CORNER (Chapter 1)

CORNER

Author        : Thalia (yuki)

Tittle           : Corner

Cast            : Park Chanyeol, Byun Baekhyun.

Other cast   : find it by your self

Genre                   : romance, sad, love life, yaoi.

Length                  : chapther

Note            : Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

Cerita yang ditulis hanyalah fiktif belaka.Apabila ada kesamaan merupakan hal yang tidak disengaja.

Chanyeol’s pov

Prang!!

Dengan sangat jelas dapat kudengar pecahan kaca dari arah ruang tamu. Siapa lagi kalau bukan ibu dan ayahku yang sedang bertengkar. Tenang saja, ini sudah jadi makananku sehari hari. Cukup muak sebenarnya, kenapa mereka tidak mengambil tindak lanjut, lalu bercerai? Masalah aku ikut siapa itu belakangan. Lagi pula aku tidak begitu perduli.

Dengan cepat aku mengambil dompet, jaket dan tentu saja hpku lalu melesat keluar rumah menuju garasi. Mengambil sepeda kesayanganku, lalu begegas mengayuh cepat laju sepedaku. Tidak perduli dengan orang orang yang menatapku sinis dan kesal akibat ulah ugal ugalanku. Apa yang mereka takutkan? Aku hanya menggunakan sepeda.

Drett drett

Kurogoh saku celanaku saat hpku bergetar tanda ada panggilan masuk. Baru saja akan kuanggat telpon saat tiba tiba seseorang lonjat kearahku dan berhasil menabrakku dengan sempurna. Alhasil, aku jatuh bersama sepeda kesayanganku. Oh ayolah itu satu satunya harta benda palingku jaga. Dengan cepat kulihat kondisi sepedaku, Dan terlihat goresan di bodi mulus sepedaku. Karna kesal darahku naik kekepala dan berniat untuk memaki orang yang telah melakukan kekejaman kepada sepedaku.

“kau!!”

Baekhyun’s pov

Satu kata yang cukup tepat untuk menggambarkan kondisiku saat ini. MUAK ! yaa aku sangat muak dengan semua tetek bengek yang mereka lakukan padaku. Untuk apa? Memper panjang hidupku? Hah! Orang bodoh mana yang mau mempercayai hal konyol seperti itu. Kalau hidupku hanya tersisa 3 minggu, yasudah biarkan saja. Lagi pula aku tidak perduli hidup atau mati!

Kucabut infus ditanganku dengan cukup kasar. Lalu menyeka darah yang keluar dari tanganku. “sial”umpat ku kesal. Ku raih jaket hyungku yang berada di sofa, merasa sudah cukup aman. Aku bergegas keluar ruangan, lalu berjalan kearah pintu keluar. Kusunggingkan senyum puasku. Mengejek kebodohan hyungku yang mau saja pergi untuk membelikan ku minuman.

Baru saja aku melangkahkan kakiku keluar rumah sakit konyol itu, saat tiba tiba hyungku meneriakkan namaku lantang “BYUN BAEKHYUN!! KEMBALI KEKAMARMU!”dengan segala penekanan. Merasa begidik, aku lekas berlari menjauhi hyungku berniat melarikan diri. Demi apapun aku tidak ingin kembali kesana.

Dan tentu saja hyungku tidak akan membiarkanku lari begitu saja. Dengan cekatan hyungku membuang minuman yang dipegangnya, lalu mengejarku habis habisan. “sayang sekali”batinku meneguk saliva, minuman itu seharusnya masuk ketenggorokanku.

Sial. Ternyata hyungku cukup tangguh, ah ralat, sangat tangguh. Jadi kukeluarkan segenap kekuatanku untuk lari darinya lebih cepat. Kulihat terowongan menuju kereta bawah tanah. Secercah ide mencurak keluar dari pikiranku. Sebaiknya aku lari darinya menggukankan kereta. Persetan dengan uang. Aku akan masuk secara ilegal.

Kurasa rencanaku akan berhasil. Kutolehkan pandanganku untuk memastikan jaraknya. Good, cukup jauh. Setidaknya aku bisa naik kereta tanpa dia didalamnya. Tapi semua mungkin gagal, karna baru saja aku menabrak seseorang. Sial!!

“kau!!” ucapnya dengan penuh amarah. Tidak terlalu kuacuhkan sebenarnya, karna pandanganku tetep kearah hyungku yang semakin mendekat. “tau tidak kau sepedaku ini..”sebelum dia menyelesaikan kata katanya. Aku menarik tangannya masuk menuju kereta bawah tahan. “maaf aku tidak punya waktu. Masalah sepedamu akan aku urus nanti.”

Aku bahkan tidak mengetaui wajah orang yang berada digenggamanku. Kulihat kereta yang hampir menutup untuk lekas pergi. “lucky”seruku lalu memaksanya masuk bersamaku, lalu kulihat hyungku yang berhenti berlari saat kereta ini menutup dan jalan meninggalkan hyungku dengan tampang bodohnya. Hahaha rasakan itu, kumeletkan lidahku mengejek kearah hyungku. Kulihat expresinya yang cukup kacau. Hah perduli apa aku.

Dengan puas kutertawa, lalu tersadar ulahku masih berkelanjutan. Kutatap orang yang kugandeng. Aku masih megenggam tanganya, dan dia sama sekali tidak melepaskan genggamanku. “baiklah, kemana arah kereta ini melaju”nyengirku lalu menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Dia hanya menatapku dingin. Lalu menunjuk layar yang menunjukan arah kereta ini melaju. Kuikuti arah tunjuknya. Oh god, cukup jauh ternyata.

Chanyeol’s pov

Aku ini sedang diculik atau apa? Dipaska ikut bersama orang yang bahkan tidak kukenal. Tapi persetanlah. Yang penting sepedaku akan diurusnya. Ketika aku tersadar dengan situasi yang sedang berlangsung. Aku tau, dia sedang melarikan diri dari seseorang. Tapi untuk apa? Kulihat perawakannya dari atas sampai kaki. Oh seorang laki laki rupanya, bagus lah. Setidaknya aku tidak akan dijatuhin tuduhan telah menculik seorang gadis.

Tapi kalau dipikir pikir, pustur tubuhnya cukup kecil untuk ukuran laki laki. Terlalu kecil malah, dan hampir menyerupai anak gadis yang baru pubertas. Oke cukup, nanti pikiran liarku terbang kemana mana. Aku tahu bahwa sedari tadi dia memegangi tanganku. Tapi entah mengapa, tidak ada sedikitpun rasa tidak nyaman oleh sentuhannya. Jadi kubiarkan saja dia menggenggam tanganku.

Dia tertawa dengan cukup keras, akibatnya dia berhasil mencuri pandangan setiap insan yang ada di dalam kereta ini. Tapi aku malah fokus dengan tawanya yang sangat lepas. Dadaku berdesir setelahnya, mengagumi tawa dan keindahannya tanpa sadar. Oke, harus kuakui wajahnya pun cantik seperti seorang gadis.

Melihatnya membuatku berfikir. Kapan terakhir kali aku dapat tertawa seperti itu? Mungkin.. tidak pernah. Dia menatapku, terlihat sangat canggung. “baiklah, kemana arah kereta ini melaju”dia tersenyum? Mungkin tepatnya tersenyum menampakan deretan gigi mungil nan rapinya? Dan hal itu berhasil meruntuhkan semua sistem ku. Dia sangat menggoda.

Menutupin kegugupanku. Aku hanya menunjuk ke arah layar. Ya aku tahu. Aku selalu berhasil untuk menutupi emosiku. Dia mengangguk lalu menarikku duduk di kursi kosong. Pasrah, kuikuti saja lagkah mungilnya.

Aku terus memandangnya, menatapnya, dan memperhatikannya, dari atas sampai bawah. Dan saat aku menatapnya tepat dimanik matanya, aku tau, aku sadar. Aku telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku. Dia berhasil mengurungku didalam sana. Dia, seseorang yang bahkan tidak kuketahui namanya itu, berhasil menawanku. Sialnya, aku bahkan tidak tau cara untuk kabur darinya.

Baekhyun’s pov

Sedari tadi dia terus menatapku. Aku bahkan bingung, apa yang dia liat dariku? Kumohon, palingkan pandanganmu. Sehingga aku dapat bernafas dengan lancar. Pipiku memanas, jangan katakan padaku kalau pipiku sedang memerah sekarang. Bagaimana kalau dia mengetahuinnya? Bisa gawat.

Kuberusaha memberanikan diri lalu membalas tatapannya. Oh my god. Saat itu juga jantungku berdetak tidak karuan. Seolah jantung ini mendesak untuk keluar sangking tidak tahannya. Kuakui dia tampan. Ah maaf aku lancang. Maksudku benar benar sangat amat lah tampan. Bisa kah aku teriak sekarang? Tidak tidak, jangan. Dia bisa menganggapku gila nanti.

Dengan susah payah kutelan salivaku. Aku tercekat. Tuhan, apakah yang dihadapanku ini benar benar manusia? Walau tanpa senyum diwajahnya. Walaupun expresinya sangat datar. Tapi tidak lah cukup untuk menutupi wajahnya yang sangat rupawan. Kurasa, dia lah karya tuhan yang paling indah.

“jadi, bagaimana sekarang? Kau bilang akan mengurus sepedaku. Tapi bahkan sepeda itu tertinggal, dan mungkin saja telah dibawa kabur oleh orang yang tak bertanggung jawab.”nadanya sangat dingin. suarahnya yang rendah mungkin dapat dengan mudah membuat ciut nyali nyali orang orang jahat sekalipun. Namun tidak dengan aku. Aku sangat menyukai suaranya. Begitu nyaman untuk didengar.

“err tentang itu.. aku tidak tau”jawabku takut takut dia tidak puas dengan jawabanku, dan benar saja “kau gila!! Itu sepeda kesayanganku. Dan sekarang kau dengan mudahnya mengatakan itu!!”nadanya sedikit naik dari yang tadi.. dan sepertinya dia membentak, tapi kurasa dia telah membuatku gila. Dia marah saja, malah kuanggap sedang bercanda.

“tenang tenang, aku yakin hyungku telah mengamankan sepedamu. Karna pasti dia berfikir, kau salah satu teman yang berusaha membantuku kabur”jawabku menenangkannya. Dan karna argumen kita. Berhasil membuat kita menjadi tontonan geratis bagi para penumpang yang mungkin merasa bosan dengan tontonan drama yang diputar ditelevisi kereta.

Dia menatapku, sedikit menimbang lalu kemudia membuka suaranya setelahnya “baiklah, aku anggap perkataanmu masuk akal.”kurasa aku bisa bernafas lagi sekarang. Tapi mungkin sia sia saat wajahnya mendesak mendekat kearahku. Menatapku intens “jangan berusaha kabur dari ku”ujarnya kemudia. Nafasnya yang segar membelai wajahku lembut. Membuatku hampir terpesona olehnya. Baiklah aku jujur, aku telah terpesona olehnya.

Alih alih menghilangkan kegugupanku. Dengan cepat aku bangun dan melepaskan tautan kami, lalu berdiri. Tapi tubuhku oleng, karna kereta berguncang pelan. Kufikir aku akan jatuh, namun faktanya lengannya yang cukup kekar menahan dan memeluk tubuhku erat. Dia menahanku agar tidak terjatuh. Dan.. GOD! Wajahnya hanya tersisa 2 cm dari wajahku. Blush, pipiku berhasil merona dibuatnya. Baru saja akan masuk kedalam hayalku saat dia membuyarkan segalanya. “jangan lepaskan tanganku, jika kau ingin pergi dariku, tidak akan kubiarkan itu terjadi. Sebelum kau mengembalikan sepedaku”

Entah itu sebuah ancaman atau bukan.. tapi biarkan aku menganggapnya, sebagai pengakuan seumur hidupnya. Sekarang, bolehkah aku memberikan hidupku untuknya? Dan dengan egoku, meminta agar aku hidup sedikit lebih lama bersamanya? Tidak, aku ingin selamanya bersama pria dihadapanku ini. Sungguh.

To Be Continued…

One thought on “CORNER (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s