The One Person Is You (Chapter 3)

cover

The One Person Is You

Tittle : The One Person Is You (Chapter 3)

Author : Dancinglee_710117

Main Cast :
o Park Chanyeol (EXO)
o Lee Hyojin (OC)
o Kang Rae Mi (OC)

Other Cast :
o Jung Yong Hwa (C.N.BLUE)
o Bang Yongguk (B.A.P)
o Choi Jun Hong / Zelo (B.A.P)
o Kim Himchan (B.A.P)
o Oh Sehun (EXO)
o Kim Jong In / Kai (EXO)
o Park Yura (Chanyeol sister)
o Kim Hyoyeon (SNSD)
o And other you can find in the story

Genre : Romance, Friendship, Comedy (a little bit), and other

Rating : T

Length : Chapter

~Happy Reading~

“Yong Hwa!”

Pria yang namanya di panggil itu menoleh, lantas berbalik mencari tahu siapa orang yang memanggilnya. Dia kemudian tersenyum pada seorang gadis manis yang kini tengah berlari kecil menuju kearahnya.

“Ada apa?”

“Kudengar kau mau pindah ke Yonsei? Benarkah?”

Yong Hwa memasukan buku yang tadi dia bawa kedalam tas sebelum menjawab pertanyaan gadis itu.

“Ya, kenapa?”

Tiba-tiba gadis itu menjadi gugup dan salah tingkah di hadapan Yong Hwa. Dia kemudian merogoh isi tas selempangnya, mengeluarkan bungkusan kado berpita merah muda. Gadis itu memberikan kado tersebut pada Yong Hwa sambil memalingkan muka. Tapi Yong Hwa dapat melihat rona merah yang jelas pada kedua pipi gadis itu. Yong Hwa tersenyum.

“Apa ini? semacam kado perpisahan?” Tanyanya meraih kado itu.

“A-ang-anggap saja begitu!” Gadis itu merutuki kegugupannya sendiri.

“Terima kasih!. Kau baik sekali, cantik lagi!”

Gadis itu mendongakkan kepalanya yang tadi tertunduk. Dia tatap wajah Yong Hwa tanpa berkedip. Dan dengan sebuah kedipan mata, gadis itu merasa akan pingsan saat itu juga. Dia pun memutuskan segera pergi sebelum pesona Yong Hwa mampu memabukannya lagi.

“Hahahaha… mudah sekali di tipu!” Ujar Yong Hwa ketika gadis itu sudah tak terlihat. Dia membolak-balik kado itu lantas membukanya. Sebuah kalung dengan bandul berinisial ‘JJ’ merupakan isi dari kado tersebut. Yong Hwa tersenyum remeh.

“JJ? Kau pikir dengan menyatukan namaku dan kau -Jin Ah- bisa membuat aku menyukaimu?. Ckckck!”

Ada seorang mahasiswa yang berjalan di dekatnya. Yong Hwa tidak mengenal laki-laki itu tapi dia langsung menariknya begitu saja. Mahasiswa itu bingung tapi Yong Hwa segera memberikan kalung tadi padanya.

“Untukmu, dari Dam Jin Ah!” Kata Yong Hwa sebelum akhirnya pergi.

*Hyojin POV*

Sial! Sial! Sial!.

Kenapa pria bernama Park Chanyeol yang sudah membuatku bad mood itu yang menjadi calonku?. Kenapa dia?. Dasar Lee Dae Ryeong bodoh! Tidak bisa apa mencari laki-laki yang lebih tampan dan normal?. Malah memilih pria tinggi dengan telinga lebar itu!. ARGGHHH AKU BISA GILA!!!.

“Hyo! Kau ini kenapa?” Suara Jong In membuyarkan lamunanku.

Sehun ikut menimpali, “Mungkin dia terlalu kaget karena masuk ke universitas Yonsei!”

Akh! Kejadian ketika di sekolah terulang lagi!. Bagaimana bisa aku masuk ke universitas itu?, mendaftar saja tidak pernah!.

“Atau mungkin… karena bertemu pria yang membawa mobil porsce itu?”

Aku mendelik pada Jong In. Kenapa dia malah membahas soal itu lagi?. Kalau mengingat kejadian sepulang dari melihat pengumuman kemarin membuatku muak!.

Flashback

Aku -sambil melongo tidak percaya- berjalan mendahului Jong In dan Sehun yang masih heran terhadapku. Bagaimana tidak heran?. Siswa yang nilainya tidak terlalu menonjol sepertiku bisa masuk ke salah satu kampus terkenal di Korea!, apalagi aku tidak pernah mendaftarkan diriku untuk masuk kesana!. Lantas, bagaimana bisa?.

Karena terus melamun aku tidak melihat ada mobil mewah di depanku. Aku menabraknya -ya, bukan mobil itu yang menabrak karena mesin mobil mati- kemudian yang punya mobil keluar dengan tergesa. Mati aku! Kalau dia marah karena mobilnya lecet bagaimana? Kan kalau orang kaya biasanya begitu.

“Kau Lee Hyojin?” Ujar pria si pemilik mobil idamanku. Aku mengangguk pelan, bagaimana dia bisa tahu namaku?.

“Ck! Dia ini perempuan atau bukan sih?”

Samar-samar tapi jelas sekali aku bisa mendengar sindiran itu walau pria ini bicara dengan pelan. Aku menatapnya malas sambil bersedekap. Dia bukan orang pertama yang mengatakan hal seperti tadi, jadi aku sabar saja.

“Ada apa memangnya? Dan bagaimana kau bisa tahu namaku?”

Pria di depanku ini diam sebentar, lalu tersenyum lebar sekali sampai aku bisa melihat gusi-nya. Ck, dia manusia kan? Bukan alien atau semacamnya?.

“Tak apa.” Ujarnya kemudian berjalan menuju pintu mobil. Sebelum masuk dia bilang, “Semoga kita tidak bertemu lagi!. Sampai jumpa gadis jadi-jadian!”

Huh?!.

“YAK KAU PIKIR KAU SIAPA BERANI BILANG BEGI-”

Dan whus! Mobil melaju bersama pria menyebalkan itu di dalamnya.

Flashback off

Terang saja seorang Lee Hyojin marah!. Belum lagi setelah itu aku dibawa paksa oleh antek-antek Lee Dae Ryeong, si kakek tua sialan itu! -beruntung Jong In dan Sehun tidak tahu kepergianku yang mendadak-. Pakai ada acara perjodohan-perjodohan apalah itu! Menggunakanku sebagai alat bisnisnya!. Tapi tak apa, demi aku bisa bertemu dengan ayah, ibu dan adikku lagi.

Ketika Sehun dan Jong In pergi ke dapur, aku diam-diam membuka surat perjanjian antara diriku dan Lee Dae Ryeong.

Lee Hyojin akan menerima perjodohan, menikah dengan Park Chanyeol hingga melahirkan seorang anak baru bisa bertemu dengan keluarganya.

Itulah salah satu isi dari perjanjian kami. Aku mengacak rambut kasar, bodohnya aku bisa menyetujui perjanjian bodoh ini!. Mana bisa aku menikah hingga melahirkan seorang anak?. Akan lebih lama aku bisa bertemu keluargaku!. Kakek itu benar-benar menjebakku!.

Aku berguling diatas lantai yang lumayan dingin ini. Jong In dan Sehun datang membawa masing-masing satu gelas teh hangat dan jajjangmyun yang masih panas. Aku menatap mereka yang makan dalam diam. Tunggu dulu! Mana punyaku?.

“Hanya ini?. Kalian tidak membuatkanku?”

Mereka hanya melirikku sekilas dan kembali makan. Kurang ajar! Teman macam apa ini?! Aku merasa di khianati!.

“Baiklah kalau begitu, kurasa sampai disini saja hubungan kita. Goodbye!” Kataku mendramatisir, kemudian keluar rumah. Kali ini aku sudah ingat untuk memakai jaket tebal.

*Author POV*

Rae Mi kembali melihat jam dinding, sudah sekitar lima belas menit dia menunggu tapi Chanyeol tak kunjung datang. Gadis itu sudah bersiap untuk mendaftar ke universitas yang Chanyeol bilang kemarin. Dan, yah pastinya dia akan mencari jurusan kecantikan seperti yang dia cita-citakan. Padahal bibi Moon dan Jong Up sudah bilang kalau di Yeonsei tidak ada jurusan semacam itu, tapi dia bersikeras untuk mencari.

‘Kring’

“Maaf aku terlambat!” Chanyeol datang dengan nafas terengah.

“Kau tidak membawa mobil?” Tanya Jong Up yang menyadari kalau Chanyeol datang dengan berjalan kaki. Mungkin juga berlari karena nafasnya tidak teratur seperti itu.

Chanyeol hanya terkekeh kemudian menarik tangan Rae Mi lembut. “Ayo! Kita bisa terlambat!” Ujarnya yang kemudian berlari kecil bersama Rae Mi -setelah pamit pada bibi Moon dan Jong Up- yang masih bingung harus bagaimana.

Ketika sampai di halte bis, Chanyeol masih belum melepaskan genggaman tangannya. Rae Mi terus melihat kearah tangannya yang bertautan dengan tangan Chanyeol. Pipinya bersemu merah, belum pernah dia merasakan bergandengan tangan seperti ini dengan orang lain selain ibunya, apalagi seorang pria.

Beberapa orang yang juga menunggu bis datang terus membicarakan Chanyeol dan Rae Mi. Pasalnya dua orang itu sangat kontras bila dibandingkan. Chanyeol yang nampak rupawan dan modern bergandengan tangan dengan seorang gadis dimana penampilannya sangat kuno. Gadis-gadis mulai berbisik iri pada Rae Mi, mereka bahkan menuduh gadis itu menggunakan ilmu hitam atau hal-hal semacamnya.

Chanyeol mendengar itu semua, tapi dia tak peduli. Dia sibuk menenangkan detak jantungnya. Sedangkan Rae Mi menunduk, antara malu dengan skinship juga takut dengan tatapan mengintimidasi dari setiap orang. Matanya memanas, hampir saja dia menangis jika Chanyeol tidak memasangkan sebelah earphone ke telinga Rae Mi. Gadis itu menatap Chanyeol dengan mata bulatnya, bingung. Tapi Chanyeol hanya tersenyum saja kemudian bis datang.

Chanyeol terus menggandeng Rae Mi memasuki bis hingga mereka mendapat tempat duduk. Lagu yang mereka dengar berganti menjadi lagu lain.

seulpeo hajima No No No
(jangan bersedih No No No)

honjaga anya No No No
(kau tidak sendirian No No No)

eonjena na na naege
hangsang bichi dwae jun geudae
(kau selalu jadi penerangku)

Chanyeol dan Rae Mi saling berpandangan. Chanyeol melepas genggaman tangannya sambil berdehem lalu mengalihkan pandangan dari Rae Mi. Rae Mi sendiri tersenyum melihat salah tingkahnya Chanyeol.

“Kau suka lagu seperti ini rupanya!. Lucu sekali.”

Chanyeol tak membalas, Rae Mi lanjut mendengarkan lagu tersebut sambil melihat pemandangan melalui jendela bis.

“Lagu ini untukmu.”

Rae Mi menoleh. Tadi Chanyeol yang berbicara dengan suara pelan. Pria itu tidak menatap kearahnya, tapi memandang lurus kedepan.

“Kau tidak usah bersedih mendengar kata orang lain. Aku ada untuk menjadi penerangmu.”

‘DEG’

Apa itu barusan sebuah pengakuan?. Rae Mi tidak begitu mengerti, begitu juga dengan Chanyeol. Pria itu sendiri bingung kenapa dia bisa mengatakan hal tersebut pada Rae Mi, gadis Ulsan yang baru saja dia kenal. Kata-kata itu terlontar dengan sendirinya ketika melihat wajah sedih Rae Mi saat dikatai yang macam-macam oleh orang lain. Ada perasaan antara tak tega dan… kesal. Dia kesal pada orang-orang yang seenaknya menghina Rae Mi. Dia ingin melindungi gadis itu.

Rae Mi sendiri tidak bisa berkata apa-apa. Pipinya kembali bersemu merah. Secepat kilat gadis itu menutupinya dari Chanyeol, jantungnya sendiri tak bisa di kendalikan. Degubnya begitu cepat, tapi dia tidak tahu kenapa.

***

Hyojin menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang masuk Yonsei University. Tadi dia menerima pesan dari kakeknya kalau Hyojin harus datang ke kampus itu untuk menyerahkan data diri. Sekarang gadis itu tahu siapa yang bertanggung jawab atas terdaftarnya dia di universitas ternama Korea itu.

“Hyojin-ssi!”

Hyojin yang hampir melangkahkan kaki untuk memasuki gedung terhenti begitu suara seorang gadis meneriakan namanya. Ternyata Rae Mi. Gadis itu berlari kecil sambil menyingsingkan rok panjangnya menuju Hyojin. Hyojin balas tersenyum lalu sadar kalau ada orang lain yang datang bersama Rae Mi.

“Oh, Rae Mi-ssi!. Kau datang bersama sia- PARK CHANYEOL?!” Gadis itu menjerit keras saking terkejutnya. Bahkan beberapa orang kini melihat kearah Hyojin.

Rae Mi berhenti mendekat dan melongo. Matanya berkedip cepat karena bingung dengan kelakuan Hyojin. Begitu pula dengan Chanyeol yang menutupi wajahnya dengan masker dan kacamata hitam karena malu, apalagi Hyojin tadi meneriakan namanya dengan keras.

“Loh? Jadi Hyojin sudah mengenal Chanyeol?” Tanya Rae Mi yang kini sudah berada di hadapan Hyojin. Sementara gadis itu sendiri masih melongo tak percaya bisa bertemu dengan Chanyeol lagi.

“I-iya itu k-karena…”

Chanyeol menginterupsi, “Sudah, lebih baik kita masuk dulu Rae Mi. Sebelum pendaftarannya ditutup.” Pria itu kembali menggandeng tangan Rae Mi. menuntunnya masuk ke gedung Yonsei. Hyojin menatap Chanyeol kesal, tapi ikut masuk juga.

***

“Nona Lee Hyojin, anda bisa mulai masuk dua minggu lagi. Bersamaan dengan mahasiswa baru lainnya.”

“A-apa aku tidak ikut melakukan tes?”

“Tidak perlu. Anda sudah dinyatakan lulus.”

Hyojin makin melongo. Antara terkejut dan tidak mengerti.

“B-b-b-bagaimana bisa?”

“Kami sudah mendapat hasil tes anda lebih cepat dari yang lain, dan hasilnya lulus. Maka dari itu anda tidak perlu ikut tes lagi.”

Pria yang sedari tadi bicara dengan Hyojin itu tersenyum, tapi Hyojin tak bisa membalasnya. Dia sendiri masih bingung, tapi dengan cepat sadar kalau ini semua pasti pekerjaan presdir Lee. Gadis itu kemudian membungkuk dan keluar dari ruangan. Begitu sampai di salah satu koridor dia bertemu lagi dengan Chanyeol. Pria itu sedang berdiri di luar salah satu ruangan yang Hyojin yakini merupakan tempat tes masuk universitas.

Dia berjalan santai, pura-pura tidak melihat Chanyeol. Tapi entah kenapa dia malah berdehem dan itu membuat Chanyeol sadar akan keberadaannya.

“Mau apa kau?” Tanya Chanyeol sinis.

Hyojin berhenti melangkah dan memandang Chanyeol tak kalah sinis. “Apa urusannya denganmu?”

Chanyeol putuskan tidak melanjutkan perdebatan. Dia kembali fokus melihat ruangan yang kini sangat senyap karena sedang dilaksanakan ujian masuk. Pandangannya fokus pada sosok Rae Mi yang dengan tenang mengerjakan soal. Setiap gerak-gerik gadis itu Chanyeol selalu memperhatikannya. Sesekali dia tersenyum ketika Rae Mi memiringkan kepalanya karena bingung. Chanyeol menganggap gadis itu sangat imut. Hyojin yang ikut memperhatikan jadi heran dengan kelakuan aneh Chanyeol.

Apa dia sedang jatuh cinta?

Hyojin tersenyum jahil, mungkin dia punya hal yang bisa di gunakan untuk menjahili Chanyeol. Tapi dia menyadari sesuatu. Jika memang Chanyeol jatuh cinta, bagaimana nasibnya?.

T-tu-tut-tunggu dulu!. Bukan berarti aku mau menikah dengannya atau bahkan punya anak darinya! Apalagi berharap lebih! -aduh aku mikir apa sih!. Tapi kalau Chanyeol jatuh cinta, lalu memutuskan perjodohan, kami gagal menikah dan aku tidak bisa kembali bersama orangtuaku. GAWAAAT! GAWAAAAT!.

Hyojin bersitegang dengan pemikirannya sendiri. Sampai-sampai tidak tahu kalau Chanyeol kini sedang menatapnya penuh selidik.

Kenapa dia?. Wajahnya kusut sekali!. Dan lihat! Ada lingkaran hitam di matanya!. Ck dasar bukan wanita! -eh tapi kenapa aku malah memperhatikannya?. Sudahlah! Jangan-jangan dia sedang terpesona padaku hingga sedang memikirkan hal-hal berbau yadong?. Hiii seram!.

Chanyeol malah ikut memikirkan hal yang tidak penting. Tapi dia cepat sadar dan kembali melihat ruang ujian.

“Eoh! Sudah selesai?”

Celetukan Chanyeol membuat Hyojin bangun dari lamunannya. Dia bersedekap, menunggu Rae Mi keluar dan menghampiri. Ketika Rae Mi hendak keluar, seorang gadis menendang kaki gadis itu sampai dia hampir terjungkal. Chanyeol dan Hyojin melihatnya dengan jelas, sama-sama kesal juga. Yang mana gadis pelaku tertawa puas bersama teman-temannya. Rae Mi menghampiri dua orang yang dia kenal dengan senyum manis.

“Aku sudah selesai!. Eoh Hyojin! Apa kau tadi beda ruangan?. Padahal aku berharap kita bisa ujian satu ruang, sayang yah.”

Hyojin menegak ludahnya sendiri. Dia bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin secara blak-blakan bilang, “Aku tidak ikut ujian, kan aku cucu orang kaya!” Tidak!, dia tidak sesombong itu. Dan lebih tidak mungkin kalau Hyojin mencari alasan seperti, “Soal ujian habis kumakan.” Itu alasan yang tidak dimasuk akal.

“Kalau begitu ayo kita pulang!. Pengumumannya masih seminggu lagi.” Kata Chanyeol. Dia kembali menggandeng Rae Mi lembut dan gadis itu bersemu merah pipinya.

“Ck!” Hyojin menepis tangan keduanya yang bertautan, kini dia yang menggandeng Rae Mi. Chanyeol menatapnya dengan kesal, “Apa lihat-lihat?!. Ada masalah?” Pertanyaan sinis Hyojin hanya di jawab decakan kesal. Pria itu berjalan dahulu, diam-diam Hyojin tersenyum puas. Rae Mi diam saja, dia sangat tidak peka dengan keadaan.

***

“Sudah sampai!. Kau segera pulang sana! Aku mau mengantar Rae Mi pulang.”

“Aku juga mau mengantar Rae Mi pulang!”

“Memang kau siapanya Rae Mi?”

“Kau sendiri ada hubungan apa dengannya?”

“Itu bukan urusanmu!”

“Itu juga bukan urusanmu!”

Rae Mi yang sedang berada diantara pertikaian dua orang yang dia kenal itu hanya bisa diam. Tidak tahu harus melakukan apa. Kenapa juga mereka meributkan untuk siapa yang boleh mengatar dirinya?. Entahlah, jika dilihat-lihat antara Chanyeol dan Hyojin tidak akan pernah bisa damai. Ada saja hal-hal yang mereka ributkan. Rae Mi menghela nafas lelah, bingung harus bagaimana untuk menghentikan mereka.

“Kenapa kau menyebalkan sekali sih?”

“Heh! Telinga gajah!. Memang kau tidak menyebalkan?”

“APA? Kau itu yang kaki pendek!”

Hyojin mengepalkan tangan, kemudian bersiap memukul wajah Park Chanyeol. beruntung Rae Mi segera menghentikannya.

“Kita tidak boleh berkelahi seperti ini. Kita ini teman!”

Chanyeol senyum sumringah ketika Rae Mi memegang tangannya. Tapi kemudian sadar akan suatu hal.

“Kami bukan teman.” Chanyeol dan Hyojin bicara bersamaan. Keduanya lalu saling melempar tatapan tajam.

“Kumohon, jangan bertengkar lagi!. Nah, begini saja. Karena restoran bibi Moon sudah di depan sana, maka aku akan pulang sendiri. Oke?”

“Tidak bisa begitu!” Seru Chanyeol tidak terima, “Kalau kau salah menyebrang bagaimana?”

Hyojin memasang wajah dinginnya, “Dia sudah dewasa!. Mana mungkin salah menyebrang?”

“Tapi dia baru di Seoul!. Bisa saja itu terjadi.”

“Oh my God Park Chanyeol!. Are you gonna kidding me?. I think she will never do that!”

Chanyeol agak terkejut dengan ucapan bahasa Inggris Hyojin yang fasih. Tapi dia pura-pura bersikap biasa. “Jangan sok berbahasa Inggris!. Sudah Rae Mi, mari aku antar.”

Hyojin memandang malas pria bernama lengkap Park Chanyeol itu. Tapi dia membiarkan Rae Mi pergi bersamanya. Walau tidak suka, dia diam saja tanpa kembali berdebat. Dia putuskan untuk menunggu bis selanjutnya datang dan membawanya pulang ke rumah Jong In. Cukup lama ia menunggu sampai Chanyeol sudah keluar dari restoran keluarga Rae Mi. Pria itu mau tak mau harus ikut menunggu di halte karena dia berangkat tanpa mobil tadi.

“Eoh! Kau Lee Hyojin bukan?”

Panggilan seorang pria pada Hyojin membuat Chanyeol berhenti melanjutkan langkah untuk menyebrang. Dia berhenti begitu saja di tengah jalan ketika seorang pria dengan menenteng gitar berjalan mendekati Hyojin yang tubuhnya kaku.

‘TIIN TIIIIN!’

Chanyeol sadar kalau dia masih berada di tengah jalan raya. Keterkejutannya membuat pria itu tak bisa kembali melanjutkan langkah ketika sebuah mobil sedan putih melaju dengan cepat menuju dirinya. Chanyeol hanya bisa menutup mata, berharap seperti dalam drama ada seorang yang menghindarkannya dari tabrakan.

“AWAS!”

‘bruk’

Chanyeol merasakan sakit pada punggung, dan beban berat yang diatasnya. Rupanya dia telah menabrak trotoar.

Tunggu dulu! Trotoar?!.

Begitu Chanyeol membuka kedua mata dengan sempurna. Dia baru sadar kalau ada tubuh seseorang yang menimpanya. Gadis itu berdiri dengan kesal setelah hampir lima menit mereka saling bertatapan dengan jarak yang begitu dekat.

“Kalian baik-baik saja?”

“Kau ini bodoh atau apa?! Bagaimana bisa berhenti di tengah jalan seperti bocah idiot?!. Bagaimana kalau aku tidak menarikmu tadi? Kau bisa mati konyol sebelum kita menikah! -omo!”

Setelah mengabaikan pertanyaan pria dengan gitar itu, Hyojin malah mengomeli Chanyeol dengan serentetan kalimat panjang yang ujung-ujungnya dia kelepasan mengatakan soal pernikahan mereka. Hyojin buru-buru menutup mulut dengan kedua tangan. Matanya membulat kemudian menatap pria dengan gitar itu tanpa tahu maksud dari tatapan itu.

Chanyeol sendiri terkejut setelah dirinya hampir ditabrak, Hyojin yang menyelamatkannya, dan perkataan gadis itu barusan. Menikah?, bagaimana bisa Hyojin sudah membahas hal itu?. Jangan-jangan dia memang sudah menyukaiku?.

Dan soal pria dengan gitar itu, dia menatap tak percaya akan apa yang Hyojin katakan tadi. Terkejut karena adik kelasnya itu bisa membahas soal pernikahan dengan pria yang dia selamatkan. Yang dia tahu, gadis itu -Lee Hyojin- menyukainya ketika di SMA. Apa mungkin dia sudah melupakanku?.

Orang lain yang menunggu di halte mulai berbisik membicarakan Hyojin dan Chanyeol. Ada yang bilang, “Wah manis sekali gadis itu, sangat mengkawatirkan calon suaminya!.” Ada juga, “Apa benar mereka sepasang kekasih?. Bukannya tadi mereka hanya bertengkar?”

Dan kemudian dibalas, “Iya, malah tadi si pria pergi bersama gadis lain.”

“Perempuan itu tidak pantas untuk si laki-laki. Dia terlalu tampan.”

“Kau yakin dia perempuan?. Kalau rambutnya tidak panjang aku kira dia satu spesies dengan Amber F(x).”

“Kau membuatku ingin fangirling!”

Hyojin yang malu akhirnya berjalan pergi meninggalkan dua pria itu. Baik Chanyeol dan pria dengan gitar itu tidak mencoba mengejarnya. Akhirnya Chanyeol dibantu berdiri, dia berterima kasih pada pria yang memanggil Hyojin tadi. Dan yang -Chanyeol anggap- sudah membuat ia terancam bahaya karena menghentikan langkahnya di tengah jalan.

“Aku Jung Yong Hwa. Apa kau mengenal Hyojin sebelumnya?”

Chanyeol tersenyum kaku sambil menepuk bagian belakang tubuhnya yang kotor terkena debu. “Ya, ada suatu hubungan yang tidak bisa di jelaskan. Dan untuk pernikahan tadi jangan salah paham, dia hanya bercanda.”

“Kau sendiri?” Chanyeol balik bertanya.

“Aku kakak kelasnya ketika di SMA.”

“Oh.” Chanyeol melihat map yang dibawa pria bernama Yong Hwa itu. Ada logo Universitas Yonsei. “Apa kau mahasiswa Yonsei?”

Yong Hwa tersenyum, “Ya, aku baru mendaftar. Aku pindah dari Kyunghee ke Yonsei karena jaraknya lebih dekat dari rumah hehehe.”

Memang aku menanyakan itu?!. Tidak penting!.

Chanyeol bingung sendiri. Kenapa dia harus bersikap sinis pada Yong Hwa? Kenal juga baru sekarang. Tapi entahlah, sejak insiden tadi dia merasa jengkel bahkan untu melihat wajah pria itu.

“Oh. Kurasa kau bisa bertemu dengan Hyojin lagi!”

“Hah? Maksudmu?”

“Yah, gadis itu juga kuliah di Yonsei.”

Yong Hwa mengangguk mengerti, kemudian dia tersenyum penuh arti. Chanyeol diam-diam melihatnya.

“Kalau begitu, aku permisi dulu.” Pamit Yong Hwa.

Chanyeol mengangguk, “Ya, silahkan.”

Hingga Yong Hwa sudah tidak nampak di pengelihatannya lagi, Chanyeol baru masuk kedalam bis yang baru datang semenit lalu.

***

Hyojin membenturkan kepalanya berkali-kali pada meja. Dia merutuki segala kebodohannya siang tadi. Jong In yang sibuk memainkan ponsel menyempatkan diri melihat sekaligus memberikan komentar pada kelakuan konyol gadis itu.

“Apa kau sudah muak dengan dahi lebarmu itu?. Bisa-bisa besok ada berita ‘Seorang gadis mati dengan dahi pecah karena terlalu stress. Temannya tertawa puas, bahagia dan super lega karena tidak di repotkan lagi’. Sangat hebat!”

Hyojin memandang Jong In tajam, tapi dia lebih memilih kembali melakukan aktivitasnya tadi. Jong In juga tidak bertanya atau berkomentar lebih lanjut. Tiba-tiba Hyojin mendongak, kemudian menatap Jong In.

“Apa yang sedang kau lakukan?”

“Bermain ponsel.” Jawab Jong In tanpa melihat Hyojin.

“Tumben. Biasanya kau hanya memegang ponsel jika sedang memesan makanan cepat saji atau menelpon keluargamu!”

“Ya, suka-suka!”

Hyojin penasaran. Dia merangkak mendekati Jong In yang sedang tiduran di lantai. Dia bisa melihat Jong In sedang berkirim pesan dengan seseorang, dimana nama ID orang itu ‘Nona Kim’. Apa Jong In sedang dekat dengan wanita?.

“Siapa nona Kim?”

Jong In langsung berjingkat dan bangun ketika Hyojin menanyakan hal tersebut.

“Kau mengintip!”

Hyojin memasang wajah datar, “Aku hanya penasaran.” Dia kemudian tersenyum jahil, “Siapa wanita yang sudah memikat hati Jong In eoh?”

Jong In menyembunyikan ponselnya, “Bukan urusanmu!”

“Ck! Sudah dua kali hari ini aku mendengar kalimat itu. Dengar ya, aku ini Lee Hyojin, sahabatmu! SA-HA-BAT!. Kenapa kau harus menyembunyikannya?”

“Maaf Hyo, untuk urusan ini… aku belum bisa mengatakannya.”

“Ck! Tega!”

“Jangan merajuk!. Aku tak mempan bahkan dengan aegyeo dari Tiffany SNSD!”

“Cih, terserah. Tapi kalau kau tidak mengatakannya, AWAS!” Hyojin mengepalkan tinjunya untuk mengancam.

Jong In kembali duduk tapi menjaga jarak dari Hyojin. “Iya, gampang!”

***

“Sedang apa kau?”

Gadis berambut pirang itu menoleh pada Yura. Dia tersenyum dan menghentikan sementara aktivitasnya -berkirim pesan-, “Bukan apa-apa.”

Yura mendengus, sudah bisa menebak walau temannya itu merahasiakannya.

“Aku tahu semuanya Kim Hyoyeon!. Siapa laki-laki itu?”

Hyoyeon terkekeh menyadari kehebatan temannya ini dalam menebak. Tak salah Yura menjadi pengacara terbaik di kantor.

“Kali ini berbeda. Dia baru lulus SMA dan-”

“HUH?!”

Yura sampai rela berhenti mengetik laporan demi menanggapi perkataan Hyoyeon. Berkat teriakan kerasnya itu beberapa pegawai yang lain menatap kearah meja Hyoyeon dan Yura. Hyoyeon meminta maaf dan meminta mereka kembali melanjutkan pekerjaan.

“Apa kau gila?. Mendekati pria muda?!” Yura mengecilkan suaranya.

Hyoyeon tersenyum lagi, “Tidak masalah bukan?. Kau tahu, dia itu tampan dan seksi. Lagipula sikapnya cukup dewasa kok!”

Yura mendengus, “Kau saja yang kekanakan!” Dia kembali mengetik, tapi masih mendengarkan celotehan Hyoyeon.

“Please, kali ini restui aku bersamanya!”

“Kenapa aku yang harus memberikan restu?”

Hyoyeon menunduk, wajahnya menjadi sendu. Yura yang sadar akan itu meminta maaf kemudian mengangkat wajah Hyoyeon.

“Jangan seperti ini!”

“Kau sudah aku anggap sebagai ibu kedua ku. Maka dari itu, aku mau meminta restu padamu. Untuk yang ini aku serius kok!”

Yura menghela nafas. Dia tahu betul bagaimana sahabatnya ini. Konyol, suka gonta-ganti pacar, kadang bertingkah kasar, juga kekanakan. Tapi dia tahu hal yang tidak banyak orang tahu dari gadis berambut pirang ini. Hyoyeon yang sudah kehilangan ibunya karena kecelakaan adalah anak mandiri, pantang menyerah dan setia kawan. Yura tak ingin mengecewakan seseorang seperti Hyoyeon.

“Baiklah, tapi aku harus melihat dulu siapa laki-laki itu baru aku bisa memutuskan!”

Hyoyeon langsung tersenyum lebar, “Tentu saja!. Akan aku ajak Jong In makan malam bersama senin depan. Kau bisa kan?”

“Bisa saja. Tapi kau mau aku jadi pengganggu acara kencan kalian?”

“Tenang saja!. Untuk urusan itu aku sudah mempersiapkannya!”

“Maksudmu?”

“Aku akan membawa adikku ikut juga. Sekalian aku kenalkan saudara baruku pada Park Yura!”

“Adik tirimu?”

Hyoyeon cemberut, “Mendengar kau berkata demikian membuatmu terlihat mirip dengannya. Kurasa kalian akan cocok!”

“Entahlah!. Bang Yongguk itu-”

“Kim Yongguk!” Koreksi Hyoyeon. Yura memandang malas, “Iya, Kim Yongguk itu kan pria nakal seperti yang selalu kau ceritakan.”

“Walau begitu dia cukup baik kok!”

Yura menatap Hyoyeon, “Apa kau sedang menjodohkanku dengan adikmu?”

Gadis yang ditatap tersenyum penuh arti, “Boleh juga!”

“Pengacara Kim! Pengacara Park!. Mohon jangan mengobrol ketika sedang bekerja!”

Berkat teguran dari bos mereka, Yura dan Hyoyeon menghentikan obrolan mereka. Sekaligus melanjutkan pekerjaan setelah meminta maaf dengan lirih.

“Senin depan kau harus datang di Lotte Park!” Bisik Hyoyeon. Yura hanya mengangguk pasrah sebagai jawabannya.

~TBC~

This is Chapter THREEEEEEEEEE!!!
Sebelumnya terima kasih buat para readers yang udah komentar dan kasih masukkan, neomu-neomu gomawoyo~ saya akan berusaha lebih baik lagi hehe…
Juga, sepertinya update dari ff ini bakal ‘agak lama’ soalnya saya kirim dua minggu sekali nih hehe…
Sorry readers-deul, soalnya ff ini masih ongoing *ceilah bahasanya* di laptop saya jadi kalau dikirim seminggu sekali terus masih lama selesainya kan bisa berabe saya. Apalagi kalau udah writers block apalah itu, penyakit kambuhan seorang author
Tapi ff ini masih jalan kok, cuma ya dalam proses yang agak lama dari chapter sebelumnya. Jadi tetep pantengin ini ff yeeethhhh…
Yasudahlah RCL Juseyoooooo~~~~

3 thoughts on “The One Person Is You (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s