The Night Mistakes (Part 3)

sehun chanyeol

The Night Mistake – Part.3

By : Ririn Setyo

Park Chanyeol || Song Jiyeon || Oh Sehun

Other Cast : Kim Jongin || Yang Yoojin || Xiumin

Genre : Romance ( PG – 16)

Length : Chaptered

FF ini juga publish di blog pribadi saya dengan cast yang berbeda http://www.ririnsetyo.wordpress.com

Jiyeon menekuk kakinya yang lemas di atas ranjang, memeluknya erat, tubuhnya bergetar. Dia masihsangatingat saat tetesan darah dari kepala Chanyeol yang dihantamnya, napas Jiyeon terlihat tersengal, wajahnya pucat,dia bergumam tak jelas. Jiyeon terlalu takut, kejadian beberapa saat yang lalu itu, benar-benar tidak terduga. Jihye yang duduk di dekat Jiyeon masih berusaha menenangkan Jiyeon, mengusap lengan dan kepala gadis itu seraya meyakinkan jika semuanya akan baik-baik saja. Jihye meminta Jiyeon menelan beberapa obat, salah satunya obat tidur dalam dosis rendah agar gadis itu bisa lebih tenang.

“Apa aku membunuhnya?”

Jiyeon kembali panik, pupilnya bergerak tak beraturan,wajahnya kian pias. Jiyeon gemetar, diamerangkul lengan Jihye erat, dia benar-benar takut dan kalut saat bayangan itu kembali memenuhi pikirannya.

Jihye menggeleng. “Tidak! Percayalah padaku, diapasti akan baik-baik saja.” Jihye kembali mengusap wajah Jiyeon, memerintahkan Jiyeon untuk berbaring lalu menyelimuti gadis itu hingga sebatas dada.

“Apa dokter yakin laki-laki itu tidak mati? Aku melihat banyak darah dari kepalanya, aku—“

“Tenanglah Jiyeon, tenanglah.” Jihye kembali membelai wajah Jiyeon lembut, tersenyum hangat.Jiyeon mulai mengantuk dan pada akhirnya tertidur pulas.

~000~

“Tuan MudaPark masih kritis, dia kehilangan banyak darah. Terlalu banyak kaca yang menancap di kepalanya, kami berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan semuanya.”

Yixing mengangguk untuk penjelasan yang dijabarkan oleh dokter Moon Seunghyun, dokter ahli bedah, salah satu dokter kepercayaan keluarga ParkChanyeol.

“Kami akan terus mengawasi keadaannya tanpa terlewatkan sedikit pun,” ucap Seunghyun sesaat sebelum keluar dari ruang Chanyeol, diikuti oleh beberapa dokter bedah lainnya.

Tiga orang perawat terlihat bersiaga di tepi ranjang, mengecek keadaan Chanyeoltiap beberapa menit sekali. Yixing mengusap wajahnya sesaat, menimang sebentar untuk memberikan kabar tidak baik ini pada Direktur Park Seo. Yixing menarik napasnya lalu mengeluarkan handphone dari balik saku celananya, merapikan sedikit kemejanya yang masih terdapat sisa darah Chanyeol yang tampak mulai mengering.

“Direktur Park Seo… ada berita buruk, tentang Tuan MudaParkChanyeol.”

Dua jam kemudian samar-samar terdengar langkah terburu Seojung berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang lengang, wanita dengan tektur wajahnya yang tegas itu, tampak tak mampu menyembunyikan rasa khawatir akan keadaan Chanyeol,dia yang terbangun dari tidur lelapnya itu bergegas menuju rumah sakit. Seojung tidak begitu peduli dengan penampilannya, wajahnya tidak terpoles makeup, pakaian seadanya kini melekat di tubuh tingginya. Yang Seojung hanyaingin sampai di rumah sakit sesegera mungkin, memastikan keadaan Chanyeol yang membuatnya tak bisa bernapas.Seojung merapatkan coatmarunsepanjang betis yang menutupi tubuhnya, udara dini hari terasa begitu menusuk tulang.

Di belakangnya Im Jinhwan dan duabodyguard lainnya, berjalan pelan mengikuti Seojung. Jinhwan yang telah mengenal Chanyeol sejak masih remaja, juga terlihat tak kalah panik dari Seojung, Chanyeolsudahdianggapnya sebagai adiknya sendiri.Dulu sebelum Seojung memperkerjakan Yixing, Jinhwan yang menjaga Chanyeol. Mengajari laki-laki itu cara membela diri dan menemani ke manapun Chanyeol pergi. Jinhwan benar-benar menjaga Chanyeol demi menepati janjinya pada Park Jaebin, almarhum ayah Chanyeol yang menitipkan Chanyeolpadanya.

“Bagaimana keadaan putraku?”

Yixing membungkuk hormat saat Seojung berdiri di depnnya, tangan wanita itu gemetar, matanya menatap lekat Chanyeol yang terbaring di atas ranjang tidurnya. Tetesan cairan infuse terlihat masih mengaliri tubuh Chanyeol yang belum sadarkan diri, masker oksigen juga terpasang di bagian hidung dan mulut Chanyeol.

“Tuan MudaPark masih kritis, beliau baru saja melewati operasi mengambilan pecahan kaca di kepalanya.” Jelas Yixing hati-hati.

Seojung berjalan pelan menuju ranjang tidur Chanyeol, menatap perban yang melilit kepala putranya, air mata sudah mengaburkan pandangannya. Seojung sangat menyayangi Chanyeol lebih dari siapapun, rasa yang sayangnya selalu Seojung tutupi dari Chanyeol. Seojung ingin Chanyeol menjadi laki-laki mandiri, laki-laki yang kuat karenameskitanpa sosok ayah yang melindunginya. Seojung mengusap air matanya, menarik napaspanjang seraya memalingkan wajahnya sebentar ke arah Yixing.

“Siapa yang melakukannya?”

Suara dingin Seojung menguar di ruangan itu, terdengar sangat mencekam hingga Yixing merasa sedikit takut untuk menjelaskan perkara yang sesungguhnya. Seojung kembali menoleh saat Yixing tak menjawab pertanyaannya, wanita anggun itu membalikkan tubuhnya menatap tajam Yixing yang belum juga menjawab pertanyaannya.

“Katakan!”

Yixingmenunduk sebelum akhirnya menjawab. “Song Jiyeon! Gadis yang dibawa Tuan MudaPark ke rumahbeberapa minggulalu, gadis itu terkejut saat melihat Tuan Muda dan langsung menyerangnya tanpa sempat untuk dicegah.”

Seojung mengepalkan tangannya kuat hingga buku-bukunya memutih, menahan emosi saat kembali mengingat akan sebuah fakta memalukan yang sudah dilakukan putranya. Wanita itu hanya diam lalu melangkah keluar dari ruang perawatan Chanyeol, dia duduk di bangku tunggu tepat depan ruangan.Rahang Seojung mengeras, diamasih sangat kesal atas tindakan bodoh yang dilakukan Chanyeol, tindakan yang mengancam eksitensinya di dunia bisnis sebagai wanita kelas atas tanpa pernah tercela. Mata tajam Seojung melirik Jinhwan yang berdiri sigap di sisi tubuhnya, dengan nada dingin tak bersahabat Seojung mengeluarkan perintahnya, lalu bangkit dan kembali berjalan menelurusi lorong rumah sakit dalam diamnya yang mencekam.

“Singkirkan wanita itu, sebelum dia mengacaukan hidup Park Chanyeol!”

~000~

Yixing terjaga saat mendengar suara di ruangan Chanyeol, dia terkejut ketika mendapati dokter Seunghyun bersama tim dokter lainnya, para suster, berdiri mengelilingi ranjang Chanyeol. Yixing bangkit dari sofa dalam satu hentakan, dia mendekati ranjang, dia cemas.Seunghyun tersenyum seraya memperlihatkan Chanyeol yang sudah siuman, Yixing tersenyum lega dan menunduk hormat ke arah Chanyeol yang menganguk sekilas ke arahnya. Laki-laki itu terlihat masih sangat pucat dan lemah, meminum beberapa obat yang disodorkan perawat untuknya.

“Tuan Park masih harus menjalani beberapa proses penyembuhan, kami akan menscene ulang keadaan kepalanya dan memastikan jika semuanya baik-baik saja. Untuk saat ini TuanPark dilarang untuk berpikir terlalu keras dan harus banyak istirahat agar semuanya cepat membaik.”

Yixing mengangguk mengerti, membungkuk saat Seunghyun dan para dokter lainnya serta beberapa perawat berlalu dari ruangan.Yixing berdiri sigap di sisi ranjang Chanyeol, menanti Chanyeol yang sepertinya hendak mengucapkan sesuatu. Chanyeol memejamkan matanya sejenak, menahan rasa pening dan mual yang membelit tubuhnya. Namun rasa cemas Chanyeol akan sosok Jiyeon di rumah mengalahkan segalanya, laki-laki itu bisa menebak jika sang ibu sudah mengetahui semuanya dan merencanakan hal buruk pada gadis itu.

“Kembalilah ke rumah, pastikan kau menjaga Jiyeon. Tolong minta pada Im Jinhwan untuk menemuiku secepatnya dan pastikan YangYoojin tidak mengetahui masalah ini, kau mengerti?”

Yixing mengangguk mengerti lalu keluar dari ruangan, Chanyeolmeraih handphone miliknya yang sudah disiapkan Yixingsemalam dari atas nakas samping ranjang pasiennya, lalu menekan beberapa nomor yang dihafalnya hingga tersambung ke seseorang di seberang sana. Seseorang yang terdengar menjerit histeris saat Chanyeol menceritakan keadaannya, hingga Chanyeol memutar bolamatanya tanpa minat.

“Datanglah ke rumah sakit sekarang, OhSehun.”

~000~

Jiyeon berjalan menuju balkon kamarnya, menatap lurus-lurus, pikirannya melayang, dia kembali teringat sosok Chanyeol yang berdarah semalam. Takut kembali menguasai dirinya, dia sesak, tubuhnya terhuyung hingga hampir beringsut ke lantai.Jiyeon benar-benat takut jika sosok laki-laki yang dibencinya itu mati karena pukulannya, tadi pagi dia tidak sengaja mendengar percakapan Jihye dan Yixing saat berada di kamarnya, Yixing mengatakan jika Chanyeol luka parah karena terlalu banyak kaca yang menancap di kepalanya.

 

Bagaimana jika Chanyeol mati? Tapi— bukankah laki-laki brengsek itu pantas untuk mati untuk semua kelakuan bejatnya?

 

Jiyeon menutupi wajahnya dengan kedua tangan, menarik napaspanjang guna menenangkan pikiran kalutnya. Satu hal yang dia pelajari dari Jihye saat mereka melakukan Yoga di tiap pagi dan sore hari, salah satu olahraga yang membuat kondisi Jiyeon lebih cepat pulih, dari yang telah Jihye perhitungkan sebelumnya.

“Selamat pagi, Song Jiyeon.”

Jiyeon terhenyak, dia menatap sesosok laki-laki tinggi yang kini telah berdiri menjulang di depannya. Jiyeon mengerjab, bulu kuduknya meremamng, pandangan tajam dari mata abu-abu pria itu terasa sangat dingin dan kejam.

“Kau—“

“Im Jinhwan! Salah satu orang kepercayaan di keluarga Park.” Jinhwan tersenyum dingin, Jiyeon mundur saat dia mendekatinya.

“Apa yang kau inginkan?”

“Nyonya Seojung, ibu dari ParkChanyeol tidak suka dengan kehadiranmu di rumah ini, beliau memintaku untuk…,“

“Im Jinhwan!”

Suara Yixing yang terdengar keras menghentikan ucapan Jinhwan, dia menyembunyikan seutas tali tambang yang digenggamnya ke dalam saku celana, tanpa pernah diketahui Jiyeon ataupun Yixing. Jinhwan menunduk sekilas saat Yixing membungkuk hormat ke arahnya, di belakang Yixingada Jihye dan beberapa perawat, dia memerintahkan mereka untuk membawa Jiyeon menjauh dari balkon. Jinhwan memandang kepergian Jiyeon dalam tatapan tajamnya, berniat berlalu dari hadapan Yixing begitu saja. Namun suara Yixing lagi-lagi menghentikan niatnya.

“Tuan MudaPark memintaku untuk menjaga Jiyeon dan kau diminta untuk menemuinya sekarang juga.” tanpa berbalik Jinhwan mengangguk mengerti, kembali melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan Jiyeon.

Yixing menarik napasnya sesaat sebelum masuk ke dalam kamar, dia sangat yakin jika kedatangan Jinhwan yang tiba-tiba adalah untuk menyakiti Jiyeon. Yixing menghentikan langkahnya, menatap Jihye yang tengah bercerita sesuatu yang lucu pada Jiyeon, hingga gadis itu tertawa pelan.

“Dokter Kang, jangan pernah meninggalkan Jiyeon sendirian jika aku sedang tidak ada di luar kamar ini, Anda mengerti?”

Jihye yang terlihat binggung hanya mengangguk tanpa bertanya, Yixingkeluardari kamar. Jihye kembali menatap Jiyeon, membelai wajah gadis yang terlihat sudah mulai tenang itu lembut.

“Dokter, aku bosan. Bolehkah aku berjalan-jalan di taman, sepertinya taman yang ada di bawah sangat indah,”

“Tentu saja, kau boleh keluar kamar asalkan bersamaku” senyum Jiyeon merekah, gadis itu terlihat senang dan antusias karenauntuk pertama kalinya bisa keluar dari kamar tidurnya yang sangat luas itu.

~000~

“Apa wanita itu sudah gila, lihat, dia menyerangmu sampai seperti ini?”

Sehun yang datang satu jam lalu itu, kembali mengulang pertanyaan yang sama pada Chanyeol. Meminta berkali-kali pada suster yang menjaga Chanyeol untuk mengecek keadaan sepupunya itu, Chanyeolsampai geram lalu meminta semua suster keluar dari ruangannya, sebelum dia semakin pusing oleh permintaan Sehun yang mulai semakin berlebihan.

“Jika kau bertanya lagi, maka aku akan membunuhmu,OhSehun.”

Geram Chanyeoldia menatap Sehun tajam, saat pria itu mengeluarkan protes karena ancamannya. Chanyeol tahu jika sejak dulu Sehun memang akan sangat mengkhawatirkannya, Chanyeol juga tahu jika sepupu dekatnya itu sangat menyayanginya, seperti dia menyayangi Sehun.

“Bagaimana? Apa kau sudah menemukan wanita yang seharusnya ada di kamarku waktu itu?” tanya Chanyeol, dia kembali menyandarkan tubuhnya, Chanyeol masih merasa jika pandangannya berputar bila duduk dalam posisi tegak.

“Kau sedang sakit Chanyeol, haruskah kau memikirkan hal itu?”

“Aku memang sakit, tapi ibukusangat baik-baik saja Sehun.”

Ah! Ngomong-ngomong tentang bibiku itu, apa dia sudah mengunjungimu?”

Chanyeol menggeleng pelan.

“Dia tidak akan peduli pada keadaanku, Sehun.”

Chanyeol mengalihkan pandangannya sejenak, tak mau terlihat jika dia sangat menantikan kedatangan ibunya. Ibu yang sibuk bekerja dan tidak pernah memperdulikannya lagi, sejak sang ayah meninggal 17 tahun lalu.

“Sudahlah tidak usah mengalihkan pembicaraan dan eoh, apa kau sudah menemukan siapa yang menaruh obat perangsang di minumanku malam itu?”

Sehun menggeleng pelan, merasa sedikit ragu untuk memberitahu hal yang sebenarnya pada Chanyeol. Sebuah fakta yang dia temukan, Sehun juga sudah memastikannya bersama orang-orang yang ahli dalam bidang mengindikasi zat yang terkandung dalam sebuah cairan.

“Sebenarnya—- tidak pernah ada kandungan obat perangsang di minumanmu, Chanyeol.”

“APA?!”

“Malam itu kemungkinan kau mabuk berat, hingga tidak sadar melakukan hal itu pada pelayan hotelJongin.”

“Apa kau bilang?”

“Aku sudah mengeceknya di laboratorium, tidak ada kandungan obat perangsang di semua minuman yang kita minum di hotel Jongin. Dan kemungkinan para ahli itu salah mendiagnosa hanya 5%, jadi—“

“Tapi aku sangat yakin jika malam itu aku tidak mabuk, Sehun.” Chanyeol memejamkan matanya, merasa dunianya kian berputar hingga membuatnya merasa mual.

“Kau baik-baik saja?”Sehun khawatir, wajah Chanyeol kian memucat. “Istirahatlah Chanyeol—- aku mohon jangan memikirkan hal itu saat ini, pikirkan dirimu sendiri, kau mengerti?”

Chanyeol tidak menjawab hanya memejamkan matanya, membiarkan Sehun menyelimutinya. Chanyeol berusaha untuk tenang, kembali mengingat pesan dokter yang memintanya tidak berpikir terlalu keras. Sehun benar untuk saat ini ada baiknya dia melupakan sejenak masalah yang melilit hidupnya, beristirahat hingga keadaannya cepat pulih lalu kembali dapat berpikir tentang apa yang harus dilakukan kemudian pada Song Jiyeon.Sebuah ketukan menunda niat Chanyeol untuk tidur, dia tersenyum saat dia melupakan seseorang yang dimintanya datang ke rumah sakit, selain Sehun.

“Anda memanggil saya, Tuan MudaPark?” suara dingin Jinhwan menguar, membawa suasana hangat di antara Chanyeol dan Sehun berubah tegang. Chanyeol mengangguk dan meminta Jinhwan untuk mendekat.

“Aku tahu jika ibu pasti sudah memerintahkan sesuatu padamu, dan aku sangat yakin perintah itu akan membuat Jiyeon dalam bahaya.”

Jinhwan hanya diam, memandang tajam sosok Chanyeol di atas ranjang, pandangan yang membuat bulu kuduk Sehun meremang. Entahlah sejak dulu Sehun selalu merasa jika Jinhwan terlalu dingin dan menakutkan.

“Aku hanya menjalankan apa yang di perintahkan Direktur Seojung padaku,”

“Aku tahu! Tapi aku mohon padamu, jangan menyakitinya. Aku bisa memastikan jika kehadiran Jiyeon, tidak akan mengusik kehidupan ibuku yang sempurna itu. Jadi aku mohon padamu, biarkan aku menyelesaikannya dengan caraku, Jinhwan Hyung.”

Jinhwan terdiam, mata yang melirik Chanyeol sekilasketika panggilan kakak menguar dari mulut Chanyeol, panggilan yang selalu Chanyeol gunakan sejak hari pertama mereka bertemulima belas tahun lalu, sapaan yang mampu membuat hidup Jinhwan yang kaku terasa lebih bermakna. Im Jinhwan sejak kecil sudah didik sangat keras, dibentuk menjadi laki-laki kaku tanpa belas kasihan, tapi dia selalu tersentuh dan tersenyum, saat Chanyeol menganggap dirinya sebagai seorang manusia, sebagai kakak laki-laki.

“Aku mengerti.” Jawab Jinhwan lalu melangkah keluar dari ruangan Chanyeol.

Dan kali ini untuk sekekian kalinya, Jinhwan kembali tak mampu menolak keinginan Chanyeol dan bisa dipastikan akan membuat Park Seojung murka.

~000~

“Apa kau sudah melenyapkan wanita itu, Jinhwan?”

Seojung menatap gelas crystal berisi wine mahalnya dengan tenang, mengoyangnya pelan seraya menikmati aroma anggur dari puluhan tahun lalu itu yang menguar kuat masuk ke dalam indra penciumannya. Dia menanti jawaban atas pertanyaannya pada Jinhwan yang berdiri tegap, di depan meja besar yang ada di tengah ruang kerjanya yang mewah. Jinhwan menunduk seraya memberi jawaban yang membuat pandangan Seojung menajam.

“Hampir! Maafkan atas kelambatan kerja saya, Direktur Park Seo.”

Gengaman Seojung pada gelas anggurnyamenguatdia menatap dingin sosok diam Jinhwan yang berdiri di depannya.

“Apa Chanyeol yang membuatmu menjadi lamban?”

“Maafkan saya, Direktur,”

Ah! Anak itu selalu saja bisa membuatmu lemah,” Seojung menenggak sisa wine di dalam gelas, lalu kembali meluruskan pandangannya yang kian terasa dingin. “Apa yang diminta Chanyeolpadamu?”

“Dia meminta saya untuk tidak menyentuh Jiyeon, karenaTuan MudaPark akan menyelesaikan semuanya tanpa mengganggu anda, Direktur.”

“Dasar keras kepala!”

Seojung meletakkan gelas ke atas meja dengan sedikit bantingan, meletakkan kedua siku tangannya di atas meja, genggaman kedua tangannya erat-erat. Sorot matanya tajam dan sarat akan kekhawatiran, rasa kecewa, atas apa yang sudah dilakukan Chanyeol pada Jiyeon, pada sosok gadis yang ditakutkan Seojung akan membuat semuanya menjadi kacau.

“Pastikan Chanyeol menyelesaikan masalah ini sebelum acara pertunangannya dengan YangYoojin dilaksanakan. Jika tidak, aku sendiri yang akan melenyapkan pengganggu itu dari negeri ini, untuk selama lamanya.”

~ TBC ~

 

23 thoughts on “The Night Mistakes (Part 3)

  1. tuhkan emang chanyeol ngelakuin nya sadar…
    karna dia udah mulai suka sama jiyeon.
    ahh kalo liat karakter seojung inget omma nya Gu junpyo..😀

  2. Jincha daebak thor
    Hmm jadi apa yg salah ma chanyeol waktu itu ya,
    Sumprit mak nya yeollie serem amat, moga aja jiyeon selamat dari murka sang bunda perfeksionis satu itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s