Cerulean

CERULEAN

By : Ririn Setyo

Oh Sehun || Song Jiyeon || Kwon Eunji || Kim Jongin

Genre : Romance ( PG – 15)

Length : One Shot

FF ini juga publish di blog pribadi saya : http://www.ririnsetyo.wordpress.com

 

Cinta itu tidak bisa direncanakan, tidak bisa pula dipilih kepada siapa kita akan jatuh cinta. Sama halnya dengan Jiyeon, dia tidak pernah berencana untuk jatuh cinta pada Sehun, dia juga tidak pernah memilih Sehun sebagai pelabuhan perasaan cintanya itu. Semuanya terjadi tiba-tiba, tanpa sederet alasan, begitu cepat, sampai Jiyeon tidak tahu pasti kapan dia mulai tertarik pada Sehun. Yang pasti, setelah sadar, Jiyeon sudah jatuh dan tidak tahu bagaimana caranya untuk kembali.

Oh Sehun nama lengkap pria itu, Jiyeon dan Sehun sudah satu sekolah tapi berbeda kelas sejak enam bulan lalu. Dia anak pindahan paling populer di sekolah Jiyeon, GreenHigh Internasional School. Sehun pindah ke Korea karena ayahnya yang bekerja sebagai diplomat ditugaskan ke Korea Selatan, dulu Sehun dan keluarganya tinggal di New Zealand. Dia tinggi 186 centimeter, pintar, tampan, pucat, bangir, bibirnya kecil, iris hitamnya tajam, kontras dengan rahang tegas dan dagunya yang runcing. Sehun sangat kaku nyaris dingin, jarang bicara jika tidak diperlukan. Dia selalu mampu mengintimidasi semua orang, dengan tatapan dan tinggi badannya yang menjulang.

Sehun adalah sosok yang terlalu sulit untuk disentuh, terlalu beku untuk dijamah, terlalu tinggi untuk digapai. Seketika saat menyadari dia jatuh cinta pada Sehun, seketika itu pulalah Jiyeon memilih mundur. Jiyeon sangat sadar, jika Sehun bukanlah tambatan hati yang bisa dimenangkan dengan mudah, bahkan mungkin sangat mustahil untuk dimenangkan.

Ah, Oh Sehun benar-benar bukan pria idaman Song Jiyeon.

Jiyeon tidak suka dengan pria macam Sehun, dia benar-benar tidak tahu bagaimana menghadapi tipikal pria seperti Sehun. Sudah banyak sekali gadis-gadis korban patah hati karena pesona Sehun, danJiyeon tidak mau ambil bagian.

Tapi lain diharap lain pula yang didapat. Jiyeon yang awalnya sangat yakin perasaannya pada Sehun hanyalah rasa sesaat, mendapati dirinya justru semakin hari semakin terjerambah pada sosok Sehun yang kaku. Sehun mengikutinya selayak hantu, dimanapun, kapanpun, Sehun selalu saja bercokol di dalam otaknya, berlama-lama di dalam pikirannya. Memupuk rindu, memukul detak jantung hingga bertalu-talu. Menarik sudut-sudut bibir, melukis rona merah jambu, bahkan menyeret kaki untuk mendatangi pria itu tanpa rasa malu.

Aish! Jiyeon berpikir mungkin sekarang dia sudah gila.

“Lebih baik, kau ungkapkan saja perasaanmu pada Sehun. Biasanya itu akan memperbaiki suasana hati dank au bisa lebih mengikhlaskan Sehun setelah itu.”

Eunji berujar santai dari balik meja kelasnya, sabahat sok-tahu Jiyeon itu sedang memberikan wejangan yang selalu diulang-ulang tiap kali Jiyeon mengeluhkan Sehun. Eunji adalah satu-satunya gadis yang mendukung Jiyeon, mungkin karena Eunji sudah punya Jongin, kapten basket sekolah yang ketampanannya menyamai anggota Boy Band. Jika tidak, Jiyeon bisa bertaruh, Eunji yang pendek, sipit, putih, dan tidak terlalu cantik tapi cukup menarik itu, akan menjadi saingan beratnya. Dan mungkin persahabatan mereka selama hampir empat belas tahun, akan bubar jalan, jika Sehun menerima perasaan cinta salah satu dari mereka.

Eoh! Sepertinya… ini sedikit berlebihan. NyatanyaJiyeon dan Eunji menganut ajaran, persahabatan yang tak mengenal kalimat “Lekang oleh waktu” dengan alasan apapun, meski Sehun sekalipun.

Kece sekali persahabatan dua sejoli ini.

Cih, bicara itu memang mudah, Eunji. Tapi aku masih punya otak untuk tidak mempermalukan diri sendiri, aku pasti ditolak.”

“Kau belum mencobanya.” Eunji sok yakin.

“Memang.” Jiyeon mulai bimbang, Eunji semangat memprovokasi.

“Kalau begitu, tunggu apalagi. Beritahu Sehun, jika kau sangat menyukainya.” Eunji semangat sekali.

“Kalau ditolak?” Jiyeon mulai terpengaruh (lagi).

Eunji diam sebentar, menempelkan pensil merah muda yang dipegangnya ke ujung dagu. Sok berpikir keras.

“Ya sudah, kita cari pria lain yang mau menerimamu.”

“YAK!”

Eunji terkekeh, Jiyeon geram bukan kepalang.

~000~

Sejujurnya dipandang dari bagian manapun, Jiyeon adalah gadis cantik, ramping, tidak terlalu pendek, dan berlekuk dalam posisi pas di beberapa bagian yang seharusnya. Iris hitamnya tampak bening, kulit putih susu, rambut panjang berkilau seperti mutiara hitam, ketika sedang marah pipi putihnya akan bersemu merah jambu. Jiyeon bahkan jauh lebih cantik dari sahabatnya, Kwon Eunji.

Jadi seharusnya Jiyeon tidak punya alasan untuk takut ditolak Sehun, toh selama ini banyak sekali pria yang tertarik pada kecantikannya.

Memang, cinta datang dari hati, bukan wajah, tapi hal pertama yang dilihat orang pastilah wajah, lalu turun ke hati.

Jiyeon mendesah gelisah. Duduk tak enak, berdiri pun tak nyaman. Jiyeon bergerak-gerak seperti orang yang kena ambeyen. Hari ini Jiyeon membuat kesepakatan dengan Eunji (terpaksa sepakat, sebetulnya) untuk menyatakan perasaannya pada Sehun, di taman sekolah, setelah jam sekolah usai. Dengan sedikit bantuan Jongin, Eunji berhasil meyakinkan Sehun, untuk menemui Jiyeon di taman.

Eunji meminta Jongin untuk membuat janji temu dengan Sehun di taman.

Napas panjang yang ditarik berulang-ulang, sudah Jiyeon lakukan sejak lima belas menit yang lalu. Gundah gulana, pucat, gemetar, semua sudah mengambil alih kesadaran Jiyeon. Sampai-sampai dia tidak sadar jika Sehun sudah berdiri di belakangnya, mengernyit, memperhatikan Jiyeon sebentar, lalu melirik jam silver besar di pergelangan.

Sehun agak bingung, dia tolah toleh, mencari Jongin sepertinya. Di taman sangat sepi, hanya ada Jiyeon dan dua orang petugas kebersihan taman. Sehun memutuskan untuk bertanya, dia mengulurkan tangannya, meyentuh bahu Jiyeon dengan ujung telunjuknya.

“Permisi…,”

Jiyeon berbalik dan langsung terkejut, terhuyung-huyung, nyaris terjungkal karena terlalu terkejut. Tangan hangat Sehun menahan lengannya, membantunya untuk berdiri tegap. Jiyeon membeku, wajahnya terlihat bodoh, bahkan Jiyeon lupa untuk sekedar berkedip. Mata beningnya membulat, mulutnya agak terbuka, memperhatikan Sehun yang memandanginya heran.

“Maaf… aku membuat janji temu dengan Jongin disini, apa sebelumnya kau melihat dia disini?”

Jiyeon bengong seperti orang kena hipnotis, Sehun semakin heran.

“Kau tidak kenal Jongin?” Sehun masih mencoba bersabar, Jiyeon semakin memaku, wajahnya lebih aneh dari orang kena santet.

Dua menit berlalu dalam keheningan, Sehun akhirnya memilih untuk menyingkir karena Jiyeon tak juga menjawab. Namun langkah Sehun seketika berhenti, Jiyeon memanggilnya, lalu tiba-tiba gadis itu sudah berdiri di depannya.

“Sehun…,”

Suara Jiyeon hilang sesaat, dia menarik napas, mengatur detak jantung yang sayangnya sudah tidak bisa dia dikendalikan. Bertalu-talu tanpa henti.

“Aku ingin bicara padamu. Aku—- sebenarnya—- aku yang ingin bertemu, bukan Jongin.”

Sehun diam, mengamati Jiyeon yang masih terengah-engah, seperti orang yang habis lari marathon.

“Aku kenal Jongin, sangat kenal malah. Dia pacar sahabatku, Kwon Eunji. Kau kenal gadis aneh itu?”

Sehun mengangkat alis, lalu menggeleng, agak ragu. SepertinyaJongin pernah mengenalkan Eunji padanya, entahlah…. Sehun tidak terlalu yakin.

“Maaf jika aku lancang,” Jiyeon melanjutkan.

Sehun diam saja.

Jiyeon tarik napas lagi, agak lama, berulang-ulang, dia sadar jika ini mulai berlebihan. Sehun bukan hantu, jadi seharusnya dia tidak perlu sepanik ini.

“Aku ingin mengutarakan sesuatu,” kata Jiyeon, agak lebih tenang. Tapi jangan tanya detak jantungnya, semakin bergemuruh.

“Sudah lama aku ingin mengatakannya tapi aku—- selalu tak punya kesempatan. Aku tidak punya maksud apapun, hanya untuk melegakan perasaanku saja. Jadi tidak perlu khawatir, kau—–“

“Kau menyukaiku?” potong Sehun, suaranya datar.

“Ap—-apa?” tiba-tiba Jiyeon jadi gagap.

“Kau mau bilang, jika kau suka padaku? Benar ‘kan?”

Mata Jiyeon berkedip-kedip, suaranya hilang dan kali ini Jiyeon bahan lupa untuk sekedar menarik napas.

“Baiklah. Aku terima.” Kata Sehun, nadanya masih sama.

“Ap—- apa?” Jiyeon semakin gagap.

“Kita pacaran.”

Jiyeon beku, pipinya bersemu seperti pomegranate. Ada ribuan kupu-kupu datang, membawa balon helium, terbang rendah di atas kepalanya. Lalu puluhan balon helium pecah, bertaburan, tepat saat Sehun tersenyum, mengacak rambutnya singkat, lalu berlalu tanpa kata tambahan.

~000~

Pagi di hari berikutnyaJiyeon masih seperti korban ilmu santet, walaupun semalam dia sudah membuat Eunji tidak tidur, hanya untuk mendengarkan tragedi ungkapan cintanya pada Sehun. Jiyeon masih tetap tidak percaya. Eunji apa lagi, gadis itu sampai menelepon Jongin dini hari tadi, meminta kepastian jika Sehun sehat, waras ,dan tidak sedang terserang penyakit gila mendadak.

“Dia sangat sehat, Sweet Heart. Yah, aku memang baru kenal beberapa bulan, setelah dia bergabung dalam tim basket, tapi aku sangat yakin. Demi hubungan kita, aku jamin Sehun pria waras.”

Eunji tak bisa berkata banyak jika Jongin sudah seyakin itu, apalagi pria itu mempertaruhkan hubungan mereka. Tapi tetap saja Jiyeon merasa ini semua tidak nyata, terlalu mengejutkan. Jiyeon memutuskan untuk bertanya ulang pada Sehun, segera setelah dia sampai ke sekolah.

“Untuk apa bertanya ulang, Jiyeon?”

Eunji mencoba menahan Jiyeon, mereka tarik ulur di depan pintu lapangan basket in door yang terbuka.

“Sebentar lagi pelajaran sudah dimulai, jika kita terlambat, Mr. Jang akan membunuh kita.”

“Tapi ini tidak bisa ditunda, Eunji. Aku harus bertanya ulang, sebelum aku benar-benar gila.”

“Bukankah kau sudah gila sejak beberapa bulan lalu?”

Jiyeon mendegus kesal, dia melepaskan rangkulan Eunji. Mata beningnya memicing tajam, Eunji terkekeh, lalu mereka melihat ke lapangan, disana Sehun sedang memutar bola basket di atas jari telunjuk, sendirian.

“Doakan aku,” ucap Jiyeon, setengah yakin, setengah bimbang.

“Jangan lebih dari lima menit.”

Jiyeon menatap Eunji sekali lagi, lalu melangkah mendekati Sehun.

“Sehun.” Panggil Jiyeon, susah payah, jantungnya kembali berulah.

Sehun menoleh, pria itu melemparkan bola ke arah keranjang tanpa mengalihkan pandangannya dari Jiyeon, lalu bola oranye besar itu mendarat mulus ke dalam keranjang. Jiyeon terpana tanpa rencana, dia semakin terpesona pada Sehun.

“Ada apa?”

“Begini, aku hanya—- ingin memastikan, jika yang kau katakan kemarin…,”

“Kau kekasihku. Kenapa? Kau mau meralatnya?”

“Ap—-apa?”

Jiyeon bungkam, dia kehilangan semua kata-katanya. Sehun berlalu begitu saja.

“Tunggu dulu.”

Jiyeon menahan lengan Sehun, mereka berhadapan, Jiyeon menengadah. Dia berusaha untuk tenang, demi meluruskan semuanya.

“Kenapa kau tiba-tiba menerimaku?”

“Memangnya kau mau aku menolakmu?”

“Ap—apa? Tidak juga, sih.”

“Lantas?”

“Ini hanya… hey! dari mana kau tahu aku ingin mengatakan itu kemarin?”

“Semua gadis di sekolah ini, jika bertemu diam-diam, di taman atau di tempat yang sepi, pasti untuk mengutarakan perasaan mereka padaku.”

Jiyeon menelan salivanya susah payah, Sehun menang telak.

“Lalu kenapa aku yang kau pilih, kenapa kau menolak semua gadis, tapi aku tidak?”

Hening sebentar, Sehun mengerjab satu kali, lalu melihat Jiyeon lagi.

“Aku tidak tahu. Aku hanya merasa… kau akan terluka jika aku menolakmu.”

Jiyeon memaku, lalu bersemu, lalu lamat-lamat rasa bahagia datang, lumer, meresap lewat pori-pori, menjalari urat nadi, lalu bersemayam di dalam hati. Jiyeon tak bergerak di tempatnya berpijak. Sehun beranjak, Eunji berseru, mengingatkan jika sebentar lagi kelas Biologi Mr. Jang akan segera dimulai. Jiyeon tuli, dia hanya bisa mendengar nama Sehun memenuhi pendengarannya.

Ah, sepertinya Jiyeon benar-benar gila sekarang.

~000~

Bahagia, dirasa Jiyeon tak cukup untuk menggambarkan suasana hatinya saat ini. Dia dan Sehun benar-benar menjadi sepasang kekasih, seisi sekolah tahu tentang itu. Sehun tidak membantah, pria itu selalu mengiyakan jika ada yang bertanya tentang hubungannya dengan Jiyeon.

Satu bulan berlalu, Jiyeon mulai mengubah pandangannya selama ini tentang Oh Sehun. Pria itu tidak dingin, dia hanya terlalu pendiam, bicara sekedarnya, tidak peduli pada urusan orang lain, Sehun selalu hanya diam ketika teman-temannya sedang bergosip. Sehun selalu menerima segala bentuk perhatian Jiyeon, dia tidak pernah menolak ketika Jiyeon membawakannya bekal makan siang. Tidak pernah protes jika Jiyeon merangkul lengannya, membenarkan dasi sekolahnya, ataupun ketika gadis itu memintanya untuk menemani pergi ke perpustakaan, kantin, dan taman sekolah.

“Hun, jika kita pergi dan pulang sekolah bersama, apa kau keberatan?”

Jiyeon membereskan kotak bekal warna biru, membungkusnya ke dalam paper bag kecil yang juga berwarna biru, dia sempat melirik Sehun sebentar lalu menyedot jus jambu dari gelas plastic yang dibelinya di kantin. Taman sekolah di jam istirahat sangat ramai, beberapa siswi yang melihat mereka masih saja terlihat sinis. Banyak yang tidak suka dengan hubungan Jiyeon dan Sehun. Mereka berdua tahu betul tentang itu, tapi tenanglah, tidak ada hal buruk seperti di drama tv ataupun di cerita fiksi penggemar yang biasa Jiyeon baca. Semua masih terkendali, Jiyeon hanya mendapat tatapan tak suka, sedikit digunjing, sesekali disindir.

“Baiklah.”

“Benar?”

Senyum Jiyeon merekah, lebar, tampak jelas sangat berlebihan. Dia senang sekali, Sehun benar-benar pacar yang penurut, tidak pernah membantah dan selalu menuruti semua keinginannya.

Ah, Oh Sehun benar-benar pacar idaman Jiyeon.

Hemm, sepertinya Jiyeon sudah termakan omongannya sendiri. Lidah memang tidak pernah bertulang.

~000~

Setiap ada kesempatan, Jiyeon selalu berada di dekat Sehun, mengajak Sehun ke tempat-tempat indah untuk kencan. Tidak peduli dengan hari, suhu, dan waktu, lagipula selama ini Sehun tidak pernah menolak, seperti yang Jiyeon pernah bilang, Sehun tidak pernah membantah dan selalu menuruti keinginannya.

Hari sabtu yang kelabu setelah ibu kota diguyur hujan, Jiyeon meminta Sehun menjemputnya di rumah. Dia ingin mengajak Sehun nonton film favoritnya, Fast and Furious 7, seri terakhir yang dibintangi oleh Paul Walker, sebelum actor kawakan itu meninggal dunia karena kecelakan tragis beberapa waktu silam. Jiyeon bersenandung ketika menuruni anak tangga rumahnya, di ruang depan Sehun sedang berbincang dengan ayahnya. Tampak akrab dan hangat. Ayah Jiyeon, Song Jongki, memang sangat pintar membangun suasana nyaman jika sedang mengobrol. Maklum, Jongki bekerja di kantor asuransi, jadi… yeah, begitulah… kalian bisa tahu alasannya, ‘kan?

“Jangan pulang terlalu malam, selamat benar-benar Sayang.”

Jongki mengecup puncak kepala Jiyeon, melambaikan tangan ketika Sehun menunduk ke arahnya. Mereka naik motor, selama di perjalanan Sehun diam saja. Begitu pula saat mereka sudah sampai di bioskop, dia hanya berdiri diam di samping Jiyeon, membiarkan gadis itu memilih film dan makanan untuk mereka.

“Aku mengikuti film ini dari seri pertama, dan seri ke tujuh ini, ah, aku sedih sekali. Paul walker….”

Jiyeon sibuk mengoceh di samping Sehun, memeluk sekotak pop corn besar di depan dada. Pria itu tidak menanggapi, Sehun justru melirik film lokal bertema romantis yang juga tayang hari itu. Seorang pria tidak terlalu tampan menyapa Jiyeon tepat di depan pintu studio, gadis itu tidak sadar jika Sehun berada jauh di belakangnya.

“Sendirian?” tanya pria itu.

Eoh, aku… berdua,” Jiyeon celingak celinguk, lalu memanggil Sehun untuk bergegas setelah menyadari Sehun ada di belakangnya.

Mereka memilih bangku tengah, tepat di depan layar, posisi favorit Jiyeon. Selama nonton Sehun tetap diam, Jiyeon malah asik membahas film bersama laki-laki yang duduk di sebelahnya, setelah Sehun hanya mengangguk dan menggeleng ketika dia mengajaknya bicara. Jiyeon cekikikan, lalu sedih karena terharu tiap kali wajah Paul Walker terpampang di layar, lalu menegang ketika adegan balap-balapan mobil antara Paul Walker dan Van Diesel memacu andrenalinnya. Jiyeon sempat melirik Sehun, ekspresi pria itu sangat datar, tidak terlihat tertarik dengan film yang mereka tonton.

“Kau tidak suka ya?” tanya Jiyeon.

Sehun diam saja, melirik Jiyeon pun tidak.

Jiyeon memutar bola mata, Sehun selalu seperti itu, beku, seperti tembok panjang di Beijing.

~000~

“Sehun!”

Jiyeon berlari kecil, mengejar Sehun yang baru saja keluar dari kelasnya. Sekolah baru saja usai. Pria itu menoleh sebentar lalu tetap berjalan, tidak berniat sama sekali untuk menunggu Jiyeon. Jiyeon mengerutu, Sehun selalu seperti itu, pria itu selalu tidak pernah terlihat senang jika dia ada didekatnya, tidak pernah terlihat menginginkan kehadiran Jiyeon di sisinya.

Hey, kenapa tidak berhenti dan menungguku?”

Jiyeon berdiri di depan Sehun, pria itu diam saja, hanya memandangi Jiyeon yang sibuk menata rambut panjangnya yang berantakan, nyaris tanpa kedipan, lekat dan hangat. Tapi sayangnya, Jiyeon tidak pernah menyadari itu.

“Kau tahu Sehun, selama ini aku seperti bukan pacarmu, kau selalu saja mengabaikanku.”

Sehun tetap diam, matanya tidak beralih dari Jiyeon.

“Kenapa lewat sini? Kau, belum mau pulang ya?”

Jiyeon mencondongkan tubuhnya, lalu tersenyum ketika mata mereka bertemu. Jiyeon suka sekali dengan manik mata Sehun yang sepekat malam, sangat memikat dan memabukkan.

“Hari ini aku harus latihan basket sampai jam empat sore,” jawab Sehun.

Ah, begitu ya.”

Sehun kembali melangkah, Jiyeon berusaha mengimbangi langkah Sehun yang lebar.

“ Aku akan menunggumu. Lagipula ada Eunji, dia juga pasti menunggu Jongin.”

Sehun mengangguk singkat, lalu berjalan menuju tengah lapangan, bergabung bersama teman-temannya. Sedangkan Jiyeon masih termangu di depan pintu, dia memandangi Sehun. Pria itu selalu terkesan tidak menginginkannya, sikapnya terlalu datar. Akhir-akhir ini otak Jiyeon sempat berpikir, mungkin saja, (ya… baru kemungkinan sih, tapi mampu membuat Jiyeon sedikit resah) Sehun sejujurnya tidak suka dengan hubungan mereka. Suara cempreng Eunji membuyarkan lamunan Jiyeon hanya dalam satu kali hentakan, dia berpaling dari Sehun, lalu bergegas mendekati Eunji yang sudah duduk manis di bangku penonton.

“Sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan pacar yang penurut,”

Eunji merapikan tatanan rambut pendek sebahunya yang sewarna madu dengan sisir, memoles bibir tipisnya dengan lips balm orange, lalu melirik sekilas kuku-kukunya yang dihias nail art bentuk bunga sakura, sebelum kembali focus pada Jiyeon. Tak jauh dari tempat duduk mereka, sekumpulan pria tinggi tengah berlatih basket, berkeringat dan focus. Kompetisi Basket Nasional Musim Gugur antar sekolah akan dimulai sebentar lagi.

“Jongin jarang sekali menuruti kata-kataku, dia selalu punya aturan yang harus aku patuhi. Yah, walaupun nyatanya kebanyakan dia yang mengalah, tapi untuk hal-hal yang sangat prinsipil, dia tidak bisa diajak kompromi.”

Eunji melirik sebentar ke arah lapangan, dia berbinar, untuk kesekian kalinya Jongin berhasil membuat lemparan tiga angka.

“Aku tahu. Aku—- juga tidak terlalu suka dengan pria penurut. Tapi Sehun justru selalu menuruti keinginanku.”

Jiyeon cemberut, di lapangan Sehun baru saja melempar bola ke keranjang.

“Sebenarnya, hemm… tapi aku tidak tahu pasti sih. Jiyeon, apa kau pernah berpikir tentang Sehun?”

“Setiap hari aku memikirkannya, bahkan ditiap jam dan menitnya, dia selalu membuatku kepikiran.”

“Bukan itu.”

Eunji menoyor kening Jiyeon, Jiyeon hanya mengernyit, tak paham kenapa Eunji harus kesal dengan jawabannya.

“Lantas?”

“Aku hanya berpikir… sempat kepikiran sebetulnya—- Sehun menurut bukan dalam arti yang sebenarnya.”

“Maksudmu?” kening Jiyeon berkerut halus.

“Tapi kau jangan marah padaku ya?” Eunji meragu, suaranya terdengar tidak enak di telinga Jiyeon.

“Jangan berbelit-belit.” Jiyeon mulai geram.

“Selama ini, pernahkan Sehun menunjukkan perhatiannya padamu? Atau… menunjukkan sedikit saja ketertarikan atau hal-hal yang mengidentifikasikan jika dia menginginkanmu? Takut kehilanganmu?”

Eh?” Jiyeon bingung dan semakin kesal, Eunji benar-benar berbelit-belit.

Eunji membenarkan posisi duduknya, dia menatap sahabatnya itu dengan penuh penyesalan. Dia tahu kata-katanya ini barangkali akan membuat Jiyeon terluka, tapi jika dia tidak mengatakannya sekarang, kemungkinan besar SongJiyeon akan jauh lebih terluka.

“Mungkinkah sebenarnya, Sehun… tidak memiliki perasaan apapun padamu? Maksudku, mungkin selama ini, dia hanya kasihan.”

“Kasihan? Ah, yang benar saja.”

Jiyeon mencoba tertawa tapi terdengar hambar, Eunji benar, selama ini Sehun tidak pernah memberinya perhatian. Pria itu hanya diam di tempat dan menerima, tidak pernah maju, hanya menunggu. Sekilas memang terlihat menyenangkan, tapi lama-lama bisa menjadi boomerang.

Jiyeon melihat ke arah lapangan, latihan baru saja usai. Jongin tampak sudah berjalan mendekati bangku penonton, melambaikan tangan pada mereka dengan senyum menawan di ujung bibir. Sedangkan Sehun, masih sibuk mengusap keringat, mengecek ponsel, lalu duduk santai di lantai lapangan. Tidak ada tanda-tanda dia akan mendatangi Jiyeon, dia bahkan tidak menatap ke arah Jiyeon sama sekali, sibuk bersama dunianya sendiri.

Jiyeon menunggu sebentar, semua anak basket sudah pulang, Jongin dan Eunji juga sudah keluar lebih dulu. Sehun masih duduk di tengah lapangan, tidak bergerak, terpekur bersama ponselnya. Dalam hati, Jiyeon mencoba meyakinkan diri untuk tidak mendekati pria itu, tapi ternyata dia tidak bisa. Pada akhirnya Jiyeon mendekati Sehun, menunduk, ujung rambut panjangnya menyentuh dahi Sehun.

“Hun, apa kita bisa pulang sekarang?”

Sehun menengadah, menyingkirkan rambut Jiyeon, lalu mengangguk, datar, tanpa ekspresi apapun di wajahnya yang merah dan lelah. Pria itu berdiri, menyampirkan tas punggung di bahu kanannya, lalu berlalu tanpa kata, meninggalkan Jiyeon yang memaku sendirian di belakang sana.

Jiyeon tetap diam memandang punggung Sehun yang kian jauh, perih lamat-lamat menyelinap di urat nadinya. Jiyeon menunduk, matanya buram, dia mengepalkan kedua tangan kuat-kuat di samping tubuhnya. Mungkin… Eunji benar, Sehun tidak pernah menginginkannya.

Tapi kesimpulan itu tidak berlangsung lama, tiba-tiba Jiyeon mendengar suara Sehun, sangat dekat, Jiyeon bahkan merasakan deru napas Sehun menerpa puncak kepalanya.

“Masih ingin disini?”

Jiyeon menengadah, dia terkesiap, Sehun menunduk di depannya, sampai-sampai ujung hidung bangir pria itu hampir saja menyentuh keningnya.

Eoh? Ah… tidak. Aku—-“

“Kau ini hobi sekali melamun ya?”

“Ak—-aku?” Jiyeon menunjuk dirinya sendiri. “Tidak juga, tadi itu,—-“

Suara Jiyeon hilang ketika Sehun menyambar tangannya, lalu menariknya keluar dari lapangan basket. Sehun tidak mengatakan apapun setelah itu. Genggaman Sehun terasa sangat hangat, lamat-lamat pipi Jiyeon merah seperti tomat, senyumnya merekah, dan sekarang Jiyeon sangat yakin, jika persepsi Eunji tentang Sehun salah besar.

~000~

Hari minggu yang cerah ini Jiyeon mengajak Sehun untuk menemaninya ke toko buku, dia ingin membeli beberapa buku resep masakan dan seri terbaru dari novel favoritnya, Sherlock Holmes. Jiyeon dan Sehun berangkat naik bus, Jiyeon yang mengusulkannya. Waktu di bus mereka berdua tidak kebagian tempat duduk, Jiyeon berdiri terhuyung-huyung, di antara para penumpang bus yang diisi oleh banyak pria.

Jiyeon mendesah ketika pria gemuk, bergelambir, berdiri di sisi kanan, mendesak tubuh kecilnya, pria itu bahkan sedikit menyandarkan lengannya di kepala Jiyeon. Dia melirik Sehun, pria dengan tas punggung besar itu menutup telinganya dengan headset, memandang keluar jendela, tidak melirik Jiyeon yang semakin menderita sedikit pun. Jiyeon hampir menangis ketika pria gemuk semakin tidak tahu diri, menyandarkan tubuh gempalnya di lengan Jiyeon yang berpegangan pada besi bulat di atas kepala, bau badan pria itu hampir membunuhnya.

Lalu tiba-tiba, Jiyeon bahkan hampir menjerit sangking terkejutnya, ketika Sehun menarik bahunya, wajah Jiyeon bahkan sampai menabrak dada bidang pria itu. Sehun merangkul bahu Jiyeon, menyembunyikan tubuh kecil Jiyeon di balik lengan kanannya. Tanpa kata, tanpa melihat, tanpa ekspresi apapun di wajahnya yang jumawa. Jiyeon beku, aroma tak sedap pria gemuk, seketika tergantikan dengan wangi tubuh Sehun yang seperti embun pagi, segar dan menenangkan. Jiyeon bersemu, dia bisa mendengar detak jantung Sehun yang bertalu. Seketika itu juga Jiyeon sangat ingin jika bus terus melaju, dan tidak pernah berhenti. Jiyeon sangat rela jika sisa hidupnya, harus terperangkap dalam pelukan Oh Sehun.

Senyum simpul masih tersisa di ujung bibir Jiyeon ketika mereka sampai di toko buku, pelukan Sehun bahkan masih menempel di sekujur tubuhnya. Sehun mendorong pintu kaca lalu masuk ke dalam toko buku, meninggalkan Jiyeon yang masih termangu di luar sana, dia tidak mendengar ketika Jiyeon mengerutu setelah itu. Toko buku bergaya minimalis dengan cat abu-abu terang yang mendominasi itu tampak ramai, rak-rak kayu dicat hitam mengkilap, berjejer rapi. Di bagian sudut toko ada tempat untuk para pengunjung duduk santai, deretan bangku sofa hitam mengelilingi meja panjang menyerupai papan catur, mereka juga menyediakan coffe shop kecil disana.

“Hun,” kata Jiyeon, setelah berdiri di sisi Sehun. “Aku harus memilih beberapa buku, kau bisa….”

“Baiklah.”

Jiyeon mengerjab, memandangi Sehun yang meninggalkannya begitu saja, berjalan ke sudut toko buku. Jiyeon memperhatikan Sehun yang mengeluarkan leptop dari dalam tas punggungnya, dalam sekejab pria itu sudah terlihat serius, tak mengalihkan pandangannya dari leptop meski hanya sedetik. Jiyeon hanya bisa menarik napas, dia sudah sangat terbiasa dianggap tidak ada oleh Sehun.

Jiyeon meletakkan beberapa buku yang ingin dibelinya di atas meja, di samping Sehun, agak sedikit dibanting. Sehun geming, dia terlihat tidak merasa terganggu sama sekali, padahal beberapa orang yang duduk di depan Sehun, sempat melirik tak suka pada Jiyeon, merasa terganggu dengan bunyi dentuman buku-buku Jiyeon yang beradu dengan meja.

“Hun, menurutmu aku harus beli seri cerita pendek Holmes atau novelnya ya?”

Sehun tidak menjawab, serius dengan leptopnya.

“Sehun?”

Hemm.”

Sehun menjawab tanpa menoleh. Jiyeon kesal, dia melirik ke balik leptop, penasaran apa yang sedang Sehun lihat hingga seserius itu. Jiyeon menghembuskan napas panjang untuk melampiaskan kekesalannya, Sehun mengabaikannya demi pertandingan basket. Tidak, Sehun bahkan selalu mengabaikannya. Pergi dengan Sehun selalu berakhir dengan kata diabaikan. Jiyeon lelah. Sehun hanya diam tiap kali Jiyeon mengajaknya bepergian, makan malam, jalan-jalan di pinggiran sungai Han, ke Lotte World, Jiyeon selalu seperti pergi sendirian meski Sehun ada disampingnya. Sehun hanya menjawab jika Jiyeon bertanya, dia tidak pernah balik bertanya, wajahnya datar. Selalu datar, hingga Jiyeon berpikir mungkin Sehun terpaksa pergi dengannya.

Jiyeon membereskan buku-buku yang hendak dibelinya, dia ingin cepat-cepat ke meja kasir lalu pulang. Akan tetapi tidak demikian yang terjadi, Jiyeon terpaku ketika tangan Sehun menahan lengannya, menariknya untuk kembali duduk. Lalu tanpa menoleh, pria itu berkata :

“Tunggu sebentar lagi, ini pertandingan penting LA Lakers.”

Jiyeon memutar bola matanya.

“Jika kau ingin menonton pertandingan kesayanganmu, kenapa tadi tidak bilang? Aku bisa pergi sendiri—-“

“Aku tidak tega jika kau pergi sendirian.”

Sehun menoleh, Jiyeon bisu.

“Sepuluh menit lagi sudah selesai kok.”

Sehun tersenyum, dia mengusap puncak kepala Jiyeon lalu kembali focus pada pertandingan basket. Jiyeon diam macam orang kena hipnotis, sentuhan Sehun selalu saja membuatnya luluh. Jiyeon bahkan sudah lupa dengan rasa kesalnya, dan memilih menunggu Sehun menyelesaikan tontonannya.

~000~

Musim semi berlalu, kini saatnya panas matahari, mengambil alih kuasa atas langit yang menaugi kehidupan di bawahnya. Jiyeon sengaja menunggu Sehun di depan kelas pria itu, ini hari terakhir sekolah sebelum liburan musim panas. Eunji sudah bersuka cita karena Jongin dan keluarganya, mengajak gadis itu liburan bersama ke Jepang. Perlu diketahui, orangtua Jongin sangat menyukai Kwon Eunji, mereka bahkan sudah memperkenalkan Eunji pada sanak saudara, sebagai calon istri Jongin dimasa depan.

“Sehun!”

Jiyeon melambaikan tangan, Sehun baru saja keluar dari kelasnya.

“Sampai jumpa lagi, semoga liburanmu menyenangkan, Sehun.”

Beberapa siswa menyapa sebelum pulang, Chanyeol yang satu kelas dengan Sehun pamitan, tersenyum lebar pada Jiyeon, sebelum berlalu menjauh.

“Apa rencanamu untuk menghabiskan liburan musim panas ini?” Jiyeon bertanya, dia merangkul lengan Sehun, mereka berjalan menuju parkiran motor.

“Tidak ada. Ayahku sangat sibuk, ibuku tidak tega jika harus meninggalkan ayah sendirian, hanya untuk liburan musim panas.”

Eoh, begitu ya.”

Sehun diam saja.

“Hun, jika kau tidak keberatan, apa kau mau menemaniku ke Haeundae Sand Festival? Tidak sampai seharian kok. Aku ingin sekali ke sana, tapi ayahku masih di Bangkok, ibuku juga harus ke Bali untuk menghadiri pernikahan anak sahabatnya.”

Sehun masih diam, dia sibuk memakai helm lalu mengangsurkan satu helm lagi untuk Jiyeon.

“Hun?”

“Baiklah.”

Sehun menaiki motornya, menutup kaca helm lalu meminta Jiyeon segera naik. Tidak ada lagi percakapan selama perjalanan Sehun mengantar Jiyeon pulang ke rumah, sesampai di pelataran rumah Jiyeon pun, Sehun tidak turun, pria itu langsung berlalu begitu saja. Jiyeon mendesah, dia mengusap dadanya yang agak sesak. Pelan tapi pasti Jiyeon merasa ada jarak yang mulai tampak membentang di antara dirinya dan Sehun.

~000~

Sesuai rencana mereka pergi ke pantai Haeundae di propinsi Busan, naik kereta cepat. Jiyeon menyelempangkan tas kecil di kedua bahunya, membenarkan luaran peach yang sedikit lebih panjang dari jumpsuit pendek putih tulang yang dikenakannya, terlihat kontras dengan Sehun yang mengenakan white pants, kaos pastel dan kemeja putih sebagai luaran. Pria itu berdiri di depan Jiyeon, tolah toleh, mencari bangku kosong untuk mereka berdua.

Jiyeon sudah berniat untuk tidur selama perjalanan, dia sengaja membaca novel Sherlock Holmes sampai pagi. Jiyeon sedang menjaga suasana hati, dia tidak ingin kesal dengan diamnya Sehun yang menguras hati. Jiyeon duduk dekat jendela, menyumbat telinganya dengan headset, lalu bersandar pada kaca jendela. Dia sama sekali tidak memperhatikan Sehun, mengajak pria itu bicara pun tidak. Biarlah, sesekali mengabaikan Sehun, seperti pria itu mengabaikannya. Jiyeon rasa itu cukup setimpal. Dalam hitungan tak sampai lima menit, Jiyeon sudah tertidur pulas.

Kereta mulai bergerak, berderak-derak. Dua orang gadis seumuran mereka duduk di depan Sehun, berbisik, melirik Sehun penuh minat. Posisi Jiyeon yang agak jauh dari Sehun, membuat dua gadis tersebut berpikir Sehun dan Jiyeon tidak saling kenal.

“Hai, boleh kenalan tidak?”

Kata gadis berambut merah, cantik, putih. Wajahnya bersemu ketika Sehun meliriknya, pria itu tidak tersenyum, tidak juga mengerakkan tangan untuk menyambut tangan gadis berambut merah yang terulur padanya.

“Namaku Minra, dia temanku Soya. Kau?”

Kata teman si gadis rambut merah, lebih cantik, rambutnya pirang sebatas bahu. Sehun geming, dia melirik Jiyeon yang terdengar bergumam, bergerak-gerak, mencari posisi nyaman untuk kepalanya yang ditumpukan di atas kedua tangan yang dilipat.

“Kau pergi sendirian?”

Gadis rambut merah tidak putus asa, dia tidak memusingkan egonya yang sudah memaki Sehun dalam hati. Dia bertekat untuk berkenalan dengan Sehun, temannya, si rambut pirang sudah mulai kesal, memperhatikan Sehun yang masih saja memandangi gadis berambut hitam yang tertidur di dekat jendela.

Cih! Gadis aneh.” Kata si rambut pirang, merujuk pada Jiyeon yang kini sudah setengah mengangkat kepala, tertunduk-tunduk.

“Bagaimana bisa dia tidur sepulas itu.” sambungnya, lalu melirik Sehun lagi ketika tiba-tiba pria itu mengeluarkan suaranya.

“Dia kelelahan.”

“Apa?”

“Gadis ini kelelahan. Dia menghabiskan sepanjang malam untuk membaca novel kesayangannya.”

Sehun mengerakkan tangannya hati-hati, merangkul bahu Jiyeon, lalu membawa gadis itu untuk bersandar di dadanya. Sehun sangat hapal, jika hanya novel karya Arthur Conan Doyle (novel yang tidak dia mengerti sama sekali) yang bisa membuat Jiyeon tidak tidur dan kelelahan. Sehun mengeratkan rangkulannya ketika Jiyeon mengeliat, lalu melirik dua gadis di depannya yang sudah terperanjat.

“Dia?” tanya gadis rambut merah, menunjuk Jiyeon dengan telunjuknya.

“Pacarku.” Jawab Sehun cepat, lalu menunduk, memandangi Jiyeon yang tetap tertidur di dalam pelukannya.

Hampir tiga jam berlalu, mereka pun sampai di Busan. Sehun buru-buru melepaskan pelukannya,lalu membuat Jiyeon seolah-olah hanya bersandar di bahunya, Sehun juga mengacak rambut hitamnya hingga tatanannya berantakan. Dua gadis yang tadi menyapanya sudah pergi, mengerutu sambil melirik Jiyeon dengan pandangan iri dan kesal. Jiyeon mengeliat, dia mengernyit saat sadar jika dirinya bersandar di lengan Sehun.

Ah, sudah sampai ya.”

Jiyeon merapikan pakaiannya, lalu menoleh pada Sehun. Tanpa kata Jiyeon menyentuh rambut Sehun yang berantakan, merapikannya. Jiyeon tidak pernah tahu jika Sehun tersenyum saat jari-jarinya menyentuh rambut pria itu, bahkan setiap kali Jiyeon merapikan rambutnya di sekolah, Sehun selalu tersenyum dan berharap pekerjaan Jiyeon tidak pernah selesai.

Wuah!”

Jiyeon kegirangan ketika kakinya menjejak di atas pasir pantai Haeundae, lomba menghias pasir baru saja dimulai ketika mereka tiba di pantai. Jiyeon senang sekali, dia mengambil banyak selfie di dekat bangunan pasir nan megah seperti istana es Queen Elsa. Sehun hanya diam, dia tidak ikut berfoto, hanya memperhatikan Jiyeon yang semakin jauh meninggalkannya, gadis itu berburu bangunan pasir lalu selfie. Sehun tersenyum ketika Jiyeon melambaikan tangan ke arahnya, gadis itu berdiri di dekat deretan Minnion, lengkap dengan Gru dan Dr. Nefario.

Sehun memutar kenangan, kembali ke taman sekolah, di hari pertama dia bertemu Jiyeon. Sehun sangat ingat dengan ekspresi bodoh gadis itu, gugup, gagap dan pipi merah Jiyeon ketika dia menerima gadis itu sebagai kekasihnya. Sehun menyimpan semua kenangan itu dengan sangat rapi di dalam hati. Sehun benar-benar tidak tahu kenapa dia menerima Jiyeon hari itu, dia tidak merasakan sesuatu yang special ketika menatap wajah Jiyeon pertama kali. Sehun juga sangat yakin dia tidak jatuh cinta pada pandangan pertama, hanya saja, Sehun merasa, dia akan menyakiti Jiyeon, jika hari itu dia menolak gadis itu.

Sehun tidak mengerti kenapa dia harus memikirkan rasa sakit dari gadis yang tidak dikenalnya, bahkan sampai sekarang pun, Sehun belum paham tentang alasan sebenarnya yang membuatnya tetap bertahan di sisi Jiyeon. Di sisi gadis periang yang selalu memperhatikannya dari ujung kepala hingga kaki, di sisi gadis yang selalu meneleponnya di jam dua belas malam hanya untuk mengucapkan selamat tidur, mengiriminya pesan singkat untuk sekedar mengingatkannya makan malam, membenarkan tata letak dasi sekolahya, atau merapikan tatanan rambut hitamnya. Di sisi gadis yang diam-diam selalu membuat Sehun tersenyum, bahkan tanpa memerlukan sebab sekalipun. Sehun hanya perlu mengajak Jiyeon ke dalam pikirannya dan ajaib, senyum Sehun mengembang dengan sendirinya.

~000~

“Hun, apa kau pernah memahi Jiyeon sepenuhnya?”

Tanya Jongin suatu ketika, satu jam sebelum pertandingan basket antar sekolah dimulai. Mata cokelat pria tampan itu melirik Eunji dan Jiyeon yang duduk di bangku penonton, bersorak, cekikikan, kadang-kadang melambaikan tangan ke arah mereka.

“Tidak.”

“Aku juga,” Jongin tampak pasrah.

“Bukankah kau terlahir untuk memahami wanita? Hubunganmu dengan Eunji selalu harmonis.”

“Yah, itu benar. Tapi terkadang aku masih bingung apa maunya.”

“Turuti saja apa katanya, itu akan lebih baik.”

“Menurut? Maksudmu aku harus menurut pada Eunji? Ah, yang benar saja.”

Jongin bersungut, dia sangat tidak setuju dengan saran Sehun. Harga dirinya sebagai laki-laki bisa jatuh, sosok gagah, tinggi, punya segalanya, mana mungkin harus menurut pada gadis kecil seperti Kwon Eunji.

“Kaum mereka selalu ingin dimengerti, meski mereka hanya mengatakannya di dalam hati. Jadi… menuruti mereka, aku rasa akan lebih baik.”

“Itu salah besar Hun. Para gadis akan menjadi semena-mena jika selalu dituruti. Kau tahu ‘kan, harga diri dan keinginan para gadis, jauh melebihi tinggi badan mereka.”

Sorak sorai para pendukung kedua tim di bangku penonton semakin terdengar, gegap gempita, meneriakkan yel-yel, melambaikan atribut tim sekolah masing-masing. Liburan musim panas sudah berlalu, final pertandingan basket antar sekolah akan dimulai sebentar lagi. Jongin dan Sehun menyudahi obrolan mereka. Sementara itu di bangku penonton, berdesak-desakkan, Jiyeon dan Eunji meneriakkan nama Sehun dan Jongin tanpa henti. Eunji mengambil gambar Jongin yang sudah memasuki lapangan dengan ponsel, Jiyeon tampak gugup, dia menggigit ujung kelingkingnya, menatap lekat-lekat sosok Sehun yang sudah dalam posisi siap.

Pluit tanda dimulainya pertandingan terdengar membahana, teriakkan supporters pecah, mereka berdiri, memberikan semangat untuk kedua tim yang tengah berlaga. Eunji berseru, Jongin baru saja membuat tembakan tiga angka, gadis itu serta merta mengambil gambar Jongin dengan ponselnya. Di belakang mereka ada sekelompok gadis yang menyebut-nyebut nama Sehun, Jiyeon menajamkan pendengarannya, dia agak geram, tapi sabar mendengarkan.

“Aku dengar Sehun sudah punya pacar waktu di New Zealand, karena itulah dia menolak semua gadis yang menyukainya.”

“Lalu Jiyeon? Mereka pacaran, kau tidak lupa itu ‘kan?”

Sorak sorai kembali terdengar, kejar mengejar angka semakin sengit, kedua tim tampak sama-sama kuat. Jiyeon masih focus mendengarkan, dia bahkan mengabaikan Eunji ketika gadis itu memintanya untuk menyayikan yel-yel sekolah mereka.

“Aku rasa, Sehun hanya kasihan pada Jiyeon. Lagipula jika dia menerima Jiyeon, setidaknya dia tidak akan lagi direpotkan oleh gadis-gadis yang mengungkapkan perasaan mereka.”

Jiyeon beku, dia duduk seketika. Eunji sempat menanyainya, tapi Jiyeon berdalih dia kelelahan. Selama ini Jiyeon tidak pernah bertanya tentang apapun pada Sehun, dia hanya sibuk menceritakan segala sesuatu tentang dirinya pada pria itu. Jiyeon tidak pernah memikirkan bagaimana Sehun melalui hari-harinya ketika harus pindah ke Korea, meski Korea adalah tanah kelahiran Sehun. Jiyeon selalu hanya sibuk dengan dirinya sendiri, sibuk dengan perasaannya sendiri, sibuk dengan prasangka-prasangka tentang Sehun tanpa pernah bertanya pada pria itu.

~000~

Pertandingan baru saja usai, dimenangkan oleh tim GreenHigh. Semua pemain bersorak gembira, Eunji menarik Jiyeon, berlari ke pinggir lapangan. Sekejab Eunji sudah sibuk memberikan pelukan selamat untuk Jongin, gadis itu bahkan tidak peduli saat keringat Jongin menempel diseragam sekolahnya. Lain halnya dengan Jiyeon, dia hanya bisa memaku, memandang Sehun yang bahkan tidak menoleh ketika dia memanggilnya. Sehun sibuk bercengkrama bersama anggota tim basket yang lain, beberapa gadis yang memiliki hubungan dengan pemain basket, juga sudah tumpah ruah, memeluk seraya memberi ucapan selamat pada pasangan mereka masing-masing.

Jiyeon sangat iri, dia masih berdiri di samping Sehun. Jiyeon menyentuh lengan Sehun, pria itu menoleh, Jiyeon tersenyum lebar.

“Selamat…,”

“Terima kasih.”

Sehun mengusap puncak kepala Jiyeon sekilas, lalu kembali berpaling. Park Chanyeol salah satu anggota tim memanggil Sehun, mengajak semua anggota tim untuk selfie. Jiyeon terabaikan lagi, Jongin bahkan masih sempat menggandeng Eunji ketika selfie, meski gadisitu tidak terlihat di kamera, tertutup dibelakang punggungnya. Begitu pun saat mereka semua berjalan bersama menuju McDonald’s, tak jauh dari sekolah mereka untuk merayakan kemenangan.Jiyeon tersisih, jauh di belakang Sehun. Pria itu tidak mengajaknya bicara, sibuk tertawa bersama teman-temannya. Jiyeon menatap Eunji, sejak tadi Jongin tidak melepaskan rangkulan lengannya di bahu kecil Eunji. Sesekali Jongin bahkan membuat Eunji terlibat di dalam percakapan bersama teman-temannya.

Seketika pembahasan tentang Sehun yang pernah dia dan Eunji bicarakan terngiang, memantul-mantul di dalam otak Jiyeon yang pening. Semakin hari Sehun terasa semakin jauh, Jiyeon mulai lelah menghadapi semua kekakuan dan diamnya Sehun. Dia tidak pernah tahu apa yang sebenarnya pria itu inginkan, dia hanya tahu apa yang dia inginkan. Dia tidak tahu apa yang Sehun rasakan, dia hanya tahu apa dia rasakan. Ekspresi Sehun tidak pernah terbaca, terlalu datar, terlalu biasa-biasa saja.

Ini sudah masuk bulan keempat dihubungan mereka, Sehun belum pernah sekalipun mengajak Jiyeon berkencan, belum pernah sekalipun menelepon atau menanyakan kabar. Mereka memang selalu bertemu di sekolah, tapi sesekali Jiyeon juga ingin merasakan dapat pesan singkat, atau ucapan selamat malam sebelum dia menutup hari. Jika bukan Jiyeon yang menelepon, jika bukan Jiyeon yang memulai pembicaraan, jika bukan Jiyeon yang mengajak Sehun bepergian, dijamin… tidak akan ada interaksi apapun di antara mereka.

Musim gugur yang sudah datang sejak beberapa minggu lalu mulai menampakkan taringnya, suhu semakin dingin dan daun-daun mulai melepaskan diri dari ranting. Haruskah Jiyeon juga melepaskan Oh Sehun? Sungguh…Jiyeon, mulai lelah.

~000~

Jiyeon merapatkan mantel biru laut yang dikenakannya, duduk diam di dalam Audi Q7 putih bersama sang ayah. Hari ini Jiyeon tidak berangkat ke sekolah bersama Sehun, dia berdalih tidak tahan menahan dingin, jika harus naik motor bersama Sehun.

“Bertengkar dengan Sehun?”

“Ap—- apa?” seketika Jiyeon berpaling, dia tidak terlalu mendengar apa yang ayahnya ucapkan.

“Putri ayah yang cantik sedang bertengkar dengan Sehun ya?” Song Jongki tersenyum, satu tangannya mengusap puncak kepala Jiyeon.

“Tidak. Aku hanya—– tidak tahan jika harus naik motor ke sekolah. Ayah tahu ‘kan, aku ini gampang sekali kena influenza?”

Jongki mengangguk.

“Lagipula apa yang bisa membuatku bertengkar dengan Sehun? Dia bahkan tidak pernah mengajakku bicara jika aku tidak memulainya, menyebalkan.”

Jiyeon cemberut, dia menunduk, memainkan jari-jarinya yang dingin dengan gusar.

“Benarkah? Tapi yang ayah lihat, Sehun tidak sekaku itu.”

“Memangnya Sehun pernah memulai pembicaraan tiap kali bertemu dengan, Ayah?”

Hemm… tidak pernah sih, ayah pasti yang bertanya lebih dulu. Tapi—- mungkin itu karena dia gugup, kalau denganmu pasti akan berbeda.”

“Sama saja. Ayah tahu, Sehun benar-benar membuatku seperti tidak diinginkan.”

Jongki memandang Jiyeon yang semakin cemberut, mereka baru saja sampai di pelataran GreenHigh. Para siswi dan siswa sudah berdatangan, berbalut coat tebal, syal, beberapa bahkan mengenakan sarung tangan dan penutup kepala dari wol. Jiyeon bersiap untuk turun, pohon sansuyu besar tumbuh di halaman depan, dari ujung dinding pagar tinggi berbahan bata, Jiyeon bisa melihat puncak pohon indah itu kini sudah berubah warna menjadi merah, saat musim semi nanti pohon sansuyu akan berwarna kuning.

“Jiyeon Sayang…,” Jongki menahan Jiyeon ketika gadis itu baru hendak membuka pintu mobil.

Hemm?”

“Ayah ingin kau tahu tentang satu hal. Tidak semua yang ada di dunia ini harus terjabarkan dalam lisan, terkadang beberapa hal harus dirasakan terlebih dahulu untuk selanjutnya bisa kita mengerti. Kau paham maksud ayah ‘kan?”

Jiyeon diam.

“Sehun pria yang baik, percaya pada insting seorang ayah.”

Jongki tersenyum, dia mengecup kening Jiyeon sebelum gadis itu mendorong pintu mobil. Jiyeon melambaikan tangannya dari balik kaca mobil, dia termangu sebentar, menelaah apa yang ayahnya katakan barusan.

“Dia memang baik Ayah, tapi… aku lelah, aku menyerah untuk mengartikan perasaannya.”

Jiyeon melangkah pelan memasuki pelataran sekolah yang luas, kepulan uap putih menguar ketika dia mengembuskan napas. Sekelompok siswi menyapa Jiyeon, lalu dia terkejut saat Chanyeol menepuk bahunya, pria tinggi, tampan, mata bulat, gigi putih besar-besar, hidung jambu agak bengkok yang menyedot semua perhatian. Pria yang selalu tampak bahagia itu, hanya tertawa terpingkal-pingkal ketika Jiyeon memakinya. Dari arah parkiran motor Sehun memperhatikan Jiyeon, pria itu tidak mengalihkan pandangannya hingga Jiyeon menghilang di balik pintu masuk sekolah.

~000~

Semakin hari Jiyeon merasa hubungannya dengan Sehun semakin beku, sama halnya dengan suhu yang kini menyelimuti kota Seoul. Memang sesekali Sehun pernah membuat Jiyeon melayang hingga ke langit ke tujuh, tapi selebihnya Sehun selalu membuat Jiyeon terjerambah dalam gamang yang menyiksa. Sehun tidak pernah berubah, pria itu masih sama saja.

“Sehun memang seperti itu, tapi aku rasa dia pria yang baik.”

Eunji berusaha memenangkan Jiyeon yang semakin gelisah, gadis itu mulai berpikir ulang tentang kelanjutan hubungannya dengan Sehun.

“Aku tidak pernah merasa jika dia menginginkanku, mungkin… kau benar Eunji.”

“Jiyeon, waktu itu aku hanya bercanda.”

“Tapi itu kenyataannya. Sehun… terlalu sulit dipahami, kapasitas kesabaranku sudah mulai habis, aku harus berhenti sebelum semuanya terlalu sakit untuk disudahi.”

“Kau yakin?”

Jiyeon menggeleng.

“Kalau begitu jangan.”

Jiyeon diam saja.

“Jiyeon?”

“Mungkin dia sudah pacar di New Zealand.”

“Gosib itu tidak benar, aku sudah meminta Jongin untuk bertanya pada Sehun.”

“Apa?”

“Aku hanya ingin kau tidak berpikir yang macam-macam tentang Sehun.”

Eunji mengernyit, Jiyeon bungkam. Lalu hening melanda mereka selama bermenit-menit.

“Tapi,” Jiyeon berkata, suaranya agak serak.

“Tapi apa?”

“Aku merasa… selama ini aku sudah egois karena memaksanya bertahan bersamaku. Sehun terlalu baik untukku.”

Jiyeon memandang langit kelabu yang kini menaugi mereka dari atas bangku taman yang didudukinya bersama Eunji, membiarkan semua kenangan yang sempat tergores bersama Sehun menguap, terbawa hembusan angin musim gugur yang menyayat hatinya. Perih, getir, sakit. Song Jiyeon memutuskan untuk berhenti, sebelum dia semakin menyakiti dirinya sendiri. Meski Jiyeon tahu jika rasa perihnya, akan melebihi ketika mata pisau mengores lapisan kulitnya.

~000~

Jiyeon turun dari atas motor besar Sehun, wajahnya pucat, mantel tebal yang membungkus tubuhnya, hari ini tidak cukup kuat melindunginya dari suhu dingin. Jiyeon melepaskan helm lalu menyerahkannya pada Sehun, dia menahan Sehun ketika pria itu hendak berlalu.

“Sehun, ada yang ingin aku katakan padamu. Bisakah kau turun sebentar?”

Sehun mengangguk, bersandar pada motor besarnya hingga tinggi badan mereka nyaris sejajar. Hening menyelimuti mereka setelah itu, Jiyeon meremas jemarinya yang beku, dia memandang Sehun lurus-lurus.

“Selama ini aku merasa—- sudah menjadi orang paling egois karena menahanmu untuk berdiri di sisiku, meski aku sadar jika kau tidak pernah menginginkanku. Semakin hari, hubungan ini hanya seperti hubungan satu arah. Aku lelah.”

Pandangan Jiyeon mulai kabur ketika butiran bening berkumpul terlalu banyak di ujung pelupuk, Jiyeon menggenggam tangannya kuat-kuat hingga semua bukunya memutih, berusaha tetap berdiri tegak di atas kedua kakinya yang mati rasa.

“Aku—- aku ingin mengakhiri hubungan kita.”

Sehun hanya diam, iris hitam sepekat malam miliknya menatap butiran kristal yang mulai berjatuhan di pipi pucat Jiyeon.

“Maafkan aku jika selama ini, aku terlalu egois. Maaf jika selama ini aku hanya memikirkan perasaanku tanpa memikirkan perasaanmu sama sekali, aku terlalu gembira ketika kau menerima perasaanku, sampai-sampai aku lupa menanyakan tentang perasaanmu yang sebenarnya padaku.”

Jiyeon terisak, bahunya naik turun. Sehun menegakkan tubuhnya, dia mengusap air mata Jiyeon dengan jarinya.

“Kau yakin ingin mengakhirinya?”

Jiyeon mengangguk susah payah.

“Kau yakin bisa melanjutkan hidupmu tanpa aku?”

Jiyeon mengangguk lagi, air matanya semakin tumpah.

“Baiklah. Jika ini keputusanmu.”

Jiyeon menunduk, dia sudah tidak tahan lagi, isak tangisnya semakin terdengar.

“Kau gadis yang baik, terima kasih untuk semuanya.”

Sehun mendekatkan tubuhnya, dia menunduk, lalu mengecup puncak kepala Jiyeon lembut dan hangat. Jiyeon semakin menangis, menahan pesakitan yang lamat-lamat mulai merangkak, menghujam jantungnya selayak belati. Tubuh Jiyeon gemetar hebat, air mata semakin berjatuhan, tak terbendung membasahi pipinya. Jiyeon menggenggam tangannya kuat-kuat di depan dada, lalu mengusap dadanya ketika rasa sakit semakin menusuk jantungnya, menyesakkan paru-paru hingga napasnya kian satu-satu. Jiyeon tersedu sedan, perpisahan ini jauh lebih sakit dari yang sudah Jiyeon perkirakan. Dia beringsut di atas rumput pelataran ketika Sehun berlalu menjauh, meninggalkannya sendirian bersama semua kenangan yang mulai hari ini, tidak akan pernah kembali tergores di atas kertas kehidupannya.

~000~

Keesokan harinya Jiyeon tidak masuk sekolah, dia demam, semangat gadis itu sudah tumbang sepenuhnya, dia lunglai, tenggelam dalam kesedihan yang tak sanggup berperi. Eunji sangat khawatir, dia bergegas menjenguk Jiyeon setelah pulang sekolah, keadaan Jiyeon sangat memprihatinkan.

“Jiyeon, kenapa kau melakukannya?”

Eunji memeluk Jiyeon erat, air mata Jiyeon jatuh lagi, gadis itu menangis lagi sepilu tadi malam.

“Sehun tidak pernah menginginkanku, dia bahkan tidak menahanku sama sekali.”

Jiyeon berusaha menuntaskan kalimatnya disela-sela isak tangis, luka karena perpisahan masih menganga lebar,sakit tak tertahankan, perih tak terbayangkan. Jiyeon bahkan ingin pindah sekolah, dia benar-benar tidak sanggup jika harus bertemu Sehun di sekolah.

“Jangan konyol. Bukankah ini keputusanmu? Seharusnya kau sudah memikirkannya masak-masak, dan bertanggung jawab pada keputusanmu ini, Jiyeon. Sejak awal kau tahu resikonya, jadi jangan pernah menyiksa dirimu sendiri, apalagi sampai pindah sekolah. Kau lupa ya, aku tidak bisa sekolah tanpa kehadiranmu.”

Eunji memeluk Jiyeon lagi, mengusap punggung lalu mengeratkan pelukannya.

“Kau sabahat paling bodoh yang aku punya, jika kau tidak ada, siapa lagi yang bisa aku bodoh-bodohi?”

Yak!”

Jiyeon melepaskan pelukan Eunji, dia kesal, tapi Eunji hanya cengengesan.

“Jiyeon Sayang… kau segala-galanya bagiku. Aku sakit kalau kau sakit, aku hilang jika kau tidak ada. Jadi semangatlah, besok kau harus sekolah, ok?”

Cih! Kata-katamu membuat aku merinding. Kau tidak berpikir untuk meninggalkan Jongin, lalu menawarkan diri menjadi kekasihku ‘kan?” Jiyeon bergidik.

Eoh, sahabat bodohku sudah kembali, baguslah.”

Eunji mengusap pipi pucat Jiyeon, tapi gadis itu gesit menghindar.

Hey, berhenti menyebutku bodoh.”

“Memang itulah kenyataannya.”

Yak! Dasar gadis pendek!”

Hey, aku ini 161 centimeter, masih banyak gadis diluar sana yang lebih pendek dariku. Artis sekelas Song Hyekyo saja masih kalah tinggi dariku.”

Eunji bersungut, dia sangat bangga karena bisa mengalahkan tinggi badan artis papan atas, Song Hyekyo, meski hanya satu centimeter saja.

“Tetap saja, aku lebih tinggi empat centi darimu.”

Jiyeon melempar bantal ke arah Eunji yang sudah berlari menghindar, kejar-kejaran pun tak terelakkan, sesekali mereka tertawa ketika berhasil saling memukul. Untuk sesat Jiyeon bisa melupakan kesedihannya, Eunji selalu bisa mengubah suasana hatinya. Dan untuk kesekian kalinya, Jiyeon merasa sangat beruntung memiliki sahabat seperti Kwon Eunji.

~000~

Jiyeon melangkah ragu memasuki pelataran sekolah, hari ini sang ayah mengantarnya ke sekolah dan memberinya semangat. Jiyeon tidak menceritakan prihal kandasnya hubungan dia dan Sehun, pada ayah ataupun ibunya. Orangtua Jiyeon hanya tahu jika putri mereka demam karena suhu yang semakin ekstrim, sejak kecil Jiyeon memang suka sekali demam hanya karena suhu yang terlalu dingin atau terlalu panas.

Dalam hati Jiyeon merapal sebaris doa, dia tidak ingin bertemu Sehun, setidaknya untuk hari ini. Dia benar-benar belum siap, bertemu dengan pria itu lagi. Tapi sayang seribu sayang, takdir tidak berpihak pada Jiyeon. Di ujung selasar sosok Sehun muncul, menjulang di balik coat hijau lumut sebatas lutut, berjalan tenang ke arahnya. Jiyeon panik, dia ingin menghindar tapi terlambat, Sehun sudah terlalu dekat. Tepat saat Sehun tinggal dua langkah di depannya, Jiyeon berputar, menghadap tembok, diam, nyaris tanpa menarik napas. Sosok Sehun berlalu begitu saja, Jiyeon bersyukur pria itu tidak menyapanya.

Jiyeon menarik napas lega, dia berbalik, dan langsung terkejut karena wajah Sehun tiba-tiba ada di depan hidungnya.

“Ya Tuhan, Oh Sehun.”

Sangking terkejutnya Jiyeon tanpa sadar memukul lengan Sehun, dia kesal bukan main ketika pria tinggi itu geming, memandanginya lekat hingga berdetik-detik. Perlahan jemari Sehun bergerak, menyentuh pipi pucat Jiyeon hingga gadis itu memaku.

“Kau menangis semalaman?”

Sehun mengamati mata Jiyeon yang bengkak, dia sedikit membungkuk, jemarinya masih mengusap pipi Jiyeon yang samar mulai menghangat. Sentuhan Sehun seperti sengatan listrik, mempercepat aliran darah dan membuatnya berkumpul di kepala. Jiyeon mati-matian menahan degub jantungnya, lalu menepis tangan Sehun secepat yang dia bisa.

“Bukan urusanmu.”

Jiyeon berbalik, lalu berjalan terburu-buru meninggalkan Sehun. Pria itu memandangi punggungnya hingga menghilang di ujung selasar.

~000~

Tidak ada yang sadar jika jalinan cinta Song Jiyeon dan Oh Sehun sudah putus, mereka hanya berpikir kedua orang itu sedang sibuk, hingga terlihat jarang bersama. Selama seminggu ini para siswa dan siswi disibukkan dengan tugas sekolah yang menumpuk.

Sama seperti hari-hari sebelumnya, Jiyeon melewati waktu hidupnya dengan tidak semangat, lesu seperti orang pengidap anemia, tertatih-tatih selayak orang yang habis terserang stroke. Eunji mati-matian menghibur Jiyeon, gadis itu bahkan mengabaikan Jongin selama beberapa hari untuk focus menemani Jiyeon. Eunji benar-benar khawatir, memikirkan nasib Jiyeon dikemudian hari.

“Jong, menurutmu apa lagi yang harus aku lakukan untuk menghibur Jiyeon?”

Eunji berdiri menengadah menatap Jongin, mereka berdiri di selasar lantai dua tepat di atas aula sekolah. Dari tempatnya berdiri, Eunji bisa melihat Jiyeon duduk termangu di kursi kayu pinggir aula.

“Kau sudah melakukan semua hal yang seharusnya untuk sabahatmu, aku rasa… Jiyeon butuh waktu sendiri untuk membenahi perasaan dan hatinya.”

“Apa Sehun juga terluka karena perpisahan ini?”

“Aku tidak tahu, aku tidak terlalu pandai mengartikan risalah hati dari ekspresi wajah.”

Jongin mendekat, memangkas jarak di antara dia dan Eunji.

“Apa aku perlu membujuk Sehun untuk berbaikan dengan Jiyeon?”

Eunji melirik Jiyeon yang masih diam di bawah sana, dia tidak sadar sama sekali ketika tubuh mungilnya sudah terkurung di balik lengan Jongin yang besar.

“Kita tidak punya hak untuk itu, ini tentang perasaan, hanya mereka yang berhak untuk memutuskannya.”

Jongin mengeratkan pelukannya, meletakkan dagunya di atas kepala Eunji. Dia sangat paham dengan kekhawatiran Eunji terhadap Jiyeon, mereka sudah bersahabat sejak kecil, selama ini Jongin bahkan rela menjadi prioritas kedua bagi kekasihnya itu. Eunji menghembuskan napas panjang berulang-ulang, lalu menyandarkan kepalanya di dada Jongin yang bidang, tenggelam di dalam pelukan Jongin yang menenangkan. Dalam hati Eunji berdoa, agar semua masalah patah hati Jiyeon cepat berlalu. Eunji benar-benar berharap doanya akan cepat terkabul.

~000~

Ada yang bilang, semakin kita menghindari seseorang, maka semakin sering pulalah kita bertemu dengan orang itu. Begitu pula dengan apa yang Jiyeon alami. Dia justru selalu bertemu Sehun, tiap kali dia mati-matian menghindari pria itu. Di selasar, di kantin, di perpustakaan, Jiyeon selalu bertemu Sehun, bahkan kemarin dia duduk bersebelahan dengan Sehun di perpustakaan. Jika bukan karena tidak ada lagi bangku kosong selain di sebelah Sehun, atau jika bukan karena tugas fisika yang memusingkan itu harus segera dikumpulkan, Jiyeon pasti memilih keluar dari tempat itu dari pada berlama-lama berdekatan dengan Sehun.

Sungguh, rasanya sangat sakit sekaligus mendebarkan.

Jiyeon tidak terlalu menguasai ilmu fisika, dia bahkan harus menumpuk beberapa buku panduan untuk menyelesaikan tugasnya. Eunji masih terjebak di kelas memasak, gadis itu tidak lebih pintar dari Jiyeon, Eunji bahkan mengandalkan Jiyeon untuk menyelesaikan semua soal yang membuat cerebrumnya mengkerut hanya dalam hitungan detik.

Jiyeon meloloskan napas panjang berulang-ulang, soal fisika yang sedang dia selesaikan sudah berhasil membuat tali kasat mata di dalam kepalanya ruwet dan semrawut, otaknya berdengung seperti habis dihantam bola basket. Ditambah sosok Sehun yang berjarak satu jengkalan tangan, membuat Jiyeon semakin tersiksa.Jiyeon pening, matanya basah. Dia ingin sekali meminta bantuan pada Sehun yang pintar, tapi tidak sanggup melakukannya.

Seorang siswi cantik menghampiri Sehun, duduk merapat di sisi priaitu, meminta bantuan untuk menyelesaikan soal kimia yang sepertinya sudah membelit gadis itu. Seketika insting tidak rela Sehun berdekatan dengan gadis lain berdentam di otak Jiyeon yang pening, dia melirik Sehun, priaitu tengah menjelaskan cara untuk menjawab soal dari gadis yang kian merapat pada pria itu. Jiyeon kesal, dia benar-benar lupa jika Sehun bukan lagi kekasihnya.

Tanpa aba-aba Jiyeon menyandarkan kepalanya di bahu Sehun, merangkul lengan Sehun seraya memejamkan kedua mata. Sehun terkejut, dahinya mengernyit, cepat-cepat dia menyelesaikan penjelasannya, lalu meminta gadis yang bertanya padanya untuk menjauh dengan kalimat yang sangat sopan, hingga tidak terjadi salah paham atau ketersinggungan.

“Cemburu ya?”

Mata Jiyeon terbuka secepat detik jam, mengangkat kepala dari bahu Sehun, melepaskan rangkulan, lalu mencibir Sehun yang sudah tersenyum samar.

Cih! Yang benar saja. Aku—- aku—- hanya sedikit mengantuk, jadi—- tidak sadar bersandar padamu.”

Wajah Jiyeon merah padam, ekspresinya dibuat sedingin mungkin. Sehun hampir saja tidak bisa menahan tawa, di matanya Jiyeon terlihat sangat lucu dan mengemaskan.

“Jangan berpikir yang macam-macam, jika kau menyukai gadis yang tadi itu, tidak masalah kok.”

Sehun diam, dia hanya memandangi Jiyeon lekat, dan semakin lekat. Jiyeon mati kutu, untung-untung dia tidak gagap. Sangat memalukan rasanya jika harus salah tingkah, di depan mantan kekasih.

“Berhenti memandangiku.”

Sehun geming.

“Oh Se—-“

Kalimat Jiyeon tertahan di udara ketika Sehun mengusap kepalanya, pria itu menyambar buku Jiyeon yang terabaikan di atas meja. Tak sampai lima belas menit, Sehun sudah menyelesaikan delapan soal yang tersisa, lengkap dengan penjabarannya. Lalu Sehun beranjak, meninggalkan Jiyeon tanpa kata.

~000~

Jiyeon mengerutu ketika harus menemui Eunji di area lapangan basket, entah apa tujuan Eunji memintanya bertemu di tempat yang kemungkinan besar ada Sehun disana. Tapi Jiyeon tidak bisa menolak Eunji, gadis itu merengek selayak bayi ketika Jiyeon berusaha menolak. Jika sudah begini, Jiyeon benar-benar tidak bisa menolak Eunji, dia bahkan ragu, jika angka tujuh belas, adalah umur Kwon Eunji tahun ini.

Seperti apa yang Jiyeon duga, ada Sehun di lapangan basket, latihan bersama teman-teman satu timnya. Jiyeon menarik napas, berusaha sekuat tenaga untuk tidak melihat ke arah lapangan lebih dari satu menit. Jiyeon terdengar mengumpat ketika Eunji memanggilnya, gadis itu duduk santai di kursi penonton, ada beberapa murid lain disana, ikut menyaksikan puluhan pria tinggi dan tampan berlarian dan saling berebut bola. Eunji terlihat senang karena berhasil membuat Jiyeon datang, dia berencana akan mempertemukan sahabatnya itu dengan Sehun usai latihan, untuk membahas kelanjutan hubungan mereka.

Jiyeon berjalan di pinggir lapangan, tergesa-gesa, berharap cepat sampai lalu segera berlalu ketika urusannya dengan Eunji selesai. Ketika Jiyeon tinggal lima langkah menuju bangku penonton, seorang pria dari arah lapangan basket meneriakkan namanya, memberinya peringatan. Jiyeon terkejut, dia menoleh, dan seketika hentakan bola basket yang terbang ke arahnya, mendarat sangat keras di keningnya. Jiyeon terhuyung, lalu jatuh begitu saja di lantai. Dia pingsan.

Jiyeon tidak sempat mendengar jeritan Eunji, ataupun melihat kepanikan Sehun yang langsung berlari ke arahnya, menggendongnya di atas punggung, lalu terbirit-birit menuju ruang kesehatan.

Jiyeon tidak tahu berapa lama dia tidak sadarkan diri, tapi saat dia sadar dia sudah berada di atas ranjang, selimut tebal warna casper sudah membalut tubuhnya sebatas pinggang. Jiyeon mengerjab, berusaha mengumpulkan semua kesadarannya yang masih memantul-mantul, dari atas kepala ke atap putih tulang yang menaunginya. Jiyeon belum sadar dia tengah terbaring di atas tempat tidur ruangan kesehatan, kepalanya sakit sekali, berdenyut, berputar tiada henti. Jiyeon meraba pelipisnya, lalu merintih setelah itu, ada benjolan kecil disana.

Jiyeon tidak ingin bangun, dia ingin kembali terpejam, tapi tertunda ketika dia merasakan kehadiran orang lain di dekatnya. Jiyeon berusaha membuka matanya lebih lebar, selanjutnya yang terjadi adalah dia terperanjat, Jiyeon bahkan tidak menemukan detak jantungnya untuk lima detik penuh. Jiyeon kehilangan suaranya, seketika dia merasa tidak menemukan oksigen di sekitarnya, wajahnya merah seperti tomat, menemukan Sehun membungkuk tepat di depan hidungnya. Tangan hangat pria itu meraba pelipisnya, mengoleskan gel dingin dengan hati-hati, tanpa kata, hanya deru napas Sehun yang terdengar teratur, menerpa permukaan kulit Jiyeon yang semakin merah padam.

“Masih sakit?”

Jiyeon bungkam, dia hanya memandangi Sehun yang mulai menegakkan tubuhnya. Samar mata Jiyeon berembun, dia merasa jika semakin hari, hatinya semakin berat untuk melepaskan Sehun dalam arti yang sebenarnya. Pria itu selalu saja mampu membuatnya gamang, merindu, gelisah, ujung-ujungnya memupuk rasa tidak rela hingga menggunung, lalu ambruk, mengubur Jiyeon semakin dalam. Jiyeon harus menghentikan semua kegundahan ini, dia harus mengambil keputusan. Menjauhi Sehun, lalu meninggalkan pria itu untuk selamanya.

Jiyeon berusaha untuk duduk meski pening masih mendera kepalanya, Sehun yang melihat itu sigap membantu Jiyeon, tapi dengan cepat gadis itu menolak, Jiyeon menyingkirkan tangan Sehun dari kedua bahunya.

“Kenapa kau melakukannya?” Jiyeon bertanya lirih.

“Melakukan apa?”

“Jangan pura-pura tidak tahu, Oh Sehun. Kita sudah putus, hubungan kita sudah berakhir, jadi berhenti berdiri di dekatku, berhenti mengganggu hidupku dan berhenti memberi perhatian yang membuatku semakin sulit untuk lepas darimu. Bisakah kau mengerti jika aku sangat tersiksa?”

Suara Jiyeon mulai parau, tumpukan cairan bening sudah berjejal di kedua sudut mata beningnya yang merah.

“Menjauhlah dariku Oh Sehun, kenapa kau selalu saja menyiksaku.”

Jiyeon mendorong Sehun, memukul-mukul dada pria itu ketika Sehun geming. Pria itu hanya menatapnya tanpa kata, tanpa perlawanan, membiarkan dadanya sakit karena pukulan Jiyeon yang bertubi-tubi. Bagi Sehun itu belum seberapa, dibandingkan rasa asing yang menyakiti relung hati ketika Jiyeon memutuskan hubungan mereka. Jiyeon menangis selama bermenit-menit, air mata dan cairan hidung mulai menyusahkannya, dia menyeka berkali-kali dengan punggung tangan tapi tidak membantu sama sekali. Jiyeon cegukan, dia meraih tisu di atas nakas samping ranjang, menyeka air mata dan membersihkan ingus yang mengotori jari-jarinya.

Jiyeon menyibak selimut, dia berniat untuk turun dari ranjang, tapi rasa sakit kembali menyerang kepalanya, Jiyeon terhuyung, matanya terpejam selama beberapa detik.

“Kau mau pulang?”

Sehun bertanya, dia sudah berdiri di depan Jiyeon yang masih menunduk. Lalu tiba-tiba tanpa Jiyeon sangka-sangka Sehun menarik kedua tangannya untuk mengalung di bahunya, tanpa sempat Jiyeon menyadarinya, kini dia sudah berada di punggung Sehun.

Hey! Apa yang kau lakukan?! Turunkan aku, Oh Sehun turunkan aku!”

Sehun geming, dia tetap menggendong Jiyeon, keluar dari ruang kesehatan, menyusuri koridor sekolah yang sepi. Jam pelajaran belum usai, Jiyeon sangat bersyukur untuk itu, kalau tidak mau ditaruh dimana mukanya. Sehun tetap bersikukuh menggendongnya, tak peduli ketika dia bersikeras untuk turun. Lelah melawan Sehun, Jiyeon akhirnya memilih untuk diam, kepalanya sakit lagi, tanpa sadar dia bersandar di pundak Sehun yang bidang. Punggung Sehun benar-benar hangat, Jiyeon merasa sangat nyaman dan tenang. Tapi kemudian dia serasa ingin kembali menangis, menyadari jika bukan dia pemilik punggung hangat itu. Oh Sehun bukanlah siapa-siapa, dia hanya mantan kekasih yang harus segera dilupakannya, cepat atau lambat.

~000~

“Eunji, kenapa aku harus selalu bertemu dengannya?”

Jiyeon mengacak rambut panjangnya hingga mengembang seperti Singa, Eunji yang duduk di atas sofa beranda warna biru muda hanya mengangguk-angguk. Gadis itu tengah menikmati black forest buatan Song Jieun, ibunda Jiyeon, yang sangat enak dan sudah menjadi favorit Jiyeon dan Eunji sejak mereka masih kecil. Udara sore kali ini agak sedikit bersahabat, matahari tampak berusaha keras menyibak awan kelabu yang menutupinya.

“Mungkin… kalian berjodoh, karena itulah kalian selalu dipertemukan takdir.”

Eunji kembali menyuap satu potong cake ke dalam mulutnya, dia melirik iPhonenya yang bergetar, pesan singkat Jongin baru saja masuk.

“Eunji, kau benar-benar tidak membantuku sama sekali.”

Jiyeon geram, Eunji hanya menaikkan bahunya, membaca pesan singkat Jongin lalu tersenyum kecil setelah itu.

“Apa?” ucap Jiyeon ketika Eunji meliriknya, nadanya masih kesal.

“Jongin bilang aku harus makan banyak, biar tidak terlalu kurus. Semakin hari aku semakin terlihat seperti Kurcaci, jika sedang berdiri di sampingnya.” Eunji meletakkan ponselnya ke atas meja kaca di depannya.

Jiyeon menghenyakkan tubuhnya di samping Jiyeon, lalu menerima suapan cake dari gadis itu. Eunji mengusap lengan Jiyeon, lalu berkata :

“Kau dan Sehun putus hubungan percintaan, bukan putus hubungan sebagai sesama manusia. Kenapa kau memusuhinya? Memang apa salah Sehun padamu? Bukankah kau yang menginginkan perpisahan ini?”

“Kenapa kau membelanya?”

“Aku tidak membelanya.”

“Kau membelanya, Kwon Eunji.”

“Aku tidak—- baiklah, sikapmu berlebihan Jiyeon. Semakin hari kau terlihat semakin aneh, kau terlihat tidak rela telah melepaskan Oh Sehun dari kehidupanmu.”

“Ak—-“

“Jangan membantahku, akui saja.”

Jiyeon bungkam.

“Jika tidak rela, kenapa kau tidak memperbaiki hubungan kalian?”

“Sehun tidak pernah menginginkan hubungan ini?”

“Darimana kau tahu?”

“Kau juga pernah berpikir demikian, Eunji.”

“Yah, memang benar. Tapi bisa saja pemikiranku salah ‘kan?”

“Lalu sekarang kau menyalahkanku?”

“Bukan begitu,”

“Lantas?”

“Aku hanya—- aku, tidak sanggup melihatmu yang seperti ini. Kau terlihat sangat tersiksa, kau seperti orang lain, kau pura-pura menjadi kuat padahal tidak sama sekali.”

Jiyeon memaku, pandangannya mulai kabur.

“Aku mohon jangan seperti ini Jiyeon. Lupakan dia jika kau tidak menginginkannya, atau kembali pada Sehun jika kau tidak sanggup melupakannya.”

Tetes demi tetes air mata Jiyeon jatuh, deras dan semakin tidak terkendali. Eunji memeluk Jiyeon erat, membiarkan sahabatnya itu menangis tersedu-sedu di dalam rangkulannya. Eunji benar, Jiyeon tidak boleh larut dalam kesedihan terlalu lama. Lagipula dia sudah mengambil keputusan ‘kan?

Melupakan Oh Sehun.

~000~

Sehun merebahkan diri di atas ranjang tidurnya, dia menatap langit-langit kamarnya yang hitam keabuan. Jam dinding sudah menunjukkan pukul empat sore, dia masih memikirkan kata-kata Jiyeon. Dia menyakiti gadis itu? Benarkah?

Pintu kamar Sehun terbuka, sosok sang ibu yang terlihat masih sangat cantik dan jauh lebih muda dari umur yang seharusnya, menyembul dari balik pintu. Wanita yang mewariskan iris hitamnya pada Sehun itu tersenyum, lalu duduk di sisi Sehun. Tangannya yang halus mengusap kepala Sehun, membawa putra tersayangnya itu, untuk merebahkan kepala di atas pangkuannya.

“Ibu… apa yang harus aku lakukan sekarang? Dia bilang, aku sudah menyakitinya.”

“Kalian bertengkar?” tanya Oh Ayi hati-hati.

“Lebih dari itu.”

Sehun mengerjab, dia menggenggam jemari sang ibu yang mengusap lembut pipinya. Selama ini Oh Ayi sudah kenal Jiyeon, gadis itu beberapa kali pernah berkunjung ke rumah Sehun. Jiyeon bisa menghabiskan berjam-jam jika sudah bercerita dengan Ayi.

Sehun menghembuskan napas beratnya, dia melirik ibunya sebentar lalu memejamkan kedua mata.

“Aku membuatnya menangis, aku membuatnya tersiksa dan aku yang membuatnya terluka.”

Suara Sehun kian lirih, ada sejuta perih tersirat dari balik kalimat panjang yang begitu sulit Sehun utarakan. Dia sudah menahannya sejak hari pertama Jiyeon memutuskan hubungan mereka, dia berpikir keras tentang apa yang telah dia lakukan, hingga Jiyeon memutuskan untuk meninggalkannya.

“Kaum wanita memang terkadang sulit dimengerti, bahkan ketika kau sudah menanyakan keinginan mereka sekalipun. Apalagi jika kau hanya diam saja,”

Sehun bungkam, dia masih memejamkan kedua mata.

“Wanita selalu berpikir yang tidak-tidak jika merasa diabaikan.”

“Aku tidak pernah mengabaikannya.”

“Mungkin secara langsung memang tidak.”

“Maksud Ibu?”

“Mungkin… Jiyeon tidak menyadari perhatianmu, dia tidak bisa memahami maksud tatapanmu padanya. Tidak ada salahnya kau mengajaknya bicara lebih banyak dari yang sebelumnya, lalu membuatnya mengerti tentang perasaanmu dengan kata-kata yang kau verbalkan ke dalam kalimat-kalimat manis.”

“Haruskah?”

“Siapa yang tahu, jika kau tidak mencobanya.”

Sehun duduk, dia memandangi wajah ibunya, lalu memeluk wanita terpenting di hidupnya itu erat.

“Ibu, aku sangat menyayangimu.”

“Katakan juga hal yang sama pada Jiyeonmu.”

Eoh?” Sehun melepaskan pelukannya.

“Dan berikan topi rajut ini untuk Jiyeon, dia… suka warna biru, bukan?”

Sehun mengangguk, dia memperhatikan topi rajut yang kini sudah berpindah tangan, tergenggam di tangan kanannya.

Yah, dia suka warna biru.”

Sehun tersenyum, mengingat ketika Jiyeon selalu terlihat sangat antusias jika menemukan sesuatu yang berwarna biru, lalu Sehun menyimpulkan jika gadis itu menyukai warna langit itu.

“Ibu suka Jiyeon, sikap periangnya benar-benar cocok untukputraku yang irit bicara ini.”

Ayi mengusap pipi Sehun lalu memeluknya, mereka tertawa kemudian. Dalam hati Sehun bersyukur, memiliki seorang ibu sehebat Oh Ayi.

~000~

Suasana hati Jiyeon masih membiru, nyaris kelabu. Belum ada tanda-tanda kehidupan di balik mata beningnya yang sayu. Song Jongki dan istrinya semakin khawatir, meski mereka tidak tahu yang sebenarnya, Jiyeon bersikukuh menyembunyikan masalahnya dari kedua orangtuanya. Jongki memutuskan untuk menghibur Jiyeon, mengajak putri tunggalnya ke Busan, melihat festival kembang api terbesar di Korea. Diadakan di sekitar kawasan jembatan Gwang-an, selama hampir empat puluh lima menit.

Sejujurnya Jiyeon tidak ingin pergi kemanapun, dia tak punya daya untuk menggerakkan kakinya. Tapi Jiyeon juga tidak mampu mengecewakan orangtuanya yang sudah menyiapkan semuanya.

“Ayah jamin, ini akan sangat menyenangkan, Jiyeon Sayang.”

Jongki mengecup kening Jiyeon, merangkul bahu lalu menggiring putrinya masuk ke dalam mobil. Perjalanan selama hampir lima jam dilalui dengan suka cita, Jongki mengajak Jiyeon dan istrinya untuk bernyanyi. Dia juga bercerita tentang masa mudanya dan bagaimana usahanya merebut hati Song Jieun yang kala itu sangat pendiam.

“Kau tahu Jiyeon, Ibumu nyaris tidak pernah bicara, Ayahmu yang tampan ini sampai pusing tujuh keliling.”

“Itu dulu,” Jieun menimpali.

“Yah, sekarang kau sangat cerewet Sayang, bahkan melibihi Jiyeonku.”

Jongki tertawa lagi, Jieun agak tersipu-sipu, lalu ikut tertawa. Jiyeon terbahak-bahak, sesekali Jongki dan Jieun mengusap puncak kepalanya. Jieun membuat kue beras, hampir disepanjang perjalanan, wanita yang mewarisi kecantikannya pada Jiyeon itu sibuk menyuapi Jiyeon dan Jongki dengan kue beras.

~000~

Jiyeon cemberut ketika harus sendirian ke festival kembang api, tiba-tiba ayahnya sakit perut, mungkin karena terlalu banyak makan kue beras. Jongki berjanji akan menyusul bersama Jieun, segera setelah urusan perutnya terselesaikan. Kawasan jembatan Gwang-an sudah sangat ramai ketika Jiyeon sampai, dia memilih berdiri agak jauh dari kerumunan orang-orang yang ingin menyaksikan pertunjukan kembang api. Jiyeon tidak begitu ahli menerobos tembok manusia, dia pasti akan selalu terhuyung-huyung, lalu tersisih sebelum dia sempat menyadarinya.

Jiyeon menengadah, memandangi langit yang masih bersih, kelabu, tapi hangat. Jiyeon tersenyum ketika bayangan Sehun menyapanya, dia sudah mulai berusaha untuk berdamai dengan rasa patah hati yang menyesakkan, meski baru berhasil seujung kuku. Tapi setidaknya Jiyeon sudah tidak lagi menangis, saat bayangan Sehun mengusiknya, ketika kenangan bersama pria itu mendatangi mimpi malamnya.

Malam semakin merangkak, Jiyeon melirik jam tangannya, festival kembang api akan dimulai sebentar lagi, tapi ayah dan ibunya belum juga muncul. Sekelompok pemuda berdesakan untuk bisa berdiri di pinggir jembatan, mereka tanpa sengaja menabrak Jiyeon. Seketika Jiyeon terhuyung, hampir terjatuh jika saja tidak ada sepasang tangan kekar yang menahan tubuhnya. Jiyeon terkejut dan buru-buru mengucapkan terima kasih ketika dia sudah bisa berdiri tegak.

“Kenapa pergi sendirian?”

Jiyeon yang masih setengah membungkuk, merasa mengenali suara pria di depannya, suara berat itu mirip sekali dengan suara Oh Sehun. Jiyeon ragu-ragu, dia sangat takut jika suara yang begitu familiar di telinganya itu benar milik Oh Sehun.

Haruskah dia bertemu pria itu di tempat ini?

Jiyeon menengadah dan seketika itu juga dia terperangah.

“Se—-Sehun?”

“Sebentar lagi pertunjukan kembang apinya mulai, ayo lebih dekat.”

Tanpa menjawab keterkejutan Jiyeon, Sehun sudah menarik Jiyeon untuk mengikuti langkahnya. Dengan mudah Sehun membawa Jiyeon ke barisan paling depan kerumunan orang-orang, dia menempatkan Jiyeon di depannya, di antara lengan yang dia tumpukan di kedua bahu mungil Jiyeon. Jiyeon memaku, dia bahkan tidak sadar jika puluhan kembang api mulai menghiasi langit, warna-warnai, gegap gempita, sangat indah.

Jiyeon tersadar ketika Sehun semakin merapatkan dada ke punggungnya, kedua tangan pria itu bahkan nyaris memeluk Jiyeon. Sehun menengadah, lalu berbisik pelan.

“Indah sekali, benar ‘kan?”

Pelan-pelan Jiyeon ikut menengadah, menatap langit yang sudah berubah kemerahan.

“Yah, sangat indah.”

Jiyeon tersenyum, membiarkan satu lengan Sehun merangkul bahunya. Tidak ada lagi kalimat yang terlontar di antara keduanya, mereka sama-sama hanyut dalam pesta kembang api, mengiringi riuh rendah yang menaugi hati mereka masing-masing.

Bermenit-menit berlalu dalam keheningan yang mendebarkan, sebelum akhirnya Jiyeon sadar, dia menunduk, lengan Sehun masih melingkar erat di bahunya. Jiyeon melepaskan rangkulan Sehun, dia melangkah mundur, bermaksud menjauhi Sehun. Tapi semuanya terlihat sia-sia ketika pria besar di balik punggung Jiyeon mendorongnya, detik berikutnyaJiyeon kembali berada di dalam pelukan Sehun. Tanpa Jiyeon sadari, Sehun tersenyum, wajah pucat pria itu bahkan sudah bersemu.

Jiyeon melepaskan diri dari pelukan Sehun yang semakin melumpuhkan, dia bahkan harus mengusap dadanya yang bergemuruh. Untung cahaya disekitar mereka hanya remang-remang, jika tidak, Jiyeon pasti sudah sangat malu, karena gugup dan rona pipinya yang semakin muncul tidak tahu diri.

“Jangan mengambil kesempatan.”

Sehun diam saja.

“Apa kau mengikutiku?”

Sehun masih saja diam.

“Sehun… kenapa kau—-“

Kalimat Jiyeon terhenti ketika tiba-tiba Sehun menarik tangannya, membawanya menjauh dari kerumunan orang-orang yang masih menikmati pesta kembang api. Langit malam semakin semarak, keperakan, kelap kelip seperti lampu diskotik. Bedanya yang ini jauh lebih indah.

Jiyeon menghempaskan genggaman Sehun, dia bertolak pinggang, menatap Sehun geram. Mereka sudah agak jauh dari kawasan jembatan Gwang-an, tapi suara gemuruh kembang api masih jelas terdengar.

“Kenapa kau bisa ada di Busan?” tanya Jiyeon.

“Aku ingin melihat festival kembang api.”

“Kau mengikutiku? Iya ‘kan?”

“Tidak.”

Sehun berbohong, nyatanya dia ke Busan setelah Eunji memberitahunya. Sehun mendekati Jiyeon, gadis itu sigap menghindar, melangkah mundur. Dia memandangi Jiyeon lekat-lekat, gadis itu terlihat gugup.

“Apa kau baik-baik saja?”

Sehun bertanya. Kini giliran Jiyeon yang bungkam.

“Sepertinya kau benar-benar bisa melanjutkan hidupmu tanpa aku, ya?”

Sehun tersenyum, Jiyeon masih bungkam, gadis itu hanya memandangi Sehun.

“Biasanya aku yang diam, tapi malam ini kau yang diam saja. Apa kau tidak ingin tahu, apakah aku bisa melanjutkan hidupku atau tidak, setelah kau mengakhiri hubungan kita?”

“Ap—-apa?”Jiyeon terkejut, dia gagap seketika.

“Aku sangat kalut saat kau memutuskan hubungan kita, aku tidak bisa bernapas tiap kali mengingat kau bukan lagi kekasihku.”

Jiyeon beku.

“Aku ingin sekali menahanmu, tapi… aku merasa tidak berhak untuk itu, kau terlihat sangat tersiksa saat bersamaku, kau bahkan menangis karena aku. Tapi ada satu hal yang belum aku katakan padamu, hal yang selama ini aku pikir bisa kau mengerti tanpa aku harus mengatakannya padamu. “

Jiyeon diam, pandangannya kabur, jantungnya bertalu-talu. Jiyeon diam saja ketika Sehun semakin mendekat, kakinya sudah mati rasa.

“Aku sangat menyayangimu, aku jatuh cinta padamu entah sejak kapan. Aku sangat takut kehilanganmu, aku—-“

Kalimat Sehun terhenti ketika Jiyeon menghambur ke dalam pelukannya, gadis itu menangis, tersedu sedan seraya mengeratkan pelukan.

“Kenapa kau sangat menyebalkan, Oh Sehun.”

Jiyeon memukul dada Sehun, meluapkan rasa kesalnya pada sosok pria tinggi yang kaku itu, hingga membuatnya salah paham. Jiyeon mendongak, dia cegukak, lalu berkata :

“Kenapa baru mengatakannya sekarang?”

Sehun tidak menjawab, dia hanya mengecup kening Jiyeon lalu balas memeluk Jiyeon seerat gadis itu memeluknya.

“Sehun, kau benar-benar—–“

“Aku tidak tahu, jika kau sebodoh itu.”

“Ap—- apa?”

Sehun terkekeh, lalu mengeratkan pelukan. Tapi tiba-tiba Jiyeon melepaskan pelukannya, dia merogoh tisu dari dalam tas, membersihkan cairan hidung.

Ah, aku mengotori kemejamu.”

Jiyeon mengusap dada Sehun yang agak basah dengan tisu, Sehun hanya tersenyum, dia mengusap kepala Jiyeon yang menunuduk di depannya, sibuk membersihkan kemejanya.

“Tidak masalah.”

Sehun mundur satu langkah, lalu mengeluarkan sesuatu dari balik mantel hitamnya.

“Ibuku membuatkan ini untukmu.”

Sehun memasangkan topi rajut ke kepala Jiyeon, merapikan rambut panjang gadis itu lalu tersenyum lebar setelah itu.

“Cantik.” Gumam Sehun disela-sela dia tersenyum.

Jiyeon bersemu merah jambu, dia tersenyum malu-malu, menyentuh topi barunya sambil sesekali melirik Sehun. Pertunjukan kembang api baru saja usai. Tanpa mereka sadari tak jauh dari tempat Sehun dan Jiyeon berdiri, ada tiga sosok manusia yang sejak tadi memperhatikan lewat teropong kecil yang menempel di depan mata mereka masing-masing.

Ah, mereka manis sekali. Sayang, ayo, kita harus memberi selamat untuk mereka.” Ucap salah satu dari mereka.

“Nanti dulu Jieun, kita harus memberi waktu untuk mereka berdua, benar begitu ‘kan, Eunji?” ucap pria yang berdiri di sebelah Jieun, melirik gadis kecil yang hanya setinggi bahunya, gadis yang masih sibuk memperhatikan Sehun dan Jiyeon.

“Paman Jongki benar, kita tunggu sebentar lagi. Wuah! Mereka romantis sekali.”

Eunji cekikikan, lalu bersandar pada Jongki. Dia sangat bahagia karena berhasil membuat Jiyeon dan Sehun kembali bersama, Eunji bahkan rela meninggalkan Jongin demi merealisasikan rencana mulia ini, tentu saja dengan bantuan orangtua Jiyeon. Jongki sangat bangga dengan aktingnya yang meyakinkan ketika harus berperan seperti orang terserang diare di depan Jiyeon.

“Eunji, terima kasih.” Jongki mengecup puncak kepala Eunji. “Kau memang putri paman yang sangat baik dan juga cantik.”

“Sama-sama Paman.”

“Sebagai hadiah Bibi akan membuatmu Black Forest ukuran besar, kau mau?”

Eunji berseru, mengangguk berkali-kali lalu memeluk Jieun erat. Sementara itu Jiyeon mulai sibuk menghubungi Jongki, dia khawatir karena ayahnya tidak muncul-muncul.

“Seharusnya Ayah kemari kalau sudah merasa baikkan.”

Jiyeon melirik Sehun sebentar lalu mencoba menghubungi Jongki. Sehun yang tidak tahu jika semuanya sudah terencana, menawarkan diri untuk mengantarkan Jiyeon pulang.

“Kalau begitu kita pulang saja.”

Sehun meraih jemari Jiyeon, lalu menarik Jiyeon menjauh ketika gadis itu mengangguk setuju. Akan tetapi langkah mereka berhenti, Jiyeon yang masih mencoba menghubungi Jongki, merasa mendengar nada dering dari ponsel ayahnya itu.

“Tunggu sebentar—- ini—- seperti suara ponsel Ayahku.”

“Benarkah?”

Jiyeon memperhatikan ke balik semak yang bergerak-gerak, lalu berteriak hingga memeluk Sehun ketika tiga sosok manusia bermantel hitam muncul.

“Ayah?!” Jiyeon terkejut.

“Eunji?” Sehun juga terkejut, yang dia tahu gadis itu sedang makan malam di rumah Jongin.

“Ibu? Apa yang—- yak! Kalian…,”

Jiyeon melirik Sehun.

“Aku tidak tahu tentang ini.” Sehun menjawab cepat.

Jongki, Jieun dan Eunji mendekati Jiyeon. Eunji merangkul lengan Jongki, meminta perlindungan ketika mata bening Jiyeon memicing.

“Bisa dijelaskan? Ayah tidak diare, benar ‘kan?”

“Benar sekali.” Jongki mengangguk, dia tersenyum lebar. “Begini, jadi—-“

Wuah, kalian berdua sangat manis dan romantis.”

Jieun memotong, dia segera menghambur memeluk Jiyeon dan Sehun bergantian. Mata beningnya berbinar, dia mencium pipi Jiyeon, senyumnya lebar dan sangat berlebihan.

“Kami mengikuti kalian, kami merencanakan semuanya. Kami sangat tidak rela melihat kalian berpisah, melihat putriku sedih berhari-hari, membuatku tidak tenang.” Jieun melirik Sehun. “Oh Sehun, kau benar-benar pasangan yang cocok untuk putriku yang cerewet dan bodoh ini.”

“Ibu, aku tidak bodoh!” Jiyeon berseru, dia kesal.

“Kalau tidak bodoh, mana mungkin kau memutuskan Oh Sehun. Benar ‘kan, Eunji?”

Eunji mengangguk antusias.

“YAK!”

Jiyeon kesal sekali, dia sampai bertolak pinggang.

“Jadi, kalian, pacaran lagi setelah ini. Iya ‘kan?” tanya Eunji, dia sangat penasaran.

“Bukan urusanmu.” Jiyeon menjawab ketus.

Hey, kalian harus kembali bersama. Sehun, kalian sudah…,” Jongki melirik Sehun penuh arti.

“Sepertinya Jiyeon tidak mau, Paman.”

“Siapa yang tidak mau.” Jiyeon keceplosan, lalu segera menutup mulutnya, dia benar-benar malu sekarang.

“Kalau begitu ayo, minta Jiyeon untuk menjadi kekasihmu lagi, Sehun.” Jieun memprovokasi.

“Ibu?” Jiyeon mati kutu.

“Baiklah.” Jawab Sehun.

“Sehun?” Jiyeon semakin tersipu, Eunji sudah terpingkal-pingkal.

“Song Jiyeon, mau kah kau menjadi kekasihku lagi?”

Jiyeon bungkam, dia menunduk kian dalam.

“Ayo Jiyeon, Sehun menunggumu.”

Eunji ikut-ikutan memprovokasi, Jiyeon melirik Eunji, dalam hati dia bersumpah akan menguliti Eunji setelah ini.

“Iya, baiklah.” Jawab Jiyeon pelan, nyaris seperti bisikan.

“Apa? Aku tidak mendengarnya?” kata Sehun, semua orang sudah menahan tawanya sekarang.

Jiyeon mengumpat, dia benar-benar tidak menyangka jika Sehun bisa berubah menjadi pria yang sangat menyebalkan.

“IYA AKU MAU! Kau puas, Oh Sehun?!”

Jiyeon semakin kesal, wajahnya merah padam, ekspresinya setengah marah setengah malu. Sehun yang berdiri di sebelahnya hanya tersenyum, Eunji terbahak-bahak. Jieun memeluk Jiyeon erat, dia sibuk mengucapkan kata selamat untuk putri tersayangnya, sedangkan Jongki hanya tertawa pelan, dia suka sekali melihat Jiyeon sudah tidak sedih lagi. Lalu Jiyeon melirik Eunji, rasa kesalnya kembali, dia mengejar Eunji, memberi pukulan karena sudah mengerjainya, mereka berdua berputar-putar di sekitar Jongki, pria paruh baya yang masih sangat tampan itu hanya bisa tertawa, lalu membawa Jiyeon dan Eunji ke dalam pelukan.

Setelah itu yang terdengar hanya gelak tawa, dan rangkaian kalimat yang terlontar dari Jongki, Jieun dan Eunji untuk menggoda Jiyeon dan Sehun.

~END~

FF ini sebagai permintaan maaf buat semua pembaca yang merasa kecewa, merasa di PHP karena beberapa FF yang saya publish di blog ini tidak dilanjut. FF tersebut (Cinderella dan The Gray Anxiety) sudah saya jadiin eBook. Info lanjut cek di blog pribadi saya (ada di bagian paling atas)

Terima kasih

6 thoughts on “Cerulean

  1. Duh kaka… Iya nii, kcewa bgt gray anxiety.ny dpotong gtu aja.
    Tpi keren bgt ini ff sukses bikin aq kalut n mewek mangap2 *apaan ni -_-

    oy, arti judulny it apa y ka? Kurang paham ane..

  2. Okay ff ini oneshot yg panjang but I really love it!!!
    Buat aku senyum, ketawa, ngomong, tegang sendiri kayak orang gila. Apalagi pas ketauan senyum sendiri, ketawa sendiri sama orang tuaT.T
    Ada sedikit masukan, penulisan laptop yg bener itu laptop thor, bukan leptop^^
    Segitu dulu aja because i’m too exited now after read this fanfiction. Sampe aku dimarahin ibu gara-gara ga ngejawab pas dipanggil saking asik ngebaca sambil senyum sendiri baca ff ini><
    Thanks authornim^^
    Jaljayoooo^^^

  3. Asliiii suka bgt! Feelnya bnr2 dpt, aku sampe kebawa emosi bacanyaaa😂😂😂 daebak author-nim!!! Berharap ada sekuel😂✌

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s