Beautiful Pain (Chapter 5)

Author             : ndmyf

Cast                 : Oh Sehun, Kim Rian (OC), Park Chanyeol

Genre              : Romance, Friendship, Family

Length             : Chapter

Rating             : PG-16

Summary         : Aku tidak tahu setelah ini bagaimana. Apakah aku harus mengatakannya padamu atau tidak. Tapi terkadang aku berpikir, lebih baik seperti ini tanpa harus mengatakannya padamu, tapi tetap bisa bersamamu sebagai sahabat, dari pada menyatakan perasaanku dan harus kehilanganmu, dan sahabatku. -Oh Sehun.

Girl, you’re the one I want…

 

Mungkin kau di sini bersamaku. Tapi ada sesuatu yang belum bisa ku pastikan, apakah benar hatimu di sini menjadi milikku? -Park Chanyeol

Terjebak dalam keadaan tak menentu..

 

Lima

****

Sehun duduk sendirian di ruang kerjanya mencengkram ponselnya, satu pesan singkat yang membuatnya kesal. Ia menatap layar ponselnya geram, jari tangan lainnya meremas ujung mejanya seperti berpegangan. Ingatan malam itu terlintas jelas dalam otaknya, ingin mengabaikannya namun tak bisa. Meninggalkannya dibelakang namun dengan mudah ingatan itu membekas tak ingin lepas.

‘Inilah saat di mana kuharap aku kehilangan ingatanku’.

Rasanya perlu lama sekali mencerna beberapa rangkaian kata yang membentuk kalimat itu. Sehun bangkit sambil membenamkan kepalan tangan di saku, bahunya menegang, ia berusaha mengambil keputusan.

Lampu-lampu jalan mulai dinyalakan, ketika senja mulai menjemput. Keduanya berjalan berdampingan sambil bergandengan tangan. Berjalan lambat-lambat sambil memandangi senja yang menyejukkan mata. “Ada sesuatu yang ingin kupastikan,-“ langkahnya terhenti. “Apa itu?” terkadang sesuatu yang paling tidak mau diharapkan, malah terjadi. Entah perasaan apa ini, tapi gadis itu merasa ada sesuatu yang tidak diharapkannya terjadi. Namun laki-laki itu hanya tersenyum menatap kekasihnya.

Tiba-tiba kau menjadi orang yang berbeda’.

“Rian-ah,” wajahnya terangkat, mulutnya mengunyah pelan. “Aku baru bertemu dengannya kemarin, Mm,, aku mengundangnya kemari, kau tidak keberatan?” Chanyeol mendongak kedepan, dengan tangan kirinya yang memegangi leher. Sikapnya masih menunggu jawaban dari Rian.

“Si-apa?” Rian ragu sejenak, seperti sedang mempertimbangkan pertanyaan lanjutan yang akan ia ungkapkan. Namun selebihnya, hanya satu kata itu yang mampu ia ungkapkan. ‘Apa mungkin yang ia maksud?’

Perasaan aneh itu masih belum berkurang, bertambah dengan debaran di dadanya yang berlanjut menjadi kegelisahan. Namun sebisa mungkin menyembunyikan perasaannya walau terlampau jauh dibawah 10%. Mengingat ia tidak terlalu pandai menyembunyikan perasaannya. Sambil tersenyum laki-laki itu berkata “Kau pasti akan menyukainya,-” pontong Chanyeol. Rian menggigit bibirnya, dengan kerut di antara matanya semakin dalam.

“Hun, Oh Sehun, aku menghubunginya sejam yang lalu, ia bilang ia akan datang. Kenapa kau tidak memberitahuku, bahwa ia sudah kembali,?” Chanyeol melirik dan melihat kekagetan di wajahnya, namun ia hanya bersikap biasa saja. Rian mengangguk mengerti, menggenggam kedua tangannya dipangkuan. Perutnya langsung bereaksi, otot perutnya memelintrir seperti kain yang diperas tanpa menyisakan tetesan air sedikitpun. ‘Wae? Kenapa seakan aku merasa takut saat berada di antara mereka berdua? Aku tahu ada yang salah pada diriku’.

“Aku baru tahu pagi ini. Aah, kau menghubunginya?.” Rian menunduk. Bahkan telapak tangannya terasa basah, keringatnya yang tiba-tiba mengucur, membuatnya bingung. Rian mengecek ke sekeliling ruangan. Namun kehadiran laki-laki itu belum terlihat. Terasa kaku, canggung. Rian mulai mengaduk-ngaduk makanannya menyembunyikan perasaannya yang tak karuan. Selera makannya menghilang.

Chanyeol mengagguk meng’iya’kan. Memperlihatkan pesan singkat dilayar ponselnya, Rian mendongak refleks, namun detik itu juga, Chanyeol menarik tangannya. Rian mengerjap kaget.

“Aku tidak akan memberitahumu, kau pasti akan terus bicara dengannya, dan mengacuhkanku,-” Chanyeol membuang muka seperti kekanakan. “Mwo? Kenapa kau yakin aku akan seperti itu?” Rian mendengus namun bibirnya tertarik, tersenyum. Chanyeol mengikuti setelahnya. “Mm—Molla, firasatku yang mengatakannya,-”

 

“Mm, Mianhae aku datang terlambat,-”

Rian meloncat kaget. Keduanya menoleh ke arah yang sama. Perutnya kembali bereaksi, mulas bersama debaran jantung yang kian berdegup. “Oh, Hun-ah..” Chanyeol berdiri, mengulurkan tangan yang langsung di sambut Sehun. Keduanya saling merangkul melepas rindu, setelah sekian lama tidak bertemu. Terkecuali Rian yang hanya memerhatikan terduduk mendekap tangannya di dada.

“Ya, Senang bertemu denganmu lagi, sudah lama sekali…”

“Maaf, untuk yang kemarin, ada urusan penting yang harus kuurus,-” ‘Yaitu hatiku..’ Ucapnya sambil tersenyum. Sehun melirik Rian sekilas lalu kembali mengarahkan pandangannya pada Chanyeol. Lewat sudut matanya, Chanyeol melihat Rian meremas-remas tangannya gelisah. Ia menyadari bahwa gadis itu merasa tidak nyaman di sini, di antara dirinya dan laki-laki itu.

Kecanggungan sejatinya menjadi atmosfer saat ini, Rian terlalu asik dengan perasaan anehnya, dan Chanyeol yang sibuk mengobrol dengan Sehun. Jadilah ia membeku menjadi monumen rasa bersalah. “13 tahun bukan waktu yang singkat, kenapa baru sekarang kau kembali, eoh?” Chanyeol menepuk bahu Sehun, mulutnya menganga seperti memilah-milah kalimat yang pas untuk diucapkannya. “Maaf, itu salahku,” ucapnya kemudian setelah diam sejenak.

“Kau akan mengatakan alasannya pada kami?”

“Mianhaeyo, aku rasa tidak,-” Sehun tersenyum muram. Ia membisu, tatapan matanya terlihat berbeda.

Membisu, suasana menjadi sedikit berubah. Pertemuan yang disengaja ini menjadi terlalu dingin ketika membahas alasan kepergian Sehun. Yang bahkan pada saat itu ia sama sekali tidak mengerti kenapa ia harus pergi. Tetapi sekarang ia tahu betul apa yang dikatakan Kakeknya, tapi akan lebih baik alasan itu diam tersembunyi dan hanya ia yang tahu.

Mereka saling menatap—tidak mendelik, mempertahankan tatapannya sebentar, kemudian beralih menyembunyikan wajahnya. Rian masih termangun keinginannya tertuju kesana menatap matanya lagi.

‘Untuk pertama kalinya lagi, aku melihat tatapan itu. Aku merasa mengenalmu sekaligus merasa asing. Pecahan-pecahan dirimu yang dulu bercampur dengan pecahan dirimu yang sekarang. Aku merindukanmu Oh Sehun. Tatapan hangat namun tersembunyi banyak kesakitan di dalam sana’.

****

Sehun melonggarkan simpul dasi dikerahnya melepaskannya paksa lalu melemparkannya kesembarang tempat. Menyisir rambutnya dengan jari lalu menjatuhkan tubuh di atas ranjang ukuran paling besar.

Kamarnya menghadap ke barat. Nuansa broken white yang kental begitu mendominasi. Dengan kaca jendela seluas dinding, menyajikan sungai Han yang berkilauan tersinari lampu-lampu malam yang memantul di atas permukaan air yang tenang. Bukan hanya itu sungai Han begitu menakjubkan ketika senja, terlihat jelas dalam layar kaca bening yang membentang, nuansa jingga keperakan membentuk gradasi warna. Dinding seberang kaca sepenuhnya tertutup dengan rak-rak CD juga buku yang bersebelahan. Di depannya terdapat meja kerja design minimalis dengan warna senada dengan dinding. Disudut ada satu set soundsystem yang nampak mahal dan canggih. Di dekat jendela terdapat sofa yang terlihat nyaman yang disuguhi langsung pemandangan sungai Han.

Matanya memejam beberapa saat, lalu kembali terbuka memandang langit-langit kamar. Ingatannya kembali kebeberapa jam yang lalu, Kim Rian, gadis yang sangat ia inginkan, tapi sebagian keinginannya menolak keinginannya. ‘Apa ini karena Chan?’

Sehun kembali memejam, terbenam dengan keinginannya yang bercabang. Ketika cinta bisa membuat tindakan apa pun menjadi terasa benar. Matanya terbuka kembali, menatap langit-langit nanar, ‘Alasan itu terdengar sempurna… tapi tidak akan kugunakan’. Sehun meremas seprai kemudian beranjak duduk diujung ranjang.

Mungkin sebagian memang benar, tindakan apapun menjadi benar ketika jatuh cinta. Tapi.. Haruskah dengan cara itu?. Napasnya begitu berat ketika ia hembuskan lewat mulutnya, tubuhnya terasa gemetar ketika mengetahui begitu besar keinginannya mengiginkan gadis itu.

Sehun memejam.

Ingatannya meluncur kebeberapa jam yang lalu.

 

“Saking dekatnya, bahkan awalnya sulit membedakan, apakah ini persahabatan atau cinta,-”

Aku bahkan tidak bisa menggambarkannya. Tiba-tiba saja, gadis ini segalanya bagiku. Apa aku berlebihan?Chanyeol Terkekeh sambil mengesap colanya, gigi putihnya berderet rapi saat tersenyum. Sedangkan Sehun hanya mendelik sambil tersenyum muram, merasakan bagaimana hal itu membuatnya kesal. ‘Sungguh ganjil melihat gambaran itu. Ternyata hal ini bernar-benar menyakitkan, jika dilihat secara  langsung’.

Ketika diam menjadi lebih berharga dari emas. Sehun melipat lengannya di dada sambil menyandarkan punggungnya di kursi. Hanya menyimak semua pembicaraan dengan segudang rasa dalam hatinya. Semua yang terlihat menyenangkan dulu, kini terasa menyebalkan. Rasa penyesalan selalu terasa diakhir, jika saja sejak awal ia bisa menolak ajakan Chanyeol, mungkin sekarang ini ia terjebak dalam ruangan kerjanya sambil  menikmati secangkir coffee. Namun pilihan itu terasa menggiurkan dibanding situasi ini.  Sehun berusaha mengimbangi Chanyeol yang terlihat santai. Beberapa kali tawanya terdengar saat pembicaraan mereka berlangsung.

Sedangkan Rian seperti koma, hanya memandangi mereka berdua, dengan pikiran yang larut entah kemana. Yang kemudian beralih memendangi ratakan garis di tembok. Penglihatannya yang mulai tak-fokus Rian mendongak mengarah jendela, memandang lama-lama keluar jendela.  Saat mulai terdengar sayup suara hujan di luar sana.

Senyuman dan pembicaraan itu tiba-tiba tidak menarik lagi ketika matanya beralih ke arah yang lain. ‘Aku menatap wajahnya lama-lama. Kenyataan yang mampu memicu rasa sesak di dadaku. Saat mencoba untuk terakhir kalinya berharap menginginkannya’. Chanyeol melirik Sehun sekilas, saat tiba-tiba suara berdeham terdengar darinya. Sehun memutar bola matanya tanpa melihat Chanyeol.

‘Harusnya tidak sulit melakukan sesuatu yang benar’. Salah satunya adalah mencoba bersikap biasa ketika berhadapan dengan Rian. Namun iris hitamnya bahkan tidak pernah bisa lepas dari parasnya. Entah apa, seperti hanya mampu terpokus untuk memandangnya, mengharuskan ia untuk menatapnya. Sekeras apa ia menolak, tetap saja sulit walau hanya sekedar menghindar.

“Ya, kenapa kau hanya diam saja, kami berdua berbincang cukup panjang, dan kau hanya menatap keluar jendela. Kau kenapa?” Chanyeol mendongak menatap Rian lebih dekat. Dan Sehun seketika membuang muka. Kesal. Namun tak butuh waktu lama untuk mengembalikan pandangannya pada gadis itu. ‘Banyak kalimat yang ingin kuutarakan padamu, setiap kali melihat wajahmu’.

Rian menggeleng pelan. “Aku tidak apa-apa,-” menegak habis limun miliknya hingga terbatuk. Rian nengusap ujung bibirnya dengan satu tangannya, lalu mendadak ia tersadar Chanyeol dan Sehun yang masih menatapnya. Rian membekam mulutnya menahan batuknya yang kembali muncul, dan kemudian menjawab “Aaaku tidak apa-apa, kalian lanjutkan saja,-” seutas senyum enggan mampir diwajahnya.

“Pelan-pelan saja,-” Chanyeol mendorong botol air mineral miliknya. Rian tersenyum enggan, meraihnya hingga mengahabiskannya.

Sehun mendesah. ‘Kau malah terlihat aneh, kau benar-benar amatir dalam menyembunyikan perasaan. Kau orang yang paling jujur, Rian-ah’. Sehun membuang muka. ‘Mungkin waktu dan keadaan belum memihakku’. Pandangannya kembali mengarah padanya. Mendadak pikirannya tidak karuan saat Chanyeol berdeham memecah kecanggungan, atau lebih tepatnya mungkin ia menyadari sikap aneh Sehun begitu juga Rian.

 

Tubuhnya kembali beranjak, kini dia mengitari meja kerjanya lalu mengambil salah satu buku di rak, sebuah buku jurnal dengan cover berwarna coklat. Disampulnya tertulis dengan huruf kapital ‘Dream Book’. Senyuman lebar ia sematkan ketika membuka halaman pertama buku itu. Tertempel selembar foto seorang anak laki-laki dan perempuan yang saling merangkul, penuh dengan senyuman dan kegembiraan.

‘Ketika membuka halamanmu, kau dan aku berada di tempat yang sama’.

Dengan satu kalimat sederhana tertulis dibawahnya, ‘Aku menyukaimu, Kim Rian’. Tepat di tanggal hari ulang tahunnya yang ke 12 tahun. 13 tahun yang lalu, ketika saat itu bibirnya terasa kelu untuk menyatakan perasaannya, dan saat ini pun, ia merasakan hal yang sama. Ujung bibirnya terangkat membentuk simpul senyum, sementara ibu jarinya mengelus lembut gadis dalam foto.

Sehun mendesah, menenggelamkan wajahnya di atas buku. ‘Sulit untuk menghindar, namun juga sulit menggapaimu. Aku tidak memahami perasaan ini—bercampur dari rasa sakit, amarah, hasrat, dan putus asa. Aku tidak bisa menamakannya apa’. Sehun menunduk dan menutup wajahnya dengan tangan. ‘Aku sedang berusaha mencari cara untuk−meninggalkanmu. Hanya saja aku tidak tahu bagaimana caranya untuk menjauh…’.

Sehun mendesah.

**

Malam mulai menjemput, pertengahan musim semi, musim yang selalu ditunggu orang-orang setelah musim panas. Cuaca hangat dengan pemandangan pohon-pohon sakura yang berjejer sepanjang jalan. Namun tak kurang juga curah hujan yang tak terprediksi, seperti malam ini cuaca mulai dingin ketika air langit mulai menampakkan wujudnya.

Sehun memperhatikan ketika Rian menengadahkan wajahnya menghadap rintik-rintik hujan dengan mata tertutup, menampakan simpul senyuman di bibirnya.

‘Apa yang sedang kau pikirkan, Mm..?’

Sehun membatin. Ironis memang, ia hanya bisa memandanginya dari jauh. Berdiri di ujung jalan yang berbeda. Walau begitu ujung bibirnya tertarik mengukir senyum, namun−asa itu seakan hilang saat sosok lain muncul dan mulai mendekat.

‘Terasa lagi, sakit yang diakibatkan gambaran itu. Aku tidak bisa mengerti. Apa aku cemburu..?’

Sehun menggigit bibir.

‘Aku memang cemburu’.

Muncul ditengah-tengah mereka berdua membuatnya serba salah, pilihan manapun membuatnya sakit. Ia tidak menampik pilihan yang paling ia inginkan adalah, bertukar tempat dengan Chanyeol. Itu bukan pilihan, namun keinginan.

Sehun masih terpaku diam ditempat.

Tangannya membentuk tameng memblokir air hujan yang membasahi wajahnya. Matanya terbuka saat itu, mendongak lalu tersenyum pada lelaki disampingnya. “Kau menunggu lama?” Seutas senyum simpul saat gadis itu menggeleng sebagai respon. “Anieyo..”

Chanyeol gemetar, tapi bukan hanya karena menahan kekesalan, juga karena merasa tidak sanggup berada dalam keadaan tidak menentu. Saat menangkap bayangan lain di ujung sana “Ya, Oh Sehun?”

Sehun menanggapi, bahkan ia tersenyum. “Yo, Chanyeol-ah.” Tapi ia menjauh. Dan bisa dirasakan betapa itu sangat menyakiti perasaannya. Sehun menarik napas panjang, sebelum akhirnya beranjak.

Ternyata bersikap biasa-biasa saja jauh lebih menyakitkan dari pada memperlihatkan perasaan yang sebenarnya. Mencoba berbohong menutupi perasaannya sendiri. Chanyeol berhenti, lambaian tangannya berubah menjadi kepalan saat mengurunkan niatnya untuk lebih banyak bicara. Bergeming saat ia memperhatikan ekspresinya yang berubah aneh. ‘Berdamai dengan kenyataan ternyata sangat sulit dari yang ku kira’. Chanyeol melirik Rian sekilas, lalu kembali menatap bayangan yang kemudian menghilang.

“Wae-yo?, Rian-ah.. Ada apa dengannya?” Chanyeol bertanya tanpa menoleh. Suaranya terdengar datar.

‘Aku memperhatikan sampai sosoknya hilang dari pandangan. Ingin rasanya aku berlari ke arahmu, mendekapmu erat-erat. Ada satu hal yang belum sempat kukatakan padamu, sejak dulu. Bahwa aku.. Aku menyukaimu, aah anieyo.. Aku mencintaimu Oh Sehun, tapi kenapa rasanya sulit sekali untuk mengatakannya’.

Perlahan ada isakan lirih. Terdengar samar dalam malam bersamaan dengan rintik hujan. Chanyeol mengambil napas panjang, mengganti tumpuan kakinya yang tidak nyaman. Memejam sebentar setelah akhirnya berkata “Rian-ah, ada apa? Kenapa tiba-tiba−Kau… Jangan menangis. Aku mohon.” Menjaga nada suaranya agar terdengar khawatir.

‘Kekhawatiranku bukan tidak beralasan.’

Namun, isakan itu tetap tidak berhenti.

**

Matahari terbit dibalik awan. Sinar redup berkilauan dari tiap-tiap permukaan embun yang menetes. Hujan tak kunjung berhenti hingga subuh, menyisakan udara dingin masih menusuk kulit bahkan hingga ke tulang. Namun tak berangsur lama, ketika sang surya mulai merangkak ke atas sana. Udara yang mulai menghangat, langit yang mulai membiru, bersama awan putih yang berarak mengikuti arah angin.

Cafetaria dipenuhi sesak orang-orang, Sehun mengedarkan pandangannya hingga akhirnya ia menemukan sosok yang ia cari. Rian termangun dengan lamunannya sendiri. Makanan yang ia bawa tak tersentuh olehnya sama sekali. Hanya diam memerhatikan keluar jendela sambil menopang dagu.

Ingin rasanya ia berjalan menghampirinya, menikmati makan siang bersama, namun keinginannya berjalan ke arah lain. Ia memilih duduk di dua kursi di belakangnya, dengan beberapa karyawan laki-laki duduk bersamanya. Sehun pura-pura memerhatikan, tersenyum kecil seakan menikmati gurauan mereka. Ia berusaha tidak melihat ke gadis itu. Tapi kesanalah pendengaran dan penglihatannya  sepenuhnya.

‘Mungkin jatuh cinta itu memang mudah, namun membuat orang itu jatuh cinta pada kita itu sulit. Karena aku belum yakin, bahwa kau juga merasakan hal sama denganku. Rian-ah, beri aku isyarat agar aku yakin dengan keputusan yang akan ku ambil, aku tidak ingin menyesal..’

Jam makan siang dengan cepat berlalu, ketika ia sibuk dengan kemungkinan-kemungkinan yang tergambar dalam otaknya. Nampannya masih penuh dengan makanan, yang sedari tadi hanya ia aduk-aduk tidak jelas. Tinggal beberapa menit tersisa sampai jam makan siang berakhir. Sehun kembali keruangannya berjalan santai sambil memikirkan hal-hal yang mulai mengganggu pikirannya, bukan hanya soal perusahaannya atau kesahatan Kakeknya yang masih belum ada perubahan, juga pergelutan perasaannya pada Rian.

**

“Kau masih bersama gadis itu?” Sehun membenarkan posisi duduknya, menunggu kalimat yang terdengar  belum selesai olehnya. Pria paruh baya itu tersenyum menenangkan, seraya tangannya yang bebas menepuk pelan bahu cucunya. Sedangkan Sehun masih menunggu dengan raut wajah tak mengerti.

“Jangan buat rasa cintamu menjadi sebuah obsesi, kau melakukan segala cara untuk memilikinya. Biarkan waktu yang menentukan dan berjalan seperti sebagaimana mestinya.” Sehun mendesah, mengerti kemana alur pembicaraan kakeknya. Ia sendiri pun tahu betul kesalahan yang tengah ia jalani sekarang, jika bisa ia ingin menjauh, tapi nyatanya itu benar-benar sulit.

“Kau tahu semuanya? Bahkan jika kau tahu, kenapa dengan sengaja memintaku untuk kembali kemari?” Lagi-lagi Sehun mendesah, tubuhnya lunglai  menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.

“Aku hanya ingin menebus kesalahanku, maaf telah memisahkanmu dengan mereka. Aku ingin kau hidup disekitar orang-orang yang baik. Maafkan aku Sehun-ah,-”

 

“Sebelum itu, ada sesuatu yang harus kupastikan,-“

**

Tungkainya berhenti melangkah juga matanya memejam sejenak, mencoba menenangkan dirinya. Sehun berhenti sejenak, tersenyum. ‘Kau malah membuatnya semakin rumit, Kakek’.

tungkainya kembali melangkah.

****

Tapi menghindari gadis itu adalah batasan akhir yang mampu ia tanggung. Ia mencoba berlagak mengabaikannya, mencoba tidak melihat ke arahnya. Berlagak ia tidak menarik perhatiannya. Tapi hanya sebatas itu, hanya berlagak, bukan yang sebenarnya.

Rian  nampak resah ketika berjalan di antrian. Tanpa sadar ia memain-mainkan kancing blazernyaa, dan mencari-cari kesibukan dengan mengganti-ganti tumpuan dikakinya. Rian sering melirik Sehun, namun kerap kali bertemu pandang, ia langsung menunduk, seakan takut. Apa ini karena ada begitu banyak orang yang menatap mereka? Ataukah ia enggan mengusik laki-laki itu dengan segala sikap anehnya. Mungkin ia bisa mendengar bisikan-bisikan mereka—gosip yang terucap tidak jauh berbeda dengan isi kepala mereka.

“Kenapa kau tidak duduk bersamaku hari ini?” pinta Sehun padanya. Rian berhenti di belakang kursi di seberang Sehun, menimbang-nimbang, lalu mengambil napas dalam-dalam. Rian menarik kursi lalu duduk, menatap Sehun beberapa saat. Terlihat ragu, namun nampak dari sikapnya jawaban itu ‘ya’. Sepertinya ini sudah berlalu lama sekali. Semuanya tampak canggung. Rian duduk bersebrangan dengan Sehun.

Hening..

Gadis itu belum ingin bicara. Menunduk dengan sesekali mengedarkan pandangannya. Waktu terasa lambat sejak saat kebenaran itu terungkap, di mana sedetik begitu terasa se-abad.  Perubahan sikap mereka kentara berubah sejak saat itu, Sehun menjaga jarak, dan Rian hanya mengikuti tanpa mengintrupsi, walau sebenarnya kekesalannya pada laki-laki telah memuncak. Perubahan sikapnya yang secara tiba-tiba, Mendiamkannya seminggu ini, yang dengan sengaja menghindari gadis itu.

‘Mereka seperti tidak terlihat nyaman, ya kan? Dilihat dari bahasa tubuh mereka begitu. Hubungan mereka terlihat berbeda sejak seminggu yang lalu’.

Beberapa selentingan terdengar di belakang sana, awalnya Rian terganggu dengan itu semua, menjadi pusat perhatian pembicaraan. Namun setelah beberapa lama, rasa tak nyaman itu bisa ia atasi dengan baik. Terbiasa.

Sehun menunggu ia bicara. Butuh beberapa saat, tapi akhirnya gadis itu bicara, “Sekarang malah terasa canggung, untuk pertama kalinya lagi kau mengajakku bicara setelah pertemuan itu.” Rian menunduk, belum berniat mengangkat wajahnya menatap Sehun. “Sebenarnya, kau ini kenapa?” Dua tangannya terkepal dengan segala kekesalan dalam benaknya. Dadanya naik turun berusaha menarik udara, yang sulit melegakan rongga paru-parunya.

“Well…” Sehun bimbang. “Mungkin, kita bisa memulainya lagi dari awal,” Rian tidak bergeming. Hanya menatap Sehun. Menunggu, kalimat yang terdengar belum selesai.

“Aku menyerah”

“Me-nyerah?”  Rian mengulangi, keningnya berkerut.

“Aku lelah berusaha menjauh darimu. Jadi, aku menyerah.” menjaga senyumnya dengan susah payah. Sehun mengubah posisinya, mengaitkan semua jemarinya lalu menopang dagu. Tubuhnya semakin mendongak kedepan.

“Sekarang aku akan melakukan apa yang ku bisa, dan membiarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya.” Ucapnya sambil mengedikkan bahu. Lebih dari satu minggu telah lewat. Dan setiap hari justru makin sulit. Benar-benar  tidak masuk akal. Ia selalu menunggu kapan bisa melewatinya untuk bisa berjalan lebih mudah. Tapi hasilnya…?

“Baguslah, dan—berhentilah bersikap dingin padaku, Hun-ah. Aku mohon, ini benar-benar terasa menyakitkan.” Rian tidak bicara apa-apa lagi, wajahnya menunduk merasakan getaran aneh dalam dadanya. ‘Aku tahu, tidak seharusnya perasaan ini muncul, terlebih orang itu adalah kau, Oh Sehun, tapi bahkan diriku sendiri tak mampu menampiknya’.

****

Bukankah semuanya sudah kembali seperti semula? Laki-laki itu kembali melunak, sikap dinginnya hilang berganti dengan senyuman manis yang selalu membuatnya terpesona. Tapi—entah kenapa gadis itu ingin menangis. Serasa ada sesuatu yang salah. Salah bersar, terlalu besar sampai-sampai teramat sulit untuk menghapusnya.

Tubuhnya meringsut, Rian mencondongkan tubuh ke meja, meletakkan dagu di atas lengannya yang ia lipat, jemarinya yang tersembunyi meremas ujung meja saat ia berusaha mengabaikan perasaan aneh yang membuatnya resah. Namun ternyata sangat sulit walau hanya mengabaikan.

Ingin menangis, tapi tak setitikpun air matanya terjatuh, ia ingin marah namun tak satupun kalimat umpatan keluar dari bibirnya. Juga ingin tersenyum, namun kelewat tidak pantas jika mengingat penghianatannya pada Chanyeol. ‘Lalu perasaanku pada Chan?’ Perasaannya campur aduk, namun tidak ada satupun yang bisa ia utarakan, semuanya terkunci dalam dada membentuk satu lubang menyakitkan yang bahkan tak cukup dengan hanya untaian kata maaf, juga tangisan untuk menutupinya.

Langkahnya terhenti, pandangannya tertuju pada satu titik di depan sana. Gadis itu mendesah kesal. Tak ayal tangannya meremas tangan lain yang tengah ia genggam disisi kanan tubuhnya. Sehun meliriknya lalu beralih pandang tepat kedepan sana. “Rian-ah, bersikaplah seperti biasa,” Sehun menenangkan. Kakinya berjalan beberapa langkah, namun genggamannya tak mau lepas ditempatnya semula.

Rian menggigit bibir.

Terlalu sulit untuk meninggalkan Chanyeol, namun juga terlalu sulit untuk melepaskan Sehun. Pilihan manapun yang ia ambil terlalu menyakitkan baginya. Diantara dua laki-laki yang sama-sama mencintainya, terlalu sulit untuk memilih. Tapi ia tahu kemana hatinya pergi.

“Hun-ah, kau tahu? Aku seperti seorang penjahat diantara kalian berdua, pada akhirnya aku telah menyakiti kalian berdua,-” tubuhnya berbalik, genggaman tangan itu terlepas, mata coklatnya membasah, membanjiri pelupuk matanya yang telah membentuk aliran sungai kecil dipipinya.

“Rian-ah, tidak—tidak seperti itu, kau tidak pernah menyakitiku, tidak pernah,-”  Sehun menggapai tangannya, tapi gadis itu menjauh. Dan bisa dirasakan betapa itu menyakiti perasaannya. “Wae? Apa sekarang kau yang akan meninggalkanku?” Sehun terdiam, keduanya sama-sam diam. Tidak ada jawaban, wajahnya tertunduk. Bingung. Sehun menjangkau untuk menyentuhnya, tak peduli gadis itu mencoba menghindar lagi, namun Sehun tetap berhasil memegang tangannya.

**

‘Terulang lagi, masih tetap sama. Kegelapan ini tidak menyakitkan juga tidak membantu penglihatanku. Aku masih melihat wajah yang sama.’

Laki-laki itu kehabisan kata-kata. Memejam sejenak menampik pemandangan menyakitkan di depan matanya. “Aku rasa, aku telah kehilangannya. Aaah.. Atau mungkin dari  awal ia memang tak pernah kumiliki.”

Chanyeol ingin berjalan menjauh, namun ia hanya diam ditempat.

****

Thanks for reading…

Sebenarnya ceritanya memang campuran sama flashback. Maaf kalo sekiranya bikin bingung        yang baca, nanti coba di kurangin flashbacknya…

 

Hope you like it ^^

Iklan

6 thoughts on “Beautiful Pain (Chapter 5)

  1. rian benar2 serba salah dia menghianati chanyeol tapi tidak mau melepas sehun, begitu juga sehun serba salah, dan chanyeol juga serba salah dan tersakiti #serbasalahygtakberujung. *apaan ini* next chapter di tunggu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s