PCY’s EX Series: #3 Finest Present

[PCY's EX Series] #1 If ClausePCY’s EX Series: #3 Finest Present

Previous: #1 First Impression | #2 Bride is You

deera

Cast: Park Chanyeol, Lee Seonmul | Genre : Comedy, bitter romance | Rating: General | Length: Ficlet Series

.:Tidak ada fiksi yang original. Bisa saja kisah itu datang dari masa lalumu, curhatan sahabatmu, kejadian yang kau temui pagi ini di jalan, atau kelak akan membuatmu bergumam, “Ini aku banget!

Selamat tenggelam dalam setiap cerita!:.

‘Bercerita soal…, mantan pacar?’

.

.

.

Ujian akhir sekolah berakhir. Aku memutuskan untuk masuk sekolah menengah atas yang letaknya cukup jauh dari rumah. Dari yang biasanya pergi sekolah dengan berjalan kaki, atau sekali-kali bawa sepeda, kini aku harus berangkat sepagi mungkin untuk bisa sampai di sekolah tidak terlambat.

Tidak banyak teman satu sekolah dulu yang juga mendaftar ke sekolah ini. Baru beberapa saja yang nampaknya tidak asing. Beda dengan sekolah yang posisinya persis di depan sekolah lamaku…, that’s why. Bahkan Rim-ah juga bersekolah di sana. Sedikit banyak aku menyesal. Sedikit banyak juga mungkin aku menganggap bahwa takdirnya memang seperti ini. Mungkin aku harus bertemu dengan seorang supermodel cantik yang bersekolah di sini—dua tingkat di atasku

Ya. Dua tingkat di atasku. Dia cantik, tinggi semampai, rambutnya jatuh panjang melewati bahu berwarna hitam legam, kulitnya seperti sawo pucat, dan aku menyukainya. Dua hari masuk sekolah ini, dia sudah menyita seluruh perhatianku. Tidak peduli sudah berapa kali aku terkena hukuman push-up karena ketahuan ngelamun dan tidak fokus saat masa orientasi karena tiba-tiba saja dia melintas. Dia adalah pemandangan yang tidak boleh sedetik pun dilewatikan. Dia seperti oase di masa-masa menuju-dewasaku.

Seperti yang sudah kuduga, tidak mudah untuk mendapatkan si supermodel. Aku harus siap bersaing dengan sesama namja—dan tentu saja para sunbaenim—seantero sekolah. Dan aku masih terlalu junior untuk sekedar menjadi pacarnya di dalam mimpi.

Sadar betul akan hal itu, aku sempat berpikir untuk berhenti. Baru satu yeoja yang menarik perhatianku. Masih ada ratusan yang lain di sini yang bisa kulirik…, mungkin. Aku sempat sekilas memperhatikan Ari-ya, teman sekelasku. Tiap pagi di-drop di depan sekolah dan siang hari pulang naik bis bersama teman-temannya. Dia pakai kawat gigi yang saat itu sedang tidak tren. Aneh memang melihat dia dan entah kenapa kecenderunganku memang melihat yeoja yang berbeda dari yang lain (aku tidak akan akan mengatakan kalau Rim-ah aneh. Dia beda. Ari-ya juga gitu). Tapi tunggu, kalau aku tetap pada formula yang sama, apa yang aku alami bersama Rim-ah bisa saja terulang. Kalau Rim-ah dulu dicubit karena dia gemuk, aku tidak akan pernah mau lihat kawat gigi Ari-ya ditarik paksa menggunakan tang oleh orang-orang itu.

Memang tidak mungkin…, dan hey! Park Chanyeol! Kau tidak setenar dulu! Di sekolah ini, para namja sunbaenim memiliki paras di atas rata-rata. Lalu siapa kau, Park Chanyeol? Aku merutuki diri sendiri karena kepercayaandirianku yang terkadang tidak pada tempatnya yang benar.

Kalau begitu, aku akan mencari yeoja yang tetap kelihatan berbeda tapi kemungkinan orang lain untuk menyeakitinya itu hampir tidak ada. Sialnya, pilihanku kembali jatuh untuk si supermodel. Selain dia sangat terkenal satu sekolahan—bahkan banyak sekolah lain, aku yakin pasti semua yeoja minder dengan kecantikannya, so tidak akan ada yang berani macam-macam sembarangan melabraknya.

Lagipula, di dalam hati kecil, aku masih ingin bertahan. Aku ingin merasakan sensasinya mengejar gadis yang kusukai. Memperjuangkan perasaanku agar tidak hanya sepihak. Biarpun banyak rintangan dan pertentangan, aku berusaha untuk tetap jalan. Memantapkan hati dan keyakinan.

Hal pertama yang ingin kulakukan adalah supaya dia melihatku. Melihat dalam arti dia tahu kalau ada aku, di sini. Ada aku di sekolah ini. Berarti aku harus eksis. Kalau mengatasnamakan siswa berprestasi, aku agak sangsi dengan kemampuan otakku yang standar dan biasa-biasa saja ini. Kalau mengandalkan ketampanan, aku pasti kalah.

Waktu itu, sedang gencar perekrutan siswa baru untuk terlibat di kegiatan ekstrakulikuler. Berbagai macam kegiatan mulai promo ke kelas-kelas dan membagikan formulir pendaftaran. Hari itu, giliran kegiatan olahraga taekwondo masuk ke kelasku. Seorang sunbae dengan badan tinggi dan tapi agak kurus membawa segepok kertas pendaftaran. Rambutnya ikal, agak gondrong hingga jatuh melewati telinganya. Tapi mendengar beberapa yeoja membicarakan dirinya, bisa kusimpulkan kalau menurut yeoja, sunbaenim ini cukup tampan.

“Ada yang berminat bergabung? Latihannya setiap hari Sabtu jam enam sampai delapan di lapangan sekolah,” katanya dengan pembawaan santai.

Sunbaenim, bolehkan aku bertanya?”

Sekarang semua orang melihatku. Aku harus mulai menunjukkan diri biarpun baru di tingkat kelas. Aku mengangkat tangan tinggi-tinggi supaya hyung itu bisa melihatku. Dan orang-orang juga.

“Silakan.”

“Apa pentingnya kegiatan ini? Apakah hanya mengisi waktu luang? Atau untuk melindungi diri? Atau bagaimana?”

Dia senyum. “Barusan kau sudah menjawab pertanyaanmu sendiri.”

Seisi kelas hening. Ada beberapa suara menahan tawa. Di saat aku berusaha tampil di depan orang, yang muncul adalah sisi kebodohanku. Banting stir, “Oh, jadi hanya itu saja, Sunbaenim? Bagaimana kalau kau membuat suatu promo yang lebih menarik, untuk mengajak kami. Aku lihat, sunbae datang kemari sendirian. Kalau kegiatan lain—misalnya sepak bola—tadi mereka datang hampir dua puluh orang.”

Wajahnya berubah keras. Gawat, aku menyidirnya sepertinya. Dia melipat tangan di depan dada. Sekarang obrolan semi serius tampaknya akan dimulai.

“Kalau kau ingin bilang kegiatan ini sedikit peminat, memang iya. Aku tidak tertarik untuk merekrut banyak orang tapi tidak serius. Toh, kalau sedkit itu menguntungkan: lebih fokus latihan, kejuaraan sebagai atlet tunggal, dan kalau menang, aku akan mendapat 90% dari hadiahnya tanpa terkecuali.”

Tanpa pikir panjang, aku menghampirinya dan mengambil formulir. Tanganku menggantung di udara untuk menjabat tangannya. “Namaku Park Chanyeol. Mohon bimbinganmu, Sunbaenim.”

Dia menatapku. “Kalau tujuanmu hanya itu, sebaiknya kau tidak bergabung. Sama aja kau tidak serius.”

“Bukankah itu sama denganmu, Sunbae?”

Dia tertawa. “Kim Jongdae, imnida. Kau akan kubuat menderita telah masuk dalam kegiatanku, Park Chanyeol.”

***

Latihan pertama taekwondo, aku datang terlambat. Padahal hanya lewat sepuluh menit dari jam enam, aku dihukum berjalan jongkok keliling lapangan sebanyak dua kali putaran. Di saat yang lain sedang megap-megap buka mulut untuk latihan pernapasan, kakiku kram gara-gara hukuman itu. Atau mungkin sebenarnya mereka sedang menahan tawa melihatku berjalan jongkok seperti bebek.

“Ya! Park Chanyeol!” Jongdae sunbae memanggilku. Dia mengacungkan tangan dan menggerakannya seolah menyuruhku menghampirinya.

Dengan wajah sumringah, aku langsung bangkit dan setengah berlari ke arahnya. Tiba-tiba dia berteriak, “Siapa yang menyuruhmu lari? Jalan jongkok!”

Di waktu senggang, aku sering sharing dengan Jongdae sunbae tentang pengalamannya menjalani taekwondo selama tiga tahun di sini. Banyak sekali kejuaraan yang sudah diikutinya dan sebagian besar dimenanginya. Awalnya, ia berniat menjadi atlet anggar. Seperti yang kau tahu, peminat anggar sangat—teramat sangat bahkan—sedikit.

Lihatlah kepada hal-hal yang tidak diperhatikan orang, begitu prinsip Jongdae sunbae. Itu juga yang membuatnya memilih taekwondo.

Kim Jongdae adalah sosok bijak kedua setelah Appa yang kukenal sampai saat itu.

.

.

.

Aku tiba di gerbang depan tepat jam setengah tujuh. Sebuah sedan hitam meluncur tepat di hadapanku yang masih terdiam di depan plang sekolah. Sekelebat wajah terlihat dari kaca depan. Pintu dibuka. Seorang yeoja dengan rambut kuncir kudanya turun dari mobil.

Si supermodel.

Ternyata, lebih tinggi aku sedikit daripada dia. Saat bersisian, aku bisa menghirup aroma yang lembut sekali di hidungku. Dia berjalan seolah di situ tidak ada aku. Dia benar-benar tidak melihatku.

Hari itu, beberapa orang masuk ke kelas. Mereka bilang, kalau mereka adalah anak-anak jurnalistik yang sedang mebuat buletin bulanan yang ditempel di papan besar di beberapa titik koridor sekolah. Mereka sedang membuat artikel perdana mereka di kepengurusan yang baru. Ada satu kolom yang dinamai ‘Titip Salam’ yang bisa kita isi dengan menulis pesan yang ingin kita sampaikan pada seseorang di atas selembar kertas, kemudian dimasukkan dalam kotak yang diletakan di setiap kelas.

“Kau mengirimkan pesan kepada siapa, Chanyeol-ah?” tanya Myungsoo, teman sekelas yang duduk di sebelahku.

Aku tersenyum simpul. “Kalau kau untuk siapa, Myungsoo-ya?” Bola panas itu kulempar balik padanya.

Dengan mata berbinar, dia mantap menjawab, “Anak kelas sebelah. Aku menyukainya sejak pertama masuk kemari.”

“Huwaaa!” aku sungguhan takjub.

Kami kembali menulis di atas kertas warna-warni sambil senyum-senyum sendiri kala membaca ulang apa yang tertera di sana. Hanya satu orang yang saat ini bisa membuatku melakukan banyak hal bodoh.

Bahkan namamu berarti hadiah. The finest present I’ve ever had from universe in life.

Lee Seonmul

Deretan huruf itu sukses bikin Seonmul terdiam begitu lama di depan mading saat artikel itu muncul. Ternyata tidak semua pesan ditampilkan. Bahkan, pesan Myungsoo untuk yeoja yang ditaksirnya pun tidak ada. Sedangkan pesanku muncul, tepat di bawah pesan seseorang untuk Jongdae sunbaenim. Aku tidak sengaja melihat Seonmul di depan papan buletin itu di hari Senin siang saat jam istirahat. Teman-temannya sibuk menebak siapa yang menulis pesan itu untuknya. Sedang dirinya hanya diam dan…, tersenyum. The finest present form universe in life. Senyumnya….

.

.

.

– End of #3 Finest Present-

deera says: hai hai ^^ terimakasih buat kalian yang mengikuti cerita ini hehe. Di sini ada tokoh baru yang pasti lebih kompleks dari cerita sebelumnya karena PCY juga sudah beranjak dewasa hahaha *geli ya kalo dibayangin kkkkk* oke deh, jangan lupa komen. aku ngerti, mungkin susah mau nulis apa. Tapi bisa dicoba kan, dengan bilang “lanjut oi!” atau sekedar “next”. Aku ga ngarep ada yang bilang bagus hahaha khusus di semua tulisan aku, kalian bisa bashing kalo memang menurut kalian tulisanku tidak bagus kkkk😀 karena kritik itu ampuh banget buat aku berkembang. Dan sekaliiiiii lagi, coba ya tulis minimal satu huruf gitu di kolom komentar hehehe *bow* *melipir* *siap-siap liburan*

16 thoughts on “PCY’s EX Series: #3 Finest Present

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s