Sing For You

exo-sing-for-you-teaser-img-1-800x450

Sing For You

 

Author : Tsalza Shabrina | samshinfiction.wordpress.com

 

Park Chanyeol, Oh Sehun | Friendship, oneshot, songfic

 

A/N : aku saranin baca ini sambil dengerin lagu song for you haha soalnya aku nulisnya sambil dengerin song for you. Semoga kalian suka ya🙂

 

***

 

Kedua mata Chanyeol terpejam, senyuman kecilnya terulas ketika mendengar suara senar dari petikan jemarinya sendiri. Berada diruang latihan kosong dengan kaca mengelilingi ruangan bukanlah suatu hal yang menarik untuk Chanyeol. Malah rasanya sangat tidak nyaman, karena ia hanya sendiri. Diruang dingin ini.

 

Suara nyaring gitar kesayangannya berubah berantakan ketika tiba – tiba ia memainkannya dengan sembarangan, meletakkannya kasar disamping tubuh. Senyumannya telah hilang, usaha untuk mengembalikan mood -nya gagal sudah. Suasana hatinya masih dirundung kehampaan. Rasanya seperti ada sedikit banyak ruang yang kosong didadanya. Dan itu tidak baik untuk Chanyeol yang notabene-nya adalah mood maker di dalam grupnya itu.

 

Munafik memang jika ia berkata bahwa ia selalu bahagia dalam keadaan apapun. Manusia macam apa yang bisa selalu bahagia sepanjang waktu? Memang pada awalnya tidak sulit untuk menjadi pria ceria, bagi Chanyeol. Namun akhir – akhir ini sedikit berbeda.

 

Jika biasanya hanya sesekali ia mengunjungi ruang latihan kosong setiap dini hari. Tapi sekarang sudah hampir setiap hari ia mengunjungi tempat ini. Hanya sebuah gitar yang menjadi temannya. Tak ada satu pun member yang tahu tentang ini, Chanyeol pun tak ingin ada yang tahu jika ia selalu mengunjungi ruang latihan sendiri ketika suasana hatinya buruk. Dia bukan tipikal pria yang suka mengumbar – umbar kesedihannya. Tapi dia adalah tipikal pria bodoh yang selalu menghibur orang lain dengan segala tawa palsunya. Tanpa peduli akan kebutuhan mentalnya sendiri.

 

Banyak hal buruk terjadi menimpanya, menimpa teman – teman satu tim-nya. Menjadi salah satu anggota grup yang mendunia dengan cepat memang bukanlah hal yang mudah. Tak membutuhkan 2 tahun, ia dan teman – temannya sudah memiliki fans sampai diluar Korea Selatan. Album yang terjual luar biasa, dan respon sangat baik telah mereka terima selama 3 tahun ini. Bahkan kini mereka sudah bisa melakukan world tour concert ditahun ketiga sejak debut. Bukankah hal itu sangat mengagumkan? Tapi yang terlihat sangat mengagumkan, belum pasti begitu menyenangkan.

 

Segala macam skandal telah melanda mereka. Mulai dari hal kecil seperti mengucapkan kata kotor hingga kencan. Segala masalah yang terjadi memang membuat mereka merasa canggung sesekali. Tanpa sadar men-kambing hitamkan si pembuat masalah, tapi semua itu bisa mereka lewati seiring berjalannya waktu. Lambat laun mereka bisa menyadari tak ada gunanya untuk mengasingkan pembuat masalah dan akhirnya membuat segalanya menjadi semakin tidak nyaman.

 

Namun satu hal yang tak bisa Chanyeol percaya adalah pengkhianatan. Memang sangat berlebihan jika ia menyebutnya sebagai sebuah pengkhianatan. Tapi jujur saja, ia merasa seperti dikhianati. Bahkan rasanya lebih menyakitkan dari pada saat ia ditinggal kekasihnya berselingkuh. Tawa culasnya terdengar, merasa bahwa kini ia sudah terlalu jauh mengartikan.

 

“Apa yang kau lakukan disini, hyeong?” Tubuh Chanyeol berjengit, menatap kearah ambang pintu. Menemukan Oh Sehun yang tengah menatapnya bingung.

 

Chanyeol mengulas senyuman kecil, mengangkat gitarnya tanpa berucap apapun. “Kau berlatih lagi? Sampai sepagi ini?” Sehun mengangguk sekadar, memasuki ruang latihan kemudian mengambil tempat disamping Chanyeol. Meminum air mineralnya hingga habis, masih ada beberapa peluh yang mengaliri wajahnya. Tapi tak nampak sedikit pun kelelahan diwajah Sehun.

 

Mereka hanya diam, mendengar hela napas masing – masing dengan pikiran yang melalang buana entah kemana. Pikiran Chanyeol tentang pengkhianatan sudah hilang terbawa angin, kini ia mengkhawatirkan Sehun yang selalu mengahabiskan waktu untuk berlatih tanpa lelah. Anak kecil itu kini sudah berubah lebih dewasa.

 

Jika biasanya Sehun sering malas berlatih, berbeda dengan Jongin yang jauh lebih giat. Seolah hidupnya hanya untuk menari. Tapi kini Sehun lebih bekerja keras daripada Jongin. Memang biasanya ia lebih sering melontarkan lelucon bodoh dan bermain – main seperti anak kecil disiang hari. Namun di malam hari ia berubah menjadi seekor kelelawar. Yang ia lakukan hanyalah menari sampai persediaan air mineralnya habis. Jika dipikir – dipikir Chanyeol dan Sehun memiliki banyak kesamaan. Chanyeol yakin, Sehun lebih banyak mengalami waktu sulit daripada dirinya.

 

Helaan napas panjang Chanyeol kembali keluar untuk kesekian kalinya, otak liarnya kembali pada pembahasan yang sempat hilang. Ia memejamkan kedua mata, bersandar pada dinding kaca tanpa suara. Soal pengkhianatan itu, mungkin ia tidak akan berpikir sejauh itu jika Kris, Luhan dan Zitao membicarakan masalah mereka bersama – sama dulu. Mungkin ia tidak akan berpikir sejauh itu jika mereka mengatakan keluh kesah mereka pada yang lain dan menyelesaikannya bersama – bersama. Dan mungkin saja jika itu semua terjadi, tak akan ada kekacauan seperti ini.

 

Tanpa mengucapkan selamat tinggal dan tanpa penjelasan apapun tiba – tiba masalah itu terungkap diseluruh media. Sungguh, Chanyeol kesal. Sangat kesal. Tapi ia bisa apa ketika Suho sudah terlihat begitu emosi. Baekhyun dan Chen juga sudah duduk lemas dengan wajah melankolis. Xiumin, Yixing dan Kyungsoo yang hanya diam ditempat sepi-mereka memang tidak pintar berekspresi tapi meski begitu Chanyeol yakin banyak hal yang mereka pikirkan. Sehun tiba – tiba menghilang entah kemana, Jongin pergi menemui Taemin. Hari itu benar – benar hari yang kacau, manajer menyuruh mereka untuk tetap didalam dorm. Chanyeol saat itu tak tahu harus berbuat apa, bodohnya pada situasi seperti itu ia malah merasa bersalah karena tak dapat berperan apapun untuk mengembalikan suasana mengesampingkan rasa kesal dan marahnya sejenak. Ia hanya bisa membantu manajer menghubungi Sehun yang masih belum diketahui keberadaannya.

 

Hyeong!”

 

“Hm?” Kedua mata Chanyeol masih terpejam.

 

“Aku tiba – tiba ingin makchang.

 

“Dini hari seperti ini, mana ada yang menjual makchang?”

 

Tawa kecil Sehun terdengar, “Apa Kris hyeong pernah menghubungimu?” Kedua mata Chanyeol terbuka.

 

“Kenapa tiba – tiba menanyakan Kris hyeong?” Sehun mengangkat bahu asal, tawa kecilnya kini berubah menjadi senyuman patah. Jujur saja, ia rindu hyeong yang sering menemaninya membolos latihan itu.

 

“Tiba – tiba aku ingin pergi makan makchang dengan Kris hyeong.” Chanyeol memilik tak bereaksi apapun pada kalimat Sehun. Ini pertama kalinya Sehun membahas hal ini dengan Chanyeol sejak kepergian mereka. Chanyeol kira Sehun benar – benar marah hingga membenci mereka. Tapi ternyata sekali lagi, Sehun sama dengannya.

 

“Tao meneleponku 2 hari yang lalu.” Lanjut Sehun, membuat Chanyeol terkesiap. Sontak menoleh kearah Sehun. “Tapi jangan katakan siapa – siapa, katanya dia akan kembali ke Korea diam – diam minggu depan.”

 

Alis Chanyeol terangkat, “Kenapa dia kesini? Apa dia akan mengunjungi dorm juga?” Sehun menggeleng pelan.

 

“Kau tahu itu hal yang sangat mustahil, kan? Meskipun ia memang merindukan kita. Tapi dia tak punya keberanian lebih mengunjungi dorm.” Sehun merenggangkan otot – otot yang terasa begitu kaku, meluruskan kedua kaki sebelum melanjutkan “Ada banyak hal yang harus dia urus dengan agensi, juga katanya ingin makan odeng bersamaku.”

 

Chanyeol menghela napas panjangnya. Kembali merilekskan diri dengan cara bersandar. Sekesal apapun ia pada mereka hingga menjuluki mereka pengkhianat. Namun tetap saja, ia tidak bisa menampik bahwa rasa rindu itu ada.

 

Setelah percakapan kecilnya dengan Sehun tadi, membuat Chanyeol sadar. Daripada ia sibuk menyalahkan mereka sebagai pembuat kekacauan, ada hal – hal yang belum sempat ia ucapkan pada mereka. Selama ini mereka juga bagian dari tawa bahagia Chanyeol. Ia baru sadar, jika senyuman dan tangisan mereka sangat berarti untuknya.

 

“Untuk Kris hyeong yang sering menempeliku karena kami punya tinggi hampir sama. Yang seringkali membuat kami semua tertawa karena tingkah tak terprediksinya.

Untuk Luhan hyeong yang selalu bersikeras menekankan jika dirinya adalah lelaki sejati dibalik wajah cantiknya. Yang sering mengalahkanku bermain basket dan juga selalu mengkhawatirkanku.

Untuk Tao, anak kecil kami yang memiliki jiwa feminim dibalik tatapan tajamnya. Yang selalu memaksaku dan Suho hyeong untuk mentraktirnya segala hal.

 

Meski aku tahu mengatakan ini sangat terlambat.

Meski aku tahu jika aku menyadari hal ini sangat terlambat.

Dan meski ini memang sedikit canggung jika kukatakan,

Tapi masa bodoh! Aku mencintai kalian.”

 

Chanyeol tersenyum dalam pikirannya, ruang kosong itu rasanya sedikit demi sedikit terisi. Selama ini ia hanya sibuk menjuluki mereka pengkhianat. Namun kini ia tahu, segala hal tidak terjadi dengan sederhana hingga mereka pergi tanpa berucap apapun. Hal yang Chanyeol tahu adalah sebelumnya mereka baik – baik saja. Mereka minum soju bersama, bermain bersama, dan tertawa bersama seolah tak ada hal buruk yang akan terjadi. Tapi ada banyak hal yang Chanyeol tidak tahu, pasti berat untuk mereka memikirkan masalah sendiri hingga memutuskan untuk pergi. Tak mudah memang mengatakan masalah mereka pada semua orang. Bahkan Chanyeol pun merasa hal itu sangat sulit untuknya pula. Sebenarnya tidak ada yang salah. Hanya situasi dan takdir yang tidak mendukung mereka untuk bersama.

 

Menyahut gitar disampingnya, Chanyeol bersiap untuk kembali menyentuh senar itu lagi.

 

Wae? Sesuatu datang?” Sehun hafal jika Chanyeol seperti itu, berarti otaknya baru saja diilhami sesuatu.

 

Chanyeol hanya mengangguk sebagai balasan, tak tertarik untuk menjawab pertanyaan Sehun dengan ucapan. Kedua matanya sesekali terpejam ketika suara alunan gitarnya mengalun sesuai dengan suasana hatinya.

 

“Kali ini lagu apa?” Kembali Sehun bertanya.

 

“Lagu untuk kita.” Jawab Chanyeol tersenyum sebentar kearah Sehun sebelum memejamkan kedua mata.

 

 

Aku berharap bisa bertemu kalian lagi diwaktu yang lebih baik.

 

-Park Chanyeol

 

 

END

 

 

3 thoughts on “Sing For You

  1. Aku ga tau hrs komen apa, yg aku tau ceritanya sgt bgs. Jujur aku bukanlah exo-l, maksudku aku baru mengenal Chanyeol lewat ff belakangan ini. Jadi aku lgsg tertarik padanya dari sekian member exo. Jadi intinya aku ga terlalu tau masalah ttg exo sampai2 tiga member mereka keluar. Tapi ff nya keren bgt. Ku tunggu karyamu selanjutnya.

  2. Double….wow….keren….banget…..daebakk….membacanya…serasa ikut merasakan rasa sakit….rasa sedih yg mereka rasakan….wah..au udh gk bisa ngomng apa2 lagi…ff yg sempurna…👍👍 untuk kak author…😊

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s