The Night Mistake (Chapter 2)

The Night Mistake part.1 - EXO

The Night Mistake – Part.2

By : Ririn Setyo

Park Chanyeol || Song Jiyeon || Oh Sehun

Other Cast : Kim Jongin || Yang Yoojin || Byun Baekhyun

Genre : Romance ( PG – 16)

Length : Chaptered

FF ini juga publish di blog pribadi saya dengan cast yang berbeda

Ririn Setyo

2 Hour’s After Out From The Hotel

The Prazer Pub                     

Sehun’s Office Room

“Oh Sehun!”

Tanpa basa basi Chanyeol langsung menyeruak ke dalam ruang kerja Sehun, tak memperdulikan Sehun yang berteriak seraya melepaskan ciuman panasnya pada seorang gadis, nyaris tanpa busana yang tengah ditindih Sehun di atas meja kerjanya yang luas.

“YAK! Harus kah kau mengganggu sekarang, Chan?”

Kembali terdengar teriakkan keras Sehun saat Chanyeol yang dengan tidak pedulinya, menarik gadis yang ditindih Sehun hingga laki-laki itu nyaris terjungkal. Dia meraih jas Sehun yang tergeletak di lantai, lalu mengenakannya pada tubuh gadis yang hanya menggunakan celana pendek berwarna putih dan bra merah di tubuhnya. Tak lupa Chanyeol juga mengeluarkan semua uang cash yang ada di dompetnya dan selembar cek bernilai jutaan won pada gadis itu sesaat sebelum mendorongnya keluar dari ruang kerja Sehun.

“YAK!!!!”

Sehun berkacak pinggang, aura membunuh menguar, wajahnya yang putih merah padam, dia tidak berniat untuk mengenakan kemeja atau celana panjangnya kembali, Sehun tetap bertahan dengan celana boxer di atas lutut yang sudah sedikit turun dari tempat yang seharusnya.

“Brengsek kau Chanyeol! Apa kau tahu jika aku hanya butuh 10 menit untuk menyelesaikannya?” berkacak pinggang Sehun kembali berseru.

“Sayangnya aku tidak peduli, mungkin setelah ini kau bisa menyelesaikannya dengan sekretaris barumu di depan sana,” Balas Chanyeol tenang.

Untuk kesekian kalinya Sehun mengganti sekretaris pribadi dan Chanyeol bisa bertaruh Sehun akan kembali menggantinya, jika sudah mendapatkan tubuh molek sang sekretaris.

“Aish!” Sehun mengacak rambutnya geram, menatap Chanyeol, napasnya masih memburu. “Lalu sekarang apa?!” tanya Sehun tak sabar, menunggu Chanyeol si pengacau yang tak juga mengutarakan maksud kedatangannya siang ini.

“Aku salah meniduri pelacur,” ucap Chanyeol risau, seraya menghempaskan tubuhnya di sofa hitam yang ada tepat di belakang kakinya.

“APA?!”

Serta merta Sehun mendekat, duduk di samping Chanyeol, dia binggung, kedua alisnya nyaris menyatu. Sehun tidak begitu mengerti dengan apa yang di bicarakan sepupu tercintanya itu, hingga Chanyeol harus mengulangi ucapannya.

“Bagaimana mungkin?”

“Aku juga tidak tahu, mungkinkah wanita yang kau bayar kali ini terlalu bodoh hingga salah masuk kamar?” Sehun menggidikkan bahunya, dia menggeleng, binggung.

“Aku tahu jika semua pelacur itu bodoh, tapi aku rasa mereka bisa menghafal nomor kamar yang hanya empat angka itu, Chanyeol.” Chanyeol mengangguk setuju dengan asumsi yang dilontarkan Sehun. “Lalu semalam kau tidur dengan siapa?”

Chanyeol memejamkan matanya sejenak, menyandarkan kepalanya di sandaran sofa seraya berucap pelan. “Pelayan hotel,”

“APA?!”

“Yah, aku baru saja meniduri pelayan hotel,” Chanyeol kembali mendesah saat bayangan airmata gadis yang di tidurinya semalam, tiba-tiba muncul di pikirannya, menari-nari di depan wajahnya.

Namun bukannya mendapat tanggapan, Chanyeol malah hanya mendengar kekehan Sehun yang menyebalkan. Chanyeol berpaling, menatap Sehun yang terlihat senang dengan fakta yang baru saja Chanyeol jabarkan.

“Kenapa kau tertawa?”

Hey! Ayolah ini bukan masalah besar Chanyeol, ini hanya masalah sederhana—-“ Sehun kembali terkekeh. “Kau hanya tinggal memberikan beberapa lembar cekmu sebagai ucapan terima kasih dan semuanya,—“

“Keluarganya menuntutku bodoh!” Sehun mendelikkan matanya. “Dan apa kau tahu yang akan terjadi jika ibuku mengetahui hal ini, Sehun?”

Chanyeol menatap serius Sehun hingga kekehan menyebalkan laki laki itu menghilang, berganti ekspresi kalut saat membayangkan apa yang bisa di lakukan bibinya —Park Seojung— jika mengetahui masalah ini. Sehun tahu persis watak bibinya itu, wanita anggun dari keluarga konglomerat yang tidak pernah merasakan kesusahan sejak dia di lahirkan ke dunia ini. Wanita yang tidak akan pernah mengizinkan siapapun menghina harga dirinya, wanita yang akan melakukan segala cara untuk mempertahan itu semua apapun resikonya.

“Tapi—- ada satu hal yang aku tidak mengerti, Sehun.” Chanyeol kembali menatap Sehun, kembali mengingat semua hal yang terjadi semalam. “Bisa kupastikan jika semalam aku tidak mabuk, aku hanya merasa sedikit pusing karena efek wine yang aku minum.” Sehun mendengarkan dengan seksama.

“Aku bisa mengingat semuanya, aku bahkan sangat ingat dengan wajah gadis itu. Hanya saja semalam—- aku merasa tak mampu menahan diriku, walau sempat terlintas jika aku salah sasaran, aku bahkan mengabaikan penjelasan gadis itu. Entahlah, aku hanya merasa benar-benar berada dipuncak keinginan, untuk menyatukan tubuhku pada seorang wanita tanpa bisa aku kendalikan. Seperti aku sedang berada di bawah pengaruh— obat perangsang yang sangat kuat,”

Sehun menaikkan satu alisnya sesaat setelah Chanyeol menuntaskan penjelasannya, berpikir sejenak tentang seseorang yang mungkin memiliki alasan kuat, untuk mencampurkan obat perangsang di minuman Chanyeol semalam, itu pun jika prasangka Chanyeol benar adanya.

Tapi siapa? Dan untuk apa orang itu melakukan ini semua pada Chanyeol? pikir Sehun dalam benaknya.

“Kau yakin jika semalam kau berada di bawah pengaruh obat perangsang dan bukan karena mabuk?”

Chanyeol mengangguk pasti.

“Aku yakin sekali Sehun, kau tentu tahu seberapa lama aku bisa menahan diri dan melakukan perkenalan manis sebelum meniduri mereka? Tapi semalam, aku bahkan tidak sempat melakukan pemanasan.”

Sehun menghela napas sebentar, dia tahu betul kemapuan mumpuni dari seorag Park Chanyeol, dalam menaklukan semua wanitanya di atas ranjang. Chanyeol bahkan bisa mengurungkan niat bejatnya, beberapa menit sebelum permainan dimulai. Jadi sedikit mustahil jika semalam Chanyeol yang berada dalam kesadaran penuh, tak mampu menahan diri kecuali karena factor obat perangsang yang bersarang di tubuhnya.

“Mungkinkah ada yang ingin menusukmu dari belakang?” Sehun berasumsi. “Rekan bisnis yang tidak menyukaimu, Chan?”

Chanyeol menggeleng, matanya memicing, dia tak mampu menerka siapa yang ada di belakang ini semua. Chanyeol hanya mencoba mengatur jalan keluar secepat mungkin, sebelum Seojung mencium semuanya. Sebelum wanita yang membuatnya terlahir ke dunia itu menjadi murka, hingga semuanya akan berubah menjadi bencana tanpa pernah bisa diterka bagian akhirnya.

“Entahlah! Yang pasti kau harus membantuku Sehun,” Sehun mengangguk cepat. “Temukan pelacur yang seharusnya tadi malam ada di kamarku dan temukan orang yang mencampurkan obat perangsang di minumanku.”

~000~

Shinhwa Corporation

Seojung Office Room

“Direktur Park Seo, ada berita penting yang ingin saya sampaikan pada anda,”

Tanpa menghentikan gerakan tangan pada sebuah pulpen di atas berkas perusahaan, Seojung terlihat hanya melirik sekilas, pada sosok tegab yang berdiri di depannya. Seorang laki-laki dengan tinggi mencapai angka 184 centimeter, berbadan tegab, sipit, bola mata berwarna abu-abu gelap. Laki-laki dengan tatapan mata tajam yang sudah bekerja di keluarganya secara turun temurun, laki-laki yang menjadi tangan kanan Seojung sejak dulu.

“Katakan!” jawab Seojung dingin.

“Tuan Muda Park Chanyeol, baru saja terlibat masalah dengan seorang pelayan hotel yang menemaninya semalam,”

Seojung menghentikan gerakan jarinya, memutar bola mata hitamnya seraya menatap sosok tegab di depannya, tatapannya terlihat semakin dingin.

“Diperkirakan Tuan Muda memaksakan kehendaknya semalam, dan pihak keluarga gadis itu menuntut Tuan Muda ke pengadilan.”

Seojung diam, kepalan tangannya samar terbentuk, wanita itu tersenyum dingin dan tanpa mengubah nada suaranya Seojung kembali berucap.

“Beri mereka uang sebanyak yang mereka mau dan aku ingin masalah ini segera selesai sebelum hari ini berganti esok, kau mengerti Im Jinhwan?”

Laki-laki itu —Im Jinhwan— membungkuk, mengangguk mengerti, lalu berlalu dari hadapan Seojung. Meninggalkan Seojung yang kini tengah menatap sebuah bingkai foto di atas meja kerjanya. Disana ada sosok laki-laki yang menurunkan tatapan hangatnya pada Chanyeol, sosok laki-laki yang telah membuat Seojung memiliki seorang Chanyeol di dalam hidupnya yang kaku.

“Kenapa dia selalu membuat masalah,” keluh Seojung, dia tetap memandang foto, foto almarhum sang suami yang begitu dicintai, namun terlalu cepat meninggalkannya dan Chanyeol dari dunia ini.

~000~

“Kau yakin ini tempatnya?”

Chanyeol menghembuskan napasnya saat laki-laki yang menjadi lawan bicaranya terlihat mengangguk, laki-laki yang berpredikat sebagai supir pribadi dan bodyguard untuk Chanyeol. Laki-laki yang memberinya info lengkap tentang keberadaan gadisnya semalam, hingga kini Chanyeol berdiri di depan sebuah bangunan luas bergaya latin yang terlihat asri.

Di ikuti sang supir pribadi yang berjalan dua langkah di belakangnya, Chanyeol memasuki pelataran gedung luas itu. Gedung yang menjadi tempat penampungan anak-anak terlantar, tanpa orangtua yang ditemukan di jalanan. Chanyeol tersenyum samar kepada beberapa anak yang perpapasan dengannya di pintu masuk, sesaat sebelum dia memasuki bangunan berbentuk persegi, bertingkat empat, susunan kamar yang berjejer mengelilingi sebuah taman rindang, air mancur kecil di bagian tengah bangunan.

Chanyeol berjalan hingga berada di ruang lobi yang terlihat tak berpenghuni, dia melirik supir pribadinya sekilas sebelum memberanikan diri, untuk masuk ke ruangan itu. Pintunya terbuka, Chanyeol memberi sapaan saat tak menemukan seorang pun di dalam ruangan. Sesaat kemudian Chanyeol terlihat terpaku di tempat, matanya berkedut cemas, melihat sosok laki-laki tinggi, gempal, berwajah latin yang kini telah berdiri tegak di hadapannya.

“Kau— siapa?” tanya laki-laki itu, senyum ramahnya merekah, senyum yang justru membuat Chanyeol semakin terlihat kaku di tempat.

Chanyeol benar-benar kalut, dia panik, bayangkan saja, seorang laki-laki yang baru saja melakukan tindakan asusila pada seorang gadis, kini tengah datang ke rumah gadis itu untuk mengucapkan permohonan maaf.

Sungguh itu bukanlah keputusan yang mudah.

Tapi Chanyeol tidak peduli dengan apa yang akan terjadi setelah ini, tidak peduli hal buruk apa yang akan menimpanya saat dia telah mengakui perbuatannya pada sosok laki-laki di hadapanya ini. Yang Chanyeol tahu dia harus menyelesaikan masalah ini secepat mungkin, yang Chanyeol tahu dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya semalam sebelum Seojung mengetahuinya. Ini kali pertama Chanyeol merasa sangat menyesal dengan kelakuannya, merasa sangat bersalah karena telah menghancurkan hidup seorang gadis baik-baik yang bahkan tidak dikenalnya. Selama ini Chanyeol tidak pernah memaksa gadis manapun untuk tidur dengannya, selama ini Chanyeol selalu melakukannya dengan para gadis yang dibayar mahal hingga mereka suka rela menyerahkan tubuh mereka.

“Aku—- Park Chanyeol! Akulah, yang telah melakukan hal buruk pada putri anda tuan.”

“Kau…,”

“Maafkan aku.”

 

BUKK!!!—

 

“BIADAB!!”

 

BUKK!!!—

 

Kembali pukulan keras bertubi-tubi menghantam wajah, rahang, dan perut Chanyeol, dia tersengal, terhuyung, lalu terduduk di lantai, memuntahkan darah segar dari mulutnya, luka lebam terlihat di hampir semua bagian wajahnya. Pelipisnya robek, cairan merah pekat terus mengalir dari sana, pandangan Chanyeol mulai mengabur, dia sesak.

Berkali-kali supir pribadi Chanyeol ingin bergerak menolong Chanyeol, namun laki-laki itu menahannya dan menerima semua pukulan keras yang dilayangkan Coraimo padanya. Chanyeol benar-benar menyesal, dia mengucapkan ribuan kata maaf yang sayangnya tak digubris oleh Coraimo, pria itu sudah tersulut emosi atas tindakan Chanyeol pada putri angkatnya, Song Jiyeon.

“Beberapa jam yang lalu seorang laki-laki berbaju hitam menawarkan sejumlah uang agar aku mencabut tuntutanku padamu, sekarang— kau dengan brengseknya datang untuk meminta maaf pada putriku.”

Coraimo meraih kerah kemeja Chanyeol, napasnya memburu, dia kembali melayangkan tinjunya pada Chanyeol, hingga laki-laki itu nyaris kehilangan kesadaranya.

“Coraimo hentikan!”

Teriakkan dari arah pintu menghentikan niat Coraimo untuk kembali menghantam Chanyeol, dia menghempaskan tubuh tak berdaya Chanyeol ke lantai yang sudah dipenuhi lumuran darah dari luka-luka Chanyeol.

“Apa kau mau membunuhnya?” Soledad menahan lengan Coraimo yang bergetar.

“YA! AKU INGIN MEMBUNUHNYA!!!” Coraimo berseru geram.

“Iya tapi ada apa? Siapa dia?” Soledad mencoba menghalau Coraimo yang kembali ingin menghajar Chanyeol.

“Membunuh laki-laki yang telah menyakiti putriku,” Soledad mengubah arah pandangnya, dia menatap gemetar sosok Chanyeol yang terlihat mencoba untuk bangkit.

Chanyeol bersimpuh, dia tak menghiraukan tetesan darah dari luka-lukanya yang kembali mengotori kemeja dan jas hitamnya, dia tak menghiraukan jika saat ini untuk pertama kalinya seorang Park Chanyeol (pengusaha kaya raya yang sangat di segani oleh pebisnis manapun di Korea bahkan dunia) berlutut di depan orang lain. Chanyeol benar-benar sangat menyesal, atas kesalahan yang sudah dibuatnya semalam.

“Aku akan bertanggungjawab, untuk apa yang telah aku lakukan pada putri anda, Tuan.” Suara Chanyeol terdengar sangat pelan, namun masih mampu didengar oleh Soledad. “Aku sangat menyesal Nyonya aku—- benar-benar tidak tahu, jika putri anda bukan gadis yang dibayar sepupuku untuk menemaniku semalam.”

“Aku memang sangat kecewa dengan apa yang sudah kau lakukan pada putriku, aku bahkan sudah tak mampu meneteskan air mataku, saat melihatnya menangis, dia terus mengusap seluruh kulit tubuhnya. Aku tidak sanggup saat dia menatap jijik ke arah tubuhnya sendiri, dia terus menangis sejak kepulangannya tadi pagi,“

“Aku— aku tahu jika aku tidak pantas untuk dimaafkan karena perbuatanku, tapi— aku bersungguh-sungguh untuk bertanggungjawab, Nyonya. Aku— aku benar-benar menyesal.”

Soledad membungkuk di hadapan Chanyeol, iris mata sebiru langit miliknya menatap Chanyeol, menautkan pandangan mereka saat sebulir air mata jatuh di pipi pucat Chanyeol.

“Benarkah kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu?”

Chanyeol mengangguk, dia kembali meneteskan air mata penyesalannya.

Soledad membungkuk, tangannya terulur ke wajah Chanyeol yang penuh luka, dia menatap hangat sosok laki-laki yang memancarkan ribuan penyelasana dari sepasang mata sayunya. Tatapan yang membuat Soledad percaya dengan niat baik Chanyeol pada putrinya, tatapan yang membuat Soledad memerintahkan supir pribadi Chanyeol untuk mendekat.

“Bawa dia pulang,” ujar Soledad pelan seraya membalikkan tubuhnya, namun kemudian Soledad kembali menatap Chanyeol yang sudah menahan lengannya.

“Izinkan aku membawa putri anda Nyonya, aku berjanji akan merawatnya dengan baik bersama tim dokter handal yang ada di negara ini. Dan setelah dia kembali sehat, akuakan menerima apapun keputusan dari putrimu atas diriku.”

~000~

5 Hour’s After Out From The Amor House

Chanyeol’s House

Private Living Room

Seojung menyeruak masuk ke dalam rumah mewah milik Chanyeol, menahan amarah, dia mempercepat langkah anggunnya, menghampiri sosok yang membuatnya murka hari ini. Sosok terpidana yang membuat mata wanita itu berkilat penuh amarah, senyum dinginnya yang selalu mampu mengintimidasi siapa saja yang menjadi lawan bicaranya terulas samar. Wanita dengan potongan rambut pendek sewarna brunette, menggunakan dress toska selutut berwarna dengan Stiletto sepuluh centi meter, hingga tubuhnya yang tanpa alas saja sudah mencapai 170 centi meter itu terlihat menjulang. Dia berdiri di depan Chanyeol, napas beratnya menderu kasar, tangan kanan Seojung mengepal, lalu mengayun di udara tepat sesaat sebelum laki-laki itu menyuarakan kata-katanya.

 

PLAAKK!!!—

 

“Aku benar-benar muak dengan semua tingkah menjijikkanmu, Park Chanyeol!”

Wanita itu mengeluarkan amarahnya pada Chanyeol, dadanya naik turun menahan segenap emosi tanpa pernah menghilangkan kesan elegant digerak tubuh dan tektur wajahnya yang tegas. Tak peduli dengan semua luka lebam di wajah Chanyeol, dia kembali memberi tamparan keras di sana. Chanyeol hanya mampu memejamkan mata, dia menahan rasa sakit di wajahnya dan kembali meluruskan pandangan. Tak begitu terkejut jika sang ibu sudah mengetahui scandal ini lebih cepat dari yang dia kira, Chanyeol tahu betul kecepatan kerja dari orang kepercayaan ibunya, Im Jinhwan. Mata hitam Chanyeol menatap sosok murka Seojung dalam diam, menatap sosok ibu yang sangat sibuk bekerja hingga selalu melupakan hari ulang tahunnya.

“Sampai kapan kau akan terus membuat masalah, umurmu bukan lagi remaja tanggung yang mencari identitas. Kau bahkan akan mengikat hidupmu dengan seorang gadis beberapa bulan yang akan datang. Tapi sekarang— kau membuat ulah dengan cara meniduri gadis yang salah. Bagaimana mungkin kau salah meniduri pelacur, PARK CHANYEOL!!!”

Wanita itu memalingkan wajah frustasinya, mendapati fakta yang tak pernah terlintas di benaknya hingga siang ini, tangan kanannya memberi kabar jika Chanyeol telah meniduri seorang pelayan hotel baik-baik dan bukan wanita penghibur.

“Sekarang gadis itu terlihat seperti orang gila yang meneriakkan namamu, bahkan pihak panti asuhan tempat gadis itu berasal tidak pernah sudi memaafkanmu walau aku mengeluarkan setengah dari kekayaanku untuk mereka!”

“Ibu,”

Seojung menatap Chanyeol tajam, menatap putra tunggalnya yang sudah kehilangan figur seorang ayah sejak berusia sepuluh tahun.

“Kau selalu saja membuatku malu dengan semua kelakuan brengsekmu di luar sana, aku benar-benar muak denganmu, Park Chanyeol!!”

“Aku akan bertanggungjawab,”

Chanyeol angkat bicara, dia melayangkan tatapan tajam yang terlihat persis seperti Seojung, tatapan yang justru tak mendapat empati dari Seojung sedikit pun. Seojung bahkan terlihat tertawa sumbang dengan ide yang diutarakan Chanyeol saat ini.

“Apa? Bertanggungjawab katamu? Kau pikir gadis itu mau menerimanya? Menerima laki-laki yang sudah menidurinya dengan paksa hingga merenggut masa depannya tanpa sisa, begitu?”

Wanita itu kembali meluapkan amarahnya hingga rasa nyeri menyerang kepalanya, Seojung memijit pelipisnya seraya memundurkan tubuhnya. Dia duduk di sofa coklat depan meja besar yang ada di ruang private milik putranya itu.

“Lalu apa yang akan kau katakan pada Yang Yoojin? Pada tunanganmu, pada calon mertuamu karena semua masalah ini? Apa kau sudah memikirkannya?”

Seojung mengerakkan jemarinya di atas meja, menoleh dalam tatapan dingin yang membuat Chanyeol kembali bungkam. Laki-laki itu sedikit lupa dengan fakta jika ada seorang gadis lain yang mencintainya, seorang gadis yang diam-diam sudah menguasai pikiran Chanyeol hingga laki-laki itu bersedia menjalin hubungan pertunangan.

“Aku akan menyelesaikan masalah ini dengan caraku, ibu tenang saja, aku tidak akan pernah melibatkan harga dirimu dalam masalahku ini.”

“Benarkah? Dengan cara membawa gadis yang kau tiduri ke rumah ini? Merawatnya dan berharap jika pihak keluarga gadis itu menarik tuntutan yang akan mereka layangkan sebentar lagi?”

“Mereka memberiku kesempatan untuk bertanggungjawab, dan masalah Yoojin, aku juga akan menyelesaikannya dengan caraku.”

Seojung bangkit dari bangku yang dudukinya, berjalan mendekati Chanyeol yang menatapnya lekat. “Baiklah. Aku akan memberimu kesempatan untuk menyelesaikan masalah ini, tapi jika kau gagal, maka kau harus mengikuti caraku, kau mengerti, Putraku?”

Senyum dingin sudah terpatri di wajah Seojung, mengiringi langkah angkuh wanita itu meninggalkan Chanyeol dalam kesunyian yang mencekam di belakang sana. Meninggalkan Chanyeol dalam terkaan panik atas rencana gelap Seojung yang tak terbaca, rencana untuk melakukan semua cara yang dia bisa dalam mempertahankan harga dirinya. Harga diri sebagai pengusaha kaya raya pemilik Shinhwa Corporation. Perusahaan besar yang menjual sederet resort mewah, tersebar hampir di seluruh Asia hingga Eropa, pemilik saham terbesar dari perusahaan minyak dan emas di Korea Selatan. Dan Park Seojung akan mempertahankan semua harga dirinya dengan segala cara. Apapun taruhannya.

~000~

Chanyeol’s Secret Private Room

First Night

Chanyeol mengentikan langkahnya di depan pintu warna putih, seorang laki-laki bertubuh tegab dengan selembar amblop coklat berukuran besar di salah satu tangannya mendekat, membungkuk hormat, lalu mengeluarkan selembar kertas putih dan beberapa lembar foto dari dalam amplob.

“Namanya Song Jiyeon dia lahir di Nowon tahun 1992, yatim piatu, umur sepuluh tahun orangtuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat. Dia gadis yang cenderung tertutup, tidak punya banyak teman selain penghuni panti. Bekerja paruh waktu di café di hari sabtu dan minggu, dan di Hotel mewah tempat anda menginap sejak tiga bulan lalu.”

Laki-laki yang tak lain adalah supir pribadi kepercayaan Chanyeol menghentikan laporannya, menyerahkan beberapa lembar foto Jiyeon yang kini sudah berada di tangan Chanyeol.

“Saya akan kembali melaporkan jika ada berita terbaru tentang gadis itu, Tuan Muda Park.”

“Terima kasih, Yixing.” Yixing membungkuk, lalu berlalu dari hadapan Chanyeol, pria itu tengah memandang satu lembar foto Jiyeon yang menarik perhatiannya.

Chanyeol menarik napas panjang berulang-ulang, dia menatap ke arah pintu putih dimana dia bisa melihat Jiyeon di dalamnya. Gadis itu dibawa oleh Chanyeol setelah mendapat izin dari Soledad, Jiyeon akan mendapat perawatan medis dari tim dokter dan psikiater handal yang akan menghilangkan trauma gadis itu. Seorang wanita dengan titel dokter Psikiater menyambut Chanyeol di ambang pintu, dia menatap penuh sesal hingga Chanyeol menautkan dua alis tebalnya. Menerka apa yang akan dokter itu katakan tentang keadaan Jiyeon di dalam sana.

“Dia masih sangat terpukul, masih terus menangis dan berteriak hingga kami harus menyuntikkan sedikit penenang ke darahnya, Tuan Park.”

Chanyeol memiringkan sedikit kepalanya, mencuri lihat sosok Jiyeon yang tertidur di atas ranjang besar dalam selimut tebal yang terlihat nyaman. Dia kembali menarik napas gusar dari kerongkongannnya yang kelu, tak punya kata yang pantas untuk semua yang sudah dilakukannya pada gadis itu, pada gadis yang bahkan baru Chanyeol ketahui namanya.

“Saya rasa, belum saatnya Anda menampakkan muka di hadapan gadis itu, karena sangat berbahaya untuk kejiwaannya saat ini,”

“Aku tahu apa yang harus aku lakukan, Dokter Kang. Terima kasih untuk semua yang kau lakukan pada gadis itu. Aku mau kau dan tim dokte mu mengawasi gadis itu selama 24 jam penuh, awasi semua yang dilakukannya selama aku tidak ada. Aku benar-benar mengandalkan kalian semua untuk masalah ini,”

Kang Jihye mengangguk mengerti seraya beringsut menjauh dari Chanyeol, pria itu memaksa untuk melihat Jiyeon, dia mendekati ranjang, mata bulatnya menatap sosok tenang Jiyeon dalam diam. Menatap sosok gadis yang berada di tempat yang tidak seharusnya hingga terpaksa melayani nafsu biadab Chanyeol semalam.

Jeritan dan airmata ketakutan Jiyeon semalam mulai memenuhi pikiran Chanyeol, jeritan yang entah mengapa justru terlihat mengoda di mata Chanyeol yang malam itu sudah tertutup hawa nafsunya. Chanyeol bahkan mengabaikan semua kata-kata Jiyeon yang mengatakan jika dia salah sasaran, namun otak Chanyeol sudah buntu, tertutup karena efek wine dan obat perangsang yang memabukkan pikirannya, lalu dengan tidak berperasaan merenggut kehoratan Jiyeon. Chanyeol menyentuh punggung tangan Jiyeon yang dingin, sesal kembali mendatangi Chanyeol, dia benar-benar menyesal untuk semua yang telah terjadi.

“Maafkan aku— Song Jiyeon.”

~000~

Day by Day

Jiyeon Private Room – 07.00 am

Mata Jiyeon terbuka perlahan, mengerjab sesaat setelah merasakan sentuhan hangat dari mentari pagi yang menyapa wajah pucatnya, dari balik celah jendela kamar yang sedikit terbuka. Gadis itu menoleh, melihat sekeliling, kesadarannya yang belum terkumpul penuh. Dia menatap seorang wanita paruh baya yang sudah tersenyum ramah ke arahnya, berdiri di tepi ranjang, ada beberapa wanita lain yang juga tersenyum ke arahnya, berdiri melingkari ranjang tidurnya.

“Selamat pagi Jiyeon.” Ucap wanita itu seraya duduk di sampingnya, dia mengusap kening Jiyeon lembut.

Jiyeon kembali mengerjab, matanya terasa masih dan berat, tenggorokannya kelu hingga dia malas untuk berucap. Namun ketika semua kesadarannya terkumpul, Jiyeon sadar jika saat ini dia berada di kamar asing, bukan kamar tidur di panti yang menjadi tempat tinggalnya selama ini. Dalam hitungan detik Jiyeon bangkit dari tidurnya, pupilnya melebar dan bergerak kalut, dia ingin segera turun dari ranjang. Jiyeon bergumam kecil, tubuhnya bergetar ketakutan, namun niat Jiyeon tertahan saat wanita di depannya menahan lengannya.

“Tenanglah Jiyeon aku tidak akan menyakitimu,”

“Si—siapa kau?”

“Aku dokter Kang Jihye, kemarin kita sudah pernah bertemu, apa kau lupa? Ibumu menitipkanmu padaku.” tatapan hangat Jihye menyihir Jiyeon, seketika dia terdiam, dahinya mengernyit, Jiyeon mencoba untuk mengingat sesuatu.

Namun tiba-tiba Jiyeon justru berteriak, mengusap tubuhnya membabi buta, terisak pilu, butiran air mata sudah membasahi pipi pucatnya. Jihye meraih tangan Jiyeon, menatap wajah takut Jiyeon, dia terlihat menahan air matanya sendiri. Jihye merasa iba dengan apa yang sudah terjadi pada gadis itu, Jihye memeluk Jiyeon erat, membisikkan kata-kata yang membuat isakan Jiyeon perlahan berhenti.

“Tidak ada yang akan menyakitimu lagi Jiyeon, percayalah padaku, eoh?”

Jiyeon tidak menjawab dia hanya melingkarkan tangannya yang gemetar di tubuh Jihye, menyandarkan dagunya di bahu wanita paruh baya itu, matanya terpejam, dia merasakan usapan menenangkan Jihye di punggungnya.

“Aku janji akan menjagamu, sekarang apa kau mau membersihkan diri? Sebentar lagi ibumu akan tiba di sini,—“

“Ibuku?” Jihye mengangguk, dia tersenyum hangat saat Jiyeon melepaskan pelukannya.

Tanpa kata Jihye memerintahkan semua perawat di ruangan itu, untuk menyiapkan apa saja yang di butuhkan Jiyeon. Dari pakaian, makanan, obat penenang, membuka semua jendela kamar selagi Jihye memapah Jiyeon ke kamar mandi. Sekali lagi Jihye menatap lekat wajah Jiyeon dan satu kata yang bisa Jihye katakan, Song Jiyeon… gadis yang sangat cantik. Matanya tidak terlalu sipit, bola mata hitam, bening seperti Kristal, bangir, bibir semerah cherry, putih bak pualam, rambut panjang sebatas pinggang berwarna black pearl, alis tebal yang tertata rapi. Sungguh Jiyeon adalah salah satu pahatan Tuhan, dengan keindahan yang nyaris sempurna.

Jihye menahan napasnya sesaat, merasa jika nasib gadis cantik dengan kejiwaan yang masih memprihatinkan itu sangatlah menyedihkan, Jihye selalu tak mampu menahan air matanya. Ya sudah dua hari sejak kejadian kelam itu, keadaan Jiyeon masih sangat labil, terkadang takut, cemas, namun selang beberapa waktu Jiyeon juga bisa terlihat sangat tenang. Jihye sangat bersyukur Jiyeon tidak gila karena kejadian pahit yang menimpanya, merasa bersyukur jika Jiyeon masih merespon apapun yang ada di sekitarnya dengan baik.

“Dokter,“

Jihye tersadar dari semua lamunannya, dia melihat Jiyeon yang tengah memperhatikan wajahnya. Perlahan gadis itu mengerakkan tangannya, mengusap wajah Jihye saat ada sebulir air mata disana. Jihye terpaku, dia kembali meneteskan air matanya, merengkuh tubuh kurus Jiyeon dalam pelukannya, tanpa sadar dia terisak pelan.

“Ada apa?” tanya Jiyeon binggung, Jihye hanya mengeleng lalu melepaskan pelukannya. “Kau mengingatkanku pada almarhum putriku,”

Jihye tak mampu menahan air matanya, dia mengusap rambut Jiyeon dan membantu melepaskan pakaian gadis itu. Jiyeon berendam dalam bathtube berisi air hangat, di pinggir bathtube terdapat lilin aromatherapy aroma lavender yang menenangkan, dengan lembut Jihye mengusap tubuh Jiyeon dan memulai terapinya. Meyakinkan Jiyeon jika tubuh gadis itu bersih, tak ada yang perlu diusap, meyakinkan Jiyeon jika tidak akan ada lagi yang akan menyakiti gadis itu sampai kapan pun. Jiyeon yang awalnya terus mengusap tubuhnya kasar, perlahan terdiam, terhanyut dalam tatapan hangat Jihye dan semua kata-kata psikis dari dokter psikiater itu.

Bekerja hampir separuh dari usianya sebagai dokter Psiakater dan masuk dalam lima dokter dengan predikat handal yang dimiliki Korea Selatan, sudah barang tentu Jihye punya keahlian yang mumpuni dalam mengembalikan keadaan jiwa pasiennya untuk menjadi lebih baik. Jiyeon adalah satu dari puluhan kasus tindakan Asusila yang pernah di tanganinya. Jihye menyunggingkan senyum samar di ujung bibir saat melihat Jiyeon semakin tenang, dia berharap Jiyeon akan segera pulih dari trauma menyakitkan yang menimpanya, karena sebuah kesalahan di malam menakutkan bersama Park Chanyeol, bersama milyuner yang membayarnya untuk pekerjaan ini.

~000~

“Dia—- dia tidak akan datang lagi ‘kan?” bibir Jiyeon bergetar, mengeratkan rangkulan tangannya di lengan Jihye.

Jihye menggeleng, dia mengusap jemari Jiyeon yang dingin, membawa gadis itu ke dalam walk in closet yang disediakan Chanyeol untuk gadis itu. Jiyeon sedikit terpana matanya melebar, menatap begitu banyak deretan pakaian di lemari terbuka dalam ruangan itu. Jiyeon membiarkan Jihye mengenakan dress kuning selutut dengan motif bunga kecil ke tubuhnya, menyisir rambut panjangnya, seraya terus memberikan usapan yang membuat Jiyeon merasa tenang.

“Dokter, apa kau tahu kita ada dimana?” tanya Jiyeon saat mereka kini duduk di sofa panjang yang ada di beranda, di depan mereka sudah tersaji banyak makanan.

“Di rumah seorang temanku,” jawab Jihye tenang.

“Kenapa aku harus berada disini?”

Jihye melirik Jiyeon, menopang dagunya di atas tangannya yang bertumpu di meja. “Bukankah kemarin aku sudah mengatakannya padamu, jika mulai sekarang kau tinggal bersamaku di sini, ibumu ingin aku membantumu menghilangkan rasa takutmu akan—“

Tanpa aba-aba Jiyeon bangkit dari sofa yang di dudukinya, dia berteriak, perasaan takut kembali mendatanginya, memucatkan wajahnya. Bayangan kejadian di malam yang menakutkan itu, tiba-tiba kembali memenuhi pikirannya, membuat Jiyeon terus berteriak, mendorong Jihye yang ingin memeluknya. Jiyeon menggelengkan kepalanya, dia menutup kedua telinga dengan tangannya. Jiyeon terhuyung, dia terus berjalan mundur hingga punggungnya membentur tembok pembatas beranda. Dia masih terus berteriak, mengusap tubuhnya, linangan air mata mengaburkan pandangannya. Jiyeon bahkan berkali-kali menepis tangan Jihye yang ingin meraihnya, dia menatap Jihye dengan napas yang memburu seraya berteriak kencang sesaat sebelum pada akhirnya gadis itu ambruk di lantai beranda yang dingin.

“Aku membencinya— AKU MEMBENCINYA!!!”

~000~

Sekali lagi Chanyeol mengusap wajah frustasinya, dia tidak bisa konsentrasi untuk menyelesaikan setumpuk pekerjaan yang telah menunggu sejak pagi. Pikiran Chanyeol hanya berkutat pada fakta Jiyeon yang sudah beberapa hari ini ada di rumahnya, memikirkan tentang keadaan gadis yang tanpa diperkirakan kini telah masuk ke dalam lingkaran kehidupannya. Chanyeol mendesah, kepalanya bersandar pada kursi kuasanya, dia membaca ulang pesan singkat yang dikirimkan dokter Kang beberapa menit yang lalu. Jiyeon kembali mengamuk dan tak sadarkan diri, gadis itu kembali berteriak dan ingin menyakiti tubuhnya sendiri sama seperti hari-hari sebelumnya.

Chanyeol semakin merasa bersalah pada gadis malang itu, dia merasa semakin ingin melihat keadaan Jiyeon dan meminta maaf padanya. Namun Chanyeol harus menahannya, menurut Jihye jika Chanyeol menemui gadis itu sekarang, justru akan semakin memperburuk keadaan Jiyeon. Keadaan gadis malang yang berada di tempat dan di malam yang begitu salah, hingga membuat gadis itu terikat pada Chanyeol entah sampai kapan. Chanyeol melirik sekilas ke arah pintu yang baru saja terbuka, memperlihatkan sosok tegab Yixing di ambang pintu, pria itu membungkuk hormat seraya berkata :

“Soledad baru saja tiba di rumah untuk melihat keadaan Nona Jiyeon,”

Chanyeol hanya mengangguk.

“Dan satu hal lagi, Tuan Muda,“

Yixing menggantungkan kalimatnya, dia melirik sekilas ke arah jam tangan yang melingkar di pergelengan tangannya. Yixing tersenyum tipis lalu berjalan menuju pintu, membuka pintu secara perlahan hingga memunculkan sesosok gadis cantik yang sudah tersenyum ke arahnya.

“Hari ini Nona Yang Yoojin sudah kembali ke Korea dan ingin menemui anda, Tuan” ucap Yixing lalu tanpa kata beringsut keluar dari ruang kerja Chanyeol.

“Oppa!”

Chanyeol yang masih terkejut tak menjawab sapaan yang ditujukan untuk dirinya, dia hanya diam, matanya tak berpaling dari sosok cantik di depannya. Gadis bertinggi badan 168 centi meter, rambut panjang sewarna jingga yang berkilau, dengan eye smile yang semakin menambah kecantikan dari wajah gadis yang kini sudah berdiri di depan meja kerja Chanyeol.

Gadis itu adalah tunangan Park Chanyeol sejak beberapa bulan lalu, putri tunggal dari seorang pengusaha roti yang terkenal. Yoojin menyandarkan tubuhnya di pinggir meja depan Chanyeol, sedikit membungkuk seraya melingkarkan tangannya di leher Chanyeol, sebuah kecupan hangat yang dia layangkan ke bibir laki-laki itu. Yoojin tertawa pelan saat Chanyeol tak membalas kecupannya, dia mengusap lembut wajah Chanyeol yang terlihat pucat.

“Kenapa? Apa aku pergi berlibur terlalu lama, hingga Oppa lupa padaku?”

Bibir merah muda Yoojin mengerucut, dia melepaskan rangkulan tangannya di leher Chanyeol, bergumam pelan untuk meluapkan rasa kecewa atas sambutan hambar dari sang tunangan. Mereka sudah tidak bertemu selama dua minggu, Yoojin menghabiskan liburan musim seminya di Paris.

“Maaf, aku hanya sedang terlalu banyak pekerjaan,”

Tetap bertahan dengan kekesalannya, Yoojin menepis tangan Chanyeol yang ingin merengkuhnya. Dia berjalan pelan menuju jendela ruang kerja Chanyeol, melirik Chanyeol yang masih duduk di bangku kuasanya. Yoojin menatap cincin cantik di jemari manisnya, cincin yang mengikat dirinya dan Chanyeol, dengan laki-laki sibuk berpredikat brengsek yang justru sangat dicintainya.

Chanyeol menatap Yoojin yang tersenyum di depannya, menatap gadis dengan tingkat kesabaran di atas rata-rata hingga bisa bertahan di sisinya lebih dari gadis-gadis lain yang pernah ditunangkan kepadanya. Gadis yang samar tapi pasti telah membuat Chanyeol yakin, jika dia telah menemukan malaikat hati yang akan menemani sisa hidupnya di dunia ini. Chanyeol mendekati Yoojin, tanpa kata tangan kokoh Chanyeol sudah melingkar erat di pinggang ramping Yoojin. Terasa mengerat saat Yoojin menggeliat, dia menyandarkan dagunya di bahu Yoojin menyembunyikan wajahnya di sela leher gadisnya. Menghirup aroma tubuh Yoojin yang sewangi udara pagi, segar dan menenangkan, Chanyeol menghadiahi puluhan kecupan ringan di leher Yoojin hingga gadis itu tertawa pelan.

“Yoojin,“ Chanyeol semakin mengeratkan pelukannya. “Jika aku melakukan kesalahan, apa kau akan memaafkanku dan tetap bertahan bersamaku hingga akhir?”

Yoojin berpaling, alis tipisnya bertaut, dia menggerakkan tubuhnya hingga pelukan Chanyeol terlepas. Gadis itu berbalik, membiarkan Chanyeol kembali merangkul erat tubuhnya. Yoojin mengerjab, lalu melingkarkan tangannya di leher Chanyeol, dia kembali tersenyum.

“Tergantung kesalahan apa yang Oppa buat, lagi pula bukankah selama ini aku selalu memaafkanmu?”

Gadis itu memajukan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan, mengeratkan rangkulannya saat Chanyeol akhirnya memiringkan wajahnya, bibir mereka menyatu, mengecup satu sama lain dengan lumatan lembut yang mengetarkan jiwa.

“Aku sangat mencintaimu, aku benar-benar tidak ingin kehilanganmu, Yoojin.”

Chanyeol menarik tubuh Yoojin ke dalam pelukannya, mengeratkannya bersama perasaan takut yang membuncah. Dia benar-benar takut kehilangan Yoojin karena kesalahannya yang dia buat apa Jiyeon, benar-benar tidak tahu apa yang akan dia perbuat jika kali ini Yoojin tidak bisa memaafkannya dan memutuskan untuk meninggalkannya. Dia sangat takut jika pada akhirnya Yoojin menyerah dalam menghadapi sikap brengseknya, sikap yang selama ini selalu saja dimaafkan oleh Yoojin tanpa Chanyeol harus memohon.

“Selama Oppa menginginkanku, aku pasti akan selalu bertahan bersamamu.”

Chanyeol akhirnya bisa sedikit bernapas lega, dia menghujani puncak kepala Yoojin dengan puluhan kecupan hangat, Chanyeol yakin jika sampai saat ini, dia masih memiliki seorang Yang Yoojin di hidupnya.

~000~

Chanyeol berjalan menaiki anak tangga di dalam rumahnya, wajahnya menunduk, sesekali pria sibuk itu juga terlihat menendang udara kosong di depannya, napasnya berhembus berat, dia melangkah tertatih dengan semua beban hidup yang di pikulnya. Chanyeol menghentikan langkahnya, dia menatap nanar pintu kamar dimana Jiyeon berada di dalamnya. Chanyeol berdiri mematung di ambang pintu kamar Jiyeon, lalu tanpa sadar dia memutar knopnya, hingga pintu itu terbuka. Chanyeol memerintahkan beberapa perawat yang menjaga Jiyeon untuk meninggalkan kamar, dia juga terlihat mengabaikan kata-kata Kang Jihye untuk tidak menemui Jiyeon secepat ini.

Tapi Chanyeol tidak peduli, dia hanya ingin melihat Jiyeon sebentar, memastikan jika keadaan gadis itu sudah lebih baik. Chanyeol berhenti di pinggir ranjang, dia melirik sepintas Jihye yang bersikeras untuk tetap berada di dalam kamar, berdiri tak jauh dari ranjang. Chanyeol menatap wajah pucat Jiyeon yang tertidur, satu hembusan napas yang menyesakkan menguar di udara, Chanyeol melayangkan ribuan kata maaf saat jari bergetarnya menyentuh punggung tangan Jiyeon yang mendingin.

“Maafkan aku— Song Jiyeon.”

Tanpa diduga mata tertutup Jiyeon terbuka, gadis itu menatap samar sosok Chanyeol yang duduk menunduk di depannya. Jiyeon mengerjab, pupilnya melebar, perlahan Chanyeol menegakkan kepalanya, menatap terkejut ketika pandangan mereka bertemu untuk pertama kalinya setelah kejadian kelam itu.

“Ji— Jiyeon?”

Teriakkan histeris Jiyeon pecah seketika, gadis itu bangkit, lalu mendorong tubuh Chanyeol yang masih terkejut hingga terjungkal di lantai. Dengan gerakan yang sangat cepat hingga Chanyeol tak mampu menghindar, Jiyeon meraih gelas besar di atas nakas lalu menghantamkannya tepat di kepala Chanyeol. Jihye yang melihat kejadian cepat itu terkejut, dia berteriak tertahan lalu berlari mendekat, Jihye benar-benar tak menyangka jika Jiyeon akan melakukan hal itu. Gadis itu menatap Chanyeol dengan napas memburu, dadanya naik turun, dia mengeratkan genggaman tangannya saat rasa takut pada sosok Chanyeol membuatnya memaku di tempat, menatap Chanyeol yang hanya diam dengan gumamman pelan nyaris tidak terdengar. Chanyeol memandang Jiyeon, lalu meraba kepalanya saat cairan merah pekat berbau amis terlihat mengalir melewati pelipisnya.

“Maafkan aku—- Song Jiyeon.”

Dan detik berikutnya tubuh Chanyeol sudah beringsut di lantai, kepalanya nyaris menyentuh ujung kaki Jiyeon. Gadis itu kembali berteriak histeris, Jihye meraih tubuhnya, memapah Jiyeon menjauh dari tubuh Chanyeol yang sudah di angkat oleh Zhang Yixing, pria itu datang tepat waktu dengan beberapa perawat untuk melarikan Chanyeol ke rumah sakit.

~ TBC ~

 

 

 

26 thoughts on “The Night Mistake (Chapter 2)

  1. ketinggalan banget :3
    jiyeon depresi berat. kasian😦
    malah tunangan chanyeol udah balik ke korea. kalo yoojin tau kesalahan chanyeol apa dia masih mau ama chanyeol ya?

  2. sampe segitu traumanya jiyeon..
    kirain chanyeol ngelakuin itu karna mulai suka, tapi itu mah akhirnya nyakitin jiyeon..

  3. Woow, chanyeol bener2 dlam masalah besar kayanya. Yg sabar aja ya yeol
    Jiyeon moga cepet sembuh ya, kasian aku ma kamu
    Daebakk thor (y)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s