Win Over Deluxe [3/3]

Win over deluxe 3

Title : Win Over Deluxe | Author : Bitebyeol | Main Cast : Choi Alessa (OC/YOU) and Park Chanyeol, other cast will find by yourself | Genre : Romance Fluff Fantasy | Lenght : Threeshoot | Rating : Teen

Previous : Part [1] [2]

Originally posted in my own blog

https://hanajinani97.wordpress.com/

.

~Happy Reading~

.

.

.

.

Semuanya berjalan normal setelah empat minggu berlalu semenjak semua peristiwa itu terjadi, termasuk musibah kebakaran hebat di pabrik wine milik Ayah. Kebakaran yang sempat mengemparkan seisi kota. Bagaimana tidak, pabrik wine itu merupakan daerah sentral pertumbuhan ekonomi kerajaan West. Namun, aku bersyukur kebakaran itu tak sempat menghanguskan seluruh badan pabrik, dan yang paling penting Ibu selamat tanpa goresan luka sedikitpun. Aku tak dapat membayangkan kehidupanku turut berakhir karena Ibu. Menyenangkan dapat melihat Ibuku, Choi Sooyoung dapat beraktivitas kembali.

Tetapi sekarang, kepalaku tidak lepas memikirkan segala hal negatif. Kebakaran itu terjadi sesaat setelah Chanyeol pergi. Aku tak pernah tahu apa maksud pangeran East Northeast itu mendekatiku dan mengakhinya dengan kepergian yang tiba-tiba. Apa yang sebenarnya Chanyeol rencanakan?

“Hai adik kecil, mengapa kau melamun disini?”

Sebuah rangkulan menyentuh bahuku dengan lembut. Luhan, pemuda itu berdiri dengan posisi sejajar denganku. Bersandar pada dinding balkon, ikut mengamati burung-burung yang bermain pancuran air besar di halaman kastil. Kutebak, Luhan baru saja selesai mandi menilik aroma sabun dan parfum favoritnya. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mengibaskan percikan air dari rambutnya yang basah.

“Luhan! Kau bisa memakai hair dryer milikku.”

Luhan memang sangat gemar bercanda sesuka hatinya. Kedekatan ku dengan Luhan yang bisa dibilang nyaris tak ada jarak, sering menimbulkan berbagai prasangka bagi sebagian besar orang. Mereka tak pernah menyalahkan wajah khas anak kecil yang Luhan miliki. Alih-alih menggunakan wajah Luhan sebagai kesalahan, aku sendiri tak pernah merasa terganggu dengan persepsi orang lain. Bahkan Putri Jisoo mengira Luhan adalah calon suamiku dimalam pesta pertungan itu. Haha, padahal kami ini saudara sedarah dan aku akan menolak jika umurku disandingkan dengan Luhan. Sudah jelas dia berpredikat sebagai seorang kakak.

Luhan besenandung kecil sembari menyisir rambutnya dengan jemari tangan.

“Hei,hei kau sengaja ya.” Luhan mulai lagi. Gerakan tangannya mengenai sisi wajahku.

“Tidak.” Luhan memasang ekpresi datar, berlagak tidak bersalah. Tangan yang terus menyisir rambutnya dengan sengaja menyenggol wajahku.

“Luhan, jangan begini. Sakit.” Tanganku terangkat menepis pergerakan tangan Luhan. Ketika hendak melayangkan pukulan ke bahunya, Luhan berjengit mundur dan tertawa-tawa riang.

“Jangan lari Luhan berhenti disitu.” Aku mempercepat langkah, saat Luhan hendak meninggalkan balkon. Menyambar lengannya dengan cepat dan langsung kuhadiahi dengan pukulan.

“A-aa. Kau ini wanita, tapi kenapa pukulanmu menjadi menyakitkan seperti ini?” Luhan berteriak heboh, ia mendengus kesal namun tetap membiarkan bahunya menjadi sasaran.

“Katanya manly, pukulan seperti ini mengapa bisa merasa sakit?” Pukulanku terhenti, lama-lama merasa lelah. Aku mencibir Luhan tak mau kalah, ia meringis tidak terima. Luhan menatapku dengan pandangan horor dipaksakan, ia mendekatkan jari-jemarinya menyentuh bagian leherku dengan gerakan menggelikan disana. Hei, aku tak pernah tahan dengan gelitikan.

“Aaaa, Luhan.!” Aku bergedik merasa geli, baiklah jika seperti ini lebih baik menyerah daripada gelitikan Luhan menjadi semakin menggila.

“Hentikan Luhan, baiklah aku kalah kali ini.” Aku tak peduli lagi Luhan menertawakanku yang sedang cemberut kesal sekarang. Ia terlihat puas dan segera menghentikan kenakalannya.

“Adik kecilku yang selalu kalah.”

“Aku bukan adik kecil lagi.”

“Alessa tetap adik kecilku.”

“Tidak”

“Ya”

“Tidak”

“Ya”

Ahh berdebat dengan Luhan memang tak akan pernah ada habisnya. Dia terkadang bisa menjadi sangat menyebalkan. Melalui ekor mataku dapat kulihat Luhan tengah menelisikku dengan ekspresi aneh.

“Seperti ini masih menolak dikatakan adik kecil. Lihat rambutmu, astaga! Tidak menyisir rambut ya?? Kusut sekali.” Luhan terlihat gusar. Jemarinya bergerak merapikan tepian rambutku yang sengaja kubiarkan tergerai berantakan sejak selesai mandi.

“Nah, sudah lebih rapi.” Luhan menepuk puncak kepalaku. Luhan adalah seorang figur kakak yang penyayang. Hal itulah yang membuatku merasa nyaman berada didekatnya. Luhan dapat berperan sebagai seorang sahabat dekat untukku.

“Sedang memikirkan apa Al? Kenapa diam saja.”

“Tidak, aku tidak memikirkan apapun.” Aku menyangkal. Namun, ikatan darah diantara kami membuat Luhan terlalu cepat memahami suasana hatiku.

“Keluarkan semuanya, Alessa . Apapun hal yang mengganjal dalam pikiranmu.” Aku terdiam, membiarkan tenggelam dalam keheningan. Akhir-akhir ini perasaan buruk cenderung menguasai diriku.

“Apa pertunanganmu dengan Pangeran Sehun benar-benar membawa beban? ”

“Pertunangannya telah berlalu. Aku dan Sehun tak ada hubungan apa-apa lagi Luhan.” Aku bergumam rendah, memikirkan perasaan Sehun saat ini. Rasa tak nyaman kembali menggelanyut pikiranku, mengingat aku belum berbicara apa-apa dengannya semenjak Ayah membatalkan pertunangan kami.

“Pembatalan pertunangan bukan berarti kau tidak dapat berteman dengan Sehun, Al.”

Apa yang dikatakan Luhan tidak salah. Aku hanya butuh sedikit waktu untuk memahami keadaan, menyadari bahwa beban berat itu tak sepenuhnya menghilang. Keadaan yang sempat menyulitkanku. Serasa diputar oleh masa, menyusuri malam peresmian pertunangan. Rongga dadaku merasa terusik oleh sesuatu yang sesak. Chanyeol, entah mengapa bayangannya selalu hadir disetiap bunga tidurku. Aku benci melihat keangkuhannya, tetapi hal itu juga yang membuatku mulai mengakui sesuatu. Aku mengenali perasaan ini, suatu hal yang menjadi mungkin. Perasaan ini bernama, rindu.

“Luhan…” Luhan menyentakkan kepalanya memutar tubuh membelakangi pinggiran balkon. Membiarkan hembusan angin mulai mengeringkan surai hitamnya. Kata-kataku terasa tercekat ditenggorokan. Sejatinya sebuah kebimbangan kembali mendaratkan bebannya dikepalaku. Nafas kasar Luhan terdengar satu kali sebelum ia akhirnya memutar bahuku untuk berhadapan dengannya.

“Al, aku tak suka melihatmu begini.” Aku tahu, Luhan berusaha menggali informasi lebih dalam melalui kedua bola mataku. Tidak, Luhan jangan cara seperti ini. Biarkan aku menyelesaikannya sendiri. Luhan menggelengkan kepalanya kasar, ia tak pernah memperlakukanku setegas ini sebelumnya.

“Berhenti Al. Kau hanya memikirkan suatu masalah tanpa berusaha untuk menyelesaikannya. Selama 17 tahun Al, aku membimbing dan tak pernah lepas mengawasi perkembangan adik kecilku.” Luhan mengambil nafas dalam sebelum meneruskan perkataannya kembali. Sebisa mungkin aku menunduk diam dan menutup portal pikiranku agar tak terbaca olehnya.

“Tak selamanya aku bisa berdiri disampingmu Al, namun bukan berarti aku benar-benar pergi. “

Luhan mengungkit keputusanku mengenai pertunangan yang paling kusesali. Pikiranku tak pernah bisa lepas dari peran seorang mind reader seperti Luhan.

“Tidak Luhan , aku tak pernah bermaksud menyalahkanmu. Segala yang telah berlalu, semuanya adalah kebodohanku. Aku menyesalinya.” Aku mendongak menatap wajah itu, memberikan akses untuk meyakinkan Luhan. Namun, salah besar. Cerminan jendela hatiku tak pernah berbohong dan sangat mudah terbaca oleh Luhan.

“Aku sengaja memberikanmu waktu, bukan berarti aku tidak peduli. Aku mengerti semua hal yang telah kau lalui. Aku bisa memahami dirimu tanpa kau pernah memintanya. Namun kau harus tau bagian terpentingnya, Al. Suatu hal yang paling membuatku bangga adalah melihat dari kejauhan bahwa adikku menjadi dewasa yang sesungguhnya.” Luhan berbicara rendah menyerupai bisikan pelan.

Selama ini aku tak pernah lepas dari sisi Luhan. Ia adalah kakak yang dengan penuh kesabaran selalu melindungi dan membimbingku. Tanpa Luhan, aku takut untuk sekedar melangkah lebih jauh. Tanpa Luhan, tidak pernah ada keberanian yang sanggup menyambutku hanya untuk memilih sesuatu. Aku layaknya anak kecil yang hanya dapat mengulum gulali dan berlindung dibalik tubuh sang kakak.

Luhan menemaniku disaat pertunangan itu, namun untuk pertama kalinya ia membiarkanku mengambil keputusan seorang diri. Bukan semata karena Luhan lelah, ia hanya ingin melihatku tumbuh dewasa dengan segala kepercayaan yang mulai Luhan berikan untukku. Tanpa sadar, setitik air mataku telah lolos keluar. Sangat percuma menyesali keputusan yang salah dan aku terlalu naif melimpahkan kesalahan kepada orang-orang yang menyayangiku. Dinding tekadku terlalu rapuh untuk menanggung kepercayaan Luhan.

Kulihat sudut bibir Luhan terangkat perlahan. Tanpa perlu kukatakan secara langsung, Luhan mengetahui segala hal yang baru saja kulimpahkan didalam pikiranku. Ia merengkuh tubuhku melingkari dengan kedua lengannya.

“Jangan berfikir terlalu menyeluruh Alessa. Itu hanya akan membuat semuanya menjadi lebih sulit”

Seperti yang pernah Luhan katakan, pikiranku ini nyaris seperti cermin raksasa. Terpencar ke segala arah dan pantulannya mudah terbaca hingga membuatnya turut kepayahan. Sungguh, saat ini aku merasa tak ingin berbicara apa-apa kepada Luhan. Namun, Luhan menggosok punggungku dengan sentuhan menenangkan.

“Kenali kata hatimu Alessa. Hati selalu bertalian dengan pikiran. Ketika kau mampu berfikir dengan jernih, hatimu akan merespon keyakinan sebagai sumber kekuatanmu.”

Tak semudah yang dibicarakan Luhan, aku terlalu goyah.

“Kegoyahan tak mungkin dapat kau singkirkan, dialah penuntun keyakinanmu. Ada kalanya keraguan justru akan menuntut hal yang benar terlihat lebih jelas. Ketika semuanya dapat berimbang, tidak perlu ragu lagi untuk memutuskan seberat apapun masalah yang kau hadapi.” Luhan melepas pelukannya dari tubuhku, ia mengangkat daguku dengan pelan. Menunjukkan senyuman khas seorang kakak terhadap adiknya.

“Jangan begini lagi, oke? Menangis terus-menerus membuat matamu menjadi bengkak mengerikan.“ Gerutuan kecil yang menggelitik membuat bibirku terangkat malu dan jemari Luhan bergerak menyeka kedua pipiku yang basah. Tanganku menghentikan lengan luhan dan mulai kuhapus sendiri jejak-jejak tangisan diseputar mataku. Ini memalukan, sudah seharusnya aku dapat berdiri sendiri tanpa bayangan Luhan. Aku ingin membuat usia kedewasaanku lebih berarti. Namun jangan salah, kasih sayang Luhan sebagai seorang kakak takkan bisa lenyap begitu saja, demikian juga rasa sayangku sebagai adiknya. Kurasa inilah kedalaman ikatan persaudaraan diriku dengannya.

“Luhan, aku ingin memulainya sekarang.” Aku berujar dengan menatap bola mata Luhan lekat-lekat. Jelas sekali Luhan tersenyum melihat pantulan tekad memancar dari dalam sorot mataku.

“Kalau begitu, selesaikan dengan perlahan. Ada seorang teman yang hendak menemuimu.” Hembusan angin yang tak biasa menerpa tubuh kami sesaat. Aku cukup tahu siapa teman yang Luhan maksud itu. Namun, entah mengapa harapan terdalamku menginginkan seseorang itu adalah Chanyeol. Kuakui, aku benar-benar merindukan tubuh hangatnya. Tak sadar, Luhan memperhatikan caraku tersenyum dengan tatapan aneh. Semoga saja dia masih menganggapku waras.

“Jangan lupakan sesuatu didalam sana,Al.”

Luhan mengerling bagian perutku. Perkataan Luhan membuat tubuhku mulai bergidik, mengelus perut rataku dengan samar. Lagi-lagi aku merutuk sandiwara kehamilan bersama Chanyeol. Entah sudah berapa kali aku mengelak ketika Dokter Ahn hendak memeriksaku. Sungguh, ini samasekali tak benar. Luhan terkekeh samar hingga menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Entah apa yang sedang Luhan pikirkan. Kepalanya menunduk rendah disamping telingaku.

“Sebentar lagi kau akan tahu rencana Pangeran Chanyeol itu Alessa.” Sebelah mata Luhan mengedip jenaka, tungkai kakinya terangkat perlahan dan punggungnya mulai menjauh memasuki ruangan lalu tak terlihat lagi dalam pandanganku.

.

.

.

.

.

Aku melangkahkan kaki menuju paviliun belakang. Udara disekitar tempat ini tergolong sejuk mengingat ragam pepohonan yang turut memberikan keteduhan layaknya kanopi hidup. Paviliun luas disini merupakan tempat untuk rehat sekaligus berfungsi sebagai ruang pertemuan jika Ayah kedatangan tamu untuk membawanya mengobrol santai.

Seorang pemuda tengah berdiri dipinggir jembatan kayu, aku melangkah dengan gerakan pelan mendekat melewati undakan kecil yang menghubungkannya untuk menyeberangi sebuah kolam yang terdapat dibawah. Pada air jernih dibawah sana, sekumpulan ikan karper terlihat meliuk-liuk dengan riang. Pemuda itu tak lepas memperhatikannya, sejenak ia menaruh perhatian padaku dan aku turut mengambil tempat berdiri disebelahnya.

“Hai.” Nada suaraku terdengar canggung menyapa pemuda yang saat ini berada dihadapanku. Dia adalah teman yang Luhan maksud, Pangeran Sehun. Pemuda itu mengulum bibir bawahnya lalu menyunggingkan senyuman terbaik yang pernah kulihat sebelumnya.

“Senang dapat melihatmu dalam keadaan sehat, Putri Alessa.” Sehun berucap sembari menunduk ramah. Baru kuingat bahwa pertahanan tubuhku sempat terserang demam selama beberapa waktu yang lalu. Seperti yang Luhan bilang, saat itu Sehun datang menjenguk. Sehun tampaknya menikmati kegiatannya, mengamati kawanan ikan-ikan koi. Sesekali ikan-ikan itu menyusuri lembaran daun teratai disela-sela aksi menyelamnya.

“Ah, sayang sekali ikan-ikannya telah diberi makan.” Sehun mendesah pelan. Ikan-ikan disini selalu menerima jatah makanan dengan tepat waktu setiap harinya. Sehun terlihat menyayangkan, kelihatannya dia sangat ingin melakukan hal itu.

“Jadwal memberi pakan untuk koi hanya diharuskan pada pagi dan sore hari nanti. Lewat dari itu Ayah tak lagi mengizinkan, beliau tak ingin ikan-ikan kesayangannya menderita keracunan karena terlalu banyak menerima asupan makanan. Begitulah yang Ayah katakan. Namun, sejujurnya aku tak begitu mengerti mengenai perawatan terhadap ikan.”

Pangeran Sehun tampak tertarik dengan penjelasan akhirku, ia menoleh sejenak dan tersenyum padaku. Garis mata miliknya terlihat selayaknya bulan sabit. Berada bersama Pangeran Sehun terasa sama seperti berbincang dengan Luhan. Ia memiliki aura tersindiri yang membuatku nyaman.

“Sayang sekali aku tak bisa melakukannya, nanti sore aku harus kembali.” Sehun akhirnya kembali menatap air jernih dibawah sana.Melihat aktivitas makhluk hidup lain terkadang dapat menyenangkan suasana hati.

“Tak masalah, lain kali Sehun bisa datang lagi kesini.” Aku sedikit menghiburnya. Sehun hanya mengangguk membenarkan. Selama beberapa saat membiarkan suasana diliputi keheningan.

“Alessa…” Sehun bersuara pelan, suasana ini mulai terasa kaku.

“Terimakasih atas semuanya. Semua yang telah Alessa lakukan.” Sehun menatap lekat sisi wajahku, pancaran lembut terefleksi melalui iris mata cokelat gelapnya. Arah pembicaraan ini tak lain dan tak bukan adalah persoalan pertunangan. Tapi, apa aku tak salah dengar? Sehun berterimakasih padaku?

“Mungkin kita berfikiran sama, bedanya aku tak bertindak lebih awal. Aku berusaha memberi celah terhadap perasaanku. Namun ternyata aku tak bisa mengorbankan perasaan orang terkasihku.” Pikiranku mulai mencerna perkataan Sehun. Kurasa ia sendiri tak bisa meninggalkan kekasihnya begitu saja hanya demi sebuah pertunangan yang dipaksakan. Aku paham akan hal itu, rasanya sangat sulit saat kau tetap bersikeras menaruh perasaan terhadap sesuatu yang sangat tak mungkin kau sukai. Siapapun gadis kekasih Sehun, dialah tambatan hati Sehun yang sesungguhnya.

“Ini akan sangat memalukan, tapi kurasa aku harus mengatakannya.” Kedua tanganku terjejal erat disisi tubuh, menanti apa yang akan Sehun utarakan. Pandangan Sehun yang lurus membuat ekspresi rahang tirusnya terlihat menawan dari samping.

“Alessa, aku berfikir sangat mudah membuat siapapun jatuh cinta saat pertama kali melihat paras indahmu. Aku adalah salah satu diantaranya.” Sehun menundukkan kepalanya dan berhenti bicara sejenak, seperti gerakan tersipu. Secara perlahan wajahnya mulai menatapku.

“Perasaan yang beragam, sama seperti halnya rasa cinta. Saat melihat matamu, ada keinginan untuk berbicara menghabiskan waktu yang lama. Hanya sekedar mendengarkan segala masalah yang mengganjal hatimu.” Aku tertegun, bahkan Sehun berfikir seperti itu tentangku.

“Rasanya terlalu sulit untuk menjangkau dirimu, sekalipun aku ingin memberi dorongan. Ketika melihatmu terbaring lemah, saat itu juga aku turut merasakan sakitnya.”

Sehun bergerak mendekat melingkarkan lengannya membawa tubuhku dalam pelukannya bersamaan dengan semilir angin beraroma mawar yang mulai berhembus ringan. Untuk sejenak cukup membuatku terkejut dan menegang. Sebelah tangan Sehun melingkar punggungku, sementara tangan satunya menyentuh surai belakangku dengan lembut. Entah mengapa semua pria hari ini memelukku.

“Namun, pada kenyataannya tak semua rasa cinta berujung sama. Seperti perasaanku terhadap dirimu, Alessa. Dimana dalam kesepianku ada seseorang yang ingin kulindungi. Pada dirimu aku menemukan semua hal itu, sosokmu layaknya seorang adik kecil yang kuimpikan.”

Terlahir sebagi seorang putra tunggal dari Kerajaan West Northwest, mungkin sedikit membebani Sehun. Mengingat persaudaraanku dengan Luhan, aku dapat membayangkan bagaimana rasanya jika menjadi putri tunggal. Tanpa teman untuk berbagi menghabiskan waktu yang membosankan. Berani bertaruh aku sendiri akan sangat kesepian jika terlahir tanpa adanya Luhan. Aku tersenyum penuh haru mendengar perkataan Sehun. Lenganku bergerak membalas pelukan itu, meluangkan suasana hangat bersamanya

.

.

.

.

.

Pangeran Sehun menghabiskan jam terakhirnya dengan makan siang bersama keluargaku. Posisi dudukku yang tepat berada diantara Sehun dan Luhan membuatku serasa memiliki dua orang kakak sekaligus. Selama makan siang berlangsung, Pangeran Sehun memuji ikan-ikan koi peliharaan Ayah. Ia mengatakan pada Ayah agar jangan memberinya makan terlebih dahulu saat Sehun merencanakan kedatangannya pada lain waktu nanti. Hal itu menimbulkan gelak tawa Ayah menggema ringan. Ayah menjawab bahwa Pangeran Sehun boleh mengantongi beberapa ekor ikan koi sebagai hadiah kunjungannya pada hari ini. Sehun turut tersenyum mendengarnya hingga garis matanya lagi-lagi membentuk lengukungan sabit. Sungguh melegakan melihat kehangatan hubungan Ayahku dengan Pangeran Sehun.

Bayangan senja datang dengan cepat, tanpa terasa segalanya berjalan ringan begitu saja. Aku baru selesai mengeringkan rambutku dan memilih merebahkan diri pada ranjang. Senyuman Sehun terlintas dikepalaku saat aku mengantarnya di pintu gerbang tadi. Ia mengacak rambutku dengan sayang persis seperti Luhan. Mengingat Pangeran Sehun yang telah memiliki kekasih, ia bahkan sempat mengatakan turut berharap pasangan yang terbaik untukku. Astaga, pasangan …. Aku sendiri bahkan belum memiliki gambaran mengenai pasanganku kelak.

Aku menarik tubuh dan bangkit berjalan menuju ambang jendela besar yang sengaja kubuka. Satu bulan terakhir aku merasa jendela ini mulai membeku. Seolah ada es dingin saat indera perabaku menyentuhnya. Pangeran Chanyeol tak pernah datang lagi kemari. Rasanya aku ingin menyangkal tidak merindukan pangeran angkuh yang satu itu. Namun ternyata hatiku sendiri dilanda rasa rindu yang teramat dalam. Padahal dulunya aku amat membenci tingkahnya yang tergolong menakutkan. Tetapi sekarang aku menginginkan kehadirannya, tidak hanya sebatas menghiasi malam saat aku tertidur lelap.

Suara ketukan pintu kamar benar-benar mengganggu waktuku sekarang. Astaga apa itu Luhan? Rasa malas menghampiriku, tak biasanya Luhan mengetuk pintu sebelum masuk.Semakin lama irama ketukannya terdengar tidak sabaran.

“Ya.. sebentar.” Cepat-cepat aku beralih pada lemari pakaian, dari piyama mandi berganti setelan santai.

Pintu besar kamarku terdorong saat aku baru saja hendak menarik gagangnya. Siapapun dia benar-benar tidak sabaran. Sosok itu muncul menyeruak dihadapanku dengan cengiran lebar menggelikan. Ternyata dia, tuan sok tampan.

“Taehyung? Apa yang kau lakukan disini?” Alih-alih mendapatkan jawaban, Taehyung merengkuh tubuhku dengan erat nyaris membuatku sesak nafas. Astaga ia begitu girang.

“Alessa, aku benar-benar merindukanmu.” Taehyung memekik kencang, bisa-bisa telingaku bermasalah setelah ini.

“Untuk apa kemari, Taehyung?” Aku bertanya terang-terangan sesaat setelah melepaskan diri dari pelukan maut itu. Hari ini bisa disebut hari berpelukan bersama Alessa. Setelah Luhan, Sehun kemudian Taehyng. Namun, serius. Pelukan Taehyung yang paling menyakitkan. Pemuda itu mengerucutkan bibir dan mengambil tempat di pinggir ranjangku untuk duduk.

“Hei, kenapa ditanggapi dengan sinis sih? Aku sengaja datang kesini untukmu. Membantu tugas Ayah sangat melelahkan.”

“Jadi , kau menemuiku sebagai pelampiasan? Lebih baik pulang saja.” Aku menggerutu kesal, Taehyung menambah daftar masalah dalam hidupku. Seperti biasa Taehyung itu kekanakan jika berhadapan denganku. Sekalipun dia adalah putra Perdana Menteri Han. Namun, untuk masalah penampilan fisik, Taehyung tergolong diatas rata-rata. Hal itu lah yang membuatnya sangat percaya diri menyatakan cinta pada wanita, termasuk padaku. Walaupun menurutku pribadi pernyataan cinta dari Taehyung kepadaku itu tergolong membingungkan.Dia seringkali datang lalu pergi entah kemana, persis seperti Chanyeol. Perbedaannya Chanyeol pergi dan kurasa tidak akan datang lagi. Astaga ini menjadi menyedihkan.

“Alessaa..” Rengekan itu lagi.

“Sudahlah, aku mau tidur. Pergi sana.” Taehyung menahan lenganku saat aku hendak menarik selimut dan merebahkan diri. Seringainya terlihat misterius.

“Astaga Putri Alessa, ini masih terlalu sore untuk tidur. Serius aku benar-benar merindukanmu dan aku punya sebuah penawaran bagus.” Wajahnya berbinar-binar menarik perhatian. Apapun yang Taehyung rencanakan, kedengarannya akan berbanding terbalik dari yang ia sebut dengan penawaran bagus. Taehyung mendekatkan bibirnya disampingku dan membisikkan suatu hal.

“Apa? Aragonight? Tidak mau.” Sudah kubilang kan, Taehyung tak pernah beres.Kau tahu Aragonight? Itu adalah night club terbesar di kota ini.

“Kenapa tidak? Kita akan bersenang-senang. Kudengar kau sering terlihat murung akhir-akhir ini. Ayolah Alessa, ada salah satu temanku yang berulang tahun disana. Aku menjamin semua masalahmu akan hilang dalam sekejap.”

Kata-kata yang sama seperti terakhir kali Taehyung mengajakku ke Aragonight 3 bulan lalu jika aku tak salah perhitungan. Dan aku sangat menyesal terjebak tipu kata-kata manis Taehyung untuk mengikuti pesta para remaja di Aragonight. Aragonight adalah sebuah night club mewah yang setara dengan yang sering Luhan datangi. Aku tak heran jika Luhan maupun Taehyung terbiasa bermain di night club semacam itu, mengingat mereka memiliki keistimewaan tersendiri disana. Adakalanya Aragonight diperuntukkan untuk pembahasan bisnis dikalangan pemuda. Tempat itu bisa disewa secara pribadi, tergantung keinginan. Bahkan Aragonight dapat diperuntukkan bagi penyelenggaraan pesta pernikahan. Namun, masalahnya jika dalam keadaan begini tempat itu benar-benar berisiko untuk seorang putri sepertiku. Aku lebih memilih meminum bergelas-gelas wine sendirian dikamar.

“Sekali kubilang tidak, ya tidak.” Aku membuang bantal kemuka Taehyung yang langsung ditangkapnya dengan mudah.

“Ehem.” Sebuah suara datang menginterupsi.Ekspresi wajah Taehyung sedikit berubah kaku saat melihat Luhan. Tahu-tahu Luhan sudah berada diambang pintu.

“Tuan Han menyuruhmu untuk segera turun.” Perkataan Luhan ditanggapi oleh hembusan nafas kasar dari Taehyung.

“Tugas lagi?” Taehyung mengerang, dia begitu menggemaskan ketika sedang tak bersemangat.

“Tidak bocah, kau diminta untuk menemaniku.” Luhan menukas cepat. Taehyung mengernyit tak senang disebut bocah.

“Menemani? Kemana?”

“Mendapatkan pelajaran penting.” Luhan berjalan mendekat menuju sofa disamping tempat tidurku. Saat pandangan kami bertemu , tak lupa Luhan melemparkan seulas senyuman hangat.

“Bersiaplah, turun dan tunggu aku dimobil.” Luhan kembali berkata. Taehyung mengerjapkan matanya sekilas. Pemuda itu selama ini memang banyak belajar bersama Luhan. Mengenai urusan pemerintahan maupun kemampuan pertahanan diri.

“Kita akan kemana?” Taehyung masih merasa tak paham. Aku rasa dia ingin berlama-lama bersamaku. Haha, dia itu.

“Astaga kau ini banyak bertanya.” Luhan menjadi tak sabar. Taehyung lalu bungkam, ia bangkit berdiri secara paksa. Terlihat sekali ia menyeret langkahnya dengan malas dan mencuri pandang untuk melihatku. Beberapa langkah didepan pintu, ia mendelik dan cemberut ketika aku melambaikan tangan dengan juluran lidah mengejek. Namun detik berikutnya Taehyung membalas dengan lambaian kecil sebelum akhirnya Luhan menatap tajam mengindikasikannya untuk segera pergi. Well, Luhan tak suka dengan seseorang yang sengaja memperlambat waktu. Namun hanya padaku Luhan sering berlaku istimewa. Ah, kakakku yang terbaik.

“Luhan, apa ada masalah?” Luhan menjawab dengan gelengan kecil. Ia bangkit berdiri dan mengatur boneka besar pemberian Sehun yang berada disampingku.

“Tidak ada.”

“Lalu, kalian akan pergi kemana?”

Luhan bergumam kecil, “Menemui seorang tamu. Ini pertemuan para lelaki, Alessa.” Luhan mengerjap misterius. Pertemuan? Ah pertemuan seperti apa yang Luhan maksud?

“Nah, sebaiknya Alessa bersiap untuk tidur.” Luhan menarik selimut hendak menutup separuh tubuhku.

“Tapi Luhan ini baru saja jam 8 malam.” Aku berargumen.

“Lalu sebentar lagi jam 9. Kuberitahu ya. Adikku yang cantik harus beristirahat dengan baik. Tidak boleh tidur terlalu larut, karena besok kau harus terbangun dalam keadaan bugar.”

Ya ampun, Luhan cerewet sekali hari ini. Dia tak henti menasehatiku panjang lebar hingga malam menjelang.

“Baiklah, bagaimana jika 45 menit lagi?” Aku mencoba menawar, “Setidaknya aku ingin membersihkan wajah dan memakai krim malam terlebih dahulu.” Luhan mengangguk pelan.

“45 menit lagi dan setelah itu harus sudah tidur. Jika tidak Ibu akan memarahimu.” Luhan terkekeh jenaka, mengingatkan masa-masa kecil kami. Kalimat itu yang sering Luhan katakan ketika aku merasa sulit untuk tidur. Padahal kenyataannya Ibu tidak marah, beliau akan datang dan meneman tidurku.

“Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri? Kau bahkan akan bersenang-senang hingga larut nanti. Iya kan?” Luhan mengerjapkan mata dengan cepat, kebiasaannya jika menyangkal perkataanku.

“Tidak Alessa. Kakakmu ini akan menemui seorang teman yang menyenangkan. Sudahlah kau tidak perlu tahu jika besok kau juga akan bertemu dengannya.”

Kenapa Luhan banyak merahasiakan sesuatu padaku hari ini? Lama-lama Luhan beralih julukan menjadi pangeran yang penuh rahasia. Aku hanya bergumam pelan, mengingat harus belajar menjaga sikap agar terlihat lebih dewasa.

“Hmm, jaga dirimu diluar sana Lu. Taehyung pasti sudah mengomel karena menunggumu di mobil sedari tadi.” Luhan tertawa kecil mendengar ucapanku, ia mengangguk lalu mencubit pipiku dengan gemas. Ah, sepertinya rencanaku berubah, kantuk mulai menyerang mataku memaksa untuk terlelap. Kurasakan sentuhan selimut yang Luhan benarkan menutupi tubuhku. Setelahnya terdengar secara samar suara langkah kaki menjauh diiringi suara pintu yang ditutup pelan.

.

.

.

.

.

.

.

“Ceritakan bagaimana tentang kuda kesayanganmu.”

“Namanya Alaric, dia adalah kuda yang paling gagah. Bahkan kakakku merasa iri ketika mencoba menungganginya.”

“Kris ingin menukarnya dengan kuda miliknya.”

“Tapi Kris tak akan pernah mendapatkan Alaric.”

“Luhan pernah menungganginya sekali, bukan?”

“Alaric mau mematuhi perintahku.”

“Itu karena Alaric seekor pejantan, dan Luhan terlalu cantik dimatanya.”

_

Terdengar suara-suara berbincang samar dari arah ruang keluarga. Sepertinya pembicaraan yang cukup menarik hingga menimbulkan deraian tawa menggema renyah seperti itu. Semoga saja mereka memahami keterlambatanku mengingat kurang lebih waktu setengah jam yang kugunakan tadi. Pelayan Yoon tak biasanya menyarankan gaun yang hendak kupakai, bahkan menilai penampilanku sebelum menghadiri pertemuan yang Ayah katakan. Aku mempercepat langkah memasuki ruangan keluarga. Pada salah satu sofa tunggal disana, Ayah terduduk dengan gaya santai. Disebelahnya terdapat Raja Jungsoo yang langsung melemparkan senyuman hangat ketika melihatku tiba. Mengherankan, hal seperti apa yang melibatkan Raja Jungsoo  berada di sini ? Ibu menuntun tanganku membimbing untuk duduk bersebelahan pada sofa panjang. Keadaan berangsur hening saat aku melangkah mendekat. Sementara Luhan tersenyum sekilas padaku sebelum akhirnya melanjutkan obrolan pada lawan bicara tepat disebelahnya.

Jatungku mencelos dan berdetak tak karuan. Air es terasa mengguyur tubuhku saat mendapati seseorang yang sedang asyik mengobrol bersama Luhan. Aku dapat merasakan obrolan mereka begitu akrab, menunjukkan seberapa intens kedekatan mereka. Pemuda itu terlihat menawan dengan setelan aristokratnya. Ia duduk dengan kedua kaki jenjang saling menyilang. Rambut cokelat gelapnya yang ditata dengan rapi membuat kesan kebangsawanan terpancar jelas. Wajah yang satu bulan tak kulihat itu semakin tampan, seolah Tuhan mengukirnya tanpa cela. Sepasang matanya bahkan terlihat bersinar penuh kharisma.. Tawanya rendah disela-sela berbicara bahkan hampir tak terdengar ketika Luhan menyampaikan sesuatu. Guncangan lembut oleh Ibu menyadarkanku untuk mendudukkan tubuh. Tanpa sadar aku menyebut nama pemuda itu dengan lirih.

“Pangeran Chanyeol…”

Pemuda itu menoleh, dengan tatapan yang memancarkan kelembutan. Perlahan bibir penuhnya yang kemerahan terbuka.

“Selamat pagi Putri Alessa…”

Satu suara berat yang terdengar mengagumkan. Sudut bibirku ini terasa terangkat dengan sendirinya, tak bisa lagi menahan untuk tersenyum. Seseorang yang kurindukan berada tepat dihadapanku sekarang.

Apakah Pangeran Chanyeol tamu penting yang Luhan maksud tadi malam?

Namun, bagaimana bisa Pangeran Chanyeol terlihat seakrab itu dengan Luhan?

Aku melayangkan tatapan tajam pada Luhan, ia langsung meringis menghindari kontak mata denganku. Luhan harus menjelaskan hubungannya dengan Chanyeol. Jangan katakan jika mereka adalah teman lama, teman akrab, sahabat atau sejenisnya. Aku mulai menduga Chanyeol memang bersekongkol dengan Luhan sejak awal.

“Ayah, sebenarnya pertemuan apa ini?” Aku menatap wajah Ayah, namun aku mengakui belum berani menatap Raja Jungsoo.

“Santai sebentar Alessa.” Ayah mengangkat cangkirnya dari meja. Aroma menenangkan dari teh hijau hangat pada salah satu cangkir didepanku memaksaku untuk turut menyesapnya sedikit. Aku berharap dapat tetap tenang, namun tak sepenuhnya berhasil saat ekor mataku menangkap pandangan Chanyeol yang tak lepas memperhatikan setiap pergerakanku.

“Alessa tidak apa-apa?” Ibu menghusap bahuku, beliau terlihat khawatir mengetahui raut wajahku yang berubah. Satu gelengan pelan cukup menjelaskan pada Ibu jika aku baik-baik saja, walaupun kenyataannya tidak. Aku meletakkan kembali cangkir teh pada meja dan menghirup nafas lalu mengeluarkannya pelan.

“Putri Alessa benar-benar cantik, Chanyeol.” Raja Jungsoo bersuara, pernyataannya terarah pada Chanyeol sekaligus kepadaku. Sebelumnya aku belum pernah bertemu dengan Raja Jungsoo seformal ini. Wajar, jika beliau berkomentar seperti baru pertama kali melihatku. Namun, aku merasa profilku telah diketahui oleh Raja Jungsoo.

“Alessa pasti bertanya-tanya mengapa penguasa kerajaan East Northeast dan putra bungsunya datang kemari.” Ayah berdehem pelan.

“Ada apa Ayah, apa mengenai hubungan bisnis bilateral kerajaan ? Jika benar, aku rasa tak seharusnya ikut bergabung disini.”

Ibu bertatapan dengan Ayah sejenak. Namun, Luhan yang paling santai memperhatikan pembicaraan ini.

“Ini akan menjadi pembicaraan yang panjang. Jungsoo, kau saja yang jelaskan.” Ayah melemparkan jawaban pada Raja Jungsoo disebelahnya.

“Kenapa harus aku? Aku pikir Chanyeol yang berhak berbicara tentang hal ini.” Raja Jungsoo terlihat enggan, pandangannya menatap Chanyeol lurus. Chanyeol merenggangkan lehernya dengan gerakan lemas. Helaan nafasnya meluncur pelan.

“Benar Alessa, pertemuan ini menyangkut hubungan kerajaan, terutama hubungan kita.” Butuh beberapa saat mencerna perkataan Chanyeol.

“Hubungan ? Hubungan seperti apa ?”

Raja Jungsoo bergumam halus dan menaikkan salah satu alisnya menatap Ayah.

“Jika dijelaskan mengenai hubungan kerajaan kita, akan menjadi semakin panjang bukan?” Garis-garis pada dahi Ayah menjadi semakin dalam mendengar perkaataan Raja Jungsoo.

“Kau masih sakit hati dengan masalah saham perusahaan wine itu? Bukankah sudah kujelaskan mengenai peraturannya?” Ayah berucap sinis mengenai sesuatu yang tak kumengerti.

“Aku tidak pernah merasa seperti itu. Asal kau tahu ya, sampai kapanpun aku akan tetap memperjuangkan sesuatu yang seharusnya dapat kumiliki. Lagipula yang kulakukan adalah menyelamatkan dirimu juga.” Raja Jungsoo membalas.

“Menyelamatkan apanya? Aku sangat mengenali watakmu yang sedikit serakah itu.” Raja Jungsoo tampaknya tidak terganggu dengan ucapan Ayah. Beliau malah tertawa hingga bahunya berguncang. Dua raja diruangan ini seolah mengabaikan yang lainnya, hanya membalas perkataan diantara mereka satu sama lain.

“Jika ingin menyebutku sangat serakah, katakan saja. Apa kau tak pernah beminat mendapatkan suatu hal yang paling baik dari segala hal yang baik? Aku menunjukkannya agar kau tak salah langkah kemudian menyesal.”

Ayah tampak berfikir dengan terdiam beberapa saat. “Jadi, maksudmu Pangeran Chanyeol adalah yang terbaik untuk putriku? Begitupun sebaliknya?”

Tunggu, apa maksud dari semua ini? Astaga dua raja ini samasekali tak memberikan kesempatan berbicara pada yang lain. Bahkan Ibu hanya menggeleng pelan memperhatikan mereka. Akhirnya aku menatap Chanyeol dengan penuh isyarat. Berharap ia dapat menghentikan semua hal ini dengan sedikit penjelasan untukku. Bagimana mungkin aku menjadi pembicaraan tapi tidak mengetahui permasalahan yang ada?

“Tepat seperti pemikiranmu Tuan Jin Hyuk. Tentu saja Putri Alessa adalah yang terbaik, dan hanya gadis terbaik yang pantas untuk pangeran terbaik sepertiku.” Astaga, kurasa bukan hanya aku yang tidak menyangka akan mendengar pernyataan Chanyeol yang seperti ini. Kadar kepercayaan diri yang terlalu berlebihan.

“Aku mengerti, namun aku masih meragukan ketulusan kalian.” Ayah menanggapi santai,kalian yang beliau maksud pastilah Chanyeol dan Raja Jungsoo. Tanpa disengaja gerakannya mengambil cangkir, bersamaan dengan gerakan Raja Jungsoo. Mereka saling berpandangan dengan tatapan datar.

“Aku sendiri dapat merasakan ketulusan hati Pangeran Chanyeol, sayang. Tepat ketika ia menyelamatkanku dari kebakaran beberapa waktu lalu.” Ibu turut bersuara pada Ayah kali ini, dan pernyataannya membuatku tak bisa untuk tidak bertanya.

“Apa yang sebenarnya terjadi denganmu dan Chanyeol,Ibu?” Dalam hati aku masih menduga kebakaran disebabkan oleh Chanyeol, walaupun penyelidikan menyebutkan bahwa kebakaran itu murni diakibatkan human error. Aku tak menyangka jika benar Chanyeol yang menyelamatkan Ibu.

“Ya, Alessa. Ibu sudah hampir tak sadarkan diri dan memilih menyerah saat terjebak di ruang penyimpanan. Bahkan Ibu berfikir riwayat Ibu akan berakhir hari itu. Jika tak ada Chanyeol, Ibu mungkin tak lagi berada disini.” Ibu menjelaskan dengan lembut, seketika jantungku kembali mencelos mendengarnya. Kurasa semua orang diruangan ini baru mengetahui faktanya. Raut wajah Raja Jungsoo sendiri terlihat menunjukkan keterkejutan sekaligus bangga pada putra bungsunya.

“Jangan pernah berfikir hal aneh lagi sekarang, Bu. Semuanya sudah berlalu.” Chanyeol berkata sopan. Dari caranya memandang Ibu, aku merasakan ia melakukannya dengan tulus. Bahkan, ia memanggil Ibu dengan sebutan sama seperti aku dan Luhan memanggil beliau. Jelas menunjukkan mereka telah berkenalan dengan baik sejak saat itu.

“Benarkah itu sayang? Bagaimana mungkin kau tidak memberitahuku?” Ayah berdecak sebal pada Ibu.

“Bagaimana kau akan tahu jika setiap kali aku ingin berbicara mengenai Pangeran Chanyeol selalu saja dicela.” Cecar Ibu tak kalah kesal. Ayah tetap mengatupkan bibirnya pertanda tak dapat berkata apa-apa lagi pada Ibu.Diam-diam baik aku, Chanyeol, Luhan maupun Raja Jungsoo berusaha menyembunyikan senyuman simpul.

“Kau memang selalu menang, Jungsoo.” Ayah mengela nafas berkata merujuk pada Raja Jungsoo, namun dengan pandangan lurus menatap Chanyeol. Raja Jungsoo hanya tersenyum penuh kepuasan.

“Baiklah, Alessa. Kau pasti setuju kan jika menikah dengan Pangeran Chanyeol?” Kali ini Ayah melemparkan pertanyaan paksa padaku dengan tatapan serius.

“A-apa? Bagaimana mungkin menikah? Ayah, aku tidak kenal dekat dengan Pangeran Chanyeol.” Aku menyela dengan bibir bergetar. Perkataanku menyebabkan tatapan kebingungan pada tiap wajah. Berikutnya suara decakan halus dari bibir Luhan terdengar.

“Tapi Alessa sudah tidur bersama Chanyeol.” Nafasku terasa tercekat ditenggorokan mendengar Luhan yang asal bicara itu, walaupun kenyataannya memang benar.Rona panas terasa memenuhi pipiku, apalagi saat melihat seringai dari sudut bibir Chanyeol. Apalagi ini, setelah pertunangan lalu sekarang disodori pernikahan. Bagaimana aku tidak terkejut? Saat menatap Luhan, pemuda itu hanya tersenyum-senyum dengan ekspresi aneh.

“Ayah, bagaimana jika Luhan yang menikah terlebih dahulu?” Aku menjawab kembali. Seketika Luhan mendelik disusul tatapan Ayah yang beralih padanya dengan gelengan tak yakin.

“Aku? Aku akan menikah setelah memastikan Alessa mendapatkan pendampingnya.” Luhan tersenyum padaku dengan puppy eyes khas miliknya. Entah kenapa melihatnya membuatku menjadi terharu. Aku merasa selama ini Luhan turut serta mengatur pertemuan orang-orang disekitarku, termasuk Chanyeol. Kuakui bertemu dengan Chanyeol tak begitu buruk. Hei, apa ini artinya aku menyetujui pernikahan yang di ajukan?

“Ya, dan calon pendamping Putri Alessa sudah berada disini.” Raja Jungsoo menimpali. Tunggu, bukankah Chanyeol pernah mengatakan jika ia sudah memiliki calon pendamping?

“Ayah menunggu calon tunggalmu, Luhan. Jangan menggunakan alasan itu untuk bermain terlalu sering dengan para gadis. Kau tahu, Ayah tak suka mendengar namamu terkenal dalam jejeran pangeran playboy.” Air muka Luhan berubah mengkerut pahit saat Ayah menatapnya tajam disertai kata-kata yang turut menajam tegas. Chanyeol tampak menepuk-nepuk punggung Luhan dengan ekpresi prihatin. Biasanya Ayah tak mempermasalahkan mengenai hobi Luhan, namun kali ini akhirnya anak itu mendapatkan peringatan keras. Di hatiku yang paling terdalam disana, aku tertawa terbahak.

“Jadi, kapan pernikahannya dilaksanakan? Kita harus mengatur waktu yang tepat.” Raja Jungsoo menyela tak sabar. Astaga tidakkah semua orang diruangan ini mau mendengar persetujuan dariku dulu? Semua lelaki disini berwatak sama, sangat suka bertindak dari sudut pandangnya saja.

“Jangan 3 bulan kedepan, jika tak salah itu bertepatan dengan perayaan lampion nasional. Semua orang akan sangat sibuk mempersiapkannya.”

“Kita rayakan saja bersamaan dengan pernikahan Chanyeol dan Alessa.”

“Aku tidak setuju, sangat terkesan sebagai perayaan ganda tanpa unsur istimewa pada tanggal-tanggal itu.”

“Bukankah kedua hal itu akan membuat suasana semakin semarak?”

“Kurasa tidak.”

“Mengapa tidak?”

“Bukankah sudah kujelaskan tadi?”

Nah, bisa dengar sendiri kan, lagi-lagi kedua raja itu berdiskusi sendiri. Ibu kembali menggeleng, Luhan menggembungkan pipinya pertanda bosan dan Chanyeol hanya menatap datar perdebatan ayahnya.

“Bagaimana jika Chanyeol dan Alessa sendiri yang tentukan?” Ibu bersuara untuk menengahi. Ayah dan Raja Jungsoo akhirnya terdiam dan saling menatap setuju. Keadaan hening mulai melingkupi ruangan namun malah membuatku menjadi gugup. Aku melihat adanya pergerakan tubuh Chanyeol, ia menarik tubuhnya dari sofa. Hanya perlu beberapa langkah hingga akhirnya ia berada dihadapanku mengisyaratkan untuk berdiri. Aku menyadari aroma soft maskulin  memabukkan yang menguar dari tubuhnya.

“Kau datang melalui pintu?” Aku menyuarakan bisikan pada Chanyeol sesaat setelah berdiri berhadapan dengannya, tak tega dengan pandangan menanti dari setiap pasang mata.

“Tentu saja. Apa kau terkejut melihat kedatanganku yang resmi seperti ini?” Kedatangan resmi dia bilang? Suara beratnya mengalun disamping telinga membuatku bergidik takjub.

“Pernikahan ini tidak akan terjadi.” Aku berkata sedikit tegas namun dengan suara tetap pelan menyadari posisi kami yang tepat berada di hadapan mereka. Chanyeol menyentuh bahuku, kurasakan tangan kirinya yang tertutup sarung tangan mendarat lembut.

“Kenapa menurutmu tidak?”

“Karena kau sudah memiliki kekasih, calon pendampingmu. Jadi lupakan saja pernikahan paksa ini.” Aku menjawab lirih.

“Calon pendampingku itu ada dihadapanku sekarang.”

Aliran darahku berdesir aneh saat Chanyeol mengatakannya. Bagaimana mungkin?

“Tapi kita tidak saling mencintai.”

“Tapi aku menyukaimu, apa kau tidak menyukaiku?” Chanyeol menukas tergesa.

“Tidak.”

“Apa kau yakin dengan ucapanmu?” Nafasku terasa sesak, sensasi hangat mulai menjalari tubuh ini. Chanyeol meremas pelan bahuku, mencoba mengancam. Bergelut dengan pemikiran sendiri, sejujurnya jawabannya adalah tidak.Aku ragu jika kukatakan tidak menyukainya. Karena saat ini aku berusaha mengatur jantungku agar berdegup secara normal. Lalu suara degupan jantung lain terdengar begitu jelas ditelingaku, dan kuketahui itu adalah milik Chanyeol.

Will you marry me, Alessa?”

_

_

Lidahku mendadak kelu untuk mengutarakan jawaban. Putaran waktu terasa berhenti sejenak. Hanya anggukan samar yang bahkan aku tak yakin Chanyeol akan memahami atau tidak. Disela-sela pemikiranku, aku mengharapkan Chanyeol akan mengerti jawabanku. Daguku ini mulai terangkat oleh sentuhan jemarinya. Sementara tangan sebelah Chanyeol menarik bagian kepala belakangku untuk mendekat. Yang kulihat terakhir sebelum memejamkan mata ialah bibir penuh Chanyeol yang melumat bibir mungilku dengan lembut. Perlahan aku membiarkan benda disebelah kiriku berdetak seirama tautannya yang menghangat dan semakin dalam. Aku tahu.. perasaan ini disebut…cinta. Aku menyukainya…

_

_

_

_

_

END

¶ Gimana endingnya? Mian yah banyak kekurangan, saya tergolong  ga lihai bikin ff,  harap dimaklumi -___-

Thanks all! For reading, like and comment

 

5 thoughts on “Win Over Deluxe [3/3]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s