Ain’t Beautiful

aint-beautiful

Author: Lingga @linggar907

Cast: Oh Hayoung (A Pink Hayoung), Oh Sehun (EXO Sehun)

Other Cast: Son Naeun (A Pink Naeun), Park Nami (OC)

Genre: Fluff, Romance, School Life

Rating: PG-14

Length: Oneshot

Summary:

Oh Hayoung? Berpacaran dengan Oh Sehun? Yang benar saja! Oh Hayoung itu sadar atau tidak sih akan penampilan dan wajahnya? Jangan-jangan dia menggoda Sehun! Kok bisa ya Oh Sehun sampai tergoda.

Poster: Dyzhetta@CafePoster

 

 

“Wah, masa sih?”

 

“Jadi gosip yang semalam ramai dibahas di grup LINE itu benar adanya ya?”

 

“Aduh, kok bisa ya dia tertarik sama junior seperti cewek itu?”

 

“Ya mungkin selera Sehun memang junior kali”

“Kaget aku lihat photo bareng mereka di Instagram

 

“Status LINE Sehun juga diubah dengan inisial nama cewek itu”

 

Idih, padahal ceweknya biasa saja ya”

 

“Tidak terlalu cantik. Tapi wajahnya menunjukan ia anak baik-baik, mungkin karena itu Sehun suka”

 

“Eh, yang kelihatannya baik- baik malah berjiwa serigala loh didalamnya”

 

“Kukira Sehun akan jadian sama Nami. Habisnya Nami nempel banget sama dia kemarin-kemarin”

 

“Kalau itu si Naminya aja kali yang kegenitan”

 

***

 

Koridor Chunhwa High School tidak pernah lepas dari bisik-bisik mengenai gosip terhangat. Tak ada satu muridpun yang tak tertarik akan gosip yang tengah beredar, demikian pula pagi ini. Semua tampak serius mendengar narasi dari salah satu siswa, lantas menyebarkannya ke orang-orang yang dikenalnya. Sehingga teruslah gosip itu menyebar dengan cepatnya layaknya cahaya.

 

“Oh Hayoung? Anak kelas satu itu? Masa sih pacaran sama Sehun. Bukannya kemarin-kemarin Nami bilang kalau Sehun akan nembak dia?” celoteh salah seorang siswi saat sedang berkumpul dengan teman-temannya di koridor dekat aula.

 

“Aduh kamu ini, ucapan Nami dipercaya. Kapan coba Nami tidak mengada-ada” temannya menyahuti, diikuti anggukan temannya yang lain.

 

“Eh, aku penasaran loh Oh Hayoung itu anaknya yang mana. Kok bisa dia pacaran sama Oh Sehun, tapi banyak yang tidak tau dia siapa”

 

“Ya wajar sih. Diakan anak kelas satu”

 

“Tapi aku tau banyak anak kelas satu yang populer seperti Yerin, Sinbi, atau Namjoo”

 

“Berarti Oh Sehun pacarin anak yang gak populer, maksudmu begitu?”
“Ya begitulah. Mau-maunya ya senior populer kayak Sehun pacarin junior yang gak populer”

 

“Eh itu-tuh yang namanya Oh Hayoung” ucap salah seorang menyadarkan.

 

Seorang gadis dengan rambut hitam tergerai panjang berjalan menyusuri koridor, sedikit menunduk karena malu. Di belakangnya tampak pemuda dengan rahang tegas berjalan mengekorinya.

 

***

 

“Pasti gugup?”

 

“Jelas. Aku pasti diomongin sana-sini “

 

“Tenang saja, aku di sampingmu. Kalau ada yang bicara macam-macam langsung kuhantam. Haha”

 

Hayoung dan Sehun berangkat bersama pagi ini. Ini pagi pertama untuk mereka, setelah Sehun menyatakan perasaannya dua hari yang lalu. Hayoung gugup sekali, karena ini pertama kalinya ia berangkat bersama kekasihnya, selain itu ia juga gugup karena kedatangan mereka berdua pasti akan menarik perhatian, karena Sehun siswa populer. ‘pasti banyak yang terkejut melihat ini’ batin Hayoung.

 

“Sudahlah jangan dipikirkan. Esok, kedepanpun mereka akan terbiasa dengan kita” Sehun menepuk bahu Hayoung saat mereka mulai memasuki koridor sekolah, menenangkan.

 

“Oh anak itu ya, yang namanya Oh Hayoung”

 

“Ya ampun. Mereka datang bersama ke sekolah. Kayaknya gosip itu benar deh”

 

“Ih, selera pakaiannya buruk banget, gak cocok sama Sehun”

 

Gak cantik kok, terlihat biasa saja. Aku lebih cantik”

 

Hayoung menghela nafasnya panjang.

***

 

Bel istirahat pertama berbunyi, murid-murid bergegas keluar kelas, tak peduli apakah guru yang sebelumnya sedang berada di dalam kelas sudah meninggalkan kelas atau masih asyik mengajar. ‘ini sudah bel keluar kelas, hak kami apakah kami ingin pergi atau tinggal’ ujar komite perwakilan siswa saat guru mengadakan rapat terbuka mengenai kesopan-santunan siswa saat ini.

 

Begitu pula dengan Hayoung, gadis bersurai hitam tersebut bergegas menuju kantin sekolah bersama dengan sahabatnya, Son Naeun. Setelah mengambil kotak makan siang, mereka bergegas mencari tempat kosong. Muncul sedikit ketidaknyamanan dalam diri Hayoung karena ia sadar dirinya segera menjadi pusat perhatian.

 

“Sudah, biarkan saja. Mereka hanya belum terbiasa” ucap Naeun. Hayoung setuju, Sehun juga berkata seperti itu. Tapi ternyata semua masalah tidak berakhir disitu, masih ada yang menunggu Oh Hayoung.

 

“Ternyata kau ini yang bernama Oh Hayoung ya?” suara wanita yang muncul dari balik punggung Hayoung mengejutkannya.

 

“Maaf, ada apa?” Hayoung memberanikan diri bersuara.

 

“Aku tidak memiliki waktu lama, intinya adalah apa hubunganmu dengan Sehun? Apa benar kalian berpacaran? Jika benar, aku hanya ingin memperingatkan dirimu bahwa aku akan merebut Sehun darimu dengan cara apapun. Ingat, aku jauh berada diatasmu, aku jauh lebih populer dan cantik daripada dirimu, kau akan kukalahkan dengan cepat”

 

“Oh, dan satu lagi. Kau sama sekali tidak pantas bersama Sehun. Lihat wajahmu dan juga rambutmu” wanita itu memegang halus rambut Hayoung lalu membuangnya, lantas bersama dengan teman-temannya meninggalkan Hayoung yang kebingungan dan Naeun yang mendesis tertahan.

 

“Park Nami” desis Naeun, kesal.

 

***

 

Matahari akan terbenam, tapi gadis dengan rambut hitam tergerai itu masih setia menunggu di perpustakaan sekolah, duduk di depan jendela yang menghadap langsung ke sungai yang membelah kota Seoul, membaca berbagai macam sastra yang ia sukai. Oh Hayoung, gadis itu melihat pergelangan tangan kanannya, hampir jam 7 sore. ‘selama inikah anggota eskul basket berlatih?’

 

“Lama menunggu?” seorang laki-laki berbadan tegap menghampiri Hayoung, Oh Sehun.

 

Sunbae? Tentu saja lama” Hayoung tersenyum kikuk menyadari pernyataan basa-basi Sehun. Sehun lebih kikuk lagi mendengar jawaban polos Hayoung, mengusap tengkuknya.

 

“Ayo bergegas. Ku traktir es krim kacang. Tokonya baru buka kemarin, sepertinya hari ini masih ada potongan harga” ujar Sehun menarik tangan Hayoung yang jantungnya berdegup kencang.

 

“Padahal kau pulang saja, jangan menungguku. Kau pasti bosan karena terlalu lama” Sehun kembali berucap sambil berjalan santai dan masih menggenggam tangan Hayoung.

 

“Tidak masalah, ada banyak buku di perpustakaan. Aku takkan mati kebosanan” ucap Hayoung tersenyum manis.

 

“Bagaimana kau bisa tahan dengan buku-buku itu? Kalau aku, buku pelajaranpun tak pernah aku baca, apalagi buku lain-lainnya. Aku sih mati kutu kalau dihadapkan dengan segitu banyaknya buku” ucap Sehun mencoba bergurau. Berhasil, Hayoung tertawa pelan.

 

“Aku sih memilih dihadapkan dengan bergunung-gunung buku daripada harus mendengar celotehan orang-orang tentang diriku” ucap Hayoung menjawab dengan senyum tipis. Pandangannya tetap kedepan, sambil menunggu lampu hijau untuk pejalan kaki .

 

“Banyak yang membicarakanmu ya? Aku minta maaf karena aku terlalu populer” ucap Sehun. Lagi-lagi lelaki itu bergurau, membuat Hayoung tergelak pelan. Lampu hijau untuk pejalan kaki sudah mulai berhitung.

 

Sunbae, kukira kau benar-benar akan prihatin kepadaku haha” Hayoung memukul pelan lengan Sehun dengan tangan kirinya, karena jemari tangan kanannya masih bertautan dengan jemari tangan kiri Sehun.

 

“Ehm.. Bisakah kau mengabulkan permintaanku?” ucap Sehun tiba-tiba.

 

“Jika aku bisa” jawab Hayoung.

 

“Berhenti panggil aku sunbae. Oppa tidaklah buruk” pipi Oh Hayoung pun bersemu merah.

 

Begitulah hari-hari mereka setelahnya.

 

***

 

Pagi ini, untuk Hayoung dan Sehun tidak ada bedanya dengan kemarin. Mereka berangkat bersama, berbincang-bincang, bergurau, tertawa, terus seperti itu sepanjang perjalanan. Dan datang ke sekolah diiringi bisik-bisik siswa sepanjang koridor. Hayoung mencoba menyesuaikan diri dengan keadaan yang terjadi disekelilingnya, sedangkan Sehun yang selalu menjadi perbincangan siswi-siswi merasa sudah biasa. Mereka berpisah tepat didepan kelas Hayoung.

 

“Aku akan menunggu kau selesai dengan kegiatan jurnalistikmu. Ada film bagus hari ini, mampir dulu sebelum pulang tak apa kan?” ucap Sehun sebelum bergegas menuju kelasnya. Hayoung hanya membalasnya dengan senyuman dan lambaian tangan.

 

“Hayoung kau ingatkan? Jika hari ini ada ulangan Sejarah? Apa kau sudah belajar?” tanya Naeun sesaat setelah Hayoung duduk di kursinya.

 

“Aish… Tentu saja aku ingat. Hanya saja buku catatanku tertinggal di loker, aku tidak bisa belajar semalam. Bagaimana dengan dirimu?” tanya Hayoung.

 

“Aish… Aku tidak ada bedanya dengan dirimu. Cepat ambil bukumu, kita belajar bersama” ucap Naeun dengan raut wajah kecewa.

 

Hayoung pun bergegas menuju loker yang berada di belakang kelas. Ia menggerutu dalam hati, mengapa ia bisa meninggalkan buku catatannya di loker tempo hari, sedangkan ulangan hari ini ada pada jam pertama. Masih dengan menggerutu, Hayoung membuka lokernya.

.

.

.

Penuh surat-surat yang ditulis di kertas berwarna hitam dengan tinta merah.

.

.

Hayoung terkejut, tapi ia mencoba tenang dan bersikap biasa saja supaya tidak menimbulkan kecurigaan. Iapun memberanikan diri membacanya satu persatu.

 

Isinya kurang lebih sama.

 

Ungkapan kebencian karena dirinya berpacaran dengan Sehun.

 

Ungkapan kebencian karena dirinya dinilai tidak cukup cantik, tidak cukup populer dan tidak cukup fashionable untuk bersanding dengan Sehun.

 

Ancaman untuk dirinya jika ia nekat mempertahankan hubungannya dengan Sehun.

 

Caci maki untuk dirinya karena dianggap sebagai gadis penggoda.

 

Bahkan tuduhan dia menggunakan guna-guna untuk mendapatkan Sehun.

 

Semua ungkapan kebencian lengkap ia terima dari kurang lebih belasan surat. Hayoung hanya bisa menghembuskan nafasnya. Urusan dengan Nami belum selesai ditambah urusan dengan penggemar Sehun yang ia rasa tidak akan selesai sebelum ia putus dengan Sehun.

 

***

 

“Kau yakin eskul Jurnalistik sudah berakhir sejak sejam yang lalu?”

 

“Benar Sehun sunbae. Eskul Jurnalistik selalu berakhir pukul 6 sore dan lagi aku tak melihat Oh Hayoung sejak pulang sekolah. Aku tinggal ia piket dan ia sudah menghilang tanpa berpamitan dahulu sebelumnya”

 

“Apa Hayoung mengalami sesuatu sebelumnya?” tanya Sehun.

 

“Tidak. Sepanjang hari ia baik-baik saja. Mood-nya juga tidak kelihatan buruk. Sepanjang hari bersamaku ia banyak sekali tertawa” jawab Naeun, Sehun mengacak rambutnya sendiri.

 

“Benarkah? Handphone-nya tidak aktif. Kau yakin dia tidak ada apa-apa?” Sehun terus mencecar pertanyaan dan Naeun tetap tidak merubah jawabannya.

 

“Ada saran?” tanya Sehun bingung.

 

Sunbae mungkin bisa mengunjungi rumahnya. Sunbae mengetahui alamat rumah Hayoung kan?”

 

“Ah.. Kau benar. Terima kasih” ucap Sehun lalu bergegas menuju halte bus.

 

***

 

Gadis dengan surai hitam tersebut masih setia merebahkan diri di kasur empuk miliknya setelah berpuluh puluh menit, sambil mengamati belasan surat yang ia dapatkan hari ini. Pikirannya dipenuhi oleh sesuatu yang membuatnya cemas dan khawatir.

 

“Lalu apa yang harus aku lakukan agar aku tampak serasi jika bersama dengan Sehun oppa huh?” ucap gadis itu kesal.

 

“Mengapa orang-orang terus mempermasalahkan masalah ini huh? Apa mereka tidak lelah terus bergosip tentang aku” gadis itu masih mengungkapan kekesalannya yang selama beberapa hari terakhir ia tahan.

 

“Yaampun, aku menggagalkan kencan dengan Sehun oppa hanya karena surat-surat ini”

 

“Tapi aku sungguh tidak percaya diri dengan penampilan seperti ini. Bisa-bisa bukan hanya satu sekolah yang mengecamku, tapi satu kota ini juga turut mengecamku karena tidak serasi dengan Sehun oppa

 

Dan gadis itu meluapkan emosinya untuk pertama kalinya. Menangis adalah cara terbaik menurutnya.

 

***

 

Keesokan harinya, Sehun dan Hayoung tidak berangkat bersama. Mereka tidak saling menunggu di halte yang membatasi daerah tempat tinggal Sehun dan daerah tempat tinggal Hayoung. Sehun berangkat terlebih dahulu karena Hayoung yang memintanya –melalui pesan singkat, menumpang bis kota ke sekolah. Hayoung dan Sehun baru bertemu di kantin saat jam istirahat.

 

Oppa sudah menunggu lama?” Hayoung datang setelah Sehun.

 

“Tidak. Aku baru saja sampai” ucap Sehun sambil mengusap puncak kepala Hayoung, hanya saja ia merasa ada yang berbeda.

 

“Kau menggunakan make up?” tanya Sehun, menyadari apa yang berbeda.

 

“Hanya mencoba. Aku rasa asyik juga menjadi orang dewasa” Sehun tidak menanggapi.

 

“Kemarin kau menghilang” ucap Sehun sesaat setelah mereka mendapat tempat kosong.

 

“Aku merasa tidak enak badan, maaf tidak memberitahu terlebih dahulu”

 

“Lain kali kau harus menghubungiku apapun yang terjadi. Setidaknya kau beritahu Naeun sehingga aku tahu tentang keadaan dan keberadaanmu. Aku khawatir”

 

“Maaf membuat oppa khawatir. Dan maaf aku sedang tidur saat oppa datang ke rumah” Hayoung hanya menunduk.

 

“Sudahlah. Sekarang sudah tidak apa-apa lagi, kau baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan” ucap Sehun menggengam tangan Hayoung.

 

“Aku akan mengambil kotak makan siang. Kau tunggu disini saja” ucap Sehun, berlalu meninggalkan Hayoung sendiri.

 

“Benarkah itu Hayoung? Yang pacaran sama Sehun itu? Dia pakai make up ya?”

 

“Hayoung pakai make up. Lihat saja kelopak matanya, sebelumnya tidak selebar itu”

 

“Bedaknya setebal aspal. Dia mungkin belum tau cara menggunakan make up yang benar”

 

“Pasti karena tempo hari Nami mengucapkan hal-hal yang kasar kepadanya”

 

“Dia pasti mendapat banyak tekanan sehingga ia berpikir untuk berubah seperti itu”

 

Mulai terdengar bisik-bisik dari berbagai sudut kantin. Hayoung, gadis yang duduk di pojok ruangan tersebut tentu dapat mendengar dengan jelas suara-suara yang ada di sekelilingnya. Tapi ia menutup telinganya, mengalihkan perhatiannya kepada handphone yang ada pada genggamannya.

 

“Sepertinya ia memang menggoda Sehun. Lihat saja make up-nya yang setebal aspal. Dasar tante-tante”

 

‘oh Tuhan’

 

“Benarkan. Sudah kubilang ia memiliki jiwa serigala didalamnya”

 

‘sabar Oh Hayoung. Sehun oppa akan datang sebentar lagi’

 

“Hayoung, ini kotak makan siangmu”

 

“Dasar gadis jalang”

 

Brakk….

 

Hayoung tidak kuat. Ada Sehun disampingnya pun ia tidak bisa mendengarnya. Ia tidak sanggup lagi mendengar bisik-bisik menyakitkan dari orang-orang disekitarnya. Ia berlari sekuat tenaga, tidak tentu arah.

 

‘aku bukan gadis jalang. bukan’

 

***

 

Langit telah berubah jadi berwarna jingga, matahari telah turun, beristirahat setelah seharian berkutat mengamati apa yang ada di bawahnya. Tapi Hayoung, gadis yang siang tadi pergi meninggalkan sekolah itu masih setia, duduk termenung dipinggiran danau yang biasa ia dan orangtuanya kunjungi di masa lalu. Danau itu sepi, tergusur oleh kehadiran pusat perbelanjaan yang ada di sekelilingnya.

 

“Kau disini?” sebuah suara yang berat mengejutkan Hayoung.

 

“Oppa”

 

“Aku mencarimu kemana-mana selama dua jam. Datang kesini hanya iseng ingin melepas penat karena tidak berhasil menemukanmu. Ternyata aku menemukanmu disini” Hayoung hanya terdiam mendengar ucapan Sehun. Sehun bergegas mengambil posisi di sebelah Hayoung.

 

“Sudah dua kali kau menghilang secara tiba-tiba. Tanpa kabar yang jelas, handphone-mu juga tidak aktif. Kau ini hobi sekali menghilang dan membuat orang-orang disekitarmu khawatir”

 

“Maaf”

 

“Danau ini sering aku kunjungi saat masih kecil, aku datang bersama ibuku kesini. Menyenangkan sekali dahulu. Kami selalu berbagi satu sama lain, apakah cerita mengenai sekolahku, teman-temanku atau gadis yang aku sukai. Tapi itu dahulu, mungkin 11 sampai 12 tahun yang lalu, sekarang sudah tidak bisa. Kalau dipikir-pikir malu juga jika seorang remaja laki-laki datang bersama ibunya ke sini hanya untuk curhat” Sehun mengakhiri ucapannya dengan tawa pelan. Hayoung hanya memandangnya, tanpa memberikan tanggapan yang berarti.

 

“Coba kutebak, kau juga sering datang kesini kan dengan kedua orang tua mu?”

 

“Bagaimana oppa tau?” Hayoung yang penasaranpun menyuarakan dirinya.

 

“Hanya menebak, dan kebetulan benar. Haha” Hayoung jadi tersenyum mendengar ucapan Sehun.

 

“Jangan-jangan, sebenarnya kita sudah bertemu sejak dulu di danau ini. Kalau jodoh memang tidak kemana” ucapan Sehun lagi-lagi membuat Hayoung tidak bisa menahan senyumnya, disertai dengan pipi yang memerah kali ini.

 

“Hayoung, bisakah kau hanya fokus kepada diriku?” tanya Sehun. Hayoung bingung mendengar ucapan Sehun. Bukankah selama ini di hati Hayoung hanya ada Sehun seorang?

 

“Maksud oppa?”

 

“Berhenti memikirkan orang lain, berhenti memikirkan apa yang orang lain katakan. Aku ingin kau menjadi dirimu sendiri, Hayoung yang ceria sekaligus pendiam, rajin belajar dan kutu buku, Hayoung yang polos itulah Hayoung yang aku suka dan aku kenal”

 

“Kau pasti merasa tertekan dengan apa yang orang-orang katakan. Aku mengerti kau pasti merasa terluka dan tersakiti, tapi dengan mengubah dirimu menjadi orang lain itu lebih menyakitkan lagi. Kau pasti lebih tertekan jika kau tidak bebas melakukan apa yang kau inginkan. Make up ini memang membuatmu lebih cantik, tapi ini tidak cocok untukmu” Sehun membersihkan wajah Hayoung dari make up dengan handuk kecil yang selalu ia bawa. Hayoung mulai meneteskan air mata.

 

“Jangan menangis. Aku tidak akan membencimu atau meninggalkanmu. Berhentilah”

 

“Tapi aku sedih. Mengapa mereka begitu jahat kepadaku? Apa mereka tidak memikirkan bagaimana perasaanku? Mengapa mereka sibuk mengurusi hubungan kita berdua, oppa? Apa mereka tidak cukup urusan untuk dipikirkan?” Hayoung terisak.

 

“Maka dari itu, kau jangan bersikap sama dengan mereka. Jika kau mengurusi ucapan mereka, kau juga akan tampak sama dengan mereka. Dengar Hayoung, ini antara kau dan aku, itu berarti jika hanya kau dan aku yang berhak mengatur hubungan ini akan seperti apa, kau akan seperti apa dan aku akan seperti apa. Kau mengerti?” Sehun mengusap air mata Hayoung.

 

“Sudahlah, tidak ada yang perlu ditangisi. Mereka hanya iri karena tidak bisa berpacaran denganku. Dan kau hanya perlu menjadi dirimu apa-adanya. Supaya mereka juga mengerti jika aku hanya menyukai gadis yang apa-adanya dan tidak banyak tingkah”

 

“Terima kasih” ucap Hayoung, kini ia bisa tersenyum, walau bekas-bekas air matanya masih tampak jelas.

 

“Dengar ya, Oh Hayoung. Standar cantik itu bisa diubah. Tak akan masalah bukan, jika standar cantikku bukanlah wanita langsing, tinggi, berkulit putih, dan berambut indah? Karena setiap standar akan sesuatu itu muncul dari dalam diri setiap orang. Bisa saja aku menyukai wanita pendek dengan kulit hitam terbakar dan jerawat bertebaran di seluruh wajahnya jika memang standar cantikku seperti itu. Jadi jangan pikirkan apa yang orang katakan jika kau tidak cukup cantik, tidak cukup fashionable atau tidak cukup populer untuk menjadi kekasihku, jangan dengarkan itu”

 

“Karena standar cantikku itu kau”

 

***

 

Oppa, mengapa handukmu begitu bau”

 

“Ya ampun, aku baru ingat itu handuk yang biasa aku gunakan sehabis latihan basket. Maaf, aku tidak memiliki sapu tangan atau tissu, hanya itu yang ada di tasku”

 

“Ya ampun. Kau menyebalkan!!”

 

***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Akhirnya selesai.

Aneh.

Absurd.

Awkward.

Pusing.

Haha..

Aku merasa ff ini aneh, tadinya mau berhenti, tapi sudah terlanjur pesan poster dan tidak enak juga kalau posternya ndak dipakai. Jadi ya aku publish. Dan malu juga bacanya.

Judulnya aneh, mau diganti, sudah terlanjur di poster begitu. OMG selalu saja baru terpikirkan saat sudah final. Haha.

Seneng juga sebenarnya bisa bikin ff buat OTP kesayangan ini u.u #OhCoupleSquad.

Dan seneng juga bisa mengurangi penggunaan kosa kata dalam bahasa korea #CintaBahasa #GerakanCintaBahasaIndonesia #GCBI /?

Ya, intinya tolong tetap baca dan kritik karya-karyaku ya. Makasih buat yang udah luangin waktu untuk baca. Sampai bertemu… Bye…

 

FF ini di post juga di blog pribadi aku

7 thoughts on “Ain’t Beautiful

    1. wihh… masa kurang panjanggg? wkwkwk.. aku merasa itu udah cukup panjanggg hehe.. doakan saja, tapi ndak janji yuaaaa u.u
      makasih sudah baca ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s