The One Person Is You (Chapter 2)

cover

The One Person Is You

 

Tittle                           : The One Person Is You (Chapter 2)

 

Author                       : Dancinglee_710117

 

Main Cast                 :

  • Park Chanyeol (EXO)
  • Lee Hyojin (OC)
  • Kang Rae Mi (OC)

 

Other Cast                :

  • Jung Yong Hwa (C.N.BLUE)
  • Bang Yongguk (B.A.P)
  • Choi Jun Hong / Zelo (B.A.P)
  • Kim Himchan (B.A.P)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Kim Jong In / Kai (EXO)
  • And other you can find in the story

 

Genre                        : Romance, Frienship, Comedy (a little bit), and other

 

Rating                        : T

 

Length                       : Chapter

 

 

~Happy Reading~

 

 

“Tuan muda!, tuan muda bangun! Ini sudah jam tujuh lewat.”

 

Dua pelayan wanita membangunkan seorang pria yang tengah tidur lelap diatas kasurnya dengan posisi bertelungkup. Dia mengabaikan suara-suara pelayannya karena terlalu lelah sebab semalam suntuk bermain game.

“Bagaimana?, apa Chanyeol sudah bangun?”

 

Seorang wanita dengan pakaian kantor memasuki kamar sang tuan muda. Para pelayan menggeleng, mungkin menyerah untuk membangunkan si tuan muda yang sibuk di alam mimpinya itu. Wanita muda itu menarik celana piyama Chanyeol hingga nampaklah boxer pink dengan motif bunga-bunga, membuat para pelayan yang tadinya kaget kini terkikik geli.

 

“Park Chanyeol! kalau dalam lima detik kau tidak bangun, akan aku lucuti semua pakaianmu! Mulai dari seka-”

 

Tiba-tiba Chanyeol bangun dengan tergesa dan memakai kembali celananya. Dia lari ke kamar mandi sambil berteriak, “HUWAAA NOONA BYUNTAE!”

 

Wanita muda itu tersenyum, “Kalian bisa melanjutkan tugas yang lain.” Ujarnya pada dua pelayan tadi. Mereka membungkuk lalu segera pergi.

 

***

 

Chanyeol memakan nasinya sambil menatap tajam wanita muda yang merupakan kakaknya itu. Dia menusuk-nusuk ikan dengan garpu seolah ikan itu adalah kakaknya yang sudah tak senonoh menarik celana dan mengatakan hal ambigu.

 

“Apa?, ini sudah jam delapan lewat! Kuliahmu sudah di mulai sejam yang lalu!”

 

Chanyeol berdecak, “Memang kenapa?” ujarnya sinis. Dia menyuapkan sesendok nasi dan kimchi sebagai lauknya.

 

“Dasar manja!” ejek kakaknya setelah selesai makan. Dia berdiri dan bersiap untuk pergi ke kantor. “Aku akan pulang terlambat. Bilang pada bibi Moon untuk mengirim danging asapnya dua jam lebih awal!”

 

Chanyeol hanya bergumam untuk menjawab. Dia kembali melanjutkan makannya sampai sang kakak kembali berbicara.

 

“Kudengar dari ayah, kau mau pindah jurusan?”

 

“Ya.” Jawab Chanyeol singkat. Masih marah dengan kelakuan sang kakak.

 

“Kenapa? Apa kau sudah gila dengan pindah ke jurusan hukum?”

 

“Itu bukan urusanmu!” Balas Chanyeol sambil melempar sendok kearah kakaknya. Beruntung sendok itu meleset, tidak jadi mengenai wajah cantik Yura -kakak Chanyeol- yang orangnya sedang meledek Chanyeol.

 

“Dasar manja! Yasudah, kalau bibi Moon tidak bisa mengantar kau sendiri yang mengambil dagingnya!” Kemudian Yura pergi dengan mobil lamborgini merahnya.

 

Chanyeol mendengus kesal, dia mengambil sendok lain dan mulai meneruskan makan. Tidak peduli jam yang sudah mulai menunjukan pukul sembilan, yang berarti dia sudah terlambat dua jam.

 

***

 

“Tuan Lee, saya sudah berhasil menemukan nona Hyojin.”

 

Seorang pria menaruh amplop coklat berukuran sedang pada pria tua yang di panggil ‘tuan Lee’ itu. Tuan Lee mengambil amplop itu dan membukanya, memperlihatkan beberapa foto seorang gadis yang merupakan Hyojin. Tuan Lee tersenyum puas dengan hasil kerja pegawainya.

 

“Bagus. Bawa dia kerumahku secepatnya.” Dia menatap tas hitam dengan logo Jaeguk di depannya. “Dan suruh dia mengenakan ini. Bagaimanapun caranya.”

 

Pegawai tuan Lee mengangguk mengerti. Dia segera pergi melaksanakan tugas. Tuan Lee berdiri dari kursi mewahnya, berbalik menatap pemandangan pusat kota yang sibuk dari ruang kerjanya di lantai sepuluh itu. Diam-diam dia tersenyum, merasa kalau pekerjaannya akan lancar.

 

***

 

‘Prang!’

 

“Yak Lee Hyojin! Yang benar cuci piringnya!”

 

Hyojin yang masih terkantuk-kantuk jadi terbangun akibat seruan marah Jong In. Ya bagaimana tidak marah, Hyojin sejak tadi tidak benar dalam mencuci piring. Ini sudah kedua kalinya Hyojin menjatuhkan piring, beruntung piringnya terbuat dari bahan aluminium, bukan kaca.

 

“Kau ini kenapa sih?! Menggangguku saja!”

 

“Sialan kau!, bagus! Tidur saja terus. Biar kucekik kau nanti!”

 

“Yak Kim Jong In!, kan kemarin kau yang mengajak menonton sepak bola hingga larut malam. Lagipula kenapa sih kau harus menyuruhku cuci piring?”

 

“Heh pendek!, memang kau belum pernah cuci piring sebelumnya?. Ini bayaran karena kau sudah menginap di rumahku, bodoh!”

 

Hyojin menghempaskan mangkuk keras hingga air dalam wastafel terciprat ke muka Jong In.

 

“Satu, aku tak pernah mencuci piring. Dua, jangan menyebutku bodoh dan pendek!. Sekali kau mengatakan itu lagi, aku putus urat lehermu.”

 

Jong In berdecak, “Sangat aneh jika kau tidak pernah mencuci piring!”

 

“Memang!. Aku hanya makan dengan piring saat di sekolah, kalau di rumah ya aku makan ramen cup, atau tidak piring plastik yang bisa langsung di buang.”

 

“Ckckck, kau memang gadis jadi-jadian.”

 

“Terserah!”

 

Terdengar suara ketukan pintu. Antara Jong In dan Hyojin sama-sama bersikeras tidak mau membukakannya. Akhirnya Jong In yang mengalah.

 

“Oh, rupanya kau Sehun.”

 

“Ya, apa kalian sudah makan?. Aku membawa tiga cup ramen dan acar.”

 

Hyojin yang mendengar unsur makanan di ucapkan segera keluar dari dapur menuju ruang tamu. Dia pura-pura kecewa dengan apa yang Sehun bawa.

 

“Kau kan orang kaya, kenapa tidak membawa makanan lain?. Spagetti, steak atau makanan berkelas lainnya!” Biar bicara begitu, Hyojin tetap memakan acar yang Sehun bawa.

 

Jong In memukul kepala gadis itu, “Apa kau berteman dengan Sehun hanya untuk memanfaatkannya?”

 

Hyojin balas memukul kepala Jong In bahkan lebih keras dari pukulan yang dia terima, “Kalau punya teman yang tak berguna ya percuma!” Lalu Hyojin kembali melahap acar lobak, “Setidaknya bisa membuat orang lain tersenyum itu sudah berguna sebagai teman!”

 

“Cih! Gayamu sudah sok sekali.” Ledek Sehun yang ikut mengambil acar. “Oh iya, tadi aku bertemu dengan Yong Hwa sunbae. Dia mengadakan pertunjukan seni jalanan, bagus sekali-”

 

Belum Sehun menyelesaikan ucapannya, Hyojin sudah berdiri dengan wajah dingin dan datar. Dia pergi menuju kamar yang di gunakan untuk tidur selama di rumah Jong In, tak lupa menutup pintu dengan teramat keras.

 

“Kenapa dia?” Tanya Sehun bingung begitu juga dengan Jong In. Mereka mengendikan bahu acuh dan menyantap makanan yang Sehun bawa.

 

*Hyojin POV*

 

Haaah~ aku menghela nafas. Kenapa di saat seperti ini Sehun malah mengungkit soal pria bergitar itu?. Ya memang dia tidak tahu kalau selama ini aku menyukai Yong Hwa, kakak kelas kami di SMA, pria tampan yang pandai bermain gitar, suaranya bagus dan bisa rap, apalagi dia termasuk murid pandai di sekolah. Great! Aku jadi kembali mengingat tentangnya!.

 

Tapi aku memutuskan untuk melupakannya. Tidak, aku benar-benar tidak cocok untuk pria berkelas seperti dia. Setahuku dia salah satu golongan chaebol. Huh! Sudahlah, kenapa hidupku selalu di kelilingi orang-orang kaya?. Ckckck! Nasib.

 

Aku mengambil album foto masa SMA. Disana aku menaruh foto yang aku bidik dengan berandalkan kamera pinjaman dari Sehun. Memang tidak seperti bidikan pro, tapi setidaknya hasilnya bagus. Tanganku terhenti ketika sampai di foto Yong Hwa sunbae yang sedang tersenyum manis pada kakak kelas wanita yang cantik. Saat itu aku tak sengaja, kupikir akan menjadi koleksi bagus dimana Yong Hwa sunbae tersenyum. Eh, ternyata senyumnya untuk gadis lain.

 

“Hiks… nappeun!”

 

Aku membenamkan kepalaku pada bantal. Aku malu karena bisa-bisanya menangis hanya karena cinta bertepuk sebelah tangan. Padahal biasanya, jika aku dalam masa one sided love tak akan masalah. Tapi setelah bertemu Yong Hwa, segalanya berubah. Aku jadi tidak mau berhenti berharap meski seringkali sakit ketika melihatnya bersama wanita lain.

 

“Hyo! Ayo kita makan bersama!” Terdengar suara Jong In. Aku segera menghentikan tangisku dan mengusap sisa air mata.

 

“Aku sedang tidak berminat!” Sial! Kenapa suaraku terdengar bergetar?!. Semoga Jong In tidak menyadarinya.

 

“Apa kau ada masalah?”

 

“Tidak!. Sudah kalian makan saja sana!”

 

‘ceklek’

 

Tapi pintu sudah terbuka. Percuma saja mengusir rasa penasaran Kim Jong In. dia malah akan semakin ingin tahu.

 

“Matamu kenapa?, kau menangis?”

 

“Tidak! siapa bilang?” Aku segera menyembunyikan album fotoku di belakang. Jong In tidak boleh tahu tentang ini. Tidak sebelum aku sendiri yang memberi tahu.

 

“Baiklah. Kau tidak mau ikut?, aku dan Sehun mau mendaftar ke Kwangjoo!”

 

“Memang pengumuman pelulusan sudah ada?”

 

“Ya sekalian kita lihat!. Hari ini kan pengumumannya?”

 

Aku mengangguk, ini pengalihan yang bagus buatku.

 

“Baiklah, aku akan ganti baju!. Tunggu di luar!”

 

***

 

Udara semakin dingin saja!. Aku menyesal tidak memakai jaket tambahan. Jong In dan Sehun berjalan di depanku dengan santai, seolah tidak peduli akan keadaanku yang kedinginan seperti ini. Mana kemeja yang aku pakai tipis!, kenapa mereka tak mengingatkanku untuk memakai jaket tebal?!. Kejam!.

 

“Itu pengumumannya!” Jong In berseru dan segera berlari. Aku mengikuti dari belakang.

 

“Kim Jong In… Kim Jong In… hoh! AKU LULUS!”

 

“Oh Sehun!… SEHUN KAU JUGA LULUS!”

 

Sehun dan Jong In berpelukan karena lulus. Mereka lalu menatapku jahil.

 

“Sekarang kita lihat apa nona ini LULUS juga Jong In?”

 

Aku menatap mereka sinis lalu mendorong mereka agar segera menyingkir. Aku juga mau melihat pengumuman!.

 

“Lee Hyojin… Lee Hyojin… huh? Kenapa namaku tidak ada?”

 

Gawat! Jangan-jangan aku tidak lulus?.

 

“Murid-murid sekalian!” Aku dan murid lainnya menoleh pada guru Choi yang tadi berbicara. “Akan ada pengumuman mengejutkan untuk kalian!. Ada murid yang di terima di universitas Yonsei!”

 

Terkejut? Tentu saja!. Ini kali pertama murid sekolah ini masuk ke universitas ternama di Korea itu. Siapa kira-kira murid beruntung itu?. Sekalian aku mau tanya kenapa namaku tak ada di papan pengumuman.

 

*Author POV*

 

Chanyeol memarkirkan mobil porsce hitamnya tak jauh dari sekolah yang kakaknya maksud. Tadi setelah Yura berangkat ke kantor, dia mengirimkan pesan pada Chanyeol untuk melihat calon tunangannya di sekolah. Bukan untuk di temui, hanya untuk melihat begitu pesan dari sang kakak.

 

Perjodohan.

 

Klise memang. Anak keluarga kaya memang sudah terbiasa dengan acara jodoh-jodohan seperti ini. Chanyeol juga tidak banyak protes, karena dia tidak punya calon lain yang bisa di tunjukan sebagai pujaan hatinya. Tapi dia jua punya syarat, wanita yang akan di jodohkan dengan dirinya harus sesuai kriteria. Jika tidak, perjodohan dianggap batal. Terhitung, sudah sepuluh kali pria itu mengalami masa perjodohan. Ini yang sebelas dan mungkin akan ada dua belas jika sekarang gagal.

 

“Murid beruntung itu adalah…”

 

Begitu sampai, tahu-tahu ada pengumuman tentang siapa murid dari sekolah itu yang diterima di Yonsei. Chanyeol maklum, sekolah ini kan tidak terlalu terkenal dalam bidang pendidikan. Standar.

 

“LEE HYOJIN! BERI SELAMAT UNTUKNYA!”

 

Hebat juga gadis itu, pikir Chanyeol. mungkin gadis bernama Lee Hyojin itu gadis yang cupu, berkacamata tebal, memakai kawat gigi, dan wajahnya berjerawat. Grrr Chanyeol geli sendiri membayangkannya.

 

Namun berbanding terbalik dengan apa yang Chanyeol bayangkan. Gadis bernama Lee Hyojin itu maju. Penampilannya sudah seperti laki-laki jika gadis itu tidak mengurai rambut panjangnya. Chanyeol tersedak, dia mengenali siapa gadis itu. Dia ambil ponsel lalu menelfon sang kakak.

 

“Ada apa? Kau sudah melihatnya?.”

 

Nonoona… siapa nama gadis itu?.” Chanyeol tergagap saking cemasnya.

 

“Eung… kalau tak salah ingat Lee… Lee Junjin mungkin!.”

 

“Kau serius?.”

 

“Iya! namanya Lee Junjin. Kenapa? Kau sudah melihatnya?. Dia cantik kan? Kau-”

 

-Bib-

 

Chanyeol bernafas lega. Mungkin memang bukan gadis bernama Lee Hyojin itu yang menjadi calon tunangannya. Kalau sampai iya, Chanyeol bisa membayangkan kehidupan pernikahannya bersama gadis preman itu. Chanyeol tidak akan mau.

 

*Rae Mi POV*

 

Restoran bibi Moon cukup ramai. Dia menjual berbagai macam olahan daging sapi. Baunya enak sekali. Memang masakan bibi Moon sangat enak, walau lebih enak masakan eomma. Sesekali aku membantu mengambil piring kotor atau menaruh pesanan di meja pelanggan. Ternyata orang Seoul itu agak kasar, beda dengan masyarakat Ulsan yang ramah. Tadi saja aku kena marah karena tidak sengaja menyenggol kaki pelanggan. Orang Seoul menakutkan!.

 

“Rae Mi! tolong matikan rice coocker!” Perintah bibi Moon yang sibuk melayani pelanggan.

 

“Huh?, apa itu rice cooker?” Tanyaku kebingungan. Seumur-umur aku belum pernah mendengar alat itu. Apa semacam roti bakar?.

 

“Kau benar-benar tidak tahu rice cooker?” Jong Up seolah heran, aku mengangguk. “Tinggal di planet mana kau selama ini?. Tak bisa di percaya!”

 

Bibi Moon menggelengkan kepala kemudian menarik kabel listrik dari alat berbentuk tabung berukuran sedang. Bibi Moon membuka tutup alat itu dan menunjukan nasi matang yang panas di dalamnya. Hebat! Apa alat ini semacam sulap?. Setahuku, tadi bibi Moon hanya memasukan beras dan air di dalamnya.

 

“Ini namanya rice cooker, alat penanak nasi. Sebenarnya apa yang ibumu ajarkan selama ini?”

 

“Maaf bibi, hanya saja… ibu tak memperbolehkanku menggunakan alat-alat seperti yang bibi gunakan.” Kataku jujur.

 

Memang aku dan ibu yang tinggal di desa sama sekali tidak menggunakan alat-alat canggih seperti yang ada di rumah bibi Moon. Entah karena alasan apa, ibu menolak, dia lebih suka hidup sangat sederhana tanpa listrik atau alat canggih apapun. Kami hidup sudah seperti orang rimba. Tapi aku sedikit-sedikit tahu tantang kehidupan orang modern dari buku-buku yang kubaca.

 

Bibi Moon hanya menggelengkan kepala, begitu pula dengan Jong Up. Kemudian mereka kembali bekerja.

 

***

 

Ketika restoran mulai sepi, bibi Moon menyiapkan kotak-kotak berisi daging asap. Aku tidak tahu alasan kenapa bibi memasukan daging-daging itu kedalam sana. Mungkin pesanan, mungkin juga akan di simpan bibi untuk di jual besok. Jong Up sendiri tertidur di salah satu meja dengan pulas.

 

‘Kring’

 

Suara bel dari pintu yang menunjukan ada orang datang. Pria itu berjalan memasuki restoran kemudian berdiri di depanku. Dia melepas kacamata hitamnya.

 

“Siapa kau?” Tanyanya.

 

Kenapa dia yang bertanya?. Bukankah, aku yang harusnya tanya siapa dia?.

 

“A-aku Kang Rae Mi. Ada apa? Apa anda mau pesan sesuatu?”

 

Aku memiringkan kepalaku, kebiasaan jika sedang bertanya. Tapi pria ini tak menjawab. Pipinya memerah! Lucu sekali hehehe…

 

“Nak Chanyeol! Kau sudah datang rupanya!”

 

Suara bibi Moon menginterupsi pembicaraan kami. Aku mundur beberapa langkah mempersilahkan bibi berbicara lebih lanjut dengan pria ini. Jong Up mulai terbangun, dia sadar akan keberadaan pria yang bibi panggil Chanyeol ini, Jong Up segera menghampirinya. Mereka semua terlihat akrab, siapa dia sebenarnya?.

 

*Chanyeol POV*

 

Haish! Sejak bertemu dengan gadis ini kenapa jantungku terus berdetak tak karuan. Wajahnya itu! Wajah imutnya itu membuatku tak fokus mendengar apa-apa saja yang bibi Moon dan Jong Up katakan. Aku semakin penasaran, siapa gadis ini dan apa hubungannya dengan bibi Moon?.

 

“Oh iya, ini Kang Rae Mi. keponakan bibi yang berasal dari Ulsan.”

 

Oh, ternyata begitu. Dia adalah keponakan bibi Moon dari Ulsan. Pantas gaya berpakaiannya kuno. Tapi wajahnya yang lugu dan polos… akh! Aku bisa gila jika terus memikirkannya!.

 

“Ini pesananmu.”

 

Karena sibuk melamun aku tak menyadari kalau gadis itu sudah ada di depanku. Membawa kotak-kotak berisi daging asap yang keluargaku pesan. Aku menerimanya dan tangan kami tak sengaja bersentuhan. Pipinya langsung bersemu merah dan aku bisa melihat kalau dia terkejut. Mungkin dia memang gadis polos, karena begitu merasakan skinship denganku dia langsung terkejut dan tersipu. Benar-benar tipe-ku!.

 

“Santai saja!” Ujarku memecah suasana kaku ini, “Aku Park Chanyeol. Pelanggan kesayangan. Benar tidak bibi?”

 

“Ahahaha, ya! Kau memang pelanggan paling kesayangan dan istimewa!”

 

Gadis itu kembali memasang wajah bingung yang imut. Aih! Bisa tidak kau jangan begitu gwiyeowo?!.

 

“Oooh begitu.” Dia mengangguk-anggukan kepala. “Aku Kang Rae Mi pindahan dari Ulsan!. Salam kenal.”

 

“Iya. Kalau boleh tahu, kenapa kau pindah ke Seoul?”

 

“Aku ingin melanjutkan sekolah disini. Kudengar banyak universitas bagus di Seoul.”

 

Ini kesempatanku untuk lebih dekat dengan Rae Mi. Aku akan menyarankannya agar masuk ke kampusku!.

 

“Bagaimana dengan Yonsei?. Itu universitas yang bagus di Seoul!”

 

“Jangan!” Jong Up tiba-tiba menimpali, “Kau tidak bisa memasukkannya ke Yonsei!. Rice cooker saja dia tidak tahu!”

 

Aku mengerjapkan mata berkali-kali. Benarkah? Bagaimana bisa ada orang yang tidak tahu alat penanak nasi itu?. Kalau iya, gadis ini benar-benar kuno!.

 

“Lagipula akan sulit kuliah disana.” Bibi Moon ikut menanggapi, “Aku tidak yakin Rae Mi bisa masuk.”

 

“Kita coba saja, bibi!. Aku dengar akan ada beasiswa untuk murid yang masuk kualifikasi. Mungkin Rae Mi sanggup, bagaimana?”

 

Rae Mi mengetukkan jari telunjuk ke dagu, sedang berfikir. Jantungku berpacu lebih cepat. Selain karena melihat wajah lugunya, juga karena penasaran bagaimana keputusan gadis ini.

 

“Baiklah akan aku coba!”

 

YES!.

 

“Oke, kapan kau mau mendaftar?. Aku bisa mengantarkanmu.”

 

“Benarkah?. Kalau begitu… minggu depan! Bagaimana?”

 

Kini giliranku yang berfikir. Sebenarnya minggu depan aku ada kuis… tapi biarlah!. Demi mengantar Kang Rae Mi aku rela tak lulus kuis dari dosen Hyun.

 

“Oke! Call?”

 

“Huh?, siapa yang hendak kau telfon?”

 

Kembali aku mengerjapkan mata tak percaya. Gadis ini sebegitu kuno-nya sampai tidak tahu istilah semacam call (setuju)?. Daebak!.

 

“Eung… sudahlah!. Yasudah aku tunggu lusa jam delapan tepat. Aku akan menjemputmu!”

 

“Huwaaa! Apa ini ajakan kencan eoh?”

 

Aku lupa kalau ada Jong Up si jahil disini!. Sudahlah, anggap saja dia sedang tidak menggangguku.

 

“Aku permisi dulu bibi Moon!, Jong Up!. Sampai jumpa Rae Mi-ah!”

 

Nde, annyeong!”

 

Aku keluar dari ‘Restoran Moon’ dengan hati senang. Baru kali ini aku menemukan gadis unik semacam Kang Rae Mi!. Andai saja ayah menjodohkanku dengannya. Oh, iya. Soal perjodohan itu… sudahlah! Lebih baik tak aku fikirkan.

 

*Author POV*

 

Tuan Lee sedang berbicara di telfon dengan seseorang. Wajahnya terlihat sumringah ketika dia melihat mobil Van hitam terparkir di depan rumahnya.

 

“Bagaimana presdir Park?. Bisa kita buat acara pertemuannya sekarang?”

 

“Iya maaf karena lebih cepat dari yang kita janjikan. Tapi ini mendadak, tenang saja semua sudah saya siapkan.”

 

“Ya, saya tunggu kalau begitu.”

 

-Bib-

 

Tuan Lee memutuskan sambungan. Tepat setelah itu ada suara ribut-ribut dari luar. Keributan itu semakin mendekat dan tuan Lee semakin tersenyum lebar. Beberapa orang masuk ke ruang tamu, tuan Lee membelakangi mereka, tapi dia tahu siapa yang datang.

 

“ARRRGHH LEPASKAN AKU!” Teriakan seorang wanita.

 

Dari kaca tuan Lee bisa melihat wanita itu meronta minta di lepas pada dua pria yang memeganginya. Dia sudah mengenakan pakaian yang tuan Lee berikan pada pegawainya dua hari lalu. Tuan Lee kemudian berbalik menghadap mereka. Wanita itu memasang wajah kesal kemudian menepis tangan kekar pria yang membawanya.

 

“Kenapa? KENAPA KAU MEMBAWAKU KEMARI?!”

 

“Kau tidak bisa lebih sopan dari ini?”

 

“JANGAN BANYAK BICARA!”

 

Wanita dengan rambut acak-acakan itu hendak pergi namun dihalangi oleh dua pria yang membawanya. Suara tuan Lee membuatnya berhenti melakukan pergerakan.

 

“Aku akan memberi tahu dimana orangtua dan adikmu.”

 

Wanita itu tersenyum sinis, “Kenapa mendadak?” Ujarnya dingin. Dia berbalik dan menatap tajam tuan Lee yang tak bergeming. “Setelah dengan tega kau memisahkan kami semua, tiba-tiba kau bilang akan mengembalikan mereka?. Aku sungguh tidak mengerti dengan kelakuan anda.”

 

“Jangan membantah. Kau sudah tidak ada pilihan lain. Karena, sekeras apapun kau mencari mereka dengan usahamu sendiri. Kau tidak akan berhasil, Lee Hyojin.”

 

Hyojin mengepalkan tangannya kuat, menahan emosi. Dia ingin sekali menghajar habis pria tua itu, beruntung pikiran rasionalnya masih bekerja. Walau tidak mungkin, dia ingin mempercayai sedikit saja perkataan tuan Lee barusan. Dia masih ingin bertemu dengan keluarga kecilnya.

 

“Bagaimana jika kau membohongiku?”

 

Tuan Lee tertawa pelan. Dia mengambil cerutu di meja kemudian menyuruh pelayan menyalakannya. Tuan Lee menghisap dalam-dalam nikotin itu kemudian menghembuskan asapnya pelan.

 

“Kau ingin jaminan apa?” Dia bertanya balik.

 

Hyojin berfikir sebentar, memikirkan apa hal terbaik yang bisa dijadikan jaminan jika pria tua itu berbohong.

 

“Seluruh hartamu.”

 

“Apa?”

 

“Aku ingin kita membuat perjanjian. Jika kau berbohong dan tak menepati janji, maka kau harus menyerahkan seluruh kekayaanmu padaku. Tentunya perjanjian ini di tulis dalam surat resmi. Bagaimana?”

 

Tuan Lee tersenyum misterius, dalam pikirannya memuji kepandaian -atau dia lebih senang menyebutnya kelicikan Lee Hyojin. Tapi tuan Lee merasa lebih pintar, bagaimanapun Hyojin mencoba menjebaknya, dia pasti akan menemukan jalan keluar dan membalikan keadaan.

 

“Setuju!. Sekarang, kau bersiaplah. Akan ada tamu dan aku ingin kau tampil sebaik mungkin.”

 

Tuan Lee memanggil para pelayan wanita, mereka kemudian membawa Hyojin masuk ke salah satu kamar mewah.

 

***

 

Chanyeol keluar dari limosin keluarganya dengan wajah muram. Sebab, sejak di dalam mobil Yura terus-terusan menggodanya soal gadis yang akan menjadi tunangannya. Sepulang kuliah ayahnya bilang kalau keluarga mereka akan mengadakan pertemuan dengan presdir jaeguk, yang berarti pertemuan itu akan membahas soal perjodohannya.

 

Pria itu iri pada sang kakak, Yura. Gadis itu seperti di beri kebebasan oleh sang ayah untuk melakukan apa yang dia mau. Seperti menjadi pengacara persis dengan cita-citanya, boleh bekerja di kantor mana saja, dan yang paling penting… tidak terjebak dalam perjodohan. Kalau boleh, dia ingin bertukar hidup dengan Yura.

 

Mereka mulai memasuki rumah presdir. Yura berjalan di depan bersama sang ayah, kemudian dia dan sang ibu berjalan mengekor. Ibunya sudah berkata yang macam-macam soal ‘menantu cantik’ lah, atau ‘keluarga bangsawan’ lah, Chanyeol pusing dan tak ingin mendengar lebih lanjut.

 

“Selamat datang presdir Park!”

 

Seorang pria tua menghampiri keluarga mereka. Dia berpelukan dengan ayah Chanyeol lalu bersalaman dengan Yura, nyonya Park dan Chanyeol sendiri.

 

“Inikah putra keluarga Park?. Tampan sekali ya!” Puji presdir Lee pada Chanyeol. membuat pria itu tersipu.

 

“Terima Kasih.”

 

“Hahaha, anda terlalu memuji.” Kata tuan Park. Kemudian mereka duduk di sofa ruang tamu.

 

“Kalau begitu, mana calon menantu kami?. Sudah tak sabar ingin melihatnya.” Nyonya Park bersuara.

 

“Dia sedang bersiap. Maklum, perempuan suka berdandan. Apalagi ini mau bertemu calon suami.”

 

Kemudian mereka tertawa, namun tidak dengan Chanyeol yang hanya tersenyum setengah hati. Dia penasaran bagaimana calonnya, apakah akan begitu jelek?, angkuh?, sombong? Dan berbagai spekulasi buruk yang Chanyeol pikirkan.

 

Para pelayan datang dan mengatakan kalau nona muda mereka sudah siap. Tuan Lee meminta cucunya untuk segera ke ruang tamu. Setelah pelayan itu pergi, seorang gadis keluar dengan balutan mini dress putih tanpa lengan yang dipadukan dengan blazer ungu dan wedges senada dengan pakaiannya. Gadis itu terlihat sangat cantik dan elegant. Sangat cocok untuk ukuran keluarga bangsawan dan pewaris perusahaan besar jaeguk.

 

Gadis yang sempat tidak Chanyeol lihat, kini menjadi objek pandangan yang tidak ingin dia lepas. Dia terpana, juga terkejut karena dia pernah melihat gadis itu sebelumnya. Dengan penampilan yang berbeda. Tapi sebisa mungkin pria itu menutupinya.

 

Annyeonghaseyo, Lee Hyojin imnida.”

 

“Wuah! Manis sekali!” Nyonya Park nampak sangat menyukai Hyojin. Gadis itu tersenyum, masih tidak menyadari pria tampan yang ada diantara keluarga Park itu.

 

Dia duduk di sofa yang menghadap langsung pada keluarga Park. Pengelihatannya langsung menajam ketika sadar akan keberadaan pria yang sudah duduk tenang di hadapannya.

 

“Nah, Hyojin-ssi!. Ini Park Chanyeol, calon suamimu.”

 

‘JEDAR’

 

Bagaikan disambar petir di malam hari, Hyojin merasa skakmat dalam dirinya. Kenapa takdir begitu kejam?. Tanpa dia sadari, matanya terus memperhatikan Chanyeol yang kini pria itu sedang menutupi keterkejutannya. Yura menyadari ada sesuatu yang aneh dengan dua orang itu.

 

“Apa kalian sudah saling kenal?” Tanyanya spontan membuat yang lain kini menatap mereka penasaran.

 

“Tidak.”

 

“Ya.”

 

Dua jawaban berbeda yang hampir bersamaan. Hyojin menjawab ‘tidak’ sedang Chanyeol mengatakan ‘ya’. Kedua pihak keluarga semakin bingung.

 

“Apa ‘iya’ atau ‘tidak’? kalian jangan membuat kami bingung!” Yura tak sabaran.

 

“Kami…”

 

 

 

~TBC~

 

 

Huwaaa, chapter 2 is done yooooo!

Sebelumnya saya minta maaf karena chapter 1 ada kesalahan dan harus diralat sekarang mengenai genre ff ini. chap 1 kemarin saya kirim tanpa pengeditan terlebih dahulu, jadi ada kesalahan dalam penulisan genre. Tapi di chap 2 ini sudah fix kok!

Terima kasih buat yang sudah mau membaca bahkan kasih komentar dan like di chapter sebelumnya, neomu neomu gamsahamnida readers-deul!.

Oke, tanpa banyak cincong… RCL juseyooo~

5 thoughts on “The One Person Is You (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s