Jongin and I : Hordeolum

CWhUhs6UwAARQZd

Author : Iefabings

Cast : Kai (Kim Jongin) dan ‘Aku’ (oc yang identitasnya masih disembunyikan)

Genre : Comedy, slice of life, college life, romance

Length : Series

Rating : General

Note : Ini ide dadakan tadi pagi waktu bagi tugas praktikum farmako dan keterusan imagine :’D Rencananya akan dibuat series dan memuat beberapa istilah medis yang dikemas dengan bahasa sederhana.  Ingat, ini hanya fiksi dan semoga menjadi kenyataan.

~ Selamat Membaca ~

Quality time. Aku selalu mengupayakannya saat weekend, terutama hari minggu. Seperti sekarang. Salahkan saja jadwal kuliahku yang rapat dan jadwal promo album winter EXO yang tanpa jeda. Untuk saling menyapa via line saja hanya bisa dilakukan sepatah dua patah kalimat.

Quality time yang ku maksud di sini adalah… menghabiskan waktu berdua dengan Kai. Kim Jongin. Pemuda yang bersikukuh menjadikan aku kekasihnya sejak 3 tahun yang lalu, saat aku gencar-gencarnya belajar untuk ujian masuk universitas sedangkan dia berlatih keras untuk persiapan comeback. Di saat seperti itu saja dia masih menyempatkan diri untuk memintaku jadi kekasihnya. Apalagi hari ini, minggu yang cerah dan aku meyakinkan jadwalku benar-benar kosong.

Kim Jongin datang ke apartemenku dengan kacamata Harry Potter jadi-jadiannya. Ya, aku lihat comeback stagenya kemarin. Mata sebelah kanannya bengkak, membuat bola matanya seakan tertelan setiap kali dia tersenyum. Tepat setelah perform, aku mengiriminya sebuah pesan singkat, ‘Jelek’. Lalu dia membalasnya dengan emoji berkacamata yang membuatku menahan tawa.

“Sudah dikompres dengan air hangat?” ku tanya dia dengan kedua tangan yang menopang wajah dinginku.

“Hehehe,” sesuai dugaan, dia hanya cengengesan. Tanpa ku tanya juga sudah pasti dia lupa mengompresnya dengan alasan tidak punya waktu. “Kau tahu kan, waktu tidurku saja sangat sedikit—“

“Tidurku juga sedikit, tapi untuk merawat diri sendiri masih bisa tuh,” ku berikan jitakan manis di kepalanya sebelum beranjak ke dapur untuk menyiapkan air hangat dan handuk kecil.

“Bahkan untuk sarapan juga tidak sempat.”

Aku mendengus, memutar bola mataku. Untung masih ada sepotong sandwich, jadi sekalian aku bawa bersama kompres itu ke ruang tengah.

“Makan,” perintahku sambil melotot, layaknya ibu tiri. Dan dia—dengan senyum bodohnya langsung menyambar sandwich itu. “Lepaskan kacamatamu.”

Jongin menurut, melepas kacamata kemudian ia letakkan di atas meja sebelum melanjutkan gigitannya pada sandwich.

“Kau lebih jelek dariku kalau sedang galak begini,” ejeknya.

“Aku kan tidak perlu tampil di depan TV dan mendapat teriakan yeoja,” balasku ketus. “Pejamkan matamu.”

Jongin memejamkan matanya, sambil tersenyum bodoh (lagi) yang membuatku ingin menghantamkan bantal kepala garfieldku ke wajahnya. Bagaimana bisa dengan senyum bodoh itu dia masih terlihat tampan?

“Kau tahu, sebenarnya aku sengaja tidak mengompresnya sendiri,” kata Jongin saat aku mulai mengompres kelopak mata kanannya.

“Sengaja agar terus memakai kacamata dan EXO-L berteriak histeris karena menurut mereka kau semakin tampan?”

“Jadi menurutmu aku terlihat tampan dengan kacamata ini? Baiklah, aku akan memakainya terus setiap kita bertemu.”

“Aku tidak bilang—“

“Aku tahu di balik kalimatmu tersirat pujian yang mengatakan aku tampan.”

“Sebenarnya tadi kita membicarakan apa?” potongku, secara sengaja menekankan handuk itu di kelopak matanya agar dia tahu aku merasa sebal.

“Awh, sakit,” ringisnya diiringi tawa. “Ku pikir kenapa harus repot-repot mengompres diri sendiri kalau aku punya dokter pribadi?”

“Aku belum jadi dokter,” elakku.

“Soon to be,” ucap Jongin. “Bagiku sekarang kau sudah jadi dokter pribadi.”

Ada benarnya juga sih. Sejak kuliah, aku jadi lebih aware pada kesehatan orang-orang yang ku sayangi, terlebih Jongin, yang menurut penilaianku manajemen kesehatannya sangat buruk.

“Buka matamu lagi,” suruhku setelah selesai mengompres.

Kelopak mata Jongin terbuka, membuatku mendadak berdebar. Heol, dia menampilkan senyum itu lagi—yang membuatku lemah dan harus berusaha mati-matian untuk menghindari kontak mata agar tidak ikut tersenyum.

“Nanti malam aku akan langsung masuk,” dia menghabiskan sandwich itu dan memakai kacamatanya kembali.

“Iya, aku akan terus disini mengerjakan tugasku.”

Sejauh yang aku tahu dia akan perform di Inkigayo hari ini. Jongin sudah tahu password apartemenku, jadi dia bisa masuk kapan saja yang dia mau.

“Membuat resume lagi?” Jongin menahan tawanya saat melihat folio bergaris yang bertumpuk serta buku-buku farmakologi yang terbuka di sebelah laptopku. Setiap weekend bertemu, membuatnya hafal semua bentuk tugas kuliahku.

“Dan mengerjakan kasus,” jawabku dengan wajah memelas, sambil menunjukkan lembaran kasus farmakologi yang harus ku kerjakan. Tawa Jongin makin lebar.

“Semangat ya!” hanya sebuah tepukan pelan di puncak kepalaku, tapi sepertinya akan sukses menjadi penyemangat selama seharian ini.

***

CWptqbaUYAA1EXY

Sorenya, aku menyempatkan diri untuk melihat interview EXO di SBS Inkigayo. Mereka memakai kostum Santa Clause dan kulihat Sehun juga berkacamata seperti Jongin. Mungkin kacamata Harry Potter akan jadi trend Desember ini.

CWprGcsVEAANrcn

Terlepas dari hal itu, yang paling menarik perhatianku adalah mata Jongin. Bengkaknya makin terlihat jelas. Sepertinya aku harus mengompresnya lebih lama nanti.

AC_%5B20151220-161348%5D

 

Sambil menunggu mereka tampil, aku kembali berkutat dengan tugasku. Tanganku sudah mulai pegal menulis sehingga perlu mengistirahatkannya setiap beberapa menit. Saat mendengar kata EXO diteriakkan, aku kembali ke depan TV untuk menonton penampilan mereka. Seperti hari-hari kemarin, mereka tampil ‘menggemaskan’ lagi. Make upnya lebih total dari saat interview tadi. Jongin mengenakan bando tanduk rusa berwarna merah. Aku tidak bisa berhenti tertawa. Walau tidak separah kemarin saat melihat Baekhyun menjadi dokter, aku tertawa sampai perutku kram.

Lalu kejutan lain menyapaku. Kim Jongin—si bodoh sialan itu melakukan ‘chu’ singkat setelah menyanyikan partnya.

CWp8OlRUwAA2RmQ

“Yaaa!” aku sampai memekik tak percaya. Sepertinya dia sangat berambisi untuk menjadi imut. Usahanya boleh juga. Aku tidak sabar menunggunya pulang dan menertawakannya.

***

Aku sedang mengedit slide presentasi saat terdengar suara pintu dibuka yang sudah pasti dilakukan oleh Jongin. Ku kecilkan volume music player yang sedang memutar lagu Red Velvet berjudul Wish Tree—sengaja ku putar dengan volume penuh karena merasa sepi sendirian.

“Aku pulang,” suaranya dari arah pintu. Ku tebak dia sedang melepas sepatunya sekarang.

“Ini rumahku. Kau hanya tamu,” timpalku dengan nada datar, tanpa mengalihkan mata dari laptop.

“Lihat, Bu dokter sedang sibuk,” ejeknya sambil terkekeh.

“Jangan berisik. Aku sedang tidak boleh diganggu.”

“Baiklah, aku akan duduk manis seperti ini,” kata Jongin, lalu memposisikan dirinya di seberang meja, berhadapan denganku dan menopang dagu dengan kedua tangannya.

Untuk lima menit pertama, berjalan mulus. Dia benar-benar tidak melakukan apa pun yang menimbulkan suara. Karena penasaran, aku mencoba meliriknya. Ternyata dia menatapku sedari tadi sambil tersenyum bodoh. Aku hanya bisa memutar bola mataku dan berusaha kembali fokus. Tapi gara-gara senyum bodohnya itu, aku jadi terus meliriknya—entah kenapa. Senyum bodoh sialan. Senyum bodoh yang tampan. Dan dia terus menatapku sambil tersenyum seperti itu.

“Yaaa! Kenapa kau lakukan itu?” protesku dengan wajah galak.

“Kenapa? Aku kan tidak mengganggumu,” jawabnya santai, masih dengan senyum tam—eh, senyum bodohnya, maksudku.

“Kalau kau terus seperti itu sama saja kau mengganggu, bodoh!” aku tahu ini sebuah protesan yang tidak masuk akal. Bukan salah Jongin, tapi salahku yang tidak bisa mengatur hormon hanya karena senyumnya.

“Karena kau salah tingkah? Itu bukan salahku,” lagi-lagi dia menjawab dengan enteng.

Sial, pipiku mulai hangat. Jangan-jangan warnanya memerah sekarang.

“Siapa yang salah tingkah? Nonton TV saja, sana. Kalau kau terus duduk di situ aku akan sangat terganggu.”

“Aku membawakanmu makanan.”

Aku lemah mendengar kata makanan. Perutku memang belum diisi sejak siang tadi. Memang dalam keadaan banyak tugas begini aku pasti menskip makan siangku karena malas, terlebih bahan makanan di kulkas sudah habis. Bersyukur sekali dia mengerti aku belum makan seharian walau sudah pasti makanan yang dia bawa adalah ayam. Dan benar saja, ternyata dari tadi sudah teronggok sekotak ayam goreng di atas meja tanpa ku sadari.

“Sekalian ambilkan piringnya,” pintaku sedikit merengek.

“Tidak usah pakai piring,” kata Jongin. Dia berpindah ke dekatku, membuka kotak ayam gorengnya.

“Dasar pemalas,” sindirku.

“Kau juga malas, bisa ambil sendiri malah menyuruhku.”

“Aku sedang mengerjakan ini, bodoh,” jitakan kedua—setelah tadi pagi, ku daratkan di kepalanya.

Seperti biasa dia hanya cengengesan dan malah mendekatkan sepotong ayam goreng ke mulutku. “Ayo buka mulutnya, beruntung sekali kan punya pacar seperhatian aku. Sampai disuapi begini.”

Tawaku nyaris meledak karena suaranya yang terdengar sok imut.

“Bodoh, bodoh,” ku gigit ayam itu sambil menahan tawa. “Saat tampil tadi kau yang paling terlihat menggelikan astaga, aku tidak bisa berhenti tertawa.”

“Baguslah, aku membuatmu tertawa,” kata Jongin dengan bangga.

“Tapi itu membuatku jadi kesulitan mengerjakan ini karena terus tertawa.”

“Memangnya apa yang kau kerjakan? Dari pagi tidak selesai juga,” dia bergeser mendekat untuk mengintip pekerjaanku.

“Ah… ini,” ku tunjuk slide presentasi yang masih setengah jadi. “Aku jadi scriber, makanya harus menunggu mereka mengirim masing-masing slidenya untuk ku gabungkan nanti. Sementara itu aku mengerjakan semua kasus di kertas ini,” ku goyangkan beberapa lembar folio bergaris yang sudah hampir penuh dengan tulisan tangaku, bertinta biru.

Jongin manggut-manggut, tangannya kembali menyuapiku ayam goreng. “Jadi kau mendownload semua slide presentasi yang dikirim lalu menyatukannya dalam file ini sekaligus merapikannya?”

“Begitulah,” jawabku sambil mendownload slide lainnya, lalu menyatukannya dengan slide yang sudah tersedia.

“Yang ini juga masih banyak?” tanyanya sambil menunjuk tulisan tanganku. Aku hanya mengangguk sambil mengerucutkan bibirku. Dan Jongin tertawa. “Aku bantu dengan menyuapimu saja ya,” ucapnya sambil mengacak rambutku dengan tangan kirinya.

“Ya… lagi pula kau bisa bantu apa lagi selain ini.”

Jongin tertawa lagi. Bermenit-menit selanjutnya hanya kami isi dengan makan. Jongin menyuapiku dan menyuapi dirinya sendiri, hingga ayam-ayam itu habis bersisa tulangnya.

“Aku ambilkan minum,” ucapnya, lalu beranjak ke dapur.

“Oh iya, sekalian ambil air hangat dan handuk kecil,” pintaku.

“Untuk apa?”

“Mengompres matamu lagi.”

“Aku saja sudah lupa,” dia terkekeh.

Tak berapa lama setelahnya, Jongin kembali duduk di sampingku dengan segelas air dan semangkuk air hangat serta handuk kecil.

“Kenapa mataku harus dikompres dengan air hangat? Kenapa tidak memakai air dingin?” tanyanya dengan wajah polos.

Dia biasa menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan kesehatan padaku, dan aku berusaha menjawabnya sesederhana mungkin agar dia mengerti. Walau kadang aku tidak punya jawaban atas pertanyaannya karena keterbatasan ilmu, tapi dari pertanyaan-pertanyaan itu aku jadi belajar lebih.

“Jadi matamu ini,” aku memulai penjelasan sekaligus mengompres kelopak matanya. “kami menyebutnya hordeolum. Ada pembengkakan di dalam kelopak matamu karena kurang menjaga kebersihan mata.”

“Aku selalu bersih,” protesnya tidak terima.

“Itu kan perasaanmu saja. Mata ini telah membuktikan dengan lebih akurat.”

“Yang jelas aku selalu bersih.”

“Bisa jadi kau kelilipan lalu mengucek matamu dengan tangan sembarangan. Atau bisa juga karena menggunakan kosmetik bergantian.”

“Oh… bisa karena itu ya?”

Aku menjitak kepalanya.

“Di kelopak matamu, tepatnya di dekat akar bulu mata terdapat sebuah kelenjar. Karena ada infeksi ringan yang menjadikan pintu keluarnya menebal, kelenjar ini mengalami sumbatan dan tidak bisa mengeluarkan pelembab untuk kulit kelopak matamu. Akibatnya pelembab itu menumpuk dan membuat kelopak matamu jadi bengkak begini,” jelasku.

“Pertanyaanku belum terjawab, kenapa harus memakai air hangat?”

“Aku belum selesai menjelaskannya, bodoh,” lagi-lagi aku menjitak kepalanya. “Suhu hangat bisa melebarkan pembuluh darah yang nantinya bisa membantu melancarkan aliran kelenjar itu juga. Jadi dengan dikompres air hangat, sumbatan itu bisa berkurang dan bengkakmu perlahan sembuh.”

“Oh, begitu,” dia menganggukkan kepalanya. “Apa besok ini akan sembuh?” tanyanya sambil menunjuk kelopak matanya.

“Hanya Tuhan dan kelopak matamu yang tahu,” aku memutar bola mata. “Sudah, ini kau kompres sendiri sambil nonton TV sana.”

Kali ini dia menurut, membawa mangkuk dan handuk kecil itu ke depan TV agar aku bisa mengerjakan tugas dengan tenang. Aku kembali fokus pada tugasku yang masih banyak. Menulis semua pemecahan kasus sampai tanganku pegal dan sesekali harus mengecek telegram untuk melihat apa ada slide baru yang masuk untuk diedit. Satu jam, dua jam, tiga jam berikutnya mataku mulai berat. Masih ada beberapa slide presentasi yang harus digabungkan. Besok kelas pertamaku jam 7 pagi. Berarti aku harus menyelesaikannya sekarang. Tapi rasa kantukku tak tertahan lagi.

***

Bunyi alarm.

Dan aku tersentak. Ku lihat jarum jamnya, sudah pukul 6 pagi.

“Oh, tidak! Presentasiku!” aku memekik panik dan langsung membuka laptop yang tertutup di meja belajar. Eh—tunggu. Meja belajar? Bukankah semalam aku mengerjakannya di meja ruang tengah? Kemudian aku sadar sekarang tengah memeluk selimut. Dan tadi aku terbangun di atas tempat tidurku.

Aku mencoba merecall kejadian semalam. Terakhir yang ku ingat adalah aku menulis kalimat terakhir untuk interpretasi kasus, menandakan semuanya sudah selesai ku kerjakan. Lalu aku menidurkan kepala di atas meja dan… dan sepertinya aku ketiduran. Dengan jantung berdebar aku membuka folder tempatku menyimpan tugas dan membuka file presentasi yang seharusnya aku kerjakan semalam.

Omaya!

Slide presentasiku selesai. Bagaimana bisa? Jangan-jangan….

Langsung ku raih ponselku yang tergeletak di atas tempat tidur. Ada satu pesan dari Jongin.

Aku tidak mengacau kan? Yang ku lakukan hanya mengcopy paste slide presentasi dan merapikannya. Entah itu sudah selesai semua atau tidak. Jangan lewatkan sarapanmu.

Rasanya ingin menangis saking senangnya. Ini benar-benar Kim Jongin. Tugasku selesai karena dia. Sepertinya aku benar-benar lelah hingga tidak sadar saat dia memindahkanku ke kamar dan memakaikan selimut. Aku melompat-lompat kegirangan sambil memeluk garfield sebagai ganti Jongin. Kalau dia ada di sini mungkin aku sudah memeluknya.

Jadi tidak salah kan, jika aku bahagia memilikinya?

~ See You Next ~

Note lagi : Gaje ya ceritanya wkwk. Saya ingatkan lagi ini hanya fiksi. Saya sendiri kurang tahu pasti maja Jongin kenapa, tapi dari penampakannya saya anggap itu hordeolum a.k.a bintitan. Sekalian untuk sedikit berbagi pengetahuan bagaimana tatalaksana awal orang bintitan. I own the plot, tapi ada sedikit bumbu (di bagian Jongin menatap ‘aku’ sambil senyum senyum) yang terinspirasi dari ocehan gaje teman saya, @glabellunexo in twitter (orangnya pasti gak sadar saya mention di sini wkwk). Kritik dan saran saya terima dengan tangan hati lapang. Sampai jumpa chapter berikutnya.

 

Iklan

10 thoughts on “Jongin and I : Hordeolum

  1. […] violetkecil Painkiller by ridhoach Broke Up by 델라 (bebhmuach) It’s You by putrislsaput Jongin and I: Hordeolum by lefabings UPDATE XOXO PARTY 2016 COMING SOON! LAYOUT BY VIOLETKECIL AT […]

  2. Uwaaaahhh…
    Seorang Jongin bisa jadi Cheese ya??
    Aaahhh….. rasanya nyutnyutan bacanya…
    Seandainya itu “aku”….
    Sepertinya udah terbang ke langit tingkat tingkat tingkat *apasih* hahahhaha
    Nice FF… kepp writing 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s