Confession

tumblr_inline_nhkl8exAKh1rqntxp

Confession

Author : yoominn
Genre : Yaoi, Hurt
Main Cast : Park Chanyeol // Byun Baekhyun
Rating : PG-17
Length : Oneshot

Fanfic ini murni dari ide aku sendiri. Aku juga post fanfic ini di blog pribadi aku,
kalau mau repost tolong sertakan nama author ya ^^

Thanks for reading<3

**

“Wisuda tadi menyenangkan, ya!”

Baekhyun mengangguk. Beberapa jam yang lalu baru saja mereka merayakan hari kelulusan mereka. Hari yang menyenangkan namun juga menyedihkan. Menyenangkan karena mereka sudah lulus dari sekolah dan dapat lanjut ke pendidikan yang lebih tinggi, menyedihkan karena mereka harus berpisah dengan orang-orang yang berkesan dalam hidup mereka.

Menyedihkan, bagi Chanyeol, karena ia harus berpisah dengan Baekhyun.

Kenyataan bahwa Baekhyun akan melanjutkan perguruan tingginya di lingkungan yang sangat jauh dari Chanyeol membuat Chanyeol patah semangat. Tentu saja, mereka sudah berteman sejak playgroup dan tak ada satupun diantara mereka yang ingin dipisahkan begitu saja. Chanyeol tahu ia pasti akan kesepian dan merasa kehilangan, padahal dulu mereka sepakat untuk masuk Universitas yang sama. Baekhyun juga takut ia tidak menemukan teman seperti Chanyeol di wilayah barunya. Teman yang akan selalu menyemangati dan membantunya ketika sulit –intinya, tak ada yang mau dipisahkan karena mereka berdua sudah merasa cocok.

Wisuda telah selesai sejak dua jam yang lalu. Sore itu, sekolah mulai sepi, yang ramai hanya di aula tempat wisuda dilaksanakan karena rekan-rekan sedang membersihkan aula tersebut. Chanyeol dan Baekhyun memutuskan untuk pulang agak lebih lama, menghabiskan waktu di sekolah untuk mengumpulkan kenangan-kenangan berkesan yang akan menjadi memori di ingatan mereka.

“Liburan nanti kau kemana?”

“Biasa, di rumah.”

Baekhyun manggut-manggut. Kasihan Chanyeol, hampir seluruh waktu liburannya dihabiskan di rumah. Padahal ada banyak sekali tempat yang ingin ia kunjungi. Orang tuanya tidak libur kerja dan tidak pernah membiarkannya pergi sendirian.

“Mereka takut sesuatu yang buruk terjadi padaku bila aku pergi sendirian. Lalu apa gunanya mereka menyewa guru untuk mengajariku bela diri? Mereka kira aku anak bayi?” Chanyeol merutuk habis-habisan, Baekhyun hanya bisa terkikik. Aneh sekali ada orang tua yang masih menganggap pria tinggi dan kekar di sebelahnya ini sebagai anak bayi.

“Memangnya jika kau dibolehkan pergi sendirian, kau mau kemana?” tanya Baekhyun.

“New Zealand!!” seru Chanyeol antusias, disambut Baekhyun yang hanya bisa geleng-geleng kepala. Tentu saja orang tuanya melarang Chanyeol pergi sendirian jika tempat yang ingin ia kunjungi sangat jauh seperti itu. Temannya ini memang sangat tergila-gila dengan New Zealand, entah apa yang istimewa dari negara dengan julukan ‘Negara Wool’ itu, Baekhyun tidak tahu.

“Nanti kalau aku sudah punya uang banyak, aku akan mengajakmu pergi ke sana” ujar Chanyeol. Uh, Chanyeol tak perlu mengatakan itu sembari melakukan smirk mematikannya! Itu membuat Baekhyun gugup.

“Lebih baik aku diam di rumah saja, Yeol.” gumam Baekhyun.

Mereka terus berjalan. Sekolah sepi ternyata menyenangkan juga. Mereka telah melewati kelas sosial, ruang rapat, dan kelas seni. Oh, kelas seni, kelas yang sangat berkesan untuk Baekhyun.

“Lihat, Baek!” Chanyeol menunjuk sebuah poster di mading dengan girang. Poster yang mengundang murid-murid untuk bergabung dalam acara musikal yang bertema Peterpan itu. Poster itu tertempel di sana begitu lama, masanya sudah tidak berlaku lagi.

“Aku tak bisa membayangkan ketika kau menjadi Wendy, hahaha!”

Chanyeol tertawa terbahak-bahak. Uh, Baekhyun masih ingat ketika Chanyeol membujuknya dan ngotot ingin jadi peran utamanya, Chanyeol sangat gemar menonton Peterpan. Orang-orang juga menyatakan bahwa Chanyeol cocok mengambil peran sebagai Peterpan, semua orang yakin Chanyeol akan mengalahkan murid-murid lain yang juga mengikuti audisi untuk menjadi Peterpan.

Namun, semua pujian dan kepercayaan diri Chanyeol untuk memenangkan perebutan tokoh Peterpan itu hancur ketika Baekhyun tiba-tiba menolak bujukan Chanyeol untuk menjadi Wendy. Chanyeol ingin ikut musikal namun tak mau bila sahabatnya tak ikut, ia pasti akan merasa gugup. Dan, gila! Chanyeol membujuk Baekhyun untuk berdandan seperti wanita cantik demi perannya yang menjadi Wendy itu? Tidak, Baekhyun tidak mau dipermalukan (meskipun semua orang tahu Baekhyun akan terlihat sangat cantik ketika memakai gaun dan wig panjang).

“Aku masih punya harga diri, Yeol!” Baekhyun memukul-mukul lengan Chanyeol, membuat ia meringis kesakitan.

Baekhyun cemberut, ia berjalan mendahului Chanyeol yang masih berusaha menyembunyikan tawanya, entah apa yang lucu dari itu.

Sesuatu tiba-tiba muncul di benak Baekhyun. Tak sadar langkahnya memelan, terlalu sibuk dalam benaknya karena ragu-ragu untuk mengatakannya atau tidak.

Baekhyun mengumpulkan keberaniannya. Ayolah, Baek. Pertanyaanmu itu tidak aneh!

“Um, bagaimana.. Kabar calon tunanganmu?”

Pernyataan itu seketika menghentikan Chanyeol dari gelak tawanya. Tumben sekali anak ini bertanya tentang calon tunangannya.

Chanyeol memang sudah dijodohi oleh seseorang, seorang perempuan yang sangat manis dan berwajah cantik. Mereka akan segera menikah setelah Chanyeol menyelesaikan kuliahnya. Mungkin orang tuanya sengaja menjodohkan Chanyeol secepat mungkin agar mereka mulai terbiasa untuk saling mencintai. Yah, meskipun Baekhyun sangat ingat ketika Chanyeol tahu ia sedang dijodohkan dengan seseorang, ia sangat tak sudi dan menyumpah habis-habisan ketika ia sedang curhat dengan Baekhyun di rumahnya. Namun setelah itu, tak ada kabar tentang mereka berdua dan hal itu membuat Baekhyun berpikir bahwa hubungan mereka baik-baik saja.

“Baik-baik saja, kok. Memang kenapa?”

“Tak apa. Jangan lupa undang aku di pernikahan kalian nanti, ya!”

Chanyeol mengangguk senang. Baekhyun berjanji, ia akan rela pergi jauh-jauh dari Seoul ke Cheongju untuk menyaksikan pernikahan sahabat karibnya itu.

“Tapi.. Aku tak mau menikah seumur hidupku, Baek.” ujar Chanyeol.

Baekhyun terkejut mendengarnya. Apa? Padahal menikah itu adalah keinginan semua orang tua kepada anaknya. Chanyeol sayang dengan orang tuanya dan ia seharusnya mau untuk menikah.

“Menikah itu akan membuatmu lebih dewasa dan menumbuhkan rasa tanggung jawabmu, Chanyeol.” ujar Baekhyun. Sejujurnya masih ada banyak definisi tentang ‘Pernikahan’ yang ingin Baekhyun jelaskan padanya, namun ia tahu Chanyeol tidak akan mengerti karena pikirannya terlalu ke kanak-kanakan untuk masalah seperti itu.

“Ah! Aku mau pipis!” pekik Chanyeol. Chanyeol segera berlari menuju kamar mandi dan meninggalkan Baekhyun di tengah-tengah lorong.

“Sehabis ini pergi ke taman belakang ya!” seru Baekhyun, dibalas ancungan jempol Chanyeol dari jauh.

**

Taman belakang adalah sudut yang paling Baekhyun sukai di sekolahnya. Sebagian besar murid-murid tak suka datang kesini karena letaknya tertutup. Waktu itu sempat ada anjing bulldog galak yang menetap disini sehingga siapapun yang menginjakkan kakinya disini akan dikejar oleh anjing tersebut. Termasuk Chanyeol.

Disini sepi. Sore-sore adalah waktu yang paling tepat untuk datang kesini. Angin sepoi-sepoi sangat terasa, ditambah lagi pemandangan hamparan rumput hijau luas dan lavender-lavender liar bertebaran di hadapannya. Ini bisa dikatakan sebagai ‘kedamaian’ untuk Baekhyun.

“Huh.. Leganya” seru Chanyeol. Ia masih dalam perjalanan me-resleting celananya.

Baekhyun menepuk-nepukkan tempat duduk di sebelahnya, mengisyaratkan Chanyeol untuk duduk disini.

Mereka hening sebentar. Entah Baekhyun yang terlalu sibuk menikmati pemandangan atau tak tahu apa yang mau dibicarakan, begitu juga dengan Chanyeol. Chanyeol tak suka situasi awkward, ia akhirnya membuka percakapan.

“Kau jadi ke Seoul?” ujar Chanyeol, pelan. Tersirat rasa khawatir di wajahnya. Ia hanya berharap suatu keajaiban terjadi yang membuat Baekhyun tak jadi pergi ke sana. Namun, tentu hal itu adalah mustahil.

Baekhyun mengangguk.

Sebuah kekecewaan bagi Chanyeol.

“Kau mau kuliah dimana?” tanya Baekhyun.

“Universitas Chungbuk” balas Chanyeol. Mendengar itu, Baekhyun tak sadar membentuk kata “Woah!” di mulutnya. Cukup sulit untuk masuk ke sana, namun Baekhyun tahu Chanyeol dapat melewatinya karena Chanyeol sangatlah pintar. Dan Universitas itu lebih pantas untuk Chanyeol dibanding Universitas yang pernah mereka sepakati untuk masuk bersama.

“Satu universitas dengan calon tunanganku” Chanyeol tersenyum malu-malu.

Baekhyun terdiam. Ia tak menanggapi pernyataan itu. Tersirat jelas perasaan ragu-ragu dalam wajahnya, ia sedang memikirkan sesuatu yang nampaknya penting.

“Kau.. Menyayanginya?”

Kali ini Chanyeol mengangguk pasti. Ia memang menyayangi calon tunangannya dan ia akan jujur tentang itu. Chanyeol tak sadar. Baekhyun sudah menanyakan tentang hubungan mereka dua kali hari ini, ada sesuatu yang janggal.

Keheningan menyambut mereka. Chanyeol menatap hamparan hijau luas di hadapannya, masih dengan seulas senyum kecil (namun mematikan) yang terlukis di wajahnya yang sempurna.

“Apa kau menyayangiku?”

“Apa?” butuh pengulangan beberapa kali untuk Chanyeol agar kalimat itu dapat tercerna dengan baik di benaknya.

Keheningan yang malah menjawab pertanyaannya. Angin sepoi-sepoi tertiup begitu keras hingga terdengar suara rumput-rumput panjang bergesekan dengan rumput-rumput yang lain.

Chanyeol tak pernah menyangka sahabatnya akan bertanya seperti itu.

“Aku mencintaimu, Yeol” lirih Baekhyun. Ia malu, meskipun tak ada rasa penyesalan datang padanya setelah ia menyatakan itu. Mungkin Chanyeol akan menjauhinya karena ini. Mungkin ia telah melakukan kesalahan fatal seumur hidupnya.

Chanyeol mengangkat dagu Baekhyun. Tampak wajah seorang lelaki manis bersurai putih di hadapannya. Alasan mengapa tak sedikit orang-orang mengagumi Baekhyun. Pemandangan yang sangat indah hanya dengan memandang wajah itu. Namun dapat menjadi menyakitkan ketika sesuatu mengganggu disana. Air mata di bawah kedua mata cokelatnya.

Chanyeol memeluk Baekhyun, erat. Tak sadar air matanya juga ikut turun, entah mengapa.

“Aku menyayangimu. Sangat, Baekhyun” gumam Chanyeol. Baekhyun tak terkejut mendengarnya. Bukan karena ia tahu jawaban itu pasti akan keluar dari mulut Chanyeol, namun ia tahu rasa sayang itu hanya sebatas karena ‘persahabatan’.

“Aku mencintaimu.” lirih Chanyeol.

Baekhyun termenung. Ia tak bisa mencerna kalimat itu dengan baik, seolah-olah ia tidak pernah mendengar kalimat itu sebelumnya. Pikirannya benar-benar kacau.

Chanyeol mendekatkan wajahnya ke arah Baekhyun. Ia tak menerima tolakan.

Bibir mereka hanya tinggal berjarak beberapa centi. Baekhyun menunggu hal itu datang, namun yang ia rasakan malah sesuatu yang menimpa bahu kanannya.

“K.. Kau tidak jadi menciumku” gumam Baekhyun, meninggalkan Chanyeol yang menangis kecewa sembari menyenderkan dahinya di bahu kecil Baekhyun.

“Aku tak bisa, Baek. Kau tahu” balas Chanyeol.

“Ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya” ujar Baekhyun. Terdengar jelas suaranya yang pedih berusaha melawan isak-isak tangis yang hendak keluar dari mulutnya –tak terkendali.

Chanyeol menatap Baekhyun lekat-lekat. Puppy eyes itu. Sepasang mata yang ia kagumi. Ia menyayangi Baekhyun, juga mencintainya. Tak tahu bahwa masing-masing diantara mereka telah menyimpan rasa cinta mereka di balik persahabatan yang sangat manis.

Chanyeol tak mementingkan apa-apa setelah itu.

Sebuah kecupan hangat nan pedih tiba di bibir keduanya. Chanyeol memegang dagu Baekhyun, mengisyaratkannya untuk lebih mendekat. Bibir mereka berpadu dengan indah.

Asin.” batin Chanyeol. Ciuman pertama dan terakhir mereka berlangsung pedih, dan asin. Mungkin jika mereka tidak menangis, ciuman mereka akan menjadi akhir yang membahagiakan.

Baekhyun menjauhkan wajahnya dari Chanyeol. Terlalu sedih, terlalu kecewa untuk menciumnya lebih lama lagi.

Chanyeol menyentuh wajah di hadapannya itu dengan lembut. Menggerakkan jarinya dari dahi, batang hidung, bibir dan dagu Baekhyun. Sentuhan itu akan menjadi sentuhan terakhir yang berkesan sekaligus pahit.

“Aku berjanji akan mengajakmu ke New Zealand. Dan kita akan membangun rumah bersama di sana” lirih Chanyeol. Pelan sekali, namun Baekhyun dapat mendengarnya.

Baekhyun memegang janji itu. Dan ia akan menunggu saat dimana Chanyeol menelfonnya untuk datang ke bandara dan mereka akan pergi bersama-sama menuju New Zealand.

Itu akan lebih baik daripada diam di rumah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s