Winter Tears (Chapter 4-End)

wt

Title                 : Winter Tears (Chapter 4-End)

Author             : @claraKHB

Rating             : PG – 15

Length             : Chaptered

Genre              : AU, Romance, Sad, Family

Main Cast        : Park Ji Eun (OC)

Xi Luhan

Other Cast       : Kim Jong In

Kim Na Yoon

DC                    : FF ini milik author dan jangan sampai meng-copast FF ini tanpa izin. RCL, gomawo ^^ maaf untuk typo(s). Happy reading.

Note                  : FF “Winter’s Tears” ini merupakan sequel dari FF “The Real Destiny”.

Refresh             : Chapter 1 >> https://exofanfiction.wordpress.com/2014/07/07/winter-tears-chapter-1/

Chapter 2 >> https://exofanfiction.wordpress.com/2014/07/23/winter-tears-chapter-2/

Chapter 3 >> https://exofanfiction.wordpress.com/2014/11/08/winter-tears-chapter-3/

 

 

————————————————-

Dirimukah yang saat ini bersamaku?

Jujur, aku bahkan hampir tak mengenalmu

—————————————————————————

~~~~~ Winter Tears ~~~~~

Author

Luhan masih tak bergeming di tempatnya, ia begitu tak percaya akan apa yang baru saja terjadi. Bagaimana bisa Ji Eun tak menceritakan hal ini padanya? Atau.. justru ia yang tak peka.

“Aku ingin pulang. Aku tak tahan melihatnya.” Lirih Luhan pada Jong In.

“Aku mengerti.” Mereka pun kembali ke mobil Jong In dan menuju rumah Luhan.

Sesampainya mereka di depan rumah Luhan, Jong In pun menyampaikan pesannya pada mantan kekasih Ji Eun tersebut.

“Besok aku akan kembali ke Amerika. Tidak ada alasan lagi untukku berada di Korea, aku ingin kau menjaga Ji Eun. Aku tahu hatinya hanya untukmu, bukan lagi untukku. Semoga kau mengerti itu.” Ujar Jong In penuh harap.

“Aku mengerti. Semoga perjalananmu lancar.”

Jong In pun melajukan mobilnya dan mulai berlalu dari hadapan Luhan. Melihat Jong In telah pergi, Luhan pun segera masuk ke dalam rumah mengingat udara di luar sangat dingin.

“Park Ji Eun.. mengapa kau tak pernah bercerita padaku?” runtuknya kesal. Namun sesaat kemudian ia teringat sesuatu.

Tidak, aku baru keluar rumah. Apa yang ingin kau bicarakan?

Apa maksudmu? Aku benar-benar tak mengerti.

Ba.. bagaiman bisa kau berbicara seperti itu? Kau..

“Ji Eun..” lirihnya kemudian.

Kau.. siapa kau ini? Dirimukah yang saat ini bersamaku? Jujur, aku bahkan hampir tak mengenalmu.

Aku hampir tak mengenalmu, Xi Luhan. Berkali aku memintamu untuk tetap bersamaku pun, rasanya mustahil. Jika memang kau ingin begini, akan kuikuti maumu. Karena kau yang memintanya, aku akan menerimanya.

“Tunggu..” Luhan seperti menimbang sesuatu.

“Bukankah saat itu ia hanya mengenakan.. ah, kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Bagaimana bisa ia keluar rumah dengan hanya mengenakan piyama tidurnya? Lalu.. kakinya.. ah, aku bodoh sekali!” runtuknya semakin kesal.

“Maafkan aku Park Ji Eun..”

Ia pun semakin tak dapat memaafkan dirinya sendiri.

Jika aku dapat mengulang kembali waktu…

 

~~~~~ Winter Tears ~~~~~

Ji Eun

Sakit.

Ya, benar. Tidak salah lagi dan tidak pernah salah, ayahku melakukannya lagi. Memukul, memaki, menghinaku di depan ibuku. Tak masalah dia lakukan ini padaku, asalkan jangan kepada ibuku.

Pagi ini salju pertama di musim dingin telah turun. Entah mengapa musim dingin tahun ini terasa lebih dingin dan menusuk hingga ke tulangku. Benarkah? Atau hanya perasaanku saja?

“Mengapa ada musim dingin? Mengapa salju-salju ini turun begitu cepat?” gumamku dengan menitikkan air mata.

Kulirik ponselku yang sejak semalam sengaja ku non-aktifkan. Aku tak ingin Luhan menghubungiku, selain karena aku tak ingin membuatnya sulit melupakanku aku juga takut, aku takut ia semakin melukaiku dengan perkataannya.

Aku jenuh di rumah, apakah lebih baik aku pergi jalan-jalan sebentar untuk menyambut salju pertama musim dingin ini? Mungkin.

Kuambil mantel kesayanganku, aku tak ingin melupakannya lagi kali ini. Ceroboh. Segera aku keluar rumah dengan sedikit mengendap-endap dan tertatih karena jujur saja kakiku masih sangat sakit untuk berjalan.

“Mau kemana kau pagi-pagi begini?” suara itu lagi yang kudengar.

“Aku sudah besar. Aku ingin pergi keluar sebentar untuk mencari udara segar.”

“Kau bodoh? Di luar sedang turun salju! Bagaimana kalau kau sakit? Kau pikir biaya pengobatan saat ini murah?” baru saja ayah ingin mengambil balok kayu kesayangannya serta mengayunkannya kepadaku lebih dulu kutahan dirinya.

“Appa. Hentikan, kumohon. Kakiku sangat sakit sekali saat ini. Tidak bisakah appa merasakan apa yang aku rasakan? Tidak bisakah appa merasakan betapa sakitnya kedua kakiku saat ini? Appa, aku menyayangimu hingga kurelakan kakiku kau pukul tiap hari. Tapi aku ingin melihat salju turun dan merasakannya di tanganku, Appa.” Ia hanya termangu menatapku dalam dengan tangan yang masih mengepal di balok kayu itu.

“Aku ingin seperti teman-temanku yang lain. Menghabiskan waktu-waktu bersama dengan keluarga, bermain salju bersama saat musim dingin tiba. Menghangatkan diri dekat perapian bersama. Aku ingin seperti itu, Appa. Tapi aku tahu, itu hanya mimpi bagiku.” Aku pun mulai terisak dan tanpa pikir panjang mulai melangkah meninggalkan ayahku yang masih tak bergeming.

Setidaknya aku telah mengatakannya, bukan? Aku begitu mengasihinya, ayahku. Bagaimana pun juga ia ayahku, ayahku.

 

Author

Seperti yang ia katakan, kini Ji Eun tengah berada di taman favoritnya saat masih bersama Luhan dan masih menjadi yang terfavorit baginya meski tak lagi bersama kekasihnya itu. Ya, dia tidak berkata dapat melupakan Luhan, bukan? Ia hanya berkata ingin membuat Luhan melupakannya.

Tak terbesit sedikit pun dipikirannya untuk melupakan Luhan meski ia sedikit merasa benci pada laki-laki itu. Ia merasa sakit yang ia alami karena ayahnya semakin terasa lengkap dengan perkataan yang diucapkan Luhan malam itu.

Sudahlah, aku mungkin memang bukan orang yang kau cintai. Aku tahu, sejak dulu hatimu tak pernah berubah. Kau mencintai Jong In seorang. Lebih baik.. kita akhiri saja sampai disini. Jangan tipu lagi hatimu. Semoga kau bisa bahagia dengannya.

“Mengapa bisa kau lakukan itu, Luhan?” lirihnya dengan suara yang tak karuan. Benar, ia menangis lagi dan lagi. Ia bukan gadis lemah, tetapi bagaimana pun ia seorang perempuan. Sekuat apapun dirinya, ia tetap akan menangis jika itu menyangkut perasaan menyakitkan di hatinya. Naluri.

Ji Eun mulai beranjak dari bangku taman itu dan berjalan ke tempat lain. Namun tanpa ia sadari sepasang manik mata tengah memperhatikannya sejak tadi, sejak ia keluar rumah. Xi Luhan.

“Kau kejam, Xi Luhan!” hardiknya pada dirinya sendiri dalam hati seraya kedua telapak tangannya mengepal kuat.

Luhan mengikuti Ji Eun kemana pun gadis itu pergi. Ia mengekor di belakang Ji Eun yang berjalan tertatih dan mencoba untuk menyapanya, namun ia tidak bisa. Ia merasa sangat malu untuk bertemu terlebih untuk menyapanya. Mustahil. Hingga –

“Park Ji Eun.” Sahutnya pelan namun tegas. Sang pemilik nama tidak menjawab ataupun membalikkan badan, ia hanya menghentikan langkahnya.

“Park Ji Eun, kumohon kau dengarkan aku dulu.”

“Untuk apa lagi? Apa belum cukup kau menjudge diriku malam itu?” mata Ji Eun mulai berkaca-kaca menahan air mata yang ia yakin sebentar lagi akan keluar.

“Maafkan aku. Seharusnya aku tidak pernah meragukanmu, meragukan perasaanmu padaku.”

Diam. Ji Eun hanya diam tanpa suara apa pun.

“Dan seharusnya aku tahu itu, kau dan ayahmu. Kalian..”

“Hentikan! Aku tak mau mendengarnya.. bukankah kau ingin melupakanku? Gadis yang dengan mudah menerima pelukan dari laki-laki lain? Bukankah seperti itu? Aku telah melakukan keinginanmu, jadi sekarang kumohon kau pergilah!” pinta Ji Eun dengan tegas.

“Ji Eun-ah~”

“Sudah berapa kali kukatakan? Aku benci panggilan itu! Apa maumu? Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa aku gadis yang tak bisa dipercaya? Untuk apa lagi kau menemuiku?” Benar. Saat ini tangisan Ji Eun telah pecah. Beruntungnya tak banyak orang yang berlalu lalang di area itu, sehingga mereka tidak jadi bahan tontonan orang banyak.

Dengan sigap Luhan menarik lengan Ji Eun untuk mengahadapnya. Begitu ia berhasil melakukannya, hatinya begitu miris melihat orang yang amat ia cintai menangis di hadapannya.

Sudah lama ia tak menatap manik mata gadis yang ia cintai, ada apa ini? Bukankah ia sendiri yang mengatakannya? Satu-satunya alasan bagi Luhan untuk menjaga Ji Eun di masa lalu karena ia membutuhkan Park Ji Eun, ia membutuhkan pemandangan indah yang terpancar dari mata gadis itu. Namun kini? Ia justru menjadi orang yang merusak semua itu, keindahan di mata Ji Eun.

“Maafkan aku, kumohon maafkan aku.” Lirih Luhan begitu dalam memohon.

“Aku bukan seseorang yang mengingkari janjiku. Bukankah kau ingin melupakanku? Dan aku telah berjanji untuk mewujudkannya. Bagaimana mungkin aku mengingkarinya sekarang?” air mata semakin mengalir deras di pipi Ji Eun.

Dengan sekali hentakan, Ji Eun melepaskan genggaman di pergelangan tangannya. Ia segera berjalan secepat mungkin untuk menghindari Luhan. Namun tak berhenti sampai di situ. Luhan kembali mengikuti kemana pun Ji Eun pergi karena gadis itu berjalan tak lebih cepat darinya.

Mendekati rumah Ji Eun, Luhan berkata sesuatu pada gadis yang ia cintai itu.

“Kalau begitu, kumohon untuk yang terakhir kalinya. Berjanjilah padaku untuk yang terakhir kalinya.” Ji Eun pun menghentikan langkahnya dan terdiam.

“Berjanjilah untuk melupakan segala janjimu untuk membuatku melupakanmu, janjimu untuk pergi dari hidupku. Berjanjilah untuk tak pernah mengingat apa yang telah aku katakan padamu sebelumnya. Dan berjanjilah untuk kembali bersamaku dan sampai seterusnya. Kumohon.” Ujar Luhan dengan penuh kepastian.

“Maafkan aku, itu terlalu banyak dan tak mungkin aku lakukan. Maaf untuk kali ini aku tidak bisa.”

“Kalau begitu, berjanjilah satu hal. Kembalilah untuk mencintaiku, maka kau akan dapat melakukan semua itu.” Luhan semakin mendekat kearah Ji Eun dan jarak mereka hanya sekitar satu meter.

“Maafkan aku, aku tidak..” sebelum sempat Ji Eun menyelesaikan ucapannya, Luhan terlebih dulu menarik kembali pergelangan tangan gadis itu serta membalikkan tubuhnya dan dengan sigapnya ia memeluk Ji Eun dengan erat.

Hening.

Itulah yang terjadi saat Luhan memeluk Ji Eun. Tak ada yang memulai pembicaraan. Hingga pada akhirnya Ji Eun lah yang mengawalinya dengan sebuah pertanyaan.

“Mengapa kau lakukan ini padaku?”

“Agar kau tahu bahwa orang yang kau cintai dan mencintaimu merupakan orang terbodoh sedunia. Ia tak peka dengan apa yang dirasakan oleh kekasihnya, ia tak pernah mau tahu apa yang ingin kekasihnya tunjukkan, dan ia tak pernah mau mendengar akan apa yang kekasihnya katakan. Ia terlalu egois, ia terlalu naif dan munafik. Maafkan orang itu, maafkan Xi Luhan. Kumohon.” Jelas Luhan seraya semakin merapatkan pelukannya dan sesaat kemudian melepaskan pelukan itu dan berlutut di hadapan Ji Eun.

Ji Eun yang melihatnya hanya mampu membelalakkan matanya tak percaya. Ia belum siap untuk melihat semua ini, sebelumnya ia mengira bahwa hari ini merupakan first snow yang paling buruk dalam hidupnya. Namun kenyataannya tidak.

“Kumohon kali ini, kau dapat berjanji kembali dan menepatinya saat ini juga. Kembalilah padaku, nona Park.” Pinta Luhan dengan serius dan penuh harap.

“Kuharap ini merupakan janji terakhir yang kau minta dariku, setelahnya jangan ada lagi yang seperti ini.”

“Aku janji.”

Dengan penuh semangat Luhan bangkit berdiri dan mereka pun kembali berpelukan.

“Sesungguhnya masih ada dua janji yang harus kau tepati di masa depan, nona Park.” Bisik Luhan tepat di telinga kiri Ji Eun.

“Kau..” belum sempat Ji Eun berbicara, Luhan telah melepaskan pelukan mereka dan memegang erat bahu gadis itu begitu erat dan melayangkan satu kecupan manis di keningnya. Satu kecupan yang mampu membuat Ji Eun diam tak berkutik dan tersenyum.

 

~~~~~ Winter Tears ~~~~~

Beginikah jadinya? Aku tak mengira sebelumnya. Aku merasakan bahagia bersama dirinya, menangis bersamanya, dan benci terhadapnya~

Sebelumnya kukira ini tak akan berakhir indah kembali, kupikir semua telah usai. Aku dan dia, Luhan. Kukira first snow kali ini akan menjadi yang paling buruk dalam hidupku~

Ternyata aku salah.

Air mata yang keluar dari mataku di musim dingin ini memang terlampau sulit diartikan. Haruskah kuartikan itu sebagai tangisan atas kesediahanku? Atau justru atas kebahagiaanku? Aku tak tahu~

Tapi ini sangat berkesan bagiku. Winter Tears, aku menyukainya~

Akan kutepati janjiku padanya. Aku akan salalu mencintainya sehingga aku dapat melakukan segala sesuatu yang ia ingin aku lakukan, meski itu sulit.

Tetapi.. adakah yang ia sembunyikan? Dua janji di masa depan? Entahlah, biarkan waktu yang menjawab

love it, winter tears~

~~~ The End ~~~

Taraaaat T_T saya sebagai author mohon maaf yang sebesar-besarnya atas keterlambatan yang begitu super ini:”” semoga chingu masih mau baca yaa:”

Jadi author sebenarnya sedang sibuk kuliah sampai lupa untuk kirim kelanjutannya.

Seri ke 3 dari FF The Real Destiny pun akan segera rilis dan author janji, secepatnya^^ kamsahamnida ~

[ untuk berinteraksi dengan author bisa via twitter @claraKHB ]

2 thoughts on “Winter Tears (Chapter 4-End)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s