Bittersweet : What If

bittersweet

Author : Iefabings

Main cast :

  • EXO’s Kai as Kim Jongin
  • Red Velvet’s Seulgi as Kang Seulgi
  • EXO’s Sehun as Oh Sehun

Supporting cast :

  • EXO’s Xiumin as Kim Minseok
  • Red Velvet’s Wendy as Son Seungwan

Genre : Romance, hurt, college life, friendship

Rating : PG-13

Length : Multi chaptered, currently 6

Previous chapters : The CircleHe’s My BoyfriendI Hate YouA Weird DreamApology |

^^Selamat Membaca^^

Sehun memilih pulang karena pikiran negatif mulai memenuhi otaknya. Dia takut saat bertemu Seulgi nanti moodnya jadi buruk karena terus bertanya-tanya tentang Jongin.

“Selamat malam, tuan muda,” kepala pelayan membungkuk pada Sehun, diikuti pelayan-pelayan lain.

“Aku tidak ingin diganggu,” kata Sehun yang langsung dijawab dengan anggukan oleh para pelayan. Itu artinya Sehun akan mengunci diri dan tidak ingin dibangunkan.

Pintunya ditutup dengan suara dentuman keras. Beberapa pelayan yang berdiri di dekat kamarnya terkejut. Sadar sang ‘pangeran’ sedang dalam suasana hati yang kurang baik, mereka pun menjauh.

Sehun langsung menghempaskan diri di tempat tidurnya, memandangi langit-langit kamar. Matanya terpejam sesaat, kemudian terbuka kembali saat suara notifikasi dari ponsel membelai pendengarannya.

[Text from Seulgi]

Sudah tidur? Tadi aku kira kau akan datang, tapi tak apa. Istirahatlah.

Sehun hanya menggenggam ponselnya dan menghela nafas panjang. Dia mencoba memberanikan diri bertanya, ‘Apa tadi Kim Jongin menemuimu?’ tapi kemudian dia hapus. Dia ganti isi pesannya dengan, ‘Tadi aku melihat Kim Jongin keluar dari apartemenmu,’ namun sama seperti yang tadi. Langsung ia hapus karena takut Seulgi merasa kecewa jika tahu dia tidak jadi datang. Terakhir dia mengetikkan ‘Apa tadi ada seseorang yang menemuimu?’ hanya beberapa detik sebelum akhirnya dia hapus.

[Reply to Seulgi]

Maaf, aku benar-benar lelah hari ini dan langsung pulang. Sampai ketemu besok. Aku mencintaimu.

Pesan itulah yang dia kirim pada Seulgi. Ponselnya ia sembunyikan di bawah bantal agar tidak mengganggu lagi. Sehun memejamkan matanya dan terus diam hingga terlelap. Dia butuh ketenangan.

***

Paginya, Sehun terbangun dengan suasana hati tak jauh beda dari semalam. Tapi dia mencoba untuk membuang pikiran negatifnya jauh-jauh karena harus menjemput Seulgi. Setelah mengguyur diri dengan air hangat, berpakaian rapi, dan siap sarapan barulah ia mengecek ponselnya. Ternyata semalam ada beberapa pesan lagi dari Seulgi yang belum dia baca.

[Text from Seulgi]

Besok ada acara di kampusku. Semacam acara amal dengan pelelangan yang unik. Apa kau mau datang bersamaku? Kalau ada waktu, tentu saja.

Ah, ya. Penyelenggara acaranya The Circle.

Eum… bukan karena aku masih bergabung dengan mereka. Aku benar-benar sudah keluar. Hanya saja, ku rasa ini acara yang baik untuk berpartisipasi dalam kegiatan amal.

Sehun… kau sudah tidur?

Baiklah, selamat tidur. Aku juga mencintaimu.

Sehun mencengkeram ponselnya, nyaris saja melempar benda persegi itu ke dinding. Sepertinya firasat buruk itu benar. Kim Jongin memang menemui Seulgi dan dia langsung berspekulasi kalau pemuda itu telah membujuknya untuk kembali ke The Circle. Sehun berusaha untuk tidak marah pada Seulgi—karena ini bukan salah Seulgi sepenuhnya. Tapi pikiran negatifnya terlanjur mendominasi.

[Reply to Seulgi]

Maaf, hari ini aku tidak bisa menjemputmu. Tak apa kan, berangkat sendirian? Aku akan menemuimu sepulang kuliah nanti.

“Tuan muda, sarapan sudah kami siapkan—“

“Aku berangkat,” setelah mengantongi ponselnya, Sehun langsung berjalan keluar rumah tanpa menghiraukan pelayan yang telah menyiapkan sarapan untuknya. Dan mereka semua hanya bisa saling pandang dengan wajah penuh tanya karena perubahan mood Sehun yang begitu drastis sejak semalam.

***

Tidak apa-apa, aku bisa naik bus. Telpon aku kalau kau sudah selesai. Jangan lewatkan sarapanmu^^

Seulgi terus memandangi ponselnya. Tidak ada balasan lagi dari Sehun dan menurutnya ini cukup aneh. Sehun tidak pernah mengabaikan pesannya. Tidak pernah juga melewatkan kesempatan untuk bertemu dengannya. Apa dia begitu sibuknya hingga tidak sempat bahkan untuk sekedar membalas satu pesan saja?

“Ddeulgi-ah!” seketika Seungwan merangkul pundak Seulgi yang kelihatan asyik berkutat dengan ponselnya. Tapi Seulgi tidak terkejut sama sekali, membuatnya bingung. “Apa yang sedang kau baca? Serius sekali.”

“Eh? Bukan apa-apa,” jawab Seulgi dengan senyum simpul. “Tumben datang lebih pagi.”

“Aku diantar sopir hari ini karena mobilku masuk bengkel,” cerita Seungwan sambil merapikan rambutnya. “Sabtu malam nanti kau kencan dengan Sehun tidak? Aku ingin mengajakmu nonton film.”

“Sebenarnya…” Seulgi mengeluarkan undangan acara lelang The Circle dari dalam tasnya. “Aku mendapat undangan khusus. Sepertinya Sehun sangat sibuk jadi aku ingin mengajakmu.”

“Whoa!” mata Seungwan terbelalak dan langsung menyambar undangan itu. “Kita ke acara ini saja, nontonnya bisa lain kali.”

Seulgi tersenyum geli melihat respon Seungwan. “Semoga kau mendapat jodoh dari acara itu ya.”

“Nah, benar. Semoga,” Seungwan menaikturunkan alisnya. “Mungkin aku akan menawar habis-habisan namja yang sempat kau hindari tempo hari.”

“Namja?” tanya Seulgi sambil mengernyit.

“Iya, namja tampan dan keren yang terus kau hindari seharian. Dia anggota The Circle kan? Siapa ya namanya, kemarin aku sempat mendengar teman-teman kita menggosipkannya. Jongsuk… Kim Jongsuk….”

“Kim Jongin?”

“Iyaaa! Kim Jongin. Siapa tahu aku bisa jadi pasangan dansanya. Lalu kami akan melakukan pendekatan. Hihihi.”

Seulgi mengetuk kepala Seungwan pelan. “Dasar. Ternyata kau punya ambisi seperti ini ya. Tapi sepertinya kau bukan tipe gadis yang disukai Kim Jongin.”

“Benarkah? Lalu dia suka yang seperti apa?” tanya Seungwan. “Eh… tapi kalau kau tahu, berarti kalian sangat dekat. Kenapa waktu itu kau menghindarinya?”

“Bu-bukan seperti itu. Aku sama sekali tidak dekat dengannya,” ralat Seulgi cepat.

“Tapi tadi kau bilang—“

“Ah, lupakan saja,” Seulgi buru-buru kabur ke kelasnya.

“Seulgi-ah, tunggu! Kau harus membuatku dekat dengannya!”

***

[Text to Sehun]

Sehun, aku sudah pulang. Apa kau sudah makan malam?

Seulgi terus menunggu pesan dari Sehun hingga malam hari. Beberapa kali dia melirik ponselnya berharap ada notifikasi masuk dari Sehun, apa pun itu. Belajarnya jadi tidak bisa fokus. Dia membuka lembar demi lembar halaman buku patofisiologi, membacanya, tapi tak ada satu poin pun yang berhasil ia serap.

“Dia kemana?” gumamnya sambil menghela nafas panjang. Ditidurkannya kepala ke atas buku tebal yang sedari tadi ia baca.

Tiba-tiba ponselnya bersinar, membuat Seulgi langsung meraihnya dengan sigap. Sebuah notifikasi LINE chat, tapi bukan Sehun.

[LINE chat with Kim Jongin]

Kau akan datang kan, besok?

Selalu ada perasaan aneh setiap kali berhadapan dengan sesuatu yang berhubungan dengan Kim Jongin. Mau membalas itu saja rasanya salah tingkah, padahal tidak ada yang memperhatikan. Dia mengetikkan kalimat balasan, tapi menurutnya tidak layak untuk dikirim. Dia pun mengedit pesan balasannya berkali-kali dan baru benar-benar membalasnya 20 menit kemudian.

Iya, aku datang.

Itu pun pikirannya masih berkecamuk. Apa dia membalas chatnya terlalu singkat? Apa balasannya terkesan dingin? Kalau Jongin mengira dia masih marah atau dendam bagaimana?

“Aish, jinja!” dia menarik-narik rambutnya sendiri, merasa frustasi. “Ini kan hanya sebuah obrolan biasa. Sebenarnya aku kenapa?”

Tidak sampai 30 detik ia menerima balasan dari Jongin.

Apa kau datang bersama pacarmu?

Kening Seulgi berkerut. Kenapa Jongin menanyakan ini?

Tidak, aku datang bersama temanku

Kenapa tidak dengan pacarmu?

Dia sedang sibuk

Lalu selama 15 menit tidak ada balasan dari Jongin. Seulgi melirik ponselnya berkali-kali dengan aplikasi LINE yang terus terbuka.

“Apa dia tidak akan membalasnya lagi? Bahkan belum dibaca….”

Baru saja dia menutup bukunya dengan gusar, layar ponselnya kembali menyala menampilkan pop up message dari Jongin.

Maaf, tadi aku dalam perjalanan pulang.

Jadi dia sibuk ya? Sayang sekali.

“Kim Jongin minta maaf? Apa dia tahu dari tadi aku menunggu balasan darinya?” Seulgi bermonolog dengan wajah panik. “Ah, tapi tidak mungkin. Dia kan tidak bisa melihatku.”

Iya sayang sekali. Hahaha.

Baru saja menyentuh tanda ‘kirim’, dia kepanikan lagi. “Itu terlalu cepat! Astaga, harusnya aku menunggu beberapa menit dulu sebelum membalasnya. Dia pasti semakin yakin aku menunggu balasannya.

“Ottokhe?” Seulgi mengantuk-antukkan kepalanya ke meja.

Apa kau tidak merasa nyaman mengobrol denganku seperti ini?

Sebuah pertanyaan yang aneh lagi. Seulgi menscroll percakapan mereka dari awal, menilai apakah ada kalimatnya yang terkesan tidak ramah. Kemudian dia membalasnya.

Aku nyaman nyaman saja. Kenapa berpikir begitu?

Tidak apa. Hanya memastikan.

Sekarang Seulgi bingung mau membalas apa. Pesan dari Jongin ini seperti menutup percakapan. Dia mulai menimbang-nimbang, dibalas atau tidak.

Apa kau sudah tidur?

Jantung Seulgi langsung berkontraksi kuat saat satu pesan datang lagi dari Jongin. Apa ini berarti Jongin ingin mengobrol lebih lama dengannya?

Tidak, aku belum tidur.

Baguslah. Hahaha.

Coba ceritakan padaku bagaimana kehidupan anak kedokteran.

Untuk apa…..?

Sebenarnya dulu aku ingin kuliah kedokteran.

Jinja? Jeongmal? Entah kenapa aku tidak bisa mempercayainya.

………………aku serius

Tapi aku tidak lulus tes masuk. Dan sebenarnya prestasiku di sekolah memang tidak seberapa.

Aku malah tidak yakin kau punya prestasi.

Hahaha, aku hanya bercanda. Maaf. Aku hanya sangat terkejut.

Lihat siapa yang mulai sombong.

Sebenarnya memang benar, aku tidak punya prestasi selain kompetisi dance. Hahaha.

Dance? Kau punya bakat juga ya.

Tentu saja. Aku adalah idola sekolah dulu. Sekarang pun masih menjadi idola.

Terlalu percaya diri.

Aku serius. Makanya besok kau harus datang. Akan ku tunjukkan bagaimana bakat seorang idola.

Besok aku pasti datang. Tapi kalau penampilanmu mengecewakan, aku akan langsung pulang.

Ini ancaman? Atau permintaan agar aku tampil bagus untukmu?

Hah? Aku tidak bilang begitu.

Ku kira besok kau akan menawarku dengan harga tinggi.

Kau ikut dilelang juga?

Sebenarnya ini rahasia. Tapi ada 4 namja The Circle yang akan dilelang.

Itu bagus. Tapi sayang sekali aku tidak berminat menawarmu.

Aku patah hati.

Hahaha.

Aku bercanda.

Jadi… apa mahasiswa kedokteran benar-benar membedah cadaver?

Tentu saja. Kalau tidak melihat dan menyentuhnya langsung, kami tidak bisa belajar.

Itu luar biasa. Kapan-kapan ajak aku!

Kau pikir ini reality show? Orang luar tidak boleh melihat.

Ah… sayang sekali. Tapi setidaknya aku senang besok kau akan datang.

Kau membahasnya terus….

Yah… namanya juga perasaan ‘bahagia’.

Hahaha.

Pipi Seulgi rasanya pegal karena terlalu banyak tersenyum dan sesekali tertawa mengobrol dengan Jongin via LINE. Mereka terus berkirim pesan hingga lewat tengah malam.

***

Sore hari menjelang acara lelang. Tak terhitung berapa kali Seulgi mengecek ponselnya dengan wajah gelisah. Belum ada balasan dari Sehun sejak kemarin. Dia ingin mengirim pesan lagi tapi sepertinya sudah terlalu banyak—takut terkesan spamming. Perasaannya jadi tidak karuan. Berbagai pertanyaan muncul, bahkan mulai ada firasat negatif. Salah satunya adalah kemungkinan Sehun sudah bosan padanya.

“Wajahmu kenapa terlihat mendung begitu?” tanya Seungwan tanpa menoleh, melainkan melirik Seulgi lewat cermin. Mereka sedang berada di salon pribadi keluarga Seungwan untuk didandani. Dua orang stylist sedang merias mereka berdua, bersebelahan. Tampaknya Seungwan benar-benar semangat untuk terlihat menarik di acara nanti, jadi dia memaksa Seulgi untuk ikut berdandan habis-habisan dengannya.

“Hanya merasa khawatir,” jawab Seulgi singkat setelah meletakkan kembali ponselnya. Seorang stylist telah bersiap mewarnai kelopak matanya dan dia langsung menutup mata.

“Oh Sehun?” tanya Seungwan.

“Iya.”

“Mungkin saja kan dia sedang ujian atau mengerjakan sesuatu. Harusnya kau mengerti, dia juga sibuk seperti kita,” kata Seungwan.

Benar juga. Hanya karena sebelumnya Sehun sangat sering menemuinya, bukan berarti Sehun tidak bisa sibuk. Mereka mengambil jurusan yang sama, harusnya Seulgi lebih memahami kesibukannya.

“Kau benar,” hanya itu yang Seulgi ucapkan sebelum membuka mata dan melihat hasil make upnya.

“Apa kau suka warnanya?” tanya si stylist.

“Iya, sesuai dengan keinginanku,” jawab Seulgi seraya tersenyum.

Masih ada waktu sekitar 2 jam sebelum acaranya dimulai.

***

The Circle Presents

BLIND DATE NIGHT

Beberapa mata melirik kedatangan 2 orang gadis dengan balutan busana berwarna hitam dan rambut tergerai. Seulgi dan Seungwan tampil layaknya guest star pada malam itu. Seulgi dengan S-line bodynya, dan Seungwan dengan rambut lurus dan indah, duduk di meja barisan paling depan.

“Ternyata kau lebih pantas dengan rambut lurus,” komentar Seulgi setelah mereka duduk dengan nyaman. Acara baru saja dimulai oleh Soojung dan Jongdae, duo pembawa acara. “Lihat, mereka semua melihat ke arahmu.”

“Kau juga dilirik terus,” sahut Seungwan, sesekali bertepuk tangan seperti undangan lain. “Aku sudah meminta izin eomma dan dia sangat senang aku menggunakan uangnya untuk amal,” dia tertawa pelan. Sebagai putri tunggal direktur sebuah rumah sakit swasta di Seoul, tentu tidak mengejutkan jika Seungwan punya banyak uang untuk menawar pemuda mana pun yang dia mau.

“Kau semangat sekali,” decak Seulgi sambil menggelengkan kepalanya.

“Tapi kau tidak keberatan kan, kalau aku mendapatkan Kim Jongin?”

“Pertanyaan macam apa itu? Kenapa aku harus keberatan?” tanya Seulgi tak habis pikir. “Dia kan bukan pacarku.”

“Benar juga ya. Di hatimu hanya ada Oh Sehun.”

“Acaranya dimulai,” Seulgi langsung mengalihkan pembicaraan. Mengingat Sehun membuatnya kembali gelisah dan tergoda untuk mengecek ponselnya.

“Baiklah, kita akan langsung mulai dengan acara utamanya. Mari kita panggil para pemuda tampan yang available malam ini! Whooooo~” seru Jongdae dengan heboh.

Sekitar 20 orang pemuda menaiki pentas dan langsung disambut teriakan para undangan, terutama para wanita. Seulgi ikut bertepuk tangan, sedikit terkejut saat melihat Junmyoon, Minseok, dan Siwon juga ada di sana. Jadi ini kejutan yang diceritakan oleh Jongin semalam. Dilihatnya Jongin melambaikan tangan pada para wanita yang membuat mereka makin histeris.

“Lihat itu, astaga! Dia sangat tampan!” pekik Seungwan sambil menunjuk Jongin. “Aku siap menawar!”

Seulgi hanya menanggapinya dengan senyuman geli, ingin fokus pada acara perkenalan masing-masing pemuda itu. Ternyata The Circle benar-benar membawa mahasiswa pilihan. Tidak ada satu pun di antara mereka yang tidak ‘beruang’. Selain itu popularitasnya juga tidak bisa diremehkan. Rata-rata adalah mahasiswa idola di fakultasnya dan yang jelas, para gadis mengantri untuk bisa berdansa dengan salah satu dari mereka. Seluruh gadis yang ada di ballroom diperkenankan menawar, termasuk panitia. Tapi dari penilaian Seulgi, sangat terlihat jelas sebenarnya panitia seperti Victoria dan Yuri hanya menawar untuk memancing undangan memasang harga lebih tinggi. Kecuali saat giliran Siwon tiba, tampaknya Yuri menawar mati-matian untuk mendapatkannya.

Sebenarnya Seulgi datang ke acara lelang ini tidak punya tujuan yang jelas. Dia tidak tertarik pada satu pun di antara mereka. Oh, lebih tepatnya mungkin hanya Jongin yang menarik di matanya, tapi Seungwan sepertinya sudah menyatakan hak paten atas diri Jongin.

‘Menarik?’ dia bergeming dalam hati. Bagaimana bisa sekitar seminggu yang lalu dia sangat membenci Jongin dan malam ini malah merasa Jongin cukup menarik? Seulgi menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha mengusir pikiran aneh itu.

“Hey, kau kenapa?” Seungwan memetikkan jarinya di depan wajah Seulgi.

“Tidak apa-apa kok,” dia kembali fokus ke panggung, tepat saat Kim Minseok selesai menyanyikan lagu sebagai unjuk bakatnya.

“Baiklah, kita mulai pelelangannya. Dimulai dengan seratus ribu won!” Jongdae memberi aba-aba.

“Seratus lima puluh ribu!” suara penawar pertama, berasal dari seorang gadis yang duduk cukup jauh dari Seulgi.

“Iyap! Seratus lima puluh ribu pertama!” Soojung menimpali.

“Dua ratus ribu!”

“Dua ratus lima puluh ribu!”

“Tiga ratus lima puluh ribu!”

“Lima ratus ribu!” seru Seulgi sambil mengangkat tangannya.

Jongdae hendak memberi tanggapan, tapi jadi tercengang saat melihat pelakunya adalah Seulgi. Tampaknya dia cukup kaget, begitu pula dengan Soojung. Seulgi jadi bingung sendiri karena merasa diperhatikan. Memangnya kenapa kalau dia menawar Minseok?

“OK! Lima ratus ribu pertama. Ada yang lebih tinggi?” Soojung mencairkan suasana kembali dan menyikut lengan Jongdae.

“Ah—ya! Penawar lain?”

“Enam ratus ribu!”

Seulgi menoleh ke arah gadis yang sepertinya berniat menjadi pesaingnya. Lalu dia tersenyum sekilas.

“Tujuh ratus ribu!” dia menawar lagi lebih tinggi.

“Delapan ratus ribu!”

“Sembilan ratus ribu!”

“Wah, wah, harga semakin melambung lebih dari harga-harga sebelumnya! Sembilan ratus ribu pertama!” seru Jongdae heboh.

“Sembilan ratus dua puluh lima ribu!”

“Satu juta won!” Seulgi memasang harga maksimal yang bisa ia bayarkan malam ini, membuat para undangan melirik ke arahnya.

“Satu juta won pertama!” seru Jongdae, menunggu penawar lain menaikkan harga.

“Satu juta won kedua!” Soojung menambahi, karena tidak ada respon lagi.

“Satu juta won ketiga!” Jongdae berseru lagi, tapi tetap tidak ada sahutan. “Selamat, Kang Seulgi-sshi menjadi pasangan dansa Kim Minseok malam ini!”

Tepuk tangan meriah menyambut pengumuman itu. Wajah Kim Minseok terlihat tidak percaya tapi terlihat senang. Dia tersenyum ceria saat turun dari panggung untuk menghampiri Seulgi.

“Aku tidak mempercayai ini,” kata Minseok setelah bergabung di meja Seulgi dan Seungwan. “Kenapa kau menawar harga yang begitu tinggi kepadaku? Ah… sepertinya kau ingin berterima kasih padaku atas kejadian di tempat karaoke itu.”

Ingatan Seulgi berputar. Benar, Minseok adalah orang pertama yang berusaha menghentikan kegilaan mereka saat itu.

“Aku belum mengucapkan terima kasih padamu. Selain itu, aku ingin uangku langsung diterima oleh anggota The Circle.”

“Tidak perlu berterima kasih, justru kami harus minta maaf padamu.”

“Ekhem,” Seungwan sengaja berdeham dengan keras, merasa diabaikan.

“Astaga, aku lupa. Kenalkan, ini teman baikku. Song Seungwan,” ucap Seulgi sambil terkekeh. Dia membiarkan Minseok dan Seungwan berkenalan dan berbincang singkat, hingga terdengar nama Jongin dipanggil.

“Baiklah, Kim Jongin. Apa yang bisa kau janjikan pada calon pasangan dansamu?” Soojung memberikan mic pada Jongin. Mata Seulgi benar-benar fokus pada mereka berdua. Entah kenapa dia begitu penasaran akan sesuatu antara Jongin dan Soojung.

“Hm… sebenarnya aku mengharapkan seseorang menawarku dan menjadi pasanganku malam ini,” kata Jongin, disambut dengungan kecewa para penggemarnya.

Apa yang telah merasuki Seulgi hingga ia merasa orang yang dimaksud Jongin adalah dirinya? Segera ia usir jauh-jauh pikiran yang tak masuk akal itu. Dia membuka ponselnya dan memandangi foto Sehun sebagai penawar.

“Tapi siapa pun yang memberikan uang mereka untuk acara amal ini dengan harga tertinggi, akan ku perlakukan selayaknya kekasihku.”

Para gadis langsung berteriak histeris. Termasuk Seungwan.

“Aku tidak akan menyerah!” serunya dengan penuh semangat.

Kemudian kedua MC memberi waktu pada Jongin untuk menunjukkan bakatnya. Pencahayaan di panggung dikurangi, hingga tersisa satu lampu sorot hanya untuk Jongin. Dia hanya mengenakan kemeja putih yang sebagian kancingnya sengaja dibuka serta celana berwarna hitam. Cukup membuat hati semua gadis bergetar—termasuk Seulgi.

“Lihat, dia mulai melakukan keahliannya, memikat hati para gadis,” celetuk Minseok pelan.

Mungkin benar, Jongin memang ahli memikat hati para gadis. Tanpa melakukan apa pun dia sudah membuat suhu tubuh panas dingin. Dan Seulgi dengan mudahnya—sekali lagi, nyaris terperosok dalam pesonanya. Dia kembali merasakan jeda dalam ruang dan waktu, persis saat pertama kali mereka bertemu. Bedanya, sekarang Seulgi telah berstatus sebagai milik orang lain.

Lalu tubuh Jongin bergerak mengikuti alunan lagu. Gerakan yang lentur tapi maskulin, menghipnotis semua yang melihatnya. Tak terkecuali Seulgi yang bahkan ikut terbawa oleh lagu yang mengiringinya. Dia tahu Jongin memiliki bakat menari, tapi dia tidak tahu bahwa saat Jongin menari, itu artinya dia harus bisa menguasai diri. Dadanya seperti tergelitik dan akan meledak, entah apa penyebabnya. Seulgi tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Jongin. Dan entah dia yang terlalu percaya diri atau memang benar, sepertinya Jongin juga menatapnya dari sana. Seolah di tempat itu tidak ada siapa pun selain mereka berdua.

Hingga suara tepuk tangan menyadarkannya kembali. Sial, dia nyaris kehilangan kendali di bawah pesona seorang Kim Jongin.

***

“Satu juta!”

“Satu juta lima ratus ribu!”

“Oh astaga! Ini sudah memecahkan rekor malam ini. Kira-kira pada harga berapakah ini akan berakhir? Satu juta lima ratus ribu pertama!”

Jongin tak percaya pelelangan dirinya berlangsung cukup lama. Kedua penawar tertinggi belum mau mengalah. Dia tidak mengenal keduanya, tapi salah satunya duduk satu meja dengan Seulgi dan Minseok. Mungkin teman dekat Seulgi.

Anehnya, Jongin berharap salah satu penawarnya adalah Seulgi.

Sejak awal acara tadi dia ingin menyapa Seulgi tapi selalu gagal. Karena dia termasuk panitia, jadi sangat rawan diseret oleh anggota The Circle lain untuk membantu persiapan ini dan itu. Sialnya, dia selalu diseret saat kakinya hendak mendekati Seulgi. Dan sekarang dia sangat berharap teman dekat Seulgi lah yang memenangkannya agar bisa satu meja dengan mereka.

‘Aneh,’ dia membatin, sambil lalu menunduk dan tersenyum simpul. Ada perasaan asing yang membuatnya ingin terus berdekatan dengan Seulgi.

“Satu juta delapan ratus!”

“Dua juta lima ratus!”

“Wah, aku bahkan kesulitan untuk bicara. Baiklah, dua juta lima ratus pertama.”

Semua undangan menggelengkan kepala takjub dengan pelelangan sengit itu. Beberapa dari mereka berbisik satu sama lain, menggosipkan tentang kedua penawar. Jongin sedikit lega karena penawar tertinggi adalah gadis yang satu meja dengan Seulgi.

“Dua juta lima ratus kedua.”

Tidak ada respon lagi penawar lain.

“Dua juta lima ratus ketiga.”

Jongin sudah siap melompat ke meja yang sedari tadi diincarnya.

“Son Seungwan-sshi menjadi pasangan Kim Jongin malam ini!” seru Jongdae dan Soojung bersamaan.

Jongin tidak peduli dengan suara tepuk tangan yang riuh menyambut pernyataan itu. Dia sudah turun dari panggung dan langsung menghampiri meja Seulgi. Dia menghampiri Seulgi. Berdiri di hadapan Seulgi. Sementara Seulgi sendiri terlihat sedikit kaget karena Jongin memblok pandangannya.

“Jongin-ah, pasanganmu di sini,” beruntung Minseok segera menyadarkannya. Jongin pun beralih ke gadis yang akan berdansa dengannya.

“Song Seung….”

“Son Seungwan. Hai, aku temannya Seulgi,” Seungwan berdiri memperkenalkan dirinya dengan senyum cerah.

“Terima kasih telah bersedia menyumbang dana untuk acara amal kami,” ucap Jongin seraya membungkuk.

“Ah… itu bukan apa-apa. Jangan terlalu formal padaku,” kata Seungwan. “Aku kan teman Seulgi, berarti teman kalian juga. Hehehe.”

“Baiklah, karena semua namja sudah terlelang,” terdengar suara Jongdae lagi. “Kita memasuki acara yang sudah ditunggu-tunggu.”

“Ayo berdansa!” seru Soojung.

Semua undangan pun beranjak memenuhi lantai dansa bersama pasangannya masing-masing. Jongin melirik Seulgi—yang telah menerima uluran tangan Minseok, lalu menatap Seungwan yang tersenyum ceria. Tampaknya gadis ini begitu senang bisa menjadi pasangan dansanya. Jongin mengulurkan tangannya sambil tersenyum.

“Aku tidak pandai berdansa, ku harap kau bisa bersabar,” kata Seungwan sambil terkekeh, lalu menggenggam tangannya.

“Aku pandai mengajari gadis cantik berdansa,” ucap Jongin yang langsung berefek pada warna pipi Seungwan.

“Aigoo, ini seperti kencan sungguhan.”

Mereka berdua menyusul Seulgi dan Minseok ke lantai dansa. Berdiri berhadapan, Jongin merangkul pinggang Seungwan dan meletakkan tangan gadis itu di pundaknya.

“Ikuti saja gerakanku seiring ketukan musiknya,” bisik Jongin.

Seungwan mengangguk mantap dan benar-benar mengikuti gerakannya. Jongin sengaja bergerak dengan pelan agar Seungwan bisa menyamainya. Sesekali dia mengajak Seungwan bicara tentang kuliahnya dan tertawa bersama. Tapi Jongin selalu dan selalu menyempatkan ekor matanya untuk bergerak ke arah Seulgi. Tampaknya dia dan Minseok sangat menikmati dansanya walau sama-sama tidak pandai berdansa. Jongin bisa melihat senyuman Seulgi—yang membuat mata sipitnya seolah ikut tersenyum. Seperti bulan sabit yang sedang bersinar. Menurut Jongin, Seulgi terlihat imut saat tersenyum dan dia betah berlama-lama memandanginya. Bagaimana Minseok bisa melakukan itu? Apa yang Minseok bicarakan hingga Seulgi terus tersenyum bersamanya?

“Kim Jongin-sshi, apa kau memikirkan sesuatu?” celetuk Seungwan. Kedua kaki mereka rupanya tidak bergerak lagi.

“Oh—tidak ada. Maaf….”

“Tidak apa-apa. Bagaimana kalau kita duduk saja? Kakiku mulai pegal karena high heels ini,” Seungwan menunjuk kakinya.

“Baiklah, kita duduk saja,” Jongin menggandeng Seungwan kembali ke meja mereka. Dari posisi ini dia justru semakin puas memandangi Seulgi.

“Kau memperhatikan Seulgi ya dari tadi?” tanya Seungwan sambil tersenyum jahil.

“Iya—eh, maksudku tidak. Tentu saja tidak,” Jongin buru-buru meralat jawabannya.

“Hmm…” senyum jahil Seungwan makin lebar. “Temanku memang menarik kan? Jelas saja Pangeran Oh jatuh cinta pada pandangan pertama.”

“Pangeran… Oh?” kening Jongin berkerut.

“Oh Sehun, pacar Seulgi. Memangnya kau tidak tahu?”

“Oh…” Jongin mengangguk. “Aku tahu. Kami pernah bertemu.”

“Dia tampan kan? Latar belakang keluarganya juga sangat terpandang. Seulgi dan Sehun bertemu dalam sebuah seminar nasional, lalu seminggu kemudian mereka sudah menjadi pasangan,” cerita Seungwan.

“Hanya dalam seminggu?” entah kenapa cerita tentang Seulgi dan Sehun jadi menarik perhatiannya.

“Iya, aku tahu karena Seulgi menceritakan semuanya padaku. Sehun itu sangat romantis, benar-benar pria idaman. Aku bahkan mengidamkannya juga, kalau saja Seulgi bukan temanku,” ucap Seungwan sambil tertawa. “Tapi bukan berarti Seulgi itu mata duitan. Dia memang benar-benar mencintai Sehun. Yah, walau masa pendekatan mereka sangat singkat. Sebenarnya sekarang dia sedang gelisah karena Sehun belum menghubunginya dari kemarin.”

“Dia tidak terlihat gelisah.”

“Wajahnya memang menipu. Dia selalu sok ceria di depan semua orang karena menurutnya, beban yang dia punya ya miliknya sendiri, tidak ingin mengumbarnya.”

Selama Seungwan berbicara, pandangan Jongin tidak lepas dari Seulgi—yang masih berdansa dengan Minseok. Pasangan itu sudah tidak berdansa secara formal seperti yang lain, melainkan mengobrol santai dengan berdiri berhadapan.

“Benar, dia terlihat cantik saat tersenyum,” ucap Jongin tanpa sadar.

“Jadi benar ya, kau menyukainya!” tebak Seungwan dengan wajah puas.

“Aku tidak bilang begitu,” Jongin mengelak. Dia sendiri juga masih bingung dengan perasaannya.

“Tenang saja, aku akan merahasiakannya. Anggap saja ini barter untuk dua setengah juta won yang ku bayarkan,” kata Seungwan, merendahkan suara saat Seulgi dan Minseok kembali ke meja mereka.

“Hey, apa yang kalian bicarakan?” Seulgi duduk di samping Seungwan, berhadapan dengan Jongin.

“Bukan apa-apa,” Jongin yang menjawab, hanya menatap Seulgi datar.

“Kakiku sakit, jadi tidak bisa berdansa terlalu lama,” rengek Seungwan pada Seulgi.

“Kau seperti sedang merengek pada ibumu saja,” Seulgi menjitak kepalanya.

“Tapi aku haus. Kim Minseok-sshi, apa kau mau menemaniku mengambil minum?” tanya Seungwan.

“Aku?” Minseok menunjuk dirinya sendiri.

“Biar aku saja,” kata Jongin.

“Tidak mau. Aku kan sudah berdansa denganmu, sekarang aku ingin ditemani Minseok oppa,” ucap Seungwan dengan nada manja. “Tidak masalah kan, aku sudah membayar paling mahal untuk acara kalian.”

“Tentu saja tidak masalah,” sahut Minseok tanpa ragu. “Ayo ku temani. Kalau ingin berdansa juga tak apa,” ia mengulurkan tangannya pada Seungwan.

“Geuraeee, kami tinggal dulu ya, Seulgi-ah,” Seungwan mencubit pipi Seulgi sebelum meninggalkannya berdua dengan Jongin.

“Dasar…” Seulgi menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil, memperhatikan Minseok dan Seungwan yang makin menjauh.

Jongin memahami sesuatu. Ini disengaja oleh Seungwan agar dia bisa berduaan dengan Seulgi. Dan bodohnya, dia merasa senang. Walau saat matanya dan mata Seulgi saling menatap, suasana canggung mulai tercipta.

“Apa kau… menikmati acaranya?” tanya Jongin, mencoba mencairkan suasana.

“Iya, ini menyenangkan. Andai Sehun bisa ikut,” jawab Seulgi.

“Apa dia benar-benar sibuk?”

“Begitulah….”

Lalu keduanya membisu. Jongin bingung bagaimana menghidupkan suasana lagi. Duduk berdua dengan Seulgi membuatnya kesulitan berpikir.

“Apa kau—“

Serentak Seulgi dan Jongin langsung tertawa karena mereka berbicara dalam waktu bersamaan.

“Kau duluan,” suruh Jongin.

“Tidak, kau saja. Ini tidak penting,” Seulgi menggeleng, masih tertawa.

“Ini juga tidak begitu penting. Aku ingin bertanya, apa kau mau berdansa dengaku?”

Tawa Seulgi berhenti. “Aku?”

“Memangnya ada orang lain di meja ini?”

Seulgi tampak menimbang ajakan Jongin, kemudian mengangguk. “Baiklah, aku mau.”

Senyum Jongin mengembang. Tangannya terulur ke arah Seulgi, yang langsung menerimanya. Mereka kembali ke lantai dansa. Ada rasa kesenangan tersendiri saat Jongin merangkul pinggang Seulgi, dan merasakan tangan Seulgi yang bertumpu ke pundaknya. Seperti euphoria saat memenangkan kompetisi dance bergengsi—tapi nyatanya ini bukanlah suatu kompetisi.

Atau sebenarnya memang kompetisi yang tidak pernah Jongin sadari.

“Aku merasa gengsi mengatakannya, tapi kau terlihat mengagumkan saat menari,” puji Seulgi, sukses membuat senyum Jongin kian lebar.

“Mengagumkan? Kenapa tidak bilang kau terpesona padaku?”

Seulgi tertawa. “Baiklah, anggap saja aku terpesona.”

“Senang mendengarnya. Aku menunggu pujian darimu dan akhirnya ku dapatkan.”

“Dasar. Kau mulai berbicara aneh lagi. Apa ini trikmu dalam merayu gadis?”

“Jadi kau merasa sedang dirayu olehku?”

“Iya… sepertinya.”

“Apa kau mulai tergoda oleh rayuanku?” tanya Jongin.

“Astaga, hentikan. Aku jadi tidak bisa berhenti tertawa.”

“Bagaimana kalau ternyata aku menyukaimu?”

Tawa Seulgi mendadak berhenti. Kaki mereka tidak bergerak lagi dan hanya bertatapan dengan lengan Jongin yang masih melingkari pinggang Seulgi.

‘Kim Jongin, kau sangat ceroboh,’ batin Jongin.

***TBC***

Author note : Maaffff ini panjang banget kayaknya ya. Semoga kalian tidak mati kebosanan. Silakan sampaikan unek-unek dan komentar apa pun ya. See you next chapter!

35 thoughts on “Bittersweet : What If

  1. Momen seulkai bikin aku panas dingin, aku berharap gak ada tuan muda Oh di sana, hiks hiks gak kebayang kalau hubungan mereka retak.

    Jebal seulgi, itu sehun juga manasih, malah ngambek gak jelas huhuhu

    Baca lagiiii yaaaa hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s