HIGH SCHOOL OF THE DEAD (CHAPTER 3)

High School Of The Dead

|| HIGH SCHOOL OF THE DEAD – CHAPTER 3 ||

Author Riska Junaini

Genre Mystery, Horror, Psychology, Supernatural, Romance

Cast Xi Luhan, Kim Hana (OC), Oh Sehun

 

summary

 

Kim Hana, gadis jenius yang memiliki kemampuan indigo dihadapkan pada sebuah peristiwa membingungkan yang terjadi di sekolahnya. Satu per satu murid ditemukan tewas dengan dugaan bunuh diri tanpa alasan yang jelas. Seseorang yang tak disangka meminta bantuan Hana untuk menguak semua kebenaran dibalik insiden yang terjadi di sekolah.

 

~~~

“Apa kau menyadarinya, Kim Hana? Choi Jin Woo sangat suka angka nol.”

 

“Apa maksudmu?”

 

Aku menatap tajam sosok yang kini juga tengah memperhatikanku. Ada sesuatu yang sepertinya ingin dipastikan oleh Lee Nami dan itu membuatku semakin mencurigainya.

“Seperti seorang penulis yang menyukai cerita fiksi.”

 

“?”

 

Aku mengerutkan keningku. Tak paham akan maksud ucapannya. Lee Nami hanya tersenyum tipis sembari mengalihkan pandangannya pada Choi seonsaengnim yang tergeletak di lantai.

 

“Ada banyak alasan kenapa manusia lebih suka berbohong.”

 

“Lee Nami, berhenti membuat teka-teki dan ceritakan semuanya padaku!”

 

Suaraku meninggi seiring rasa penasaran yang semakin memuncak. Mata kiriku tiba-tiba terasa sakit seperti waktu itu. Rasa sakit yang sudah sangat familiar dan aku mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya. Bayangan samar akan sebuah peristiwa berputar di otakku. Bayangan-bayangan itu tampak semakin jelas hingga lututku tak mampu menopang tubuh yang terasa semakin lemah.

 

~ Flashback On ~

 

“Apa yang ingin kau bicarakan denganku, Nami?”

 

“Aku tengah mengandung anakmu, Choi Jin Woo.”

 

Sepasang mata tegas itu membulat mendengar ucapan lawan bicaranya. Bagai tersambar petir di siang bolong. Seluruh tubuhnya terasa kaku seolah terbius oleh kalimat yang terdengar seperti racun baginya.

 

“Aku sangat takut, Jin Woo.”

 

“…”

 

“Jika aku terus membiarkan janin ini tumbuh maka semua orang akan mengucilkan kita bahkan keluarga kita sendiri. Mereka semua akan mencaci kita habis-habisan.”

 

“Kau harus mengaborsi janin itu, Nami.”

 

Suaranya bergetar hebat saat kalimat itu terucap dari bibirnya. Dalam hatinya pun ia merasa ingin menangis. Serumit apapun situasi yang tengah ia hadapi hatinya tak mampu berbohong. Ada perasaan bersalah yang amat besar dan perlahan membuat lubang kecil di hatinya.

 

“Aku tidak siap untuk menjadi seorang ibu dan aku tidak siap menghadapi cemoohan orang-orang di sekitar kita, Jin Woo.”

 

“Karena itulah kau harus melakukannya, Nami.”

 

“Dengan begini semuanya akan aman, kan?”

 

Ia mengangguk yakin. Wanita itu — dengan sangat terpaksa — tersenyum untuk menunjukkan kesungguhan dan keyakinannya akan hal yang telah mereka sepakati. Ya, sepakat untuk membunuh nyawa yang tak berdosa.

 

~~~

 

“Bagaimana?”

 

“Berhasil.”

 

Ia terdiam. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi berarti tapi lututnya bergetar. Tangannya menyambut sebuah bungkusan kecil berlumuran darah. Onggokan daging yang belum terbentuk sempurna.

 

“Cepat kubur ini di belakang.”

 

Tanpa berlama-lama ia segera meletakkan onggokan daging itu di sebuah lubang yang telah digali sebelumnya. Secepat mungkin ia menyelesaikan tugasnya untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Semakin tertimbun dan semakin besar pula lubang di hatinya terbentuk.

 

“Maafkan aku! Maafkan aku! Maafkan aku!”

 

Kakinya melangkah meninggalkan timbunan tersebut. Setiap langkah kaki terasa menusuk setiap organ tubuhnya. Sakit tak berujung yang mulai menghantuinya.

 

“Bagaimana keadaanmu, Nami?”

 

“Jin Woo…”

 

Gadis itu tersenyum manis di tempat pembaringan. Tangannya berusaha meraih wajah pria idamannya. Bulir-bulir itu akhirnya jatuh saat keduanya menyadari bahwa mereka telah melakukan hal yang amat keji.

 

“Aku akan segera menyusul anak kita, Jin Woo.”

 

“Tidak!”

 

“Ada sesuatu yang aku inginkan sebagai permintaan terakhirku.”

 

“Jangan berkata seperti itu, Nami!”

 

Ia menggenggam tangan dingin itu dengan sangat erat. Wajahnya telah basah oleh keringat dan air mata yang tak mampu dipendam. Gadis itu mengusap pelan puncak kepalanya untuk menyalurkan sedikit ketenangan.

 

“Kau harus menggantung jasadku di sekolah agar semua orang mengira aku mati akibat bunuh diri, Jin Woo.”

 

“Tidak! Bagaimana mungkin aku bisa melakukan hal itu?”

 

“Jika aku mati begitu saja tanpa alasan yang jelas semua orang akan menjadi curiga dan mulai mengorek sesuatu tentang kita berdua, Jin Woo.”

 

“Tapi aku tidak bisa membunuhmu, Nami!”

 

Lubang di hatinya semakin menganga. Setiap tetes tangisan yang terjatuh seolah menambah perih hatinya. Tubuh dan batinnya benar-benar tersiksa. Penderitaan yang seolah menjadi balasan atas perbuatannya.

 

“Dokter bersumpah di hadapanku tidak akan memberitahukan apapun mengenai kita pada orang lain, Jin Woo.”

 

“Nami…”

 

“Kau harus melindungi rahasia ini demi masa depanmu.”

 

“…”

 

“Aku mencintaimu, Jin Woo.”

 

~~~

 

“Aku benar-benar terkejut saat mendengar kabar itu.”

 

Telinganya menangkap setiap suara yang berkumandang. Ia mempertahankan wajah lugunya sementara jantungnya berdegup tiap kali mulut di sekitarnya mengoceh.

 

“Sayang sekali gadis jenius seperti Nami harus mengakhiri hidupnya dengan cara konyol seperti itu.”

 

“Mungkin ia memiliki masalah yang tak diketahui oleh siapapun hingga membuatnya depresi dan berakhir seperti itu.”

 

Ia menelan ludahnya kasar. Terkadang bernapas lega saat mendengar ocehan mereka. Seolah sama dengan apa yang ia harapkan. Matanya kini tertuju pada dua orang yang tampak sangat serius membicarakan sesuatu.

 

“Aku merasakan sesuatu yang aneh terjadi dibalik kematian Nami.”

 

“Apa maksudmu?”

 

“Bagaimana jika ia ternyata dibunuh oleh seseorang dan si pelaku sengaja menggantung jasadnya agar terlihat seolah-olah Nami melakukan bunuh diri?”

 

DEG!

 

Napasnya tercekat dan tangannya mengepal kuat. Sebisa mungkin ia mengendalikan dirinya agar tak terlihat mencurigakan. Namun, semua itu tak semudah membalikkan telapak tangan.

 

“Apa kau memiliki bukti kuat bahwa ia dibunuh?”

 

“Entahlah, tapi aku hanya perlu melaporkan kejadian ini dan mengajukan dugaanku ke kepolisian lalu mereka yang akan menyelidikinya.”

 

~~~

 

“Jin Woo!”

 

“Aku akan melindungi rahasia ini.”

 

“K-kau!”

 

“Aku akan melenyapkan semua orang yang berusaha membocorkan rahasiaku.”

 

“Le-lepaskan aku!”

 

“Aku sudah membunuh dua orang jadi tidak ada salahnya jika aku menambah satu lagi, benar kan?”

 

“UGHH!!”

 

“Selamat tinggal.”

 

~ Flashback Off ~

 

Lututku lemas hingga tubuhku akhirnya terduduk di lantai saat lintasan peristiwa itu berhenti. Tenagaku benar-benar terkuras habis dan napasku terengah. Sementara otakku berusaha menjernihkan pikiran dan mengembalikan sisa-sisa ingatan yang tertinggal.

 

“Jadi, yang diceritakan Choi seonsaengnim padaku hanyalah sebuah kebohongan?”

 

“Itu benar, Kim Hana.”

 

“Ia berbohong padaku untuk menutupi semua itu?”

 

“Ia tidak mungkin memberitahukan pada muridnya sendiri bahwa ia adalah seorang pembunuh yang bahkan tega menghilangkan nyawa teman-temannya hanya untuk menutupi sebuah rahasia.”

 

Tidak!

 

“Tapi itu bukan kesalahannya karena akulah yang membuatnya menjadi seorang pembunuh. Aku yang membuat ia harus menanggung semuanya sendirian.”

 

Mereka — Lee Nami dan Choi seonsaengnim — benar-benar membuatku terdiam. Bingung harus bereaksi seperti apa setelah aku mengetahui kebenarannya. Bahkan aku masih belum bisa menerima kenyataan yang sebenarnya.

 

“Ia menyebarkan rumor kutukan Nami agar murid-murid tak melaporkan setiap kejadian di sekolah pada kepolisian jadi ia tak perlu mengorbankan banyak nyawa. Apa benar begitu, Lee Nami?”

 

“Ya, jika ada yang tetap nekat maka dibalik layar ia akan mengeksekusinya.”

 

Sosok yang kini tengah tergeletak di hadapanku adalah seorang pembunuh? Guru yang sangat dihormati oleh murid-murid di SMA Yosen adalah seorang pembunuh? Jadi, apa kematian Sulli ada hubungannya dengan Choi seonsaengnim?

 

“Aku mengerti jalan pikiranmu, Hana.”

 

“…”

 

“Sayang sekali karena kau sudah sejauh ini tapi kami tak ada kaitannya dengan kematian Choi Sulli.”

 

DEG!

 

“Seseorang sengaja mengalihkan perhatianmu padaku, Kim Hana.”

 

DEG!

 

“Ia juga memiliki kemampuan ‘istimewa’ sepertimu dan ia paham betul bahwa menghadapimu tak akan mudah jadi ia mengalihkan perhatianmu dengan memunculkan sosokku.”

 

DEG!

 

“Kasarnya orang itu telah membodohimu.”

 

“Diam!”

 

Suaraku meninggi bersamaan dengan ingatan saat arwah Sulli terbakar di hadapanku hingga lenyap tanpa sempat memberikan petunjuk. Ternyata benar dugaanku saat itu bahwa ‘orang yang sengaja membakar jiwa’ Sulli tak ingin aku mengetahui hal yang sebenarnya terjadi dibalik kematian Sulli.

 

“Kim Hana, apa yang kau lakukan disana?”

 

Kepala sekolah?

 

Sial!

 

Membuat suasana semakin rumit saja!

 

“Eh? Tadi aku sedang mengantar beberapa buku pada Choi seonsaengnim dan tiba-tiba ia jatuh pingsan.”

 

Bohongku. Aku berusaha mengangkat tubuh Choi seonsaengnim yang tergeletak di lantai dan mendudukkannya kembali ke kursi. Kepala sekolah hanya diam di tempat kemudian memberikan pandangan yang memerintahkan diriku untuk keluar dari ruangan itu.

 

Aku menurut. Kepalaku tertunduk agar kepala sekolah tak mendapati ekspresi mencurigakan dariku. Ia hanya bergumam bahwa ini bukanlah kali pertama Choi seonsaengnim jatuh pingsan jadi ia membiarkan pria itu sampai ia terbangun dengan sendirinya.

 

Leherku terasa dingin dan aku menyadari bahwa itu adalah ulah dari Lee Nami yang mengikutiku. Aku bersyukur karena kepala sekolah tak mendengar apapun saat aku tengah berbicara dengan Lee Nami jadi aku tak perlu bersusah payah mencari alasan untuk berbohong.

 

“Kim Hana…”

 

Cih! Kenapa mengajakku berbicara disaat ada orang lain?

 

“Aku akan memberimu sebuah petunjuk.”

 

 

“Kau adalah korban terakhir.”

 

~~~

 

Hari ini murid-murid dipulangkan lebih cepat dari biasanya. Tentu saja dengan perjanjian yang telah disepakati bersama oleh para guru dan kepala sekolah bahwa kami harus berperan seolah-olah tak terjadi apapun di sekolah dan tak mengatakan apapun pada orangtua kami.

 

“Aku tidak percaya dengan hal bodoh seperti kutukan.”

 

“Jangan bicara sembarangan seperti itu, Woohyun.”

 

“Baiklah, aku akan membuktikannya pada kalian.”

 

Di perjalanan di depan gerbang sekolah, telingaku menangkap setiap percakapan dari gerombolan murid laki-laki yang berjarak beberapa meter dariku. Tentu saja aku tidak tertarik dengan hal itu karena aku sudah mengetahui kebenarannya bahwa itu semua hanyalah omong kosong.

 

“Aku akan melaporkan kasus bunuh diri Choi Sulli pada kepolisian dan jika keesokan harinya aku mati maka kalian boleh meludahi mayatku.”

 

Aku paham bahwa laki-laki itu memiliki kepercayaan diri yang tinggi tapi bukankah pernyataan itu terlalu berlebihan. Sesuatu yang berlebihan itu tidak pernah berakhir dengan baik.

 

“Jika kau selamat pun kepala sekolah akan memberikan sanksi padamu karena telah melaporkan kejadian ini ke kepolisian, Woohyun.”

 

“Benar, alasan kita sepakat untuk menutupi semuanya adalah demi menghindari kutukan Nami dan menjaga nama baik sekolah.”

 

“Aku hanya ingin membuktikkan bahwa pendapat bodoh kalian mengenai kutukan itu salah.”

 

Aku hanya mendengus malas mendengar kelanjutan pembicaraan mereka. Mataku melirik jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tangan kiriku. Mungkin akan memakan waktu setengah jam untuk sampai ke rumah sakit tempat Sehun dirawat. Ya, aku memutuskan untuk menjenguknya dan ingin mengucapkan terimakasih padanya karena telah melindungiku saat itu.

 

“Hana!”

 

Luhan?

 

“Kau ingin menjenguk Sehun?”

 

Aku mengangguk. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun laki-laki China itu menarik lengan kiriku. Langkahnya terlalu panjang hingga aku harus berlari kecil untuk menyamakannya. Aku juga berusaha menyingkirkan tangannya dari lenganku tapi entah kenapa ia berpura-pura bodoh — atau ia memang bodoh — dengan tidak melepaskannya.

 

“Aku juga ingin menjenguknya tapi aku diburu waktu jadi kita harus cepat.”

 

Sejujurnya aku tidak peduli!

 

“Lepaskan tanganku.”

 

Luhan bertingkah seolah ia tak menyadari bahwa sejak tadi ia menarik lenganku dan itu sukses membuatku sedikit kesal. Aku juga tidak mengerti tapi bagiku apapun yang dilakukan oleh Luhan selalu menyebalkan. Terkadang ia memperlakukanku seperti teman dan di lain waktu ia akan memperlakukanku seperti seorang musuh.

 

“Kita naik taxi saja.”

 

Gumamku sambil menghentikan taxi yang lewat. Aku masuk dan duduk tepat di belakang sang pengemudi sementara Luhan duduk di sampingku. Tak ada hal yang ingin aku bicarakan dengannya jadi aku hanya mengatupkan bibirku sepanjang perjalanan.

 

“Ia tidak akan senang jika mengetahui kau pergi bersamaku, Hana.”

 

Apa yang ia maksud adalah Sehun?

 

“Bukankah kau yang mengajakku untuk pergi menjenguknya bersama?”

 

“Benar, tapi Sehun sedikit posesif jika itu menyangkut tentangmu.”

 

“Kami tak memiliki hubungan apapun.”

 

Sahutku sembari memperhatikan jalan dari balik kaca mobil. Pikiranku terlalu lelah untuk sekedar memperpanjang pembicaraan dengan Luhan. Ada banyak hal yang memenuhi kepalaku tapi laki-laki berambut putih itu masih saja berusaha mengajakku bicara.

 

“Sehun memang tidak suka menunjukkan perasaannya secara terang-terangan tapi percayalah padanya, Kim Hana.”

 

“…”

 

“Ia mulai mengagumimu saat kau berperan menjadi Juliet di pentas seni setahun yang lalu, Hana.”

 

“Aku sudah tahu.”

 

“Eh?”

 

“Aku sudah mengetahui semuanya jadi kau tidak perlu memberitahukannya padaku, Luhan.”

 

“Darimana kau mengetahuinya, Hana?”

 

“Hanya tebakan yang beruntung.”

 

Sahutku yang dibalas senyuman tipis dari Luhan. Mataku memicing memperhatikan laki-laki berambut putih itu. Matanya menatap lurus ke depan. Sebuah pandangan kosong yang membuatku mulai bertanya-tanya akan apa yang dipikirkan olehnya.

 

“Aku sangat menghargainya sebagai temanku dan atas alasan itulah aku ingin kau membuka hatimu untuknya, Hana.”

 

DEG!

 

“Sejak hari ‘itu’ tak ada hal yang benar-benar berarti di kehidupanku tapi akhirnya aku bertemu dengan Sehun dan aku sadar bahwa aku tak boleh terpuruk dalam kesedihan terlalu lama. Aku merasa berhutang budi padanya.”

 

Apa yang sebenarnya ingin ia sampaikan padaku? Kenapa ia mulai membicarakan sesuatu yang tak aku mengerti? Apa aku harus meresponnya atau mengacuhkannya? Tapi ada sesuatu yang entah kenapa menarik perhatianku.

 

“Ah, maaf aku terbawa suasana.”

 

“Tidak apa-apa.”

 

~~~

 

“Bagaimana keadaanmu?”

 

“Sudah lebih baik setelah kalian menjengukku.”

 

Aku hanya menundukkan kepalaku saat suasana canggung terus mengitari kami bertiga — aku, Luhan, dan Sehun. Tak ada pembicaraan serius yang tercipta sehingga suasana canggung itu semakin berat.

 

“Ada urusan yang harus aku selesaikan jadi aku harus pulang sekarang.”

 

Tangannya menepuk pelan bahu Sehun sebelum akhirnya meninggalkan kami berdua di ruangan serba putih itu. Luhan tersenyum tipis pada Sehun sebelum sosoknya benar-benar menghilang dari balik pintu.

 

Baiklah, ini kesempatanku untuk bicara padanya. Sejak awal aku memang berniat untuk berterimakasih pada Sehun tapi keberadaan Luhan membuatku bungkam dan tak berkutik. Sepertinya aku terlalu menjaga image-ku di depan laki-laki albino itu.

 

“Sehun, terimakasih karena telah menyelamatkanku.”

 

“…”

 

Ia hanya diam?

 

Ini justru membuat suasana terasa semakin canggung karena hanya ada kami berdua disini. Ditambah ia tak merespon ucapan terimakasih dariku.

 

“Hana, maafkan aku.”

 

Eh?

 

“Seharusnya sejak awal aku memberitahumu tapi aku belum siap karena aku tak bisa mempercayai apa yang terjadi.”

 

Apa maksudnya?

 

“Akulah yang melenyapkan arwah Sulli. Aku juga mengetahui hubungan antara Choi seonsaengnim dan Lee Nami jadi aku menggunakan mereka untuk mengalihkan perhatianmu.”

 

DEG!

 

“Aku sengaja melakukannya agar aku bisa melindungi ‘orang itu’.”

 

DEG!

 

“K-kau jangan bercanda, Sehun.”

 

Kakiku bergetar hebat saat pandangan itu seolah menegaskan bahwa ia tidak sedang berbohong. Aku menelan ludahku kasar saat ucapan Lee Nami berputar ulang di otakku.

 

“Seseorang sengaja mengalihkan perhatianmu padaku, Kim Hana.”

 

“Kasarnya orang itu telah membodohimu.”

 

“Aku akan memberimu sebuah petunjuk.”

 

 

“Kau adalah korban terakhir.”

 

Berkali-kali aku menarik napas panjang untuk menenangkan pikiranku tapi ucapan terakhir Lee Nami benar-benar membuatku tak tenang. Ditambah fakta bahwa laki-laki di hadapanku adalah seseorang yang juga memiliki kemampuan ‘istimewa’ sepertiku dan dia melindungi pelaku yang membunuh Sulli.

 

Seseorang yang telah membodohiku adalah Sehun.

 

“Siapa ‘orang itu’ hingga kau harus melindunginya seperti ini, Sehun?”

 

“…”

 

“Siapa ‘orang itu’ hingga kau tega membiarkan nyawa temanmu yang tak bersalah melayang begitu saja?”

 

“Aku tidak bisa memberitahukannya, Hana.”

 

‘PLAK!!’

 

Entah apa yang merasuki tubuhku hingga tanganku dengan ringannya bergerak menampar laki-laki di hadapanku yang tampak menyedihkan. Seluruh tubuhku bergetar setelahnya. Aku kesal pada Sehun tapi aku juga menyesali perbuatanku.

 

“M-maafkan aku, Sehun.”

 

“Kau boleh menamparku sebanyak yang kau mau, Hana.”

 

“A-aku…”

 

“Tamparan darimu telah menjernihkan pikiranku bahwa apa yang aku lakukan adalah sebuah kesalahan besar.”

 

Sehun.

 

“Aku membutuhkan bantuanmu untuk menguak identitas pelaku sebenarnya, Hana.”

 

“K-kenapa?”

 

“Aku tidak akan sanggup jika harus melakukannya sendirian.”

 

Sehun menggenggam erat tangan kananku yang tadi aku gunakan untuk menamparnya. Matanya mengunci pandanganku. Ada sebuah pesan disana yang seolah mengatakan bahwa ia sangat membutuhkan bantuanku.

 

“Akulah yang membuatnya menjadi seorang pembunuh, Hana.”

 

DEG!

 

“Semuanya karena kesalahanku.”

 

Sehun menggengam kedua tanganku. Orang biasa mungkin akan berpikir bahwa aku dan Sehun tengah sibuk memadu kasih di ruang rawat rumah sakit. Namun, yang terjadi sebenarnya adalah ia tengah menyalurkan sesuatu padaku. Aku merasakan sesuatu yang tak biasa mengalir di setiap sistem sarafku. Mata kiriku berdenyut hebat bersamaan dengan tangan Sehun yang gemetar.

 

“Aku akan memperlihatkan padamu awal dari semuanya, Hana.”

 

~ Flashback On ~

 

“Hyung, ajari aku mengemudikan mobil di jalan raya.”

 

“Kau belum cukup umur untuk mengemudi, Sehun.”

 

“Selama ini kau hanya mengajariku di lapangan terbuka. Aku ingin mengemudikannya di jalan raya agar aku bisa menjemput ayah dan ibu saat mereka pulang dari Jepang minggu depan.”

 

“Usiamu masih 13 tahun jadi aku tidak akan mengizinkanmu mengemudikan mobil, Sehun-ah.”

 

Bibirnya mengerucut mendengar ucapan tegas sang kakak yang melenggang pergi begitu saja dari hadapannya. Kekesalan menumpuk hingga ke ubun-ubun membuatnya merutuki sang kakak dalam hati.

 

Beberapa saat kemudian seringaian nakal terkembang di bibirnya. Pelan-pelan ia melangkahkan kakinya menyusul sang kakak. Sengaja ia menempelkan daun telinganya di pintu untuk memastikan sesuatu sebelum masuk.

 

‘BYUR’

 

Ia yakin saudara kandungnya itu tengah membasuh diri di kamar mandi. Tanpa berlama-lama ia masuk dan mengambil kunci mobil yang tergeletak begitu saja di meja belajar. Secepat kilat pula ia keluar dari kamar dan menuju mobil yang terparkir di garasi. Ia merasa beruntung karena semua berjalan dengan lancar.

 

“Aku akan membuktikan padanya bahwa aku bisa mengemudikan mobil.”

 

Gumamnya kemudian mulai menyalakan mesin. Memutar kemudi mobil secara perlahan seperti yang ia pelajari selama ini dari sang kakak. Mobil itu pun mulai melaju dengan kecepatan normal.

 

Matanya terus fokus menatap jalanan seperti yang selalu dikatakan sang kakak saat mengajarinya mengemudi. Sehun tidak terlalu paham dengan jalanan di sekitarnya hingga tanpa sadar ia benar-benar berada di jalan raya yang kini tengah lengang. Tangannya mulai gemetar saat satu per satu kendaraan melewatinya.

 

“Aku pasti bisa melakukannya!”

 

Gumamnya berusaha menyemangati diri sendiri. Ia memberanikan diri untuk berbelok di sebuah tikungan yang cukup tajam. tapi mobil yang ia kemudikan melebar ke sisi kanan jalan hingga akhirnya hal yang mengerikan terjadi.

 

Mobilnya menabrak mobil lain yang berlawanan arah dengannya —karena jalan yang ia lalui memiliki dua jalur. Kedua mobil itu terseret beberapa meter sebelum akhirnya menabrak pembatas jalan. Seketika itu pula suasana di sekitar mereka menjadi kacau. Sehun merasakan sakit luar biasa pada kepalanya karena ia membentur kemudi mobil dan secara perlahan pandangannya mengabur bersamaan dengan ingatan mengerikan itu.

 

~~~

 

“Dokter…?”

 

“Bagaimana istirahatmu, Sehun?”

 

“Huh?”

 

Matanya mengerjap beberapa kali berusaha mengoptimalkan pandangannya. Meminimalisir cahaya lampu yang membuat matanya perih. Kepalanya sedikit pusing dan ia yakin bahwa ia telah tertidur dalam waktu yang cukup lama. Ia mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan untuk menajamkan penglihatan. Matanya membulat saat mendapati sosok aneh tengah berdiri di sudut ruangan.

 

“Dokter, siapa orang aneh itu?”

 

Tangannya menunjuk ke sudut ruangan sementara dokter yang tengah memeriksanya tampak kebingungan. Ia hanya mengusap lembut puncak kepala Sehun beberapa kali sembari tersenyum.

 

“Tidak ada siapa pun disana, Sehun.”

 

“Apa kau tidak melihatnya? Ia sangat aneh dan tubuhnya sangat bau.”

 

“Mungkin itu hanya halusinasi yang diciptakan pikiranmu setelah kau mengalami koma selama hampir seminggu, Sehun.”

 

“Tidak! Ia benar-benar nyata.”

 

“…”

 

“DOKTER! IA MENGERIKAN!”

 

Beberapa orang yang tak lain adalah keluarga Sehun masuk saat mendengar teriakannya. Wajah mereka tampak panik terutama sang ibu. Dipeluknya tubuh putra kesayangannya itu dengan erat seolah menggambarkan kekhawatiran yang mendalam.

 

“Apa yang terjadi pada putra kami, dokter?”

 

“Ia hanya berhalusinasi.”

 

“Aku sungguh tidak berhalusinasi! Eomma, apa kau melihat orang aneh dengan tubuh yang sangat bau di sudut itu?”

 

“T-tidak ada seorang pun disitu, Sehun.”

Sahut ibunya terbata sementara sang kakak terus memperhatikan gerak-gerik Sehun dan ia yakin bahwa adiknya tidak sedang berhalusinasi. Wajahnya berubah serius saat ia menyadari sesuatu. Sontak ia merasakan hawa dingin menerpa permukaan kulitnya.

 

“Eomma, sepertinya Sehun mendapatkan kemampuan ‘istimewa’ setelah terbangun dari koma. Aku pernah mendengar sesuatu seperti itu terjadi pada mereka yang pernah mengalami mati suri.”

 

“Mati suri?”

 

Maniknya membulat mendengar penjelasan sang kakak. Tak perlu waktu lama baginya untuk menyadari bahwa yang dikatakan sang kakak adalah benar. Samar-samar ia melihat sebuah kilatan peristiwa yang seketika membuat tubuhnya bergetar.

 

“Ayah dan ibu mereka tewas dalam perjalanan menuju rumah sakit. Sang adik hanya mengalami luka ringan sementara sang kakak mengalami trauma luar biasa.”

 

“Kami juga mendeteksi adanya sel kanker di otak sang adik dan kecelakaan itu membuat kondisinya memburuk.”

 

Sehun menelan kasar ludah yang terkumpul di kerongkongannya. Setiap napas yang dihirup terasa mencekat dan membuatnya sesak. Ibunya yang menyadari hal itu kemudian memberikan pelukan hangat padanya untuk menyalurkan sedikit ketenangan.

 

“E-eomma, aku telah menghilangkan nyawa orang lain.”

 

“Sehun, jangan bicara seperti itu!”

 

“Anak-anak itu kehilangan orangtuanya karena kecerobohanku.”

 

“Sehun!”

 

“Aku harus menebus dosaku, eomma.”

 

~~~

 

 

“Siapa namamu?”

 

“Sehun.”

 

Gadis kecil itu menatap lugu wajah bocah laki-laki yang lebih tua beberapa tahun darinya. Maniknya kemudian melirik seorang bocah berambut putih yang tengah duduk menyendiri di sebuah ayunan.

 

“Gege memang suka menyendiri dan sulit didekati.”

 

“Kau belum memperkenalkan namamu.”

 

“Panggil saja aku Daiyu.”

 

“Daiyu? Kau bukan orang Korea?”

 

Ia menggelengkan kepalanya. Senyuman tipis masih menghiasi wajah lugu itu. Sesekali pandangannya melirik sang kakak yang tak berkutik barang sedikit dari posisinya.

 

“Dalam bahasa China namaku memiliki arti ‘Giok Hitam’.”

 

“Oh, nama yang bagus.”

 

“Gege! Apa kau tidak ingin berkenalan dengan Sehun?”

 

Laki-laki berambut putih itu hanya menggelengkan kepalanya tak bersemangat. Ia menolehkan kepalanya saat sang adik mendengus lesu karena sikapnya yang cuek.

 

“Ia sulit bergaul dengan seseorang bahkan denganku meskipun kami sudah bersama selama setahun.”

 

“Bersama selama setahun?”

 

“Ah, keluarganya mengangkatku sebagai anak setahun yang lalu.”

 

Sehun tertunduk diam setelah mengetahui fakta lain mengenai keluarga itu. Perasaan bersalah semakin menyeruak dan membuat batinnya bergejolak. Siapa yang menyangka bahwa hal menyakitkan seperti ini harus terjadi pada mereka.

 

Mereka adalah anak dari korban tewas akibat kecelakaan yang melibatkan Sehun saat itu. Ayah Sehun telah berjanji dan membuat surat pernyataan sebagai bukti bahwa ia akan bertanggung jawab penuh dengan membiayai semua kebutuhan mereka. Mereka pun telah berlapang hati menerima permintaan maaf dari Sehun tapi tak ada yang tahu bagaimana isi hati mereka yang sebenarnya.

 

Melihat laki-laki berambut putih itu membuat Sehun teringat akan semua kesalahannya. Ia tak berani menegurnya meski hanya satu kata. Yang terlihat di matanya bukanlah seorang bocah penyendiri melainkan seseorang yang kesepian. Dan kesepian yang dialami bocah itu disebabkan olehnya.

 

“Maafkan aku…”

 

~~~

 

One month later

 

Sudah satu bulan sejak insiden kecelakaan hari itu. Penglihatan istimewa Sehun semakin terasah. Ada banyak hal yang ia lihat dan ketahui mengenai orang-orang di sekitarnya. Ia juga mendapatkan kemampuan lain dimana ia mampu melenyapkan makhluk astral yang menurutnya mengganggu.

 

Hari ini ia memutuskan untuk berkunjung ke kediaman Daiyu. Sudah hampir dua minggu ia tak melihat keadaan mereka berdua jadi ia cukup bersemangat hari ini. Dalam jangka waktu satu bulan Sehun akhirnya memberanikan diri untuk menyapa laki-laki berambut putih itu hingga akhirnya mereka mulai akrab. Bahkan ia sudah menganggapnya seperti saudara. Yang ia butuhkan sebenarnya hanyalah waktu untuk saling beradaptasi.

 

‘TING TONG’

 

Tangannya menekan bel beberapa kali tapi tak ada balasan dari pemilik rumah. Sehun memperhatikan sandal yang tergeletak di lantai, menandakan bahwa mereka berdua ada di dalam tapi di lain sisi ia juga bertanya-tanya kenapa mereka tak kunjung membukakan pintu. Sehun mengulang aktivitasnya dan mendapatkan hal yang sama. Tak ada sambutan apapun dari pemilik rumah.

 

“Apa mereka masih tidur?”

 

Gumamnya kemudian menarik gagang pintu secara perlahan. Beruntung pintu tersebut tak dikunci dari dalam jadi ia bisa masuk secara diam-diam dan memberi kejutan pada teman-temannya itu — atau bisa disebut saudaranya.

 

Kakinya sedikit berjinjit untuk meminimalisir suara langkah kaki. Setiap jejak kaki menuntunnya ke sebuah kamar yang sudah sangat familiar baginya. Pelan-pelan ia menarik gagang pintu.

 

‘CKLEK’

 

 

“Kalian masih ti—”

 

 

DEG!!!

 

Tubuhnya seketika membeku menyaksikan apa yang ada di hadapannya. Lututnya terasa lemas saat cairan berwarna merah itu terus mengeluarkan aroma yang menyeruak. Noda merah — tepat di bagian jantung — semakin melebar di dress putih yang dikenakan gadis kecil itu. Tubuhnya tergolek di ubin dan sebuah pisau dapur berdarah tergeletak tak jauh dari jasadnya. Tak ada tanda-tanda kehidupan selain deru napas dari seseorang yang tengah duduk di sudut kamar.

 

‘GLEG’

 

Matanya menatap tajam pada Sehun. Tangannya yang berlumuran darah ia gunakan untuk membentuk sebuah cap tangan di dinding kamar. Sesekali ia menyeringai dan tertawa kecil.

 

“Aku tidak ingin merepotkan keluargamu, Sehun.”

 

“…”

 

“Aku hanya membantunya mengakhiri semua penderitaan ini.”

 

“…”

 

“Daiyu selalu kesakitan setiap kali sel kanker di otaknya bereaksi jadi aku harus membantunya… tapi aku juga tidak ingin merepotkanmu… jadi aku mengambil jalan tengah, Sehun.”

 

“…”

 

“Aku mengirim Daiyu ke surga, Sehun.”

 

 

“S-siapa kau sebenarnya? Bagaimana kau bisa melakukan ini?”

 

“Tentu saja ini aku…”

 

 

 

“Luhan.”

 

~ TBC ~

 

Maaf update-nya lama abisnya mager banget nih (efek akhir tahun mungkin). Maaf juga kalo banyak typo atau kata-kata yang kurang nyambung bcs terlalu males buat ngecek ulang (haha xD). Makasih banyak loh buat yang mau bersusah payah ninggalin komentar dan saran di chapter sebelumnya (semoga chapter ini juga rame hehe). Gimana pendapat kalian tentang chapter ini? kalo ada yang masih ginjal (ganjel) insya allah di chapter selanjutnya saya temukan solusinya ._. anyway terimakasih selalu buat kalian yang baca fic ini ^^~

27 thoughts on “HIGH SCHOOL OF THE DEAD (CHAPTER 3)

  1. nunggu ff ini update ampe karatan 😥. Tapi gk mengecewakan lah keren banget. Wajib lanjut thor!! jangan kelamaan 😆

  2. Kak ditunggu banget next chapternya..
    Alur ceritanya bagus banget, ayo kak lanjutin lagi..
    Readers nya udah nunggu lama bgt nih kak, ampe jenggotan 😄😄

  3. Halo, ini saya author yang menulis ff High School Of The Dead. Hanya ingin memberitahukan bahwa ff ini tidak akan dilanjutkan karena beberapa hal. Salah satunya ada yang merepost ulang tanpa minta izin dari saya. Waktu saya untuk nulis juga terbatas karena banyak urusan lain yang harus dikerjakan. Saya mohon maaf pada readers semua yang sudah terlalu lama menunggu dan malah mendapatkan kabar buruk ini. I wish you all to forgive me – Riska Junaini.

  4. Annyeong ^^
    Aku reader baru disini, salam kenal author-nim 😊😄
    Ff nyh keren banget thor,, aku penasaran sebenernya Luhan itu siapa? Sehun siapa?
    Penasaran bgt thor,, dilanjutnya jan lama” ya thor 😁😘

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s