His Childishness

tumblr_n6519mDv3j1rxv75ko2_500

Songwriter : liljany | Artist : Park Chanyeol (EXO), Ahn Janice (OC) | Featuring : – | Genre : slight!humor | Duration : Ficlet | Rating : PG13 | I only own the plot and oc. |

Already posted in https://goddessjany.wordpress.com/2015/12/20/his-childishness/

| Chanyeol Park — Janice Ahn |

“Chan, sinikan ponselku.”

Bukannya menerima ponselnya, telinga Jane malah menangkap Chanyeol terkekeh pelan. Jane mengerutkan alis, sudah berkali-kali—kira-kira selama satu jam ini—Jane mendengar Chanyeol tertawa pelan, bahkan terbahak-bahak sampai Jane sendiri dongkol di dalam. Ia menggerutu—atensinya sudah direbut habis-habisan oleh kekasihnya. “Kau sedang apa sih?”

“A—akan kukembalikan, tenang saja,” Chanyeol cekatan langsung menghindar saat Jane mencondongkan badannya untuk melihat.

“Kau tidak berbuat yang aneh-aneh, kan?”

Tanpa menatapnya, Chanyeol menyahut, “Aneh bagaimana?”

“Mengupload kutipan dari kartun favoritmu di SNS-ku?”

“Hah,” Chanyeol mengangkat alis tebalnya, “kurang kerjaan sekali aku kalau begitu.”

“Kau tidak ingat pernah melakukannya?”

Chanyeol mengangkat dagunya dan bertatapan dengan Jane beberapa detik. Laki-laki itu mengerjap. “Memangnya pernah, ya?”

“Astaga”—Jane menepuk dahinya—”baru seminggu yang lalu kau melakukan itu! Secara tidak langsung mencemari nama baikku, teman-temanku baru berhenti mengolokku setelah lima hari berlalu.”

“Kau tidak pernah bilang,” kata Chanyeol, “kalau kau diolok, maksudku.”

Jane menghela napas dan menggigit bibir bawahnya gemas. Jane melempar majalahnya ke meja, melipat lengannya kesal, dan menghujani tatapan setajam trisula Neptunus ke arah Chanyeol. “Aku mau ponselku, Park Chanyeol.”

Bibir Chanyeol berkedut—berusaha menahan tawa yang hendak meledak, tebak Jane. Lalu gadis itu mendengar gumaman Chanyeol yang, “Ah, ini baru bagus. Kau sangat ahli, Park Chanyeol,” seraya berkutik dengan ponsel di tangannya.

Ah, benar-benar! Jane tidak tahan lagi. Ia benar-benar harus menyingkirkan ponselnya dari Chanyeol kalau tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya—untuk kesekian kalinya. Mana mau ia dipermalukan berkali-kali. Menjadikan Chanyeol—laki-laki dengan banyak orang yang memujanya—saja sudah super merepotkan. Maka, dengan perhitungan penuh, saat Chanyeol sedang asyik-asyiknya bermain dengan beda pipih itu, Jane menyerang. Tubuhnya ia lemparkan ke depan, sementara tangannya berusaha merebut ponselnya secepat mungkin.

Chanyeol yang lebih gesit, cepat bangkit dari sofa.

“Aduh!” Jane mengusap kepalanya. “Keparat kau, Park Chanyeol.”

Chanyeol nyengir tanpa dosa. “Siapa suruh kau begitu. Lumayan, kan, berciuman dengan lengan sofa?”

Jane baru akan memyemburkan ocehan pedasnya saat Chanyeol mengecek jam tangan di pergelangan tangannya—wajahnya agak terkejut, tapi tidak menghilangkan raut jahil padanya—lalu menyeletuk, “Ah, aku harus pergi”—Chanyeol melempar ponsel Jane ke empunya—”dah, Sayang.”

Tak lupa, Chanyeol membungkuk untuk mengecup bibir Jane. Lalu, pergi.

Gadis itu hanya mengembuskan napas keras-keras begitu pintu apartemennya ditutup dan Chanyeol menghilang—cuma aroma musk-nya yang tersisa. Jane benar-benar kelewat tidak tahu harus apa.

Baru saja ia hendak beranjak untuk mengambil air minum, ponselnya bersuara. Dering yang bertubi-tubi.

Malas-malasan, Jane menyalakan ponselnya. Ia terkesiap. Ya Tuhan, desisnya. Jane, dengan perasaan campur aduk, kini mulai menilik ponselnya seteliti mungkin.

Tak jarang sumpah serapah dilontarkan saat Jane menemukan bahwa nyaris semua isi ponselnya didominasi oleh Chanyeol. Selfie Chanyeol. Bahkan foto profil SNS-nya tak lagi menampakkan wajah cantik nan mulusnya, melainkan penampakan tak tercela Chanyeol. Dan, galeri? Tidak perlu bertanya. Jane bahkan tidak mau berpikir berapa tenaga yang harus ia keluarkan untuk menghapus semuanya (ia agak sangsi, enaknya dihapus atau tidak?)

“Dasar, bocah.”

Seolah itu semua tidak cukup, sekarang Jane harus meladeni teman-temannya yang teramat berisik—mengomentari foto profil SNS-nya dengan tampang Chanyeol yang belum pernah mereka lihat di internet—terutama mereka yang menaruh minat pada Park Chanyeol yang terkenal itu.

Di antara pesan-pesannya itu, ada sederet pesan dari Chanyeol, dikirim beberapa menit yang lalu.

‘Kau yang terbaik, Jane.’

A/N: Reviews would be lovely!^^

3 thoughts on “His Childishness

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s