menghela napas panjang. “Aku akan bicara padanya.” Sehun berujar lalu segera keluar dari ruang karaoke tersebut, bermaksud untuk menghampiri Junmyeon.

 

 

Baru saja Surin ingin menghibur Taerin dengan mengajaknya bernyanyi bersama Baekhyun, tiba-tiba saja ponselnya bergetar menandai adanya sebuah pesan masuk yang ternyata adalah dari Sehun.

 

 

From : Hun

 

 

Yang tadi itu hanya skenario. Junmyeon tidak mendapatkan panggilan masuk dari siapapun. Sekarang aku dan dia sudah ada di bioskop lantai atas. Cepat kau bawa Taerin kemari dan tinggalkan saja Baekhyun dan Jimi disana agar Baekhyun juga dapat segera melaksanakan tugasnya. Tenang saja, Baekhyun juga sudah mengetahui hal ini.

 

 

Surin menatap layar ponselnya dengan tidak percaya dan langsung melirik Taerin yang masih terlihat lesu. Ia juga melirik Baekhyun dan Jimi yang sekarang masih berebutan microphone. Kepalanya benar-benar serasa ingin pecah memikirkan bagaimana membawa Taerin keluar dari tempat tersebut dan menyediakan ruang bicara untuk Baekhyun dan Jimi.

 

 

“Ya, Byun Baekhyun, Park Jimi!” Panggil Surin dengan suara keras, bermaksud untuk melawan suara nyanyian Baekhyun yang jauh lebih keras dari suaranya. “Ada apa Surin-a?” Jimi berujar melalui microphone yang ada di tangan Baekhyun membuat laki-laki itu langsung berhenti bernyanyi dan menoleh ke arah Surin. “Aku haus. Aku akan keluar untuk membeli minuman bersama Taerin. Apa kalian ingin menitip sesuatu?” Tanyanya sambil mengirim sinyal pada Baekhyun melalui tatapan matanya yang langsung Baekhyun mengerti.

 

 

“Kalian bisa memanggil pegawai karaoke-nya saja tanpa harus—”

 

 

“Aku juga ingin ke toilet!” Sahut Surin cepat, memotong pembicaraan Jimi barusan membuat wanita itu hanya mengangguk-angguk mengerti. “Kalian jangan bertengkar, ya selagi kami ke luar.” Surin mengingatkan sekaligus ingin memberi sinyal lainnya pada Baekhyun yang Surin tahu dapat langsung laki-laki itu mengerti. “Sedari tadi kita bahkan sudah bertengkar.” Timpal Jimi lalu ia menempatkan dirinya pada sofa yang tepat berada dibelakangnya, diikuti Baekhyun yang juga duduk disebelahnya tanpa berbicara sepatah kata pun. “Baiklah kalau begitu, aku tinggal dulu.” Surin segera menarik Taerin keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Baekhyun dan Jimi yang tiba-tiba diselimuti keheningan.

 

 

“Park Jimi yang kini sudah berubah menjadi Byun Jimi dan akan melahirkan Byun-byun yang lainnya, ada sesuatu yang ingin dan harus segera aku luruskan padamu agar kau tidak salah paham terus dan akhirnya menyiksa dirimu sendiri dengan marah-marah padaku.”

 

 

**

 

 

“Kita benar-benar harus memberikan waktu untuk mereka berdua agar mereka dapat segera menyelesaikan masalah mereka.” Jelas Surin yang kini masih berjalan berdampingan dengan Taerin. Mereka menaiki eskalator, membuat Taerin yang masih tidak mengerti dengan semua kejadian ini hanya bertanya-tanya dalam hati.

 

 

“Jadi kita keluar untuk memberikan mereka waktu agar mereka dapat bicara berdua, begitu? Tapi, bagaimana kalau nanti Junmyeon dan Sehun malah kembali kesana dan mencari kita?” Tanya Taerin sementara Surin langsung tersenyum senang. “Sehun tadi menghubungiku, ia berkata sekarang ia dan Junmyeon sedang menunggu kita di bioskop lantai atas.” Tanggap Surin masih dengan senyuman senangnya. Taerin hanya mengangguk-angguk, meskipun ia belum sepenuhnya mengerti dengan apa yang terjadi.

 

 

Setelah kurang dari sepuluh menit, Surin dan Taerin sudah sampai pada bioskop yang dimaksud Sehun. “Surin-a!” Sehun yang langsung menemukan sosok Surin itupun segera menghampirinya dengan Junmyeon yang berada disebelahnya. Laki-laki itu sudah membawa popcorn berukuran besar dan dua cup cola yang berukuran sedang. “Kalian berhasil meninggalkan Baekhyun dan Jimi disana? Bagus sekali.” Sehun segera merangkul Surin sementara Junmyeon hanya tersenyum canggung pada Taerin yang sepertinya masih terlihat marah itu.

 

 

“Taerin-a, kau masuk duluan saja. Tiketnya sudah ada pada suamimu yang tampan itu. Aku dan Surin ingin membeli beberapa camilan dulu.” Sehun mendorong lengan Taerin dengan sikutnya membuat Taerin spontan terdorong menjadi lebih dekat pada Junmyeon yang lagi-lagi hanya dapat tersenyum canggung. “Tiketnya ada disaku celana panjangku ini. Bisa tolong ambilkan?” Junmyeon berujar seraya melirik tangannya yang penuh, membuat Taerin hanya menghela napas.

 

 

Taerin menarik saku depan celana panjang Junmyeon, bermaksud membuat Junmyeon untuk berdiri lebih dekat padanya agar dapat memudahkannya mengambil tiket tersebut. Taerin mulai mengambil tiket tersebut pada saku celana panjang Junmyeon membuat Sehun dan Surin yang melihat hal itu langsung tertawa terbahak. “Astaga, kalian berdua sadarlah. Kalian masih ada di tempat umum!” Omel Surin dan Taerin seakan baru sadar akan apa yang telah dilakukannya barusan. “Aish, kau memang menyebalkan Kim Junmyeon.” Ujarnya lalu berjalan mendahului Junmyeon yang kini langsung membuntutinya masuk ke dalam studio tempat mereka akan menonton film.

 

 

“Sampai jumpa! Nikmati waktu kalian, ya!” Seru Surin dengan antusias ketika Taerin dan Junmyeon sudah benar-benar menghilang dari pandangannya dan Sehun. “Jadi, ini waktunya kita menikmati kencan kita berdua yang sungguhan?” Sehun berujar seraya tersenyum ke arah Surin yang kini hanya menyikut perutnya pelan. “Memangnya kita hanya berdua? Kita kan sedang bertiga.” Surin mendengus sementara Sehun menepuk dahinya sendiri. “Kalau begitu, haruskah sekarang kita menikmati triple date kita yang sungguhan?” Ujar Sehun seraya mengacak rambut Surin membuat Surin langsung mengangguk sambil tersenyum senang.

 

 

Surin yakin seratus persen rencananya dan Sehun kali ini berjalan dengan lancar. Ia benar-benar tidak sabar melihat kedua pasangan yang tadinya seperti anjing dan kucing itu berubah menjadi seperti dua kura-kura yang sedang jatuh cinta.

 

 

**

 

 

“Baiklah, lebih baik sekarang kau jujur padaku. Apa yang membuatmu menjadi lebih sering marah-marah padaku belakangan ini? Apa aku telah berbuat kesalahan?”

 

 

Jimi terdiam seraya menatap Baekhyun yang kini juga tengah menatapnya lurus-lurus. Laki-laki yang biasanya lebih banyak bercanda itu kini terlihat benar-benar serius membuat otak Jimi seketika membeku. Jika ditelusuri kembali, Baekhyun memang tidak pernah melakukan kesalahan apapun pada Jimi. Semakin hari, Baekhyun malah semakin perhatian pada Jimi mengingat kandungan Jimi yang semakin membesar. Namun setiap kali Baekhyun akan melakukan hal tersebut justru Jimi malah seakan menolaknya mentah-mentah dengan terus mencari-cari kesalahan laki-laki itu dan memarahinya. Seharusnya dari dulu Baekhyun marah padanya karena sikap tidak jelasnya ini, namun Baekhyun malah tetap setia menanggapi dan bersabar akan semua omelan-omelan tidak jelas yang dilontarkan Jimi untuknya setiap hari.

 

 

“Aku juga tidak tahu. Mungkin hobi baru.” Tanggap Jimi seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Baekhyun yang sudah benar-benar tidak sabar segera menarik kedua tangan Jimi lalu menggenggamnya, membuat pandangan Jimi kembali terkunci pada pandangan mata milik seorang Byun Baekhyun. “Baiklah.” Jimi menghela napasnya sementara Baekhyun masih menatapnya dengan sangat serius. “Aku seperti ini karena aku cemburu.” Ungkapnya lalu sedetik kemudian Baekhyun memutar kedua bola matanya. Ternyata perkataan Sehun benar. Jimi cemburu pada mantan kekasih Baekhyun yang pindah rumah tepat ke sebelah rumah mereka.

 

 

“Apa yang kau cemburui? Cerita itu hanyalah cerita masalalu. Yang aku punya sekarang adalah kau. Masa depanku dan cerita baru hidupku.” Baekhyun bertutur membuat tatapan Jimi seketika melembut. Baekhyun segera merengkuh Jimi ke dalam pelukannya lalu mengelus rambutnya dengan perlahan. “Aku hanya takut kalau sewaktu-waktu kau akan goyah. Itu saja.” Jimi membalas pelukan laki-laki itu membuat senyum kecil seketika mengembang diwajah Baekhyun.

 

 

“Dari ujung rambut sampai ujung kaki, aku ini sekarang sudah berlabelkan namamu. Tidak akan ada yang dapat menghapus label tersebut. Aku bahkan sudah berjanji mengenai hal ini saat kita mengucapkan janji pernikahan. Janji untuk tetap setia dalam keadaan yang seperti apapun. Aku ingin mulai sekarang kau percaya padaku dan peganglah janjiku itu erat-erat.”

 

 

Jimi mendongak, menatap Baekhyun dengan mata yang berkaca-kaca. “Aku tahu aku sudah sangat kekanakan belakangan ini. Byun Baekhyun, maafkan istrimu yang cantik ini ya.” Ujar Jimi membuat Baekhyun tertawa lalu segera melayangkan sebuah sentilan pelan pada dahi Jimi. Jimi baru saja akan membalas namun ia langsung mengurungkan niatnya dan malah mengeratkan pelukannya pada Baekhyun. “Mulai sekarang setiap aku marah padamu, aku akan memelukmu seperti ini.” Jimi tertawa kecil sementara Baekhyun sudah terbahak karenanya.

 

 

“Kau yakin? Gaya marahmu sekarang berubah menjadi seperti ini? Kalau begitu aku harus sering-sering membuatmu marah.” Jimi langsung mencubit perut Baekhyun membuat laki-laki itu langsung mengaduh kesakitan. “Maksudmu ingin membuatku marah itu apa? Kau mau pergi ke rumah wanita itu dan bermalam disana, begitu?!” Jimi berujar sarkastik membuat Baekhyun tertawa terbahak-bahak. Baekhyun tidak sadar bahwa ia sangat menyukai sifat cemburuan Jimi yang baginya sangat lucu itu.

 

 

“Sekalipun penghuni rumah disebelah rumah kita itu adalah Angelina Jolie atau siapapun lah model-model cantik kesukaan Oh Sehun yang selalu berhasil membuat Surin ingin menimpuk laki-laki itu dengan panci, aku tidak akan berpaling dari seorang Park Jimi yang sekarang sudah berubah menjadi Byun Jimi dan akan melahirkan Byun-byun yang lainnya.” Jimi menahan senyumannya membuat Baekhyun semakin gemas. Baekhyun segera mengecup bibir gadis itu cepat lalu dengan buru-buru ia segera mengambil microphone yang ada dihadapannya dan mulai bernyanyi sesuai dengan lirik yang ada pada televisi dihadapannya, bertingkah seolah barusan tidak terjadi apa-apa padahal Jimi sudah hampir meledak karena debaran jantungnya yang seketika meningkat drastis akibat kecupan singkat Byun Baekhyun yang terasa seperti rasa selai strawberry kesukaannya.

 

 

“Jimi-ya, aku menyayangimu!” Baekhyun berseru pada microphonenya dan seketika suara nyaring dengan volume yang luar biasa besar memenuhi ruangan karaoke tersebut membuat Jimi terbahak seraya melayangkan pukulan pelannya pada Baekhyun yang kini sibuk menghindar dengan tawa jahilnya.

 

 

Jimi juga menyayanginya dan Baekhyun tahu akan hal itu. Sangat mengetahuinya.

 

 

**

 

 

Taerin benar-benar mengutuk Sehun dan Surin yang tidak kunjung memunculkan dirinya padahal film sudah berjalan selama setengah jam. Ia baru sadar bahwa rencana yang dipakai Surin untuk Baekhyun dan Jimi juga dipraktekan padanya dan Junmyeon. Taerin melirik Junmyeon yang kini tampak tenang. Laki-laki itu benar-benar tidak bersuara, membuat Taerin semakin kikuk dan salah tingkah. Berkali-kali tangan mereka tidak sengaja bersentuhan saat akan mengambil popcorn yang berada di tengah-tengah mereka, membuat suasana canggung tersebut semakin menjadi-jadi. Bahkan sekarang Taerin jadi merasa seperti orang yang baru pertama kali berkencan karena suasana canggung yang melingkupi mereka.

 

 

Taerin menangkap Junmyeon mengeluarkan ponselnya dan mulai asik mengetikan sesuatu pada layar sentuh ponselnya membuat Taerin hanya mendengus pelan. Laki-laki itu seperti benar-benar tidak ada inisiatif untuk mengajaknya mengobrol. Ia masih saja terus berkutat pada ponselnya yang Taerin tahu pasti adalah mengenai urusan-urusan kantor dan sebagainya yang katanya harus selalu segera diselesaikan itu. Taerin pun memutuskan untuk juga mengeluarkan ponselnya, berharap Junmyeon pun sakit hati seperti apa yang dirasakannya saat ini. Taerin berharap Junmyeon pun akan sakit hati karena melihat pasangannya malah sibuk dengan ponselnya ketika mereka sedang menonton sebuah film bersama di bioskop. Tiba-tiba ponsel yang baru saja dikeluarkan Taerin dari dalam tasnya itu bergetar, memunculkan sebuah pemberitahuan bahwa ada sebuah pesan singkat yang masuk. Taerin langsung menoleh ke arah Junmyeon dengan cepat ketika ia membaca nama sang pengirim pesan yang ternyata adalah Junmyeon.

 

 

From : Junmyeon

 

 

Sebenarnya ada banyak hal yang ingin aku bicarakan padamu namun aku tidak mau mengganggu konsentrasi penonton yang lain. Sepertinya Sehun salah memilihkan tempat bicara untuk kita. Untuk sekarang ini, apa tidak apa-apa jika bicara melalui pesan singkat seperti ini?

 

 

Junmyeon menggigit bibir bagian bawahnya sambil melirik Taerin yang masih membaca pesan singkatnya. Walaupun dalam hati Junmyeon merasa bodoh karena telah menuruti ide Sehun untuk membawa Taerin ke bioskop padahal niatnya adalah membicarakan masalah mereka yang tentu tidak bisa dilakukan di bioskop, Junmyeon tetap merasa bersyukur karena akhirnya ia dapat menikmati waktu berduanya dengan Taerin. Sedari tadi Junmyeon benar-benar berusaha mencari akal agar dapat segera berbicara pada Taerin, dan akhirnya otaknya memberikan ide yang tidak terlalu buruk juga. Sekarang Junmyeon hanya berharap agar Taerin dapat segera membalas pesan singkatnya barusan. Baru saja Junmyeon berharap demikian, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.

 

 

From : Taerin

 

 

Memangnya hal seperti apa yang kau ingin bicarakan padaku? Mengenai urusan pekerjaanmu? Maaf, film ini terlalu bagus untuk dilewatkan hanya karena membahas masalah pekerjaanmu yang rumit dan seakan tidak pernah berakhir itu.

 

 

Taerin mengambil popcorn yang berada di tengah-tengah mereka dan segera memakannya sementara Junmyeon hanya menatapnya dengan tatapan pasrah sambil menuliskan pesan balasan untuk wanita kesayangannya itu. Setelah Junmyeon menekan tombol ‘send’, ponsel Taerin bergetar. Taerin tampak menghela napas pelan namun tetap membuka pesan dari Junmyeon itu.

 

 

From : Junmyeon

 

 

Aku tahu aku sudah salah. Sangat salah. Aku malah mengurusi urusan-urusan pekerjaanku ketika seharusnya hari ini aku menemanimu untuk menikmati harimu. Tidak hanya hari ini saja, selama ini aku juga seakan tidak punya waktu untukmu dengan terus lembur dan berangkat lebih pagi ke kantor. Aku sendiri juga tidak ingin seperti ini. Aku sendiri juga tidak ingin terus-terusan melewatkan sarapan dan makan malam buatanmu. Aku sendiri juga tidak ingin pergi kerja tanpa pelukan darimu. Aku sendiri juga tidak ingin setiap pulang kerja aku menemukan kau sudah terlelap lebih dulu. Aku benar-benar tidak ingin membuatmu merasa sendirian. Aku sendiri tidak ingin seperti ini, namun aku melakukan hal ini untuk kita. Untuk calon anak kita. Aku ingin meminta maaf. Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu dan ku harap kau tahu akan hal tersebut, Taerin-a.

 

 

Taerin terpaku pada layar ponselnya yang masih menampilkan pesan dari Junmyeon. Rasanya ia benar-benar ingin menangis membaca kata per kata yang Junmyeon tuliskan disana. Taerin merasa selama ini ia telah egois. Ia bahkan tidak pernah bertanya apakah Junmyeon senang melakukan hal itu atau tidak. Yang Taerin pikirkan selama ini hanyalah keinginan dirinya saja. Taerin merasa bodoh karena malah mendiamkan Junmyeon selama ini. Taerin segera mengetikan pesan balasan dan setelah itu Junmyeon langsung menerima pesan dari Taerin.

 

 

From : Taerin

 

 

Maaf karena selama ini aku hanya memikirkan keegoisan diriku saja. Aku ingin kau terus bersamaku, menemaniku siang dan malam padahal keadaan yang kau sendiri tidak kehendaki itu tidak dapat kau tolak dan abaikan begitu saja. Aku juga merindukanmu. Sangat merindukanmu.

 

 

Junmyeon tersenyum lembut seraya mengetikan sesuatu pada layar ponselnya. Taerin yang masih memandangi ponselnya tanpa ekspresi itu pun segera membuka pesan yang baru sampai pada ponselnya. Taerin segera menatap Junmyeon yang sudah sedari tadi menatapnya lebih dulu. Senyuman pada wajah Junmyeon berhasil membuat Taerin membentuk lengkungan serupa pada wajahnya. Junmyeon segera menggenggam tangan Taerin dengan erat. Laki-laki itu pun mengecup punggung tangan Taerin lalu mengelusnya. Junmyeon mendekatkan kepalanya pada telinga Taerin lalu membisikan sebuah kata yang berhasil membuat Taerin tidak dapat lagi menyembunyikan kebahagiaannya. “Aku mencintaimu.”

 

 

Senyuman Taerin terus mengembang seakan tidak mau hilang begitu saja dari wajahnya. Ia membaca pesan Junmyeon sekali lagi lalu setelah itu, Taerin menyandarkan kepalanya pada bahu Junmyeon yang langsung meletakan kepalanya pada puncak kepala Taerin seraya mengecupnya pelan.

 

 

From : Junmyeon

 

 

Kau tidak egois, aku memang harus mengurangi beberapa jadwalku mengingat istriku yang cantik dan tengah mengandung ini lebih penting dari apapun. Mulai besok, tidak ada lagi tidak sarapan sebelum berangkat kerja, tidak ada lagi tidak makan malam dirumah, dan tidak ada lagi Taerin yang terlelap sendiri sambil memeluk boneka kesayangannya. Mulai besok, aku yang akan mengambil alih peran boneka kesayanganmu itu. Aku menyayangimu, Kim Taerin.

 

 

**

 

 

“Kalau bukan karena kau yang sedang mengidam, aku tidak akan mau memakan ice cream ditengah-tengah musim dingin seperti ini. Lihatlah, bahkan hanya kita berdua yang berada di toko ice cream ini.”

 

 

Sehun memprotes Surin namun tetap melahap ice cream yang berada di sebuah satu bucket berukuran cukup besar bersama dengan Surin yang juga tidak mau kalah. “Kau ini terlalu berlebihan. Jelas-jelas kita memakan ice cream ini di dalam ruangan bukannya diluar sana. Jadi, apa masalahnya memakan ice cream disaat musim dingin seperti ini?” Surin menunjuk ke arah luar jendela besar yang berada disampingnya membuat Sehun langsung mengalihkan pandangannya pada jendela tersebut. Dari lantai dua tempatnya sekarang ini, Sehun dan Surin dapat menyaksikan pemandangan lalu lintas yang ramai seolah kendaraan satu dan yang lainnya saling tidak mau mengalah. Salju yang turun dengan tenang pun tampak menghujani kendaraan-kendaraan itu membuat Sehun dan Surin betah memandangi pemandangan tersebut.

 

 

“Benar juga. Tapi sekalipun kita memakan ice cream ini diluar sana, aku yakin kita tidak akan merasa kedinginan.” Sehun tersenyum seraya meraih satu tangan Surin dan langsung menggenggamnya erat-erat. “Karena musim dingin yang sangat dingin itu tidak ada apa-apanya dengan hangatnya genggaman tangan kita ini. Iya, kan?” Sehun tertawa setelah bertutur demikian membuat Surin juga segera melontarkan tawa spontannya. “Kau ini memang perayu handal, ya. Padahal kenyataannya, kita akan benar-benar membeku jika memakan ice cream ini diluar sana.” Sehun meletakan dagunya pada satu tangannya, lalu terus memandangi Surin dengan senyumannya yang membuat Surin ingin menimpuknya dengan bucket ice cream yang ada dihadapan mereka sekarang juga.

 

 

Rasanya Sehun sendiri juga benar-benar tidak ingin mengalihkan pandangannya dari sosok Surin yang ada dihadapannya kini. Wanita yang semakin hari semakin bertambah gemuk karena kandungannya yang semakin hari semakin membesar itu tampak sangat menggemaskan bagi Sehun apalagi sekarang, ketika Surin tengah berusaha menghindari tatapan Sehun dengan senyumannya yang ditahan-tahan. Tiba-tiba Sehun merasa ingin menggodanya. Biasanya, Surin akan sangat salah tingkah jika Sehun melakukan adegan-adegan romantis yang dilakukan pemeran utama laki-laki di drama-drama pada pemeran utama perempuannya. Sehun baru saja akan menyentuh ujung bibir Surin dan berpura-pura menghapus bekas ice cream yang berada disana, namun tiba-tiba ponselnya berdering nyaring membuat perhatiannya langsung mengarah sepenuhnya pada layar ponsel yang tengah menampilkan nama ‘Junmyeon’ itu.

 

 

“Ya, Oh Sehun! Taerin! Taerin!!” Sehun mempertajam pendengarannya sekaligus langsung menautkan kedua alisnya secara spontan. “Ada apa dengan Taerin? Kalian tidak berkelahi di bioskop atau semacamnya, kan?” Sehun berujar seraya menegakan tubuhnya, menunggu jawaban Junmyeon dari seberang sana.

 

 

“Aku sedang dalam perjalanan menuju Sejong Hospital sekarang dibantu oleh beberapa penjaga keamanan bioskop!” Junmyeon berujar dengan suara panik membuat Sehun langsung membelakan kedua matanya dengan seketika. “Ada apa dengan Taerin?!” Seru Sehun sementara suara berisik seperti orang yang tengah berteriak-teriak terus saja mengusik telinga Sehun, membuat laki-laki itu menjadi ikutan panik.

 

 

“Taerin mengalami kontraksi!”

 

 

“Apa?! Baiklah aku akan segera menyusul kalian kesana!” Sehun segera memutus sambungan teleponnya dan langsung menatap Surin dengan panik sementara Surin sudah sedari tadi tidak bisa tenang kala Sehun berbicara dengan Junmyeon beberapa menit yang lalu. “Kita harus segera ke Sejong Hospital. Taerin mengalami kontraksi!” Seru Sehun seraya membantu Surin untuk bangkit dari tempat duduknya. Baru saja mereka akan bergegas dari toko ice cream tersebut tiba-tiba ponsel Surin berdering nyaring membuat Surin tanpa berpikir panjang segera mengangkat panggilan masuk tersebut.

 

 

“Surin-a! Mengapa ponsel Sehun sedari tadi tidak bisa dihubungi?! Gawat! Ini benar-benar gawat!” Suara Baekhyun menggema ditelinga Surin membuat Surin yang panik bertambah semakin panik. “Ya, Byun Baekhyun, tenang dulu. Sebenarnya ada apa?” Tanya Surin seraya mengatur napasnya. “Jimi! Kurasa Jimi sebentar lagi akan melahirkan!” Baekhyun berteriak panik membuat jantung Surin saat itu seakan ingin lepas dari tempatnya. “Apa?! Jadi Jimi juga mengalami kontraksi?! Baiklah, kau tenang dulu. Sekarang, segera bawa dia ke Sejong Hospital karena aku dan Sehun akan menuju kesana. Taerin mengalami hal yang sama dengan Jimi!” Surin berseru dengan suara panik sambil meremas lengan Sehun yang tengah dipeluknya. Sehun pun tampak frustasi ketika mendengar ucapan Surin barusan.

 

 

“Baiklah, aku segera menuju kesana! Beberapa pegawai karaoke sekarang sudah membantuku membawa Jimi ke mobil jadi kalian duluan saja!” Seru Baekhyun lalu panggilan terputus begitu saja. Surin segera menatap Sehun dengan khawatir.

 

 

“Baiklah, satu Kim yang baru dan satu Byun yang baru akan lahir malam ini. Kita harus buru-buru!” Sehun segera menggengam tangan Surin yang berada dilengan kanannya seraya berjalan secepat yang mereka bisa menuju parkiran.

 

 

Seketika Surin berpikir bahwa mungkin saja jika saat ini umur kandungannya sudah sembilan bulan juga, ia akan mengalami hal yang sama dengan dua sahabatnya itu. Entah ini kebetulan atau apa, Surin benar-benar tidak mengerti. Terlalu banyak hal yang terjadi dalam satu hari ini.

 

 

Surin rasa bulan depan, tepatnya ketika umur kandungannya yang sudah menginjak umur terakhir, Surin tidak ingin terlalu sering jalan-jalan keluar dulu.

 

 

**

 

 

“Kami sangat senang anak kalian berdua sehat. Selamat untuk para ayah yang hebat ini.” Sehun berujar seraya memeluk Junmyeon dan Baekhyun bergantian. Mereka berdua tampak lelah namun tidak kunjung berhenti memandangi anak mereka yang baru lahir itu dari luar ruangan tempat meletakan inkubator. Sehun benar-benar mengerti perasaan kedua ayah baru itu sehingga ia hanya tersenyum sambil terus menepuk-nepuk bahu mereka berdua. Jam tangan yang digunakan Sehun bahkan sudah menunjukan pukul tiga pagi namun betapa kagumnya ia karena sedari tadi keluarga dari pihak Junmyeon dan Taerin maupun Baekhyun dan Jimi sudah mulai banyak yang berdatangan ke rumah sakit untuk memberikan selamat dan menjenguk kedua ibu dan kedua bayi yang lahir pada jam dan hari yang bersamaan itu.

 

 

“Halo, Kim Taejun dan Byun Baekji! Kalian berdua harus saling akur ya jika sudah besar nanti.” Surin berujar seraya meletakan tangannya pada kaca luar ruangan khusus untuk meletakan inkubator itu. Dari kaca yang tidak terlalu besar itu, Surin dapat melihat bayi dari pasangan Junmyeon dan Taerin serta Baekhyun dan Jimi yang baru lahir dua jam yang lalu itu di dalam inkubator yang diletakan bersampingan.

 

 

“Tentu saja mereka harus akur. Mereka lahir pada jam dan hari yang sama. Pasti nantinya mereka berdua akan menjadi teman yang lucu.” Komentar Sehun dan tawa langsung melingkupi mereka. “Pasti lucu sekali kan kalau mereka dijodohkan seperti yang ada di drama-drama.” Surin menambahi membuat tawa semakin menjadi-jadi.

 

 

“Bagaimanapun, aku ingin berterima kasih pada kalian berdua. Aku tidak menyangka prediksi dokter yang mengatakan bahwa Taerin akan melahirkan satu minggu lagi benar-benar meleset. Kalau saja kau tidak mengajakku dan Taerin untuk melakukan ‘triple date’ itu hari ini, maka mungkin saja aku tidak bisa menemani Taerin dari awal ia kontraksi sampai melahirkan seperti sekarang ini, karena sudah pasti aku masih ada di kantor dengan setumpuk pekerjaan yang tidak ada habisnya itu. Sekali lagi, terima kasih Sehun-a. Surin-a. Aku doakan yang terbaik untuk calon anak kalian.” Junmyeon menepuk bahu Sehun dan tersenyum senang pada Surin yang langsung membalasnya.

 

 

“Aku juga. Aku ingin berterima kasih pada kalian. Kalau saja tidak ada ‘triple date’ itu, mungkin saja Jimi tidak memperbolehkanku masuk untuk menemaninya melewati proses persalinan karena emosinya yang masih naik turun. Tapi sekarang, aku benar-benar senang karena semua sudah kembali seperti semula dan bahkan jauh lebih baik. Sehun-a, kau harus menjaga Surin yang akan melahirkan bulan depan ini dengan baik-baik.” Ujar Baekhyun seraya menepuk-nepuk punggung Sehun yang langsung mengangguk pasti.

 

 

“Kalian berdua tidak perlu sampai seperti itu. Kami benar-benar senang dapat membantu kalian. Sekali lagi, selamat ya!” Surin bertutur membuat Baekhyun dan Junmyeon langsung mengangguk sambil tersenyum. “Kalau begitu, aku harus kembali dulu ke kamar rawat Jimi. Kalian berdua, hati-hatilah di jalan pulang. Dan kau, Junmyeon-a, selamat untuk kelahiran anakmu. Jika kau mau menjodohkan anakmu dengan anakku seperti apa yang dikatakan Surin, kita dapat bicarakan itu saat mereka sudah besar nanti.” Baekhyun tertawa membuat yang lain juga langsung tertawa bersamanya.

 

 

“Aku juga harus segera kembali ke kamar rawat Taerin. Banyak keluargaku yang sudah datang dan ingin segera menemui Taejun. Baekhyun-a, selamat juga untuk kelahiran Byun Baekji. Semoga saja sifat berisikmu dan Jimi ia warisi agar nantinya Taejun dapat merasakan rasanya berada diposisiku selama ini.” Ujar Junmyeon membuat tawa semakin terdengar nyaring. “Kalau begitu, aku duluan. Kalian berhati-hatilah di jalan.” Sehun dan Surin langsung mempersilahkan Junmyeon yang tidak lama setelah itu diikuti dengan Baekhyun. Baekhyun dan Junmyeon berjalan berdampingan membuat Sehun dan Surin hanya menatap punggung mereka yang semakin menjauh itu dengan sebuah senyuman senang.

 

 

“Surin-a, aku jadi tidak sabar untuk cepat-cepat ke bulan depan.” Sehun merangkul bahu Surin dengan erat seraya mengelusnya sementara Surin hanya tersenyum sambil mendongak untuk menatapnya. “Bulan depan aku akan punya dua jenis Oh Sehun.” Ujar Surin membuat Sehun tertawa kecil. “Dan aku benar-benar tidak sabar melihatmu kewalahan menghadapi dua jenis Oh Sehun-mu itu, Surin-a.” Sehun segera memeluk Surin seraya mengecup puncak kepala wanitanya itu dengan sayang.

 

 

Sehun benar-benar tidak sabar untuk menemui separuh dirinya dan separuh diri Surin yang akan lahir bulan depan itu. Memikirkannya saja sudah mampu membuat Sehun merasa sangat bersyukur dan bahagia.

 

 

**

 

 

“Oh astaga aku benar-benar bahagia untukmu dan Sehun, Surin-a! Bayi laki-laki kalian benar-benar tampan, ya. Halo, Oh Rei. Kenalkan, aku adalah ibu dari Byun Baekji yang nantinya akan jadi ‘nuna’-mu.” Jimi memegang bahu Surin yang sekarang terbaring di kasur rumah sakit itu seraya mengucapkan ‘halo’ pada bayi laki-laki yang kini berada dipelukan Surin. “Terima kasih karena kalian sudah datang, ya.” Ujar Sehun sambil tersenyum pada keempat teman dekatnya itu. Tangan Sehun masih menggengam tangan Surin dengan sangat erat membuat Jimi yang melihatnya menjadi semakin gemas dengan keluarga kecil yang berada dihadapannya kini. Jimi bahkan sampai harus meremas ujung baju Baekhyun ketika melihat Sehun yang tengah duduk disebuah kursi di dekat kasur Surin itu mengecup bayi laki-laki bernama lengkap Oh Rei yang kini berada dipelukan Surin. Sehun benar-benar tampak bahagia begitupun dengan Surin.

 

 

“Benar kata Jimi, bayi kalian tampan sekali. Bahkan aku sudah dapat melihat ketampanannya meskipun ia baru lahir lima jam yang lalu.” Taerin yang berada disebelah Baekhyun dan Jimi berkomentar dengan senyuman yang serasa tidak ingin luntur dari wajahnya. “Saat sudah besar nanti, Rei dan Taejun pasti akan dikerumuni banyak fans seperti saat aku dan Sehun sewaktu SMA dulu.” Junmyeon bersuara membuat Baekhyun langsung memprotesnya tidak terima. “Ya, walaupun aku memang tidak setampan Oh Sehun, dulu aku juga punya banyak fans sampai-sampai Jimi hampir menyerah mendekatiku.” Baekhyun menyenggol lengan Jimi yang hanya mendengus sambil tertawa kecil.

 

 

“Yasudah, lebih baik kita sudahi kunjungan kita sampai disini dulu. Kita juga harus menyediakan waktu untuk mereka. Sedari tadi keluarga mereka juga tidak berhenti berdatangan dan sepertinya mereka tidak kunjung mempunyai waktu bertiga.” Junmyeon berujar membuat yang lain langsung menyetujui perkataannya.

 

 

“Kalau begitu, Rei yang tampan, sampai bertemu lagi ya.” Jimi terlihat gemas pada bayi yang kini tampak menggeliat dipelukan Surin. “Ya, Baekhyun-a, aku benar-benar akan senang jika Rei nantinya akan berakhir dengan Baekji. Ia benar-benar tampan!” Jimi berujar asal membuat tawa seketika memenuhi ruangan rawat tersebut. Surin bahkan merasa perutnya benar-benar sakit karena tertawa setelah mendengar ucapan Jimi barusan. “Padahal aku sudah menawarkan kesempatan untuk anak Junmyeon dan juga Taerin. Tapi, aku akan serahkan semuanya pada Baekji saja.” Tanggap Baekhyun membuat tawa lagi-lagi berhasil memenuhi ruangan.

 

 

Junmyeon dan Taerin serta Baekhyun dan Jimi langsung berpamitan dan setelahnya meninggalkan Sehun dan Surin beserta Rei, bermaksud memberi waktu untuk keluarga kecil itu. Sehun yang kini masih duduk ditempatnya dengan menggenggam erat tangan Surin sedari tadi tidak bisa menghilangkan senyuman diwajahnya. Ia benar-benar bahagia bahkan hanya dengan melihat Surin yang memeluk anak mereka seperti sekarang ini.

 

 

“Tidak salah, Rei benar-benar mirip denganmu. Pantas saja Jimi mengatakan bahwa ia sangat tampan.” Surin berujar dengan suara pelan membuat senyuman Sehun semakin lebar. “Baiklah, mungkin ini yang pertama kalinya kau mengakui ketampananku secara langsung. Kau harusnya mengakui hal itu dari dulu, Surin-a.” Sehun terkekeh sementara Surin hanya mendengus pelan.

 

 

“Aku benar-benar bersyukur sekarang.” Sehun mengelus jemari-jemari Surin yang berada digenggamannya dengan lembut. “Aku menyayanginya, dan tidak lupa juga untuk menyayangi mantan ibu hamil yang dulunya berperut buncit ini.” Sehun mengecup pipi Rei dengan perlahan, lalu beralih pada Surin. Sehun menatap Surin lama tanpa berkata apapun. Hanya sebuah senyuman yang betah bertengger pada wajahnya sementara kedua pipi Surin sudah merasa akan terbakar sebentar lagi karena senyuman Sehun yang sedari dulu sampai sekarang masih sama mempesonanya. Sehun bangkit dari duduknya lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Surin. Ia segera mengecup dahi Surin dengan lembut sambil memejamkan kedua matanya.

 

 

“I think I love you better now, Mrs. Oh.”

 

 

Surin benar-benar tidak bisa merasa lebih bahagia dari ini. Ia bahkan sudah mengeluarkan air mata haru yang langsung dihapusnya asal. Ia menyayangi Sehun lebih dari apapun dan seterusnya akan seperti itu. Surin mengecup Rei yang berada dipelukannya, sambil membisikan sesuatu pada telinga bayinya itu yang masih dapat juga Sehun dengar dengan jelas dari tempatnya sekarang ini.

 

 

“Selamat datang, Oh Rei, Oh Sehun-ku yang kedua.”

 

 

-FIN.

 

 

Terima kasih sudah membaca! Semoga kalian suka. Please send your thoughts about this ff on the comment box! Thanks and see ya! Kunjungin wordpress pribadi saya untuk ff yang lainnya ya. Here’s the link : http://ohmarie99.wordpress.com Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disana ya!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Title : Triple Date

 

 

 

Genre : Romance

 

 

 

Length : Oneshoot

 

 

 

Rating : PG 15

 

 

 

Cast : Oh Sehun, Byun Baekhyun, Kim Junmyeon, and OCs.

 

 

 

 

Hello! Ini sudah kelima kalinya saya mengirim ff saya di exofanfiction setelah ‘After A Long Time’ , ‘Secret’, ‘Hello Baby’, dan ‘Horoscope’. Sekarang saya bawakan ff sederhana berjudul Triple Date ini. Semoga kalian suka ya dengan ff saya ini, ya. Happy Reading!

 

 

 

Oh ya, jika kalian berminat membaca fanfic-fanfic saya yang belum dipublish dimanapun kecuali di wordpress pribadi saya, berkunjung saja ke : http://ohmarie99.wordpress.com jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian setelah kalian berkunjung ke wp saya!

 

 

 

Thanks and happy reading!

 

 

 

 

**

 

 

 

 

 

“Jadi, Taerin dan Jimi juga meminta bantuanmu seperti Junmyeon dan Baekhyun meminta bantuanku?”

 

 

Sehun yang kini tengah sibuk menekan satu-satu angka yang ada pada remot televisi guna menentukan channel yang paling tepat itu segera menolehkan kepalanya ke arah istrinya yang kini tengah membuat susu cokelat khusus untuk ibu hamil di dapur apartment mereka. Setelah mengaduk susu cokelatnya, Surin segera menghampiri Sehun dan duduk disamping laki-laki itu. Wanita yang tengah hamil delapan bulan itu juga tidak lupa memberikan suaminya yang tidak lain tidak bukan adalah Oh Sehun, sepiring buah-buahan yang sudah ia potong menjadi beberapa bagian kecil agar Sehun dapat dengan mudah memakannya.

 

 

“Begitulah. Acara arisan kemarin malah berubah menjadi acara curahan hati dua ibu hamil yang cerewet itu.” Surin menyesap susu cokelatnya sementara Sehun hanya tertawa seraya memakan buah-buahan yang sudah dipotong-potong oleh Surin itu dengan lahap. “Taerin bercerita padaku bahwa justru di umur kandungannya yang sudah sembilan bulan, Junmyeon jadi lebih sering tidak ada dirumah dan jarang menemaninya. Taerin juga berkata bahwa ia merasa Junmyeon benar-benar hanya sibuk dengan urusan pekerjaannya sampai-sampai sepertinya ia lupa bahwa ia memiliki seorang istri yang tengah hamil besar. Aku jadi tidak tega padanya.” Surin berujar panjang sementara Sehun yang berada disebelahnya tetap setia mendengarkan sambil terus menyantap buah-buahannya.

 

 

“Jadi, alasan Taerin menjadi lebih pendiam itu karena Junmyeon yang jarang ada dirumah? Baiklah, sepertinya sekarang kita sudah menemukan jawaban dari permasalahan mereka. Kemarin saat acara makan siang bersama dengan Junmyeon dan Baekhyun, Junmyeon bercerita pada kami bahwa ia bingung dengan sikap Taerin yang jadi jauh lebih pendiam dan bahkan terkadang terkesan mengacuhkannya. Ia ingin mencari kejelasan dari masalah mereka ini, namun setiap ia sampai dirumah dan ingin mengajak Taerin mengobrol, Taerin sudah lebih dulu terlelap. Lalu paginya, karena Junmyeon harus berangkat pagi-pagi sekali ke kantor, ia terpaksa meninggalkan Taerin yang masih terlelap. Dan ya, begitulah setiap harinya.”

 

 

“Ya ampun, kita benar-benar harus membantu mereka agar mereka dapat bicara berdua dan menyelesaikan masalah ini secepatnya.” Surin berujar sementara Sehun meletakan piring yang tengah ia pegang pada meja kaca yang ada di hadapannya. Sehun merangkul Surin lalu mengelus lengan wanita itu dengan sayang. “Kau harus bersyukur mempunyai suami sepertiku yang bahkan selalu menyempatkan diri untuk pulang kerja lebih awal sehingga aku dapat menemanimu.” Sehun tertawa pelan sementara Surin hanya mendengus, menanggapi. “Tentu saja. Aku bersyukur, malah sangat bersyukur.” Surin menyandarkan kepalanya pada dada bidang milik Sehun. Ia tersenyum ketika laki-laki itu mengelus rambutnya pelan.

 

 

Sehun yang bekerja sebagai kepala arsitek di perusahaan property milik keluarganya itu memang selalu sudah tiba dirumah bahkan sebelum matahari membenamkan diri. Tentu saja hal tersebut berlaku karena ia adalah anak terakhir dari pemilik perusahaan. Ayah dan Ibunya malah akan memarahi Sehun jika ia berlama-lama di kantor dan meninggalkan Surin sendirian di apartment mereka. Berbeda dengan Sehun, Junmyeon yang merupakan satu-satunya pewaris perusahaan keluarganya, tidak bisa dengan begitu saja meninggalkan kantor dan berbagai urusan penting perusahaan yang membutuhkan peran dirinya. Surin tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya berada di posisi Taerin. Oleh sebab itu, ia benar-benar bertekad untuk membantu Taerin agar sahabat sedari sekolah dasarnya itu dapat kembali seperti dulu dengan Junmyeon.

 

 

“Lalu, bagaimana dengan masalah Baekhyun dan Jimi?” Surin menautkan alisnya seperti tengah mengingat kembali persisnya cerita Jimi kemarin saat acara arisan mereka.

 

 

“Masalah Jimi masih sama seperti dulu. Semua masih karena mantan kekasih Byun Baekhyun yang kini resmi menjadi tetangga baru mereka. Perempuan itu pindah setelah bercerai dengan suaminya dan itulah yang membuat Jimi tidak tenang. Tidak hanya itu, kau tahu kan kalau Kim Jongin baru kembali ke Korea setelah sekian lamanya tinggal di London?” Sehun mengangguk, menjawab pertanyaan Surin barusan. Tentu saja ia tahu karena minggu lalu, ia dan tujuh temannya yang lain, Chanyeol, Kyungsoo, Junmyeon, Baekhyun, Minseok, Yixing, dan Jongdae menjemput Jongin dari bandara dan bahkan mereka sempat merayakan kepulangan Jongin dengan makan bersama disalah satu restaurant langganan mereka saat mereka duduk dibangku SMA.

 

 

“Dua hari yang lalu Jongin mampir ke rumah Baekhyun dan Jimi. Jongin membawakan banyak hadiah untuk calon anak Baekhyun dan Jimi. Jongin juga membawakan banyak oleh-oleh untuk Jimi dari London. Ia bahkan meminta ijin pada Baekhyun untuk mengajak Jimi makan siang bersama yang Jimi tidak sangka-sangka, langsung di setujui oleh Baekhyun. Setelah itu, Baekhyun dan Jimi langsung terlibat perang dingin. Singkatnya, Jimi berkata bahwa perang dingin itu karena ia yang cemburu pada Baekhyun dan mantan kekasih laki-laki itu, dan Baekhyun yang cemburu padanya dan Jongin.” Jelas Surin membuat Sehun mengangguk-angguk.

 

 

“Masalah mereka benar-benar tidak berubah rupanya. Tapi aku rasa Baekhyun tidak mempermasalahkan kehadiran Jongin. Buktinya ia langsung menyetujui permintaan Jongin. Lagi pula, Jongin itu juga sahabat baik Baekhyun. Walaupun dulu mereka sering bertengkar karena Jimi, tapi sekarang sepertinya Baekhyun sudah jauh lebih mengerti. Jongin pun pasti tidak ada pemikiran untuk menarik perhatian Jimi apalagi sampai merebutnya dari Baekhyun. Hal itu bukanlah tipe seorang Kim Jongin. Ia pasti mengerti bahwa kini Jimi tengah mengandung anak Byun Baekhyun. Ajakan makan siang itu pasti hanyalah sekedar reuni biasa.” Sehun mulai menganalisis sementara Surin langsung mengangguk-angguk setuju.

 

 

“Kemarin Baekhyun hanya bercerita bahwa Jimi jadi jauh lebih sensitif. Jimi jadi lebih sering marah-marah tidak jelas. Entah karena Baekhyun yang menonton televisi dengan volume yang menurutnya terlalu keras, atau bahkan karena Baekhyun yang membelikannya baju baru khusus untuk ibu hamil, yang Jimi sangka adalah sebuah ejekan karena tubuhnya yang semakin hari semakin bertambah gemuk.” Surin tertawa mendengar ucapan Sehun yang terakhir.

 

 

“Jadi rupanya perang dingin itu disebabkan karena Baekhyun yang tidak tahu alasan mengapa Jimi jadi sering marah-marah? Astaga, Jimi sudah berpikir terlalu jauh sampai-sampai menyangka Baekhyun cemburu padanya dan Jongin. Mereka itu lucu sekali.” Surin tertawa pelan. “Baekhyun sepertinya tidak tahu kalau sifat Jimi yang jadi sering marah-marah itu disebabkan karena kecemburuannya pada mantan Baekhyun yang baru pindah ke sebelah rumah mereka.” Ujar Sehun menyimpulkan membuat Surin lagi-lagi mengangguk menyetujui.

 

 

“Pada dasarnya mereka hanya butuh waktu untuk bicara satu sama lain.” Surin meraih tangan kanan Sehun kemudian menyelipkan jemarinya pada jemari milik Sehun sementara laki-laki itu masih mengelus rambut Surin dengan satu tangannya yang lain.

 

 

“Bagaimana kalau kita adakan ‘triple date’ saja pada akhir pekan ini? Sebenarnya bukan date, mungkin ini lebih ke arah para suami yang menemani istrinya melakukan apapun yang mereka inginkan. Ibu-ibu hamil juga perlu refreshing, bukan hanya diam saja dirumah. Kau dan Taerin serta Jimi, lakukanlah apa yang ingin kalian lakukan. Sedangkan aku dan Baekhyun serta Junmyeon akan menemani kalian.” Saran Sehun membuat Surin langsung mendongak, menatapnya dengan tatapan yang sangat antusias. “Sekalipun itu ke salon untuk perawatan rambut yang memakan waktu cukup lama?” Sehun mengangguk, membuat Surin langsung memekik girang. Surin benar-benar rindu dengan kegiatan yang dulu sering dilakukannya bersama dengan kedua temannya itu. Entah itu melakukan perawatan rambut di salon, ataupun hanya makan dan mengobrol sampai lupa waktu. Surin benar-benar merindukan waktu-waktu seperti itu.

 

 

“Aku yakin Taerin dan Jimi akan langsung menyetujui ide ini. Tapi, bagaimana dengan Baekhyun dan Junmyeon? Apa kau yakin mereka mau melakukan hal ini?” Tanya Surin membuat Sehun terkekeh. “Aku saja mau menemani istriku yang jauh lebih merepotkan dari Taerin dan Jimi, mengapa mereka tidak mau?” Surin mendengus kemudian memukul Sehun pelan membuat laki-laki itu hanya tertawa. “Mereka yang meminta bantuan kita, maka mereka harus mengikuti apa yang kita rencanakan.” Sehun mengeratkan genggaman tangannya pada jemari-jemari milik Surin.

 

 

“Seperti apa katamu tadi, mereka sebenarnya hanya perlu waktu untuk membicarakan hal ini berdua sampai semua kesalahpahamannya dapat segera terselesaikan.” Surin tersenyum mendengar ucapan Sehun barusan.

 

 

“Nak, dengar kan, apa yang diucapkan ayahmu barusan? Ia sudah seperti pakar cinta. Sepertinya kelak kau akan memiliki konsultan cinta sendiri.” Surin mengelus perutnya yang besar itu sementara Sehun tertawa. Sehun turut meletakan telapak tangannya pada perut Surin kemudian mengelusnya. “Aku harap kau bukan orang yang melankolis seperti ibumu kalau sudah mengenal cinta.” Sehun tertawa sementara Surin langsung menyikutnya. “Memangnya kapan aku melankolis?” Surin memicingkan matanya ke arah Sehun yang masih tertawa.

 

 

“Dulu setiap aku di dekati gadis-gadis cantik di sekolah, memangnya sikap cemburumu dengan berteriak-teriak di lapangan atas sekolah tidak dapat dikategorikan sebagai melankolis?” Surin segera membelakan matanya kemudian memukul Sehun berkali-kali. Surin memang sering melakukan hal itu dulu, namun sungguh, ia sudah berhasil melupakan masa-masa ‘remaja labil’ itu dan kini Sehun malah mengingatkannya kembali.

 

 

“Itu dulu! Sekarang, mana ada lagi yang berani mendekatimu?” Surin mengercutkan bibirnya membuat Sehun langsung mengecupnya singkat. Surin yang terkejut segera menatap Sehun tidak percaya. “Tentu saja tidak ada lagi yang berani mendekatiku. Kini aku sudah dihalangi oleh dua orang. Kau, dan yang ada di dalam perut besarmu ini.” Surin kembali mengercutkan bibirnya membuat Sehun lagi-lagi langsung mengecupnya. “Ya! Oh Sehun! Kau itu benar-benar, ya!” Surin memprotes sementara Sehun hanya menertawainya.

 

 

“Oh astaga, Jang Surin, bahkan sampai sekarang pipimu masih semerah itu setiap aku melakukan hal tersebut. Kau sangat menggemaskan.” Sehun mencubit satu pipi Surin dengan tangan yang tadinya merangkul Surin, sementara sang empunya hanya memandang Sehun dengan garang membuat laki-laki itu semakin gemas.

 

 

Surin merasa beruntung mempunyai Sehun. Sifat baik dan pengertiannya lah yang membuat Surin sama sekali tidak dapat berpaling. Saat ini Surin hanya berharap, niat baiknya dan Sehun untuk membantu pasangan Junmyeon dan Taerin serta Baekhyun dan Jimi dapat berjalan dengan baik pula.

 

 

**

 

 

“Akhirnya, ibu-ibu hamil sembilan bulan ini datang juga! Mengapa terlambat sekali?” Surin segera bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Taerin dan Jimi serta kedua suami mereka yang baru saja tiba di restaurant tempat Sehun dan Surin sedari tadi menunggu. Sehun pun segera mempersilahkan mereka untuk duduk setelah menepuk kedua bahu kedua teman dekatnya yang tidak lain tidak bukan adalah Baekhyun dan Junmyeon sebagai tanda salamnya.

 

 

“Sebaiknya kita nikmati dulu makanannya, nanti keburu dingin.” Ujar Surin membuat yang lain langsung segera bersiap untuk menyantap makanan yang sudah tersaji di meja makan panjang tersebut. Surin memang sudah lebih dulu memesankan makanan-makanan tersebut selagi menunggu kedua pasangan yang kini duduk dihadapannya dan Sehun itu datang. “Sudah lama sekali ya, kita tidak berkumpul seperti ini.” Baekhyun yang kini tengah menyantap hidangan yang ada dihadapannya berujar membuat yang lain bergumam menyetujui.

 

 

“Jadi, acara hari ini adalah acara khusus untuk para istri kita yang sedang hamil ini?” Junmyeon bersuara dengan nada suara khasnya yang dari dulu tidak berubah. “Ya, begitulah. Kasihan mereka belakangan ini waktu untuk jalan-jalannya sudah benar-benar dibatasi oleh dokter karena kandungan mereka yang sudah semakin membesar.” Jawab Sehun dan tawa dari Surin, Taerin, serta Jimi dalam beberapa detik langsung memenuhi ruangan. “Lagipula, aku juga sudah lama tidak jalan keluar dengan si ibu cantik yang suka marah-marah ini.” Baekhyun merangkul Jimi seraya mengembangkan senyumannya sementara Jimi hanya mendengus sambil menyikut perut Baekhyun dengan pelan.

 

 

“Baiklah, nikmati waktu kalian bertiga hari ini. Dan kami, para suami akan setia menemani—” Ucapan Junmyeon terpotong karena deringan ponselnya yang menandai adanya sebuah panggilan masuk. Tanpa berpikir panjang, Junmyeon segera meminta diri untuk menjawab telepon yang katanya dari orang kantornya itu. Surin segera melirik Taerin dengan tidak enak. Mood bagus yang Surin tahu sudah berusaha Taerin bangun saat sejak ia tiba di restaurant ini, dalam sekejap redup begitu saja. Suasana berubah menjadi hening untuk sesaat, namun Taerin dengan sigap langsung membentuk sebuah lengkungan berbentuk bulan sabit pada bibirnya, membuat yang lain langsung bersikap seperti semula.

 

 

“Jadi, ibu-ibu hamil yang cantik-cantik, akan kita mulai dari mana jalan-jalan kita hari ini?” Taerin berusaha memecahkan suasana sementara Surin dan Jimi hanya tertawa kecil. “Bagaimana dengan mencari baju untuk calon anak-anak kita ini? Terakhir aku berbelanja itu saat kandunganku berumur tujuh bulan dan aku rasa masih ada yang kurang.” Sahut Jimi membuat Taerin dan Surin langsung menyetujui ide tersebut. “Padahal saat itu sepertinya satu toko perlengkapan bayi sudah kita borong. Apalagi yang kurang?” Tanya Baekhyun membuat Jimi langsung mengercutkan bibirnya.

 

 

“Memangnya kau lupa kalau waktu itu kita belum membeli baju warna hijau untuk calon anak kita ini? Ya, yang kau ingat itu kan hanya warna pink dan pink saja. Pasti kau mengingatnya karena itu warna kesukaan mantanmu, kan.” Surin melirik Sehun yang ternyata juga tengah meliriknya. Tatapan mereka menunjukan tatapan saling tanya tentang bagaimana menghadapi dua pasangan tersebut.

 

 

“Apa hubungannya dengan mantanku? Pink itu warna yang lucu. Memangnya kau lupa kalau anak kita itu sudah ketahuan berjenis kelamin perempuan?” Baekhyun membalas membuat Jimi menatap laki-laki itu garang. “Tapi kan kita belum membeli baju yang berwarna hijau!” Jawab Jimi dengan kesal membuat yang lain hanya diam memandangi mereka berdua dengan tatapan ngeri. Baekhyun berdeham ketika menyadari suasana yang mulai tidak enak itu dan langsung merangkul Jimi sambil mengacak rambutnya membuat yang lain seketika menghembuskan napas lega.

 

 

“Baiklah, baiklah. Kita beli semua baju bayi yang berwarna hijau. Hijau tua, hijau muda, hijau terang, hijau gelap, beli semuanya.” Ujar Baekhyun yang langsung diikuti tawa oleh Sehun, Surin, dan Taerin. “Wah, wah, wah sepertinya aku tertinggal sesuatu yang seru. Sudah sampai mana obrolannya?” Junmyeon kembali menempatkan diri disebelah Taerin sementara wanita itu tidak terlalu mempedulikan keberadaan Junmyeon. “Belum jauh. Baru sampai Jimi yang meminta dibelikan seluruh jenis baju bayi yang berwarna hijau.” Sahut Baekhyun membuat tawa kembali memenuhi ruangan.

 

 

“Taerin-a, kalau kau mau beli baju bayi warna apa?” Junmyeon tampak berusaha untuk mengembalikan mood Taerin yang ia sendiri tahu sudah sangat buruk karena panggilan masuk dari orang kantor yang tidak dapat Junmyeon abaikan begitu saja beberapa menit yang lalu. “Apa saja asal bukan baju kerja seperti semua pakaian yang ada di lemarimu.” Jawab Taerin dengan nada yang sangat sarkastik membuat suasana lagi-lagi berubah muram. Sehun kembali melirik Surin, dan Surin pun melakukan hal yang sama. Kedua pasangan yang berada dihadapan mereka kini memang terlalu blak-blakan tentang masalah mereka. Seharusnya mereka dapat menyembunyikannya, bukan malah membuat Sehun dan Surin semakin bingung akan suasana tidak mengenakan tersebut.

 

 

“Tentu saja kita harus membelikannya stelan jas. Anak kita ini kan akan menjadi pewaris perusahaan ayahnya kelak.” Junmyeon mengelus perut besar Taerin sementara Taerin hanya mendengus pelan. “Untung saja Jimi tidak meminta dibelikan stelan jas juga untuk anak kita. Dari mana kita akan mendapatkan stelan jas berwarna lucu seperti warna hijau? Iya, kan?” Baekhyun berusaha memecahkan suasana yang tidak enak itu membuat Sehun dan Surin langsung tertawa keras-keras, agar suasana kembali hangat seperti semula. “Sepertinya sekarang kau yang lupa kalau anak kita itu sudah ketahuan berjenis kelamin perempuan.” Timpal Jimi membuat tawa seketika senyap begitu saja.

 

 

Sehun kembali melirik Surin, dan Surin pun melakukan hal yang sama. Dari tatapan mereka, ada tatapan yang mengatakan bahwa mereka ingin sekali menyerah dan segera pulang meninggalkan kedua pasangan yang ada dihadapan mereka sekarang ini. Sehun dan Surin hanya berharap rencana yang sudah disusun mereka tadi malam benar-benar dapat berjalan lancar hari ini.

 

 

**

 

 

Setelah acara makan siang, kini mereka sudah berada di dalam sebuah toko yang menjual berbagai macam perlengkapan bayi. Mulai dari baju, sepatu, dan bahkan botol susu dengan berbagai macam ukuran. Ketiga pasangan tersebut mulai berpencar dengan troli masing-masing, mencari barang yang akan mereka beli untuk calon anak mereka.

 

 

Waktu sudah berlalu selama dua puluh menit lamanya dan mereka belum juga selesai menjelajahi toko tersebut. Sehun dan Surin lah yang paling tampak antusias dalam acara belanja mereka kali ini. Melihat keantusiasan mereka berdua, tanpa disadari Jimi dan Taerin sedari tadi sudah memperhatikan pasangan tersebut dengan tatapan iri sementara Baekhyun dan Junmyeon, tidak begitu menyadari hal tersebut dan masih terlihat sibuk dengan barang-barang bayi yang baru dilihatnya.

 

 

“Woah, aku baru tahu sekarang ada sepatu bayi yang di design seperti sepatu basket. Lucu sekali, ya.” Surin berkomentar seraya mengambil sepatu bayi berukuran sangat kecil tersebut. “Modelnya sama persis seperti sepatu basket couple yang kita beli minggu lalu. Kita beli saja sepatu ini agar kita punya sepatu seragam.” Sehun yang sedang memegang dorongan troli pun menghampiri Surin seraya meletakan kedua tangannya pada bahu Surin yang sekarang sudah tersenyum senang. “Tapi aku ingin beli yang warna merah ini. Sepatu kita kan, berwarna putih.” Sehun hanya terkekeh lalu mengambil sepatu dengan model sama namun berwarna putih yang sedari tadi Surin lirik itu. “Kita beli saja dua-duanya.” Surin mengangguk setuju sementara Sehun langsung mengacak rambutnya dengan gemas.

 

 

Taerin dan Jimi yang sedari tadi memperhatikan pasangan itu pun seketika meringis bersama melihat adegan yang sangat lucu itu. Jimi bahkan sekarang sudah mengambil berbagai macam baju bayi yang ada dihadapannya dan memasukannya dengan asal ke troli tanpa dulu melihat modelnya. Wanita itu benar-benar hanya fokus pada Sehun dan Surin yang sedari tadi tampak sangat bahagia meskipun acara ini hanyalah acara belanja biasa. Baekhyun yang baru menyadari kelakuan aneh Jimi, langsung memundurkan trolinya sehingga baju yang niatnya akan Jimi lempar ke dalam troli itu malah berakhir tergeletak di lantai.

 

 

“Ya, Park Jimi yang sekarang sudah berubah menjadi Byun Jimi dan akan melahirkan Byun-byun yang lainnya, setelah kau benar-benar mengambil semua baju yang berwarna hijau, mengapa sekarang kau malah memasukan banyak baju bayi untuk anak laki-laki ke dalam troli? Lihatlah, semua baju yang kau masukan itu bergambar Iron Man.” Baekhyun berkomentar sambil mengubah posisi berdirinya menjadi ke sebelah Jimi. Baekhyun segera mengambil baju bayi bergambar Barbie lalu menunjukannya pada Jimi.

 

 

“Ini baru baju anak perempuan.” Baru saja Baekhyun akan memasukannya ke dalam troli, Jimi segera merebut baju tersebut. “Aku kan sudah bilang aku tidak mau membeli baju yang berwarna pink.” Jimi menggerutu lalu meletakan baju tersebut ke tempat semula. Baekhyun dengan cepat mengambil baju tersebut kembali. “Tapi ini lebih pantas daripada baju-baju bergambar Iron Man itu.” Baekhyun baru akan memasukannya ke dalam troli, namun lagi-lagi Jimi merebutnya namun kali ini dengan tenaga yang lebih kuat.

 

 

“Kalau begitu mengapa dari tadi kau hanya diam saja saat aku memasukan semua baju bergambar Iron Man itu dan bukannya malah mengingatkanku atau memarahiku?” Protes Jimi sementara Baekhyun kini terlihat sudah tidak sabaran. “Tadi aku kan sudah memarahimu.” Baekhyun benar-benar berusaha menahan nada suaranya sementara kini Jimi terlihat akan meledak. “Jadi kau tadi memarahiku?! Memangnya kau tidak bisa lebih halus sedikit pada istrimu yang sedang mengandung sembilan bulan ini?! Kau harusnya mengingatkanku dengan lembut dan bukannya malah memarahiku!”

 

 

“Tapi tadi kau sendiri yang minta untuk dimarah— ”

 

 

Sementara disisi lain terdengar pula suara gaduh yang sama membuat Sehun dan Surin yang sedari tadi memperhatikan Baekhyun dan Jimi dalam diam itu segera menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Sehun dan Surin saling bertatapan dan seketika menggelengkan kepala mereka bersamaan, benar-benar heran dengan kedua pasangan tersebut.

 

 

“Taerin-a, maaf. Tadi itu telepon dari ayahku dan aku tidak bisa tidak mengangkatnya mengingat ini menyangkut urusan perusahaan yang akan mengimpor—” Ucapan Junmyeon terpotong karena lagi-lagi ponselnya berdering nyaring, menandai adanya sebuah panggilan masuk. Junmyeon hanya memandang Taerin dengan pasrah, tanpa kunjung menyudahi deringan ponselnya yang sangat meminta untuk diangkat itu.

 

 

“Taerin-a.” Junmyeon bersuara pelan sementara Taerin berpura-pura tidak peduli dengan terus memilih berbagai macam perlengkapan makan untuk bayi yang berjejer rapi dihadapannya. “Taerin-a, aku benar-benar harus mengangkatnya.” Junmyeon berujar lagi dan seketika Taerin langsung menatapnya serius. “Sedari tadi aku sudah benar-benar sabar dengan deringan ponselmu yang tiap detik seakan tidak pernah berhenti itu, Kim Junmyeon. Kita baru bisa menikmati waktu berdua kita lagi hari ini dan kau mau mengacaukannya? Sekarang terserah kau saja.” Taerin mengambil alih dorongan troli yang tengah dipegang Junmyeon dan mendorongnya sendiri ke arah lain, meninggalkan Junmyeon yang tampak sangat ingin mengejar Taerin namun tertahan oleh deringan keras ponselnya yang memaksanya untuk mengurungkan niatnya mengejar Taerin. Junmyeon segera mengangkat sambungan telepon tersebut dan berjalan keluar toko untuk menemukan ruang bicara.

 

 

Setelah suasana yang tidak mengenakan itu, Sehun dan Surin akhirnya memutuskan untuk segera menyudahi acara belanja tersebut dengan menghampiri kasir yang sedari tadi sepertinya turut memperhatikan mereka. Tidak lama setelah Sehun membayar semuanya, Taerin dan Baekhyun serta Jimi turut menghampiri, bermaksud untuk juga membayar belanjaan mereka. Baekhyun dan Jimi masih saja meributkan masalah baju bergambar Iron Man, sementara Taerin hanya terlihat terdiam tanpa menaruh perhatian pada apapun yang ada disekitarnya. Surin benar-benar merasa sedih melihatnya seperti itu. Baru saja Surin ingin menghampirinya, Junmyeon masuk kembali ke dalam toko dan segera merangkul Taerin yang hanya mendengus sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.

 

 

Suasana yang sudah muram itu kini bertambah muram, membuat Surin benar-benar tidak tahan lagi. “Taerin-a, Jimi-ya, bagaimana kalau habis ini kita pergi ke salon? Sudah lama sekali kan, kita tidak melakukan perawatan rambut dan kuku bersama-sama?” Akhirnya Surin berujar membuat Taerin dan Jimi yang kini sedang menunggu Baekhyun dan Junmyeon selesai membayar itu tampak kembali bersemangat.

 

 

“Setuju. Tunggu apalagi? Kita kesana sekarang saja!” Taerin langsung menggandeng lengan kanan Surin, dan tidak lama Jimi juga sudah menggandeng lengan kirinya. “Tapi akan lebih baik kalau kita tunggu suami-suami kita ini selesai membayar dan kesana bersama—”

 

 

“Sudahlah, tinggal saja mereka. Toh, tidak akan hilang juga.” Ujar Jimi membuat Baekhyun segera menatapnya tidak percaya. Jimi menjulurkan lidahnya membuat tatapan tidak percaya Baekhyun semakin menjadi-jadi. “Ayo!” Taerin menarik lengan Surin secara paksa membuat Surin mau tidak mau hanya menurut. “Ya, Oh Sehun! Kau tahu salon langgananku di lantai tiga, kan? Kita bertemu disana ya!” Seru Surin dengan volume suara yang keras membuat Sehun dengan segera membalas seruannya dengan kata ‘iya’ yang tidak kalah keras. Ibu-ibu hamil yang umur kandungannya sudah tua itu pun langsung menghilang dari pandangan para suami yang kini hanya bertatapan satu sama lain tanpa sekalipun berkomentar.

 

 

“Kau lihat sendiri, kan? Park Jimi yang sekarang sudah berubah menjadi Byun Jimi dan akan melahirkan Byun-byun yang lainnya itu benar-benar emosian membuat kepalaku serasa ingin meledak. Aku bahkan tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu.” Keluh Baekhyun seraya menyodorkan kartu debitnya untuk membayar belanjaannya atau tepatnya belanjaan istrinya itu. “Sekarang ia malah meninggalkanku dengan belanjaannya yang luar biasa banyak ini.” Keluh Baekhyun sekali lagi sementara Sehun yang mendengarkan hanya menghela napas sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

 

“Kalian juga lihat sendiri, kan bagaimana Taerin tidak bisa mengerti posisiku sebagai direktur perusahaan yang benar-benar tidak bisa meninggalkan pekerjaanku? Aku tahu aku salah jika masih saja mengurusi semua urusan pekerjaan saat sedang bersamanya, tapi posisiku hari ini benar-benar tidak bisa untuk tidak mengurusi semua urusan penting itu.” Junmyeon mengacak rambutnya frustasi lalu segera mengangkat dua shopping bag berukuran besar yang disodorkan kasir tersebut.

 

 

“Pada dasarnya kalian memang hanya perlu membicarakan ini dengan pasangan kalian masing-masing dan segera meluruskannya. Byun Baekhyun, kau tidak tahu kalau alasan Jimi menjadi cepat marah adalah karena mantanmu yang pindah rumah ke sebelah rumah kalian dan berhasil membuat Jimi kalang kabut? Lalu, Kim Junmyeon, apa jika kau berada diposisi Taerin, kau dapat menahan diri berada bersama dengan pasangan yang bahkan sepertinya tidak dapat menyisihkan waktunya untukmu dan hanya mengurusi urusan pribadinya saja apalagi saat kalian tengah berkencan seperti ini?” Sehun mulai berceloteh panjang sementara Baekhyun dan Junmyeon yang kini sudah selesai dengan urusan pembayaran itu hanya terdiam sambil menimbang ucapan Sehun barusan.

 

 

“Aku rasa aku benar-benar harus membocorkan rencanaku dan Surin itu sekarang pada kalian agar nanti kalian tidak bingung dan dapat memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya.” Gumam Sehun lalu segera merangkul kedua sahabat sejak dari sekolah menengah pertamanya itu.

 

 

“Ayo kita bicarakan rencanaku dan Surin ini di café bubble tea favorite-ku.” Baekhyun dan Junmyeon hanya dapat menurutinya tanpa berkomentar. Semua ucapan Sehun memang benar, mereka hanya butuh waktu untuk bicara pada pasangan mereka masing-masing dan segera meluruskan semuanya dengan benar.

 

 

**

 

 

Ketiga ibu hamil yang kini sudah hampir menyelesaikan perawatan kuku tangan mereka itu tampak sangat menikmati waktu mereka. Surin bahkan kini sudah memekik girang karena hasil cat kuku dengan motif bunga-bunga yang dilakukan sang ahli benar-benar sangat bagus pada kuku-kukunya. “Aku benar-benar merindukan saat-saat seperti ini. Tidak ku sangka kita malah kembali jalan-jalan seperti ini saat kandungan kita yang sudah sangat besar, ya.” Ujar Surin membuat Taerin dan Jimi mengangguk sambil tersenyum kecil.

 

 

“Ini semua juga berkatmu, Surin-a. Kalau kau tidak mengajakku jalan-jalan hari ini, mungkin aku hanya akan menghabiskan hari sabtuku dirumah dan yang pasti sendirian.” Taerin bersuara membuat Surin berdeham tidak enak. “Terima kasih, ya. Walaupun Junmyeon sedari tadi sibuk dengan urusan pekerjaannya, sebenarnya aku senang ia masih menyempatkan waktu untuk ikut jalan-jalan hari ini.” Timpal Taerin membuat senyuman diwajah Surin mengembang begitu saja. Itu artinya, Taerin tidak sepenuhnya marah pada Junmyeon. Laki-laki itu masih memiliki kesempatan untuk membicarakan hal ini pada Taerin dan memperbaiki semuanya dan Surin tahu itu.

 

 

“Aku juga sangat berterima kasih padamu, Surin-a. Walaupun sedari tadi aku dan Baekhyun hanya bertengkar, aku bersyukur perang dingin yang sempat terjadi diantara kita belakangan ini akhirnya selesai juga dan aku dapat kembali memarahinya sepuasku. Hahahha.” Jimi tertawa membuat Surin dan Taerin turut tertawa, menanggapi. Sama seperti Junmyeon, Surin tahu Baekhyun masih mempunyai kesempatan untuk meluruskan hal ini. Buktinya saja walaupun Jimi sedari tadi marah-marah padanya, wanita yang sedang mengandung anak seorang Byun Baekhyun itu senang karena perang dingin yang sempat meliputi mereka akhirnya berakhir. Surin benar-benar senang mendengar hal tersebut.

 

 

“Pada dasarnya, kalian berdua hanya perlu waktu bicara pada suami kalian masing-masing dan meluruskan hal ini semua. Aku yakin mereka pun sudah tidak tahan dengan keadaan hubungan kalian yang seperti ini.” Ujar Surin seraya tersenyum melihat kedua sahabatnya itu tampak merenungkan ucapannya. “Nah, sekarang kuku-kuku kita sudah cantik. Waktunya perawatan rambut! Aku benar-benar sudah lama tidak melakukan hal yang dulu sering kita lakukan ini.” Surin berseru gembira lalu tertawa bersama kedua sahabatnya yang paling ia sayangi itu.

 

 

Perawatan rambut tersebut pun berlangsung seru dan tanpa mereka sadari, mereka sudah tiba pada tahap akhir yaitu hanya tinggal sentuhan akhir pada rambut mereka. Surin memilih untuk membuat bentuk gelombang-gelombang kecil pada bagian bawah rambutnya sementara Taerin dan Jimi lebih memilih untuk membuat rambut mereka lurus seperti biasa.

 

 

“Woah, lihatlah ibu-ibu hamil yang masih memperhatikan kecantikan mereka ini. Bagaimana? Apa kau menikmati perawatanmu?” Baekhyun menghampiri Jimi lalu berdiri tepat di samping kursi tempat Jimi duduk. “Tentu saja. Aku juga merasa jadi lebih baik.” Tanggap Jimi sementara Baekhyun hanya terkekeh sambil terus memperhatikan Jimi dengan senyuman yang seakan tidak mau luntur dari wajahnya.

 

 

“Mengapa kau melihatku seperti itu? Apa jangan-jangan karena handuk yang ada dibahuku ini berwarna pink?” Jimi mencubit lengan Baekhyun membuat laki-laki itu hanya mengaduh kesakitan. “Mengapa kau selalu berpikiran negatif begitu, sih? Aku melihatmu seperti itu karena kau tampak semakin cantik sekarang. Ku ulangi, kau tampak semakin cantik sekarang.” Baekhyun tertawa sambil menyolek lengan Jimi berkali-kali dengan tatapan jahil ketika mengetahui bahwa wanita itu kini berusaha menahan senyumannya.

 

 

“Kau sendiri bagaimana, Taerin-a? Apa sudah merasa baikan juga seperti Jimi?” Junmyeon yang kini tersenyum sambil berdiri disebelah pegawai yang masih sibuk dengan rambut Taerin itu berujar sementara Taerin hanya meliriknya dari kaca. “Ya, sedikit.” Tanggap Taerin seperti masih kesal. “Aku bawakan green tea latte favoritmu. Semoga jadi merasa lebih baik lagi setelah meminum ini.” Junmyeon menyodorkan satu cup green tea latte yang tengah dipegangnya pada Taerin yang langsung menerimanya. Seketika Taerin tersenyum sambil menatap green tea latte tersebut. Setidaknya Taerin jadi tahu bahwa sedari tadi Junmyeon memikirkannya sampai-sampai ia membelikan green tea latte ini yang bagi Taerin adalah sebuah ucapan permintaan maaf laki-laki itu. Seketika mood-nya benar-benar merasa jauh lebih baik.

 

 

Sehun dan Surin yang melihat hal tersebut hanya tersenyum satu sama lain. Surin yakin Sehun pasti sudah menceramahi Baekhyun dan Junmyeon habis-habisan sampai kedua laki-laki itu dapat menghadapi Jimi dan Taerin dengan kepala dingin. “Untuk acara penutup, bagaimana kalau kita karaoke saja?” Sehun berujar dan yang lain langsung menyetujui ide tersebut dengan seruan senang. Sehun segera mengetikan sesuatu pada layar ponselnya dan seketika ponsel Surin bergetar, menampilkan sebuah pesan masuk yang ternyata dari Sehun. Surin melirik Sehun dari kaca rias yang ada dihadapannya sementara Sehun sudah tersenyum sambil menatapnya lebih dulu dari kaca tersebut.

 

 

From : Hun

 

 

Aku terpaksa membocorkan rencana kita pada Baekhyun dan Junmyeon agar nanti mereka dapat menggunakan kesempatan mereka dengan sebaik-baiknya. Bersiaplah, saat di karaoke nanti, kita harus segera melaksanakan tugas kita dan menyelesaikan ini semua agar kita dapat berkencan berdua dan terbebas dari kedua pasangan itu secepatnya! Hahahaha.

 

 

**

 

 

“Byun Baekhyun, aku tidak ingin lagu yang itu! Aku ingin yang ini!”

 

 

Selama hampir tiga puluh menit mereka menikmati karaoke mereka, ucapan Jimi yang barusan sudah mereka dengar terhitung hampir lima puluh kali. Kali ini Baekhyun terlihat tidak mau mengalah. Ia terus bernyanyi sementara Jimi sibuk ingin merebut microphone yang tengah dipegang Baekhyun. Untuk kesekian kalinya, Sehun dan Surin hanya dapat bertatapan satu sama lain sambil menggelengkan kepala mereka bersamaan. Pasalnya, baru beberapa menit yang lalu mereka tampak akur, sekarang Jimi bahkan sudah bersiap ingin melempar Baekhyun dengan remot kontrol yang tengah digenggamnya membuat Sehun dan Surin benar-benar tidak habis pikir.

 

 

“Taerin-a, aku harus keluar sebentar. Ada telepon lagi dari ayahku dan sepertinya ini benar-benar jauh lebih penting dari yang tadi.” Junmyeon berujar sementara Taerin hanya menatapnya dalam diam untuk beberapa saat. “Maaf.” Ujar Junmyeon lalu berjalan keluar ruang karaoke tersebut. Sehun dan Surin yang juga melihat kejadian itu hanya menghela napas panjang. “Aku akan bicara padanya.” Sehun berujar lalu segera keluar dari ruang karaoke tersebut, bermaksud untuk menghampiri Junmyeon.

 

 

Baru saja Surin ingin menghibur Taerin dengan mengajaknya bernyanyi bersama Baekhyun, tiba-tiba saja ponselnya bergetar menandai adanya sebuah pesan masuk yang ternyata adalah dari Sehun.

 

 

From : Hun

 

 

Yang tadi itu hanya skenario. Junmyeon tidak mendapatkan panggilan masuk dari siapapun. Sekarang aku dan dia sudah ada di bioskop lantai atas. Cepat kau bawa Taerin kemari dan tinggalkan saja Baekhyun dan Jimi disana agar Baekhyun juga dapat segera melaksanakan tugasnya. Tenang saja, Baekhyun juga sudah mengetahui hal ini.

 

 

Surin menatap layar ponselnya dengan tidak percaya dan langsung melirik Taerin yang masih terlihat lesu. Ia juga melirik Baekhyun dan Jimi yang sekarang masih berebutan microphone. Kepalanya benar-benar serasa ingin pecah memikirkan bagaimana membawa Taerin keluar dari tempat tersebut dan menyediakan ruang bicara untuk Baekhyun dan Jimi.

 

 

“Ya, Byun Baekhyun, Park Jimi!” Panggil Surin dengan suara keras, bermaksud untuk melawan suara nyanyian Baekhyun yang jauh lebih keras dari suaranya. “Ada apa Surin-a?” Jimi berujar melalui microphone yang ada di tangan Baekhyun membuat laki-laki itu langsung berhenti bernyanyi dan menoleh ke arah Surin. “Aku haus. Aku akan keluar untuk membeli minuman bersama Taerin. Apa kalian ingin menitip sesuatu?” Tanyanya sambil mengirim sinyal pada Baekhyun melalui tatapan matanya yang langsung Baekhyun mengerti.

 

 

“Kalian bisa memanggil pegawai karaoke-nya saja tanpa harus—”

 

 

“Aku juga ingin ke toilet!” Sahut Surin cepat, memotong pembicaraan Jimi barusan membuat wanita itu hanya mengangguk-angguk mengerti. “Kalian jangan bertengkar, ya selagi kami ke luar.” Surin mengingatkan sekaligus ingin memberi sinyal lainnya pada Baekhyun yang Surin tahu dapat langsung laki-laki itu mengerti. “Sedari tadi kita bahkan sudah bertengkar.” Timpal Jimi lalu ia menempatkan dirinya pada sofa yang tepat berada dibelakangnya, diikuti Baekhyun yang juga duduk disebelahnya tanpa berbicara sepatah kata pun. “Baiklah kalau begitu, aku tinggal dulu.” Surin segera menarik Taerin keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Baekhyun dan Jimi yang tiba-tiba diselimuti keheningan.

 

 

“Park Jimi yang kini sudah berubah menjadi Byun Jimi dan akan melahirkan Byun-byun yang lainnya, ada sesuatu yang ingin dan harus segera aku luruskan padamu agar kau tidak salah paham terus dan akhirnya menyiksa dirimu sendiri dengan marah-marah padaku.”

 

 

**

 

 

“Kita benar-benar harus memberikan waktu untuk mereka berdua agar mereka dapat segera menyelesaikan masalah mereka.” Jelas Surin yang kini masih berjalan berdampingan dengan Taerin. Mereka menaiki eskalator, membuat Taerin yang masih tidak mengerti dengan semua kejadian ini hanya bertanya-tanya dalam hati.

 

 

“Jadi kita keluar untuk memberikan mereka waktu agar mereka dapat bicara berdua, begitu? Tapi, bagaimana kalau nanti Junmyeon dan Sehun malah kembali kesana dan mencari kita?” Tanya Taerin sementara Surin langsung tersenyum senang. “Sehun tadi menghubungiku, ia berkata sekarang ia dan Junmyeon sedang menunggu kita di bioskop lantai atas.” Tanggap Surin masih dengan senyuman senangnya. Taerin hanya mengangguk-angguk, meskipun ia belum sepenuhnya mengerti dengan apa yang terjadi.

 

 

Setelah kurang dari sepuluh menit, Surin dan Taerin sudah sampai pada bioskop yang dimaksud Sehun. “Surin-a!” Sehun yang langsung menemukan sosok Surin itupun segera menghampirinya dengan Junmyeon yang berada disebelahnya. Laki-laki itu sudah membawa popcorn berukuran besar dan dua cup cola yang berukuran sedang. “Kalian berhasil meninggalkan Baekhyun dan Jimi disana? Bagus sekali.” Sehun segera merangkul Surin sementara Junmyeon hanya tersenyum canggung pada Taerin yang sepertinya masih terlihat marah itu.

 

 

“Taerin-a, kau masuk duluan saja. Tiketnya sudah ada pada suamimu yang tampan itu. Aku dan Surin ingin membeli beberapa camilan dulu.” Sehun mendorong lengan Taerin dengan sikutnya membuat Taerin spontan terdorong menjadi lebih dekat pada Junmyeon yang lagi-lagi hanya dapat tersenyum canggung. “Tiketnya ada disaku celana panjangku ini. Bisa tolong ambilkan?” Junmyeon berujar seraya melirik tangannya yang penuh, membuat Taerin hanya menghela napas.

 

 

Taerin menarik saku depan celana panjang Junmyeon, bermaksud membuat Junmyeon untuk berdiri lebih dekat padanya agar dapat memudahkannya mengambil tiket tersebut. Taerin mulai mengambil tiket tersebut pada saku celana panjang Junmyeon membuat Sehun dan Surin yang melihat hal itu langsung tertawa terbahak. “Astaga, kalian berdua sadarlah. Kalian masih ada di tempat umum!” Omel Surin dan Taerin seakan baru sadar akan apa yang telah dilakukannya barusan. “Aish, kau memang menyebalkan Kim Junmyeon.” Ujarnya lalu berjalan mendahului Junmyeon yang kini langsung membuntutinya masuk ke dalam studio tempat mereka akan menonton film.

 

 

“Sampai jumpa! Nikmati waktu kalian, ya!” Seru Surin dengan antusias ketika Taerin dan Junmyeon sudah benar-benar menghilang dari pandangannya dan Sehun. “Jadi, ini waktunya kita menikmati kencan kita berdua yang sungguhan?” Sehun berujar seraya tersenyum ke arah Surin yang kini hanya menyikut perutnya pelan. “Memangnya kita hanya berdua? Kita kan sedang bertiga.” Surin mendengus sementara Sehun menepuk dahinya sendiri. “Kalau begitu, haruskah sekarang kita menikmati triple date kita yang sungguhan?” Ujar Sehun seraya mengacak rambut Surin membuat Surin langsung mengangguk sambil tersenyum senang.

 

 

Surin yakin seratus persen rencananya dan Sehun kali ini berjalan dengan lancar. Ia benar-benar tidak sabar melihat kedua pasangan yang tadinya seperti anjing dan kucing itu berubah menjadi seperti dua kura-kura yang sedang jatuh cinta.

 

 

**

 

 

“Baiklah, lebih baik sekarang kau jujur padaku. Apa yang membuatmu menjadi lebih sering marah-marah padaku belakangan ini? Apa aku telah berbuat kesalahan?”

 

 

Jimi terdiam seraya menatap Baekhyun yang kini juga tengah menatapnya lurus-lurus. Laki-laki yang biasanya lebih banyak bercanda itu kini terlihat benar-benar serius membuat otak Jimi seketika membeku. Jika ditelusuri kembali, Baekhyun memang tidak pernah melakukan kesalahan apapun pada Jimi. Semakin hari, Baekhyun malah semakin perhatian pada Jimi mengingat kandungan Jimi yang semakin membesar. Namun setiap kali Baekhyun akan melakukan hal tersebut justru Jimi malah seakan menolaknya mentah-mentah dengan terus mencari-cari kesalahan laki-laki itu dan memarahinya. Seharusnya dari dulu Baekhyun marah padanya karena sikap tidak jelasnya ini, namun Baekhyun malah tetap setia menanggapi dan bersabar akan semua omelan-omelan tidak jelas yang dilontarkan Jimi untuknya setiap hari.

 

 

“Aku juga tidak tahu. Mungkin hobi baru.” Tanggap Jimi seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Baekhyun yang sudah benar-benar tidak sabar segera menarik kedua tangan Jimi lalu menggenggamnya, membuat pandangan Jimi kembali terkunci pada pandangan mata milik seorang Byun Baekhyun. “Baiklah.” Jimi menghela napasnya sementara Baekhyun masih menatapnya dengan sangat serius. “Aku seperti ini karena aku cemburu.” Ungkapnya lalu sedetik kemudian Baekhyun memutar kedua bola matanya. Ternyata perkataan Sehun benar. Jimi cemburu pada mantan kekasih Baekhyun yang pindah rumah tepat ke sebelah rumah mereka.

 

 

“Apa yang kau cemburui? Cerita itu hanyalah cerita masalalu. Yang aku punya sekarang adalah kau. Masa depanku dan cerita baru hidupku.” Baekhyun bertutur membuat tatapan Jimi seketika melembut. Baekhyun segera merengkuh Jimi ke dalam pelukannya lalu mengelus rambutnya dengan perlahan. “Aku hanya takut kalau sewaktu-waktu kau akan goyah. Itu saja.” Jimi membalas pelukan laki-laki itu membuat senyum kecil seketika mengembang diwajah Baekhyun.

 

 

“Dari ujung rambut sampai ujung kaki, aku ini sekarang sudah berlabelkan namamu. Tidak akan ada yang dapat menghapus label tersebut. Aku bahkan sudah berjanji mengenai hal ini saat kita mengucapkan janji pernikahan. Janji untuk tetap setia dalam keadaan yang seperti apapun. Aku ingin mulai sekarang kau percaya padaku dan peganglah janjiku itu erat-erat.”

 

 

Jimi mendongak, menatap Baekhyun dengan mata yang berkaca-kaca. “Aku tahu aku sudah sangat kekanakan belakangan ini. Byun Baekhyun, maafkan istrimu yang cantik ini ya.” Ujar Jimi membuat Baekhyun tertawa lalu segera melayangkan sebuah sentilan pelan pada dahi Jimi. Jimi baru saja akan membalas namun ia langsung mengurungkan niatnya dan malah mengeratkan pelukannya pada Baekhyun. “Mulai sekarang setiap aku marah padamu, aku akan memelukmu seperti ini.” Jimi tertawa kecil sementara Baekhyun sudah terbahak karenanya.

 

 

“Kau yakin? Gaya marahmu sekarang berubah menjadi seperti ini? Kalau begitu aku harus sering-sering membuatmu marah.” Jimi langsung mencubit perut Baekhyun membuat laki-laki itu langsung mengaduh kesakitan. “Maksudmu ingin membuatku marah itu apa? Kau mau pergi ke rumah wanita itu dan bermalam disana, begitu?!” Jimi berujar sarkastik membuat Baekhyun tertawa terbahak-bahak. Baekhyun tidak sadar bahwa ia sangat menyukai sifat cemburuan Jimi yang baginya sangat lucu itu.

 

 

“Sekalipun penghuni rumah disebelah rumah kita itu adalah Angelina Jolie atau siapapun lah model-model cantik kesukaan Oh Sehun yang selalu berhasil membuat Surin ingin menimpuk laki-laki itu dengan panci, aku tidak akan berpaling dari seorang Park Jimi yang sekarang sudah berubah menjadi Byun Jimi dan akan melahirkan Byun-byun yang lainnya.” Jimi menahan senyumannya membuat Baekhyun semakin gemas. Baekhyun segera mengecup bibir gadis itu cepat lalu dengan buru-buru ia segera mengambil microphone yang ada dihadapannya dan mulai bernyanyi sesuai dengan lirik yang ada pada televisi dihadapannya, bertingkah seolah barusan tidak terjadi apa-apa padahal Jimi sudah hampir meledak karena debaran jantungnya yang seketika meningkat drastis akibat kecupan singkat Byun Baekhyun yang terasa seperti rasa selai strawberry kesukaannya.

 

 

“Jimi-ya, aku menyayangimu!” Baekhyun berseru pada microphonenya dan seketika suara nyaring dengan volume yang luar biasa besar memenuhi ruangan karaoke tersebut membuat Jimi terbahak seraya melayangkan pukulan pelannya pada Baekhyun yang kini sibuk menghindar dengan tawa jahilnya.

 

 

Jimi juga menyayanginya dan Baekhyun tahu akan hal itu. Sangat mengetahuinya.

 

 

**

 

 

Taerin benar-benar mengutuk Sehun dan Surin yang tidak kunjung memunculkan dirinya padahal film sudah berjalan selama setengah jam. Ia baru sadar bahwa rencana yang dipakai Surin untuk Baekhyun dan Jimi juga dipraktekan padanya dan Junmyeon. Taerin melirik Junmyeon yang kini tampak tenang. Laki-laki itu benar-benar tidak bersuara, membuat Taerin semakin kikuk dan salah tingkah. Berkali-kali tangan mereka tidak sengaja bersentuhan saat akan mengambil popcorn yang berada di tengah-tengah mereka, membuat suasana canggung tersebut semakin menjadi-jadi. Bahkan sekarang Taerin jadi merasa seperti orang yang baru pertama kali berkencan karena suasana canggung yang melingkupi mereka.

 

 

Taerin menangkap Junmyeon mengeluarkan ponselnya dan mulai asik mengetikan sesuatu pada layar sentuh ponselnya membuat Taerin hanya mendengus pelan. Laki-laki itu seperti benar-benar tidak ada inisiatif untuk mengajaknya mengobrol. Ia masih saja terus berkutat pada ponselnya yang Taerin tahu pasti adalah mengenai urusan-urusan kantor dan sebagainya yang katanya harus selalu segera diselesaikan itu. Taerin pun memutuskan untuk juga mengeluarkan ponselnya, berharap Junmyeon pun sakit hati seperti apa yang dirasakannya saat ini. Taerin berharap Junmyeon pun akan sakit hati karena melihat pasangannya malah sibuk dengan ponselnya ketika mereka sedang menonton sebuah film bersama di bioskop. Tiba-tiba ponsel yang baru saja dikeluarkan Taerin dari dalam tasnya itu bergetar, memunculkan sebuah pemberitahuan bahwa ada sebuah pesan singkat yang masuk. Taerin langsung menoleh ke arah Junmyeon dengan cepat ketika ia membaca nama sang pengirim pesan yang ternyata adalah Junmyeon.

 

 

From : Junmyeon

 

 

Sebenarnya ada banyak hal yang ingin aku bicarakan padamu namun aku tidak mau mengganggu konsentrasi penonton yang lain. Sepertinya Sehun salah memilihkan tempat bicara untuk kita. Untuk sekarang ini, apa tidak apa-apa jika bicara melalui pesan singkat seperti ini?

 

 

Junmyeon menggigit bibir bagian bawahnya sambil melirik Taerin yang masih membaca pesan singkatnya. Walaupun dalam hati Junmyeon merasa bodoh karena telah menuruti ide Sehun untuk membawa Taerin ke bioskop padahal niatnya adalah membicarakan masalah mereka yang tentu tidak bisa dilakukan di bioskop, Junmyeon tetap merasa bersyukur karena akhirnya ia dapat menikmati waktu berduanya dengan Taerin. Sedari tadi Junmyeon benar-benar berusaha mencari akal agar dapat segera berbicara pada Taerin, dan akhirnya otaknya memberikan ide yang tidak terlalu buruk juga. Sekarang Junmyeon hanya berharap agar Taerin dapat segera membalas pesan singkatnya barusan. Baru saja Junmyeon berharap demikian, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.

 

 

From : Taerin

 

 

Memangnya hal seperti apa yang kau ingin bicarakan padaku? Mengenai urusan pekerjaanmu? Maaf, film ini terlalu bagus untuk dilewatkan hanya karena membahas masalah pekerjaanmu yang rumit dan seakan tidak pernah berakhir itu.

 

 

Taerin mengambil popcorn yang berada di tengah-tengah mereka dan segera memakannya sementara Junmyeon hanya menatapnya dengan tatapan pasrah sambil menuliskan pesan balasan untuk wanita kesayangannya itu. Setelah Junmyeon menekan tombol ‘send’, ponsel Taerin bergetar. Taerin tampak menghela napas pelan namun tetap membuka pesan dari Junmyeon itu.

 

 

From : Junmyeon

 

 

Aku tahu aku sudah salah. Sangat salah. Aku malah mengurusi urusan-urusan pekerjaanku ketika seharusnya hari ini aku menemanimu untuk menikmati harimu. Tidak hanya hari ini saja, selama ini aku juga seakan tidak punya waktu untukmu dengan terus lembur dan berangkat lebih pagi ke kantor. Aku sendiri juga tidak ingin seperti ini. Aku sendiri juga tidak ingin terus-terusan melewatkan sarapan dan makan malam buatanmu. Aku sendiri juga tidak ingin pergi kerja tanpa pelukan darimu. Aku sendiri juga tidak ingin setiap pulang kerja aku menemukan kau sudah terlelap lebih dulu. Aku benar-benar tidak ingin membuatmu merasa sendirian. Aku sendiri tidak ingin seperti ini, namun aku melakukan hal ini untuk kita. Untuk calon anak kita. Aku ingin meminta maaf. Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu dan ku harap kau tahu akan hal tersebut, Taerin-a.

 

 

Taerin terpaku pada layar ponselnya yang masih menampilkan pesan dari Junmyeon. Rasanya ia benar-benar ingin menangis membaca kata per kata yang Junmyeon tuliskan disana. Taerin merasa selama ini ia telah egois. Ia bahkan tidak pernah bertanya apakah Junmyeon senang melakukan hal itu atau tidak. Yang Taerin pikirkan selama ini hanyalah keinginan dirinya saja. Taerin merasa bodoh karena malah mendiamkan Junmyeon selama ini. Taerin segera mengetikan pesan balasan dan setelah itu Junmyeon langsung menerima pesan dari Taerin.

 

 

From : Taerin

 

 

Maaf karena selama ini aku hanya memikirkan keegoisan diriku saja. Aku ingin kau terus bersamaku, menemaniku siang dan malam padahal keadaan yang kau sendiri tidak kehendaki itu tidak dapat kau tolak dan abaikan begitu saja. Aku juga merindukanmu. Sangat merindukanmu.

 

 

Junmyeon tersenyum lembut seraya mengetikan sesuatu pada layar ponselnya. Taerin yang masih memandangi ponselnya tanpa ekspresi itu pun segera membuka pesan yang baru sampai pada ponselnya. Taerin segera menatap Junmyeon yang sudah sedari tadi menatapnya lebih dulu. Senyuman pada wajah Junmyeon berhasil membuat Taerin membentuk lengkungan serupa pada wajahnya. Junmyeon segera menggenggam tangan Taerin dengan erat. Laki-laki itu pun mengecup punggung tangan Taerin lalu mengelusnya. Junmyeon mendekatkan kepalanya pada telinga Taerin lalu membisikan sebuah kata yang berhasil membuat Taerin tidak dapat lagi menyembunyikan kebahagiaannya. “Aku mencintaimu.”

 

 

Senyuman Taerin terus mengembang seakan tidak mau hilang begitu saja dari wajahnya. Ia membaca pesan Junmyeon sekali lagi lalu setelah itu, Taerin menyandarkan kepalanya pada bahu Junmyeon yang langsung meletakan kepalanya pada puncak kepala Taerin seraya mengecupnya pelan.

 

 

From : Junmyeon

 

 

Kau tidak egois, aku memang harus mengurangi beberapa jadwalku mengingat istriku yang cantik dan tengah mengandung ini lebih penting dari apapun. Mulai besok, tidak ada lagi tidak sarapan sebelum berangkat kerja, tidak ada lagi tidak makan malam dirumah, dan tidak ada lagi Taerin yang terlelap sendiri sambil memeluk boneka kesayangannya. Mulai besok, aku yang akan mengambil alih peran boneka kesayanganmu itu. Aku menyayangimu, Kim Taerin.

 

 

**

 

 

“Kalau bukan karena kau yang sedang mengidam, aku tidak akan mau memakan ice cream ditengah-tengah musim dingin seperti ini. Lihatlah, bahkan hanya kita berdua yang berada di toko ice cream ini.”

 

 

Sehun memprotes Surin namun tetap melahap ice cream yang berada di sebuah satu bucket berukuran cukup besar bersama dengan Surin yang juga tidak mau kalah. “Kau ini terlalu berlebihan. Jelas-jelas kita memakan ice cream ini di dalam ruangan bukannya diluar sana. Jadi, apa masalahnya memakan ice cream disaat musim dingin seperti ini?” Surin menunjuk ke arah luar jendela besar yang berada disampingnya membuat Sehun langsung mengalihkan pandangannya pada jendela tersebut. Dari lantai dua tempatnya sekarang ini, Sehun dan Surin dapat menyaksikan pemandangan lalu lintas yang ramai seolah kendaraan satu dan yang lainnya saling tidak mau mengalah. Salju yang turun dengan tenang pun tampak menghujani kendaraan-kendaraan itu membuat Sehun dan Surin betah memandangi pemandangan tersebut.

 

 

“Benar juga. Tapi sekalipun kita memakan ice cream ini diluar sana, aku yakin kita tidak akan merasa kedinginan.” Sehun tersenyum seraya meraih satu tangan Surin dan langsung menggenggamnya erat-erat. “Karena musim dingin yang sangat dingin itu tidak ada apa-apanya dengan hangatnya genggaman tangan kita ini. Iya, kan?” Sehun tertawa setelah bertutur demikian membuat Surin juga segera melontarkan tawa spontannya. “Kau ini memang perayu handal, ya. Padahal kenyataannya, kita akan benar-benar membeku jika memakan ice cream ini diluar sana.” Sehun meletakan dagunya pada satu tangannya, lalu terus memandangi Surin dengan senyumannya yang membuat Surin ingin menimpuknya dengan bucket ice cream yang ada dihadapan mereka sekarang juga.

 

 

Rasanya Sehun sendiri juga benar-benar tidak ingin mengalihkan pandangannya dari sosok Surin yang ada dihadapannya kini. Wanita yang semakin hari semakin bertambah gemuk karena kandungannya yang semakin hari semakin membesar itu tampak sangat menggemaskan bagi Sehun apalagi sekarang, ketika Surin tengah berusaha menghindari tatapan Sehun dengan senyumannya yang ditahan-tahan. Tiba-tiba Sehun merasa ingin menggodanya. Biasanya, Surin akan sangat salah tingkah jika Sehun melakukan adegan-adegan romantis yang dilakukan pemeran utama laki-laki di drama-drama pada pemeran utama perempuannya. Sehun baru saja akan menyentuh ujung bibir Surin dan berpura-pura menghapus bekas ice cream yang berada disana, namun tiba-tiba ponselnya berdering nyaring membuat perhatiannya langsung mengarah sepenuhnya pada layar ponsel yang tengah menampilkan nama ‘Junmyeon’ itu.

 

 

“Ya, Oh Sehun! Taerin! Taerin!!” Sehun mempertajam pendengarannya sekaligus langsung menautkan kedua alisnya secara spontan. “Ada apa dengan Taerin? Kalian tidak berkelahi di bioskop atau semacamnya, kan?” Sehun berujar seraya menegakan tubuhnya, menunggu jawaban Junmyeon dari seberang sana.

 

 

“Aku sedang dalam perjalanan menuju Sejong Hospital sekarang dibantu oleh beberapa penjaga keamanan bioskop!” Junmyeon berujar dengan suara panik membuat Sehun langsung membelakan kedua matanya dengan seketika. “Ada apa dengan Taerin?!” Seru Sehun sementara suara berisik seperti orang yang tengah berteriak-teriak terus saja mengusik telinga Sehun, membuat laki-laki itu menjadi ikutan panik.

 

 

“Taerin mengalami kontraksi!”

 

 

“Apa?! Baiklah aku akan segera menyusul kalian kesana!” Sehun segera memutus sambungan teleponnya dan langsung menatap Surin dengan panik sementara Surin sudah sedari tadi tidak bisa tenang kala Sehun berbicara dengan Junmyeon beberapa menit yang lalu. “Kita harus segera ke Sejong Hospital. Taerin mengalami kontraksi!” Seru Sehun seraya membantu Surin untuk bangkit dari tempat duduknya. Baru saja mereka akan bergegas dari toko ice cream tersebut tiba-tiba ponsel Surin berdering nyaring membuat Surin tanpa berpikir panjang segera mengangkat panggilan masuk tersebut.

 

 

“Surin-a! Mengapa ponsel Sehun sedari tadi tidak bisa dihubungi?! Gawat! Ini benar-benar gawat!” Suara Baekhyun menggema ditelinga Surin membuat Surin yang panik bertambah semakin panik. “Ya, Byun Baekhyun, tenang dulu. Sebenarnya ada apa?” Tanya Surin seraya mengatur napasnya. “Jimi! Kurasa Jimi sebentar lagi akan melahirkan!” Baekhyun berteriak panik membuat jantung Surin saat itu seakan ingin lepas dari tempatnya. “Apa?! Jadi Jimi juga mengalami kontraksi?! Baiklah, kau tenang dulu. Sekarang, segera bawa dia ke Sejong Hospital karena aku dan Sehun akan menuju kesana. Taerin mengalami hal yang sama dengan Jimi!” Surin berseru dengan suara panik sambil meremas lengan Sehun yang tengah dipeluknya. Sehun pun tampak frustasi ketika mendengar ucapan Surin barusan.

 

 

“Baiklah, aku segera menuju kesana! Beberapa pegawai karaoke sekarang sudah membantuku membawa Jimi ke mobil jadi kalian duluan saja!” Seru Baekhyun lalu panggilan terputus begitu saja. Surin segera menatap Sehun dengan khawatir.

 

 

“Baiklah, satu Kim yang baru dan satu Byun yang baru akan lahir malam ini. Kita harus buru-buru!” Sehun segera menggengam tangan Surin yang berada dilengan kanannya seraya berjalan secepat yang mereka bisa menuju parkiran.

 

 

Seketika Surin berpikir bahwa mungkin saja jika saat ini umur kandungannya sudah sembilan bulan juga, ia akan mengalami hal yang sama dengan dua sahabatnya itu. Entah ini kebetulan atau apa, Surin benar-benar tidak mengerti. Terlalu banyak hal yang terjadi dalam satu hari ini.

 

 

Surin rasa bulan depan, tepatnya ketika umur kandungannya yang sudah menginjak umur terakhir, Surin tidak ingin terlalu sering jalan-jalan keluar dulu.

 

 

**

 

 

“Kami sangat senang anak kalian berdua sehat. Selamat untuk para ayah yang hebat ini.” Sehun berujar seraya memeluk Junmyeon dan Baekhyun bergantian. Mereka berdua tampak lelah namun tidak kunjung berhenti memandangi anak mereka yang baru lahir itu dari luar ruangan tempat meletakan inkubator. Sehun benar-benar mengerti perasaan kedua ayah baru itu sehingga ia hanya tersenyum sambil terus menepuk-nepuk bahu mereka berdua. Jam tangan yang digunakan Sehun bahkan sudah menunjukan pukul tiga pagi namun betapa kagumnya ia karena sedari tadi keluarga dari pihak Junmyeon dan Taerin maupun Baekhyun dan Jimi sudah mulai banyak yang berdatangan ke rumah sakit untuk memberikan selamat dan menjenguk kedua ibu dan kedua bayi yang lahir pada jam dan hari yang bersamaan itu.

 

 

“Halo, Kim Taejun dan Byun Baekji! Kalian berdua harus saling akur ya jika sudah besar nanti.” Surin berujar seraya meletakan tangannya pada kaca luar ruangan khusus untuk meletakan inkubator itu. Dari kaca yang tidak terlalu besar itu, Surin dapat melihat bayi dari pasangan Junmyeon dan Taerin serta Baekhyun dan Jimi yang baru lahir dua jam yang lalu itu di dalam inkubator yang diletakan bersampingan.

 

 

“Tentu saja mereka harus akur. Mereka lahir pada jam dan hari yang sama. Pasti nantinya mereka berdua akan menjadi teman yang lucu.” Komentar Sehun dan tawa langsung melingkupi mereka. “Pasti lucu sekali kan kalau mereka dijodohkan seperti yang ada di drama-drama.” Surin menambahi membuat tawa semakin menjadi-jadi.

 

 

“Bagaimanapun, aku ingin berterima kasih pada kalian berdua. Aku tidak menyangka prediksi dokter yang mengatakan bahwa Taerin akan melahirkan satu minggu lagi benar-benar meleset. Kalau saja kau tidak mengajakku dan Taerin untuk melakukan ‘triple date’ itu hari ini, maka mungkin saja aku tidak bisa menemani Taerin dari awal ia kontraksi sampai melahirkan seperti sekarang ini, karena sudah pasti aku masih ada di kantor dengan setumpuk pekerjaan yang tidak ada habisnya itu. Sekali lagi, terima kasih Sehun-a. Surin-a. Aku doakan yang terbaik untuk calon anak kalian.” Junmyeon menepuk bahu Sehun dan tersenyum senang pada Surin yang langsung membalasnya.

 

 

“Aku juga. Aku ingin berterima kasih pada kalian. Kalau saja tidak ada ‘triple date’ itu, mungkin saja Jimi tidak memperbolehkanku masuk untuk menemaninya melewati proses persalinan karena emosinya yang masih naik turun. Tapi sekarang, aku benar-benar senang karena semua sudah kembali seperti semula dan bahkan jauh lebih baik. Sehun-a, kau harus menjaga Surin yang akan melahirkan bulan depan ini dengan baik-baik.” Ujar Baekhyun seraya menepuk-nepuk punggung Sehun yang langsung mengangguk pasti.

 

 

“Kalian berdua tidak perlu sampai seperti itu. Kami benar-benar senang dapat membantu kalian. Sekali lagi, selamat ya!” Surin bertutur membuat Baekhyun dan Junmyeon langsung mengangguk sambil tersenyum. “Kalau begitu, aku harus kembali dulu ke kamar rawat Jimi. Kalian berdua, hati-hatilah di jalan pulang. Dan kau, Junmyeon-a, selamat untuk kelahiran anakmu. Jika kau mau menjodohkan anakmu dengan anakku seperti apa yang dikatakan Surin, kita dapat bicarakan itu saat mereka sudah besar nanti.” Baekhyun tertawa membuat yang lain juga langsung tertawa bersamanya.

 

 

“Aku juga harus segera kembali ke kamar rawat Taerin. Banyak keluargaku yang sudah datang dan ingin segera menemui Taejun. Baekhyun-a, selamat juga untuk kelahiran Byun Baekji. Semoga saja sifat berisikmu dan Jimi ia warisi agar nantinya Taejun dapat merasakan rasanya berada diposisiku selama ini.” Ujar Junmyeon membuat tawa semakin terdengar nyaring. “Kalau begitu, aku duluan. Kalian berhati-hatilah di jalan.” Sehun dan Surin langsung mempersilahkan Junmyeon yang tidak lama setelah itu diikuti dengan Baekhyun. Baekhyun dan Junmyeon berjalan berdampingan membuat Sehun dan Surin hanya menatap punggung mereka yang semakin menjauh itu dengan sebuah senyuman senang.

 

 

“Surin-a, aku jadi tidak sabar untuk cepat-cepat ke bulan depan.” Sehun merangkul bahu Surin dengan erat seraya mengelusnya sementara Surin hanya tersenyum sambil mendongak untuk menatapnya. “Bulan depan aku akan punya dua jenis Oh Sehun.” Ujar Surin membuat Sehun tertawa kecil. “Dan aku benar-benar tidak sabar melihatmu kewalahan menghadapi dua jenis Oh Sehun-mu itu, Surin-a.” Sehun segera memeluk Surin seraya mengecup puncak kepala wanitanya itu dengan sayang.

 

 

Sehun benar-benar tidak sabar untuk menemui separuh dirinya dan separuh diri Surin yang akan lahir bulan depan itu. Memikirkannya saja sudah mampu membuat Sehun merasa sangat bersyukur dan bahagia.

 

 

**

 

 

“Oh astaga aku benar-benar bahagia untukmu dan Sehun, Surin-a! Bayi laki-laki kalian benar-benar tampan, ya. Halo, Oh Rei. Kenalkan, aku adalah ibu dari Byun Baekji yang nantinya akan jadi ‘nuna’-mu.” Jimi memegang bahu Surin yang sekarang terbaring di kasur rumah sakit itu seraya mengucapkan ‘halo’ pada bayi laki-laki yang kini berada dipelukan Surin. “Terima kasih karena kalian sudah datang, ya.” Ujar Sehun sambil tersenyum pada keempat teman dekatnya itu. Tangan Sehun masih menggengam tangan Surin dengan sangat erat membuat Jimi yang melihatnya menjadi semakin gemas dengan keluarga kecil yang berada dihadapannya kini. Jimi bahkan sampai harus meremas ujung baju Baekhyun ketika melihat Sehun yang tengah duduk disebuah kursi di dekat kasur Surin itu mengecup bayi laki-laki bernama lengkap Oh Rei yang kini berada dipelukan Surin. Sehun benar-benar tampak bahagia begitupun dengan Surin.

 

 

“Benar kata Jimi, bayi kalian tampan sekali. Bahkan aku sudah dapat melihat ketampanannya meskipun ia baru lahir lima jam yang lalu.” Taerin yang berada disebelah Baekhyun dan Jimi berkomentar dengan senyuman yang serasa tidak ingin luntur dari wajahnya. “Saat sudah besar nanti, Rei dan Taejun pasti akan dikerumuni banyak fans seperti saat aku dan Sehun sewaktu SMA dulu.” Junmyeon bersuara membuat Baekhyun langsung memprotesnya tidak terima. “Ya, walaupun aku memang tidak setampan Oh Sehun, dulu aku juga punya banyak fans sampai-sampai Jimi hampir menyerah mendekatiku.” Baekhyun menyenggol lengan Jimi yang hanya mendengus sambil tertawa kecil.

 

 

“Yasudah, lebih baik kita sudahi kunjungan kita sampai disini dulu. Kita juga harus menyediakan waktu untuk mereka. Sedari tadi keluarga mereka juga tidak berhenti berdatangan dan sepertinya mereka tidak kunjung mempunyai waktu bertiga.” Junmyeon berujar membuat yang lain langsung menyetujui perkataannya.

 

 

“Kalau begitu, Rei yang tampan, sampai bertemu lagi ya.” Jimi terlihat gemas pada bayi yang kini tampak menggeliat dipelukan Surin. “Ya, Baekhyun-a, aku benar-benar akan senang jika Rei nantinya akan berakhir dengan Baekji. Ia benar-benar tampan!” Jimi berujar asal membuat tawa seketika memenuhi ruangan rawat tersebut. Surin bahkan merasa perutnya benar-benar sakit karena tertawa setelah mendengar ucapan Jimi barusan. “Padahal aku sudah menawarkan kesempatan untuk anak Junmyeon dan juga Taerin. Tapi, aku akan serahkan semuanya pada Baekji saja.” Tanggap Baekhyun membuat tawa lagi-lagi berhasil memenuhi ruangan.

 

 

Junmyeon dan Taerin serta Baekhyun dan Jimi langsung berpamitan dan setelahnya meninggalkan Sehun dan Surin beserta Rei, bermaksud memberi waktu untuk keluarga kecil itu. Sehun yang kini masih duduk ditempatnya dengan menggenggam erat tangan Surin sedari tadi tidak bisa menghilangkan senyuman diwajahnya. Ia benar-benar bahagia bahkan hanya dengan melihat Surin yang memeluk anak mereka seperti sekarang ini.

 

 

“Tidak salah, Rei benar-benar mirip denganmu. Pantas saja Jimi mengatakan bahwa ia sangat tampan.” Surin berujar dengan suara pelan membuat senyuman Sehun semakin lebar. “Baiklah, mungkin ini yang pertama kalinya kau mengakui ketampananku secara langsung. Kau harusnya mengakui hal itu dari dulu, Surin-a.” Sehun terkekeh sementara Surin hanya mendengus pelan.

 

 

“Aku benar-benar bersyukur sekarang.” Sehun mengelus jemari-jemari Surin yang berada digenggamannya dengan lembut. “Aku menyayanginya, dan tidak lupa juga untuk menyayangi mantan ibu hamil yang dulunya berperut buncit ini.” Sehun mengecup pipi Rei dengan perlahan, lalu beralih pada Surin. Sehun menatap Surin lama tanpa berkata apapun. Hanya sebuah senyuman yang betah bertengger pada wajahnya sementara kedua pipi Surin sudah merasa akan terbakar sebentar lagi karena senyuman Sehun yang sedari dulu sampai sekarang masih sama mempesonanya. Sehun bangkit dari duduknya lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Surin. Ia segera mengecup dahi Surin dengan lembut sambil memejamkan kedua matanya.

 

 

“I think I love you better now, Mrs. Oh.”

 

 

Surin benar-benar tidak bisa merasa lebih bahagia dari ini. Ia bahkan sudah mengeluarkan air mata haru yang langsung dihapusnya asal. Ia menyayangi Sehun lebih dari apapun dan seterusnya akan seperti itu. Surin mengecup Rei yang berada dipelukannya, sambil membisikan sesuatu pada telinga bayinya itu yang masih dapat juga Sehun dengar dengan jelas dari tempatnya sekarang ini.

 

 

“Selamat datang, Oh Rei, Oh Sehun-ku yang kedua.”

 

 

-FIN.

 

 

Terima kasih sudah membaca! Semoga kalian suka. Please send your thoughts about this ff on the comment box! Thanks and see ya! Kunjungin wordpress pribadi saya untuk ff yang lainnya ya. Here’s the link : http://ohmarie99.wordpress.com Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disana ya!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6 thoughts on “TRIPLE DATE (Oneshoot)

  1. Triple date yang nyaris gagal wkwk untung sehun langsung bertindak cepat langsung berubah rencana nya, bener” sahabatan sejati nihh jimi sama taerin kok bisa barengan gitu melahirkan ? Surin nya juga ya walaupun beda sebulan tapi tahun lahir anak mereka sama’an ntar kalo udah besar punya temen sepermainan dehh uwwaaa pasti lucu dehh, sehun nya cheessy banget ya sama surin

  2. Sebelumnya maaf ganggu komen jam segini>,<
    Aku baca ff ini sampe dimarahin eomma suruh minum susu, sikat gigi terus tidur. Tapi karena aku bandel jadi baca ini ff sambil minum susu, ke kamar mandi terus sikat gigi pun aku megang hp sambil baca ini ff sampe sekarang udah mau tidur di kasur.
    Okay, no one ask me or care about this before but at least I told u the truth. Thanks author and keep writing fighting^^

  3. Heol daebak!!!!! Ih feelnya dpt bgt asliiiiiii sampe senyum2 sendiriiiiii😂😂😂 penggambarannya jelas, pokoknya bnr2 tersampaikan! Keep writing author-nim, fighting! ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s