Bittersweet : She’s My Girlfriend

bittersweet

Author : Iefabings

Main Cast :

  • EXO’s Kai as Kim Jongin
  • Red Velvet’s Seulgi as Kang Seulgi
  • EXO’s Sehun as Oh Sehun

Supporting Cast :

  • f(x)’s Krystal as Jung Soojung
  • Red Velvet’s Wendy as Son Seungwan

Genre : Romance, hurt, college life, friendship

Rating : PG-13

Length : Multi Chapter, currently 7

Previous Chapters : The CircleHe’s My BoyfriendI Hate YouA Weird DreamApologyWhat If |

Author Note : Ini sangat pendek. Udah itu aja. Wkwkwk

^^Selamat Membaca^^

“Bagaimana kalau ternyata aku menyukaimu?”

Tawa Seulgi berhenti seketika. Suhu tubuhnya jadi tidak stabil dan jantung berdegup makin kencang. Apa pendengarannya tidak salah? Baru saja Jongin menyatakan perasaan padanya. Lalu dia teringat mimpi-mimpi aneh itu. Tentang Jongin dan dirinya. Apa yang harus dia lakukan jika Jongin benar menyukainya? Dia sudah memiliki Sehun….

“Hahaha,” tawa Jongin meledak, membuat Seulgi menghela nafas lega. Ternyata Jongin hanya bergurau. Bagaimana bisa dia berpikir ucapan tadi adalah serius? Seulgi pun ikut tertawa dengan canggung. Dia merasa malu pada dirinya sendiri yang sempat menganggap Jongin benar-benar menyukainya. Lagi pula, bukankah Jongin menyukai Soojung? Memang belum ada wacana apa pun mengenai hubungan mereka, tapi Seulgi yakin di antara mereka berdua ada sesuatu.

“Sepertinya sudah mulai larut, aku harus segera pulang,” kata Seulgi, melepas tangannya dari pundak Jongin.

“Hanya sebentar? Aku masih ingin berdansa denganmu,” keluh Jongin. Seulgi meyakinkan dirinya kalau itu hanya sekedar basa-basi.

“Iya, lain kali kita berdansa lebih lama lagi. Sekarang aku harus segera pulang,” ia menunjuk jam besar di ujung ballroom.

“Seperti Cinderella saja,” cibir Jongin.

“Tentu saja, malam ini aku sedang menjadi Cinderella,” Seulgi terkekeh. “Terima kasih untuk dansanya,” kemudian dia membungkuk ala putri bangsawan.

“Aku yang harus berterima kasih karena bisa berdansa dengan Cinderella,” Jongin balas membungkuk.

“Astaga, kau membuatku tertawa terus.”

“Dan aku bangga karena bisa merebut Cinderella dari pangerannya walau hanya beberapa menit.”

“Maksudmu Kim Minseok?”

“Bukan. Oh Sehun.”

Sejenak Seulgi terdiam. Kegelisahannya akan Sehun kembali lagi. “Aku benar-benar harus pulang. Sampai nanti.”

“Mau ku antar?” tawar Jongin.

“Tidak, tidak perlu. Aku bersama Seungwan,” jawabnya meyakinkan.

“Baiklah, kalau begitu. Selamat beristirahat.”

“Iya, kau juga,” Seulgi sudah mulai melangkah menjauhinya.

“Mungkin nanti aku akan mengirim pesan lagi padamu,” ucap Jongin, membuat Seulgi menoleh sambil terus melangkah.

“Iya, akan ku balas asal tidak sedang tidur,” sahutnya.

“Sampai jumpa. Mungkin besok?”

“Kapan saja.”

“Iya, ku harap segera.”

“Aku pulang, Kim Jongin,” Seulgi benar-benar mengakhiri percakapan mereka dan berjalan menjauh.

***

Sehun meletakkan gelas kesepuluh brandynya dengan kasar ke atas meja. Tidak sabar, dia meraih botol yang masih terisi separuh dan meminum langsung dari sana. Seulgi, Seulgi, Seulgi, pikirannya tak lepas dari nama gadis itu. Setiap kali melirik ponsel, yang dia lakukan hanya membaca semua pesan dari Seulgi dan kemudian menghembuskan nafas kasar.

Sehun, apa kau masih sibuk? Aku baru saja pulang. Acaranya sangat seru. Andai tadi kau datang.

Cukupkan istirahatmu, Sehun-ah. Ku harap kita segera bertemu.

Lalu timbul pertanyaan lain. Tentang bertemukah dia dengan Jongin, dan sejauh mana kedekatan mereka sekarang. Sehun mulai merasa ketakutan—kalau nantinya Seulgi semakin dekat dengan Jongin. Apa yang harus dia lakukan? Sudah 3 hari ia lalui tanpa memeluk Seulgi. Dadanya seperti terhimpit oleh beban pikiran yang tidak jelas. Terlepas dari hal itu, dia sangat merindukan gadisnya.

***

“Delapan belas juta won lebih! Ini jauh melebihi estimasi kita!”

Jongdae bersiul pelan setelah mendengarkan presentasi dari Joohyun, koordinator keuangan The Circle. Mereka sedang mengadakan rapat evaluasi dan pendapatan event pelelangan semalam.

“Dengan dana sebanyak ini, kita bisa memberikan pengobatan gratis untuk seribu orang. Ah, tidak. Seratus ribu pun bisa!” Sunyoung menambahi.

“Apa hanya pengobatan gratis? Kenapa tidak sekalian kita adakan operasi gratis?” sambung Soojung.

“Benar juga. Operasi gratis akan lebih banyak menarik media. Dengan begitu, nama kita lebih dikenal dan mungkin saja banyak sponsor yang tertarik bekerja sama,” Victoria mengangguk setuju.

“Tapi kita tidak tahu operasi apa yang lebih dibutuhkan dan untuk berkoordinasi dengan orang kesehatan agak sulit…” tambah Myungsoo. Mereka semua terdiam.

“Teman-teman, kita butuh Seulgi,” celetuk Minseok.

“Dia tidak mau kembali. Bahkan rayuanku tidak mempan,” Joohyun menggelengkan kepalanya.

“Tapi tiket kita hanya dia. Mungkin jika mengajak temannya juga, dia mau kembali.”

“Teman?” tanya mereka serentak.

“Iya,” Minseok mengangguk. “Semalam dia datang bersama seorang teman kan? Yang menjadi pasangan Jongin.”

“Son Seungwan maksudmu?” sambung Joohyun. “Mereka sangat dekat. Seungwan itu putri direktur Rumah Sakit Hankuk dan ayah Seulgi adalah kepala departemen bedah di sana.”

“Dia adalah golden ticket,” Jongdae menepuk tangannya satu kali. “Maksudku, mereka berdua.”

“Leader-nim, bagaimana menurutmu?” Yuri menyikut Siwon, pemegang keputusan tertinggi.

“Tetap saja sulit membawanya kembali,” ujar Siwon pelan.

“Aku akan membawanya kembali,” semua kepala menoleh pada Jongin, sumber suara. “Aku akan bertanggung jawab. Jadi bersabarlah, dia akan kembali.”

Semuanya tersenyum lega. Mereka mempercayakan semua pada janji Jongin.

***

Jongin melambaikan tangannya ke arah gadis yang baru saja mencapai pintu cafe dengan senyum cerianya. Tidak berlama-lama, malamnya dia langsung mengajak Seungwan bertemu. Tujuannya tak lain adalah untuk membuka jalan agar Seulgi kembali ke The Circle.

“Ingin ku pesankan sesuatu?” tanya Jongin setelah gadis itu duduk di hadapannya.

“Green tea latte saja. Aku juga tidak bisa berlama-lama,” jawab Seungwan.

Jongin memanggil pelayan dan memesankan minuman yang disebutkan Seungwan tadi. Sambil lalu dia membuka ponselnya untuk membalas beberapa pesan.

“Jadi Seungwan-sshi—“

“Kenapa kau masih bersikap formal padaku setelah aku tahu rahasiamu?” potong Seungwan tepat pada intinya. Rahasia yang dimaksud adalah tentang perasaan Jongin pada Seulgi.

“Sungguh, ini bukan seperti yang kau kira. Aku memang menyukainya, tapi bukan dengan cara seperti itu,” Jongin mencoba mengklarifikasi.

“Kau mengatakan itu karena dia sekarang punya pacar,” ucap Seungwan sambil tertawa. “Baiklah, apa yang ingin kau bicarakan?”

“Aku ingin tahu apa mungkin kau berminat bergabung dengan The Circle,” kata Jongin.

“Kau menawariku bergabung? Tentu saja aku mau!”

“Dan mengajak Seulgi untuk kembali,” tambah Jongin.

“Ah… jadi aku dimanfaatkan agar Seulgi kembali ya.”

“Tidak—maksudku memang kami ingin Seulgi kembali. Tapi kami juga benar-benar membutuhkanmu. Kami ingin kalian berdua bergabung.”

Seungwan menopang dagunya—memasang ekspresi berpikir. Kemudian gadis itu tertawa.

“Baiklah, aku akan membawa Seulgi bersamaku nanti. Kapan kalian mengadakan rapat?” tanya Seungwan.

Jongin tersenyum lega. “Besok, jam 7 malam di basecamp. Apa kau bisa menjamin Seulgi akan ikut?”

“Kau meragukan kedekatan kami?” Seungwan mengibaskan rambutnya. “Tapi pesananku malam ini kau yang bayar ya.”

“Apa pun,” jawab Jongin mantap. Dia begitu senang hanya dengan mendengar persetujuan dari Seungwan. Entah senang karena Seulgi kembali ke The Circle, atau senang karena setelah ini dia bisa sering bertemu dengannya lagi.

***

“Aku datang hanya karena dirimu,” ucap Seulgi—yang sudah diulangi berkali-kali. Seungwan hanya cengar-cengir di sampingnya, merasa usahanya berhasil dalam membujuk Seulgi kembali ke The Circle. Dia merengek seharian dengan memastikan bahwa dia hanya butuh ‘teman’ untuk bergabung dalam club itu. Lama-lama Seulgi jengah juga karena teman dekatnya satu ini terus menempel dan merengek seperti anak kecil.

“Berterima kasihlah, aku jadi membuka banyak peluang untuk beramal. Hehehe.”

“Tanpa ikut ini pun aku bisa beramal,” dia memutar bola matanya malas.

Mereka telah mencapai pintu basecamp The Circle. Tampak beberapa anggotanya telah berkumpul melingkari meja bundar, pertanda rapat sedang berlangsung. Joohyun lah yang pertama kali menyadari kedatangan Seulgi dan Seungwan.

“Aigoo, adik-adikku sudah datang,” Joohyun langsung menyongsong mereka berdua dan cipika cipiki singkat. “Wan-ah, kerja yang bagus bisa membawanya kembali,” pujinya pada Seungwan.

“Bukan apa-apa, dia yang terlalu gampang.”

“Mwo?” mata Seulgi melebar tak percaya.

“Seulgi-ah, selamat datang kembali dan kali ini kau tidak boleh pergi lagi.”

Seulgi hanya bisa pasrah saat ditarik dan didudukkan tepat di sebelah Sunyoung. Sementara kursi di sebelahnya kosong karena Seungwan memilih duduk di antara Joohyun dan Minseok. Matanya mengabsen semua anggota yang hadir dan langsung menyadari satu hal. Soojung dan Jongin tidak ada di sana. Dia hendak bertanya pada Sunyoung perihal absennya mereka berdua, tapi suara Siwon mengurungkannya.

“Seulgi-ah, selamat datang kembali. Dan untuk nona Son, selamat bekerja sama dengan kami,” ujar Siwon dengan penuh wibawa.

“Terima kasih, terima kasih. Aku sangat ingin bergabung dengan The Circle, jadi ku rasa ini akan sangat menyenangkan. Katakan saja apa pun yang bisa ku lakukan untuk kalian, maka aku akan mengusahakannya,” kata Seungwan.

Seulgi hanya tersenyum sekilas. Pasca keluar dari The Circle, dia masih merasa canggung dan sepertinya harus beradaptasi kembali di lingkungan mereka.

“Kami senang kau bergabung. Kebetulan event yang akan kami adakan selanjutnya ini sangat membutuhkan bantuanmu,” kata Siwon.

“Maaf, kami terlambat.”

Sebuah suara menginterupsi obrolan mereka. Seulgi menoleh, mendapati Soojung dan Jongin yang datang bersamaan. Ada yang berbeda dengan penampilan Soojung. Hari ini dia tidak mengenakan celana jins dan kemeja, melainkan gaun berwarna biru cerah yang cantik. Rambutnya dia hias dengan pita.

“Aigoo, pasangan ini. Kalau kencan harusnya tahu waktu. Tidak boleh mengganggu rapat,” celetuk Junmyoon, tapi jelas terdengar seperti sebuah candaan.

Seulgi memasang wajah bingung—terlebih saat Junmyoon menyebut kata ‘pasangan’.

“Kami kan sudah izin terlambat,” sahut Soojung sambil tersenyum malu-malu. Dia kemudian duduk di sebelah Seulgi dan Jongin duduk di kursi lainnya yang kebetulan berhadapan dengannya.

“Hey, tadi kemana saja dan apa yang kalian lakukan?” tanya Sunyoung dengan suara berbisik.

“Jongin mengajakku ke pantai seharian ini,” jawab Soojung dengan bisikan juga.

“Astaga, dia sangat romantis ternyata.”

“Dia bilang akan membawaku ke tempat mana pun yang ingin aku kunjungi,” cerita Soojung dengan bangga.

Seulgi yang berada di antara mereka berdua hanya bisa diam. Kalau dia tidak salah paham dengan percakapan lirih Sunyoung dan Soojung, berarti… Jongin dan Soojung berkencan. Mereka adalah pasangan kekasih. Arah pandangnya langsung tertuju pada Jongin, mencari sesuatu—apa pun yang bisa menjadi bahan untuk mengelak kenyataan itu. Tapi tidak ada. Jongin juga tersenyum seperti halnya Soojung. Dan Seulgi langsung menarik kesimpulan bahwa mereka memang saling mencintai.

***

Hari-hari Seulgi berikutnya semakin menyebalkan saja. Tidak ada perbaikan dalam hubungannya dengan Sehun. Entah dia yang berlebihan atau memang Sehun sudah sangat berubah. Mereka belum bisa bertemu seperti dulu. Percakapan lewat telpon hanya dilakukan sesekali itu pun sangat singkat. Seulgi ingin bertanya kenapa hubungan mereka terasa tidak baik-baik saja, tapi takut Sehun sedang dalam masa sibuknya dan butuh pikiran yang tenang. Dia takut membebani Sehun. Dia memilih diam.

Lalu Soojung dan Jongin—entah kenapa ada perasaan aneh setelah tahu bahwa mereka benar-benar menjadi pasangan. Apa dia tidak rela mereka berkencan? Bodoh. Berkali-kali dia menepis pikiran itu. Dia hanya mencintai Sehun. Hubungan Jongin dan Soojung sama sekali bukan urusannya. Terkadang saat dia sendirian dan merenungi keadaan batinnya sekarang, dia ingin berteriak dan menumpahkan segala unek-uneknya. Jelas dia tidak baik-baik saja.

“Astaga, maafkan aku.”

Lihat, saking kalutnya, sekarang dia tidak fokus berjalan dan menumpahkan minuman di pakaian orang. Tanpa sengaja mereka bertabrakan saat Seulgi membawa kopi yang dia beli keluar cafe.

“Seulgi?”

Mata Seulgi langsung melebar saat mendongak dan melihat wajah orang yang ditabraknya. Itu Kim Jongin.

“A—aku benar-benar tidak sengaja,” dia langsung menunduk. “Maafkan aku.”

“Santai saja, itu hanya kopi,” sahut Jongin seraya melepas jaketnya yang basah. Tinggallah kaus sleeveless berwarna hitam yang melekat di tubuhnya.

“Tapi kau jadi kedinginan….”

“Lalu kau mau melepas jaketmu untuk menggantikannya?” Jongin terkekeh seraya menunjuk jaket berwarna pink yang sedang ia kenakan.

“Ini? Kalau kau mau sih….”

“Astaga, tentu saja tidak. Aku hanya bercanda. Sungguh, ini tidak apa-apa. Aku justru punya firasat kau yang tidak sedang baik-baik saja.”

“Aku?” Seulgi menunjuk dirinya sendiri dan tersenyum simpul. “Aku baik-baik saja kok.”

Jongin menggeleng dan tanpa persetujuan langsung menarik Seulgi kembali masuk cafe.

“Wajahmu tidak bisa berbohong,” dia terus menggenggam pergelangan tangan Seulgi kuat, memesan satu cup eskrim dan satu americano.

“Jongin-ah… aku tidak apa-apa.”

“Ssst,” Jongin meletakkan telunjuk di depan bibirnya, lalu mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum. Setelah membayar untuk kedua menu itu, Jongin memberikan eskrim tadi pada Seulgi dan menariknya lagi ke salah satu meja kosong.

“Aku tadi kan beli kopi,” kata Seulgi setelah mereka duduk berhadapan.

“Bukankah kau suka eskrim?”

“Iya suka… tapi kadang aku minum kopi agar bisa terjaga semalaman,” jawab Seulgi sambil memainkan sendok eskrimnya.

“Untuk apa begadang?”

“Belajar….”

“Oh, aku lupa. Anak kedokteran memang rajin,” Jongin terkekeh.

“Biasa saja.”

“Lupakan soal itu. Sekarang kau bisa ceritakan apa pun padaku.”

“Cerita apa? Aku tidak mengerti maksudmu,” Seulgi terus memandangi eskrimnya.

Kemudian tiba-tiba tangan Jongin mengambil alih sendok dari tangannya dan menyuapkan sesendok eskrim dengan paksa. Dia tercengang, mengerjapkan matanya. Perlakuan Jongin tadi mengingatkannya pada Sehun.

“Aku tahu ada sesuatu dengan hubungan kalian.”

“Siapa maksudmu?”

“Kau dan pacarmu. Siapa namanya? Oh Sehun?”

“Aku tidak ingin membahasnya,” ucap Seulgi lirih, kembali menunduk. Sebenarnya heran bagaimana Jongin bisa tahu. Tapi ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkannya.

“Dia belum menghubungimu?”

“Sudah, kami sudah bicara lewat telpon.”

“Hanya lewat telpon?”

“Iya, dia sangat sibuk.”

“Kau sudah mengatakan padanya tentang yang kau rasakan sekarang?”

“Jongin, aku tidak ingin membahas ini denganmu.”

“Kenapa? Aku hanya mencoba menjadi teman yang baik.”

Teman. Ya, memangnya apa yang bisa mereka dapatkan selain menjadi teman? Dan kenapa Seulgi merasa status ‘teman’ itu tidak cukup? Pikirannya terbelah lagi. Sehun, Jongin, Sehun, Jongin, sebenarnya apa yang bisa membuatnya tenang?

“Aku tidak berani,” kata Seulgi akhirnya.

“Bukannya aku memaksamu untuk bersikap curiga. Tentu saja, kau harus mengerti kalau memang dia sangat sibuk. Tapi ada baiknya jika kalian bicara dari hati ke hati. Katakan apa pun yang menjadi beban pikiranmu. Buat dia juga terbuka padamu tentang keadaannya sekarang. Jika kalian tidak saling terbuka, hubungan ini tidak akan berjalan dengan baik. Kalian hanya akan dihantui oleh rasa curiga setiap waktu,” ujar Jongin panjang lebar. Kali ini Seulgi melihat sisi yang berbeda dari pemuda di hadapannya. Lebih bijaksana, dan terkesan berpikir secara dewasa.

“Apa kau dan Soojung juga begitu?”

“Tentu saja. Sejak awal memulai hubungan ini, kami sudah saling terbuka tentang apa yang kami suka dan tidak suka. Aku yakin kalian juga bisa seperti itu.”

Seulgi mengaduk-aduk eskrimnya. Mungkin dia memang harus melakukan apa yang disarankan oleh Jongin. Di suatu sudut dalam hatinya, dia membatin betapa beruntungnya Soojung bisa memiliki Jongin. Sepertinya dia merasa iri. Dan dia mulai berandai-andai, jika saja Sehun seperti Jongin. Jika saja Sehun adalah Jongin.

‘Bodoh,’ batinnya.

“Seulgi-ah?” Jongin melambaikan tangannya di depan wajah Seulgi.

“Iya?” dia langsung menyadarkan diri. “Kau benar. Aku akan bicara dengan Sehun nanti.”

“Baguslah,” kata Jongin sambil menunjukkan senyumnya. “Semoga berhasil. Kau harus tersenyum lagi,” ditepuk-tepuknya kedua pipi Seulgi.

“Hentikan,” kata Seulgi, menepis tangan Jongin darinya. Dia hanya tersenyum sekilas. Setelah tiba di apartemen nanti, dia akan menelpon Sehun.

***

Satu panggilan tersambung. Tapi tak kunjung diangkat. Dia tidak tahu apa Sehun sudah tidur atau masih mengerjakan sesuatu dan tidak sempat menjangkau ponselnya. Seulgi menarik nafas panjang saat terdengar voicemail. Dadanya sudah terlalu sesak, jadi dia berbicara di kotak suara.

“Sehun-ah,” suaranya sedikit bergetar. Jiwa cengengnya kambuh. “Aku ingin berbasa-basi menanyakan keadaanmu dan apa kau sudah makan malam tapi…” ada jeda dimana dia harus menahan isakannya. “Aku tidak bisa terus diam seperti ini. Aku merasa kita tidak baik-baik saja. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kita semakin jauh? Aku takut…” suara tangisannya tidak bisa ditahan lebih lama. Di sini dia memberi jeda lagi sebelum menghela nafas dan kembali bicara. “Sudah ku duga ini akan terjadi. Sejak awal aku bilang padamu untuk memikirkannya dulu sampai kau benar-benar yakin. Jadi… apa sekarang kau sudah bosan padaku? Menyesal kah kau memintaku jadi pacarmu? Sehun-ah…” dia kembali terisak. “Ini sulit bagiku. Sungguh, aku tidak bisa makan dan tidur dengan nyaman seperti biasanya. Aku selalu bertanya apa kau baik-baik saja, apa kau makan dengan baik, dan apa istirahatmu cukup. Lalu perasaan takut bahwa kau seperti ini karena sudah bosan padaku mendadak menghantui. Aku jadi tidak bisa fokus pada apa pun. Aku merindukanmu, Sehun-ah…” Seulgi benar-benar menangis saat mengucapkannya. Sudah tak terbendung lagi. “Kalau benar kau sudah bosan atau ingin mengakhirinya, bicaralah. Aku tidak apa-apa. Setidaknya jangan membuatku bingung. Aku akan menerima apa pun yang ingin kau katakan.”

Seulgi tidak bisa menahannya lebih lama lagi, langsung memutuskan sambungan voice mailbox. Bantalnya ia biarkan basah oleh air mata. Dan semalaman itu dia terus menangis.

***

Setidaknya dia merasa lega telah mengatakan semua isi pikirannya semalam. Walau seharian ini dia banyak melamun selama kuliah. Tidak ada respon apa pun dari Sehun. Dia jadi makin yakin kalau ketakutannya benar terjadi. Mungkin ini seperti dalam drama dimana pria secara sengaja menghilang perlahan agar bisa putus dengan kekasihnya. Beberapa kali Seulgi izin ke kamar mandi untuk menangis. Sungguh menyedihkan.

“Kau yakin mau pulang sendirian?” tanya Seungwan merasa iba. Sejak pagi tadi dia sudah tahu keadaan Seulgi tidak baik-baik saja. Matanya yang sipit semakin sipit karena bengkak pasca menangis.

“Aku benar-benar ingin sendiri dulu, Wan-ah,” jawab Seulgi dengan memaksakan senyumnya.

“Telpon aku kapan pun jika kau butuh sesuatu,” kata Seungwan sambil mengusap pundaknya.

“Hati-hati,” kata Seulgi sebelum Seungwan berbelok ke arah parkiran. Dia sendiri berjalan lurus ke arah gerbang kampus. Ingin segera naik bus dan pulang, menangis sepuas mungkin agar besok tidak perlu menangis lagi. Dia tak mempedulikan sekitarnya lagi.

“Seulgi?” tiba-tiba seseorang mencengkeram pundaknya. “Hey.”

Seulgi berbalik dan mendapati Jongin yang memegangi pundaknya. “Oh… iya? Kenapa?”

“Gwenchana? Dari tadi aku memanggilmu tapi kau terus berjalan seperti tidak mendengarnya.”

“Aku… aku memang tidak mendengarmu.”

“Atau tidak mempedulikanku?”

“Jongin-ah…” Seulgi menjauhkan tangan Jongin dari pundaknya. “Aku sedang buru-buru pulang.”

“Apa terjadi sesuatu? Sudah bicara dengan Sehun?” Jongin terus mengejarnya dengan pertanyaan.

Seulgi menghela nafas. Jongin selalu membuatnya tidak punya pilihan selain menurut. “Sudah.”

“Lalu bagaimana responnya?”

“Dia tidak mengangkat telponnya. Aku berbicara dengan kotak suara.”

“Oh—sepertinya dia sangat sibuk.”

“Tapi terima kasih, aku merasa lega sekarang,” kata Seulgi.

“Bukan apa-apa,” balas Jongin sambil tersenyum. “Kalau butuh teman bicara, hubungi saja aku.”

“Sekarang aku hanya ingin pulang.”

“Ku antar,” kata Jongin.

“Tidak, aku ingin sendirian untuk hari ini saja. Besok saat sudah merasa lebih baik, aku akan menghubungimu,” janji Seulgi.

“Sungguh? Aku akan menunggumu.”

Seulgi hanya mengangguk sebelum berbalik dari hadapan Jongin. Akhirnya dia bisa pulang juga dan menenangkan diri. Tapi baru berjalan beberapa langkah, dia harus berhenti lagi. Tak lebih satu meter dari hadapannya, dia melihat Sehun berdiri di samping mobilnya. Ini buruk. Seulgi tidak akan bisa menahan air matanya kalau begini. Dan Sehun, tidak hanya berdiri di sana. Pemuda berkulit seputih susu itu berjalan mendekat padanya. Semakin dekat, hingga dalam satu hentakan, tangannya merengkuh Seulgi dengan erat.

“Aku memang bodoh. Tapi tidak cukup bodoh untuk membiarkanmu pergi. Aku sangat ceroboh. Terlalu ceroboh hingga tak sadar telah melakukan kesalahan dan menyakitimu. Aku adalah orang bodoh yang tidak bisa melakukan apa-apa saat kau tak ada. Aku membutuhkanmu….” Sehun mengucapkan kata demi kata dalam pelukannya. Membuat Seulgi diam dengan air mata yang berjatuhan.

Sehun memeluknya. Seulgi membalas pelukannya. Jongin melihat itu.

***TBC***

Iklan

25 thoughts on “Bittersweet : She’s My Girlfriend

  1. Aaaakkk finally seulhun is baaacccckkkkkk!! Yeaahh..
    Seneng banget akhirnya. Walaupun aku ngebias kai di exo tapi aku lebih dukung seulgi ku dengan sehun. Hahahah

    Ih semoga endingnya seulhun, kai sama krystal aja. Aku setuju banget hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s