The Amazing Black

sehun28

Cast: Han Jihyun

         Oh Sehun

Genre: School life, fluff, comedy

Author: GSB (@sadanema)

Rating: PG-13

 

Ini merupakan sepotong kisah ‘petualangan’-nya dengan bocah kebanggaan sekolah bernama Oh Sehun. Demi Tuhan, ini Oh Sehun!!

-The Amazing Black-

 

 

Pukul delapan lewat tiga puluh menit. Jihyun mencebikkan bibirnya yang sudah basah karena peluh yang menetes dari pori-pori kulit wajahnya. Dalam riwayat ketepatannya datang ke sekolah, keterlambatannya hari ini belum seberapa jika dibandingkan dengan yang terjadi beberapa minggu lalu. Sebelumnya ia pernah terlambat satu jam dari waktu yang sudah ditetapkan. 

 

Ia terus berlari, memperjuangkan hidupnya untuk segera sampai di depan gerbang sekolahnya. Harusnya aku tidak tidur selarut tadi malam!!! Bagaimana ini?? Pasti Bum Soo seosangnim sudah bersiap menyantapku untuk sarapannya.

 

 

Jihyun terus berlari, membuat karet sepatunya bergesekan dengan aspal yang menimbulkan bau sangit. Inilah alasan mengapa sepatu yang dipakai Han Jihyun tidak pernah bisa bertahan lama.

Napasnya memburu hebat begitu raganya tiba tak jauh dari gerbang tinggi yang membentengi bangunan kokoh sekolah Jeongiesu. Ia membungkuk dengan dada yang naik turun. Tangannya menyentuh lututnya sambil memijat pelan kakinya.

Huft…rasanya sesak.

Ia menegakkan tubuhnya, sekarang waktunya untuk menghadapi medan perang yang sesungguhnya. Kakinya melangkah gontai ke arah gerbang yang sudah tertutup. Tidak ada orang, setidaknya itulah yang dapat ia yang kiranya dapat ia lihat dari jarak lima meter dari tempatnya berdiri sekarang.

Ia melenguh letih, kalau sudah begini drama antara ia dan Kang Ahjussi–penjaga gerbang sekolah terpaksa terulang lagi, seperti yang sudah-sudah. Biasanya ia mesti menyusun skenario melodrama sambil memasang wajah melas ala bidadari kelaparan yang tidak bisa kembali ke kayangan.

“Sst..Sst!!” Ia abaikan suara desisan memuakkan yang memperburuk suasana hatinya. Ia terus melangkah lesu menuju gerbang.

“Sst….sst!!” Suara yang sama kembali terdengar.

Kali ini suara itu terdengar dan tertuju untuknya. Jihyun berhenti kemudian menoleh ke sekitar. Tapi hasilnya nihil, kosong, ia tidak melihat siapapun.

“Sst… Hei di sini!!”

Ia mendecak kesal, kemudian mengedarkan pandangannya ke kanan – ke kiri, ke atas dan ke bawah. Tak lama, ia melihat sebuah bayangan buram yang tergambar di balik pohon yang ditempeli banyak semak belukar.

Awalnya ia merasa cemas, takut kalau ternyata orang di balik pohon itu adalah oknum yang melatarbelakangi kasus penculikan gadis remaja berparas cantik yang terjadi belakangan ini. Baiklah… walau hampir membuat teman-temannya muntah-muntah, Jihyun tak gentar menyanjung kecantikan wajahnya.

Ia melangkah waspada sambil melihat ke sekitar. Tak lama setelah itu jiwanya serasa sudah tak bersatu dengan raganya. Untuk beberapa detik matanya tak berkedip. Ia menatap tidak percaya, seolah matanya telah mengkhianati jiwa lugunya. Mulutnya terbuka lebar seolah kompak dengan kedua matanya yang melotot sempurna.

“Kau mau masuk ke dalam sana, kan?” Akhirnya sosok di balik pohon yang berhasil membuatnya membatu buka suara.

Pemuda itu, yah..pemuda karena sosok itu memang seorang anak laki-laki. Ia menatap Jihyun yang masih membeku, kemudian tersenyum getir setelah melihat wajah bodoh gadis di hadapannya.

Bukan salah Jihyun bukan kalau ia bereaksi seajaib ini. Terpekur hingga kehilangan kata-kata. Bayangkan saja, siapa yang tidak akan terguncang jiwanya kalau melihat siswa yang menyandang gelar siswa teladan selama dua tahun berturut-turut, yang selalu dipuja-puji oleh para guru, kini berdiri di hadapannya yang artinya pria muda itu terperangkap dalam kondisi yang sama dengannya? TERLAMBAT.

Pasti tidak akan ada yang percaya bahwa Oh Sehun si bocah kebanggaan guru, dambaan semua gadis di sekolah dan saingan terberat pria-pria populer, sekarang ada di sini bersamanya. Memasang wajah bodoh dengan tatapan waspada, pasti Sehun tengah merasakan kecemasan yang dirasakan Jihyun saat ini. Sama-sama takut tertangkap oleh salah satu guru kemudian berakhir dengan mengelilingi lapangan sekolah yang sama besarnya dengan lapangan bisbol.

“Huh..iya? Oh…iya..iya!!” ucap Jihyun cepat.

“Lalu apa kau sudah menemukan cara untuk masuk ke sana tanpa ketahuan?” tanya Sehun lagi. Kali ini Jihyun hanya meringis, benar-benar meratapi nasibnya. Menjadi nama paten di barisan nama-nama murid yang terlambat, tidak menjamin Jihyun memiliki kemahiran untuk mengelak dari hukuman. Singkatnya ia selalu masuk melalui gerbang sekolah dan berakhir dengan berlari mengelilingi lapangan serta mendengarkan ceramah pagi Bum Soo seosangnim.

Sehun menghela pendek, kemudian memamerkan wajah sok kerennya. “Sudah kuduga,” gumamnya sambil mengangguk pelan.

“Kalau begitu ayo ikut aku!” tanpa ada  peringatan sebelumnya Sehun langsung menarik lengan Jihyun. Sensasi hangat yang diberikan Sehun jelas saja menghadirkan perasaan gegap gempita di hati Jihyun.

Mulai detik ini ia tidak peduli jika saja Bum Soo seosangnim menemukan dirinya kemudian menyuruhnya mengelilingi lapangan. Jika itu terjadi, bukankah waktunya bersama Sehun menjadi lebih lama? Mengelilingi lapangan bersama, saling menatap satu sama lain, menjaga dan memberi semangat. Romantis sekali, bukan?

Mau tidak mau Jihyun meninggalkan lamunan indahnya begitu jentikan kecil menyengat dahinya. Ia menatap Sehun yang tengah memberi instruksi padanya. Jihyun mengikuti arah yang dimaksud Sehun. Sebuah pagar usang menjulang tak terlalu tinggi dengan ruas-ruas yang memungkinkan untuk dipanjat. Ia tertohok dengan pemikirannya sendiri. Jangan bilang ia harus memanjat pagar itu?

“Cepat!” ia menatap Sehun yang mulai tidak sabaran, gumpalan salivanya terasa serat begitu melewati batang tenggorokan.

“Tapi aku…”

“Cepat atau kutinggal!!” ancam Sehun dengan wajah seram.

Jihyun melenguh lemah, kemudian menatap pagar berkarat yang sisi kanan dan kirinya dihimpit oleh tembok yang belum diplester. Baiklah…ia harus naik. Tidak ada pilihan lain, yah…walau lari mengelilingi lapangan bersama Sehun juga bukan ide yang buruk.

Jihyun naik terlebih dulu sementara Sehun baru memanjat begitu Jihyun sudah berhasil menapakkan kedua kakinya ke tanah. Keduanya pun berhasil memasuki area dalam sekolah dengan selamat. Yah, sejauh ini.

Mereka pun berjalan bersisian, saling melindungi dan berkordinasi dengan baik. Langkah kecil dan hati-hati keduanya mulai melenyap terganti dengan langkah santai tanpa rasa waspada. Beberapa murid yang berkeliaran dengan menyandang tasnya menyamarkan keberadaan mereka berdua.

Senyum di wajah keduanya mengembang begitu berpapasan  dengan teman sekelas atau teman satu kegiatan ekskul menyapa. Seperti Jihyun misalnya, gadis berparas ceria itu tengah sibuk membalas sapaan dua orang temannya dari ekskul jurnalistik.

“Aku tahu tahu kalau ada gadis yang memakai warna hitam.” Bagai sengatan kecil yang mematikan, Jihyun merasa sekujur tubuhnya menegang begitu Sehun membisikkan sesuatu padanya. Ia merasakan aliran darahnya yang berdesir hebat, membuat bulu kuduknya berdiri.

Jihyun masih mematung, ia masih terjerat dalam ketidakberdayaannya. Ia bagai terjebak dalam dua dimensi dimana jiwa dan raganya terjerembab dalam pesona tak terelakkan dari seorang Oh Sehun, namun di sisi lain akalnya tengah berusaha untuk mencerna apa yang dikatakan Sehun barusan.

Hitam? Memangnya apa yang ia gunakan? Sepatunya? Bukankah hal wajar kalau ia menggunakan sepatu hitam. Memang begitukan aturan yang ada dalam tata tertib sekolah? Lalu apa? Kaos kaki? Tidak…ia memakai kaos kaki warna putih baik yang kanan maupun yang kiri. Tunggu, sesuatu yang berwarna hitam yang ia gunakan hari ini selain sepatu, celana dalamnya. CELANA DALAM!!

APAAA??? Celana dalam?…

Apa Sehun melihatnya waktu ia sedang memanjat tadi? Ia langsung menoleh seram sambil memancarkan aura membunuh ke arah Sehun. Pemuda itu hanya terkekeh jahil melihat perubahan ekspresi wajah Jihyun yang begitu kontras.

“KAUUU!!!!! Berani-beraninya kau…” Jihyun menjerit histeris sambil menggelengkan kepalanya dengan tragis.

Sehun berjalan santai mendekati Jihyun. Ia menepuk pelan bahu gadis itu. Seolah meminta gadis itu untuk sabar dan tawakal. “ Aku tidak punya pilihan lain selain melihatnya. Sudahlah anggap itu caramu untuk membalas jasaku,” Ucap Sehun yang langsung dibalas dengan tatapan tajam Jihyun.

Melihat kekejaman yang tersembunyi di balik kedua mata Jihyun, Sehun memalingkan wajahnya kemudian mulai melangkah perlahan.

“Uuuhh, kukira semua gadis memakai yang warna pink dengan gambar pita atau hati. Ckk..tapi ternyata, ada juga yang memakai warna hitam dengan gambar tengkorak. Mengagumkan,”oceh Sehun antusias.

Jihyun membulatkan matanya, benar-benar tak percaya  dengan apa yang didengarnya. Jadi Sehun melihatnya sampai sejelas itu? Bahkan sampai gambar tengkoraknya?

“NAPPPPEEEEEUUUUUUNNNNNNNNNNNNNNNNN!!!!!!!!!”

 

 

 

END

First of all, aku mau minta maaf karena konten ff dan judulnya sangat timpang. Isi ff-nya gak secetar judulnya yang ‘amazing’. Pasti yang buka ff ini bakal ekspek sesuatu yang wah dan wow, tapi ternyata Cuma percakapan menyebalkan Oh Sehun yang yadong yang secara gak sengaja tapi juga gak keberatan ngeliat celana dalemnya Jihyun.

Oke…dan aku juga mau ngucapin terimakasih buat yg udah baca.. walaupun ff ini konyol parah.. tapi aku menantikan tanggapan, minimal uneg-uneg kalian setelah baca ff ini. Terakhir, semoga yang baca ini tetep sehat, amin.

Note: sebenernya aku pernah publish ff ini dgn judul yang sama tapi dengan cast yg berbeda di GIGSent fanfiction.

 

Regards,

 

GSB

Iklan

5 thoughts on “The Amazing Black

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s