Bittersweet : Apology

bittersweet

Author : Iefabings

Cast :

  • EXO’s Kai as Kim Jongin
  • Red Velvet’s Seulgi as Kang Seulgi
  • EXO’s Sehun as Oh Sehun

Supporting Cast :

  • f(x)’s Krystal as Jung Soojung
  • Red Velvet’s Wendy as Son Seungwan

Genre : Romance, Hurt, Collage Life, Friendship

Rating : PG-13

Length : Multichapter, currently 5

Previous chpaters : The Cirlce | He’s My Boyfriend | I Hate You | A Weird Dream |

^^Selamat Membaca^^

“Sudah ku duga kau akan dat—“ matanya terbelalak kala melihat pemuda yang menjadi terror mimpinya beberapa hari terakhir.

“Kau tahu aku akan datang?”

Kim Jongin dan Kang Seulgi kini berhadapan, bertatapan.

***

24 jam sebelum pertemuan

You shine like a clear glass castle wall jewel
I’ve trapped myself in you
I’ve gone crazy for you, gone crazy
I’m sick with an illness I can’t avoid
She’s dangerously hot

(EXO—EXODUS lyrics)

 

Entah sudah berapa gelas yang Jongin habiskan, dia belum juga berhenti mengisi gelasnya dengan bir. Selama satu jam dia melakukan hal yang sama. Minum. Isi. Minum. Isi. Seolah tak akan ada lagi bir di hari esok.

“What the f—“ dia hendak mengumpat saat tangan seseorang merebut gelasnya secara tiba-tiba, tapi urung dilakukan setelah melihat siapa orangnya.

“Kau bisa mati karena terlalu banyak minum kalau begini.”

Jongin hanya berdecak saat Soojung duduk di sampingnya dan meneguk habis minuman dari gelas tadi. Sebagai ganti minuman, Jongin menyalakan rokok.

“Mau sampai kapan kau akan membolos?” tanya Soojung sembari mengisi gelas keduanya.

“Bukan urusanmu,” jawabnya sebelum menghembuskan asap rokok ke udara.

Soojung tertawa pelan. “Walau kau membolos selamanya pun tak akan merubah apa pun. Dia sudah keluar.”

Tak ada respon lagi dari Jongin. Hanya kepulan asap yang terus ia buat melalui rokoknya. Sebenarnya dia tidak mengerti pada suasana hatinya sendiri. Dia tidak pernah merasa bersalah pada orang lain. Bahkan yang ini pun dia tak tahu bisa dikatakan rasa bersalah atau bukan. Hanya saja, saat melihat gadis itu menangis dia merasakan perih pada dada kirinya. Bukan karena dia punya sakit jantung. Dia sehat-sehat saja. Rasa sakit itu bersifat imajiner, tapi begitu terasa dan terus bertahan hingga hari ini. Membuat Jongin bersumpah untuk tidak akan membuatnya menangis lagi.

Sumpah yang tiada guna. Gadis bernama Kang Seulgi itu mungkin sudah sangat membencinya. Jongin terus merutuki betapa bodoh dirinya malam itu. Tapi ada satu hal yang tak bisa ia pahami. Kenapa baru saat ini dan hanya pada Seulgi? Belum pernah ada satu pun gadis yang membuatnya merasa begitu buruk hingga dia tidak tahu harus berbuat apa. Beberapa hari ini yang dia lakukan hanya minum. Bayangan dan suara tangis Seulgi terus menghantuinya. Apa yang bisa dia lakukan agar keadaannya kembali seperti semula?

“Ayo kita berkencan,” suara Soojung selanjutnya membuat Jongin berhenti menghembuskan asap. Hanya sejenak, untuk mengarahkan ekor matanya pada Soojung sebelum akhirnya menghembuskan asap lagi ke udara. “Sebenarnya aku menyukaimu sejak sebelum kita mulai melakukan sex.”

Jongin mematikan rokoknya, lalu menghabiskan segelas bir dalam sekali teguk. “Aku tidak pernah berkencan dengan gadis yang ku tiduri.”

“Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku,” Soojung mengisi gelas Jongin lagi.

“Kau akan menyesalinya nanti.”

“Aku tidak akan bertingkah seperti gadis manja yang posesif padamu. Hanya jika kau berjanji untuk tidak melakukan sex dengan gadis lain, aku juga tidak akan melakukannya dengan pemuda lain.”

Jongin menghembuskan nafasnya. Dia memang sudah kenal lama dengan Soojung, sudah mengenal baik satu sama lain. Bagaimana keduanya sering melakukan hal-hal liar bersama—sudah menjadi hal biasa. Tapi untuk menjadi teman kencan, Jongin belum pernah memikirkan tentang itu. Dia meneguk habis satu gelas lagi sebelum beranjak dari tempat duduknya.

“Kau mau kemana?” tanya Soojung, segera menyusulnya.

“Pulang,” jawabnya singkat.

Soojung mengikutinya, itu juga sudah menjadi hal biasa. Dan Jongin sudah tahu bahwa jika mereka pulang bersama, rumah bukanlah menjadi tujuan mereka.

***

19 jam sebelum pertemuan

Jongin duduk di tepi tempat tidur penginapan dengan hanya memakai boxer. Soojung sudah terlelap, tubuh telanjangnya tertutupi selimut. Sepertinya Jongin bermain terlalu kasar malam ini—efek dari suasana hatinya yang memburuk. Ya, bahkan saat melakukan sex dengan Soojung tadi dia memikirkan kesalahannya pada Seulgi.

Sambil menghisap rokok, dia membuka ponselnya. Ibu jari Jongin bergerak di seluruh area layar, mencari kontak Seulgi. Dia sudah membuka chat room dan dengan kaku mengetikkan sebuah kalimat maaf. Tapi jarinya tak kunjung menyentuh tanda ‘kirim’. Itu yang dia lakukan beberapa hari ini sejak kejadian malam itu, sejak dia melihat Seulgi menangis. Ternyata meminta maaf sangat sulit dilakukan. Kalimat maaf yang ia ketikkan itu sudah terhapus. Jongin kemudian membuka profil Seulgi dan memandangi fotonya.

***

15 jam sebelum pertemuan

“Biar aku yang menyebar poster dan pamflet, hyung.”

Alis Junmyoon terangkat saat melihat Jongin berdiri di pintu basecamp.

“Habis mimpi dikejar malaikat maut?”

“Di semua fakultas kan? Stand banner juga akan aku pasang,” tanpa menghiraukan pertanyaan Junmyoon, ia mengambil lembaran pamflet dari atas meja.

“Kami kira kau akan keluar juga.”

“Aku pergi sekarang, kebetulan tidak ada kelas,” Jongin mengabaikan segala bentuk komentar Junmyoon.

“Ya, terus saja abaikan perkataanku.”

Jongin melambai sekilas sebelum benar-benar berlalu dari hadapan Junmyoon.

***

14 jam sebelum pertemuan

Mungkin modus adalah kata yang tepat untuk Jongin. Dia sengaja menawarkan diri untuk menjadi penyebar pamflet agar bisa pergi ke gedung fakultas kedokteran dan bertemu Seulgi. Masalah nanti dia bisa berhasil meminta maaf padanya itu belakangan. Rencananya lumayan berhasil. Setelah satu jam menempel poster dan menyebar pamflet, dia bertemu Seulgi di tangga. Bertemu bukan berarti bisa langsung mengatakan ‘Hai, Seulgi. Aku minta maaf’. Yang terjadi malah lebih buruk. Seulgi menghindarinya. Dia yakin gadis itu hendak naik ke lantai atas, tapi saat tatapan mereka bertemu, Seulgi berbalik dengan terburu-buru. Benar kan, firasatnya. Seulgi membencinya.

***

10 jam sebelum pertemuan

Katakanlah Jongin pantang menyerah. Saat jam makan siang dia menunggu Seulgi di kantin, tempat mahasiswa dari segala jurusan berkumpul untuk mengisi perut. Mungkin semangatnya untuk mendapat maaf begitu besar hingga dia begitu teliti melihat semua mahasiswa yang berlalu. Tak berapa lama kemudian wajah Seulgi tampak di antara keramaian kantin. Dia sudah mengambil ancang-ancang untuk berpura-pura pertemuan mereka hanya kebetulan saja. Seperti adegan sebuah film di mana kedua tokoh bertabrakan secara tidak sengaja. Tapi entah nasibnya yang tak beruntung atau reflek Seulgi yang terlalu baik hingga tabrakan itu tak terjadi. Sekali lagi Seulgi sukses menghindarinya.

***

8 jam sebelum pertemuan

Jongin belum pernah masuk perpustakaan. Gerak-geriknya terlihat begitu kaku mengikuti mahasiswa lain yang berjalan ke antara rak-rak buku. Sedari tadi dia mengikuti Seulgi diam-diam dan berakhir di tempat ini. Mungkin perpustakaan adalah tempat terbaik. Ini tempat yang tenang, setidaknya Seulgi tidak akan mencaci dan mengumpatnya disini jika dia benar-benar murka padanya. Walau sebenarnya dia siap menerima perlakuan apa pun untuk menebus kesalahannya.

Dia menunggu Seulgi di deretan tempat duduk—karena jika dia mengikutinya ke bagian buku kedokteran akan sangat mencurigakan, sambil berpura-pura mengambil sebuah buku yang judulnya saja ia tak tahu apa. Dilihatnya Seulgi sedang memeluk sebuah buku tebal. Jongin melangkah, dalam hati sudah menyiapkan kalimat sapa.

Dan kembali gagal. Secara tiba-tiba Seulgi berbalik ke arah rak tempatnya mengambil buku. Seulgi masih menghindarinya. Itu membuat Jongin merasa semakin buruk.

***

Saat pertemuan

Orang waras mana yang berani bertamu selarut ini. Dia pasti akan langsung diusir bahkan sebelum pintu dibuka. Tapi toh pada akhirnya kaki Jongin menapak di depan pintu apartemen nomor 109 tempat Seulgi tinggal. Dia memohon pada Joohyun agar memberi tahu dimana rumah Seulgi dengan sebuah janji bahwa dia akan membawa gadis itu kembali ke The Circle. Dia bersungguh-sungguh ingin memperbaiki keadaan. Ditekannya bel dan menunggu si tuan rumah membuka pintu.

“Sudah ku duga kau akan dat—“ wajah kaget Seulgi menyembul dari balik pintu. “—tang.”

“Kau sudah tahu aku akan datang?” tanya Jongin berbasa-basi.

Terlihat wajah Seulgi yang seperti sedang melihat hantu, membuat Jongin memperhatikan penampilannya sendiri karena takut ada yang salah.

“Bu-bukan. Tadi ku kira Sehun yang datang….”

Benar juga. Seulgi telah memiliki seorang kekasih bernama Sehun—yang pernah ia temui tempo hari.

“Aku bukan Sehun,” malah kalimat bodoh yang ia lontarkan.

“Y-ya, tentu saja. Kau bukan Sehun… kalian sangat berbeda,” sahut Seulgi.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Hingga berdetik-detik interaksi yang terjadi di antara mereka berdua hanya sebuah tatapan. Jongin terus berdiri di depan pintu, dan Seulgi di ambang pintu karena tidak ada kalimat ‘silakan masuk’ yang terucap.

“Aku—“ akhirnya Jongin membuka mulutnya. “Apa aku mengganggu?” lagi-lagi berbasa-basi. Dia belum menemukan kalimat yang tepat untuk menyampaikan tujuannya.

“Ini sudah larut, Kim Jongin. Jika ada hal yang ingin kau katakan, langsung ke intinya karena aku adalah orang yang sangat menghargai waktu,” ucap Seulgi penuh penegasan di setiap suku kata. Raut wajahnya pun tampak serius.

“Maaf—“

“Apa?”

Memang, saking lirihnya suara Jongin nyaris terdengar. Dia sudah lupa cara meminta maaf pada seseorang sehingga saat dihadapkan dalam kondisi seperti ini, dia jadi seperti orang bodoh. Tapi dia sudah terlanjur berdiri di hadapan Seulgi. Akan sangat terlihat pengecut kalau dia mundur.

“Tentang kejadian di tempat karaoke. Aku minta maaf.”

Lalu keduanya terdiam. Seulgi tampaknya kebingungan merangkai kalimat jawaban. Ada sedikit rasa lega karena tidak ada tanda-tanda amarah di wajah gadis itu.

“Begini, Kim Jongin,” suara Seulgi memecah sepi antar keduanya. “Kalau kau terpaksa meminta maaf karena mereka menyuruhmu—“

“Tidak sama sekali,” potong Jongin. “Aku sungguh-sungguh minta maaf. Apa kau tidak bisa melihat keseriusan di mataku? Ini bukan tentang mereka. Aku bertanggung jawab atas kesalahan yang ku lakukan padamu.”

“Begitu…” Seulgi memandangi kakinya. Rasanya memang canggung membicarakan ini di depan pintu. “Aku sudah memafkanmu.”

Jawaban itu seharusnya membuat Jongin merasa lega. Lalu kenapa saat ini rasa bersalahnya malah makin besar? Seulgi begitu mudah memaafkannya, padahal malam itu dia menangis hingga membuat sayatan di hati orang yang mendengarnya.

“Apa setelah ini kau akan kembali ke The Circle?” Jongin memberanikan diri bertanya.

“Aku belum memikirkannya,” kata Seulgi. “Bukankah eventnya mendapat sambutan yang baik?”

“Iya, tapi kami merasa semua tidak akan berjalan sempurna jika kau tidak ada.”

Sejenak keduanya bertatapan. Entah kenapa jantung Jongin terasa berdetak lebih cepat dari biasanya.

“Ini bukan soal dirimu atau Myungsoo. Aku merasa akan lebih baik jika aku keluar,” kata Seulgi dengan wajah teduhnya. Sepertinya Jongin benar-benar telah dimaafkan.

“Aku sangat menyesal atas perbuatanku, Seulgi-ah,” kata Jongin sambil mengeluarkan selembar undangan dari saku jaketnya. “Ini untuk masuk ke acara lelang nanti. Datanglah, kau akan kami anggap sebagai tamu istimewa pada event nanti. Sekali lagi aku minta maaf.”

Wajah Seulgi terlihat ragu, melirik undangan dan wajah Jongin bergantian, akhirnya dia menerimanya.

“Aku tidak janji.”

“Tidak masalah. Aku yakin kau akan datang,” ucapnya percaya diri.

“Y-ya… semoga,” kata Seulgi sedikit terbata.

“Kalau begitu—sampai jumpa,” karena merasa suasana semakin canggung, Jongin memilih berpamitan pulang. Masalahnya sudah selesai kan, sekarang? Dia dimaafkan dengan begitu mudahnya. Heran, hati Seulgi terbuat dari apa.

Seulgi tersenyum sekilas sebelum menutup pintu apartemennya kembali. Jongin sempat berdiri di depan pintu untuk beberapa menit sebelum benar-benar pergi dari tempat itu.

***

Sehun berniat memberi kejutan. Dia berada dalam perjalanan ke apartemen Seulgi tanpa mengirim pesan atau menelponnya. Beberapa kaleng pringles dan banana milk terbungkus kantong plastik teronggok di kursi kosong di sebelahnya. Itu adalah cemilan yang disukai Seulgi. Sehun yakin gadisnya sedang belajar dengan tenang. Dia tidak sabar melihat senyum mata bulan sabitnya muncul kala melihat cemilan-cemilan ini. Kecepatan mobil ia turunkan saat berada di area apartemen Seulgi. Dia berbelok masuk ke pelataran parkir dan mencari spot kosong. Dalam satu menit saja dia sudah memposisikan mobilnya dengan rapi, lalu mematikan mesin mobil.

Saat hendak membuka pintu untuk turun, tanpa sengaja pandangannya jatuh pada sebuah penampakan ganjil. Matanya memicing.

“Kim Jongin?” ia menggumam pelan, terus memperhatikan sosok yang sedang berjalan ke arah sebuah mobil berwarna hitam yang terparkir tepat berhadapan dengan mobilnya.

Pikiran Sehun mulai menjalar kemana-mana, penuh pertanyaan. Apa yang dilakukan Kim Jongin disini, di apartemen tempat kekasihnya tinggal? Apakah dia menemui seseorang atau lebih buruknya—menemui Seulgi? Pantaskah dia merasa khawatir jika Jongin benar-benar menemui Seulgi? Mengingat pemuda yang membuat tangannya terkepal menahan geram ini adalah seseorang yang telah merebut ciuman pertama gadis yang dia cintai.

***TBC***

33 thoughts on “Bittersweet : Apology

  1. Yah sehun ngeliat, semoga gak salah paham, takut sehun dan seulgi gak bersama lagi heuheuheu..
    Aku kebanyakan takutnya yah, hahaha tinggal nikmati aja kisahnya hahaha

    Lanjut lanjut aahh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s