Bittersweet : A Weird Dream

bittersweet

Author : Iefabings

Cast :

  • EXO’s Kai as Kim Jongin
  • Red Velvet’s Seulgi as Kang Seulgi
  • EXO’s Sehun as Oh Sehun
  • And other cast you can find on the story._.v

Genre : Romance, college life, drama, hurt, friendship

Rating : PG-13

Length : Multi chapter, currently chapter 4

Previous chapters : The Circle | He’s My Boyfriend | I Hate You

Selamat membaca!

Pelukan itu membuat Seulgi merasa hangat. Semua beban pikirannya lenyap, ia betah bermalas-malasan seperti ini. Aroma maskulin yang memenuhi indera penghidunya semakin menariknya untuk tetap dalam posisi ini. Dia ingin mendongak dan menatap wajah pria yang tengah mendekapnya. Dia yakin saat ini wajah tampannya tengah tersenyum.

Tapi saat Seulgi benar-benar mendongak, dia dapati wajah tampan itu bukan Sehun. Melainkan….

“Jongin?”

“Apa tidurmu nyenyak?” itu benar-benar Jongin, tersenyum padanya, membisikkan kata cinta dan mengecup keningnya. “Aku mencintaimu.”

***

Seulgi terbangun dalam keadaan berkeringat dingin dan nafas cepat seperti habis berlari kencang. Tangannya mencengkeram sprei begitu kuat, itu dilakukan tanpa sadar.

“Ap-apa itu? Kenapa?”

Dengan tangan gemetar dia menjangkau ponselnya. Dari tampilan lock screen dia melihat ini masih jam 4 pagi. Terlalu pagi untuk bersiap kuliah. Dan dia terbangun karena mimpi aneh—dan bodoh. Bagaimana bisa dia memimpikan Jongin? Memeluknya? Menciumnya? Astaga, dia pasti seperti wanita murahan, memimpikan pria lain saat dirinya telah memiliki kekasih.

Dia melakukan panggilan untuk Sehun melalui LINE call. Ya, untuk situasi seperti ini akan lebih baik jika dia mengobrol dengan Sehun. Dia harus memikirkan Sehun. Hanya Sehun yang boleh singgah di pikirannya. Hanya Sehun.

“Kenapa, sayang? Ini masih jam 4 pagi—“ suara Sehun.

“Ti-tidak apa-apa. Hanya kebetulan terbangun dan ingin mendengar suaramu.”

“Merindukanku?” terdengar suara kekehan Sehun. “Sebentar lagi kita akan bertemu. Atau kau ingin aku ke sana sekarang?”

“Tidak!” jawab Seulgi cepat. “Aku bilang hanya ingin mendengar suaramu kan?”

Suara kekehan Sehun terdengar lagi. “Aku lebih merindukanmu. Aku tahu kau tidak bisa mengatakannya jadi aku mengatakannya duluan.”

Seulgi menggigit bibirnya. Pasti Sehun akan merasa kecewa jika tahu dia memimpikan pria lain. “Eum… iya.”

“Dan aku juga mencintaimu,” kata Sehun.

Lihat, dia punya seseorang yang sangat mencintainya. Dan bukankah Seulgi mencintai Sehun juga? Ah… dia memang belum berani mengatakan bahwa dia mencintai Sehun tapi dia merasa bahagia bersamanya dan itu cukup membuktikan perasaan mereka sejalan. Mungkin mimpi tadi hanya efek samping dari trauma pasca kejadian di tempat karaoke. Mungkin hanya sekedar mimpi, atau malah sebenarnya mimpi buruk. Mungkin itu adalah mimpi buruk yang terkemas dalam mimpi indah.

***

Pagi-pagi sekali Sehun sudah berdiri di depan apartemen Seulgi untuk mengantarnya ke kampus. Dia jadi semakin protektif pada Seulgi sekarang, terlebih telpon mendadak dini hari tadi.

“Apa aku merepotkanmu?” tanya Seulgi saat mereka telah berhadapan.

“Aku mengharapkan sapaan, bukan sebuah pertanyaan,” tanpa menjawab pertanyaan Seulgi, Sehun memberinya pelukan dan mencium puncak kepalanya. “Merasa baikan?”

Seulgi mengangguk dan tersenyum lemah. “Tidurku nyenyak semalam.”

Sehun tersenyum lega. Dibukakannya pintu mobil untuk Seulgi seperti biasa.

“Aku harap kau benar-benar keluar dari organisasi itu,” ujar Sehun dengan nada serius.

“Iya… aku akan bicara dengan Joohyun-eonnie.”

“Bagus. Ikutlah organisasi lain—tim bantuan medis misalnya,” saran Sehun. Wajahnya lebih terlihat bersemangat.

“Bagaimana kalau nanti malam kita ke bioskop? Ada film yang sangat ingin aku tonton,” Seulgi mengalihkan pembicaraan.

“Tentu saja bisa,” jelas sekali Sehun antusias mengabulkan keinginan Seulgi, membuat gadis itu tersenyum. “Pilih film apa pun yang kau suka.”

“Setelah kuliahku selesai, aku akan menelponmu,” kata Seulgi.

Sepertinya, pagi itu Sehun menjadi orang yang paling bahagia. Ini pertama kalinya Seulgi mengajak kencan. Kalau dipikir-pikir, tragedi semalam ada hikmahnya juga. *eh

***

[LINE chatroom with Joohyun-eonnie]

Coba pikirkan sekali lagi, Seulgi-ah 😦

Walau aku tidak ada, The Circle akan tetap berjalan kan….

Tapi tapi aku bagaimana?😥

Memangnya kau kenapa? -_-

Kalau kau tidak ada aku bagaimana?😥

Jangan berlebihan. Kau kan sudah bergabung sejak tahun lalu -_-

Ah kau tidak mengerti! Siwon oppa dan Victoria akan terus memaksaku merayumu. Sungguh menyusahkan. Semua ini gara-gara Jongin!!!

Jongin.

Bisakah Seulgi merasa biasa saja dengan manusia bernama Jongin? Hanya membaca namanya saja dia merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ada yang ingin keluar dari ulu hatinya, tapi bukan. Seperti ada yang menusuk-nusuk dada kirinya tapi tidak juga. Seperti rasa panas di dalam perut setelah makan banyak kue beras super pedas, tapi bukan itu. Dia sendiri bingung mendeskripsikan perasaan itu seperti apa.

Mianhae, eonnie-ah (o’~’o)

Jangan gunakan emoji itu -_-

Eonnie~ (o’~’o)

Iya, iya, aku akan memberi tahu mereka semua. Tapi aku tidak janji mereka akan diam saja.

Sampaikan ucapan maafku pada mereka ya

Mereka yang harus minta maaf padamu!

Kecuali aku.

Hahahaha

 

[LINE chat with Sehun]

Seulgi-ah, maaf sepertinya kita tidak bisa nonton film nanti malam. Tapi aku bisa menemuimu setelah urusanku selesai. Mungkin sekedar minum kopi bersama?

Sebuah pesan dari Sehun membuatnya tersenyum geli. Dia paham betul Sehun berusaha untuk tetap bisa menemuinya sesulit apa pun keadaannya.

Kamu mau minum kopi malam-malam dan tidak bisa tidur? Aku tidak suka caffeine.

Apa sajalah asal bisa bertemu denganmu. Aku merindukan Seulgiku~

Iya, telpon aku saat sudah menyelesaikannya.

Tunggu aku.

“Lihat siapa yang sedang senyum senyum sendirian.”

Seulgi nyaris menjatuhkan ponselnya ke bawah bangku karena kepala Seungwan muncul secara tiba-tiba di atas pundaknya.

“Astaga, kau membuatku takikardi* mendadak,” protes Seulgi sambil meraba dada kirinya.

“Aku harap kalian terus bersama sampai menikah. Ingat kata-kataku, Kang Seulgi,” Seungwan menangkup kedua pipi Seulgi, sok serius. “Jangan pernah putus dengan Oh Sehun. Aku yakin hidupmu akan makmur sejahtera lahir batin dan punya anak yang lucu-lucu jika menikah dengannya.”

“Sekarang kau berlagak seperti seorang ahjumma,” ejek Seulgi lalu menjauhkan tangan Seungwan dari pipinya.

“Aku yakin eommamu akan mengatakan itu juga kalau dia tahu. Aigoo, kau sangat beruntung. Membuatku iri saja,” kata Seungwan dengan gaya cerewetnya seperti biasa.

“Seulgi-ah.”

Seulgi dan Seungwan menoleh serentak ke arah suara yang muncul tiba-tiba. Myungsoo berdiri dengan canggung, terlihat dari caranya mengusap tengkuk.

‘Siapa?’ Seungwan menggerakkan mulutnya tanpa suara, sambil menaikkan alis.

Seulgi hanya menghela nafas. “Kim Myungsoo-sshi, aku sedang sibuk.”

“Aku sungguh minta maaf. Aku tahu, aku sangat kurang ajar. Itu karena aku sedang mabuk berat,” Myungsoo membungkuk begitu rendah, membuat Seulgi merasa tidak enak. Seungwan sampai ternganga dan membulatkan matanya.

‘Apa yang terjadi?’ dengan gerakan mulut tanpa suara lagi, Seungwan bertanya.

Seulgi hanya menggeleng. “Jangan seperti ini, teman-temanku melihatnya. Aku merasa tidak nyaman dengan tatapan mereka.”

“Aku akan terus membungkuk sampai kau memaafkanku, walau tulangku sampai patah sekali pun.”

“Tulangmu tidak akan patah hanya karena membungkuk. Aku maafkan,” ucap Seulgi akhirnya, karena teman-temannya mulai berbisik satu sama lain saat melihat Myungsoo.

“Terima kasih, Seulgi-ah. Kau sangat baik, sebaik bidadari surga,” puji Myungsoo sambil tersenyum lebar. Seungwan melakukan gerakan seperti mau muntah.

“Lupakan saja. Aku sudah keluar dari The Circle.”

“Mworago?” pekik Myungsoo dan Seungwan bersamaan.

“Eh—kenapa kalian sampai berteriak seperti itu—“

“Maksudmu, keluar—benar-benar keluar selamanya?” tanya Myungsoo.

“Ini membuatku penasaran. Ya! Apa yang kau lakukan sampai membuat Seulgi keluar?” omel Seungwan pada Myungsoo.

“Kami hanya—ya! Kenapa aku harus memberi tahukannya padamu? Urusi saja urusanmu sendiri,” balas Myungsoo dengan sengit.

“Aku ini temannya Seulgi. Memangnya kau pikir kau siapa?”

“Aku juga temannya Seulgi. Memangnya hanya anak kedokteran yang boleh berteman dengan Seulgi?”

“Apa masih ada yang ingin kau bicarakan?” tanya Seulgi sambil menatap Myungsoo. Pertanyaannya sekaligus menghentikan perdebatan singkat mereka.

“Tentu saja masih. Kau tidak boleh keluar dari The Circle—astaga, bisa habis aku dimarahi Siwon-hyung,” Myungsoo mengacak rambutnya frustasi.

“Tenang saja, Siwon-sunbae tidak akan menyalahkanmu. Aku sudah meminta Joohyun eonnie menjelaskan padanya.”

“Bukan hanya soal itu,” kata Myungsoo lagi. “Kami sangat membutuhkanmu, Seulgi-ah. Kau tidak ingin melakukan banyak kegiatan amal bersama kami?”

“Kalian sudah melakukan itu bertahun-tahun kan? Aku baru bergabung seminggu yang lalu, jadi tidak akan berpengaruh apa-apa.”

“Apa ini artinya kau masih belum bisa memaafkanku?”

“Sudah ku bilang lupakan saja….”

“Aku benar-benar mabuk dan tidak berpikir saat menyuruh Jongin melakukannya.”

“Ku bilang lupakan. Lagi pula, Jongin seharusnya tidak menuruti suruhanmu itu.”

“Oh, berarti ini karena Jongin? Aku akan bicara padanya, dan akan ku pastikan dia minta maaf secara pribadi padamu.”

“Tidak u—“ tapi terlambat. Myungsoo sudah meninggalkan dirinya dan Seungwan. “—sah.”

“Namja aneh,” komentar Seungwan sambil bergidik.

“Benarkah? Kalian kelihatan cocok.”

“Aku? Dengan dia?” Seungwan menepuk dadanya. “Aku memang ingin punya pacar tapi kalau namja seperti dia lebih baik aku melajang dulu.”

Seulgi tertawa geli melihat respon Seungwan. Sebenarnya dia kepikiran dengan niatan Myungsoo untuk bicara pada Jongin. Sungguh, dia tidak ingin bertemu Jongin lagi. Setidaknya untuk waktu dekat ini.

***

Malamnya, Seulgi menyibukkan diri untuk menghafalkan anatomi tubuh. Dua jenis atlas anatomi terbuka di hadapannya. Sesekali dia menghafal, sesekali membaca dan memahami teorinya. Ponselnya sengaja ia atur dalam mode ‘silent’ karena banyak sekali notifikasi dari teman-temannya, terutama member The Circle. Sejak dia keluar dari group chat semalam, terlebih setelah memberi tahu Joohyun bahwa dia keluar, notifikasi personal chat terus berdatangan. Siwon, Victoria, Minseok, Baekhyun, dan member lainnya terus membujuknya untuk kembali. Seulgi sudah berusaha menjelaskan bahwa dia sudah baik-baik saja dan melupakan kejadian semalam, tapi mereka masih meminta maaf. Mereka semua kecuali Jongin.

Padahal seharusnya Jongin adalah orang terdepan yang meminta maaf padanya. Ada rasa lega, tapi ada rasa kecewa juga. Lega karena dia tidak perlu berbicara dengan Jongin. Kecewa karena ternyata Jongin memang tidak punya perasaan dan sama sekali tidak menghargainya.

DING DONG

Bunyi bel mengalihkan fokus Seulgi dari atlasnya. Dia melirik jam dinding, sudah hampir tengah malam. Siapa yang begitu berniat mengunjunginya pada jam ini?

DING DONG

Bunyi kedua mau tak mau membuat Seulgi berjalan ke arah pintu dan membukanya.

“Sehun-ah?”

“Kenapa telponku tidak diangkat? Kau marah karena aku baru datang jam segini?”

“Marah? Tidak sama sekali, tapi ini hampir tengah malam. Kau seharusnya pulang ke rumahmu—“

“Tapi aku berjanji akan menemui, kan? Aku bahkan telah menggagalkan rencana menonton kita.”

Sekarang Seulgi baru ingat bahwa siang tadi Sehun memang berjanji akan menemuinya walau tidak jadi menonton.

“Kalau pun kau tidak jadi datang, aku tidak apa-apa, Sehun-ah.”

“Aku menelponmu berkali-kali tapi tidak diangkat. Aku kira kau marah padaku….”

Seulgi tertawa pelan, lalu memeluk Sehun.

“Aku sedang belajar, jadi ponsel ku diamkan agar tidak mengganggu. Maafkan aku,” jelas Seulgi, kemudian mendongakkan kepalanya untuk menatap Sehun. “Seharusnya kau tetap pulang dan kita bertemu besok.”

“Tidak bisa,” Sehun menyandarkan kepala Seulgi kembali ke dadanya. “Kalau aku sedang merindukanmu, aku tidak bisa menunda sampai besok untuk bertemu denganmu.”

“Mulai lagi.”

“Bagaimana kalau kita berpelukan di dalam saja biar tidak ada yang mengganggu?”

Benar juga. Mereka berpelukan di depan pintu. Bisa saja ada penghuni apartemen yang baru pulang dan lewat lalu memergoki mereka.

“Ayo masuk,” Seulgi melepas pelukannya dan menarik Sehun masuk. Tak lupa menutup pintu kembali setelahnya.

“Kau tinggal sendirian?” tanya Sehun sambil melihat-lihat isi apartemen Seulgi.

“Begitulah.”

“Tidak merasa kesepian?”

“Eum… terkadang.”

“Kalau begitu aku akan sering-sering ke sini.”

Seulgi hanya menanggapi dengan berdecak pelan. Dibiarkannya Sehun menjelajahi apartemen sesuka hati.

“Kau ingin minum sesuatu?” dia berdiri di dekat Sehun yang sedang mengecek isi kulkas.

“Aku sudah mengambilnya,” Sehun mengeluarkan minuman isotonik kaleng, menggoyangkannya di depan wajah Seulgi. “Ada yang ingin ku lihat,” matanya kembali beredar. “Nah, itu dia.”

“Apa?” Seulgi mengikuti arah pandang Sehun. “Oh, tidak, jangan ke sana!” dia buru-buru berdiri di depan pintu kamarnya yang terbuka.

Sehun justru semakin penasaran karena respon Seulgi. “Aku hanya ingin melihat kamarmu. Memangnya kenapa?”

“Ini—belum ku rapikan,” Seulgi menahan tubuh Sehun sebisa mungkin agar tidak mengintip atau bahkan masuk ke dalam kamarnya. Tapi percuma saja, kekuatannya tak seberapa. Sehun malah memeluknya dan dengan enteng mengangkat badan Seulgi ke dalam kamar.

“Belum dirapikan bagian mananya? Ini jauh lebih rapi dibanding kamarku,” komentar Sehun.

“Y-ya! Sehun-ah, turunkan aku!”

Sehun terkekeh, kemudian mendudukkan Seulgi di sisi tempat tidur. “Aku bisa membayangkan, jika kita tinggal bersama hidupku akan lebih teratur.”

“Mana boleh hidup bersama? Kita belum menikah.”

“Jadi sekarang kau memintaku menikahimu?” goda Sehun sambil menyeringai.

“Jelek,” Seulgi menjitaknya pelan.

“Kau ingin menikah muda? Hm? Hm? Hm?”

“Hentikan, Oh Sehun.” Seulgi mendorong Sehun agar bisa bangkit dari tempat tidur dan keluar kamarnya.

“Kau mau pulang jam berapa? Sudah lewat tengah malam,” ia mulai membereskan buku-buku yang tadi dipakai untuk belajar.

“Aku tidur di sini,” jawab Sehun dan langsung berbaring di sofa.

“Memangnya kau sudah minta izin pada tuan rumah?”

“Sudah pasti diizinkan. Kan tuan rumahnya istriku sendiri.”

Semburat merah muncul di pipi Seulgi. “Aku tuan rumah, dan aku bukan istri siapa-siapa.”

“Istri masa depanku, kan?” sambung Sehun, yang justru membuat pipi Seulgi makin memerah.

“Kau ini bicara apa—“

Sehun langsung membungkam Seulgi dengan kecupan singkat di bibirnya. “Sudah kan, itu good night kiss,” ucapnya enteng lalu kembali berbaring dan memejamkan mata.

“Dasar,” Seulgi mengigit bibirnya yang mendadak terasa kesemutan. Seperti kata orang, jatuh cinta membuat rongga dadamu dipenuhi kupu-kupu. Persis sekali, Seulgi sedang merasakannya sekarang.

Yang dia lakukan selanjutnya adalah membawa buku-buku tebalnya ke kamar untuk ia kembalikan ke tempatnya dengan rapi. Dia baru bisa tidur dengan tenang jika huniannya terlihat rapi. Sebelum benar-benar tidur dia melihat Sehun lagi dengan membawa selimut. Pemuda itu benar-benar terlelap. Dari wajah tidurnya Seulgi tahu dia kelelahan. Bergerak sangat pelan, ia menyelimuti tubuh Sehun. Sejenak dia memandangi wajah kekasihnya, dan tanpa sadar tersenyum. Sehun tidak pernah gagal membuatnya tersenyum.

***

Dia berjalan di antara ribuan tirai tanpa tahu arah, tujuan, dan jalan keluar. Dia bahkan tak tahu alasan keberadaannya di sini. Kepalanya menoleh ke segala arah, mencari sesuatu—apa pun itu yang bisa membuatnya keluar dari tempat ini.

“Aku di sini.”

Dia—Seulgi, tersentak oleh datangnya suara maskulin di indera pendengarannya. Dia berbalik, dan tubuhnya langsung terengkuh sempurna dalam tubuh kekar seseorang. Dia merasa hangat.

“Apa kau takut?”

Seulgi mengangguk dengan mata terpejam, masih dalam pelukan hangat pemuda ini.

“Jangan takut, aku selalu bersamamu.”

Lalu kedua lengan Seulgi balas memeluknya erat, takut terlepas. Kepalanya ia dongakkan untuk bertukar senyum dengan pemuda yang memeluknya.

“Aku tidak akan pernah melepaskanmu.”

Pemuda ini… bukan Sehun.

“Apa kau mencintaiku?”

Dia Jongin. Wajahnya, suaranya, sentuhannya, pelukannya, itu milik Jongin. Di satu sisi dia merasa hangat dalam dekapan Jongin, tapi di sisi lain dia tahu ini salah. Seharusnya Sehun yang memeluknya, bukan Jongin. Seulgi tidak bisa bergerak atau pun bersuara, bahkan saat tangan Jongin membelai lembut pipinya.

‘Tidak, ini salah. Aku harus terbangun,’ batinnya berteriak.

“Karena aku mencintaimu.”

Wajah mereka berdekatan. Dia bisa merasakan hembusan nafas Jongin.

‘Tidak, Sehun. Bangunkan aku! Sehun!’

***

“Sehun!”

Nafasnya berderu cepat, dengan keringat dingin yang membanjiri kening, pelipis serta beberapa bagian tubuh lain. Ini kali kedua Seulgi merasakannya. Mimpi yang berbeda tapi dengan alur yang sama. Dan baginya itu adalah mimpi buruk.

“Gwenchana?”

Tersentak seperti dalam mimpi, ia melihat Sehun berdiri di ambang pintu kamarnya. Apa teriakannya cukup keras hingga Sehun mendengarnya dari ruang tengah?

“Hey,” Sehun menghampirinya, duduk berhadapan di tepi tempat tidur. “Kau kelihatan tidak baik-baik saja.” Seulgi hanya menggeleng, belum bisa merangkai kata karena sibuk mengatur nafasnya. “Memimpikan sesuatu? Aku mendengar namaku dalam igauanmu tadi.”

“Apa terdengar keras?”

Sehun tertawa pelan. “Kau benar-benar memimpikanku?”

Seulgi memukul lengannya pelan. “Lupakan saja.”

“Aigoo,” pemuda berkulit putih susu itu memberinya pelukan. “Apa aku terlihat tampan di dalam mimpimu?”

Bagaimana dia bisa menjawab pertanyaan itu sementara yang muncul di mimpinya bukan Sehun, melainkan pemuda lain? Dia terus diam dan membiarkan Sehun memeluknya.

“Wah, pertanyaanku diabaikan,” Sehun hendak melepaskan pelukannya, tapi Seulgi menahannya dengan memeluk lebih erat.

“Tetap seperti ini. Sebentar saja,” pintanya dengan suara lirih.

Keinginan Seulgi adalah perintah, begitu motto hidup Sehun sejak memiliki gadis itu. Jadi dia terus memeluk Seulgi sambil membelai rambut panjangnya. Bertahan dengan posisi itu selama yang Seulgi mau. Walau sampai esok pagi kembali pun tak apa.

***

Sebuah poster dengan design yang mencolok bernuansa cinta terpampang di mading utama semua fakultas dan cukup menarik perhatian, termasuk di fakultas kedokteran. Beberapa mahasiswa bertumpuk di depannya, beberapa lainnya yang lewat menyempatkan diri untuk membaca walau setelahnya berlalu.

“Lihat, ini event yang ramai dibicarakan oleh angkatan kita. Dan kabarnya juga heboh di semua fakultas!” Seungwan menunjuk poster yang sedang digandrungi mahasiswa lain.

Seulgi hanya mencuri lihat sekilas. Dari huruf balok paling besar yang bisa dijangkau matanya, dia sudah tahu poster apa itu.

“Iya, aku tahu,” ucapnya pelan sebelum melanjutkan langkah menuju kelas.

“Kau tahu? Acara The Circle? Ku kira kau sudah keluar,” kata Seungwan yang berlari kecil menyusulnya.

“Tentu saja tahu. Aku yang punya ide acara itu.”

“Daebak!” serunya dengan mata membulat. “Dan kau keluar.”

“Tidak ada pengaruhnya.”

Seungwan hanya berdecak sambil menggelengkan kepalanya. Mereka masih harus naik satu tangga untuk tiba di ruang kuliah untuk kelas pertama mereka hari ini. Saat hendak menaiki tangga, pandangan Seulgi menangkap sosok yang menghantui mimpinya beberapa hari ini. Kim Jongin. Dengan tangan penuh lembaran pamflet, pandangan pemuda itu terarah pada Seulgi. Tatapan keduanya bertemu.

“Seungwan-ah, aku harus ke toilet,” Seulgi mengambil langkah cepat. Menurutnya itu tindakan paling bijak untuk keadaan ini. Dia berbalik dan berjalan sejauh mungkin asal terhindar dari hawa Kim Jongin. Padahal kelasnya akan dimulai 5 menit lagi.

“Ta-tapi toiletnya kan ke sana….”

Seungwan tak sempat menyelesaikan warning-nya pada Seulgi karena kawannya itu telah melangkah jauh. Lalu dia beralih menatap Jongin—yang sebenarnya dia tak tahu siapa tapi sepertinya menjadi alasan Seulgi tiba-tiba berbalik. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menggaruk kulit kepalanya. Berpikir membuatnya merasa gatal.

Sementara Jongin, sang tersangka utama, masih bertahan dengan ekspresinya yang biasa. Tidak ada yang bisa membaca apa yang dia pikirkan.

***

Entah apa yang terjadi dengan keberuntungan Seulgi hari itu. Dia merasa menjadi orang paling sial. Pertemuan dengan Jongin pagi tadi terus terulang beberapa kali. Pada jam praktikum anatomi yang letak laboratoriumnya berdekatan dengan gedung fakultas teknik, dia berpapasan dengan Jongin. Tapi dia pura-pura tidak melihat dan sengaja mengeraskan volume percakapannya dengan Seungwan hingga membuat temannya itu keheranan. Lalu di kantin, saat semua penghuni kampus berkumpul untuk mendapat makan siang, dia nyaris menubruk tubuh Jongin. Beruntung refleknya sangat cepat jadi dia bisa langsung berbalik pergi dari kantin. Makan siang pun ia korbankan. Dia memilih lapar dari pada harus berhadapan dengan Jongin. Dan yang paling aneh, di perpustakaan. Dia tidak menyangka orang semacam Jongin juga ada di sana. Hampir saja buku tebal farmakologi jatuh mengenai kakinya karena terlalu kaget. Seulgi langsung mengembalikan buku itu dan keluar dari perpustakaan.

“Ada apa denganmu hari ini?” tanya Seungwan dalam perjalanan keluar kampus, setelah semua jadwal mereka selesai.

“Aku juga tidak tahu kenapa hari ini aku mengalami banyak kesialan.”

“Memangnya namja itu siapa sih?”

“Bukan siapa-siapa. Aku pulang dulu ya. Dah,” ucap Seulgi terburu-buru. Rasanya ingin segera tiba di apartemennya, membasuh diri dan tidur. Hari ini membuat rasa lelahnya berkali lipat dari biasanya.

***

Seulgi berendam dalam bathtube selama berjam-jam. Tanpa ia sadari waktu telah menunjukkan pukul 10 malam dan dia tidak membaca atau belajar materi apa pun. Pertemuan tak sengaja dengan Jongin benar-benar stressor berat baginya. Itu cukup berpengaruh pada mood belajarnya juga. Dia memutuskan untuk keluar dari bathtube setelah merasa kukunya membiru dan kulit jemarinya berkerut hebat.

“Ah, kenapa jadi tidak produktif malam ini,” rutuknya dalam perjalanan ke kamar.

Dia sempat melirik deretan bukunya saat memakai pakaian tidur. Dalam hati mengucapkan maaf karena bertingkah malas hari ini. Dari pada dipaksakan belajar juga tidak efektif, pikirnya.

DING DONG

Dia tengah menyisir rambut saat terdengar bel. Tamu malam lagi? Tebakannya langsung tertuju pada Sehun. Memang, seharian ini mereka belum bertemu. Sehun mengatakan jadwalnya terlalu padak dan dengan sangat menyesal tidak bisa menjemput Seulgi dari kampus. Sudah bisa ditebak, dia akan menyempatkan diri mampir ke apartemennya walau malam sudah beranjak larut.

Seulgi berlari kecil ke arah pintu, takut Sehun menunggu terlalu lama. Tangannya langsung meraih pegangan pintu dan mengayunnya hingga terbuka.

“Sudah ku duga kau akan dat—“ matanya terbelalak. Jika dia memiliki riwayat sakit jantung, mungkin terjadi cardiac arrest* saat itu juga. “—tang….”

“Kau tahu aku akan datang?”

Itu pemuda yang menjadi terror dalam mimpinya. Ya, Kim Jongin kini berdiri tepat di hadapannya.

***TBC***

*takikardi : denyut jantung yang lebih cepat dari denyut jantung normal

*cardiac arrest : terhentinya sirkulasi darah secara mendadak karena kegagalan kontraksi jantung

37 thoughts on “Bittersweet : A Weird Dream

  1. Aakkk wae wae wae, aku gak rela kalau seulgi jatuh ke jongin di ff ini. Walaupun sosok jongin cool abis, tapi sehun sudah berkorban amat banyak, sayang pula sama seulgi.

    Heuheuheu, seulhun jebaallllll. Jongin out yah sementara dr kisah ff ini hahahahaha

    Masih penasaran sama kelanjutannya ahahahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s