Bittersweet : He’s My Boyfriend

bittersweet

Author : Iefabings

Genre : Romance, Friendship, Drama, College Life

Rating : PG-13

Length : Multi Chapter (currently chapter 2)

Cast :

EXO’s Kai as Kim Jongin

Red Velvet’s Seulgi as Kang Seulgi

EXO’s Sehun as Oh Sehun

Other Cast you can find on the story

Previous chap : The Circle

Selamat membaca ^~^)

***

Seulgi tinggal sendirian di sebuah apartemen sederhana karena letak rumahnya cukup jauh dari kampus. Kehidupannya sangat teratur, tampak dari penampilan apartemennya yang selalu terlihat rapi. Dia terbiasa bangun pagi walau tidak ada kuliah pagi, untuk menyiapkan sarapan dan bersih-bersih. Selain itu, dia sudah bisa menghasilkan uang sendiri dengan melakukan pekerjaan sampingan sebagai penerjemah jurnal kesehatan. Sebuah pekerjaan yang tidak menyita waktu kuliah, sangat cocok baginya.

Hari ini, seperti biasa dia bangun tepat jam 5 untuk merapikan apartemennya yang sebenarnya sudah rapi. Televisi sudah menyala, menampilkan berita nasional. Dapurnya juga sudah mulai aktif. Dia merebus telur, menyiapkan roti gandum dan mentega sebagai menu sarapannya. Sambil menunggu telur rebusnya matang, dia berniat mandi. Tepat saat itu, sebuah notifikasi LINE masuk ponselnya. Dari Sehun.

Aku tahu kau sudah bangun.

Jangan lewatkan sarapanmu.

Walau sebuah kalimat sederhana dan biasa terjadi di antara pasangan kekasih, Seulgi tersenyum dibuatnya. Ini kali pertama dia menjalin hubungan lebih dari teman, bisa dikatakan dia masih terlalu kaku.

Kau juga. Selamat hari senin. Hahaha.

Mungkin Sehun juga tersenyum saat membaca pesan itu. Seulgi tidak tahu. Dia kemudian meletakkan kembali ponselnya dan melanjutkan niat awal untuk mandi.

***

Seulgi mengunci pintu apartemennya dan berjalan ke arah lift, turun dari gedung apartemen. Kelas pertama hari ini akan dimulai 30 menit lagi dan perjalan dengan bus memakan waktu hanya 10-15 menit. Ya, tidak hanya rapi dan teratur, Seulgi juga sangat tepat waktu. Dia terbiasa berangkat setengah jam lebih awal dan memilih duduk di barisan paling depan.

“Sehun-ah….” dia kaget karena melihat sosok Sehun berdiri di depan gedung apartemennya.

“Selamat pagi,” sapa Sehun disertai sebuah senyuman.

“Kau… sedang apa disini?” tanya Seulgi kebingungan. Sejauh yang dia tahu, tempat tinggal Sehun cukup jauh dari wilayah ini.

“Menjemput pacarku,” jawab Sehun sambil mengedikkan bahu.

“Tapi kampusmu kan jauh dari sini. Tidak ada kelas pagi?” tanya Seulgi khwatir.

“Tenang saja,” Sehun meraih tangan Seulgi dan menggenggamnya. “Aku hanya ingin memastikan pacarku tiba di kampus dengan selamat.”

“Astaga, kau berlebihan sekali,” Seulgi tidak bisa menahan senyumnya. Perempuan mana yang tidak senang mendapat perhatian seperti ini dari seorang lelaki, terlebih yang sudah berstatus kekasih?

“Silakan masuk, tuan putri,” Sehun membukakan pintu mobil untuk Seulgi dan mempersilakannya duduk di sebelah kursi pemudi.

“Ayolah, ini sangat berlebihan. Jangan lakukan ini lagi, aku merasa tidak pantas.”

“Kau adalah gadisku, jadi tidak ada yang pantas ku perlakukan seperti ini selain dirimu,” ucap Sehun sebelum menutup pintu mobil.

Dan kalimat itu sukses membuat Seulgi terus tersenyum selama perjalanan ke kampusnya.

***

“Simpan dulu ponselmu,” Joohyun berbisik pada Seulgi karena selama 30 menit rapat dia terus memergoki Seulgi tersenyum sambil terus mengecek ponselnya. Siapa lagi kalau bukan karena Sehun.

“Iya, maaf,” balas Seulgi dengan suara bisikan. Merasa tidak sopan juga jika terus mengabaikan orang yang berbicara, Seulgi mengantongi ponselnya.

Malam itu mereka berkumpul di ‘basecamp’ The Circle, tepatnya di lantai 2 gedung Student Center. Agendanya adalah perencanaan event bulan depan, sekaligus event pertama yang Seulgi ikuti. Mereka berencana mengadakan acara lelang untuk amal. Dana yang terkumpul nantinya akan mereka gunakan untuk melakukan operasi katarak mata gratis.

“Aku punya ide,” Sunyoung mengangkat tangannya. “Kita buat acara lelang yang yang melibatkan mahasiswa dari kampus kita sendiri, terutama yang punya banyak uang.”

Anggota lain mengangguk paham. Dalam hati Seulgi berpikir, bukankah mereka semua yang ada di sini adalah mahasiswa beruang? Yah, walau penampilannya sederhana tapi sebenarnya Seulgi adalah putri dari Kepala Departemen Penyakit Dalam sebuah rumah sakit swasta di Seoul.

“Lalu apa yang akan kita lelangkan di acara ini? Perhiasan bekas?” tanya Myungsoo.

“Bagaimana kalau kita semua mengumpulkan barang-barang bermerk kita yang masih bagus? Ini akan sangat menarik di kalangan yeoja kan?” Soojung memberikan pendapat.

“Tapi para namja tidak akan begitu peduli. Kalau aku sih, lebih memilih beli barang baru dari pada menawar barang bekas dengan harga tinggi,” Baekhyun menyatakan ketidaksetujuannya.

“Lalu apa yang bisa kita lelang, kalau bukan barang bekas?” Soojung menimpali lagi.

“Entahlah, aku tidak yakin anak muda akan tertarik dengan sebuah acara lelang. Mereka akan berpikir ini acara yang membosankan dan hanya dilakukan orang dewasa. Ingat kan, acara lelang terakhir kita hanya dihadiri oleh istri-istri pejabat yang ingin namanya tenar,” sambung Victoria.

“Jadi bagaimana? Ada yang punya ide lain?” Siwon menengahi.

Sesaat mereka semua diam. Kemudian Seulgi mengangkat tangannya.

“Seulgi?” Siwon menatap Seulgi dan serentak semuanya pun menatap ke arahnya.

“Aku sebenarnya tidak yakin apa ide ini cukup layak,” ucap Seulgi dengan senyum canggung.

“Tidak apa-apa, sayang. Katakan saja,” Yuri mengedipkan sebelah matanya pada Seulgi.

“Aku pernah menonton film—dan drama juga, yang menceritakan tentang pelelangan para namja,” cerita Seulgi. Wajahnya terlihat tak yakin, melihat respon mereka semua satu per satu.

“Maksudmu, kami para namja akan dilelang?” Jongdae membulatkan matanya.

“Iya… begitu.”

“Astaga, lalu kami akan… maksudmu kami harus melayani penawar tertinggi, begitu?” tanya Jongdae lagi masih tak habis pikir. Semua namja yang ada di sana pun berwajah tegang.

“Eh, bukan. Bukan seperti yang kalian bayangkan. Namja tidak dilelang untuk menjadi budak atau semacamnya,” Seulgi buru-buru mengklarifikasi. Dan semua namja itu menghembuskan nafas lega. “Jadi nanti kita mengadakan pesta dansa. Nah, namja-namja ini akan memperkenalkan dirinya sekaligus menjelaskan apa bakat yang dia miliki dan keuntungan apa yang bisa didapatkan yeoja jika menjadi pasangan dansanya. Yeoja yang menawar dengan harga tertinggi akan menjadi pasangan dansa sekaligus pasangannya selama semalam. Anggap saja seperti kencan buta.”

Mereka semua menganggukkan kepala mengerti. “Sepertinya ini sangat menyenangkan. Bagaimana kalau kita namai acara ini dengan…” Minseok berpikir sesaat. “Blind Date? One Night Date? Atau One Night Couple?”

“Apa pun itu, kita pikirkan namanya nanti. Sekarang, kita semua sepakat atau tidak?” kata Junmyoon.

“Aku sangat setuju,” Sunyoung mengacungkan dua jempol ke arah Seulgi. “Biasanya yeoja menjadi pihak yang ‘dipilih’. Kali ini biarkan kami yang membuat namja tahu rasanya menunggu untuk dipilih.”

“Aku juga setuju,” sahut Baekhyun.

“Aku juga,” sambung Minseok dan Jongdae bersamaan.

“Aku jelas setuju. Untuk lokasinya nanti aku sudah punya gambaran,” Junmyoon ikut menyahut.

“Baik, baik, aku pikir semua yang ada di sini setuju,” Yuri mulai mencatat di notebooknya.

“Aku dan Jongin belum mengatakan apa-apa. Bagaimana kau bisa yakin kami juga setuju?” Soojung berkata dengan nada sinis. Itu membuat penilaian Seulgi tentang Soojung jadi makin yakin. Gadis itu kurang ramah.

“Apa perlu aku lakukan voting? Lihat, wajah-wajah mereka sudah menampakkan persetujuan. Kalau pun kalian tidak setuju, 2 banding sepuluh. Sudah jelas keputusannya,” jawab Yuri tak kalah sinis.

“Astaga,” Soojung berdecak sambil geleng-geleng kepala.

“Sudahlah, aku dan Soojung juga setuju. Segera atur susunan kepanitiaan, tapi malam ini segera akhiri. Aku tidak bisa disini lebih lama lagi,” celetuk Jongin.

Seulgi memperhatikan Soojung dan Jongin bergantian. Sepertinya mereka cukup dekat. Sejak awal dia bergabung, mereka selalu duduk bersebelahan. Walau tidak terlihat sering mengobrol berdua, Seulgi merasa ada sesuatu di antara mereka.

“Tidak memalukan punya adik sepupu sepertimu,” sebuah bisikan Joohyun di telinga kirinya membuat lamunan Seulgi buyar.

“Aku memang adik yang membanggakan, kau baru sadar?” Seulgi menusuk pinggang Joohyun. Dia tahu kakak sepupunya itu akan kegelian jika disentuh di sana.

“Huuu mulai sombong!” Joohyun merangkul leher Seulgi dengan lengannya kuat-kuat seperti hendak mencekiknya, membuat si mata sipit tertawa.

“Lepaskan aku, eonnie-ah,” pinta Seulgi di sela tawanya.

“Eonnie? Kalau seperti ini baru mau memanggilku eonnie hah?”

Suasana rapat jadi semakin gaduh karena mereka semua mulai sibuk dengan urusan masing-masing. Siwon, Yuri, dan Myungsoo terlihat memperbincangkan soal event dengan serius. Victoria dan Junmyoon hanya mengobrol santai. Baekhyun dan Sunyoung sepertinya sedang mengobrol tentang make up atau apalag itu, sementara Jongdae dan Minseok malah menyalakan televisi untuk menonton pertandingan sepak bola. Jongin dan Soojung—anehnya, sama-sama terlihat berkutat dengan ponsel tanpa ada sepatah kata keluar di antara mereka. Sepertinya mereka sengaja hanya berkomunikasi lewat pesan walau duduk berdekatan. Lalu Jongin mendongakkan kepalanya secara tiba-tiba dan saat itulah tatapan Seulgi bertemu dengannya. Hanya satu detik—mungkin. Tapi sukses membuat jantung Seulgi balapan. Dia langsung memalingkan wajahnya ke arah Joohyun karena salah tingkah.

‘Sial, apa aku memperhatikannya dari tadi? Apa dia menyadarinya? Astaga, bodohnya aku,’ rutuk Seulgi dalam hati.

“Baiklah, pertemuan kita cukupkan sampai disini saja,” suara Siwon memecah semua kesibukan mereka. Serentak mereka semua membenahi meja dan siap pulang.

“Aku akan mengantarmu pulang,” kata Joohyun saat mereka hendak keluar dari basecamp.

“Tidak perlu. Ada yang akan menjemputku,” jawab Seulgi cepat. Tanpa sadar semburat merah muncul di pipinya.

“Aigoo,” Joohyun menatap Seulgi curiga, tapi tersenyum menggoda. “Pipimu jadi merah. Aku tebak yang akan menjemputmu adalah orang yang terus mengirimimu pesan selama rapat tadi ya?” tanyanya lalu melipat tangan di dada meminta penjelasan.

“Itu…” Seulgi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Kami baru jalan dua hari yang lalu….”

“Sudah ku duga! Bagaimana rupanya? Tampan? Dia anak kedokteran juga?” kali ini Joohyun terlihat begitu antusias.

“Kapan-kapan—ah, nanti juga kau akan tahu sendiri.”

“Selalu sok misterius,” Joohyun mencubit pipi Seulgi. “Dan aku harap pemuda ini benar-benar baik.”

“Dia sangat baik,” kata Seulgi meyakinkan.

“Kalau begitu kenapa aku harus lama-lama di sini? Hati-hati ya,” Joohyun menepuk pundak Seulgi singkat sebelum berlalu dari hadapannya.

“Sampai jumpa besok,” Seulgi melambai ke arah Joohyun. Dia berbelok untuk menuruni tangga keluar dari gedung tersebut.

“Tadi itu ide yang bagus,” sebuah suara membuat Seulgi menoleh.

“Kim Jongin?” tanya Seulgi dengan wajah kaget.

“Wajahmu sampai sekaget itu. Dan kenapa memanggilku dengan sangat formal?” Jongin berjalan sejajar dengan Seulgi. Tangannya ia simpan di dalam saku celana.

“Ah… maksudku Jongin….”

“Aku suka ide lelang tadi,” suara Jongin terdengar datar-datar saja, tapi Seulgi tersenyum. Hanya karena idenya dipuji oleh Jongin saja dia sudah tersenyum seperti ini?

“Terima kasih, aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik.”

Jongin tertawa dengan suara pelan. “Ya… ya, semoga.”

Seulgi tidak tahu itu sebuah tawa ramah atau berupa ejekan. Sekarang dia merasa sedikit kecewa karena mendapat respon seperti itu. Sungguh, perasaannya jadi membingungkan. Seulgi memilih kembali fokus berjalan. Beruntung dia tidak perlu terlalu lama berada dalam suasana canggung bersama Jongin, karena tidak sampai semenit kemudian dia bisa melihat Sehun berdiri di dekat mobilnya, yang kemudian menghampirinya.

“Apa kau menunggu lama?” tanya Seulgi.

“Tidak, aku baru saja sampai. Kau sudah makan?”

“Sudah,” jawab Seulgi. Dia menyadari ekor mata Sehun bergerak ke arah pemuda yang sedang bersama. “Ah, iya aku hampir lupa. Sehun, ini temanku dari The Circle. Namanya Kim Jongin,” dia menatap Jongin dan Sehun bergantian. Kedua pemuda itu berjabat tangan dan bertatapan. Hanya pria yang tahu arti tatapan itu (mungkin).

“Kim Jongin.”

“Oh Sehun, kekasih Seulgi,” tatapan mata Sehun terfokus tegas pada Kai. Memberi tekanan di setiap ucapannya sebagai pertanda dia ingin Jongin tahu bahwa Seulgi adalah miliknya. Suasana di antara mereka jadi canggung, setidaknya itu yang Seulgi rasakan.

“B-baiklah, sepertinya sudah semakin malam. Sebaiknya kita pulang,” Seulgi memecah keadaan canggung itu. “Jongin, kau butuh tumpangan?” tanyanya, mencoba bersikap ramah. Sehun mengerling Seulgi sekilas, sepertinya tidak setuju dengan ide Seulgi.

Jongin tertawa pelan. “Tidak, rumahku tidak jauh dari sini. Kalian hati-hati di jalan,” dengan senyum miring yang tampan (menurut Seulgi), Jongin melambai dan meninggalkan mereka berdua.

“Sampai jumpa, Jongin-ah,” balas Seulgi.

Sehun terus memperhatikan punggung Jongin yang menjauh hingga benar-benar menghilang dari pandangan mereka.

“Kalian kenal dekat?” tanya Sehun.

“Hng? Aku dan Jongin?” Seulgi balik bertanya, dan mendapat jawaban dari Sehun berupa anggukan. “Hanya satu club. Sebenarnya kami juga nyaris tidak pernah mengobrol. Kebetulan tadi berbasa-basi singkat sambil berjalan pulang, lalu kau datang,” jelasnya.

“Begitu,” Sehun mengangguk, wajahnya tampak lebih lega.

“Kamu cemburu ya?” tanya Seulgi, hampir tidak bisa menahan tawanya.

“Karena pacarku begitu menarik, wajar kalau aku merasa khawatir,” secara tiba-tiba Sehun memeluknya erat.

“Sehun, kita di pinggir jalan,” Seulgi berusaha memberontak.

“Iya, iya, ayo pulang,” Sehun tertawa geli, kemudian melepaskan pelukan singkatnya. Digenggamnya tangan Seulgi dan membawanya ke mobil.

Seulgi merasa hangat. Tampaknya Sehun benar-benar serius dengan hubungan mereka. Dia bahkan tidak merasa gengsi menunjukkan kecemburuannya. Ini membuat Seulgi semakin yakin pada Sehun.

***TBC***

22 thoughts on “Bittersweet : He’s My Boyfriend

  1. Waksss suka momen keduanya di sini hahaha perasaan seulgi itu normal banget, dia seneng saat pacar tampannya dateng. Tapi deg deg ser juga pandang pandangan sama Kim kai kece badai huhuhu suka suka joa joa.

    Sebelum berita kaistal merebak, aku menduga sehun dan kai pasti punya perasaan yg sama dengan seulgi. Tapi pada akhirnya aku ngeship seulhun aja deh hahaha

    Eh itu yuri sekretaris, siwon leader? Wkwk mana myungsoo juga diceritakan ngobrol bertiga dengan mereka mhehhe suka suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s