Bittersweet : I Hate You

bittersweet

Author : Iefabings

Genre : Romance, Friendship, Drama, College Life, Alternate Universe

Rating : PG-13

Length : Multi Chapter (currently chapter 3)

Cast :

EXO’s Kai as Kim Jongin

Red Velvet’s Seulgi as Kang Seulgi

EXO’s Sehun as Oh Sehun

Other Cast you can find on the story

Author note : Di chapter ini Kim Jongin nyebelin. Udah itu aja.

Previous chapter : The Circle | He’s My Boyfriend |

^^Selamat Membaca^^

Hari-hari berikutnya, Seulgi disibukkan oleh kuliah, persiapan event The Circle dan kencan. Pagi-pagi sekali dia berangkat ke kampus untuk kuliah sampai siang atau sore hari, kemudian Sehun akan menjemputnya untuk kencan singkat walau hanya untuk makan malam berdua. Di akhir pekan, Seulgi benar-benar meluangkan waktu untuk Sehun. Karena ingin benar-benar memanfaatkan waktu, dia pergunakan waktu kencannya untuk belajar bersama Sehun. Menurut Seulgi itu adalah kencan yang ideal dan Sehun hanya bisa menuruti keinginan gadisnya walau selalu mencuri kesempatan untuk menggoda Seulgi seperti menekan-nekan pipi chubbynya, memainkan rambutnya, atau merebahkan kepala di pundaknya. Sehun heran bagaimana Seulgi bisa begitu fokus membaca sementara dirinya terus mengganggu. Seperti hari ini, mereka berkencan di perpustakaan kota. Seulgi begitu serius membaca buku fisiologi tebal. Berbeda dengan Sehun yang justru menggunakan buku tebal lain untuk membaringkan kepalanya dan menatap Seulgi.

“Kencan macam apa ini? Kita tidak bisa berduaan,” keluh Sehun dengan nada yang dimanja-manjakan seperti anak kecil.

“Kalau kita pergi ke cafe atau taman bermain pun kita tidak berduaan, Sehun-ah,” Seulgi merespon tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.

“Tapi setidaknya kita tidak stress dengan materi-materi kuliah dan aku bisa melihatmu tersenyum lebih banyak,” Sehun mengangkat kepalanya.

“Kau ingin melihatku tersenyum? Lihat ini,” Seulgi beralih menatap Sehun lalu tersenyum lebar beberapa saat. “Seperti itu?”

Sehun tertawa. “Aku jadi ingin menciummu.”

“Dasar,” Seulgi memutar bola matanya lalu kembali fokus membaca.

“Seulgi, aku mencintaimu,” bisik Sehun tepat di telinga Seulgi.

Dalam sekejap pipi Seulgi sudah berwarna merah jambu dan dia mulai salah tingkah. Tapi dia tutupi itu dengan dehaman singkat. “Belajar dulu yang serius. Kau ingin jadi dokter juga kan?”

“Astaga, aku patah hati sekarang,” Sehun melakukan gerakan menikam jantung dengan pisau imajiner.

Seulgi tidak bisa menahan senyumnya, akhirnya menutup buku yang sedari tadi ia baca.

“Baiklah, ayo traktir aku makan eskrim.”

“Sungguh? Kau mau makan eskrim bersamaku?”

Lagi-lagi Seulgi tertawa melihat ekspresi Sehun. Jika Sehun adalah tokoh dalam anime mungkin matanya digambarkan dengan bintang yang bersinar, atau berbentuk hati.

“Iya, aku mau makan eskrim bersamamu. Tapi ditraktir.”

“Bahkan kau minta aku belikan sekaligus dengan restorannya pun aku bersedia,” Sehun bangkit dengan penuh semangat. “Tapi nanti saat aku sudah jadi dokter. Sekarang aku belikan eskrimnya saja dulu ya.”

Tawa Seulgi makin menjadi. Sehun selalu bisa membuat hatinya seperti digelitik, dan itu sangat menyenangkan. Dia bersyukur memiliki Sehun di sisinya sekarang.

***

Sehun terus tersenyum seperti orang tidak waras dalam perjalanan ke tempat karaoke. Setelah seharian kencan, dia mengantar Seulgi untuk rapat The Circle.

“Kalau terus tersenyum seperti itu, orang-orang akan mengira aku mengencani orang gila,” Seulgi menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Sebenarnya aku merasa heran, kenapa harus di tempat karaoke,” Sehun menanggapi dengan topik yang berbeda.

“The Circle? Memang seperti ini, mereka sering bersenang-senang. Tenang saja, aku tidak minum kok.”

Sehun mengangguk. Mobilnya berhenti tepat di depan tempat karaoke. “Telepon aku saat selesai, aku akan menjemputmu.”

“Sehun-ah—“ Seulgi baru saja membuka mulut untuk menyatakan penolakan, tapi Sehun segera menyela.

“Aku akan marah kalau kau pulang sendirian dan aku akan merasa tidak berguna jika kau pulang diantar orang lain.”

“Baiklah, aku akan meneleponmu. Hati-hati,” akhirnya Seulgi mengalah. “Aku masuk dulu,” pamitnya sebelum membuka pintu mobil dan turun. Dia melambaikan tangan saat mobil Sehun kembali melaju.

Seulgi berbalik dan melangkah ke dalam tempat itu dengan sedikit keraguan. Dia tidak pernah masuk tempat seperti ini. Sangat minim cahaya dan cukup sepi, karena kebanyakan aktivitas dilakukan di dalam ruang kedap suara. Ponselnya bergetar, sebuah pesan dari Joohyun.

Seulgi-ah, aku pulang duluan karena ibu mertuaku mendadak mengajak bertemu. Tempat pertemuannya ada di pintu paling ujung. Masuk saja, mereka sedang bersenang-senang.

Seulgi mendesah kecewa. Ini pertama kalinya dia akan berada di tengah-tengah anggota The Circle tanpa Joohyun. Dia jadi merasa gugup. Tapi kakinya tetap melangkah ke arah pintu yang disebutkan oleh Joohyun dalam pesannya. Perlahan dia membuka pintu itu dan langsung menutupnya kembali setelah masuk. Kemudian dia ternganga saat melihat suasana di dalam.

Ini bukan seperti The Circle yang biasanya—atau dia baru tahu perilaku mereka yang sebenarnya? Dia pikir malam ini akan ada laporan perincian dana yang masuk dan keluar, juga presentasi dari Minseok sebagai penanggung jawab lapangan. Tapi yang dia lihat sekarang adalah wajah-wajah mabuk dan mereka bertingkah…. liar? Lihat saja, kini Sunyoung dan Myungsoo tengah berciuman dengan begitu panas seperti dalam film-film dewasa. Lalu Jongdae dan Minseok terlihat seperti sangat menikmati adegan itu. Seulgi merasa mual. Yuri hanya memakai bra dan celana dalamnya, merokok dengan santai seolah itu adalah makanan yang lazim dikonsumsi. Kondisi Soojung tidak jauh beda dengan Yuri, hanya memakai bra tapi dia masih mengenakan celana pendek. Tidak ada Siwon, Victoria, Junmyoon, dan Baekhyun di sana.

“Seulgi-ah?” Yuri yang pertama kali menyapanya. Tapi Seulgi terlanjur kaget dengan suasana yang tak biasa ini hingga tak sempat menjawab sapaannya. “Jangan takut, kami biasa melakukan ini. Kemarilah,” Yuri melambaikan tangan dengan ramah. Seulgi tidak bergerak sama sekali, terlalu takut untuk mendekat.

“Baiklah, sekarang giliranku,” dengan kondisi mabuk, Myungsoo memutar botol kosong dan kini botol itu mengarah pada Jongin. “Hahaha, kena kau!” dia menunjuk Jongin yang sedang merokok, dengan kondisi yang sama persis. Mabuk berat.

“Aku pilih dare,” kata Jongin.

Sekilas Myungsoo menyeringai ke arah Seulgi.

“Aku ingin melihatmu bermain dengan dia,” kata Myungsoo sambil menunjuk Seulgi—yang tidak bisa berbuat apa pun selain berdiri di pintu.

“Seulgi?” Jongin menatap Seulgi dengan wajah mabuk, lalu tertawa. “Itu sih gampang.”

Seulgi menggeleng cepat. “T-tidak, jangan.”

Tangan Seulgi meraih kenop pintu, membukanya agar bisa kabur. Tapi Myungsoo segera berlari ke arahnya dan menutup pintu itu kembali, menguncinya rapat. Tidak hanya itu, dia mendorong Seulgi ke arah Jongin yang langsung mendekapnya.

“Kau sudah jadi bagian dari kami. Nikmati saja permainan ini,” kata Myungsoo dengan seringaian yang bagi Seulgi sangat menakutkan.

“Ayo, Jongin! Bergeraklah lebih cepat!” seru Jongdae seperti suporter yang memberi semangat.

Apa-apaan ini? Seulgi tidak tahu apa-apa tentang permain ini, dia baru saja tiba dan sekarang harus menerima perlakuan yang kurang ajar dari mereka, terutama Jongin. Dia menendang tulang kering Jongin dan melepaskan diri, mendorong pemuda itu menjauh. Sebenarnya usaha ini sia-sia saja, karena apa pun yang dia lakukan, Myungsoo tetap berjaga di pintu dan dia tidak bisa kabur kemana pun. Anggota lainnya hanya tertawa seakan dirinya dan Jongin adalah tontonan menarik.

“Kau ingin membuat ini lebih menantang? Aku suka itu,” seringaian Jongin tak kalah menakutkan dengan milik Myungsoo.

“J-jangan… ku mohon jangan,” suara Seulgi mulai bergetar menahan tangis. Dia mundur hingga terjebak di dinding. Jongin hanya berjalan santai ke hadapannya, hingga berhasil meraih pipinya, membelainya, dan mulai mendekatkan wajahnya.

“Ternyata benar, kau sangat imut. Aku semakin ingin menciummu.”

Seulgi semakin gemetar setelah mendengar ucapan Jongin. Pergelangan tangannya terkunci ke dinding sehingga dia tidak bisa melawan. Air matanya jatuh saat Jongin mencium bibirnya dengan paksa. Itu adalah ciuman pertamanya. Bahkan Sehun belum pernah menciumnya, apalagi ciuman seperti ini. Diawali dengan ciuman yang lembut, tapi karena Seulgi semakin gencar meronta, Jongin mulai menciumnya dengan kasar bahkan menggigit bibirnya. Dia meringis, tapi tertahan karena mulutnya dibungkam oleh ciuman paksa itu. Jongin melumat bibirnya dengan kasar, lalu memberi kecupan singkat sebelum ciumannya turun ke leher putih Seulgi.

“Whoa… kau benar-benar hebat, Kim Jongin,” mereka yang menonton berdecak kagum, kecuali Minseok yang tampaknya mulai merasa iba pada Seulgi.

“Jongin-ah, sepertinya Seulgi tidak menyukai ini,” kata Minseok, tapi tidak ada yang menghiraukannya. “Hey, hentikan. Dia merasa tersiksa.”

Namun nihil, adegan itu malah semakin liar. Jongin memindahkan kedua tangan Seulgi ke atas kepala, menguncinya dengan satu tangan sementara tangannya yang bebas menarik paksa kemeja yang Seulgi pakai hingga dua kancing atasnya terlepas. Bibirnya masih menikmati leher Seulgi. Saat itu lah Seulgi benar-benar menangis dengan keras. Suara tangisnya memenuhi ruangan, membuat mereka semua terdiam termasuk Jongin yang membeku seketika dengan wajah yang masih terbenam di leher Seulgi.

“Aku mohon, hentikan,” ucap Seulgi di sela tangisnya yang terdengar memilukan. “Aku bukan orang-orang seperti kalian. Ku mohon, jangan lakukan ini padaku. Ku mohon….”

Minseok segera mendorong tubuh Jongin menjauh dari Seulgi yang terlihat kacau dan menyedihkan. Dia langsung menyampirkan jaketnya di tubuh gadis itu. Wajah Myungsoo yang semula menampakkan seringaian, kini malah terlihat merasa bersalah. Dia mendekat pada Seulgi.

“S-Seulgi-ah, apa kami keterlaluan padamu? Maafkan kami….” Tidak ada jawaban, hanya terdengar suara tangis. “Jongin-ah, jangan berdiri saja. Ayo minta maaf juga,” Myungsoo menarik Jongin hingga berlutut di hadapan Seulgi untuk minta maaf.

Yuri, Soojung, dan Sunyoung tak kalah panik. Mereka segera mengenakan pakaian secara lengkap kemudian meminta maaf pada Seulgi yang tidak juga berhenti menangis.

“Tunggu sampai Siwon hyung, Victoria, dan Joohyun noona tahu tentang ini,” ucap Minseok dengan nada mengancam.

“Seulgi-ah… aku minta maaf,” akhirnya Jongin bicara dengan nada yang terdengar datar seperti biasanya. Entah dia benar-benar merasa bersalah atau tidak.

Seulgi tidak bisa berbicara apa pun karena terlalu sibuk menangis. Dia tidak pernah merasa semenyedihkan ini. Dalam sekejap, rasa bencinya terhadap Jongin tumbuh. Persetan dengan semua perasaan aneh setiap kali mata mereka bertatapan. Seulgi tidak akan memaafkan Jongin atas semua yang ia alami malam ini.

***

Sehun memutar balikkan mobilnya ke tempat karaoke lagi setelah melaju sekitar satu kilometer. Mungkin berlebihan, tapi dia memiliki firasat tidak enak jika harus membiarkan Seulgi sendirian masuk tempat itu. Dia pun memilih menunggu Seulgi selesai di depan tempat karaoke. Walau akan sangat membosankan menunggu di dalam mobil sendirian. Ternyata firasatnya tidak salah. Dia dikejutkan oleh keadaan Seulgi yang terlihat tidak baik-baik saja, keluar dari sana dengan ditemani tiga orang gadis. Jelas dia langsung keluar dari mobil dan menghampiri mereka.

“Seulgi-ah, gwenchana? Apa yang terjadi?” tanyanya dengan cemas, kemudian menatap ketiga gadis yang menemani Seulgi bergantian untuk meminta penjelasan.

“Sehun-ah…” Seulgi tak menduga Sehun akan ada di sana, melihatnya sedang menangis seperti ini.

“Kami minta maaf, ada sebuah kejadian yang tak menyenangkan tadi,” jawab Yuri dengan wajah merasa bersalah.

“Tidak menyenangkan? Apa yang telah kalian lakukan pada gadisku?” suara Sehun meninggi, tapi masih bisa menahan geram karena mereka semua adalah perempuan.

“Jongin hanya menciumnya, kau tidak perlu khawatir. Gadismu masih virgin,” kata Soojung dengan ketus.

“Mwo?” mata Sehun terbelalak, tak habis pikir dengan ucapan gadis di hadapannya.

“Sehun-ah, aku ingin cepat pulang,” Seulgi menggenggam tangan Sehun yang terkepal, menatap kekasihnya dengan mata yang berlinangan air. Itu membuat emosi Sehun justru semakin naik.

“Mulai sekarang, kau tidak perlu menemui mereka lagi. Aku tidak akan membiarkanmu datang ke pertemuan-pertemuan bodoh semacam ini lagi,” tegasnya, kemudian menatap tajam Sunyoung, Soojung dan Yuri. Yang ditatap hanya bisa menunjukkan ekspresi bersalah, kecuali Soojung yang masih terlihat angkuh.

Sehun merangkul Seulgi ke dalam mobil, memastikan gadisnya duduk dengan nyaman, barulah ia melajukan mobilnya. Dalam perjalanan dia terus mencuri pandang ke arah Seulgi. Melihat gadisnya menangis membuat hatinya terasa sakit. Karena tidak tahan, dia menghentikan mobilnya. Seulgi terus terisak, sepertinya tidak mampu melakukan apa pun selain menangis. Selama satu menit Sehun hanya mendengarkan suara isakan itu. “Seulgi, sekarang ada aku di sini.”

“Maafkan aku, Sehun-ah,” di sela-sela tangis dan sesaknya, Seulgi akhirnya bicara. “Aku tidak bisa menjaga diriku….”

Emosi Sehun memuncak, dalam hati mengutuk pria bernama Jongin itu. Dia sendiri merasa bersalah karena tidak ada di sana untuk melindungi gadisnya.

“Aku disini,” Sehun membawa Seulgi dalam pelukannya. “Semua akan baik-baik saja. Maaf, aku tidak ada di sana untuk melindungimu. Seharusnya aku tidak meninggalkanmu.”

Seulgi terus menangis di dalam pelukan Sehun, sekeras yang dia bisa. Hingga Sehun melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Seulgi, menghapus air mata dari pipinya.

“Lupakan kejadian tadi. Di sini hanya ada aku bersamamu.”

Seulgi memejamkan matanya saat Sehun mulai mengecup kedua matanya, lalu menautkan bibir mereka. Sebuah ciuman yang lembut penuh cinta, membuat Seulgi merasa aman dan untuk sesaat melupakan kejadian mengerikan tadi.

Untuk kesekian kalinya, Sehun membuatnya merasa beruntung bisa memilikinya.

***TBC***

26 thoughts on “Bittersweet : I Hate You

  1. Seulgi aahh😦

    Knapa dengan club ini sebenarnya.. Heuheuheu, kai juga jadi gitu

    Untung ada sehun lelaki baik hati yg selalu bersama seulgi. Penasaran dengan lanjutannya

    Heuheuheu, masih syok dengan part ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s