Sehun, I’m Pregnant (Chapter 7)

Tittle : Sehun, I’m Pregnant (7)

Author : Park Sunghyo

Genre : AU – Romance – Marriage Life

Length : Chapter

Rating : PG – 17+

Main Cast : Oh Sehun – Park Sungra

Selamat membaca/

~*~

“Aku sudah melihatnya. Foto Han Yesoo, aku sudah melihatnya.”

Tak ada sepatah kata pun yang mampu keluar dari bibir Sungra. Gadis itu hanya menghela nafas dan memejam sebentar.

Sehun masih setia menatap Sungra, menunggu reaksi selanjutnya dari gadis itu namun tak ada.

Kesal dengan diamnya Sungra, Sehun mendekat dan mencengkram lengan gadis itu kuat.

“Sejak kapan kau mengetahui ini?”

Sungra hanya diam dan menurunkan pandangannya.

Sehun menghempaskan tangan Sungra kasar. Pria itu berbalik dan berteriak marah. Sungra bergidik dan matanya masih menatap lurus ke lantai.

Pria itu setengah tertawa mengingat betapa bodoh dirinya dipermainkan selama ini. Bahkan semua sahabat juga istrinya sudah lebih dulu melihat foto sialan itu dibanding dirinya.

Tangan Sehun terkepal erat dan rahangnya mengeras.

“Bagaimana bisa…,” gumamnya tak percaya.

Sungra merasa begitu kecil di hadapan Sehun sekarang. Tak ada lagi yang perlu ia jelaskan. Foto itu benar-benar sudah mewakilinya.

Sungra mengeratkan kedua tangannya yang gemetar. Sehun benar-benar mengerikan saat sedang marah.

Tak lama pria itu berjalan cepat menuju pintu apartemen namun segera ditahan Sungra.

Dengan berani Sungra menatap Sehun, menyampaikan ketidaksetujuannya jika pria itu pergi dalam keadaan emosi.

Tatapan Sehun begitu menusuk dan melepaskan kaitan tangan Sungra dengan kasar.

“Jangan campuri urusanku.”

~*~

“Kau yakin akan pulang sekarang? Kita masih punya banyak waktu.”

Kris tersenyum mendengar rajukan Yesoo.

“Aku harus menyelesaikannya segera. Besok kita bertemu.”

Yesoo menghela nafas dan mengangguk tak rela. Kris mengecup singkat bibir gadis itu.

Tiba-tiba Yesoo menjerit kaget melihat Kris yang sudah terhempas akibat pukulan keras Sehun.

“Bangun kau brengsek!”

Kris masih setengah sadar menerima situasi yang baru saja terjadi. Pria itu mengelap ujung bibirnya yang berdarah dan bangun perlahan.

Beberapa detik mereka saling terdiam dan memberikan tatapan tajam. Nafas Sehun masih memburu dan amarah memuncak sampai ke ubun-ubunnya. Hasrat ingin menghajar pria di hadapannya masih sangat kuat.

Kris tersenyum kecut dan mengepalkan tangannya menahan kekesalan. Ternyata kekasih Yesoo ini agresif juga, berbeda dengan tampilan luar pria itu yang sangat tenang.

“Ck. Situasi macam apa ini?” tanya Kris dengan nada remehnya.

Sehun kembali menghajar Kris tepat di rahang kokohnya, membuat pria itu terjerembab jatuh menghantam lantai.

Kedua tangan Yesoo bergetar hebat menahan takut.

“Berhenti! Sehun berhenti kumohon!” teriak Yesoo putus asa.

Kepalan tangan Sehun berhenti di udara saat ingin memukul Kris kembali.

Ada rasa sakit luar biasa dalam hati Sehun mendapati Yesoo mengkhawatirkan selingkuhannya. Seperti ratusan jarum tajam yang menusuk-nusuk hatinya tanpa henti.

Sehun berdiri dan menendang keras perut Kris hingga pria itu merintih pelan.

“Balas pukulanku, bodoh. Jangan membuat dirimu seperti pria berjiwa besar,” tukas Sehun kesal.

Wajah Yesoo memucat dan bibirnya bergetar saat hendak mengeluarkan beberapa kata.

“Sehun….”

Sehun mengalihkan pandangannya dan menatap wajah nanar Yesoo. Gadis itu berjalan mendekati Sehun dengan wajah yang sudah penuh air mata. Sehun tak bergeming sama sekali, menunggu gadis di hadapannya membuka suara terlebih dahulu.

“Mianhae….”

“Kau pikir apa yang kau lakukan?”

Yesoo memejamkan kedua matanya sesaat mendengar nada dingin Sehun. Wajah pria itu mengeras dan menampakkan amarah yang luar biasa.

Yesoo terisak pelan, kedua bahunya naik turun tak mampu mengontrol tangisannya. Sehun tetap diam tanpa menunjukkan reaksi apapun. Hatinya begitu terluka melihat gadis yang dicintainya menangis, namun kekecewaannya lebih besar menutupi akal sehatnya.

“Mianhae….”

Nafas Sehun masih memburu dengan seluruh gejolak emosi di dadanya. Pria itu mendesah keras dan mengusap wajahnya frustasi.

Tak ada dari mereka yang ingin bicara. Hanya isakan kecil Yesoo yang terus terdengar.

Yesoo menggenggam tangan Sehun dengan kedua tangannya.

“Sehun…mi—mianhae…mianhae…,” lirih Yesoo di sela-sela tangisannya.

Sehun mendesah keras menumpahkan kekesalannya.

Pria itu beralih menatap wajah Kris yang tengah menahan sakit. Sialan, pria itulah yang ada di foto bersama Yesoo.

Jantung Sehun terasa diremas-remas tak karuan. Ingin sekali Sehun menerjang Kris kembali dan memberikan pukulan bertubi-tubi padanya.

Namun melihat wajah sedih Yesoo membuat Sehun mengurungkan niatnya. Menambah kepedihan dalam hati Sehun.

Rasa kecewa dan tak terima menguasai diri Sehun saat ini. Yesoo mengangkat pandangannya dan menemukan kedua mata Sehun yang penuh dengan kilat kemarahan.

“Melihatmu tanpa penjelasan dan hanya menangis membuatku semakin yakin,” ujar Sehun tajam.

Wajah Yesoo sudah memerah akibat tangisannya. Jantungnya berpacu sangat cepat tiap mendengar suara Sehun yang menyudutkannya.

Tidak. Yesoo tak bisa berbicara apapun kali ini. Ia kalah telak dengan cara memalukan di hadapan pria yang dicintainya.

Hening beberapa saat.

“Besok aku akan menemuimu,” datar Sehun.

Yesoo tersenyum miris.

“Besok…bukan pertemuan terakhir kita bukan?”

“Pikirkanlah sendiri.”

Sehun segera melepaskan diri dari Yesoo dan berjalan menjauh dengan langkah cepat. Yesoo menatap hampa ke arah punggung Sehun yang semakin menjauh, air mata tak kuasa ia tahan dan kembali menangis sesenggukan.

Kris bangun dan berjalan tertatih menuju Yesoo. Dipeluknya gadis itu dan seketika tangis Yesoo pecah tak terkendali.

~*~

Sungra terbangun dengan peluh membanjiri wajahnya. Sial, dia mimpi buruk lagi.

Gadis itu menghela nafas sebentar sebelum menoleh melihat Sehun yang tengah tertidur di atas sofa.

Entah kapan pria itu pulang Sungra tak tahu. Sungra tidur terlalu dini dan sekarang berefek bangun tengah malam.

Sungra bangkit dari ranjangnya dan berjalan mendekat ke arah Sehun. Dapat dengan jelas Sungra lihat lingkaran hitam di bawah mata pria itu.

Rasa penasaran luar biasa melingkupi diri Sungra saat ini. Kira-kira apa yang terjadi saat Sehun menemui Yesoo beberapa jam yang lalu?

Pergi dengan emosi seperti itu pastilah terjadi keributan besar di antara mereka. Sungra tidak merasa senang sama sekali dengan kenyataan itu, kekhawatiran justru melanda dirinya saat ini.

Diam-diam Sungra sering menelfon Jay—sekretaris Sehun—untuk menanyakan kabar dan keadaannya. Sungra juga wanita normal, wajar bukan jika ia khawatir pada suaminya sendiri?

Terlebih kebiasaan Sehun yang ternyata suka meminum tiga cangkir kopi bahkan lebih dalam sehari. Sehun memiliki mag dan selalu mengabaikan kesehatannya sendiri.

Saat ia sendiri kesulitan dan malah memperdulikan orang lain.

Memperdulikan kekasihnya, Han Yesoo.

Tinggal beberapa bulan bersama pria ini membuat Sungra makin mengerti kepribadian rumit Sehun. Tipe pria dingin yang saat jatuh cinta akan menjadi pria gila.

Sungra begitu iri melihat betapa bahagianya Yesoo memiliki kekasih seperti Oh Sehun.

Dan gadis itu justru melukai Sehun seperti ini.

Gadis sinting. Maki Sungra dalam hati.

Bagaimana kau akan hidup setelah pengkhianatan seperti itu terjadi dalam hidupmu?

Pertanyaan itu berputar di kepalanya sambil menatap Sehun lama. Rasa bersalah juga tak luput dari perasaan Sungra, harusnya ia langsung menghapus foto gila itu dan bukan menyimpannya.

Sungra mengelus wajah rupawan itu dengan hati-hati. Menyalurkan rasa simpati yang teramat besar untuk Sehun, dan akan lebih baik jika Sungra bisa ikut berperan mengobati hatinya.

Sehun membuka kedua matanya perlahan dan langsung terduduk di atas sofa. Sungra yang terkejut langsung mengendalikan ekspresi wajahnya dan sedikit menjaga jarak dari pria itu.

Sungra menurunkan pandangannya melihat tatapan Sehun yang begitu tajam.

“Menjauhlah dariku.”

Nada dingin Sehun cukup untuk membuat Sungra berpaling dan kembali naik ke atas ranjangnya. Gadis itu tidur memunggungi Sehun sambil mengatur nafas, mencoba menekan perasaannya.

Kedua mata Sungra memejam paksa menolak untuk mengeluarkan air mata.

Oh Sehun, jika kau merasa terluka, maka aku merasakan hal yang sama.

~*~

Sungra bangun dengan sakit yang mendera kepalanya.

“Hujan lagi,” ucapnya entah pada siapa.

Ia langsung mendesah pelan melihat lipatan selimut yang rapi di atas sofa.

Sehun selalu meninggalkannya seperti ini.

Gadis itu bergegas menuju dapur dan menghangatkan masakan yang dibawa mertuanya semalam. Untungnya eommonim datang saat Sehun pergi untuk menemui Yesoo, membuat Sungra mudah memberi alasan pada mertuanya saat itu.

Sungra mengunyah makanannya dengan cepat dan langsung menyuapkan sesendok kembali ke dalam mulutnya. Ia benar-benar lapar.

Sungra termenung. Apakah di Seoul hanya dirinya seorang sajakah yang menjadi calon ibu malang hari ini?

Semua suami tentu memperhatikan istrinya terlebih saat hamil. Tapi Sungra dapat apa? Kenyataan suaminya yang menggalaukan wanita lain sedangkan ia mengurusi kehamilan seorang diri.

“Lupakan,” ujarnya menenangkan diri sendiri.

Tak lama ponsel Sungra bergetar membuatnya harus menghentikan makan sejenak.

“Park Sungraa!”

Sungra segera menjauhkan ponselnya mendengar pekikan heboh Hyera.

“Kau bisa bicara normal, Lee Hyera.”

“Bagaimana aku bisa bertindak normal sekarang? Sungra tolong aku, kumohon!”

Sungra tersenyum mendengar suara Hyera berbicara dalam satu tarikan nafas.

“Beritahu aku. Ada apa?”

“Ini darurat. Kau harus ke rumahku sekarang!”

“Baiklah. Setelah aku menyelesaikan makanku dulu.”

“Berhentilah makan dan ke rumahku sekarang! Aku akan menyajikan makanan apapun sesampainya kau di sini!”

Sungra memijat keningnya perlahan dan mendecak sebal.

“Lee Hyera, kau benar-benar membuatku gila.”

“Kau tahu aku tidak waras, sweety. Cepatlah, kutunggu. Bye!”

Gadis ini benar-benar. Maki Sungra dalam hati.

~*~

Sehun menyilangkan kedua lengannya dan duduk dengan perasaan gelisah. Satu jam yang lalu ia sempat menghubungi Suho via telpon menanyakan identitas pria brengsek itu.

“Namanya Kris Wu. Pria keturunan Cina yang menetap sejak lama di Korea karena suatu alasan. Sekarang dia mapan dan digandrungi banyak wanita kalau kau mau tahu. Dia seangkatan denganku waktu di SMA dulu namun tidak sekelas. Yah, hanya sekedar tahu informasi luar dari pria itu. Aku mengetahuinya dari Tao, dia teman satu lesku saat itu dan ternyata masih memiliki ikatan darah dengan Kris. Begitulah.”

Deretan kalimat Suho berputar dalam otak Sehun. Begitu banyak wanita yang mengelilinya namun mengapa harus Han Yesoo?

Lagi-lagi Sehun mendesah keras. Kesal sekali jika mengingat kedua orang itu dalam waktu bersamaan.

Tak lama bel berdenting menandakan seseorang memasuki ruangan.

Mata Yesoo berpendar dan menemukan Sehun yang duduk di ujung ruangan. Gadis itu langsung duduk di hadapan Sehun tanpa mau memandang pria itu sama sekali.

Sehun masih setia menatap rintikan hujan dari balik kaca besar café ini. Hatinya bertalu-talu diiringi rasa perih yang masih sangat terasa. Sehun merasa tak sanggup berpaling dan melihat wajah cantik itu.

Yesoo menautkan jari-jarinya di bawah meja dengan gusar, sesekali ia menggigit bibir bawahnya menahan kegugupan.

Beberapa detik mereka terdiam sebelum Sehun mengalihkan pandangannya.

“Kau…benar-benar hamil?”

Dada Yesoo terasa dipukul dengan keras. Rasa sakit dan malu bercampur dalam hatinya. Nada Sehun begitu dingin dan cara bicara pria itu yang langsung membuatnya mati kutu seketika.

Sehun menatap raut wajah Yesoo dan memilih diam.

“Ya,” jawab Yesoo pelan.

Sehun menarik nafas perlahan.

“Benarkah itu anakku?”

Tubuh Yesoo langsung menegang di tempat ia duduk. Yesoo tak menjawab dan hanya melempar pandangan ke luar kaca.

Sehun merasakan sakit sampai ke rongga-rongga hatinya. Mereka menjalin hubungan tak hanya sebulan-dua bulan saja, mana mungkin Sehun tak mengetahui letak kejujuran dan kebohongan besar macam ini?

Sehun menghela nafas.

“Kurasa, mulai sekarang Kris harus menjaga kalian berdua. Kau dan bayi yang kau kandung.”

Yesoo memejam sesaat mendengar ucapan sarkastis pria di hadapannya. Perih menjalar di tiap saraf Yesoo.

Yesoo tersenyum miris dan berujar, “Kau…masih ingatkah dengan tempat ini?”

Sehun terdiam sesaat.

“Ya.”

“Tempat pertama kali kita bertemu,” balas Yesoo dengan mata menerawang.

Ingatan mereka berdua kembali pada dua tahun silam di mana mereka bertemu kala itu.

Sehun tersenyum miring dan menatap Yesoo tajam.

“Kau terlihat menyedihkan, Yesoo-ya. Berhentilah.”

Mata Yesoo memerah dan nafasnya mulai tak teratur. Benar, Sehun sudah berubah dan tak akan ada lagi ruang untuknya di hati Sehun.

“Mianhae, Sehun-a.”

Kembali Sehun harus menyaksikan wajah gadis yang dicintainya menangis pilu. Tuhan, sungguh ia tak sanggup.

Ini adalah pengkhianatan pertama yang paling menyakitkan dalam hidup Sehun, terlebih dilakukan oleh kekasihnya sendiri, cinta pertamanya.

Ingin sekali Sehun merengkuh gadis di hadapannya dan mengucapkan maaf beribu kali. Tak egois, ia juga salah selalu menyakiti dan meninggalkan Yesoo sendiri, hingga gadis itu kesepian dan membuatnya berpaling.

Han Yesoo. Andai kau bisa menungguku sebentar lagi.

Dan sekarang kalimat itu hanya akan menjadi pengandaian belaka. Hidupnya mungkin akan hampa dan terlihat memilukan sebentar lagi.

Tak bisakah Yesoo bersabar sedikit hingga mereka memiliki cinta yang utuh? Tak bisakah? Sehun tak pernah merasa semenderita ini.

Kris. Dia pria yang baik. Sehun jamin itu.

Dan sepertinya Yesoo akan menjadi tanggung jawab pria itu, bukan lagi dirinya.

“Tadi kau bilang, café ini adalah tempat pertama kali kita bertemu, bukan? Sepertinya café ini juga akan menjadi tempat terakhir kali untuk kita bertemu,” ujar Sehun.

Yesoo menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis sedikit keras. Untungnya café ini masih sepi pada pagi hari hingga memberi ruang hanya untuk mereka berdua.

Tanpa sepatah katapun, Sehun pergi meninggalkan Yesoo yang tengah menangis. Berlama-lama di sana justru akan membuat Sehun menghancurkan dinding pertahanannya. Dan dia tak mau hal itu terjadi.

Kris telah memberikan tanda pada gadisnya dan Sehun haruslah menyerah secara telak. Dan mulai hari ini, penderitaan Sehun akan berlanjut entah sampai kapan.

~*~

“Sungra-yaa!”

Sungra yang baru datang langsung dihadiahi pelukan gila dari Hyera. Gadis itu terdengar sulit mengatur nafasnya membuat Sungra mengerutkan alis.

Sungra melepas pelukan mereka dan menemukan wajah Hyera yang tragis.

“Apa wajahmu habis dipukul?”

“Huaaaa!”

Kembali Hyera memeluk Sungra dan menangis keras-keras. Sungra menepuk-nepuk bahu sahabatnya walau ia sendiri masih bingung dengan keadaan yang terjadi.

Berselang beberapa detik, Nyonya Lee turun dari tangga sambil tersenyum lucu melihat Sungra dan Hyera yang berpelukan.

“Aigooo. Anak cantikku datang! Yaa…sudah berapa lama kau tak mengunjungi rumah kami, Sungra-ya? Lihatlah tingkah laku Hyera yang baru saja putus dari si byun itu, anak ini benar-benar.”

Sungra tersenyum manis sebagai balasan.

Tak lama Hyera melonggarkan pelukannya dan berbalik menatap sang ibu.

“Eomma!”

Nyonya Lee terkikik geli dan mempersilahkan Sungra masuk. Hyera menolak untuk membawa Sungra ke ruang tamu, bisa-bisa ibunyalah yang banyak mengoceh dibanding dirinya.

Hyera menarik Sungra menuju kamar dan mendudukkan diri mereka di atas ranjang.

“Kau putus?”

Hyera mengangguk lesu sebagai jawaban.

“Ck. Bagaimana bisa? Apa yang salah, eoh?”

Bibir Hyera bergetar dan kali ini gadis itu menangis pedih.

“Dia—dia selingkuh, Sungra-ya….”

Mata Sungra mengerjap pelan. Darahnya mendesir pelan mendengar suara lemah Hyera.

“Jinja?” lirih Sungra.

“Sakit sekali! Aku tak habis pikir dengannya,” balas Hyera diiringi tangisannya.

“Dengan siapa? Katakan padaku, akan kupatahkan leher gadis itu!”

“YA! Mengapa kau membuat lelucon disaat aku menangis!”

“Menangis terlalu lama tak akan menyelesaikan masalahmu, bodoh. Kau pikir si Baekhyun itu akan perduli dengan penderitaanmu sekarang? Tentu tidak. Jangan lembek, Nona Lee.”

Mendengar itu, Hyera sedikit memelankan ritme tangisannya, tak seheboh tadi.

“Apa kau pikir…aku bisa?” tanya Hyera ragu.

“Bisa atau tidak adalah pilihanmu sendiri. Saat Tuhan menjauhkan kita dari seseorang yang kita cintai, pasti ada hikmah di balik itu. Kau tak tahu apa-apa, sayang. Rahasia Tuhan sungguhlah indah. Trust me,” jawab Sungra menenangkan.

“Lalu bagaimana aku akan menghadapi hariku saat di sekolah? Dia populer dan suka berkeliaran di mana-mana! Semua gadis memujanya dan itu benar-benar membuatku gila!”

Sungra setengah tertawa melihat wajah frustasi sahabatnya itu.

“Byun Baekhyun, bukan yang terbaik untukmu, Hyera-ya. Kau bisa mengatakan dia pria paling sempurna sekarang, namun kita tak tahu jika ucapanmu akan berubah dua tahun ke depan bukan? Kuatlah, sayang. Kau harus berdiri dengan kakimu sendiri. Bersyukurlah dengan apapun yang terjadi, semua ada balasannya masing-masing,” nasihat Sungra panjang lebar.

Hyera mengagumi betapa bijak sahabatnya itu. Inilah mengapa Hyera begitu merasa dianugerahi keberuntungan. Kau akan jarang mendapatkan sahabat macam ini, bukan?

“Hey. Mau kau perempuan atau lelaki, kau harus sekuat ibumu atau lebih, okay?” Hyera mengelus sambil berbicara pada perut Sungra yang sedikit menonjol.

Pengkhianatan memang menyakitkan, terlebih jika dilakukan oleh orang yang kita cintai.

~*~

“Lee Hyera, berhenti. Sungra, apa yang salah dengan sahabatmu ini, eoh?”

Sungra tersenyum tipis kemudian menjawab, “Hubungannya baru saja berakhir.”

“Jinja?!”

Suho, D.O, dan Chanyeol berteriak bersamaan.

“YA oppa! Mengapa kalian begitu kaget? Tidakkah kalian ikut menangis bersamaku ‘eoh?”

“Teror saja dia!”

“Kau harus menghujat mereka di sosial media!”

“Patahkan saja leher gadis itu!”

Sungra dan Kai tergelak mendengar celotehan mereka bertiga. Hyera makin menangis dan memukul mereka dengan semangat.

“Ck. Apa tak ada pria tampan lain di sekolahmu?” tanya Chanyeol.

“Tak ada! Hanya dia!” jawab Hyera sengit.

“Ah gadis ini benar-benar. Matamu saja yang sudah hilang fokus karena satu pria pengkhianat itu!” tambah Suho sambil mengunyah apelnya.

“Berhentilah menangis. Masih ada aku.”

Semua langsung menoyor Kai dan tertawa. Hyera justru menunjukkan reaksi aneh dengan wajah merahnya.

“YA! Apa yang salah dengan wajahmu? Apa kau langsung jatuh cinta pada Kai?” seloroh D.O.

“Apa aku sudah gila? Yang benar saja!”

“YA!” Kai langsung menyentil dahi gadis itu.

Perut Sungra terus tergelitik berada di sekeliling mereka. Tak lama ponsel Sungra berdering membuatnya harus sedikit menjauh dari yang lain.

“Halo.”

“Sungra, kau di mana?”

“Di apartemen Suho Oppa.”

“Kenapa kau kesana?”

Sungra mengerutkan alisnya bingung. Kenapa Sehun jadi aneh begini?

“Memangnya kenapa?”

“Jawab saja.”

Menyebalkan.

“Hyera perlu dihibur usai putus dengan kekasihnya.”

Hening beberapa saat.

“Bisakah kau keluar sebentar?”

“Kemana?”

~*~

Tiba-tiba menelfon dan menyuruhnya ke Sungai Han untuk duduk di bangku ini. Untuk apa lagi sebenarnya? Kenapa mood pria itu cepat sekali berubah? Apa dia seorang bipolar?

Jujur Sungra masih kesal dengan perilaku Sehun semalam. Ia sangat kasar juga menyinggung hati Sungra, dan sekarang dengan mudahnya pria itu mengajak bertemu.

Ani, harusnya Sungra menolak jika dia ingin. Tapi justru Sungra dengan bodohnya langsung bergegas menuju ke tempat ini tanpa pikir panjang.

Sungra masih duduk diam sambil mengamati orang-orang dengan aktivitasnya masing-masing. Walau sudah ketiga kalinya berada di sini, ia tak pernah bosan sama sekali.

Mungkin terdengar konyol, tapi tempat ini memang bersejarah bagi Sungra. Hanya bagi Sungra, bukan pria itu.

Ingatan Sungra terus melayang pada Sehun.

Bagaimana keadaannya? Apakah dia baik-baik saja? Apa dia sudah makan? Dia tidak sakit ‘kan?

“Ini benar-benar membuatku gila.”

Sungra mendesah frustasi. Kenapa ia harus selalu memikirkan seseorang yang bahkan tak pernah memikirkannya?

Lama gadis itu melamun hingga sebuah suara memanggilnya dari kejauhan. Sungra masih bisa mendengar, suara yang begitu familiar.

Gadis itu menengok ke kanan-kiri mencari di mana letak si pemanggil berada.

Matanya menangkap pria berkemeja putih tengah menatapnya dari jarak beberapa meter. Sungra langsung berdiri dari tempat ia duduk dan memandang balik Sehun.

Sehun mendapati dirinya dalam perasaan aneh tak bernama.

Paras gadis itu benar-benar luar biasa. Semilir angin menerbangkan rambut panjangnya kesana-kemari. Berdiri anggun dengan gaun putih selutut yang nampak pas membalut tubuhnya.

Tak ada ekspresi apapun di wajah Sehun. Matanya hanya menyorotkan sesuatu yang entah apa Sungra tak tahu.

Sungra bingung saat pria itu tiba-tiba mengulas senyum ke arahnya. Beberapa detik mereka saling diam dan terus menatap dari jarak masing-masing.

Berselang beberapa detik, Sehun berjalan cepat menuju ke arah Sungra dan langsung memeluk gadis itu di tempat.

“Maaf membuatmu menunggu.”

TBC

Gimana? Jelek? Sudah pasti.

Mau minta tolong, bisa pilih? 1 atau 2? Pilih satu, ditulis di kolom komentar ya. Pilihan terbanyak untuk chapter 8 nanti. Pilih dan tulis aja oke? Hehe. Thanks for reading//

Iklan

152 thoughts on “Sehun, I’m Pregnant (Chapter 7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s