PCY’s EX Series: #2 Bride is You

[PCY's EX Series] #1 Lonely

PCY’s EX Series: #2 Bride is You

Previous: #1 First Impression

deera

Cast: Park Chanyeol, Song Rim Ah | Genre : Comedy, bitter romance | Rating: General | Length: Ficlet Series

.:Tidak ada fiksi yang original. Bisa saja kisah itu datang dari masa lalumu, curhatan sahabatmu, kejadian yang kau temui pagi ini di jalan, atau kelak akan membuatmu bergumam, “Ini aku banget!

Selamat tenggelam dalam setiap cerita!:.

‘Bercerita soal…, mantan pacar?’

‘Bercerita soal…, mantan pacar?’

 

.

.

.

 

Hari ini Sabtu. Mungkin sekitar sepuluh sampai sebelas tahun kemudian sejak hari itu. Aku duduk di balik meja bulat berwarna asli kayu; cokelat pekat. Sebelah tanganku sibuk menyendok es krim vanilla jasmine yang kupesan sesaat lalu—sambil menunggu.

Hari ini, aku akan bertemu dengan Rim-ah, yang kini telah menjadi seorang desainer pakaian wanita ternama se-Korea Selatan.

Aku masih ingat pita kuning yang dipakainya di acara api unggun itu—yang jadi pemberian dari Ayahnya yang kala itu baru pulang perjalanan bisnis dari Paris. Sebulan lalu, aku melihat profilnya di salah satu majalah yang tergeletak terbuka di atas meja ruang tamu rumahku—entah itu milik Noona atau Eomma. Aku mengenalinya dengan sekejap, padahal penampilannya jelas jauh berbeda dengan Song Rim-ah sepuluh atau sebelas tahun yang lalu.

Kring….

Lonceng yang sengaja digantung di pintu kedai menandakan kedatangan seseorang. Ketuk heels lancip dengan lantai kayu terdengar mendekat. Sejak sosok mungil yang menyembunyikan tinggi aslinya dengan stilleto tujuh senti itu nampak turun dari sedan hitam yang membawanya, aku sudah tahu pasti bahwa itu dia.

Gadis itu tersenyum sambil merapikan anak rambut yang jatuh di sisi pipinya. Telunjuknya mengarah pada counter, mengisyaratkan bahwa ia hendak memesan terlebih dulu. Tanpa sadar, aku memerhatikan gerakannya yang kini percaya diri saat melangkah.

Mungkin ada yang berbeda dengan sepuluh atau sebelas tahun yang lalu….

.

.

.

Sehari setelah aku dan Rim-ah pacaran, aku langsung menceritakannya pada Seung Hyun hyung. Ia menepuk bahuku dan berkata pelan namun penuh penekanan, “Cinta itu harus dijaga. Jangan sampai dia habis. Karena cinta itu bukan masalah kuantitasnya, tapi kualitasnya.”

Banyak teman-teman kami yang akhirnya tahu tentang berita ini. Seminggu setelah kami sering makan siang di kantin bersama, gosip mulai bermunculan. Ada yang enak, dan banyak yang tidak mengenakkan. Aku mulai khawatir karena kebanyakan dari mereka membicarakan tentang Rim-ah. Tapi sejauh yang kuperhatikan, Rim-ah baik-baik saja. Dia tertawa sepeti biasa, sekolah seperti biasa, bergaul seperti biasa, bertingkah laku seperti biasa juga.

Entah mungkin naluri atau apa, yang biasa-biasa itu membuatku berpikiran macam-macam. Kini, berkat Rim-ah aku tahu kalau dibalik kalimat ‘tidak apa-apa’ dari bibir seorang perempuan, sebetulnya ‘ada apa-apa’ yang sedang berusaha disembunyikannya.

Rim-ah,” panggilku dengan gelayutan manja di atas buku tulisnya, bermaskud mengalihkan perhatiannya.

Dia hanya menggumam. Manis sekali. Tapi sekaligus menyebalkan karena dia masih mengacuhkanku.

“Apa kau pernah merasa bosan saat bersamaku?”

Rim-ah tersenyum. “Tidak sama sekali, Yeol-ah.”

Aku ikut melengkungkan bibir. “Sampai kapan ya, kita akan seperti ini?”

Rim-ah menggeleng sambil terus menunduk, melanjutkan kegiatan menulisnya dalam diam. Mungkin aku memang tidak tau apa-apa. Sepenglihatanku, semuanya benar-benar baik-baik saja. Aku tidak tahu bahwa ada bekas keunguan di tangan kanan Rim-ah. Aku juga tidak menyadari kalau orang-orang masih membicarakannya dengan tidak wajar. Aku tidak tahu kalau popularitasku membuat orang yang kusayangi jadi menderita…, meskipun lewat orang lain.

.

.

.

Aku menatap matanya yang dibingkai sepasang alis tipis yang rapi, yang menyipit di kedua ujungnya, yang menghilang saat senyumnya mengembang. Rim-ah yang kukenali sebagai gadis yang mudah tertawa…, bahkan sampai hari ini.

“Kenapa kau melihatku seperti itu, Yeol? Apa karena sekarang aku sudah cantik, sampai kau terpesona?” tanyanya menggodaku. Lengkap dengan seringaian khasnya dan kedua lengan yang menyiku di atas meja.

Bahuku terangkat. Kepalaku menggeleng pelan. “Kau sudah cantik dari dulu, Rim-ah.”

Aih, wajahnya bersemu kemerahan.

“Aku…,” ia memulai kembali kalimatnya, “aku berubah banyak ya, Yeol-ah? Tapi aku tidak bodoh seperti dulu. Aku melakukan diet ketat yang sehat.”

Rim-ah memberi jeda pada kalimatnya. Ia tersenyum sekilas dan menggerling ke arahku. “Uri Appa…, meninggal karena gula darah, Yeol.”

Tak sadar, napasku tercekat begitu saja.

“Dan itu bisa saja menjadi warisan terakhir yang diturunkannya padaku. Jadi sejak saat itu, aku mulai mengurangi porsi makanku…, hehehe. Kau mungkin ingat bagaimana aku menenggak pil-pil pelangsing badan itu, Yeol, sampai—“

Aku mengangkat tanganku, menahannya agar tak mengatakan apa-apa lagi. “Gwenchana. Semuanya sudah berlalu. Kau tak perlu melihat lagi ke sana. Kau bahkan sudah belajar dari semua itu.”

.

.

.

Suatu hari, setelah peringatan sepuluh bulan perayaan hari jadi kami, aku memberanikan diri untuk mengajaknya jalan-jalan. Kami makan bersama, nonton film…, bahkan kami bergandengan tangan di tengah ramainya antrian tiket. Hahaha…, pengalaman cinta pertama selalu membuatmu tak bisa melupakannya.

Sambil kami melahap seporsi besar kentang goreng, dua buah cola, dan masing-masing setangkup roti bakar di atas piring di hadapan kami, aku mulai membangun situasi yang cukup serius untuk bicara.

“Aku minta maaf, Rim-ah. Selama ini aku tidak menjagamu dengan baik,” aku mengawali pembicaraan dengan mantap.

Setelah menyeruput cola, Rim-ah membalas, “Aku tidak punya ‘maaf’’. Jadi bagaimana ini?”

“Yah, salah deh,” aku menggaruk tengkuk, “Rim-ah, maaf karena aku tidak bisa menjadi pacar yang baik.” Ada penekanan pada kata maaf.

Siapa yang bilang begitu? Menurutku, kau baik.”

Kalau aku pacar yang baik, tidak mungkin pacarku sakit karena aku.

Dia diam. Selama masa penyembuhan, dia tidak pernah membahas tentang kenapa dia bisa masuk rumah sakit. Tentang masalah obesitas, obat-obatan, overdosis….

Aku melanjutkan, “Tidak semestinya aku membuatmu berpikir sependek itu.

Dia tersenyum. Manis sekali. Pipi bakpaunya membulat. “Pikiranku memang pendek, Yeol. Aku tidak mau kau dianggap mengasihani aku, karena kau mau pacaran dengan yeoja seperti aku. Aku mau kita terlihat baik-baik saja, tidak peduli mereka tahu cerita kita atau tidak.”

Memang pendek pikiranmu, Rim-ah.”

Dia tertawa.

Tidak seharusnya seperti ini. Hubungan ini tidak seharusnya membuat kau beranggapan begitu. Hubungan ini seharusnya tidak membuat sakit.”

Kali itu, dia diam. Kunyahannnya selesai. Makanannya habis. Tersisa hanya kami yang saling menatap.

“Kalau sampai sakit, berarti ada yang salah,” kataku lagi.

“Kalau hubungan ini salah, berarti yang benar adalah kita selesaikan saja…, hubungannya.”

Ini jadi momen tersedih sepanjang usia remajaku. Lebih sedih dari nilai telur di pelajaran sains. Lebih sedih dari perpisahan yang membuatku harus kehilangan para saksi masa kecilku.

Yaitu di saat aku harus selesai dengan Rim-ah.

.

.

.

“Aku kangen duet bersamamu, Yeol. Nampaknya kau sudah semakin jago saja. Aku lihat ulasan tentangmu di salah satu majalah musik,” seriangaiannya membuatku menerbitkan seulas lengkung tipis di atas dagu.

Binar matanya seketika berubah cerah, seperti mendapat ide atas sesuatu. “Ah, aku ingin mengajakmu bernyanyi lagi, Yeol. Kita bisa berduet nanti—dengan gitarmu!”

Dahiku yang tak gatal, kuusap juga karena gelisah bercampur desir aneh di dalam sana. Bibirku semakin tertarik ke sisi. “Boleh saja. Tapi aku harus mengecek jadwalku dulu.”

Rim-ah tertawa pelan. Ia menepuk bahuku pelan. “Luangkanlah waktumu untukku, eoh? Kita akan bernyanyi bersama di hari pernikahanku nanti. Aku sudah lama sekali tidak bernyanyi lagi di atas panggung.”

Desir itu mendadak berubah menjadi sesak.

“K-kau akan menikah?”

Ia mengangguk cepat. “Kau akan mengabulkannya kan, Yeol?”

“Tentu saja.” Dengusan kecil mengembangkan kembali senyumku yang tertahan. Aku kembali menatapnya dan  memberinya deretan gigi putihku yang rapi. “Haruskah kita siapkan lagu untuk encore nanti?”

.

.

.

-End of #2 Bride is You-

Iklan

10 thoughts on “PCY’s EX Series: #2 Bride is You

  1. rim ah mau menikah yah kasihan chanyeol #sokakrab mana di minta nyanyi di pernikahannya lagi ralat cinta-pertama-mantan-yang-menyenangkan-bagi-chanyeol-song-rim-ah. next ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s