PCY’s EX Series: #1 First Impression

[PCY's EX Series] #1 Lonely

PCY’s EX Series: #1 First Impression

deera

Cast: Park Chanyeol, Song Rim Ah | Genre : Comedy, bitter romance | Rating: General | Length: Ficlet Series

.:Tidak ada fiksi yang original. Bisa saja kisah itu datang dari masa lalumu, curhatan sahabatmu, kejadian yang kau temui pagi ini di jalan, atau kelak akan membuatmu bergumam, “Ini aku banget!

Selamat tenggelam dalam setiap cerita!:.

‘Bercerita soal…, mantan pacar?’

.

.

.

Pacar pertamaku bernama Song Rim-ah. Waktu itu umurku masih tiga belas. Kami pergi ke sekolah menengah yang sama dan menjadi pasangan hits kala itu. Sewaktu aku duduk di tahun kedua, uri hyung—anak dari kakak ibuku—Choi Seung Hyun, yang usianya tiga tahun di atasku, mengenalkan pacarnya pada keluarga besar kami. Padahal baru berumur enam belas, dia sudah berani membawa anak orang ke acara keluarga yang dihelat tiga bulan sekali, waktu itu.

Dulu, aku belum mengetahui kalo noona itu, Kim Ah Rin namanya, adalah pacarnya Seung Hyun hyung. Sepulangnya Ah Rin noona dari rumah, aku banyak bertanya padanya.

Apa itu pacar? Kenapa disebut pacar? Kenapa harus Ah Rin noona yang jadi pacar Seung Hyun hyung? Kenapa harus pacaran?

Dijawabnya satu-satu semua pertanyaanku dengan sabar. Maklum, Seung Hyun hyung harus mengajarkan dongsaeng-nya yang tampan ini supaya tidak terlalu cupu dalam hal semacam ini.

“Pacar itu orang yang berhubungan dengan kita tapi dialndasi perasaan yang lebih dari sekedar teman.”

“Kenapa disebut pacar? Karena hyung sudah menyatakan perasaan pada Ah Rin noona, kalau hyung sayang padanya. Dan Ah Rin noona juga punya perasaan yang sama. Lalu ya, kita pacaran.”

“Kenapa harus Ah Rin noona? Karena dia adalah gadis yang membuat hyung nyaman berada di dekatnya. Dia juga yang membuat hati hyung berdebar setiap kali bertemu. Ah Rin noona membuat hyung menyayanginya, rela memberikan segalanya walaupun hyung hanya seperti ini.”

“Kenapa harus pacaran? Kalau tidak, Ah Rin noona akan dimiliki orang lain hahaha.”

Aku yang masih tiga belas tahun mulai mencerna kata-kata Seung Hyun hyung. Untuk kapasitas otakku yang masuki kategori cukup—cukup kurang waras maksudnya—aku berpikir untuk pacaran juga. Waktu itu di sekolah memang lumayan banyak yang sudah menerapkan trend tersebut. Tapi aku jadi penasaran juga, siapa yang kira-kira cocok untuk jadi pasanganku? Kalau melihat track record kelakukanku, para siswi justru banyak yang tidak menyukaiku. Kata mereka, aku adalah anak yang jahil, nakal, dan kekanak-kanakan (aduh, please, namanya juga umur tiga belas, wajar saja dengan sifat-sifat seperti itu).

Akhirnya, hyung memberiku pencerahan.

“Yeol-ah harus mencari yeoja yang membuat hatimu berdebar gugup, sampai rasanya ingin bicara saja susah!”

Aku berpikir. Tidak mungkin bukan, aku menyatakan perasaan pada Tae sungsaemnim, wali kelasku yang setiap pagi membuatku deg-degan karena takut tiba-tiba ia mengadakan ulangan mendadak yang selalu ampuh membuatku mati kutu?

“Yang membuatmu menyayanginya. Yang bisa mengalihkan perhatianmu.”

Aku berpikir kembali. Tidak mungkin bukan, aku mengajak Gi Tae noona, penjaga kantin, yang membuatku lama-lama memerhatikan…, rambut kuning dan kawat gigi hijau tosca yang dia pakai sejak seminggu lalu?

“Yeol-ah, kau akan bisa merasakannya sendiri nanti. Dan juga kau tahu, kalau kau menyanyanginya, lalu  dia harus jadi pacarmu.”

Lantas, aku mulai mencari. Kuperhatikan hal-hal detail di sekolah, setiap siswi di kelas, bahkan sampai lintas kelas dan lintas angkatan. Tapi sebetulnya, seberapa penting pacaran itu? Apa menjadi sebuah keharusan mencari seseorang yang membuatmu berdebar tidak karuan seperti itu? Sempat terpikir olehku kalau semua ini terlalu tolol dan tidak ada gunanya. Karena selama aku mencari, sia-sia adalah kata yang paling tepat untuk mendeskripsikan segalanya.

Aku putuskan untuk berhenti. Eomma juga pernah mengatakan bahwa setiap orang mempunyai jodohnya masing-masing. Setiap orang sudah ditakdirkan hidup berpasangan. Jangan takut sendirian. Karena setiap orang juga memiliki timing masing-masing untuk bertemu belahan jiwanya.

Uri Eomma sangat puitis ya? Dia saja yang tidak tahu, anak bungsunya ini tidak mengerti apa-apa tentang yang dia katakan.

Tapi karena perkataan Eomma, aku jadi berpikir juga, kalau aku tidak perlu repot mencari pacar.  Toh, semua orang sudah ditakdirkan berjodoh. Jadi aku hanya perlu menunggu. Siapa pun orangnya, nantinya dia sudah diciptakan untukku—untuk jadi pacarku.

Beda dengan Seung Hyun hyung. Dia bilang, kalau tidak dicari, ya tidak akan bertemu. Mungkin memang ditakdirkan bertemu, tapi kalau tidak ada usaha, bagaimana bisa bertemu?

Kemudian aku menjadi anak tampan berumur tiga belas yang galau.

Pada akhir minggu bulan Februari, sekolah mengadakan acara berkemah. Hanya berkemah biasa di sekolah, tapi kalian harus tahu seberapa mistisnya sekolahku itu. Sore hari saat aku dan teman-temanku iseng bermain bola, kami mengalami beberapa hal aneh. Awalnya kami terkejut bukan main. Tapi sebagai namja yang beranjak dewasa, kami mencoba untuk menganggapnya lalu. Setelah tiga kali kejadian itu berulang, kami memutuskan untuk memberhentikan aktivitas main bola di sore hari.

Eomma tentu saja tidak memberiku izin. Karena, setiap aku pulang bermain bola, uri Eomma selalu kuceritakan hal-hal yang kita alami tersebut. Dia juga takut. Tapi kukatakan padanya dengan percaya diri, “Tenang saja, Eomma. Di sana banyak orang. Hantu kan, takut dengan keramaian.”

Jadilah aku berangkat Jumat sore. Kalian harus tahu, jarak dari sekolahku ke rumah hanya berjarak beberapa blok. Kalau nanti aku malas tidur di tenda, aku bisa kabur pulang dan tidur di rumah. Tapi Eomma membekalkanku banyak barang, seperti aku akan menginap di hutan rimba selama tujuh hari tujuh malam saja.

Yeobo, sudah jangan masukkan apa-apa lagi,” komentar Appa waktu melihat tasku penuh yang tengah disiapkan Eomma.

“Aku membawakannya selimut, Yeobo. Di luar itu dingin, banyak sekali nyamuk. Bagaimana kalau uri Yeol terkena demam? Akan lebih parah bukan,” omel Eomma.

Dan Appa hanya diam, mengagukkan kepala, dan bergumam, “Oh iya ya.”

Aku? Melongo parah melihat kelakukan kedua orangtuaku.

Acara berkemah yang kupikir akan membosankan ternyata memang teramat sangat membosankan. Sore hari setelah semua tenda terpasang, acaranya hanya baris-berbaris, bernyanyi sambil bertepuk tangan. Ketika hari berganti malam, acara mulai masuk ke inti, yaitu api unggun. Setiap anak harus duduk berselang-seling, yeoja-namja. Katanya, supaya anak laki-laki dapat melindungi para gadis.

Di acara api unggun, setiap siswa harus menampilkan sesuatu. Bisa berdua, bertiga, atau grup. Aku menoleh ke sebelahku—anak gendut yang rambutnya dipita kuning. Aku bahkan tidak sempat bertanya siapa namanya karena perhatianku teralih, terpaku memperhatikan seorang siswi yang duduk di seberang. Entah kenapa, melihatnya di antara kobaran api yang menyala di tengah kami yang duduk melingkar, membuat dia terlihat cantik. Demi Tuhan, dia cantik, dan aku bisa memberi penilaian kalau dia cantik. Gadis itu berambut panjang sebahu. Ikal di bagian bawahnya. Dia memakai jepit berbentuk pita dan diselimuti jaket warna abu-abu yang kebesaran.

Tiba-tiba sebuah suara memecah lamunanku. “Apa yang mau kau tampilkan, Chanyeol-ah?” Anak di sebelah kiriku memanggil. Dia sekelas denganku, Baek Ri Tae. Dia memakai kaca mata dan siswa nomor satu di kelas. Dia tersenyum dan gingsulnya mencuat.

Kuangkat kedua bahuku. “Kau mau apa?” tanyaku balik.

“Aku sepertinya mau membaca syair,” jawab Ri Tae malu-malu.

Krik… krik… krik….

Untuk ukuran gadis tiga belas tahun, Ri Tae memang jenius luar biasa. Dia kelihatan nerd, tapi sebetulnya, dia itu super eksis di dunianya. Ri Tae saat ini sudah menjadi seorang penulis. Novelnya terbit di toko buku…, di sudut rak ditumpuk dengan judul lainnya.. Memang belum best seller, tapi bagiku, melihat tulisan sendiri dijadikan buku dan dibeli orang-orang itu sudah sebuah prestasi. And there she is, Baek Ri Tae, teman sekolahku.

Siswi bertubuh gempal di sebelah mencolek lenganku. Dia tersenyum. Antiklimaks.

“Apa yang akan kau lakukan nanti, Park Chanyeol?” tanyanya.

Sedikit banyak, aku tidak ingin ditanya oleh anak ini. Tidak ingin kenal, tidak ingin ngobrol, dan tidak ingin mencari tahu apa-apa tentang dia. Baru kali itu aku melihatnya. Ketidakantusiasanku jelas amat terlihat. “Aku tidak tahu,” jawabku singkat.

“Mau melakukannya bersamaku?”

Andai yang bertanya begitu adalah gadis yang tengah melahap cokelat di depanku, yang mulai merapatkan jaketnya karena dingin yang mulai merasuk. Andai….

“Kau…, apa yang ingin kau lakukan?” tanyaku balik.

Matanya seketika membulat, menunjukkan ketertarikan lebih dari pertanyaan sederhana itu. “Aku mau bernyanyi.”
Aku menghela napas. Sebentar lagi, aku akan mempermalukan diri sendiri. Bernyanyi dengan suara seadanya dengan rekan duet yang if-she’s-the-only-girl-in-this-hell-world-so-I-would-choose-her. Terlebih, di depan yeoja cantik itu. Reputasi, gengsi, ketampanan, kepopuleran….

“Eum…, aku akan mengambil gitarku,” kataku sambil beranjak dari duduk. Tetiba saja sesuatu yang hangat terasa di atas kulit lenganku. Ia menahanku dengan sebelah tangan.

“Kau…, bisa memainkan gitar?” tanyanya antusias.

Aku menggaruk tengkuk, salah tingkah. “Eoh. Tapi hanya satu lagu. Dan sepertinya kau tahu itu lagu apa.”

Gadis ini mengangguk cepat. “Aku yang akan mengikutimu.”

Fuuuuh. Aku menelan ludah. There’s the only choice. Dia tengah bersiap. Pandanganku sempat tertuju pada yeoja cantik yang saat itu sedang melipat kakinya di depan dada. Dia melihatku dengan tatap penasaran. Seandainya ini kau, hey Cantik, kita akan saling tatap dengan penuh cinta dan aku akan sangat bersemangat bernyanyi biarpun suaraku pas-pasan.

Kumulai petikan gitarku yang pertama. Intro dimulai perlahan. Tak lama, bait pertama dari lagu tersebut masuk dan mendominasi suara-suara di sekeliling kami..

Kalau bukan sukses, kita tidak mungkin membuat semua orang di sana bernyanyi bersama, bertepuk tangan keras, dan berseru mengelukan, “Lagi lagi lagi!!”

Aku mendadak bangga pada diriku sendiri. Pertama kalinya aku bermain gitar di depan banyak orang, menunjukkan kemampuanku biarpun hanya satu lagu, dan aku mengiringi seseorang yang bernyanyi dengan suara sekece suara anak ini. Aku melihat ke arahnya yang ternyata sudah menatapku sambil tersenyum bahagia. Matanya berkaca-kaca.

“Permainan gitarmu bagus!” pujinya.

“Suaramu lebih bagus lagi.” Aku balik memujinya.

Masih dengan latar suara tepuk tangan dan riuh teriakan semua orang, aku menjabat tangannya sebagai ucapan terima kasih karena telah bekerjasama.

“Oh iya, kita belum kenalan—“

Ara. Kau Park Chanyeol kan? Aku Song Rim. Senang akhirnya kita bisa berekanalan, Chanyeol-ah.”

Dia yang kelak jadi cinta pertamaku, yang juga jadi mantan pacar yang menyenangkan buatku.

.

.

.

-End of #1 First Impression-

deera says: Kali ini mau post ficlet yang dibuat series tentang pengalaman cintanya si PCY😀 Mungkin agak panjang hehe ditunggu komennya ya *bow*

11 thoughts on “PCY’s EX Series: #1 First Impression

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s