The Night Mistake (Chapter 4)

sehun chanyeol

The Night Mistake – Part.4

By : Ririn Setyo

Park Chanyeol || Song Jiyeon || Oh Sehun

Other Cast : Kim Jongin || Yang Yoojin || Xiumin

Genre : Romance ( PG – 16)

Length : Chaptered

FF ini juga publish di blog pribadi saya dengan cast yang berbeda http://www.ririnsetyo.wordpress.com

“Ke mana Yixing? Kenapa Hyung yang menjemputku?”

Chanyeol bertanya pada Jinhwan dari atas sofa coklat yang di dudukinya, dia meliht sekilas sosok Jinhwan yang duduk diam di hadapannya. Laki-laki itu sudah berada di ruang perawatan Chanyeol sejak tiga puluh menit lalu kini Jinhwan tengah santai menikmati teh hangatnya.

“Apa ibu yang memerintahkannya?”

Jinhwan menahan niat untuk kembali menyesapi teh hangatnya pagi ini, menatap Chanyeol yang terlihat sibuk menutup kepalanya dengan topi rajut berwarna abu-abu muda, agar dapat menyembunyikan sedikit perban yang masih menghiasi kepalanya di bagian samping kanan.

“Bukankah dia kau tugaskan untuk melindungi gadis itu dariku?”

Chanyeol kembali menatap Jinhwan seraya mengangguk pelan. “Yah, Hyung benar. Aku benar-benar takut Hyung menyakiti gadis itu, karena melaksanakan perintah dari ibuku.”

“Kau menyukai gadis itu?”

“Tidak! Aku hanya—- berusaha mempertanggungjawabkan perbuatanku padanya,”

Jinhwan meletakkan cangkir tehnya kembali di atas meja kaca yang membatasi dirinya dan Chanyeol, dia tersenyum sekilas, melemparkan pandangan ke arah luar jendela. Tanpa kata laki-laki itu bangkit dari posisinya, berdiri di pinggir jendela kaca, menatap puluhan awak media yang telah memenuhi halaman depan rumah sakit. Bahkan saat Jinhwan baru saja tiba di rumah sakit tadi, dia juga mendapati beberapa ada yang sudah masuk hingga ke dalam lobi, menanti kepulangan dari Park Chanyeol, sang pengusaha pemilik Hemelsky Enterprise dan penerus dari Shinhwa Corporation.

“Kabar tentang keberadaanmu di rumah sakit ini sudah menyebar di kalangan pemegang saham di perusahaanmu dan perusahaan ayahmu, disinyalir ini didapat dari para awak media yang haus akan aksimu Chanyeol,”

“Di minati untuk apa? Untuk menjadi sumber kekayaan dari orang-orang bodoh yang dengan rela, menjual putri mereka pada ibuku? Cih! Siapa yang peduli tentang itu.”

Jinhwan mengalihkan pandangannya seraya tersenyum tipis akan reaksi Chanyeol barusan, dia tahu jika laki-laki yang selalu dianggapnya sebagai adiknya itu belumlah berubah. Chanyeol tetaplah seorang laki-laki yang tidak begitu peduli dengan status sosialnya, muak dengan aksi palsu dari orang-orang kaya yang ingin mendapat perhatian lebih dari orang-orang seperti dirinya, sifat yang terlihat persis seperti almarhum ayahnya, Park Jaebin.

“Kita akan keluar dari pintu belakang untuk menghindari para wartawan, Direktur Park Seo sudah memberi pernyataan jika kau terserang demam karena kelelahan.”

“Tidak! Kita akan tetap lewat pintu depan,” Chanyeol menatap Jinhwan yang hanya memandanginya. “Hey! Tenanglah Hyung, aku tidak akan mengacau, aku hanya ingin para awak media mengambil gambarku, jadi mereka semua tahu jika aku baik-baik saja.”

Jinhwan menajamkan tatapannya, menghembuskan napas pelan, geram atas sikap keras kepala Chanyeol yang tidak berubah sejak dulu. Mereka selalu bertentangan, kadang justru membuat Chanyeol dalam bahaya, dan Jinhwan harus bekerja lebih keras demi melindungi adik tersayangnya itu. Chanyeol tersenyum lebar atas aksi diam Jinhwan, Chanyeol tahu pasti jika sejak dulu Jinhwan selalu sulit menolak permintaannya. Laki-laki yang masih terlihat pucat itu justru menatap wajahnya dari layar handphone yang di genggamnya, bergumam pelan seraya keluar dari kamar saat Jinhwan mengacuhkannya, pria itu melangkah melewatinya begitu saja tanpa kata.

Hyung! Apa aku sudah terlihat tampan?”

Chanyeol berjalan pelan melewati lobi rumah sakit yang sangat ramai, menatap beberapa awak media yang langsung bergerak dari posisi mereka saat melihat sosoknya menyeruak di hadapan mereka. Membidikkan layar blitz dari kamera mereka ke arah wajah Chanyeol, mengikuti langkah Chanyeol keluar dari rumah sakit dengan beberapa pertanyaan yang tidak di jawab Chanyeol sedikit pun. Di belakang Chanyeol, Jinhwan berjalan tenang dengan ekspresi wajah yang sangat datar, dia menepis tangan seorang awak media yang hendak meraih lengan Chanyeol, dia terus berjalan di sisi Chanyeol, hingga mereka masuk ke dalam BMW merah yang sudah terparkir manis di pintu depan rumah sakit.

“Lihat? Tidak ada yang terjadi bukan?” ucap Chanyeol, dia terkekeh, lalu hanya bisa mengangkat bahu saat Jinhwan tak menanggapi ucapannya sedikit pun.

~000~

“Hari ini Tuan Muda Park keluar dari rumah sakit, Direktur Park Seo, tim dokter mengatakan jika keadaan Tuan Muda sudah pulih dan Im Jinhwan yang menjemputnya,”

“Jinhwan?”

Kening Seojung mengerut, menaikkan satu alis lalu menatap sekilas pengawalnya yang dia perintahkan untuk memantau keadaan Chanyeol.

“Ya, Direktur Park Seo”

“Apa kau sudah memastikan kasus Chanyeol kali ini tidak tercium media?”

“Ya, sudah saya pastikan.”

“Bagus! Pastikan masalah ini tertutup rapat dan tidak merusak acara pertunangan Chanyeol, kau mengerti?”

“Baik Direktur, saya mengerti.”

Sang pengawal bertubuh tegap itu pun berlalu dari hadapan Seojung, wanita itu kini tengah menatap fotonya bersama seorang anak laki-laki yang memiliki rahang tegas persis seperti yang terpahat di wajahnya. Anak laki-laki itu merangkulnya di depan kue ulang tahun besar dengan lilin angka 8, terlihat tersenyum lebar dalam euforia kebahagian yang bahkan masih bisa Seojung rasakan hingga sekarang.

“Aku harap ini masalah terakhir yang lakukan, Park Chanyeol.”

~000~

“Sudah berapa lama aku tidak mentraktir mu Ice Cream, Hyung?”

Chanyeol bertanya, mereka duduk di bangku taman, Jinhwan menikmati sebatang Ice Cream, beraroma coffee kesukaannya yang dibeli Chanyeol di sebuah toko kecil tak jauh dari taman. Mereka berdua memutuskan untuk berhenti sejenak di taman yang tidak terlalu ramai, dulu mereka kerap kali berkunjung ke tempat itu untuk sekedar bersantai.

“Sejak kau bertambah tinggi dan mulai sibuk, bersama gadis-gadis yang dibawa sepupumu untuk berpesta di rumah.”

Chanyeol terkekeh lalu mengangguk, tak berusaha untuk membela diri karena memang itulah fakta yang sebenarnya. Dia kembali mengingat hal-hal brengsek yang sengaja dilakukannya sejak genap berusia lima belas tahun, hanya untuk mendapat perhatian dari sang ibu yang sangat sibuk bekerja, mengelola perusahaan peninggalan almarhum ayahnya.

“Dan aku tidak menyangka kau masih mengingat Ice Cream kesukaanku.”

“Aku mengingat semua hal yang Hyung sukai,”

Tanpa Chanyeol ketahui ada senyum samar di wajah kaku Jinhwan, di depan mereka ada sebuah danau buatan yang tampak tenang, rumput taman tampak hijau, kontras dengan pohon sanyusu yang mulai berubah warna menjadi kuning. Suasana tenang nan sunyi pun perlahan tercipta di antara mereka, terhanyut dalam pikiran masing-masing. Mereka tidak berniat berbagi dalam lisan seperti yang biasa mereka lakukan saat Chanyeol masih berumur dua belas tahun, tak berniat berbagi tawa yang dulu juga biasa mereka lakukan bersama. Jinhwan melirik Chanyeol yang terlihat melamun, kepala pria itu bahkan sedikit menunduk. Jinhwan tahu jika masalah Chanyeol kali ini, jauh lebih berat dari masalah yang biasa Chanyeol lakukan.

Sejak dulu Chanyeol sering melakukan masalah besar bersama sepupunya Sehun, dari hanya sebuah scandal pesta anggur bersama penari Stripper di rumah, berkelahi dengan direksi pemegang saham. Atau saat sengaja menabrakkan mobil sport limited edition dengan harga milyaran US$ di jalanan bebas hambatan, hingga meninggalkan gadis yang ditunangan paksa pada Chanyeol di acara pesta demi meniduri wanita penghibur di sebuah hotel.

Scandal yang membuat Seojung marah besar dan memblokir semua aset kekayaan Chanyeol yang kala itu masih berusia dua puluh tahun. Chanyeol memutuskan untuk meninggalkan rumah dan tinggal bersama pamannya, Oh Seokbin ayah kandung Sehun. Chanyeol berusaha keras dalam membangun perusahaannya sendiri tanpa bantuan Seojung, hingga pada akhirnya kini perusahaan Chanyeol Hemelsky Enterprise mampu bersaing ketat dengan perusahaan keluarganya, Shinhwa Corportion.

“Sampai kapan gadis itu akan berada di rumahmu, Chanyeol?”

Seketika Chanyeol menolehkan, menatap Jinhwan yang membuang pandangannya lurus-lurus ke arah danau yang tenang. Pria itu terlihat dingin seperti biasa, pria yang sangat Chanyeol sayangi.

“Sampai dia pulih dan bisa mengambil keputusan untuk diriku.”

“Sudah berapa lama dia ada di rumahmu?”

“Mungkin—- sudah hampir 3 minggu.”

“Berhentilah! Bawa gadis itu menjauh sebelum ibumu yang melakukannya.”

Chanyeol ikut melayangkan pandangannya pada air danau yang terlihat bergerak pelan, genggaman tangannya menguat, dia geram atas tindakan berlebihan Seojung pada semua masalah yang dibuatnya selama ini.

“Tidak! Aku tidak akan membiarkan ibu menyentuhnya,”

“Lalu bagaimana dengan Yang Yoojin, bukankah sebentar lagi kalian akan bertunangan secara resmi lalu menikah?” kali ini Jinhwan menoleh, mengadu pandangan dinginnya pada pandangan Chanyeol yang terlihat sedikit kalut.

“Dan bagaimana jika ternyata gadis itu—-, hamil.”

“Apa?!” dalam sekejab mata Chanyeol membulat, menyadari jika dia telah melupakan fakta penting itu sejak dia meniduri Jiyeon beberapa minggu lalu.

 

Jinhwan benar, bagaimana jika Jiyeon hamil?

 

“Kenapa?? Apa selama ini, kau belum pernah membuat wanita yang kau tiduri hamil?”

Chanyeol menggeleng. “Aku selalu mengamankan diriku sebelum meniduri mereka, lagi pula aku sudah berjanji pada Yoojin, jika aku tidak akan menghamili wanita manapun selain dia.”

“Lantas?”

Pupil Chanyeol bergerak gelisah, mengingat hal fatal yang telah dilakukannya pada malam itu bersama Jiyeon. Malam yang hingga kini masih menyisakan tanda tanya besar di benak Chanyeol, mungkinkah dia benar-benar mabuk hingga tanpa sadar meniduri Jiyeon, atau prasangkanya akan zat perangsang yang bersarang di tubuhnya malam itu benar adanya.

“Yah aku lupa memasang pengaman, lebih tepatnya aku tidak sempat melakukannya. Tapi Hyung tenang saja, masalah ini tidak akan menjadi lebih rumit.”

Chanyeol menghembuskan napasnya sesaat, terasa berat dan tak punya kalimat untuk menjelaskan kegundahan hatinya saat ini. Namun sayangnya Jinhwan terlalu hafal dengan semua ekspresi dari Chanyeol, sekuat apapun laki-laki itu berusaha menyembunyikannya.

“Bagaimana jika dia hamil?”

Lagi Jinhwan bertanya tanpa mengalihkan pandangannya pada Chanyeol, tak peduli jika laki-laki yang masih terlihat pucat itu tak berniat untuk melanjutkan perbincangan genting mereka saat ini. Jinhwan tetap menanti jawaban Chanyeol, dalam kebekuan ekspresi yang justru membuat Chanyeol meneruskan kalimat yang sejak tadi tertahan di ujung kerongkongannya yang kelu. Chanyeol tahu jika Jinhwan peduli dan akan selalu peduli pada semua masalah yang menimpanya.

“Aku belum punya rencana untuk itu, Hyung. Tapi…,“ Chanyeol menegakkan posisi duduknya. “…. aku merasa jika ada yang berlaku curang di belakangku, aku merasa jika semua ini hanya sebuah rekayasa untuk menjatuhkanku. Seperti yang pernah Sehun duga sebelumnya.”

“Sehun?”

Heem, dia pernah bilang padaku, mungkin ada rekan bisnis yang ingin menghancurkanku dengan mengunakan gadis itu.”

Chanyeol menajamkan pandangannya pada Jinhwan, merasa yakin jika Jinhwan akan membantunya kali ini, sama seperti disemua masalah yang pernah dilaluinya dulu. Hingga saat ini Chanyeol masih sangat yakin, jika ada yang tidak beres pada tubuhnya di malam kesalahan itu.

Hyung! Bisakah kau membantuku, untuk menemukan orang yang berlaku curang di belakangku?”

“Membantumu,”

Chanyeol mengangguk yakin.

“Dengan apa kau akan membayarku kali ini? Ice Cream?”

“Apapun yang kau mau Hyung, kau tahu kan jika aku bahkan rela menyerahkan nyawaku untuk mu.” Jawab Chanyeol dengan wajah seriusnya, Jinhwan hanya tertawa sumbang.

“Tidak usah semanis itu, aku tidak akan tersentuh.”

Chanyeol ikut menegakkan tubuhnya. “Aku tahuterima kasih Jinhwan Hyung.”

~000~

Jihye menatap Jiyeon yang terlihat melamun di atas matrasnya, di kelas yoga meditasi yang sudah mereka lakukan bersama sejak satu jam lalu. Tak biasanya gadis itu terlihat tidak bersemangat di olahraga favoritnya ini, biasanya Jiyeon selalu antusias dan mampu melakukan meditasi hingga satu jam penuh bahkan lebih. Tapi hari ini, jangankan meditasi, hanya melakukan gerakan yang sudah biasa dia lakukan saja, Jiyeon selalu salah.

“Ada apa Jiyeon?”

Tanpa berpindah tempat Jihye bertanya, di atas matrasnya, tiga langkah di depan Jiyeon. Jiyeon tergagap dan langsung menolehkan kepalanya, menatap Jihye melalui dinding kaca yang ada di ruangan yoga mereka. Gadis itu tersenyum tipis seraya menggeleng pelan, tak berniat mengutarakan kegundahan hati yang Jiyeon pun tidak tahu, apa alasan hatinya bisa segundah hari ini.

“Kau—- merindukan ibumu”

Jiyeon kembali menggeleng.

“Lalu? Kenapa kau terlihat melamun dan tidak konstrasi? Apa ada yang menganggumu? Apa kau mimpi buruk?”

Jiyeon mengerjap pelan, merasa sedikit terpojok dengan rundungan pertanyaan Jihye padanya. Mata bening Jiyeon bergerak gelisah, tak mampu menghindar dari tatapan Jihye yang terus mendesaknya, Jiyeon sudah menganggap Jihye sebagai teman baiknya selama dia tinggal di ruangan besar ini.

Sampai sekarang Jiyeon belum tahu jika dia tinggal, di salah satu ruangan yang ada di rumah Park Chanyeol.

“Aku—-“

“Apa?”

“Aku hanya ingin tahu, apakah dia—- baik-baik saja? Apa pukulanku di kepalanya tidak buruk, Dokter?”

“Apa?”

Jihye terkejut, tidak menyangka Jiyeon akan menanyakan hal ini. Dia sama sekali tidak menduga jika sosok Chanyeol yang membuat Jiyeon terlihat gundah, sosok laki-laki yang selama beberapa minggu ini selalu Jiyeon proklamirkan sebagai laki-laki yang sangat dibencinya.

“Aku hanya bertanya Dokter, tidak ada—- maksud lain.”

Jiyeon membuang pandangannya ke samping, tidak ingin Jihye berpikir aneh atas apa yang tengah membalut hatinya. Jiyeon tahu ini terdengar aneh, bagaimana bisa dia mengkhawatirkan laki-laki brengsek itu? Entahlah yang pasti sejak semalam Jiyeon selalu memikirkan Chanyeol, memikirkan tentang bagaimana nasib laki-laki itu setelah kejadian pemukulan tempo hari.

“Tuan Chanyeol baik-baik saja, hari ini dia akan pulang.”

“Dia baik-baik saja?”

Heemm,“

“Dokter yakin?”

“Sangat yakin! Yixing bilang operasinya lancar dan semuanya sudah kembali baik-baik saja.”

Tanpa bisa ditutupi Jiyeon terlihat sangat lega, gadis itu tersenyum lebar tanpa perintah hingga membuat Jihye kembali penasaran. Bagaimana bisa sikap Jiyeon berubah secepat ini? baru tiga hari lalu gadis itu terlihat sangat membenci Chanyeol dan sekarang gadis itu terlihat sangat berbeda, terlihat seperti tidak pernah membenci Chanyeol sebelumnya.

“Kenapa tiba-tiba mengkhawatirkan Chanyeol? Bukankah dia laki-laki brengsek yang pantas mati dan tidak akan pernah bisa kau maafkan?”

Jiyeon mengerjap pelan. “Iya sampai sekarang pun dia tetaplah laki-laki brengsek di mataku, sampai sekarang pun aku tetap tidak akan bisa memaafkannya. Tapi—- entahlah tiba-tiba aku merasa mengkhawatirkannya, apa aku terlihat aneh, Dokter?”

“Iya! Bahkan sangat aneh.”

“Aku juga merasa begitu.” Jiyeon terdiam sesaat. “Dokter bisakah kau memeriksa apa yang terjadi pada tubuhku? Mungkin saja ada hal buruk yang terjadi,”

Jihye tertawa seketika, membuat ucapan Jiyeon terhenti tanpa perintah. Dokter paruh baya itu pun beranjak, mendekati Jiyeon lalu duduk bersila di depan Jiyeon. Tangannya membelai wajah Jiyeon lembut, tersenyum puas dengan perkembangan Jiyeon yang terlihat jauh lebih cepat pulih dari yang sudah Jihye perkirakan sebelumnya. Bahkan Jihye sudah memutuskan jika akhir minggu ini Jiyeon sudah bisa pulang ke rumahnya, dan memastikan jika saat ini kejiwaan Jiyeon dinyatakan cukup baik. Hanya tinggal menjalani rawat jalan tanpa obat penenang, mungkin hanya sesekali jika mimpi buruk kembali datang, itu pun Jihye tak yakin akan terjadi.

“Tidak ada yang salah Song Jiyeon, mengkhawatirkan seseorang yang terluka karena kita adalah hal yang wajar, walaupun laki-laki itu juga telah menyakiti kita lebih dari yang kita lakukan padanya.” Jihye kembali membelai wajah Jiyeon. “Keadaanmu sudah sangat sehat, aku bahkan terkejut kau pulih secepat ini.”

“Benarkah?” Jihye mengangguk pelan. “Jadi apa aku boleh pulang ke rumahku?”

“Tentu saja.”

Senyum Jiyeon merekah seketika, gadis itu memeluk Jihye dengan sangat erat.

“Terima kasih, Dokter.”

~000~

Chanyeol turun dari mobil mewahnya, berjalan menuju pintu rumah yang menjulang kokoh di hadapannya. Di belakangnya Jinhwan mengikuti Chanyeol dalam diam, menatap beberapa pelayan yang menyambut kepulangan Chanyeol hari ini. Chanyeol menghentikan langkahnya, dia menatap sosok gadis yang terlihat menghambur keluar dari balik pintu yg terbuka. Chanyeol terkejut, pupilnya melebar, gadis cantik itu memeluk tubuhnya begitu erat. Dia benar-benar tak menyangka sosok cantik yang masih memeluknya itu, ada di hadapannya, di rumahnya.

“Yoojin?”

Gadis cantik itu melepaskan pelukannya, menatap tak suka atas nada heran yang terselip di sapaan Chanyeol.

“Kenapa? Haruskah Oppa seheran itu untuk menyambut kedatangan tunanganmu?” Yoojin menekuk wajah sebagai ungkapan kekesalannya, memukul pundak Chanyeol hingga laki-laki itu terkekeh. Chanyeol berusaha menyembunyikan kekhawatiran, atas keberadaan Jiyeon di rumahnya yang belum di ketahui Yoojin sedikit pun.

“Dan bagaimana mungkin Oppa tidak memberitahuku jika Oppa sakit selama tiga hari?” Yoojin meraba kening Chanyeol wajahnya sangat khawatir

“Dari mana kau tahu jika aku sakit?”

“Tentu saja dari sepupumu.”

“Sehun?”

“Iya siapa lagi, apa Oppa lupa jika Sehun sahabatku sejak kecil?”

Chanyeol mengangguk sekilas, melupakan satu fakta tentang Sehun yang pasti tidak menjaga mulutnya dan mengatakan semua hal pada Yoojin, sabahat kecilnya. Hanya kegilaan brengsek mereka saja yang Sehun tutup rapat dari Yoojin, tapi sayangnya Yoojin cukup pintar untuk mengetahui semuanya dan itu juga yang membuat Chanyeol khawatir, karena bisa dipastikan Yoojin pasti akan tahu tentang Jiyeon cepat atau lambat. Chanyeol melirik Jinhwan yang berdiri tak jauh dari tempatnya, memberi perintah tanpa suara pada laki-laki itu untuk mengamankan Jiyeon dan memastikan gadis itu tidak keluar dari kamar selama Yoojin ada di rumahnya. Jinhwan pun mengangguk mengerti lalu berjalan melewati Chanyeol dan Yoojin, berjalan cepat memasuki rumah besar Chanyeol dan menghilang di balik pintu.

Chanyeol tersenyum lalu mengecup hangat kening Yoojin, merangkul bahu gadis itu dan membawanya masuk ke dalam rumahnya. Mereka berjalan hingga berada di beranda belakang, tepat di depan kolam renang besar yang di desain elegant dengan meja kaca bulat di tengahnya. Tempat favorit yang biasa Chanyeol gunakan untuk berpesta bersama Sehun dan teman-temannya yang lain. Chanyeol duduk di sofa putih, Yoojin di sampingnya, gadis cantik itu menatap lekat wajah Chanyeol yang terlihat jauh lebih pucat dari biasanya, merasa kembali khawatir dengan keadaan dari tunagannya itu.

Oppa kau yakin baik-baik saja, wajahmu sangat pucat.”

Yoojin membelai wajah Chanyeol lembut, mencurahkan semua kekhawatiran yang membalut hatinya. Ini untuk pertama kalinya Chanyeol tidak memberitahukan keadaannya, ini pertama kalinya Yoojin tidak tahu Chanyeol dirawat di rumah sakit. Chanyeol tersenyum seraya mengerakkan tangannya, mengenggam jemari Yoojin yang masih berada di pipinya dan membawanya dalam pangkuan.

“Aku baik-baik saja! Mungkin karena aku terlalu lama di rumah sakit, jadi membuat warna wajahku seputih tembok rumah sakit itu,”

Chanyeol terkekeh, dia berusaha mengusir rasa khawatir dari gadis yang dicintainya. Hingga menyamarkan rasa khawatir Chanyeol yang sebenarnya, rasa yang terasa membelengu dan terasa mencengkram lisannya, hingga tak mampu mengutarakan hal yang ingin sekali Chanyeol jabarkan pada Yoojin. Chanyeol ingin sekali memberitahu Yoojin tentang Jiyeon, ingin sekali menjelaskan ketidaksengajaan malam itu pada Yoojin. Namun Chanyeol terlalu takut, terlalu hilang nyali dengan akibat yang bahkan tidak berani dia bayangkan sedikit pun.

Oppa—-“

Yoojin mengibaskan tangannya di depan wajah Chanyeol yang terlihat melamun, membuat laki-laki itu tergagap dan sertamerta tersenyum kaku.

“Sepertinya Oppa harus beristirahat,” Yoojin menarik Chanyeol untuk beranjak.

“Aku baik-baik saja.”

“Berhenti membantah dan membuatku semakin khawatir,”

“Kau mengkhawatirkanku?”

Yoojin menghembuskan napasnya, menghadapkan tubuhnya ke arah Chanyeol. “Tentu saja aku mengkhawatirkanmu, Chanyeol Oppa. Jadi berjanjilah setelah ini Oppa tidak sakit lagi, setelah ini memberitahu apapun yang terjadi padaku. Aku tidak mau Sehun yang memberitahuku lagi.”

Chanyeol menarik Yoojin ke dalam pelukannya, dia semakin merasa bersalah pada gadisnya itu. Bagaimana bisa dia selalu menyakiti hati gadis sebaik Yang Yoojin, gadis yang bahkan selalu memaafkan dan bertahan di sisinya, sebanyak apapun Chanyeol sudah melakukan kesalahan. Gadis yang sejujurnya sudah di kenal Chanyeol sejak kecil dari Sehun, namun kala itu Chanyeol tidak begitu ingat dan tidak peduli akan hal itu. Lee Seokbin yang memperkenalkan Yoojin secara khusus pada Chanyeol, sejak satu lalu Seokbin mengikat mereka dalam sebuah hubungan yang lebih serius. Yoojin pintar, penyabar dan punya hobi tertawa, putri tunggal dari seorang pengusaha roti, gadis dengan semua ketulusannya yang tanpa sadar sudah membuat Park Chanyeol jatuh hati.

“Aku mencintaimu, Yoojin. Aku sangat mencintaimu!” Yoojin mengerakkan tangannya, balas memeluk Chanyeol erat dan tidak pernah tahu tentang hal gundah yang tengah di rasakan Chanyeol saat ini.

“Aku juga mencintaimu, Oppa.”

~000~

Jinhwan mengetuk pintu kamar Jiyeon, membungkukkan kepalanya sekilas saat Yixing menyambutnya di ambang pintu, pria itu menatap kedatangan Jinhwan dengan pandangan memicing, mengikuti arah pandang Jinhwan saat laki-laki itu menelitik keadaan kamar dari balik bahu Yixing yang bidang.

“Apa apa, Im Jinhwan?”

Jinhwan tidak menjawab, laki-laki itu mendorong tubuh Yixing ke samping, lalu berjalan memasuki ruangan yang menjadi tempat Jiyeon di rawat selama gadis itu ada di rumah Chanyeol. Ruangan besar bercat putih bersih, berornamen minimalis namun tetap tidak meninggalkan kesan elegant di tiap sudutnya. Tempat tidur super besar di bagian tengah, berkelambu sewarna hijau lumut, guci seharga ratusan juta US$ dari dinasti Joseon berjejer rapi di samping pintu dari ukuran besar hingga kecil. Kamar itu juga dilengkapi walk in closet super lengkap dan mewah di sebelah kanan, ruang kaca di sebelah kiri yang biasa diguakan Jiyeon dan Jihye untuk melakukan yoga dan meditasi, bersebalahan dengan beranda di mana di bawahnya terdapat kolam renang. Bergeser sedikit ke samping kanan terdapat taman bunga yang sangat indah, ratusan bunga-bunga cantik dari beberapa negara di tata sedemikan rupa, dilengakapi lampu berteknologi LED. Taman yang menjadi tempat favorit Jiyeon dan Jihye untuk bersantai akhir-akhir ini setelah merasa bosan selalu berada di dalam kamar.

“Dokter Kang!”

“Mereka sedang melakukan meditasi.”

Jinhwan menoleh ke arah Yixing, pria itu sudah berdiri di samping tubuhnya. Jinhwan menatap Yixing dengan aura dingin yang kaku seperti biasa, tatapan tanpa celah untuk bisa dibantah, Yixing pada akhirnya mengangguk mengerti seraya beringsut menjauh dari Jinhwan. Jinhwan berjalan tenang hingga berdiri di ambang pintu ruang kaca, menatap Jiyeon dan Jihye tengah berbincang hangat disana. Terkadang mereka berdua tertawa dengan tangan bertaut, iris abu-abu Jinhwan menyisir ekspresi Jiyeon tanpa terlewatkan sedikit pun, memperhatikan wajah Jiyeon yang terlihat jauh lebih baik dari pertama kali Jinhwan lihat beberapa minggu yang lalu.

“Dokter Kang Jihye.”

Jihye dan Jiyeon menoleh secara bersamaan dengan ekspresi yang terlihat berbeda, Jihye terkejut seraya bangkit berdiri, sedangkan Jiyeon terlihat biasa saja. Gdis itu hanya menatap Jinhwan dan berpikir jika sepertinya dia pernah bertemu laki-laki berwajah kaku itu sebelumnya, namun Jiyeon tidak begitu ingat.

“Im Jinhwan?”

“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Dokter Kang.”

Kini Jinhwan sudah duduk tenang di bangku beranda, membiarkan anak rambutnya bergerak tak beraturan saat sapuan angin pagi memainkan helainya hingga tatanannya sedikit berantakan. Wajah kaku Jinhwan terlihat tak begitu peduli dengan air muka penasaran Jihye yang duduk berseberangan dengannya, tetap tenang hingga beberapa puluh detik berlalu di antara mereka.

“Ada apa?”

“Gadis itu sudah lebih baik?”

“Iya bahkan sangat baik.”

“Apa kau sudah memeriksa keadaan gadis itu?”

“Aku sedang memeriksa ulang, sebelum memastikan keadaan akhir dari kejiwaan Jiyeon.”

Jinhwan memutar pandangannya, menatap Jihye, pandangan lurus menusuk. “Kau juga harus memastikan, jika tidak ada janin yang hidup di rahimnya.”

Seketika Jihye mengangguk, tak ada raut terkejut di wajahnya. “Itu juga yang aku harapkan, jadi masalah ini cepat selesai. Karena jika Jiyeon hamil—- maka masalah ini akan semakin rumit.”

Jinhwan terdiam sesaat, terlihat berpikir seraya mengangguk setuju, laki-laki tinggi itu pun beranjak, berjalan dalam kesenyapan meninggalkan Jihye yang terlihat sedikit gusar di belakang sana. Gusar saat membayangkan jika Song Jiyeon, benar-benar mengandung anak dari Park Chanyeol.

~000~

Chanyeol mengerjab dan terbangun dari tidurnya, saat mimpi buruk tentang Jiyeon datang dan menghantui tidurnya. Dia meraba kepalanya yang terasa berat dan berputar, napas Chanyeol tersengal, peluh samar terlihat di bagian kening dan wajahnya, dia terlalu terkejut dengan mimpi buruk di mana Jiyeon menancapkan belati tajam tepat ke jantungnya. Chanyeol melirik tempat kosong di sebelahnya, tempat dimana beberapa jam lalu Yoojin ikut berbaring di sana. Mememaninya beristirahat, memeluk lengannya, menceritakan hal-hal lucu yang terjadi di hari-harinya selama di Paris, hingga Chanyeol tertawa dan akhirnya tertidur lelap. Tangan pucat Chanyeol meraih segelas di atas nakas lalu meminumnya hingga tandas, meraih ponselnya yang tergeletak di sana. Membaca pesan singkat dari Yang Yoojin yang meminta maaf, karena sudah meninggalkannya sendirian saat laki-laki itu tertidur.

Chanyeol tersenyum lalu membalas pesan singkat itu, perlahan Chanyeol mengerakkan kakinya, menyentuhkan ujung kakinya ke lantai kamar yang terasa sangat dingin. Turun dari ranjang, lalu keluar dari kamar tidurnya untuk mencari udara segar. Chanyeol terlihat tertawa saat Yoojin kembali membalas pesannya, dia berjalan menunduk ke arah anak tangga, melewati kamar tidur Jiyeon yang pintunya terlihat terbuka. Tanpa Chanyeol sadari dari arah pintu ada sosok Jiyeon yang hendak keluar kamar bersama Jihye, mereka berniat berjalan-jalan di taman bunga seperti hari-hari biasanya. Mata bening Jiyeon membulat seketika, menatap terkejut akan sosok Chanyeol yang berdiri menunduk tepat di hadapannya. Jiyeon terpaku di ambang pintu, tak menyangka jika Chanyeol ada di hadapannya, tak menduga dia akan melihat sosok brengsek itu secepat ini. Jiyeon pucat, napasnya terasa terhenti, degupan jantungnya memacu cepat, dia gemetar, menahan semua rasa takut yang mengikat tubuhnya ketika Chanyeol menolehkan wajahnya.

“Ji— Jiyeon…,“

Chanyeol menahan kata-katanya di udara, merasa lidahnya kelu dalam sekejap kala menatap wajah ketakutan Jiyeon saat ini. Chanyeol memundurkan langkahnya perlahan, tak menyangka jika dia sudah berdiri di tempat yang salah hingga membuatnya kembali bertatap muka dengan Jiyeon. Chanyeol kembali memundurkan tubuhnya, laki-laki itu melirik sosok Kang Jihye dari balik bahu Jiyeon yg terlihat gemetar. Jihye mengangguk pelan, memberi isyarat pada Chanyeol untuk tetap berdiri di sana. Chanyeol terlihat binggung, dia merasa takut jika keadaan Jiyeon kembali memburuk karena kehadirannya di depan gadis  itu. Namun pada akhirnya Chanyeol hanya mampu mematuhi apa yang Jihye perintahkan sekali lagi padanya, dia tahu pasti jika dokter psikater itu tahu apa yg dilakukannya saat ini. Chanyeol menarik napas panjang, mencari kata-kata yang pantas untuk memulai percakapan dengan Jiyeon yang terasa begitu sulit, memberanikan diri untuk kembali maju satu langkah hingga membuat Jiyeon mundur tanpa perintah.

“Jiyeon aku— aku minta maaf,”

Suara Chanyeol mulai menguar, membuat Jiyeon kembali mundur satu langkah, dia menolehkan wajahnya dan mendapati dokter Kang berdiri di belakangnya. Gadis itu semakin panik, meminta bantuan pada Jihye yang bergeming di tempatnya berpijak.

“Dokter Kang!”

Jiyeon kembali mundur satu langkah, tak menyadari jika Jihye kembali memerintahkan Chanyeol untuk melangkah maju. Jiyeon semakin ketakutan, gadis itu kembali memanggil Jihye, mencengkram ujung dress kuning yang dikenakannya dengan begitu erat hingga buku tangannya memutih.

“Dokter Kang!”

“Ada apa Jiyeon?” Kang Jihye menyentuh bahu gemetar Jiyeon, tersenyum hangat saat Jiyeon menatapnya kalut.

“Ada apa?” Jiyeon memutar tubuhnya, mencengkram lengan Jihye kuat, wajahnya pucat pasi, pupilnya bergerak gelisah, cairan bening samar terbentuk di kedua mata beningnya.

“Dia—-“

“Iya dia, Park Chanyeol.” Jihye melirik Chanyeol sekilas. “Dia laki laki yang kau benci, benar sekali Jiyeon. Dia ada di hadapanmu, lakukan apa yang kau mau lakukan padanya selama ini. Lakukan apapun Jiyeon, agar dia tahu jika kau sangat membencinya, agar dia tahu jika kau tidak pernah takut padanya, agar dia tahu jika kau bukan gadis lemah dan agar di tahu— jika dia tidak akan pernah bisa menyakitimu lagi.”

Napas Jiyeon memburu, rasa kalut kian mengikat tubuhnya, peluh ketakutan membasahi keningnya. Jiyeon membalikkan tubuhnya, kembali berdiri menghadap Chanyeol yang terdiam memaku di tempatnya berdiri. Jiyeon menatap benci sosok Chanyeol di depannya, rahangnya mengeras, kepalan tangannya mulai terbentuk, kakinya tanpa sadar kini telah melangkah maju.

“Iya aku sangat membencimu, aku ingin sekali membunuhmu!”

“Maafkan aku,”

Napas Jiyeon semakin memburu, dadanya turun naik menahan amarah dan rasa takut dalam waktu yang bersamaan, Chanyeol menatapnya dengan ribuan penyesalan yang jelas terpancar dari kedua matanya yang sayu. Namun Jiyeon tidak peduli, gadis itu kembali melangkah maju, mengayunkan tangannya di udara dan mendarat tepat di wajah Chanyeol yang pucat.

 

PLAK!!!—

 

Jiyeon menampar wajah chanyeol sangat keras, gadis itu bahkan merasa tangannya panas dan perih. Dia meneteskan air mata pesakitan yang selama beberapa minggu ini terus saja menghantuinya, membelengu jiwa, hingga Jiyeon sempat berpikir untuk mengakhiri hidupnya.

“Aku membencimu!”

“Maafkan aku,”

“AKU BENCI PADAMU, LAKI-LAKI BRENGSEK!!!”

Jiyeon mengerakkan tangannya meraih bahu Chanyeol dan menguncangnya, melayangkan pukulan sekuat tenaga yang dia punya ke arah wajah dan tubuh Chanyeol. Chanyeol yang merasa kepalanya masih terasa berat, terlihat sedikit terhuyung saat Jiyeon terus memukulinya. Bahkan kini gadis itu sudah meraih guci setinggi lututnya yang berjejer di dekat pintu, lalu menghempaskannya ke tubuh Chanyeol.

 

BUKK!!!—

 

PRAAANG!!!—

 

Seketika tubuh Chanyeol tersungkur di lantai kamar yang dingin, merasa jika lengannya kini terasa perih. Chanyeol menatap Jiyeon yang menatapnya marah, napas gadis itu terlihat semakin naik turun, menahan semua rasa benci pada sosok Chanyeol yang terseok di lantai. Chanyeol berusaha untuk bangkit berdiri, menatap Jiyeon seraya kembali meminta maaf pada gadis itu.

“Maafkan aku Jiyeon, aku benar-benar minta maaf,”

“TIDAK! AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKAN MU, BRENGSEK!”

“Maafkan aku—“

AARRGGHHH!!!”

Setetes air mata mengalir dari mata Chanyeol yang sayu, membasahi wajahnya yang kian memucat. Chanyeol terus melafalkan kata maaf dengan segenap jiwanya, membiarkan Jiyeon kembali memukulinya dan menendang tubuhnya, merasa jika dirinya pantas untuk mendapatkan semua itu. Namun sesaat kemudian Chanyeol merasa dunianya berputar hebat, saat pukulan Jiyeon menghantam kepalannya dan seketika itu juga, tubuh Chanyeol kembali terhempas ke lantai dan kali ini nyaris tak lagi bergerak.

Jiyeon menghentikan gerakan tangannya, menatap ke arah kepala Chanyeol saat topi rajut yang membalutnya terlepas, menatap bagian kepala Chanyeol yang terdapat perban putih. Jiyeon beku, menyadari jika Chanyeol mulai terlihat sangat kesakitan, wajah pria itu pucat pasi. Jiyeon pun semakin tak bergerak saat menyadari jika darah segar sudah merembes keluar dari balik kemeja putih yang Chanyeol kenakan, di lengan sebelah kanan. Jiyeon merasa kakinya lemas, hingga membuatnya terduduk di lantai. Chanyeol pada akhirnya menutup matanya sesaat setelah mengucapkan kata-kata yang kali ini mampu membuat Jiyeon memaku di tempatnya, kata-kata yang kali ini mampu mengetarkan perasaannya.

“Maaf aku Jiyeon— aku benar-benar sangat menyesal karena telah menyakitimu.”

“Dokter Kang!”

Seketika Jihye memeluk tubuh Jiyeon yang gemetar, Jihye pun berteriak memanggil Yixing dan Jinhwan hingga kedua laki-laki itu menghambur ke dalam kamar. Yixing terkejut, matanya membulat, sedangkan Jinhwan langsung menghampiri sosok Chanyeol yang terkapar.

“Chanyeol.”

Jinhwan menepuk pelan pipi Chanyeol yang sudah tak sadarkan diri, laki-laki itu memalingkan wajahnya menatap tajam ke arah Jiyeon yang menangis di dalam pelukan Jihye. Dengan kasar Jinhwan melepaskan rangkulan Jihye di bahu Jiyeon, mendorong tubuh Jiyeon hingga terhuyung ke belakang.

“Im Jinhwan!” Jihye berseru namun Jinhwan bergeming.

“Dengar! Jika hal buruk kembali menimpa Chanyeol, maka aku tidak akan pernah mengampunimu. Aku tahu dia telah melakukan kesalahan besar padamu, tapi bukan berarti kau berhak menghukumnya seberat ini, Song Jiyeon.”

Dalam satu gerakan Jinhwan sudah meletakkan Chanyeol di atas punggungnya, memerintahkan Yixing segera memanggil tim dokter untuk merawat luka-luka Chanyeol.

Tubuh Jiyeon masih bergetar hebat, Jihye membawnya duduk di atas ranjang. Dia memeluk kedua kakinya yang tertekuk, air mata kian tak terbendung, Jiyeon terlihat sangat takut jika kali ini dia benar-benar telah membunuh Chanyeol.

“Dokter apa yang sudah aku lakukan padanya,”

“Bukankah dia pantas mendapatkannya?” Jiyeon menggeleng pelan. “Lalu—- kau mau memaafkan laki-laki itu?”

Jiyeon kembali menggeleng lemah. “Aku tidak akan bisa memaafkannya tapi—- laki-laki itu benar, aku tidak sepantasnya menghukum dia seberat ini. Bagaimana jika kali ini dia benar-benar mati, aku—- aku bukan pembunuh Dokter, aku bukan pembunuh.”

“Lalu apa kau ingin memenjarakan Chanyeol?”

“Tidak! Dia sudah mendapatkan hukuman yang lebih berat dari penjara Dokter, aku hanya ingin pulang—- aku hanya ingin semua mimpi buruk ini cepat berakhir.”

Jihye menarik bahu Jiyeon dan memeluknya erat, menyakinkan jika Chanyeol baik-baik saja, dia menyakinkan Jiyeon jika setelah ini semuanya akan jauh lebih baik. Dan setelah ini Jihye sangat yakin jika Jiyeon, tidak akan melakukan hal anarkis lagi jika kembali bertemu dengan Park Chanyeol.

~000~

Jinhwan keluar dari kamar Chanyeol masih dengan wajah kalutnya, Chanyeol mendapat dua jahitan di bagian lengan dan masih tertidur karena efek obat bius di tubuhnya. Beruntung kepala Chanyeol baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena pukulan Jiyeon tidak mencederai kepala Chanyeol.

“Apa yang sebenarnya kau lakukan Dokter Kang, bagaimana bisa kau hanya diam saja saat gadis itu menganiaya Chanyeol.”

Amarah Jinhwan pecah saat menatap Jihye yang baru saja keluar dari dalam kamar Jiyeon, wanita itu hanya tersenyum tenang hingga membuat Jinhwan mengerutkan dahinya.

“Aku hanya melakukan terapiku, Jinhwan, aku juga sudah memperkirakan jika Jiyeon tidak akan membunuh Chanyeol. Aku hanya ingin membuat gadis itu yakin jika Chanyeol tidak akan menyakitinya lagi, menyakinkan gadis itu jika dia bisa menghadapi ketakutan terbesarnya, yaitu Park Chanyeol.”

“Dengan membiarkan Chanyeol hampir sekarat?”

“Dia pantas untuk mendapatkannya, kau tidak lupa dengan apa yang sudah Chanyeol lakukan pada gadis itu ‘kan?”

“Aku tahu.”

Jinhwan mengusap wajah frustasinya seraya berbalik, namun langkah laki-laki itu terhenti saat suara Jihye kembali terdengar. Wanita itu menyampaikan sebuah fakta yang menegangangkan wajah Jinhwan seketika, dia berbalik dan menatap sebuah alat yang ada di tangan Jihye. Alat pendeteksi kehamilan dengan simbul plus di bagian tengah alat.

“Jiyeon—- gadis itu positif hamil.”

~ TBC ~

Hi… Makasih ya buat semua yang udah mau baca, Enjoy Manusia KECE

 

25 thoughts on “The Night Mistake (Chapter 4)

  1. jiyeon mukilin chanyeol brutal sampai guci melayang… whatttt?? jiyeon hamil gimana kalo ibunya chanyeol tau trus yojin tunangannya… trus apa bener chanyeol ga sadar nglakuin itu krna mabuk??? next chap…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s