PCY’s EX Series: #4 Noona

[PCY's EX Series] #2 If Clause

PCY’s EX Series: #4 Noona

Previous: #1 First Impression | #2 Bride is You | #3 Finest Present

deera

Cast: Park Chanyeol, Lee Seonmul | Genre : Comedy, bitter romance | Rating: Teen | Length: Ficlet Series

.:Tidak ada fiksi yang original. Bisa saja kisah itu datang dari masa lalumu, curhatan sahabatmu, kejadian yang kau temui pagi ini di jalan, atau kelak akan membuatmu bergumam, “Ini aku banget!

Selamat tenggelam dalam setiap cerita!:.

‘Bercerita soal…, mantan pacar?’

.

.

.

Sedikit mengurangi gerogi, aku menyeruput minuman kopi kaleng dingin yang sedari tadi ada di genggaman tangan yang ikut menjadi dingin saat berdiri bersebelahan dengannya. Ya, akhirnya aku menghampirinya yang masih berdiri melihat ke arah papan buletin. Entah masih meraba, kira-kira tulisan tangan siapa yang ada di kertas pesan itu, atau sedang membaca artikel yang lain. Tampaknya, dia tidak menyadari kehadiranku. Lagi-lagi aku harus sedikit bersabar.

Sekilas, aku melihat ada artikel lain yang menarik di sana. Ada artikel berisi tips-tips bermanfaat, ada juga cerpen hasil kiriman siswa, ada puisi juga, ada liputan mengenai kegiatan sekolah….

“Sepertinya aku baru pertama melihatmu.”

Aku menoleh. Seonmul sedang melihatku. Aku memalingkan wajah ke sisi yang lain dan tidak ada orang selain kami.

“Aku sedang bicara denganmu.”

Aku menoleh kembali ke arahnya. Benar saja, dia bicara padaku. Aku menelan ludah. Berusaha mengingat seperti apa lekuk nada suaranya. Sedekat ini…. Senyata ini.

“Aku?” tanyaku kaku.

“Iya. Aku baru melihatmu,” katanya sambil menerawang. Mungkin sedang membongkar ingatannnya mengenai wajahku yang ‘dirasanya’ baru dia lihat hari itu. Padahal kalau dia lebih peka, dia seharusnya ingat aku yang waktu di depan lab tidak sengaja menabraknya dan menjatuhkan barang-barang bawannnya. Juga aku yang berlari ke hadapannya saat hendak  mengambil bola yang tiba-tiba saja bergulir tepat ke kakinya. Juga aku yang berdiri tepat di belakangnya sewaktu mengantri makan di kantin. Juga aku yang waktu itu, di pagi hari, secara tidak langsung menyambut kedatangannya di gerbang sekolah.

“Aku juniormu, Sunbaenim.”

Matanya membulat tanda terkesiap. Apa yang dia herankan dari jawabanku? Dia melihatku dari bawah sampai akhirnya mata kami bertemu lagi di satu titik yang sama, “Kau tinggi sekali!”

Aku cukup tersipu dengan respon kagetnya yang secara tidak langsung memujiku. Sebisa mungkin aku tidak menunjukkan senyum berlebihan yang sebetulnya sudah terlebih dulu mengembang di dalam hati. Berdesir lembut…., menyenangkan.

“Namaku Seonmul. Jangan panggil aku dengan ‘sunbae’. Noona saja. Dan kau…,” ia menyipitkan mata. Pandangannya tertuju pada name tag di seragamku. “Park Chanyeol?”;

Ne…, Noona.”

Dan itu menjadi percakapan pertamaku dengannya. I still remember the first day I look into her eyes till deep from our very first conversation.

Hari-hariku cukup berubah setelah perekenalan itu. Sekarang, setiap bertemu Seonmul—entah itu di kantin, di perpustakaan, di koridor, di dekat ruang guru, dia selalu menyapaku terlebih dulu. Dia tersenyum lebar dan memanggilku, sekalipun itu dari kejauhan, sambil melambaikan tangan. Padahal di situ banyak teman-temannya yang melihat aneh ke arahku. Sempat pula aku merasa tidak percaya diri. Teman-temannya terlihat underestimate padaku. Sepertinya kumpulan itu berpikir, kenapa bisa Lee Seonmul kenal baik dengan anak ingusan yang berjalan bungkuk itu? Aku dengan Seonmul noona memang tampak seperti ratu sejagat dan ahjussi penjaga pemakaman jika bersama. Dengusan keras yang kulontarkan tak lantas membuat penat itu hilang barang sebentar.

.

.

.

“Hai!” pekiknya girang.

“Lagi apa? Kok sendiri?” tanyaku.

“Haus. Jadi minum ke kantin.”

“Oh.”

Aku melihat matanya berbinar. Entah apa yang dia pikrikan tentang aku, tapi melihat dia seceria ini ketika bersamaku, betapa bangga diriku ini. Lee Seonmul yang setengah tahun kemarin hanya bisa kulihat dari jauh, sekarang duduk semeja denganku di kantin. Lee Seonmul yang setengah tahun lalu hanya bisa kuajak bicara lewat punggungnya, sekarang sudah tak terhitung berapa cerita yang kami bagi bersama.

“Kenapa kau pakai seragam olahraga, Chanyeol-ah?” “tanyanya tiba-tiba.

“Aku sedang latihan persiapan kejuaraan.”

“Oh iya?” Suaranya kembali naik beberapa oktaf. Air mukanya kembali antusias. Seutas senyum mengembang di bibirku, tak kuasa untuk tidak terbawa menyeringai melihat lebar senyumnya.

“Apa kau seorang atlet?”

Ne. Taekwondo.”

Sempat matanya membulat. Entah kaget, tidak percaya, atau meremehkan. Tapi kemudian senyumnya semakin lebar. Dia mencecarku dengan pujian-pujian dan pertanyaan seputar kejuaraan. Dia mendengarkan dengan cermat. Ditumpunya dagu dengan kedua telapak tangan dan siku yang tegak lurus dengan meja. Bercerita dengannya membuatku merasa didengar. Dia selalu senang mendengar ceritaku yang sebagian besar tidak penting. Dia suka tertawa di bagian-bagian kalau aku menderita. Dia selalu meledek cerita-cerita ketololanku.

Kemudian aku menyimpulkan sesuatu.

“Tidak ada orang yang tidak mengenalmu, Noona. Beda denganku,” kataku merendah. Bukan sih, memang kenyataannya begitu. Aku hanya mencoba jujur pada diri sendiri. Posisiku masih rendah untuk bisa bermimpi bersanding dengannya.

Telunjuknya mendarat di atas dahiku. Sekali-kalinya aku diperlakukan begitu olehnya dan dia malah asyik tertawa. “Bicara apa kau, Park Chanyeol?”

“Sedari tadi banyak yang memperhatikanmu, Noona. Mungkin mereka berpikir, apa yang dilakukan Lee Seonmul Supermodel bersama dengan bocah tengil ingusan ini. Tidak sebanding.”

“Kau tidak ingusan, Chanyeol-ah.”

“Memang tidak sedang flu, sih.”

Dia tertawa. Aku jadi ikut tertawa.

“Memang apa yang sedang Lee Seonmul lakukan dengan bocah tinggi di kantin?” dia meniru nada bicaraku.

“Lee Seonmul sedang menggodanya,” jawabku asal.

“Oh iya? Memangnya bocah tinggi itu menyukai Lee Seonmul?

“Siapa yang tidak menyukaimu, Noona.”

Dia tertawa lagi. “Jawaban standar.”

“Standar yang ketinggian.”

“Maksudnya aku? Bukankah kau yang lebih tinggi dari aku?”

“Dan tampan. Jangan lupa.”

“Kamu melihat aku seperti apa, Park Chanyeol?” tanyanya tiba-tiba.

Aku diam. Menyiapkan jawaban yang tepat, yang pas, yang bagus, yang kira-kira bisa dianggap ‘wah’ olehnya. Tapi aku tidak bisa berpikir hal lain yang lebih dari ini, “Sebagai perempuan.”

Karena tak kunjung ada respon, aku kembali bertany, “Kenapa Noona bertanya seperti itu?”

Dia mendongak. Wajah kami hanya terpaut jarak kira-kira sepuluh senti. Aku bahkan bisa merasakan hembusan napasnya yang bau permen karet mint yang baru saja dilahapnya. “Just…, wondering.”

“Kenapa Noona ingin tahu?”

“Apa aku tidak boleh minta penilaian orang tentang diriku? Aku ingin tahu, bagaimana orag melihatku.”

“Kenapa kau bertanya padaku?”

Oke. Rasa keingintahuanku saat itu terlalu berlebihan. Karena akhirnya, dia tidak menjawab pertanyaan yang itu. dia langsung membelokkan topik ke hal-hal lain.

“Kamu keliatan salting,” sahutku.

Dia melihatku tajam. Tatapnya mulai berubah sejalan dengan gerak tubuhnya yang mulai terbaca tidak nyaman. Matanya berkedip dua kali. Dia menggeser duduknya, mendekat ke depan, dan menumpangkan kakinya di bawah meja. Ia memasukkan lagi sebugkus permen karet mint ke dalam mulutnya. Hampir saja dia menyambar, sebelum akhirnya aku terlebih dulu bicara, “Aku menyukaimu, Noona. Teramat suka sampai…, rasanya mau meledak.”

Kali itu, diamnya benar-benar pas. Kami berhadapan, saling melihat, dan hanya diam yang menyelubungi. Balon dari permen karet di mulutnya meledak. Dia menjilati bibirnya dan kembali mengunyah permen karetnya dengan tenang.

Dia lantas tersenyum.

Hanya tersenyum.

Dan terus tersenyum.

.

.

.

-End of #4 Noona-

Iklan

10 thoughts on “PCY’s EX Series: #4 Noona

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s