It’s Okay Even If It’s Hurt (Chapter 3)

its-okay-even-if-its-hurts

Main Cast         : Son Ye Jin (OC), Park Chanyeol (EXO-K)

Authors             : Applexopie

Support Cast     : Lee Ho Jung (Actris)

 

Length               : Multichapter

 

Genre                : Family, Sad, Romance(?) and Marriage-Life

 

Rating               : PG+15


Disclaimer         : This Story is Mine. 
 This story belongs to my imagination.

Author’s Note   : Anyeonng, gomawo sudah mau baca dan mengetahui kisah percintaan Chan-Jin di epep ini. Atas support dri kalian melewati komentar, membuatku semangat. Namun ada saja penghambatnya, yaitu Siders (pembaca gelap). Aku mohon bgt jgn sprti itu ya, sebelum membaca ff, kalian baca terlebih dahulu rule(s) yang kubuat di page Home^^ Udh deh ya, kenapa jd ngobrolin Siders yang ngga bisa menghargai org itu? Mendingan read ya kisah selanjutnya. Tpi sbelumnya, aku udh post cuplikannya kan? Di part ini spertinya kalian akan membaca ulang. Smoga puas dgn part ini. Next-nya, tetep dilanjut kok^^

 

Happy Reading!!!

-CHAP 3-

 

Cahaya terang mulai timbul dari peraduannya. Sang mentari kembali bertugas hari ini. Disebuah apartement yang masih tampak sepi nan sunyi, seperti tidak ada penghuninya disana.

TING TONG!

Terdengar suara bel di apartement tersebut. Seorang wanita paruh baya dengan kaca mata kuningnya yang khas berdiri didepan pintu seraya membawa kantung plastic berukuran sedang. Didalam apartement itu terdengar suara langkah kaki. Tidak. Ternyata didalam apartement itu sudah ada yang bangun. Tetapi siapa?

“Sebentar~” sahut seorang wanita cantik masih dengan pakaian tidur gambar beruang berwarna putih. Siapa ya yang bertamu pagi-pagi begini?

Ceklek~

“Siapa yaa—eo? Eomma?” Ye Jin terkejut ketika melihat siapa wanita paruh baya itu. Ibu dari suaminya, Park Chan Yeol.

“Jin-ah, eomma sudah lama tidak bertemu denganmu.” Wanita paruh baya yang menyandang status sebagai mertua dari Ye Jin itu langsung berhambur ke pelukan Ye Jin. Ye Jin tersenyum kaku. Ia benar-benar tidak menyangka jika Eomma dari Chan Yeol akan datang ke apartement mereka sepagi ini.

“Ye Jin-ah, kau tidak rindu pada Eomma eo? Mana Chan Yeol? Apa dia belum bangun?” pertanyaan Eomma Chan Yeol membuat Ye Jin terperangah. Ia tersenyum tipis.

“Eomma masuklah dulu. Tidak enak jika berbincang di depan pintu seperti ini.” Ye Jin dengan ramah menyuruh Eommanya untuk masuk ke apartementnya. Eomma Chan Yeol pun menggangguk kemudian melengangkan kakinya masuk ke dalam dan Ye Jin pun menutup pintu. Ye Jin berbalik badan kemudian menghela napasnya. Ada apa dengannya?

“Eomma membawa apa?” Tanya Ye Jin ketika melihat Eomma Chan Yeol membawa plastik hitam berukuran sedang ke dapur. Beliau tersenyum.

“Eomma ingin memasak denganmu untuk Chan Yeol. Hari ini dia cuti kan?” Ye Jin terkejut.Cuti? Benarkah? Tanya Ye Jin dalam hati. Kau dengar? Bahkan Ye Jin pun tidak mengetahui jika Chan Yeol cuti hari ini. Lalu, apakah ini alasan Chan Yeol kenapa pulang larut malam dengan Ho Jung tadi malam? Menghabiskan waktu hari minggunya bersama Ho Jung? Melihat Ye Jin terdiam membuat raut wajah Eomma Chan Yeol mengkerut.

“Jin-ah kau baik-baik saja?” pertanyaan itu seolah mampu menyadarkan Ye Jin dari pikirannya yang bergulat.

“Ne Eomma, nan gwaenchana.” Sahutnya tersenyum.

“Sekarang, bangunkanlah Chan Yeol. Kita akan membuat sarapan bersama.” Titah Eomma Chan Yeol yang juga sebagai Eommanya. Ye Jin membelalak. Membangunkan Chan Yeol oppa? Aish, bagaimana ini? Aku belum pernah membangunkannya ketika ia terlelap. Kalau aku membangunkannya, bagaimana jika dia murka padaku? Aish, eotteohke?

“Jin-ah? Apa yang kau pikirkan? Kajja bangunkan suami-mu.” Titah Eommanya lagi membuat Ye Jin tersentak. Ia mengangguk kaku kemudian berbalik badan. Wajahnya pucat seketika. Apakah sebegitu takutnya ia dengan Chan Yeol? Ye Jin terus bergulat dengan pikirannya hingga akhirnya kedua kakinya sampai dimana Chan Yeol berada. Ye Jin menatap pintu berwarna coklat muda itu dengan gugup. Kedua tangannya seakan kaku untuk mengetuk pintu. Hinngga akhirnya ia menarik napasnya panjang dan menghembuskannya.

“Huh! Kau pasti bisa Ye Jin!” Ye Jin menyemangati dirinya sendiri. Lalu dengan hati-hati, tangannya terangkat dan mengetuk pintu.

Tok tok tok…

Ye Jin berhasil mengetuk pintu. Ia tersenyum tipis.

“Chan Yeol oppa? Apa kau sudah bangun?” tanyanya pelan seraya mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Apa Chan Yeol belum bangun?

“Aish, kenapa tidak ada jawaban? Apa Chan Yeol oppa belum bangun?”

“Apa aku harus masuk? Tidak, itu keputusan gila!” Ye Jin terus bergumam dengan dirinya sendiri. Ia bertanya dan menjawab pertanyaannya sendiri. Apa dia gila? Mungkin saja. Ia benar-benar gila dengan kelakuan Park Chan Yeol. Beberapa menit kemudian, akhirnya ia memberanikan diri untuk masuk kedalam.

Kriett..

Pintu terbuka. Membuat kamar itu terkena cahaya dari luar. Kamar itu sedikit gelap karena tirai kamar yang belum dibuka. Ye Jin melangkahkan kakinya masuk perlahan. Mencari keberadaan sang suami. Ye Jin melangkahkan kakinya ke ranjang yang berada disana. Tetapi ranjang itu sudah rapi.

“C—chan Yeol o-oppa? Kau dimana?” Ye Jin sedikit berteriak supaya suaranya yang kecil itu bisa terdengar oleh Chan Yeol.

“Ada apa mencariku?” Ye Jin terkejut dan seketika bulu kuduknya berdiri. Oh ayolah, apakah segitu efeknya? Suara bass khas milik Chan Yeol terngiang di gendang telinganya. Ye Jin dengan segera berbalik badan dan ternyata…

“AAAAA!!!!” Ye Jin berteriak lalu langsung membalikkan badannya cepat. Kedua telapak tangannya ia gunakan untuk menutup wajahnya. Benar-benar gila! Ternyata Chan Yeol baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah dan handuk yang menutupi bagian bawah tubuh Chan Yeol. Bagian bawah? Berarti saat ini Chan Yeol tengah bertelanjang dada??!!

“Yak! Kenapa kau berteriak?” Chan Yeol dengan santainya bertanya. Apa katanya? Kenapa??

“O—oppa kenapa kau tidak bilang kalau kau baru selesai mandi?” Ye Jin bertanya dengan terbata-bata.

“Kau ini kenapa? Apa aku harus selalu melapor padamu apa yang sedang ku kerjakan?”

“Tapi—“

“Kenapa mencariku? Kudengar tadi ada yang menekan bel, siapa yang datang?”

“Itu—itu Eomma-mu. Ia menyuruhku untuk membangunkanmu.” Jawab Ye Jin masih menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“Lalu?” Chan Yeol bertanya seraya membuka lemari baju dan memilih pakaian apa yang akan dikenakannya hari ini. Ye Jin terdiam. Apa yang akan ia jawab?

“B—baguslah kalau oppa sudah bangun. A—aku aku akan keluar sekarang.” Ye Jin dengan cepat berlari keluar dari kamar itu dan meninggalkan Chan Yeol sendiri.

“Ada apa dengannya? Tunggu!” Chan Yeol menghentikkan aktivitasnya. Ia terdiam seraya berpikir. Berpikir? Apa orang sepertinya bisa berpikir?

“Kenapa aku tidak marah padanya ketika ia masuk kedalam kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu? Harusnya kan aku marah.” Chan Yeol berpikir keras. Yaa! Park Chan Yeol apa kau tidak tahu? Istrimu itu sedari tadi terus mengetuk pintu dan memanggil namamu, kau itu suami bodoh atau idiot?!

“Ini benar-benar aneh. Tidak rasional. Otakku pasti sudah tidak beres. Chan Yeol, sadarlah! Kau membencinya kan? Gara-gara dia hubunganmu dan Ho Jung hampir berakhir. Ya, aku harus mengingat itu. Aku tidak boleh baik padanya.”

 

-xXx-


Tak lama kemudian Ye Jin pun berlari menuju dapur dimana Eommanya berada.

“Jin-ah waeyo? Kenapa tadi kau berteriak?” Tanya Eommanya yang sedang memegang pisau untuk mengiris bawang Bombay. Ye Jin terdiam, wajahnya terlihat merona. Dadanya turun naik tak beraturan.

“A—itu—itu tidak t-tidak ada apa-apa Eomma. Aku hanya terkejut ketika —ketika melihat cicak dikamar, iya cicak dikamar.” Ye Jin menjawab dengan terbata-bata. Bodoh kau Ye Jin!

“Hahaha, eomma kira kenapa. Ya sudah, ayo kita memasak. Eomma sudah menyiapkan semua bahannya. Pagi ini eomma akan mengajarimu membuat makanan kesukaan Chan Yeol.”

“N—ne eomma.” Jawab Ye Jin sekenanya. Setelah itu Ye Jin pun mulai memasak dengan Eomma Chan Yeol. Bayangkan saja, bahkan ia belum membersihkan dirinya. Rambut panjangnya ia ikat asal-asalan dan mengenakan pakaian tidur bergambar beruang? Sungguh childish. Beberapa lama didapur, Ye Jin teringat dengan Ho Jung. Mantan Chan Yeol, ah tidak. Bahkan mereka belum memutuskan hubungan. Mengingat itu, Ye Jin menangis. Entahlah, ia merasa bahwa dirinya adalah seorang wanita jahat yang datang ditengah dua orang yang saling mencintai. Karena itulah, Chan Yeol membencinya, bahkan ia dengan teganya sering membawa Ho Jung ke apartement. Wanita macam apa yang tidak sakit hati melihat pria yang kita cintai bersama wanita lain? Bahkan Ye Jin tak pernah tahu kapan Chan Yeol akan berhenti tidak membencinya. Apa yang harus ku lakukan?

Sret!

“Ah!” Ye Jin menjerit pelan ketika melihat jari telunjuknya teriris pisau. Ia tengah memotong bawang. Chan Yeol benar-benar merasuki pikirannya.

“Jin-ah, wae? Astaga! Tanganmu berdarah!”

“Aniyo, eomma. Ini tidak sakit.” Ye Jin menghisap darah yang mengalir pada jari telunjuknya. Eommanya menggeleng pelan kemudian menyuruhnya untuk mengobati lukanya diruang tamu.

“Jin-ah sebaiknya obati dulu lukamu. Sana kedepan. Eomma akan panggil Chan Yeol.” Eommanya hendak melangkahkan kakinya pergi tetapi sebuah tangan menghandangnya.

“Ani eomma. Tidak perlu memanggil Chan Yeol oppa. Aku bisa mengobatinya sendiri.”

“Tapi—“

“Gwaenchana eomma. Eomma lanjutkan saja ya memasaknya, aku akan ke depan sebentar. Setelah itu aku akan kembali memasak lagi.” Ye Jin tersenyum lembut kemudian melengangkan kakinya menuju ruang depan. Ketika sampai, begitu kagetnya ia melihat Chan Yeol sedang duduk menonton televise disana. Ye Jin menghentikan langkahnya.Bagaimana ini? Kotak P3K-nya ada dibawah meja. Apa aku harus mengambilnya? Ye Jin berpikir sejenak. Jika ia berjalan kesana, pasti Chan Yeol akan memarahinya. Tetapi jika ia kembali ke dapur, eommanya akan curiga. Ye Jin benar-benar bimbang.

“Apa yang kau lakukan disana huh?!” tiba-tiba suara bass itu kembali mengalun di gendang telinga Ye Jin. Tubuhnya menegang seketika. Ia menundukkan kepalanya kemudian berjalan menuju meja depan televisi itu. Memang nekad, tetapi apalagi yang bisa ia lakukan? Ye Jin berjongkok kemudian mengambil kotak P3K itu. Chan Yeol yang ada disana sama sekali tidak memperdulikan Ye Jin yang tangannya sedang terluka. Ye Jin duduk di sofa yang tidak terlalu dekat dengan Chan Yeol. Kepalanya masih ia tundukkan dan hanya bisa mengobati lukanya dalam kebisuan.

“Cih! Sandiwara apa lagi yang kau buat? Kau pasti sengaja mengiris tanganmu sendiri untuk mendapat perhatian dari Eomma, kan? Sebenarnya apa yang kau rencanakan?” kembali suara bass itu mengejutkan Ye Jin. Tangannya yang tengah menempelkan hansaplas itu terhenti seketika. Bulir air mata kembali membasahi wajahnya. Ia sudah tak tahan lagi, jikapun ia harus menangis didepan pria yang dicintainya.

“Air mata murahan!”

“Cukup Oppa!” kali ini Chan Yeol yang terkejut. Entah mendapat keberanian dari mana, Ye Jin bisa menjawab dan membentak Chan Yeol untuk pertama kalinya. Chan Yeol menatap tajam kearah Ye Jin. Ia bisa mendengar isakan kecil yang keluar dari mulut Ye Jin. Ye Jin menatap Chan Yeol dengan mata penuh air mata.

“Aku tahu aku salah. Tidak seharusnya aku berada disini. Aku tahu aku hanya penghancur hidupmu, tetapi ketahuilah. Aku sama sekali tidak tahu menahu mengenai perjodohan ini, Oppa! Aku sungguh tidak mengetahuinya! Sampai kapan kau akan seperti ini padaku? Apa yang harus kulakukan agar kau tidak bersikap dingin dan sinis padaku? Aku memang gadis bodoh! Sangat bodoh telah mencintaimu, oppa. Aku tahu aku bodoh!” Ye Jin berkata dengan suara yang tidak nyaring, ia sengaja karena tidak mungkin ia akan berteriak sementara ada Eomma mereka di dapur. Chan Yeol diam seribu bahasa. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Air mata terus mengalir dari mata Ye Jin.

“Aku lelah harus terus seperti ini Oppa. Aku menyerah. Melihatmu setiap hari membawa Ho Jung ke apartement sudah cukup melukai hatiku. Aku memang gadis jahat yang datang dan merusak hubungan dua insan yang saling mencintai. Katakan padaku apa yang kau mau? Bercerai?” Chan Yeol membelalak. Ia benar-benar terkejut ketika Ye Jin mengatakan kata ‘cerai’ padanya. Benarkah ini dia? Ye Jin mengusap air matanya kasar. Ia menatap Chan Yeol dengan yakin.

“Jika itu yang kau mau…”

“Aku akan melakukannya.” Ye Jin menempelkan hansaplas ditangannya dengan cepat lalu beranjak pergi dari sana meninggalkan Chan Yeol yang tercengang. Ye Jin sungguh tidak percaya bahwa kata ‘cerai’ itu keluar dengan tanpa dosanya dari mulutnya. Bercerai dengan Chan Yeol? Bisakah ia melakukannya?

-xXx-

 

Matahari semakin naik ke atas kepala. Sejak perdebatan pagi tadi membuat Ye Jin dan Chan Yeol bungkam. Ketika sarapan saja, mereka masih tak mau bertatapan maupun berbicara. Hal itu membuat eomma Chan Yeol heran dan bingung. Meskipun demikian, beliau belum beranjak dari apartement itu. Ye Jin hanya bisa didalam kamar dan memandangi jendela dengan tatapan kosong. Chan Yeol sudah pergi entah kemana beberapa menit yang lalu.

“Ada apa sebenarnya ini?” gumam Eomma Chan Yeol ketika melihat Ye Jin didalam kamar. Ia dapat melihat dengan jelas jika menantu-nya itu tengah bersedih. Merasa penasaran, ia pun melangkahkan kakinya. Tetapi..sebelum itu ada sesuatu yang menghentikkan langkahnya. Sebuah ponsel. Ponsel anaknya. Tanpa ragu, beliau menghampiri meja disampingnya kemudian mengambil ponsel tersebut. Ponselnya berdering kecil. Jemari yang sudah tak muda lagi itu dengan lincahnya menari-nari diatas layar touch screen. Tiba-tiba matanya membelalak. Matanya terus menyusuri apa yang ada didalam ponsel anaknya itu. Seketika napasnya tercekat. Mukanya sedikit memerah. Rahangnya mengeras. Tangan kirinya mengepal kuat.

“Benar-benar kurang ajar!”

 

-xXx-

 

10.00 KST

Jalanan pagi di Seoul tampak ramai. Banyak kendaraan berlalu lalang dijalan besar. Para pejalan kaki pun tampak ada dimana-mana menjalani aktivitasnya. Pedagang-pedagang kaki lima tersenyum ramah dan sesekali membungkuk hormat kepada sang tamu kedai mereka. Chan Yeol yang tengah berada didalam mobil hanya bisa menghela napasnya. Kedua bola matanya terfokus kejalanan tanpa ada rasa ingin menghibur hatinya yang tengah bimbang.

Aku tahu aku salah. Tidak seharusnya aku berada disini. Aku tahu aku hanya penghancur hidupmu, tetapi ketahuilah. Aku sama sekali tidak tahu menahu mengenai perjodohan ini, Oppa! Aku sungguh tidak mengetahuinya! Sampai kapan kau akan seperti ini padaku? Apa yang harus kulakukan agar kau tidak bersikap dingin dan sinis padaku? Aku memang gadis bodoh! Sangat bodoh telah mencintaimu, oppa. Aku tahu aku bodoh!

Aku lelah harus terus seperti ini Oppa. Aku menyerah. Melihatmu setiap hari membawa Ho Jung ke apartement sudah cukup melukai hatiku. Aku memang gadis jahat yang datang dan merusak hubungan dua insan yang saling mencintai. Katakan padaku apa yang kau mau? Bercerai?

 

Kalimat itu kembali berputar di kepalanya. Seperti sebuah putaran filem di bioskop yang tak hentinya berputar. Apa sebenarnya yang dipikirkannya?

“Huh~” Chan Yeol menghela napasnya. Ia mengusap kasar wajahnya.

“Kenapa aku terus mengingat ucapannya? Ini benar-benar sudah gila. Kau gila Park Chan Yeol!” Chan Yeol mengatai dirinya sendiri adalah ‘gila’, sungguh sebuah pengakuan yang langka untuk didengar.

“YAA!!!!” Ia berteriak kemudian membanting stir mobilnya sendiri. Mukanya memerah. Napasnya tak teratur. Seketika terlintas dibenaknya jika ia melewatkan sesuatu yang berharga.

“Ho Jung-ah!”

“Aku harus menghubunginya.” See? Bahkan ia masih mengingat Ho Jung dalam situasi seperti ini. Ya! Park Chan Yeol terbuat dari apa hatimu? Kenapa kau tidak dapat memahami perasaan istrimu? Istrimu yang sesungguhnya. Bukan seorang wanita simpanan yang selalu kau lindungi dan tutupi. Chan Yeol meraba-raba saku celananya mencari benda persegi panjang berwarna hitam miliknya. Wajahnya panik.

“Kemana ponselku? Kenapa tidak ada?” ia terus mencari disaku dan jok mobilnya, namun hasilnya nihil.

“Sial! Pasti tertinggal dirumah. Aish~” ia mengumpat dirinya. Bahkan ia sama sekali tak memikirkan perasaan Ye Jin yang begitu terluka oleh sikapnya. Ia benar-benar terperanjat dalam cinta buta milik Ho Jung. Sedetik kemudian, ia menancapkan gasnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Entah setan apa yang merasuki dirinya hingga seperti itu. Baginya Ye Jin lah dalang dari permasalahannya. Tanpa merasa bersalah sedikit pun.

 

-xXx-

 

Ye Jin POV

Kenapa hidupku seperti ini? Kenapa aku harus berada disituasi yang rumit dan membingungkan? Tidak bisakah aku membencinya?? Kenapa aku selalu mencintainya ketika ia bersikap dingin dan kasar?? Bisakah Kau mencabut perasaan ini Tuhan? Napasku terasa sesak. Air mata sedari turun dengan derasnya. Kenapa aku begini?

“Jin-ah~” aku terlonjak. Itu suara Eomma. Dengan segera aku menghapus air mataku. Derap langkah kaki semakin mendekatiku.

“Ne eomma?” sahutku dengan suara serak.

“Wae geurae? Kenapa menangis?” aku menggeleng.

“Aku tidak menangis. Mataku kelilipan Eomma.” Eomma duduk disampingku kemudian mengelus rambutku sayang.

“Jangan kau pikirkan. Eomma akan mengurusnya.” Ucapan Eomma membuatku bingung.

“Apa maksud Eomma?”

“Ah tidak. Bagaimana kalau lusa, kau dan Chan Yeol berlibur? Sekalian berbulan madu, kalian belum melakukannya kan?” aku tertegun.

“Mwo?”

“Eomma akan membicarakannya dengan Chan Yeol. Ia harus mau dan eomma tidak menerima penolakan..”

“Tapi eomma—“ ucapanku terhenti ketika melihat Eomma menggelengkan kepalanya. Itu tandanya, ia juga tidak menerima penolakan dariku. Eomma berdiri kemudian tersenyum hangat padaku.

“Eomma mau pulang. Tolong titipkan salam eomma kalau Chan Yeol sudah pulang.” Aku mengangguk pelan. Aku pun berdiri kemudian mengantarkan Eomma sampai pintu depan. Selepas Eomma pulang aku menutup pintu.

“Huh~” Eomma benar-benar sayang padaku. Jika aku bercerai, pasti dia akan sedih. Tapi—

TING TONG!

Aku terkejut. Siapa yang menekan bel? Apa Eomma kembali lagi? Aku berbalik kemudian membuka pintu.

“Ne Eom—“

PLAK!

Aku merasakan pipiku memanas.

“TIDAK BISAKAH KAU BERCERAI DENGAN CHANYEOL OPPA DAN MEMBIARKAN KAMI HIDUP BERSAMA? TIDAK BISAKA KAU SON YE  JIN!!??” mendengar Ho Jung berteriak keras padaku membuatku merasa bersalah. Kilatan matanya benar-benar membara. Tanpa kusadari, air mata turun dari mataku.

“Aku—“

“AKU SUDAH MENDUGA, KALAU KAU DAN AHJUMMA BERSEKONGKOL AGAR AKU DAN CHANYEOL TIDAK BERSAMA KAN!!?

“Apa maksudmu?”

“BERHENTILAH BERPURA-PURA TIDAK TAHU!!  KAU PIKIR AKU INI BODOH? KAU TAHU KAN KALAU AKU DAN CHANYEOL OPPA SALING MENCINTAI?”

“….”

“HUBUNGAN KAMI TERHAMBAT OLEH KEHADIRANMU DI KEHIDUPAN KAMI. DAN BAHKAN..KAU TELAH MEREBUT STATUS YANG TIDAK SEHARUSNYA KAU DAPATKAN!”

“….”

“KENAPA DIAM?? SETELAH MEREBUT SEMUANYA, APAKAH KAU TIDAK PUNYA MULUT? OH, APA KAU BISU?”

“AKU MENCINTAINYA, KIM HO JUNG-SSI~” setelah mendengar semua ucapannya, aku merasa muak. Aku berteriak didepannya.

“HAHA,, LELUCON MACAM APA LAGI INI?” aku tak tahan lagi dengan ucapan yang keluar dari mulutnya. Aku mengangkat tanganku ingin menamparnya, namun..sebuah tangan mencegatku.

“JAUHKAN TANGANMU DARI KEKASIHKU!” itu Chan Yeol oppa. Ia yang mencengkram tanganku. Ia menghempaskannya kasar lalu memegang pinggang Ho Jung dengan mesra. Oh Tuhan, bisakah kau hentikan semua ini?

“Huh, bahkan Chan Yeol oppa menolakmu. Kau sudah di tolak mentah-mentah namun kenapa kau masih percaya diri??” mataku memanas. Kemudian, mereka pergi dengan tanpa dosanya. Aku menatap nanar mereka dua, tidak..aku hanya menatap satu orang. Orang yang begitu aku cintai. Orang yang begitu aku cintai..ternyata—

BLAM!!

Aku membanting pintu kasar kemudian tubuhku melemah. Tubuhku terperosot kebawah. Memegang kedua lututku dan memedamkan tangisku disana. Kini sudah habis harapanku. Menangis dan menangis yang kudapatkan tanpa belas kasih dan sayangorang yang kucintai. Tidak ada tempatku mengadu semua masalahku. Aku hanya bisa memendamnya sendiri dan merasakan betapa sakitnya itu. Hanya .. apartement ini saksi bisu kepahitan yang kuperoleh.

-xXx-

“Sudah seharusnya kau seperti itu padanya, Oppa.” Ho Jung bergelayut mesra di lengan Chan Yeol ketika mereka meninggalkan apartement beberapa menit yang lalu. Chan Yeol hanya bisa tersenyum kemudian kembali focus pada jalanan.

“Ya!! Oppa, kau kenapa?” tanya Ho Jung ketika tidak melihat Chan Yeol terlihat gembira.

“Ani. Hm,,aku ingin bertanya padamu.”

“Tanyakan saja.”

“Apa maksudmu mengatakan bahwa Eommaku dan Ye Jin bersekongkol?” kalimat itu sukses membuat Ho Jung mematung. Ia melemparkan pandangannya keluar jendela. Kemudian, ia berbalik lagi dengan senyum dibibirnya.

“Gwaenchanayo oppa. Aku berkata seperti itu supaya gadis itu menyadari kesalahannya. Aku tidak salah, kan?” Chan Yeol mencerna kata demi kata yang keluar dari bibir kekasihnya. Kedua sudutnya melengkung keatas.

“Oh, kukira ada maksud lain.”

“Sudahlah, kenapa kita membicarakan gadis itu. Sekarang…kemana kita akan pergi? Oppa, besok kau sudah masuk kerja ya?”

“Ne, aku hanya cuti hari ini saja. Wae?” Ho Jung tersenyum.

“Kita harus menghabiskan waktu bersama.  Aku akan menentukan tempat yang akan kita kunjungi. Ada 3 tempat. Eotte?” Chan Yeol menoleh.

“Mwo?? 3 tempat?”

“Wae? Apa terlalu sedikit?” Chan Yeol terkekeh. Ia tersenyum menatap Ho Jung.

“Aniyo chagi-a. Baiklah, aku akan menurutinya.” Ujarnya sambil mengacak pucuk rambut Ho Jung sayang. Ho Jung tersenyum bahagia, kemudian mengalihkan pandangannya lagi keluar jendela. Menatap awan yang cerah. Kedua sudut bibirnya tertarik keatas. Sebuah senyum dengan makna yang lain.

-xXx-

Setelah itu, Ye Jin menghabiskan waktunya dengan menyendiri didalam kamar. Siang hari yang panas dengan suasana hati yang begitu rapuh. Apa yang bisa ia lakukan? Ye Jin berdiri di depan jendela dengan pandangan kosong. Pintu jendela yang terbuka membawa angin masuk ke dalam kamarnya. Sedikit sejuk, namun tidak dengan hati dan perasaannya. Sedetik kemudian, Ye Jin teringat sesuatu. Ia dengan segera melangkahkan kakinya menuju meja nakas ditepi ranjangnya. Mengambil benda persegi panjang berwarna putih tulang dengan jemari lentiknya. Layar touch screen itu dengan mudahnya tersentuh oleh jemari Ye Jin. Disana ia mengetik sebuah rentetan angka didalamnya. Menekan tombol hijau dan menempelkan ditelinganya.

“Yeoboseyo Baek Hyun-ah..”

“Ne, nuguseyo?”

“Son Ye Jin. Masih ingatkah denganku?”

“Mwo?? Jin-ah? Kau kah itu?? Oraenmaniyo (lama tidak berjumpa), apa kabarmu?”

“Apa kau sedang sibuk? Aku ingin bertemu denganmu.”

“Eo? Baiklah. Aku sedang tidak sibuk saat ini. Aku sedang di apartementku. Mau bertemu dimana?”

“Aku akan kesana. Kirimkan alamat apartementmu ya.”

“Oke.”

“Gomawoyo Baek Hyun-ah. Kau memang sahabatku. Aku tutup.”

“Ne Jin-ah.”

Ye Jin menarik benda persegi panjang dari telinganya itu lalu menggenggamnya erat. Ia benar-benar baru teringat dengan pria baik dan manis itu. Seorang sosok sahabat yang hangat dan murah senyum. Hanya dialah satu-satunya yang ia punya. Pria itu..Byun Baek Hyun.

-xXx-

Ting Tong!

Bel sebuah apartement berbunyi. Seorang wanita dengan tatapan lesu berdiri didepan pintu berwarna putih itu. Sedetik kemudian, pintu terbuka. Wanita itu langsung memeluk sang empu yang membuka pintu.

“Eo? J-jin-ah?”

Baek Hyun begitu terkejut ketika Ye Jin memeluknya erat. Setelah membiarkan Ye Jin memeluknya, barulah Ye Jin melepaskan pelukannya. Baek Hyun hanya bisa memberikan senyum hangatnya dan mempersilahkan Ye Jin untuk masuk. Mereka berdua duduk di sofa depan TV.

“Mau minum apa?” tanya Baek Hyun yang mendapat gelengan lemah dari Ye Jin. Ia menghela napas kemudian duduk didekat Ye Jin. Ye Jin menundukkan kepalanya membuat Baek Hyun merasa iba. Didalam hatinya, ia begitu sakit melihat wanita di depannya yang begitu rapuh.

“Apa yang dia perbuat padamu? Malhaebwa (beritahu aku).”

Setelah itu, Ye Jin menceritakan semuanya yang ia alami. Semua masalahnya dan kebimbangan hatinya selama menikah dengan pria yang ia cintai. Sesekali, Baek Hyun mengusap punggung Ye Jin lembut ketika wanita itu menitikkan air matanya yang entah kesekian kalinya. Mencoba memberikan ketenangan.Tanpa terasa ia terus berbincang masalah rumah tangganya. Baek Hyun mendengarkan dengan seksama dan memahami perasaan Ye Jin. Bagaimanapun ia juga lelaki. Ia begitu menyanyangi Ye Jin. Mungkin lebih dari kata ‘sayang’.

“Aku tidak mengerti apa salahku. Apa aku salah mencintainya Baek Hyun-ah?? Aku salah mencintai pria yang kucintai?” Ye Jin bertanya kepada Baek Hyun. Bukan kau yang salah Jin-ah tetapi Chan Yeol-lah yang begitu bodoh. Ia tidak bisa membedakan mana cinta yang tulus dan mana yang hanya sandiwara belaka.

“Apa yang harus kulakukan Baek Hyun-ah? Apa aku harus bercerai dengannya?” Baek Hyun terbelalak. Ia menatap Ye Jin.

“Mwo?? Ber—bercerai??”

“Aku benar-benar bimbang Baek Hyun-ah. Eotteohke? Hiks..hiks..eotteohke?”

“Sssttt..apa yang kau bicarakan? Jangan pernah mengatakan kata ‘cerai’ pada pria yang benar-benar kau cintai. Tuhan sedang menguji rumah tanggamu. Percayalah pada hatimu Jin-ah. Jika kau mencintainya, kau harus bertahan. Bukankah kau sudah mengucapkan janji suci di depan pendeta? Itulah yang harus kau pegang. Pegang janjimu. Jika kau bercerai dengan Chan Yeol, bagaimana dengan kedua orang tuamu dan kedua orang tua Chan Yeol? Mereka pasti akan sedih dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Chan Yeol.” Baek Hyun mendekap Ye Jin kedalam pelukannya. Memeluknya erat. Membiarkan wanita rapuh itu mengeluarkan derita yang ia pendam sejak lama.

“Lakukan-lah sesuai dengan hati nuranimu. Jika hati nurani-mu berkata ‘jangan’, maka jangan pernah lakukan itu.” Ye Jin yang berada dipelukan Baek Hyun sudah merasa tenang. Tubuhnya sudah tidak bergetar lagi.

“Jika kau ingin bercerita padaku, maka telpon aku. Aku akan selalu ada selama 24 jam untukmu. Aku akan selalu disampingmu Jin-ah. Hanya bercerita padaku, neo arra?” Ye Jin mengangguk pelan kemudian memeluk Baek Hyun erat. Andaikan ia bisa menghentikan waktu, maka ia akan merasa bahagia memeluk wanita yang sudah ia sayangi sejak lama. Memberikan ketenangan dan senyuman hangat hanya untuk Ye Jin.

“Jeongmal gomawo Baek Hyun-ah. Gomawo sudah meluangkan waktumu untukku. Hanya kau yang aku punya. Jeongmal gomawo~ hiks..” Baek Hyun melepas pelukannya kemudian menatap seksama wajah Ye Jin. Ia benar-benar benci dengan air mata itu. Air mata itu terjatuh dengan sia-sia hanya karena seorang pria yang tak tahu diri. Baek Hyun menghela napasnya. Sedetik kemudian jemarinya terangkat untuk menghapus air mata itu. Mengusapnya dengan kedua ibu jarinya.

“Kumohon, jangan pernah mengeluarkan air matamu yang berharga ini.” Ujarnya seraya memberikan senyuman hangat. Kini ia kembali menemukan lengkungan bibir itu. Sebuah senyum manis yang tak pernah berubah sejak 4 tahun yang lalu.

“Ya!! Byun Baek Hyun sejak kapan kau menjadi seperti ini?”

“Apa maksudmu ‘seperti ini’?? Aku tetaplah Byun Baek Hyun yang dulu. Apa aku berubah?” Ye Jin memperhatikan wajah Baek Hyun dan penampilannya. Ia terkekeh.

“Sedikit.”

“Aish..aku tahu kau pasti mau bilang, ‘kau bertambah tampan’. Aku akui itu memang benar. Kenapa kau tidak mengungkapkannya eo?” Ye Jin terkekeh mendengar jawaban Baek Hyun.

“Ya!! Ddaeng! (salah). Aku mau bilang, ‘kau bertambah lucu,narsis, dan dewasa’. Kau masih sama seperti dulu, tingkat kenarsisanmu tidak ada yang menandingi, haha~” melihat Ye Jin yang tertawa lepas membuat Baek Hyun tersenyum. Usahanya tidak sia-sia. Ia dapat melihat senyum dan tawa yang begitu lepas, berbeda ketika Ye Jin mempijaki kakinya di apartementnya. Wanita yang rapuh dan menyedihkan. Kini, sosok itu kembali seperti semula. Son Ye Jin.

-xXx-

Setelah dari apartement Baek Hyun, Baek Hyun mengajak Ye Jin untuk jalan-jalan. Mencoba melupakan sejenak masalahnya. Kini mereka menghabiskan waktu senja dengan bermain ditaman bermain dan membeli jajanan sekitar. Memakan ice cream, gulai gula dan banyak lagi.

“Akh..aku puny ide.” Ujar Baek Hyun ketika mereka sedang duduk berdua di sebuah bangku ditaman. Ye Jin yang mulutnya penuh dengan gulai gula menatap Baek Hyun heran.

“Apa?”

“Selca time!” ujar Baek Hyun riang seraya mengeluarkan handphone-nya dari saku celana-nya. Ye Jin menganga kemudian menempelkan tangannya ke jidad Baek Hyun.

“Badanmu tidak panas. Sebaiknya kita pulang.”

“Ya!! Siapa yang menyuruhmu pulang? Kita selca dulu ya..” Ye Jin mendesis dengan pria disampingnya. Kemudian ia kembali duduk dan membiarkan Baek Hyun mengangkat handphone keatas.

“Katakan ‘Baekkie’ arraseo?”

“Baekkie?Ya!!”

“Sudah. Aku tidak terima penolakan. Kajja bersiap-siap.”

“Hana..deul..Set..”

“Baekkie..”

“Kimchi..”

Kemudian suara kamera berbunyi. Mereka mengatakan aba-aba yang berbeda.

“Ya! Aku kan sudah bilang ucap ‘Baekkie’, kenapa kau mengucapkan ‘Kimchi’??” protes Baek Hyun. Kemudian ia melihat hasil jepretannya.

“Kau lihat! Kau sangat jelek. Sudah ku bilang, ucapkan ‘baekkie’.”

“Arraseo. Baiklah, ambil sekali lagi.”  Pinta Ye Jin kemudian tangan Baek Hyun kembali terangkat.

“Hana..deul..set..”

“BAEKKIE!!”

Suara jepretan kamera kembali berbunyi. Mereka melakukannya berkali-kali dengan pose yang berbeda dan aneh. Terlebih lagi Baek Hyun. Setelah cukup, mereka pun melihat hasilnya seraya tertawa terbahak-bahak.

“Hahahaha…kau jelek Baek Hyun-ah. Kenapa hidungmu mengembang?”

“Kau juga. Kenapa dengan gigimu? Hahahaha~~~”

Mereka saling menertawakan diri mereka masing-masing. Dan tanpa terasa, hari sudah semakin sore dan akan gelap. Baek Hyun pun mengantarkan Ye Jin pulang dengan mobilnya. Mereka berpisah di basement mobil. Baek Hyun tak bisa mampir, karena ada sesuatu keperluan jadi mereka berpisah disana. Ketika memasuki apartement, Ye Jin begitu kaget ketika apartement dalam keadaan kosong.

“Chan Yeol oppa belum pulang??”

“Mereka pasti sedang bersenang-senang. Sebaiknya aku mandi saja. Mungkin, Chan Yeol oppa akan pulang sebentar lagi.

-xXx-

 At Night…

23.25 KST

Ternyata harapannya tidak terkabul. Bahkan sudah hamper tengah malam Chan Yeol belum pulang. Ye Jin sangat khawatir. Ia sedari tadi mondar-mandir didepan TV dengan perasaan bimbang. Ia tak bisa menghubungi Chan Yeol karena handphone-nya tertinggal.

“Kemana dia? Kenapa sudah larut seperti ini belum juga pulang?” tanya Ye Jin dengan khawatir. Tiba-tiba..

Ting Tong!!

Mendengar suara bel, Ye Jin pun langsung berlari menuju pintu. Ketika pintu terbuka dengan kaget ia melihat Chan Yeol berdiri dengan pakaian lusuh dan terhuyung-huyung.

“Oppa! Ada apa denganmu?”

“Oh, kau Ye Jin.hahah~” dia mabuk. Dengan segera, Ye Jin membantu Chan Yeol berjalan dan masuk kedalam apartement. Membuka sepatu dan membawanya ke kamar. Selama itu, Chan Yeol selalu meracau tidak jelas.

“Seberapa banyak yang kau minum, Oppa?” tanya Ye Jin ketika ia memasuki kamar. Ini adalah pertama kalinya ia melihat Chan Yeol mabuk berat seperti ini. Ye Jin membaringkan tubuh Chan Yeol di tempat tidur dengan susah payah. Telapak tangannya ia tempelkan di kening Chan Yeol. Sedikit berkeringat.

“Kenapa kau baik hik padaku?” suara bass itu membuat Ye Jin terdiam. Chan Yeol sedang mabuk, dia pasti tidak menyadari apa yang ia katakan. Ye Jin memilih diam dan mendengar racauan Chan Yeol.

“Kau ini hik bodoh atau apa? Hik.. kenapa masih baik ketika hik aku berbuat hik kasar padamu?” Chan Yeol masih terus meracau dengan mata yang hampir tertutup. Ye Jin menarik selimut dan memakainya kepada Chan Yeol.

“Kau mabuk oppa. Istirahat lah. Aku akan tidur diluar.” Ye Jin berdiri namun sebuah tangan menariknya hingga ia terjatuh tepat diatas badan Chan Yeol. Mata Ye Jin terbelalak ketika Chan Yeol mengecup bibirnya. Ini adalah ciuman pertama mereka setelah sudah sekian lama menikah. Sebuah kecupan yang dilakukan dibawah kesadaran Chan Yeol. Tetapi..kenapa Ye Jin merasakan sesuatu yang lain?? Apakah Chan Yeol sudah mulai mencintainya??

“Op–pa”

“Mianhae~”

 

 

 

 

 

TO BE CONTINUE…

Halooo…masih ingat kah kaian dengan ff ini? Saya selaku author dri ff ini mohon untuk minta maaf banget karena ff ini hampir 2 tahun nggak di post lagi karena saya lupa kalo sebelumnya saya pernah kirim ke sini… mohon maaf ya semuanya readers maupun admin. Karena saya tidak mau ff ini di musnahkan dari blog exofanficion, saya langsung cepat-cepat kirim ff saya ini. Mohon maaf, saya baru ingat ketika membuka google. Mohon maaf.. dan karena saya harus mentutaskan ff ini, jadi saya akan kirim lagi ^^

Saya tidak megharapkan komentar dari kalian, tapi saya hanya mau bertanggung jawab saja. ‘Semoga kalian tidak kecewa dengan karya saya dan ff selanjutnya yang mau saya kirim

8 thoughts on “It’s Okay Even If It’s Hurt (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s