Drunken Night

large (1)_2_2

D R U N K E N  N I G H T

[EXO] Do Kyungsoo Park Chanyeol  [OC] Lily Marrom

| Genres romance |

Length Oneshot | Rating PG-15

Already posted on

maylilykarsten.wordpress.com 

 

Happy reading!

“Aku merindukan pria itu. Sangat merindukannya sampai rasanya sesak setiap kali mendengar namanya.

.

myk.

.

 

Entah apa yang merasuki gadis berambut coklat gelap itu sehingga ia berani mencoba mencicipi jenis minuman yang paling berbahaya untuknya, alkohol, di malam-malam terakhir penghujung tahun yang harusnya dihabiskannya untuk membuat daftar resolusi hidupnya tahun depan. Tak peduli serendah apapun kadar alkohol yang terdapat dalam minumannya, apabila ia sudah meneguk habis minumannya berarti akan ada bencana yang sebentar lagi mendatanginya. Ia pernah berakhir berada di kantor polisi karena merusak fasilitas umum di kota hanya karena ia mabuk  di suatu hari. Jadi untuk siapapun yang mengetahui hubungan buruk antara gadis itu dengan alkohol, sebaiknya tidak membiarkan gadis itu menghabiskan segelas vodka seperti yang dilakukannya baru saja.

Bau asap rokok beserta parfum memenuhi indra penciuman gadis itu. Musik masih mengalun sangat keras. Ia masih bisa mendengar suara-suara riuh di belakangnya. Orang-orang pengecut yang sedang mencari tempat untuk bersandar hanya saja tidak tahu apa yang harus dilakukan. Sekumpulan orang yang ingin menyerah tapi tidak tahu bagaimana cara yang tepat untuk mengakhirinya. Memikirkan hal ini membuat kepalanya pusing, terlebih perutnya merasa mual, rasanya ingin muntah hanya saja ia tidak punya kekuatan lagi hanya untuk mengangkat kepalanya dari meja tempatnya berada sekarang. Katakan saja ia benar-benar menyerah dengan pertahanan dirinya selama ini sehingga berani melangkahkan kakinya menuju tempat sakral baginya seperti yang dilakukannya malam ini.

Ada masa dalam hidupnya dimana ia merasa sangat lelah. Lelah dengan semua yang dijalaninya. Lelah dengan kejamya kehidupan, lelah dengan perasaannya, lelah dengan dirinya sendiri. Lelah bersikap seolah semuanya baik-baik saja di saat dirinya benar-benar merasa sakit. Lelah tersenyum di saat ia sangat ingin menangis. Sudah terlalu jauh jalan yang ditempuhnya sehingga terlalu terlambat untuk berhenti di tengah jalan. Terlepas perdebatan dengan dirinya sendiri, lebih dari siapapun ia ingin mengetahui bagaimana akhir dari jalan panjang ini suatu hari. Mungkin ini alasan kuat yang membuatnya meminum alkohol malam ini. Ia hanya ingin membuat dirinya sendiri kuat. Hanya itu saja.

Setelah memastikan kalau dirinya akan baik-baik saja pada pemilik klub yang didatanginya –beruntungnya, gadis itu memilih tempat yang cukup aman sebagai tempat pelarian sejenak- ia pamit untuk pulang. Angin malam menerpanya sangat keras saat ia keluar dari tempat itu seolah menyuruhnya untuk tetap sadar dalam perjalanan pulangnya. Ia tidak tahu sudah berapa jam yang dihabiskannya duduk seperti orang bodoh beberapa saat yang lalu. Tapi melihat kondisi jalanan saat ini sepertinya malam sudah benar-benar larut. Untungnya, malam ini salju tidak turun seperti perkiraan cuaca yang didengarnya tadi pagi sehingga membuatnya tetap bisa berjalan pulang walau dalam keadaan setengah sadar seperti ini.

Ia merapatkan mantel tebalnya pada tubuhnya menjaga dirinya tetap merasa hangat. Syal tipis yang berada di lehernya diikatnya lebih lagi. Ia tidak mau angin malam yang biasanya menjadi pendengar setia yang setiap keluhannya membuatnya sakit hari ini. Ia ingin melewati hari-hari terakhirnya di tahun ini dalam keadaan sehat. Setidaknya ia tidak ingin menyesal karena harus menghabiskan saat berharganya berada di atas tempat tidur. Ia benar-benar ingin meninggalkan tahun ini dengan baik sebelum ia beranjak ke tahun yang baru.

“Apa yang kau lakukan di malam larut seperti ini, Nona?”

Sepertinya kesadarannya mulai menurun. Sekarang ia bisa mendengar seseorang berbicara kepadanya.

“Kau yakin akan baik-baik saja? Aku akan mengantarmu.”

Kesadarannya sepertinya sudah berada di lever akhir. Tidak mungkin ada orang yang mengenalnya kemudian dengan senang hati menyapanya. Ia bukan orang yang biasa bersosialisasi dengan baik seingatnya.

“Hei, Lily. Apa kau tidak mendengarkan….”

Ia merasa seperti seseorang sedang mendekapnya hangat sekarang. Setelah itu semuanya gelap.

***

Entah bagaimana caranya ia tersadar dengan selimut yang berada pada tubuhnya. Dan tentu saja ia sedang berada dalam ruang tamunya sekarang, berbaring di sofa panjang coklat miliknya. Seingatnya ia sedang berjalan sepulangnya dari klub beberapa saat yang lalu kemudian ia bisa mendengar seseorang berbicara padanya kemudian gelap. Ia hanya bisa mengingat itu. Apalagi dengan kenyataan kepalanya masih merasa pusing, sepertinya ia belum sadar sepenuhnya. Bau alkohol sangat memenuhi indra penciumannya sendiri. Ia beranjak menuju dapurnya untuk mengambil segelas air kemudian tidak bisa merasa lebih pusing lagi setelah melihat sosok yang berada dalam apartemennya saat ini.

Park Chanyeol.

“Kau tinggal memilih keluar dari tempat ini sekarang juga atau aku yang akan menendangmu dari lantai duapuluh sekarang!”

Lily tidak bisa merasa lebih terkejut lagi ketika menemukan orang yang telah disahkannya menjadi musuh abadinya, Park Chanyeol, berada dalam satu ruangan dengannya, terlebih lagi dalam apartemennya, dan tentu saja di jam dua pagi subuh. Ingin rasanya menendang pria itu saat ini juga sampai pria itu menyodorkan secangkir teh hangat padanya.

“Kau harusnya bersyukur bertemu denganku seperti tadi. Aku bisa saja membiarkanmu pingsan di jalanan seperti tadi hanya saja aku masih menghargai Kyungsoo sebagai temanku. Berterimakasihlah karena ia mengirimkan alamatmu beserta kode keamananya sesaat setelah aku memberitahunya kau pingsan di jalanan tadi.”

Oh, Lily akan memberi hadiah apapun demi membuat musuh abadinya itu berhenti mengatakan omong kosong seperti yang didengarnya baru saja. Gadis itu sepertinya belum sadar betul dilihat dari caranya mengabaikan Chanyeol dan hanya berlalu untuk mengambil air untuk dirinya sendiri. Jangan tanyakan bagaimana raut wajah Park Chanyeol saat ini. Ia menahan rasa kesalnya lagi. Sekali lagi ia mengatakan pada dirinya sendiri kalau ini semua dilakukannya untuk temannya bukan untuk gadis itu.

“Terima kasih karena mengantarkanku, Chanyeol. Aku akan membalasmu suatu hari nanti.”

Raut wajah Chanyeol berubah seketika. Ini pertama kalinya ia mendengar gadis itu berterimakasih padanya. Ia baru tahu kalau kata terima kasih akan terdengar semanis seperti yang didengarnya baru saja. Tentu saja ia juga harus mengingat kalau Lily yang dihadapinya ini masih dalam keadaan setengah sadar dari keadaan mabuknya tadi.

Chanyeol mengikuti gadis itu untuk duduk di meja pantry-nya yang langsung berhadapan dengan jendela yang bisa memberikan pemandangan langit malam. Ia melirik gadis itu sejenak, menelusuri setiap lekuk wajahnya kemudian mengangguk pelan seakan mengerti mengapa Kyungsoo meminta bantuannya untuk mengantar gadis itu pulang. Gadis itu benar-benar terlihat kacau. Matanya sembab, dahinya berkerut, wajahnya seakan memancarkan luka dalam yang Chanyeol yakini ini semua ada hubungannya dengan temannya itu.

Chanyeol masih membiarkan gadis itu larut dalam keheningannya. Sepertinya akan lebih nyaman untuk mereka seperti ini daripada mencari bahan pembicaraan kemudian berakhir dengan teriakan gadis itu untuk dirinya. Banyak sekali pertanyaan yang ingin ditanyakannya pada gadis itu. Melihatnya seperti ini seakan membuat segala pertanyaan yang menghinggapinya beberapa saat yang lalu mendesak untuk keluar. Hanya saja ia sendiri tidak tahu bagaimana cara yang tepat untuk membuat gadis itu bicara padanya.

“Bagaimana kabarnya? Apakah dia baik-baik saja?”

Pria itu tersenyum pelan mendengar pertanyaan gadis berambut coklat itu. Ia tidak mengharapkan gadis itu menanyakan kabarnya, hanya saja mendengarnya seperti ini membuatnya lebih mudah untuk mencari berita terkait hubungan Lily dengan temannya itu. Setidaknya, menurutnya ia harus memastikan beberapa hal mengenai hubungan mereka.

Lily kembali meneguk gelas berisi air ketiganya, sambil menunggu jawaban dari Chanyeol. Ia merasa sangat lelah sekarang. Ingin rasanya segera pergi tidur kemudian melupakan apa yang sudah terjadi malam ini. Hanya saja ia ingin mengetahui bagaimana kabar pria itu walaupun harus menjatuhkan harga dirinya di depan pria yang duduk di sampingnya yang sedang menatapnya dengan pandangan yang sulit dimengerti.

“Seperti biasa. Ia berangkat pagi sekali, kemudian pulang sangat larut. Aku yang sekamar dengannya ini pun sepertinya sudah sangat sulit untuk bertemu dengannya sekedar hanya untuk saling menyapa. Tapi sejauh ini ia baik-baik saja. Kau merindukannya?”

Chanyeol merasa bersalah sesaat setelah ia melemparkan pertanyaan itu. Salahkan rasa ingin tahunya yang membuatnya terlalu cepat menanyakan hal itu. Melihat raut wajah Lily yang semakin membuat dirinya menyedihkan berhasil membuat dirinya  merutuki dirinya sendiri. Wajah gadis itu terlihat semakin muram, pandangannya seperti sedang menerawang ke belahan dunia yang lain. Ini bisa saja menjadi bahan ejekan barunya bagi gadis itu karena memperlihatkan sisi lemahnya di hadapan pria itu, hanya saja untuk memikirkan itu saja sudah membuat Chanyeol merasa sangat bersalah pada gadis itu. Gadis itu benar-benar terlihat kacau saat ini.

“Tentu saja ia akan tetap baik-baik saja. Ia terlalu sibuk dengan segala jadwal padatnya. Bagaimana bisa aku berpikir kalau ia akan memikirkanku walaupun sebentar? Aku terlihat sangat bodoh sekarang, kan? Kau boleh menertawaiku, Chanyeol.”

Pertama kalinya ia melihat Lily, gadis yang rupanya tidak sekuat penampilannya serapuh ini. Ia tentu tidak ingin membuat gadis itu membuka lukanya lebih dalam lagi, hanya saja ia merasa gadis itu harus melakukannya agar seseorang tidak bertindak bodoh lagi. Ingin rasanya membawa gadis itu ke dalam pelukannya, memberi sedikit waktu untuk tempatnya bersandar. Tapi itu tidak mungkin, ia masih ingin hidup dengan anggota tubuh yang lengkap. Setidaknya ia ingin bersikap baik pada gadis itu malam ini.

“Aku menyuruhnya pergi di saat aku tidak menginginkannya, Chanyeol. Aku mengatakan aku akan baik-baik saja ketika diriku merasakan sakit saat mengatakannya. Aku merindukannya seperti orang gila saat ia bahkan tidak memikirkanku sedikit pun. Hidup ini sangat lucu, Chanyeol.”

Chanyeol tetap sabar mendengar keluhan gadis itu pada teman satu grupnya itu. Gadis itu meneguk kembali gelas berisi air entah untuk kesekian kalinya. Melihatnya seperti ini ikut membawa Chanyeol merasakan kesepian yang diakibatkan temannya itu selama ini pada gadis yang sedang menatap kosong jauh ke depan. Ia sangat tahu kalau gadis itu sudah memberikan seluruh hatinya pada pria itu. Ia juga sangat tahu kalau mereka berdua yang menyerah pada keadaan masing-masing. Chanyeol sangat mengenal bagaimana Kyungsoo akan menghadapi situasi seperti ini. Ia akan membiarkan Lily mendapatkan apa yang diinginkannya.

“Kau tahu aku bukan tipekal orang yang akan menunjukkan perasaanku secara gamblang pada seseorang. Walaupun aku selalu berdebat tentang hal-hal tidak penting denganmu, jauh dalam lubuk hatiku aku menganggapmu temanku, Tuan Park. Dan itu mungkin yang membuatku berbicara sebanyak ini denganmu malam ini. Walaupun aku bahkan tidak tahu apa yang sedang aku bicarakan sekarang, tapi kau boleh mempercayaiku.”

Lily menghela nafas pelan sesaat ia mengatakan itu. Ia tersenyum lembut untuk Chanyeol yang demi apapun membuat gadis itu terlihat lebih manis di matanya terlepas dari pengakuan yang dialamatkan untuk dirinya. Beruntung Chanyeol sedang menghadapi Lily yang seperti ini. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya kalau gadis itu sedang dalam keadaan mabuk seperti sekarang.

“Aku merindukan pria itu. Sangat merindukannya sampai rasanya sesak setiap kali mendengar namanya. Aku seperti orang bodoh mengharapkan kedatangannya di tempat ini tiga bulan terakhir. Aku bahkan menyesal karena telah meneriakinya seperti itu hanya karena keegoisanku yang belum bisa menerima pekerjaannya saat ini.” Ujar gadis itu dengan tatapannya yang teduh. Ia berani bertaruh kalau Kyungsoo sangat merindukan tatapan sendu gadis ini. Chanyeol tersenyum senang, ia harus menerima hadiah besar karena mampu membuat seorang Lily mengatakan hal ini, “Sampaikan salamku untuk pria bodoh itu. Tentu saja kau tidak boleh mengatakan kalau aku merindukannya. Pria itu tidak boleh mengetahui kalau aku begitu kacau sepeninggal dirinya.” Lanjutnya seraya bangkit dari duduknya. Berjalan menuju ruangan yang ditebaknya sebagai kamar gadis itu.

“Terima kasih karena sudah mendengarkanku malam ini, Chanyeol. Aku harap kau akan melupakan hal penting dari pembicaraan kita malam ini. Kau boleh menginap tapi pastikan aku tidak akan melihat wajahmu saat aku bangun pagi nanti. Selamat malam.”

Pintu pun tertutup mengikuti semua pengakuan gadis itu malam ini.

***

.

.

.

.

.

“Kau sudah bisa keluar dari tempat persembunyianmu, Kyungsoo.”

Sesaat Lily memasuki kamarnya kemudian memastikan kalau gadis itu sudah masuk ke alam mimpinya, pria itu membukakan  pintu kamar mandi yang terletak tak jauh dari tempatnya dan Lily bertukar cerita beberapa saat yang lalu. Park Chanyeol benar-benar beruntung malam ini. Kalau gadis itu tahu ia menyembunyikan orang yang menjadi alasannya kacau semalaman ini di apartemennya, mungkin ia akan hanya tinggal nama esok pagi. Ia bahkan tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan gadis itu padanya.

“Bukankah kau merasa ia sangat manis?” tanya Kyungsoo penuh semangat. Ia keluar dari tempat persembunyiannya setengah jam terakhir setelah memastikan hanya Chanyeol yang berada di dekatnya sekarang kemudian beranjak menuju sofa di tengah ruangan. Ia membaringkan tubuhnya sedangkan Chanyeol hanya bisa menatapnya bingung.

“Kau hanya tidak bisa melihat bagaimana kacaunya gadis itu, Kyungsoo. Kau tidak tahu bagaimana paniknya saat aku menemukan dirinya sudah pingsan di hadapanku. Aku berani bertaruh kalau juga akan merasa sangat bersalah karena sudah membuatnya mengatakan hal seperti itu tadi. Aku bahkan sempat ingin memeluknya tadi.” Ujar pria itu mengikuti Kyungsoo yang ikut duduk di samping pria yang sangat terlihat bahagia sekarang.

Kyungsoo menatap temannya itu kesal kemudian melanjutkan, “Terima kasih karena sudah menghubungiku kalau begitu. Setidaknya sekarang aku punya keberanian untuk menemuinya kembali. Kau pikir hanya dirinya yang tersiksa selama tiga bulan terakhir ini? Setengah jam ini aku berusaha keras menahan diriku untuk tidak keluar dari kamar mandi itu untuk memeluknya.” Chanyeol hanya tersenyum kecil menanggapi, “Ia bahkan menyuruhmu untuk tidak memberitahuku apa yang kalian bicarakan tadi. Oh, demi apapun ia sangat manis, kan?” lanjut Kyungsoo penuh semangat. Chanyeol hanya mengangguk pelan.

“Sepertinya aku harus bersikap baik padamu untuk beberapa waktu ke depan, Chanyeol. Aku berutang padamu.” Chanyeol lagi-lagi mengangguk pelan menanggapi pria itu. Ia bisa saja memukul kepala milik pria itu agar ia berhenti tersenyum sendiri seperti yang dilakukannya saat ini. Hanya saja ia tidak ingin mengganggu kebahagian salah satu teman baiknya itu.

Park Chanyeol hanya terlalu sibuk memikirkan apa yang akan terjadi kalau Lily tiba-tiba terbangun kemudian menemukan mereka berdua berada di apartemennya. Membayangkannya saja bahkan lebih mengerikan daripada harus mendengar omelan Suho esok pagi karena keabsenan mereka berdua di asrama malam ini. Rasanya matanya mulai mengantuk, ia ingin tidur sebentar sebelum harus meninggalkan tempat ini. Ia hanya bisa berdoa kalau semuanya akan baik-baik saja saat ia terbangun nanti.

Semoga  saja.

2 thoughts on “Drunken Night

  1. hahaaa so sweet banget si chansoo ini berdua…. tapi rada serem tau ada cowok ngumpet di kamar mandi apartemenmu :p
    tulisannya rapi, gambaran suasananya terang, dan aku sempet ngira nih chanyeol juga suka kyungsoo, untunglah utk bagian ending chanyeol sama lily dibikin agak open alias tidak diresolve dengan dadakan ^^ moga kyunglily balikan😄
    sebagai masukan, tadi ada bbrp typo, mudah ditemukan kok tapi ga banyak juga jumlahnya. terus ada juga akhiran -nya itu, terlalu banyak di satu paragraf sehingga kadang aku bingung, -nya ini merujuk pada lily atau chanyeol atau kyungsoo?
    itu aja sih, keep writing!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s