The Night Mistake (Chapter 1)

The Night Mistake part.1 - EXO

The Night Mistake – Part.1

By : Ririn Setyo

Park Chanyeol || Song Jiyeon || Oh Sehun

Other Cast : Kim Jongin || Yang Yoojin || Byun Baekhyun

Genre : Romance ( PG – 16)

Length : Chaptered

FF ini juga publish di blog pribadi saya dengan cast yang berbeda  http://www.ririnsetyo.wordpress.com

4 Hours Before The Night Tragedy

The Amor House – Soledad Liete Carrillo

Jiyeon’s Room – 06.00 pm

Mempersiapkan penampilan di depan kaca setengah badan sudah ditekuni Jiyeon sejak dua puluh menit lalu, dia kembali menatap seragam baru yang baru di dapatnya kemarin. Seragam untuk karyawan yang sudah melewati masa percobaan tiga bulan di hotel mewah bintang lima tempat Jiyeon bekerja, sebagai rekomendasi dari seorang teman kepala panti yang kini tengah memandangi Jiyeon dari atas ranjang tidur Jiyeon yang berukuran kecil.

“Sayang kau sudah terlihat cantik,”

Wanita paruh baya dengan aksen Korea yang masih terdengar aneh walau sudah mengabiskan setengah umurnya di negara gingseng itu, bangkit dari atas ranjang, menghampiri Jiyeon. Wanita cantik, senyum hangat dan beriris layaknya samudra yang mampu menenangkan siapa saja yang sempat memandangnya. Dia mengenakan kemeja putih, rok panjang berwarna cokelat, rambut panjang bergelombang sewarna hazelnut yang menjadikan wajah senja wanita itu masih saja terlihat sangat cantik dan bersahaja.

“Ibu— aku merasa sangat senang hari ini, mereka bilang kerjaku sangat bagus dan mereka memberiku kesempatan untuk menjadi salah satu karyawannya.”

Wanita itu —Soledad Liete Carrillo— tersenyum seraya membelai saying kepala Jiyeon. Wanita asli Spanyol yang menemukan Jiyeon di rumah sakit, tepat di hari gadis itu kehilangan kedua orangtuanya. Wanita penuh kasih yang menyayangi anak-anak yatim piatu dan anak-anak terlantar yang dijadikan keluarganya, berkumpul di sebuah rumah panti bersama suami tercintanya— Coraimo Lopez Carrillo.

Tangan Soledad kembali membelai kepala Jiyeon, mengerakkan jemarinya, dia mengepang rambut panjang Jiyeon hingga terlihat lebih rapi.

“Bekerjalah dengan baik dan doaku selalu menyertaimu, Jiyeon Sayang.” Jiyeon tersenyum saat Soledad —wanita yang sudah Jiyeon anggap sebagai ibu kandungnya— mencium keningnya dan memeluknya sekilas, kebiasaan wanita itu sejak dulu jika ada anak asuhnya ingin pergi keluar rumah.

“Ingat jangan pulang sebelum Coraimo menjemputmu.”

“Iya!”

~000~

8 Hours Before The Night Tragedy

Hemelsky Enterprise

Chanyeol’s Office Room

Chanyeol tertawa lebar dengan tender yang baru saja dimenangkannya, tender untuk membangun sebuah Casino mewah di Macau. Sebuah wilayah kecil di pesisir Tiongkok yang merupakan daerah Koloni Eropa tertua di Tiongkok, daerah dengan perbaikan ekonomi yang sikniftikan hingga berhasil melirik sejumlah investor asing untuk menanamkan saham mereka.

“Ini benar-benar hebat Chanyeol, kau bahkan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menarik banyak investor di pembangunan Casino ini,”

Sehun berujar, sejak tadi dia terus tertawa senang dengan keberhasilan Chanyeol, memberi tepukan bangga di bahu Chanyeol lalu merangkulnya pelan. Mereka berdua tertawa untuk keberhasilan besar mereka hari ini. Sebenarnya ini bukan tender untuk Chanyeol, melainkan untuk sepupu dekatnya Oh Sehun. Sepupu laki-laki dari pihak keluarga almarhum ayahnya, sepupu yang sudah dianggap seperti adik kandungnya sendiri oleh Chanyeol. Dan sejak dulu pulalah seorang Chanyeol, akan melakukan apa saja demi sebuah senyum dari sepupunya, Oh Sehun.

Chanyeol adalah pemilik dari sederet apartement dan perumahan mewah tersebar di seluruh penjuru Korea Selatan hingga benua Eropa, laki-laki yang juga merupakan pemilik dari The Hemelsky Resort Hotel yang ada di Macau. Hotel mewah ala Las Vegas yang elegant dengan 3.000 kamar berluas 70 meter persegi.

Hotel yang juga di lengkapi kanal sepanjang 150 meter, 30 restaurant, outdoor lagoon dengan 11 kolam renang Olympic dan 51 autentik Gondola Italia lengkap dengan penyanyi dan pendayungnya. Hingga mampu memberikan pengalaman tak terlupakan bagi semua yang sempat menginap disana. Sedangkan Oh Sehun adalah pemilik dari sederet pub mewah yang tersebar di Korea dan Jepang.

“Ini belum seberapa jika dibandingkan dengan apa yang sudah kau lakukan untukku, Sehun. Kau lupa jika kau sudah meminjamkan ayahmu untukku? Memberikan bahumu saat aku tak mampu menatap dunia ketika ayah meninggalkanku delapan belas tahun lalu?”

“Hey! Ayolah kenapa kau selalu mengungkit masalah itu, ayahmu adalah kakak ibuku— itu berarti ayahku ayahmu juga, kita saudara, benar begitu ‘kan?” Chanyeol mengangguk pelan. “Aku rasa tidak ada istilah balas budi diikatan persaudaraan, aku benar lagi ‘kan?” Chanyeol kambali mengangguk setuju.

Ah! Ayo kita keluar, kita harus merayakan hal besar ini dengan bersenang-bersenang. Jongin baru saja memberiku kabar jika ada barang baru yang bisa kau cicipi malam ini,” Ucap Sehun seraya mengedipkan sebelah matanya penuh arti.

Dengan melihat semua kemewahan yang dimiliki keduanya, mereka berdua tumbuh menjadi pribadi yang terbiasa hidup dalam semua kesenangan duniawi yang menggelapkan mata. Dan selanjutnya yang terdengar hanyalah gelak tawa yang mengiringi langkah keduanya keluar dari ruang kerja Chanyeol.

~000~

5 Hours Before The Night Tragedy

Parkheur Paradise Hotel

Jongin’s Luxury Private Room

Suara bising dari alunan music yang keluar karena gesekan piring hitam dari sang disc jockey, semakin menyemarakkan pesta besar yang diadakan Sehun untuk merayakan kemenangannya dengan Chanyeol. Aroma wine dan asap dari cerutu mahal menguar di segala penjuru ruangan ekslusif milik pengusaha hotel, Kim Jongin.

Beberapa pelayan super sexy tampak berkeliaran membawakan makanan dan minuman untuk Sehun dan Chanyeol, ditemani beberapa wanita cantik bertubuh tinggi semampai dalam balutan pakaian sexy super mini di atas sofa panjang di dalam ruangan. Di tengah ruangan juga terdapat lima penari Stripper yang meliuk indah di atas meja besar dengan tiang-tiang penyangga, menyajikan tarian sexy yang menggoda hormon testisteron laki-laki yang memandang mereka.

Chanyeol tertawa bersama beberapa lelucon yang dia berikan untuk para gadis cantik yang mengelilinginya, melirik Sehun yang terlihat sibuk mencium seorang gadis hingga pakaian gadis itu merosot hingga melewati dada. Chanyeol bahkan hanya tertawa saat Sehun terdengar mengerang saat dirinya mengingatkan laki-laki itu untuk melanjutkan aksinya di dalam salah satu kamar hotel.

Oppa— malam ini kau harus menghabiskannya bersamaku, aku punya sesuatu yang lebih indah dibanding mereka semua,” ucap salah satu wanita yang sedari tadi bergelayut manja di lengan Chanyeol.

Chanyeol pun tersenyum penuh arti seraya menarik tengkuk gadis itu, mengecup bibir gadis itu lembut lalu memberikan lumatan dalam yang panjang tanpa jeda bernafas. Semakin menarik tubuh gadis itu merapat, mengulum seluruh permukaan bibir gadis itu, mengejar kemana pun bibir gadis bergerak hingga terdengar desahan tak tertahan dari gadis yang bahkan tak mampu menggerakkan tubuhnya karena Chanyeol menghimpitnya rapat.

Chanyeol tersenyum disela-sela lumatannya yang tak berjeda, saat merasa jika gadis yang berada di bawah himpitannya sudah tak mampu membalas kecupannya, gadis itu tak mampu bernafas dalam kuluman Chanyeol yang memabukkan jiwa. Chanyeol menjauhkan bibirnya, menatap gadis yang terlihat tersengal, bibirnya membiru. Chanyeol mengerakkan tangannya, mengusap bibir gadis itu lembut lalu berbisik dengan suara beratnya yang dibuat serendah mungkin.

“Aku hanya butuh gadis yang punya nafas panjang saat aku menciumnya, karena aku tidak pernah suka jika harus berhenti padahal aku belum selesai melakukan ciumanku, kau mengerti?”

Chanyeol menjauhkan tubuhnya, dia kembali meminum wine yang tersaji di atas meja, meneguk bergelas-gelas wine seraya beranjak pada penari Stripper di atas panggung. Ikut dalam euforia malam yang menggetarkan hasrat jiwa yang mulai bergejolak di dalam tubuhnya, gejolak untuk menyatukan dirinya dengan seorang gadis dalam desahan bergairah hingga pagi menjelang.

Chanyeol menoleh saat tiba-tiba Sehun menariknya turun dari atas meja, menahan kegiatan Chanyeol yang baru saja ingin melepaskan pengait pakaian dalam penari Stripper yang menari bersamanya.

“Aku sudah menyiapkan hadiah manis untukmu saudaraku, datanglah ke kamar 0419 dan nikmatilah hadiahmu,” ucap Sehun santai, satu tangannya merangkul tubuh seorang gadis yang sibuk menciumi lehernya, membuat laki-laki tampan itu bergegas berlalu dari hadapan Chanyeol menuju kamar hotel untuk menyelesaikan pekerjaannya bersama gadis yang dirangkulnya.

~000~

2 Hours Before The Night tragedy

Room – 0419

Jiyeon berjalan pelan menuju kamar selanjutnya yang akan dia bersihkan, mengeluarkan sebuah kartu yang menjadi akses untuk para cleaning servis masuk ke dalam kamar. Membersihkan dan menyiapkan kamar seharga ratusan ribu won itu, sebelum tamu yang datang menggunakan kamar mereka.

Jiyeon bergerak cepat membersihkan tiap sudut ruangan, tak melewatkan semua bagian hingga ke dalam kamar mandi. Gadis itu mengeluarkan secarik kertas yang menerangkan permintaan khusus dari tamu eksklusif hotel, dan kamar yang sedang dibersihkannya meminta bathtube terisi penuh dengan air hangat.

~000~

1 Hours Before The Night Tragedy

Room – 0419

Dengan pandangan yang mulai mengabur Chanyeol berusaha untuk memasukkan password pada sebuah monitor yang tertempel di pintu, dia tertawa pelan saat dirinya berkali-kali gagal menekan nomor yang sudah diberitahukan Sehun sebelumnya. Chanyeol memadang pintu cegukan sesekali terdengar keluar dari kerongkongannya, wine yang diminumnya terlalu banyak tapi Sehun tidak mabuk, dia hanya sedikit sakit kepala, sebagian dirinya tengah menahan perasaan aneh yang menjalari pikirannya, membuat tubuhnya merasa sedikit panas dan berkeringat.

Tawa sumbang Chanyeol terdengar saat laki-laki itu mendorong pintu dan seketika pintu terbuka, memukul pelan keningnya ketika sadar jika ternyata pintu itu tidak terkunci. Chanyeol mulai melangkahkan kakinya, memasuki kamar hotel yang terlihat benderang, semua lampu dibiarkan menyala. Chanyeol membuka jas hitamnya dan membuangnya asal, melonggarkan dasi yang melilit longgar di lehernya. Laki-laki itu tersenyum saat mendengar gemericik air dari arah kamar mandi, merasa sedikit tak sabar dengan permainan yang akan dia mainkan malam ini.

 

Bukankah Sehun bilang yang kali ini masih baru? Itu berarti dia akan bermain sedikit lembut dan tidak perlu terburu-buru. Pikir Chanyeol bersama semua sensasi yang mulai terbentuk di otak mesumnya.

 

Chanyeol melepaskan kemejanya hingga hanya menyisakan singlet putih, mencetak otot perutnya yang sempurna. Dia merasa jika sesuatu yang bergejolak dalam tubuhnya sudah tak tahan untuk keluar, membuat laki-laki itu semakin merasa tidak bisa menunggu lebih lama. Entahlah Chanyeol hanya merasa sangat bergairah malam ini. Pintu kamar mandi terbuka menampilkan sosok Jiyeon dengan seragam yang menurut Chanyeol terlalu tertutup dan terlalu biasa, untuk ukuran gadis penghibur bagi kalangan atas seperti dirinya. Namun tak bisa Chanyeol pungkiri jika paras gadis itu sangat cantik, walau tanpa dandanan berlebih yang biasanya melekat pada seorang gadis penghibur.

“Hi!”

Hanya satu kata yang keluar dari bibir Chanyeol, matanya menatap intens sosok gadis yang terlihat masih terkejut di ambang pintu kamar mandi. Jiyeon menunduk hormat, mengeluarkan kata maaf berkali-kali, suaranya terdengar sangat lembut di telinga Chanyeol membuat laki-laki itu semakin merasa ingin mencicipi gadis itu.

“Kemarilah,—“

Chanyeol mengerakkan tangannya, sedikit memiringkan wajahnya, matanya mengerjab, dia berusaha menajamkan penglihatannya yang kembali mengabur. Namun bukannya mendekat Jiyeon justru kembali meminta maaf pada Chanyeol, dia mengerutkan dahi.

Apa harus sesopan itu? Gadis yang lucu, pikir Chanyeol dalam benaknya.

“Maafkan aku Tuan, aku terlambat keluar dari kamar ini setelah membersihkannya satu jam yang lalu. Aku akan pergi sekarang, jika Tuan membutuhkan sesuatu Tuan bisa menghubungi kami melalui telepone.”

Segera Jiyeon berjalan menuju pintu sesaat setelah membungkukkan tubuhnya, merasa terkejut saat pintu itu tak bisa dibuka dengan kartu akses hotel yang dibawanya. Jiyeon pun semakin terkejut saat tangan dingin Chanyeol sudah menarik lengannya kuat, membuat gadis berbalik hingga kini berdiri berhadapan dengan laki-laki itu.

“Kau mau kemana? Bukankah pekerjaanmu belum selesai?”

Chanyeol menatap Jiyeon intens, menelusuri tiap bagian wajah Jiyeon yang terpahat begitu sempurna. Chanyeol menarik sudut bibirnya saat Jiyeon berusaha melepaskan genggamannya, merasa mulai tertarik dengan perlawanan Jiyeon yang menurut Chanyeol justru menambah daya tarik dari gadis itu.

“Apa yang Tuan inginkan? Tolong buka pintu ini Tuan, pekerjaanku sudah selesai.”

Jiyeon memohon, wajahnya mulai terlihat takut, Chanyeol menekannya di depan pintu, gadis itu benar-benar lupa jika kartu akses hotel hanya bisa membuka pintu dari luar bukan dari dalam. Dan hanya pemilik kamarlah yang bisa membuka pintu hotel dari dalam dan dari luar setelah pintu pertama kali tertutup.

“Apa? Sudah selesai katamu, kita bahkan belum memulainya Sayang.”

Chanyeol semakin mendekatkan wajahnya pada Jiyeon, Jiyeon sampai bisa mencium aroma wine yang menguar dari deru nafas Chanyeol yang menerpa wajahnya. Wajah Jiyeon pucat, dia berusaha mendorong Chanyeol menjauh, namun tekanan lengan Chanyeol yang berada di bahunya sangat kuat, Jiyeon hanya mampu memalingkan wajahnya saat Chanyeol menempelkan dahi mereka.

“Sepupuku sudah membayar mahal untuk tubuhmu ini, bagaimana mungkin kau bisa keluar dari kamar ini begitu saja,”

Tangan Chanyeol bergerak menyentuh wajah pucat Jiyeon hingga tubuh gadis itu bergetar, deru nafas ketakutan Jiyeon mulai terdengar. Jiyeon pun kembali berusaha mendorong Chanyeol, berusaha menjelaskan jika laki-laki itu salah sasaran.

“Aku— aku hanya pelayan hotel ini Tuan, bukan— bukan gadis yang disewa sepupumu.”

Tawa Chanyeol menggelegar, dia mengacak rambut pirangnya asal, mata hitamnya terus memandangi wajah ketakutan Jiyeon.

“Jadi— kau mau bilang kalau aku salah masuk kamar? Ah! Sayang sekali— meskipun aku salah, kau akan tetap di sini menemaniku hingga pagi.”

Dalam satu gerakan Chanyeol menarik Jiyeon dan menghempaskannya di ranjang, dia merasa cukup untuk acara basa basi tidak penting karena sungguh Chanyeol tak mampu lagi menahan sebuah hasrat yang bersemayam begitu kuat di dalam tubuhnya saat ini. Laki-laki itu juga tidak begitu paham dengan itu yang pasti Chanyeol membutuhkan tempat, untuk meluapkan semuanya sekarang juga.

Jiyeon memundurkan tubuhnya hingga tersudut di ujung ranjang, Chanyeol mulai merangkak menaiki ranjang. Laki-laki itu menyeringai, tubuhnya semakin mendekati Jiyeon, mengabaikan air mata ketakutan Jiyeon yang mulai turun dari sepasang mata beningnya yang melebar.

“Tuan aku mohon— aku benar-benar bukan gadis yang kau maksud,” Jiyeon mulai terisak saat Chanyeol hanya tersenyum miring dan melepaskan singlet yang melekat di tubuhnya.

“Sudah terlambat,”

Jeritan Jiyeon terdengar saat Chanyeol menarik tangan gadis itu hingga tertidur di atas ranjang, tanpa perasaan Chanyeol mulai mengerayai tubuh Jiyeon yang bergetar, merasa jika tubuhnya telah berada di puncak hasrat laki-lakinya hingga tak mampu lagi berpikir, selain untuk mencumbu gadis yang semakin menangis saat Chanyeol melepas paksa seragam pelayan yang dikenakan gadis itu.

Jiyeon menjerit, dia mendorong tubuh Chanyeol yang semakin menghimpitnya, menggerakkan kepalanya dengan segenap tenaga yang dia punya. Chanyeol mulai menciumi bibirnya kasar, mengunci pergelangan tangan Jiyeon hingga gadis itu tak mampu lagi mengerakkannya, Chanyeol melumat bibir gadis itu, hasrat tubuhnya semakin membumbung tinggi tak tertahan.

Bahkan teriakkan ketakutan gadis itu terdengar begitu menggoda di telinga Chanyeol, penolakan gadis itu juga justru membuat Chanyeol semakin merasa bergairah. Chanyeol melepaskan satu-satunya kain yang masih melekat di tubuhnya, menatap dengan nafsu yang tak terkendali pada tubuh polos Jiyeon, dan selanjutnya Park Chanyeol— malam itu pada akhirnya merenggut kehormatan gadis itu. Kehormatan gadis yang bahkan tidak dia ketahui namanya.

~000~

Jiyeon menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya, menangis, seluruh tubuhnya bergetar hebat. Mata sembab gadis itu menatap sosok laki-laki yang masih tertidur, setelah memuaskan hasrat biadabnya beberapa jam lalu. Laki-laki yang tidak dikenal Jiyeon sedikit pun, laki-laki yang akan selalu Jiyeon ingat sampai kapan pun.

Perlahan Jiyeon bergerak ke ujung ranjang, menapakkan kaki bergetarnya di atas lantai hotel yang terasa dingin hingga semakin membekukan tubuhnya, dia memungut pakaiannya dengan tangan yang semakin bergetar. Isak tangis gadis itu terdengar begitu pilu, dia kembali mengingat kejadian menakutkan yang membuat tubuhnya beku dalam ketakutan. Perlahan gadis itu meraih pakaian laki-laki itu, mencari sesuatu yang mungkin bisa menjelaskan siapa laki-laki itu yang sebenarnya.

Jiyeon terdiam saat tangannya meraba sebuah kartu nama yang ada di saku jas laki-laki itu, menatap sebuah nama dan jabatan yang tercetak di sana. Jiyeon meremas kartu itu dengan kuat, menatap dengan penuh kebencian sosok laki-laki yang telah merampas kehormatannya. Jiyeon bersumpah tidak akan pernah memaafkan laki-laki itu sampai kapan pun.

 

Park Chanyeol

Presiden Komisaris Hemelsky Enterprise.

 

~000~

1 Hour After Tragedy

“Jiyeon apa yang terjadi padamu?”

Eunji menatap Jiyeon yang baru saja menyeruak masuk dalam ruang ganti khusus karyawan, penampilan gadis itu sangat kacau, linangan air mata semakin tak terbendung berjatuhan dari mata bening Jiyeon yang terlihat bengkak.

“Eunji,”

Suara Jiyeon terdengar gemetar, tatapannya kosong. Eunji bangkit dari duduknya dan seketika menjerit tertahan seraya berlari menghampiri Jiyeon, saat gadis itu pada akhirnya ambruk tak sadarkan diri di lantai.

“SONG JIYEON!!”

~000~

8 Hours After Tragedy

Room – 0419

Chanyeol menggeliat dari atas ranjang tidurnya yang berantakan, laki-laki itu mengerjab saat cahaya matahari yang menelusup masuk dari balik hordeng mengenai matanya. Laki-laki itu tersenyum puas ketika mengingat apa yang terjadi semalam, dia merasa jika gadis yang ditidurinya semalam adalah gadis terbaik dari puluhan gadis yang pernah ditidurinya selama ini.

“Selamat pagi Tuan Muda Park?”

Chanyeol sedikit terkejut dengan sapaan dari suara yang sangat dikenalnya, dia tersenyum pada sosok laki-laki yang duduk di sofa depan ranjang. Laki-laki dalam balutan jas mahal asal perancang Italia kenamaan, koran pagi membentang di antara kedua tangannya, di atas meja kecil depan sofa tersaji secangkir Cappucino yang menjadi kesukaan dari mereka berdua.

“Bagaimana, apa kau puas?”

Chanyeol mengangguk, dia menarik selimut untuk menutupi setengah dari tubuh polosnya, duduk di depan laki-laki yang menyapanya, bergabung dalam acara kopi pagi dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.

Hey! Apa gadis itu benar-benar hebat di atas ranjang, lalu mampu membuatmu tersenyum hingga pagi?” ucap laki-laki itu seraya melipat koran dan meletakkannya di pinggir meja, dia kembali menyesapi Cappuccino hangat dari dalam cangkir kopinya.

“Tidak juga! Hanya saja gadis itu—-“

Chanyeol menggantungkan kalimatnya, seolah-olah ada sesuatu yang membuat kata-katanya tertahan di ujung lidah. Bayangan wajah ketakutan gadis itu serta jeritan dan air mata yang menghiasi malam mereka, tiba-tiba saja berkelabat cepat di dalam benaknya. Berputar acak hingga Chanyeol merasa sedikit pusing.

Ah! Apa dia memberikan tarian erotis sebelum kalian bermain di atas ranjang?” laki-laki itu kembali menerka, memajukan tubuhnya, menyelidik air muka yang terlukis di wajah Chanyeol saat ini.

“Tidak! Ah! Sudahlah Sehun yang pasti gadis itu berbeda, dari gadis-gadis yang biasanya kau bayar untuk menemaniku.”

Chanyeol menggerakkan tangannya ke arah cangkir Cappucino milik Sehun, menempelkannya di ujung bibir hingga laki-laki itu dapat menikmati minuman yang menjadi favoritnya sejak dulu. Dan membuang semua rasa yang menganjal di dalam hati, untuk semua yang terjadi bersama gadis itu semalam.

~000~

7 Hours After Tragedy

The Amor House – Soledad Liete Carrillo

Jiyeon’s Room

Jiyeon masih menangis, dia memeluk Soledad di atas ranjang, terus terisak, tubuhnya bergetar hebat, sejak Coraimo menjemput gadis itu di hotel. Coraimo yang kala itu sangat terkejut, Jiyeon jatuh pingsan, penampilan Jiyeon saat itu diyakini Coraimo dalam keadaan yang tidak baik-baik, membuatnya memutuskan menemui atasan Jiyeon. Mengadukan hal buruk yang telah menimpa putrinya.

“Aku sangat yakin jika ada tamu hotel ini yang menyakiti putriku, aku meminta padamu untuk bertanggungjawab dengan mencari pelakunya, Tuan.”

“Tentu! Kami akan menyelidikinya tuan Carrillo, oleh karena itu kami sudah meminta dokter untuk memeriksa dan memastikan apa yang telah terjadi pada Song Jiyeon. Dan jika terbukti, aku pastikan orang itu akan mendapat hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.”

Tepat saat dokter memberi kabar suram itu Coraimo langsung memeluk Jiyeon erat, air mata laki-laki paruh baya itu bahkan jatuh begitu saja saat Jiyeon mulai berteriak, meneriakkan satu nama yang disinyalir telah merampas kehormatan putrinya. Coraimo bahkan terisak saat Jiyeon menangis kencang di dalam pelukannya, hingga Coraimo memutuskan untuk membawa Jiyeon pulang ke rumah, sementara pihak hotel menyelidi kasus ini dan berjanji akan menyeret sang pelaku ke penjara.

“Bagaimana mungkin ada orang yang tega melakukan ini pada mu, Sayang.”

Soledad terisak dia mengeratkan pelukan pada Jiyeon, tak percaya dengan apa yang telah menimpa putri tersayangnya. Kejadian yang akan mengubah jalan hidup Jiyeon yang cerah menjadi kelam, kejadian yang akan terus menghatui Jiyeon sampai kapan pun.

~000~

10 Hours After Tragedy

Parkheur Paradise Hotel

Room – 0419

Chanyeol sudah terlihat rapi dengan setelan jas yang baru saja di kirim oleh supir pribadinya, dia menatap sekali lagi penampilannya dari balik kaca besar yang ada di kamar hotel. Chanyeol terdiam sebentar, tiba-tiba kejadian semalam kembali memenuhi pikirannya, kejadian dimana gadis yang tidak dia ketahui namanya itu bersikeras jika semalam dia salah sasaran.

“Aish! Kenapa wajah gadis itu selalu saja mengganggu pikiranku,” Chanyeol menggelengkan kepalanya.

Chanyeol memutuskan untuk mengenyampingkan bayangan gadis itu, bayangan gadis yang akan segera dia lupakan sama seperti gadis-gadis lainnya. Chanyeol berjalan santai menuju pintu kamar, namun tepat saat laki-laki itu baru saja membuka pintu, tiba-tiba saja Jongin sudah berdiri di depannya, mendorong tubuhnya hingga kembali masuk ke dalam kamar.

Yak! Apa yang kau lakukan?”

Chanyeol berdecak kesal menatap wajah Jongin yang terlihat kalut, Jongin menarik nafasnya sebentar dan menimang beberapa kalimat yang sudah berada di ujung kerongkongan. Kalimat dari sebuah peristiwa yang terjadi semalam di hotel miliknya. Kejadian yang dia ketahui dari manager hotel pagi ini, kejadian yang melibatkan laki-laki yang berdiri di depannya, laki-laki yang sudah melipat kedua tangannya di depan dada, menatapnya untuk meminta penjelasan.

“Ada berita buruk Chanyeol— sebenarnya tidak begitu buruk jika hal ini tidak menyangkut warga negara asing,”

Chanyeol mengerutkan dahinya, merasa tak mengerti dengan arah pembicaraan Jongin. Seorang teman yang dikenalnya saat mereka masih sama-sama, berada di salah satu universitas bergengsi di Inggris.

“Kau— salah meniduri pelacur!”

“Apa?” Chanyeol semakin tidak mengerti.

“Gadis yang kau tiduri semalam bukan wanita penghibur yang disewa Sehun untukmu, tapi— pegawai hotelku. Gadis itu adalah anak angkat dari sepasang suami istri berkewarganegaraan Spanyol, itu berarti masalah ini tidak akan berakhir dengan mudah. Mereka menuntutmu! Menggunakan kewarganegaraan mereka dan sialnya, gadis itu juga sudah mengganti kewarganegaraannya menjadi warga negara orangtua angkatnya.”

“APA?!”

“Mereka akan menggunakan kekuatan negara mereka untuk menyeretmu ke penjara.”

Chanyeol membulatkan matanya, dia terkejut dengan semua fakta yang baru saja diutarakan Jongin. Gadis itu… gadis itu benar-benar bukan gadis yang seharusnya berada di kamarnya semalam, bukan gadis yang seharusnya melayaninya di atas ranjang, bukan gadis yang disewa Sehun untuk menemani malam panjangnya.

Chanyeol terdiam, dia kembali teringat dengan kata-kata yang diucapkan gadis itu semalam, kata-kata yang mengingatkan jika dia salah sasaran, jika dia salah meniduri wanita penghibur.

~ TBC ~

 

Hi! Jumpa lagi dengan Saiiya kkkkk dijamin FF ini gak bakal stop dan bakal terus publish di EXOFF sampai tamat, karena FF ini sudah publish di blog pribadi Saiiya sampai tamat dengan Cast yang berbeda.

Ditunggu komen kecenya ya dan Enjoy my FF

42 thoughts on “The Night Mistake (Chapter 1)

  1. Kasian jiyoon nya s ceye knpa juga dia ga mau denger penjelasan jiyoon dulu??nanti klw jiyoon nya H gmna coba??aku seneng kalo ortu nya ngegugat s ceye..

  2. Whatt?? Chanyeol what are you doing?? Salah oranggg wduhhhh .. org yg baik2 jd dipikir yg enggak2 . Seru kak ff nya izin lanjut baca yaaa

  3. Finally selesai juga the night mistake nya
    euh baper baper..banjir air mata di ending2 nya
    Sebenernya pingin lihat sequel, tapi eonni udah bilang kaga ada sequel2 an😂
    Bagus banget cerita ini dari awal-akhir. Mendebarkan, sedih, seneng, kesel sama marahnya. Pokonya paket komplit deh..keren banget
    Chanyeol, Jiyeon, Tyra semoga mreka jadi keluarga kecil yg bahagia suatu hari nanti. Serius ini keren bgt kalo jadi film unni..
    Daebak💕💕💕😭

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s