Love Killer (part 1)

LOVE KILLER

 

Title                     :  LOVE KILLER

Cast                     :

  • Kim Joon Myun/Suho ( EXO )
  • Do Kyungsoo ( EXO )
  • Kim Sooyong ( OC )
  • Kim Jisoo ( Actor )
  • Shin HyeRa ( OC )

 

Lenght                 :  Chapter

Rating                  :  T

Genre                   :  School Life, Romance

Author                 :   @helloimterra91 & @beeeeeestarioka

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Masih terlalu pagi untuk memulai sebuah aktivitas di Minggu yang cerah. Kebanyakan orang memanfaatkannya untuk beristirahat di rumah atau tidur dengan waktu yang sedikit lama dari biasanya.

 

Disaat sebagian orang mungkin masih bernaung dalam selimut, lain halnya dengan Sooyong yang terpaksa bangun dari tidurnya yang nyenyak. Tanpa memakan apapun, dia pergi ke bandara untuk mengantar kepergian Kyungsoo. Selama satu bulan, pria yang akan menjadi calon tunangan secara sepihak itu akan tinggal di China untuk program pertukaran pelajar yang diselenggarakan oleh sekolah.

 

Sesampainya di bandara, Sooyong terus menekuk wajah cantiknya. Dia bahkan berekspresi datar saat Kyungsoo menyambutnya dengan senyum. Dia tidak peduli bila Kyungsoo mungkin marah. Itu adalah bayaran karena telah memaksanya kesini.

 

“Tidurmu nyenyak?” tanya Kyungsoo membuka percakapan.

 

“Nyenyak sebelum Ibuku mengacaukan semuanya kau puas?”

 

Kyungsoo terkekeh membuat Sooyong makin sebal, “Ya ampun, kau kan bisa melanjutkan tidurmu nanti”

 

Gadis itu hanya diam sambil tetap cemberut. Dia bahkan tidak memberi reaksi apa-apa saat Kyungsoo memeluknya seperti biasa, hingga pria itu berbisik tepat ditelinganya. “Tidak bisakah kau tersenyum dihari kepergianku? Kau bisa melakukannya dengan pura-pura –“

 

“Aku tidak suka berpura-pura” potong Sooyong sambil melepas diri dari pelukan Kyungsoo.

 

Geurae. Kau memang seperti itu dan kau tahu, itulah yang membuatku semakin menyukaimu” Kyungsoo menatapnya tajam dengan senyum sinis yang membuat Sooyong membeku ditempat.

 

Jujur saja, gadis itu merasa takut saat Kyungsoo menatapnya seperti itu. Cepat-cepat Sooyong membuang pandangan agar tidak bertemu dengan mata bulat Kyungsoo yang masih menatapnya. Kini Sooyong hanya bisa tertunduk ketika ia sadari jantungnya berdetak.

 

“Bagaimanapun juga kau senang kan aku pergi?”

 

Sooyong diam tak menjawab. Dia yakin Kyungsoo tahu jawabannya.

 

“Selama aku pergi, jika kau membutuhkan sesuatu kau bisa mengatakannya pada dia!” ucap Kyungsoo sambil menunjuk laki-laki yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari tempat mereka duduk. Laki-laki itu memalingkan wajahnya sambil menghisap lolipop dengan tampang cuek.

 

“Dia lebih terlihat seperti tukang pukul daripada seorang teman” dengus Sooyong.

 

“Kau tidak perlu berteman dengannya. Setelah ini dia akan mengantarmu. Ah, aku harus segera pergi. Pulanglah dengannya. Setelah sampai aku akan menghubungimu” Kyungsoo menarik kopernya lalu pergi meninggalkan Sooyong yang hanya bisa menatap kepergiannya dengan kekesalan yang menumpuk.

 

 

 

 

***

 

 

 

 

Sedan hitam itu melewati gerbang sekolah yang memiliki reputasi terbaik di Korea Selatan. Begitu mencapai pintu utama, mobil tersebut berhenti. Keluarlah seorang pria paruh baya dari pintu depan bersamaan dengan gadis berambut ikal dari pintu belakang.

 

Gadis itu meneliti sekolah barunya sebentar, sebelum mengikuti langkah Paman Song disebelahnya. Song Ilkook adalah kepala pelayan yang ditugaskan secara khusus untuk menjaga nona muda, Shin HyeRa.

 

BRUGH!

 

Gadis cantik yang dikuncir kuda jatuh didepan HyeRa dan Paman Song. Tawa kecil terdengar tidak jauh dari mereka. Gadis itu jatuh karena tersenggol salah satu laki-laki yang menertawakannya.

 

“Nona tidak apa-apa?” Paman Song membantunya berdiri.

 

“Saya tidak apa-apa. Terima kasih” dia membungkuk cepat lalu segera pergi.

 

HyeRa nampak tidak peduli dengan insiden yang baru saja terjadi. Dia kembali melanjutkan langkahnya setelah jalannya tidak terhalangi. Paman Song menyusulnya.

 

“Apa dia murid baru?”

 

“Sepertinya iya”

 

“Dia tidak terlihat seperti seorang yang membuat gurunya dikeluarkan dari sekolah”

 

Siswa bertubuh lebih tinggi dari teman-temannya tertawa, “Kau lihat temanmu yang berwajah malaikat ini” dia menepuk pundak laki-laki disebelahnya, “Apa dia terlihat seperti seorang yang suka memukul orang?”

 

Laki-laki berwajah malaikat itu menepis pundaknya hingga tangan temannya yang bertubuh tinggi terlepas. Dia meninggalkan teman-temannya yang masih asyik membicarakan si murid baru.

 

 

 

 

………………………………………………………

 

 

 

Shindong menyambut kedatangan HyeRa dan Paman Song di ruang guru. Dia yang akan menjadi wali kelasnya.

 

“Jadi, kenapa HyeRa-haksaeng memilih untuk pindah ke Genie?” tawanya menyelinap, “Saya hanya bingung kepala sekolah kami menerima murid baru dipertengahan semester” dia tertawa untuk menutupi kelancangannya.

 

Shindong penasaran tapi tidak sopan jika dia bertanya langsung. Menurutnya aneh ada murid baru dipertengahan semester. Pasti keluarga HyeRa memiliki koneksi dengan kepala sekolah.

 

“HyeRa ingin sekolah yang jaraknya lebih dekat dari rumah” jawab Paman Song

 

“Ohh~ Maaf, kalau saya boleh tahu, Anda siapa?”

 

“Saya-“

 

“Ayahku” potong HyeRa cepat. “Dimana kelasku? Aku tidak mau ketinggalan jam dihari pertama”

 

“Ah, ha ha ha… HyeRa-haksaeng sudah tidak sabar untuk belajar rupanya. Baiklah. Sam akan mengantar dan memperkenalkanmu dengan murid-murid lainnya” Shindong permisi sebentar untuk mengambil buku dan peralatan mengajar dimejanya. Ekspresi bingungnya terlihat jelas oleh HyeRa. Penampilan Paman Song memang terlihat rapi dan berwibawa, tapi Shindong tidak yakin kalau Beliau memiliki pengaruh besar bahkan untuk negri ini.

 

“Paman pulang saja. Aku bukan anak kecil yang harus diantar sampai kedepan kelas”

 

“Baik, Nona”

 

HyeRa meliriknya tajam, “Apa ada Ayah yang memanggil putrinya dengan sebutan Nona?”

 

“Tapi saya bukan ayah nona” Paman Song menunduk.

 

HyeRa terdiam. “Tapi Paman sudah bersikap seperti seorang Ayah yang selalu datang disetiap aku membuat masalah” setelah itu dia pergi.

 

Paman Song melihat HyeRa yang telah dijaganya sejak kecil. Dia menyadari kekecewaan sang nona. Dia memang seperti Ayah baginya. Dia yang ada disampingnya. Dia selalu menyelesaikan masalah yang HyeRa buat. Tahun ini, HyeRa sudah pindah sekolah sebanyak 3 kali. Genie adalah sekolahnya yang keempat. Biasanya HyeRa pindah setahun sekali. Alasannya sederhana, dia bosan dengan sekolahnya.

 

Padahal dia hanya meminta perhatian dari kedua orang tuanya. Dia ingin Ayah yang selalu sibuk dengan pekerjaannya diluar negeri pulang ketika putrinya bertengkar. Dia juga ingin Ibu melihatnya. Jangan hanya Adiknya yang menjadi perhatian dari wanita yang melahirkannya. Dia juga anak mereka.

 

Paman Song sedih setiap HyeRa tidak mendapat apa yang dia inginkan. Tapi Paman tidak bisa berbuat banyak. Yang bisa Paman lakukan hanyalah bekerja dengan baik dan membuat HyeRa tidak merasa diacuhkan. Paman dan pegawai lain juga menyayanginya.

 

 

 

 

………………………………………………………

 

 

 

 

Shindong mempersilahkan HyeRa masuk setelah memberi tahu anak didiknya perihal murid baru yang akan menjadi teman mereka. HyeRa menjadi pusat perhatian sejak langkah pertamanya memasuki kelas. Dia membungkuk lalu memperkenalkan diri, “Annyeonghaseyo. Namaku Shin HyeRa” tidak ada lagi yang keluar dari mulutnya.

 

Shindong bertepuk tangan canggung. Singkat sekali. “Ha ha ha… Selamat datang, HyeRa-haksaeng. Mmm, silahkan duduk disana” tunjuknya kearah kursi kosong disebelah siswi yang tadi terjatuh didepan HyeRa.

 

Syuhan, gadis kuncir kuda itu langsung mengenali HyeRa. Dia sedikit malu atas kesan pertama mereka. Sementara HyeRa tidak ingat dengan kejadian yang Syuhan resahkan. Dia duduk dengan santainya.

 

“Baiklah anak-anak, sekarang kita mulai pelajarannya”

 

Ada siswa yang tersenyum penuh misteri ketika HyeRa memasuki kelas. Dia tidak menyangka kalau mereka menjadi teman sekelas. Siswa berwajah malaikat itu merasa kesenangannya baru saja tiba. Sepotong daging lezat masuk kekandang singa yang siap untuk dilahap.

 

 

 

 

……………………………………………………….

 

 

 

 

Dalam hitungan detik HyeRa menjadi perbincangan seluruh sekolah. Termasuk saat makan siang.

 

Seperti biasa, siswa Genie High School mengantri untuk mengambil jatah makan siang, termasuk HyeRa. Setelah selesai mengambil makan siang, dengan santainya HyeRa duduk dimeja pojok dekat jendela. Sontak saja dia membuat semua orang menatapnya dengan berbagai ekspresi. HyeRa tidak peduli dengan tatapan aneh mereka. Dia menyantap makanan sampai Syuhan menghampirinya dengan wajah takut.

 

“Hhhyera… se-sebaiknya kau pindah. Jangan tempati bangku itu”

 

“Kenapa? Aku suka duduk disini. Udaranya lebih segar”

 

“Ta-ta-tapiiiii… Kau tidak boleh menempatinya. Itu milik-” perkataan Syuhan yang terputus digantikan oleh kedatangan Suho dan teman-temannya.

 

“Hei, murid pindahan, tidak seharusnya kau duduk disitu” ucap laki-laki dengan tinggi badan menjulang yang diakhiri senyum jahil. Teman-temannya yang lain duduk mengelilingi HyeRa.

 

“HyeRa, ayo kita pergi” Syuhan terus membujuk HyeRa yang tidak mau beranjak.

 

“Kenapa aku harus pindah? Aku yang lebih dulu duduk disini” balas HyeRa tegas dengan tatapan sinis.

 

“Aigoo~ Hei nona, kami sudah menempati bangku ini selama lebih dari 2 tahun”

 

“Aku tidak peduli”

 

Laki-laki bertubuh tinggi dengan name tag Park Chanyeol itu membuang nafasnya kasar, “Yah! Noe!”

 

“Nona, kau tetap tidak mau pergi? Baiklah. Karena kau cantik aku akan membiarkannya. Tapi sebagai gantinya, berkencanlah denganku” kali ini laki-laki dengan kulit tan angkat bicara membuat HyeRa risih.

 

“Yah geumanhae. Orang-orang akan salah paham dengan kita. Biarkan dia duduk disini. Sekalian kita beritahu dia, apa yang seharusnya dia lakukan dan tidak dia lakukan” sekarang laki-laki disamping HyeRa yang bicara sambil menatapnya dingin.

 

“Aku sama sekali tidak keberatan” Suho mengangkat tangan sambil tersenyum menatap HyeRa yang menatapnya dengan wajah tak suka.

 

HyeRa tidak nyaman dengan situasi yang menjepit seperti ini. Sebenarnya dia ingin bertahan, tapi dia putuskan untuk mengalah. Tidak lucu kalau dia harus berkelahi dihari pertamanya sekolah. Tanpa banyak bicara, HyeRa mengangkat nampannya lalu pergi sebelum matanya tidak sengaja beradu pandang dengan Suho. Seperti ada maksud lain dari tatapan laki-laki itu. HyeRa yakin, pasti ada sesuatu di sekolah ini. Tapi dia tidak mau bertindak lebih jauh. Selama mereka tidak merugikannya, dia tidak akan mempermasalahkannya.

 

Tidak jauh dari tempat keributan berlangsung, Sooyong bersama temannya, Minji dan Haneul, ikut menyaksikan apa yang terjadi. Meski tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan namun setidaknya mereka bisa sedikit menebak.

 

“Heol, daebak! Anak baru itu benar-benar sangat berani. Coba kalau Kyungsoo disini, dia pasti-“ kalimat Minji terhenti saat Haneul menyenggol lengannya sambil menatap Sooyong yang asyik makan didepannya. Keduanya sama-sama tahu kalau Sooyong sangat enggan membahas Kyungsoo.

 

“Sooyong-ah, aku dengar Kyu-“

 

“Bagus kalau Kyungsoo ada disini. Dia bisa bertemu dengan orang yang sama dengannya” sela Sooyong sambil terus fokus dengan makan siangnya.

 

“Oiya, aku dengar Shin HyeRa berasal dari keluarga yang sangat kaya. Aku penasaran sekaya apa keluarganya dan harus ku akui, dia itu cant-“ kali ini perkataan Haneul terhenti saat Sooyong menatapnya tajam.

 

Dia ambil minumannya lalu meneguknya sampai habis. “Akan lebih bagus lagi kalau dia itu miskin. Jadi aku bisa memberinya uang untuk menggoda Kyungsoo. Aku duluan!” Sooyong bangkit dari kursinya lalu pergi ke perpustakaan.

 

Disisi lain, HyeRa ditemani Syuhan makan di meja kosong yang berada ditengah, sedikit jauh dari Suho dan teman-teman yang terus melihatnya. HyeRa pun melanjutkan makan siangnya yang sempat terganggu.

 

“Tidak ada yang boleh duduk disana kecuali mereka”

 

HyeRa menatap gadis yang duduk dihadapannya. Tanpa melihat respon HyeRa, Syuhan bercerita tentang hirarki di sekolah ini, “Di Genie ada dua orang yang tidak bisa kita bantah, Suho” matanya mengarah pada laki-laki dibelakang HyeRa yang HyeRa yakini kalau Suho yang dimaksud adalah salah satu dari kumpulan siswa yang baru saja dia temui, “Dan Kyungsoo”

 

HyeRa melahap sendok selanjutnya. Syuhan jadi salah tingkah. “Kau… sepertinya tidak tertarik”

 

HyeRa menatapnya datar.

 

Syuhan menunduk lesu. Dia mengaduk makanannya dengan tidak bersemangat. Dia memang tidak pandai bergaul. Niatnya membuka percakapan agar mereka bisa menjadi teman. Dan dia gagal.

 

“Aku mengerti”

 

Syuhan mengangkat kepalanya.

 

“Aku tidak akan mencari masalah dengan mereka selama mereka tidak mencari masalah denganku”

 

Syuhan tersenyum setelah HyeRa membalasnya meski dengan ekspresi datar.

 

“Mereka berasal dari keluarga yang sangat berpengaruh makanya tidak ada yang berani melawan. Guru-guru juga tunduk”

 

HyeRa mendengarkan Syuhan kali ini. Dia menatapnya ketika gadis itu bicara.

 

“Tapi mereka tidak selalu membuat masalah. Mereka hanya bertindak semaunya” Syuhan mengakhiri ceritanya dengan senyum diwajah. Ini bukanlah kisah bahagia. Dia hanya senang karena HyeRa tidak sedingin sebelumnya.

 

Syuhan tidak lagi mempermasalahkan tanggapan dari HyeRa, dia mengerti mungkin murid baru dikelasnya ini memang tidak banyak bicara. “Boleh aku bertanya sesuatu?”

 

“Hm?”

 

“Kudengar, kau mengeluarkan gurumu di sekolah sebelumnya. Apa itu benar?”

 

“Kau tidak haus? Aku mau membeli minum” HyeRa berdiri.

 

“Ah, aku juga mau” Mereka menuju bibi kantin yang menyediakan minuman.

 

HyeRa menghindari pertanyaan Syuhan karena menurutnya itu sangat tidak penting. Dia tidak mau membahas KangIn yang senang mengujinya. Guru Matematikanya itu tersindir karena HyeRa selalu menjawab semua soal dengan benar. Mungkin dalam hidup KangIn tidak ada satupun didunia ini yang lebih hebat darinya. Makanya saat menemukan HyeRa, dia merasa tertekan sampai menantangnya. Mereka bertarung, yang kalah harus keluar dari sekolah.

 

Dan hasilnya HyeRalah yang menjadi pemenang. Jadi intinya, bukan HyeRa yang mengeluarkan KangIn, tapi mulutnya sendiri yang membawa pertaka.

 

Sebulan setelah kepergian KangIn, HyeRa gerah dengan segala pujian serta pandangan seluruh siswa termasuk guru-gurunya. Dia tidak senang menjadi pusat perhatian. Makanya dia keluar dari sekolah.

 

HyeRa bukan suka mencari masalah, tapi masalah yang datang padanya. Dan HyeRa dengan suka cita menghadapi mereka. Menurutnya, dengan masalah dia bisa menarik simpati Ibu dan Ayah, makanya dia tidak pernah menghindari setiap masalah yang ada.

 

Setelah mendapat minum, HyeRa dan Syuhan kembali kemejanya. HyeRa meneguk air mineralnya. Syuhan membawa gelas berisi jus tomat.

 

Tiba-tiba, Syuhan terjatuh. Dia menyenggol Chanyeol. Dia tidak melihat Chanyeol lewat.

 

Wajah Syuhan berubah pucat saat melihat noda merah disepatu seseorang. Ekspresinya semakin ketakutan ketika dia melihat Suho sebagai pemilik sepatu yang terkena jusnya. “Matilah aku!”

 

Suho melihat sepatu dan Syuhan secara bergantian. Dia mengangkat lalu mengibaskan sepatunya, “Apa-apaan ini?”

 

“Ma-ma-maafkan aku. Maafkan aku” Syuhan mengangguk berulang-ulang. Dia sangat menyesal. Dia ingin menghapus nodanya, tapi tangannya mengapung diatas sepatu Suho. Apa yang harus dia lakukan??? Dia harus segera menghapusnya, tapi dengan apa???

 

“YA! Kau tidak punya otak? Cepat bersihkan!” bentak Suho. “Kau tahu berapa harga sepatuku? Gaji Ayahmu tidak akan sanggup menggantinya meski dia bekerja selama ratusan tahun!”

 

Syuhan terus menunduk. Dia merasa hidupnya akan berakhir saat ini juga. Air matanya menggenang.

 

Bunyi air yang mengalir menuju sepatu Suho mengalihkan perhatian sang pemilik. Dilihatnya HyeRa dengan tenang menuangkan air hingga membersihkan jus disepatunya.

 

Setelah airnya habis, HyeRa menatap Suho, “Jangan berlebihan. Semahal apapun sepatumu, air dari toilet pun sanggup membersihkannya” dia menarik cincin dijari tengahnya, “Jika kau masih ingin membeli sepatu baru hanya karena terkena tumpahan jus. Beli dengan ini. Cincinku seharga gaji Ayahmu” dia mengangkat tangan kanan Suho lalu menaruh cincinnya. Setelah itu dia mengulurkan tangannya kearah Syuhan, “Kau baik-baik saja?”

 

Syuhan menerima uluran tangan HyeRa lalu mengangguk, tapi dia terus menunduk. HyeRa membantunya berdiri. Dia sempat menatap Suho sebelum pergi meninggalkan kantin yang berubah sunyi akibat aksinya yang terbilang berani melawan orang yang ditakuti oleh seluruh penghuni sekolah.

 

Suho merasa dipermalukan. Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Cincin HyeRa mungkin akan berteriak jika dia bisa bicara. Teman-teman Suho juga dibuat kagum atas sikap murid baru itu. Mereka mendapat tontonan seru.

 

Suho mengatur nafasnya. Dia menahan diri untuk tidak meledak. Dia berjanji, dia akan membuat perhitungan dengan murid baru bernama Shin HyeRa. Dia akan membuatnya tunduk. Gadis itu harus bersujud dikakinya.

 

 

 

 

…………………………………………………….

 

 

 

 

Syuhan memasukkan buku-bukunya kedalam tas ketika HyeRa sedang membalas pesan untuk Paman Song. Suara dentingan cincin yang jatuh dimeja membuat keduanya menyadari kehadiran Suho bersama teman-temannya. Mereka mengelilingi HyeRa dan Syuhan. Dan keduanya tersadar kalau ternyata hanya mereka yang ada di kelas.

 

“Aku tidak butuh benda murahan itu. Ganti sepatuku, nona muda” Suho menaruh sepatunya keatas meja.

 

“Kenapa aku?”

 

“Hh. Kalau kau ingin melihatnya tidak diterima lagi disekolah ini, silahkan pergi” Chanyeol dan Baekhyun membuka jalan untuk HyeRa.

 

HyeRa tidak punya pilihan. Dia mengarahkan ponselnya lalu memotret sepatu Suho. “Aku tidak memegang barang kotor. Aku sudah mengambil fotonya. Besok kau akan mendapat sepatu baru dengan merk dan ukuran yang sama, tuan yang terhormat!”

 

Suho dan teman-temannya tertawa. Mereka menyukai sindiran yang HyeRa lontarkan. Gadis ini sungguh menarik.

 

“Lagipula kau tidak malu berjalan dengan kaki telanjang”

 

Suho tersenyum simpul, dia turunkan tubuhnya agar sejajar dengan HyeRa. Tangannya dia gunakan untuk memangku tubuhnya, “Lepaskan sepatumu” mereka saling bertatapan. “Kau punya telinga bukan? Aku tidak perlu mengatakannya dua kali. Aku juga tidak suka memakai barang kotor” senyum satu sudutnya tertarik.

 

Tanpa pikir panjang HyeRa melepaskan sepatunya. Kemudian dia lemparkan.

 

Ukuran sepatu HyeRa memang lebih besar daripada ukuran wanita pada umumnya. Bagaimana dia bisa tahu? Apa pria itu memperhatikannya sejak tadi? Berarti dia meneliti tubuhnya?

 

HyeRa jadi geli sendiri.

 

Suho memakai sepatu HyeRa yang ternyata pas sesuai dugaannya. Dia tersenyum menang. Setelah mendapatkan apa yang dia mau, mereka pergi meninggalkan HyeRa dan Syuhan.

 

“Sampai jumpa, HyeRa”

 

“Kau benar-benar menarik”

 

“Lain kali kau harus bermain denganku”

 

Chanyeol, Baekhyun, dan Kai mengucapkan salam perpisahan sebelum menghilang dipintu kelas. HyeRa hanya membalas dengan decakan sebal.

 

Syuhan semakin terpuruk. Dia merasa bersalah. Dia telah merepotkan dihari pertama mereka menjadi teman, “Maafkan aku”

 

“Apa mulutmu hanya bisa mengatakan maaf!”

 

Syuhan bungkam. Dia membuat HyeRa marah. Dia menunduk.

 

HyeRa yang melihatnya menjadi tidak tega. Dia redam emosinya. Dia kesal karena niatnya menjadi tidak terlihat disekolah ini gagal. Dia ingin hidup tenang, tapi nyatanya dia justru dikenal oleh gerombolan pembuat masalah. Kenapa juga dia harus kasihan kepada Syuhan. Mereka baru kenal.

 

HyeRa melihat kakinya yang hanya terlindungi kaos kaki. Syuhan menyadari itu. Dia segera melepas sepatunya, “Pakai punyaku. Kau tidak mungkin berjalan dengan kaki seperti itu”

 

“Tidak perlu” tolaknya cepat.

 

“Ah, ma-“ ucapan Syuhan terhenti karena tatapan tajam HyeRa. “Jangan bilang maaf lagi atau aku akan melemparmu keluar jendela” seperti itulah arti tatapan HyeRa. “Hehe… Kau kan tidak memakai barang kotor”

 

HyeRa tidak meladeni Syuhan. Dia ingin segera pulang. Dia angkat ponselnya. Dia hubungi seseorang.

 

Ketika panggilannya diterima, “Oppa dimana?”

 

“Dihalaman sekolah. Aku yang menjemput nona”

 

Good. Lari kekelasku sekarang. Oppa harus sampai dalam satu menit” begitu selesai bicara dia tutup telponnya. Sebelumnya Paman Song mengirimkan pesan kalau bukan Paman yang menjemputnya.

 

Syuhan menatap HyeRa bingung. Siapa yang baru saja dia hubungi?

 

HyeRa bersandar pada kursi. Dia lipat kedua tangan dan memangku kaki. Dia juga menutup mata.

 

Syuhan yang siap membuka mulut langsung tertahan karena ucapan HyeRa, “Kau duluan saja”

 

Syuhan tidak bisa melakukan itu, “Aku tidak bisa meninggalkanmu”

 

HyeRa menghela pasrah, “Terserah”

 

Dalam hati Syuhan merasa senang. Ada yang menolongnya. Selama ini, setiap dia terjatuh tidak ada uluran tangan untuknya. Mereka yang melihat justru menertawakannya. Mereka selalu menganggapnya sebagai lelucon. Apalagi tubuh kecilnya selalu tumbang jika bertabrakan dengan orang lain. Dia sangat lemah.

 

“Siapa yang akan datang?” Syuhan beranikan diri untuk bertanya. Dia siap menerima balasan pedas HyeRa karena dia telah menganggu ketenangannya.

 

Tapi suara langkah yang berhenti didekat pintu menjawab pertanyaan Syuhan. Pria berwajah tampan dengan lesung pipi disebelah kiri itu nampak terengah-engah. Dia menuruti perintah HyeRa untuk berlari dan sampai dalam waktu satu menit.

 

“Nona” panggil Hongbin setelah sampai disamping HyeRa, “Ada apa? Apa terjadi sesuatu yang buruk pada nona?” tanyanya khawatir. Hongbin adalah keponakan Paman Song yang bekerja dirumahnya sebagai pengurus kebun. Tapi dia sering menjadi supir HyeRa menggantikan Paman Song.

 

“Sepatuku hilang” HyeRa berdiri sambil menunjukkan kakinya.

 

“Hah??? Bagaimana sepatu nona bisa hilang?”

 

“Kalau aku tahu bukan hilang namanya!” balasnya ketus. Dia tidak mau ditanya lagi.

 

Hongbin malah tersenyum. Dia tidak tersakiti mulut pedas HyeRa. Dia terbiasa setelah bekerja dengannya. Sebenarnya HyeRa adalah anak yang baik.

 

“Naiklah kepunggungku”

 

Itulah rencana HyeRa. Dia memang memanggil Hongbin agar dia menggendongnya. Dia memakai tas lalu bersiap. Dengan cekatan, Hongbin mengangkat HyeRa dipunggungnya. HyeRa melingkari lehernya. Tubuh nonanya sangat ringan. Dia tidak keberatan.

 

“Ah, annyeonghaseyo” Hongbin menyadari kehadiran Syuhan.

 

Annyeonghaseyo” balas Syuhan cepat.

 

“Apa kau teman nona HyeRa?”

 

“I-iya. Namaku Syuhan” dia membungkuk lagi.

 

“Terima kasih telah menemaninya. Dia pasti mengusirmu tadi. Padahal, nona tidak suka sendirian”

 

HyeRa mencubit gemas pipi Hongbin. “A-a-aaa-aaaa… Nona nona… sakit”

 

“Cepat jalan cerewet”

 

“Iya iya. Baiklah” tapi Hongbin tersenyum setelah pipinya terbebas dari tarikan ganas HyeRa. Walaupun sakit, dia tidak marah. “Kau tidak pulang?”

 

“Aku juga mau pulang sekarang”

 

Hongbin berjalan lebih dulu. Syuhan mengikuti dibelakang. Dia perhatikan dua orang didepannya. Dia semakin senang, ada yang menganggapnya.

 

Dipintu utama, Hongbin dan Syuhan berpisah. Hongbin menuju parkiran. HyeRa nampak tenang dipungungnya. Dia bahkan menyandarkan kepalanya dipundak Hongbin.

 

Suho yang belum pulang dan tengah bersandar dimobilnya sambil mengobrol dengan Baekhyun, Chanyeol, Kai, dan Sehun melihat HyeRa yang digendong seorang pria disaat mereka tengah membicarakan gadis itu. Mereka juga sedang menertawainya. Tapi tawa itu reda setelah apa yang mereka lihat. HyeRa nampak tidak masalah dengan kondisi kakinya.

 

Hongbin memasukkan HyeRa dengan hati-hati. Setelah itu dia berlari menuju pintu dibagian kemudi. Beberapa menit kemudian, sedan hitam HyeRa meninggalkan parkiran sekolah.

 

Suho memukul mobinya dengan keras. Dia mengagetkan teman-temannya. Dia marah. Dia tidak suka!

 

Dia segera masuk kedalam mobil lalu melajukannya dengan cepat. Melihat HyeRa digendong laki-laki membuat darahnya mendidih. Dia sukses dibuat kacau oleh gadis itu. Dia semakin dalam menginjak pedas gas. Dia harus membuat perhitungan dengan HyeRa. Dia harus segera membuat gadis itu tunduk padanya.

 

 

 

 

…………………………………………………

 

 

 

 

Setelah selesai dari les tambahan, Sooyong tidak langsung pulang. Dia pergi ke mall untuk menghilangkan suntuk. Hari ini dia tidak perlu risih karena penjaganya tidak nampak disekitar.

 

Sepulang sekolah tadi, dari kejauhan Sooyong melihat pria berwajah sangar dengan mata sipit itu berdiri didepan pintu gerbang. Setiap hari pria itu yang mengantarnya pulang. Tentu saja dia selalu menolak, tapi kekuatan pria itu sama sekali bukan tandingannya.

 

Semenjak Sooyong mengenalnya sebagai anjing pemburu keluarga Do, dia tidak pernah menampakkan ekspresi berarti. Sooyong tidak tahu kenapa, mungkin karena pria itu tidak punya yang namanya hati. Dengan tangannya dia bisa menghabisi beberapa orang sekaligus. Tatapan matanya yang tajam mampu membuat sang lawan tunduk.

 

Setelah bosan berkeliling mall, Sooyong menunggu taksi didepan gedung.

 

Annyeong~” seorang laki-laki dengan wajah manis berseragam Sekang High School menyapanya.

 

“Kau mengenalku?” tanya Sooyong langsung.

 

“Tentu saja aku mengenalmu. Siapa yang tidak kenal Kim Sooyong. Gadis cantik yang populer dari Genie. Semua pria disekolahku membicarakanmu”

 

Sooyong mengangguk seadanya.

 

“Aku, Kim Hanbin. Eung~ apa aku boleh minta nomor kontakmu?”

 

Pertanyaan Hanbin tidak langsung Sooyong jawab. Dia perhatikan laki-laki itu dari atas sampai bawah. Dia sedikit tahu tentang laki-laki ini dari sepupunya yang juga sekolah di Sekang. Tanpa berpikir lebih lama, dia pun tersenyum dan mengangguk.

 

“Ah gomawo” wajah Hanbin berseri. Dia keluarkan ponsel lalu menyerahkannya pada Sooyong. Baru saja Sooyong menerima ponsel Hanbin, sebuah tangan kekar mencengkram lengan Hanbin dengan keras.

 

“Bokdong-ah!” Sooyong kaget mengetahui kehadiran sang penjaga. Disitu dia tersadar kalau dia sama sekali tidak pernah lepas dari pengawasan Kyungsoo.

 

Tanpa mempedulikan Sooyong, kini dia mencengkram kerah baju Hanbin membuat laki-laki itu pucat pasi. Hanbin tahu, berurusan dengan Bokdong sama dengan bunuh diri.

 

“Jangan pernah mendekatinya lagi. Kalau tidak, kau tahu kan akibatnya!” ancamnya. Lalu dia mengambil ponsel Hanbin ditangan Sooyong kemudian mengembalikannya dengan kasar.

 

Tanpa peduli teriakan Sooyong, pria itu menyeretnya pergi menjauh.

 

 

 

 

………………………………………………

 

 

 

 

Pria itu membawa Sooyong ketempat motornya diparkir. Dia akan mengantarnya pulang. Dengan sekuat tenaga, Sooyong menarik tangan dalam cengkraman Bokdong. Dia meringis sambil mengelus pelan lengannya yang memerah. “Apa kau gila!” teriaknya marah.

 

“Kau yang membuatku melakukan hal ini. Kau tahu, besok mungkin laki-laki itu-“

 

“Jangan ikut campur sekalipun Kyungsoo menyuruhmu! Aku sudah pusing dengan masalahku kenapa kau membuatnya jadi semakin rumit?! Sebenarnya apa tujuan utamamu melakukan semua ini? Karena uang kan?”

 

Pria itu diam tak bicara. Dia hanya menatap gadis didepannya.

 

“Berapa Kyungsoo membayarmu? Aku akan membayarmu dua kali ah bukan, sepuluh kali lipat asal kau menghilang dari kehidupanku!!!”

 

“Hhhhh… Tidak semudah yang kau bayangkan, Kim Sooyong. Kau pikir aku senang melakukan ini padamu? Kenapa kau begitu keras kepala hah? Kau hanya perlu menuruti apa yang dia mau. Berhentilah bersikap sok jual mahal. Kau-“

 

PLAK!!!

 

Kata-katanya terhenti begitu tamparan keras mendarat dipipi kirinya.

 

“Kalau begitu, kenapa kau tidak membunuhku saja? Selama aku hidup, kau, Ibuku, dan Kyungsoo adalah orang yang selalu membuatku menderita. Hanya dengan melihat wajah kalian sudah membuatku sangat frustasi dan rasanya ingin mati, tapi aku menahannya karena Ayahku” Sooyong menatap pria itu dengan mata memerah. Nada suaranya bergetar menahan tangis.

 

“Awalnya kupikir kau adalah orang baik meski kau tidak bisa menunjukkan perasaanmu. Tapi ternyata aku salah. Kau lebih menjijikan. Kau hanya pecundang yang rela mengorbankan harga diri demi sebuah loyalitas”

 

“Hentikan!”

 

“Kenapa? Aku benar kan? Dan kau tidak sadar apa mungkin kau sudah sadar kalau selama ini Kyungsoo dan teman-temannya hanya memanfaatkanmu”

 

“Aku bilang hentikan!!!” dengan emosi yang memuncak karena perkataan Sooyong, pria itu gelap mata. Dia pegang kedua pundak Sooyong lalu mendorongnya ke tembok. Dia menatap gadis itu dengan ekspresi yang sulit digambarkan. Semua perkataannya memang benar. Tapi dia tidak punya pilihan.

 

Kini Sooyong menatapnya dengan takut. Wajah putihnya sedikit basah karena buliran bening yang akhirnya menetes tanpa bisa dia tahan.

 

Pria itu menyerah untuk tidak berbuat lebih jauh yang akhirnya hanya akan menyakiti Sooyong. Dia angkat kedua tangan yang memegang keras pundak Sooyong. Dia sadar pasti Sooyong kesakitan sekaligus takut. Dia tidak boleh menyakiti gadis ini sedikitpun. Bukan karena Kyungsoo akan menghabisinya, tapi karena dia tidak tega melakukannya. Dia takut Sooyong semakin membencinya. Dalam hati dia menyesal. Kenapa dia dengan begitu mudah emosi hanya karena perkataan Sooyong. Selama ini sudah menjadi hal biasa setiap kali Sooyong berkata kasar padanya.

 

Dia hanya merasa sedih ketika Sooyong bilang kalau dia juga termasuk orang yang selalu membuatnya menderita. Seharusnya dia melindungi Sooyong. Tapi hubungan balas budinya dengan Kyungsoo membuatnya jadi kacau seperti ini.

 

“Sekarang lebih baik kita pulang. Dan angkat telponmu. Aku pusing mendengar rengekan Kyungsoo karena kau tidak mengangkat telponnya” dia mengambil helm lalu menyerahkannya kepada Sooyong.

 

Tapi gadis itu tidak bergeming. Dia kembali menatapnya, “Suasana hatiku sangat buruk. Aku tidak mau pulang denganmu”

 

“Yak!”

 

“Mulai besok, jangan tunjukkan wajahmu didepanku karena itu akan membuatku semakin kesal dan marah kau mengerti!” setelah selesai bicara Sooyong mengangkat kaki dari tempatnya berdiri.

 

Beruntung ada taksi yang lewat. Dengan terburu-buru Sooyong masuk. Dia tidak tahan berlama-lama dengan Bokdong. Dadanya terasa begitu sesak.

 

 

 

 

………………………………………………..

 

 

 

 

“Aku pulang, Bu” Sooyong menyapa Ibunya, Nyonya Choi, diruang kerja.

 

“Mm. Beristirahatlah” suruhnya tanpa melirik Sooyong sedikitpun. Dia tengah sibuk menatap layar laptop didepannya.

 

Sooyong tidak segera beranjak. Dia ingin mengatakan sesuatu pada Ibunya. “Bu, aku-”

 

“Ibu dengar anak tuan Shin pindah kesekolahmu. Apa itu benar?”

 

“Maksud Ibu Shin HyeRa? Dia-“

 

“Shin HyeRa adalah murid yang sangat pintar meski dia sering membuat masalah. Kau harus berhati-hati. Jangan sampai nilaimu kalah darinya kau mengerti!”

 

Sooyong mengangguk.

 

“Tadi kau mau bicara apa?”

 

“Tidak ada. Kalau begitu selamat malam, Bu” Sooyong menyudahi percakapan singkat dengan Ibunya. Dia segera masuk kamar dengan wajah lesu. Dia rebahkan dirinya di ranjang yang empuk.

 

Dia melihat sekeliling kamarnya, semuanya mewah namun terkesan dingin. Dia menatap wajahnya dikaca. Dia cantik dan pintar. Semua orang iri padanya. Hidupnya bahkan bergelimpangan harta, tapi dia tidak merasa bahagia. Dia justru tertekan. Dia lelah selalu dituntut untuk tampil sempurna. Dulu, Ayah yang membuatnya terus bertahan sampai perceraian kedua orang tuanya tak terelakan serta meninggalkan luka besar dihatinya. Dia berubah menjadi gadis dingin dan egois.

 

Tidak berapa lama, matanya terpejam. Dia berdoa dalam hati, semoga ada keajaiban yang menantinya esok.

 

 

 

 

tbc ~

4 thoughts on “Love Killer (part 1)

  1. suho hyera lucu …banyakin moment mereka …suka adegan yg mirip d Boys over flower bedanya disini hyera kaya klo jandi kan miskin… ditunggu kelanjutannya…
    oh ya knp sooyong kykny g nrima kyungsoo ?

  2. jalan ceritanya keren ya sebenernya gua malah jadi penasaran sama kyungsoonya hehehe…

    apa nanti pas kyungsoo balik lagi terus ngeliat hyera dia bakal suka gak sama hyera?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s