The Night Mistake (Chapter 6)

sehun chanyeol

The Night Mistake – Part.6

By : Ririn Setyo

Park Chanyeol || Song Jiyeon || Oh Sehun

Other Cast : Kim Jongin || Yang Yoojin || Xiumin

Genre : Romance ( PG – 16)

Length : Chaptered

FF ini juga publish di blog pribadi saya dengan cast yang berbeda

Ririn Setyo

Yoojin membanting pintu kamarnya sangat keras, menyisakan suara bentuman yang membuat beberapa pelayan terkejut sekaligus merasa khawatir, mendapati nona muda mereka yang tiba-tiba saja pulang ke rumah dengan menangis. Sejak setengah tahun lalu Yoojin memang tidak lagi tinggal bersama orangtuanya, gadis itu memutuskan untuk tinggal di rumah yang dihadiahkan Sehun dengan alasan agar bisa menjadi gadis yang lebih mandiri. Gadis cantik yang tumbuh menjadi seorang nona muda yang manja, dengan pelayan setia yang selalu membantunya dalam segala hal, merasa sedikit tak pantas dan takut tidak bisa menjadi wanita yang mandiri dan bisa diandalkan setelah menikah. Yoojin akhirnya memutuskan hidup terpisah dari orangtuanya, keputusan yang membuat Chanyeol tertawa terbahak-bahak, hanya di akhir pekan biasanya Yoojin kembali ke rumahnya, bertemu kedua orangnya yang sangat sibuk bekerja.

Yoojin terduduk di lantai begitu saja, tak punya lagi kekuatan untuk menaiki ranjang hingga terisak di lantai, kedua kakinya tertekuk. Yoojin menangis tersedu, menyembunyikan wajahnya di antara lengan yang terlipat. Merasa tak sanggup dengan pesakitan yang menderanya terlalu kuat, merasa jika hidupnya selama ini terlalu berat, jatuh cinta pada laki-laki brengsek yang sayangnya telah memenangkan seluruh hati dan hidupnya. Yoojin menatap cincin yang diberikan Chanyeol beberapa bulan lalu, cincin yang mengikatnya agar selalu berada di garis hidup laki-laki itu. Disela isaknya yang kian menyesakkan, Yoojin menertawakan dirinya yang begitu bodoh saat mempercayai semua ucapan Chanyeol kala itu, percaya Chanyeol juga mencintainya, seperti dia mencintai pria itu.

Yoojin juga menertawakan dirinya yang terlalu mencintai Chanyeol, dia selalu menutup mata dan telinga untuk semua kebrengsekan Chanyeol, yang nyata terlihat di sepanjang hubungan mereka terjalin. Dan sekarang, Chanyeol seenaknnya melakukan hal yang tidak bisa Yoojin maafkan, hal yang sudah di sepakati antara dia dan Chanyeol. Hal bodoh yang terdengar tidak masuk akal, untuk hubungan sehat di antara dua insan yang manjalin hubungan dengan dasar rasa cinta.

 

Chanyeol tidak boleh menghamili wanita yang di tidurinya di luar sana.

 

Bodoh! Ya Yoojin memang bodoh, gadis itu bahkan tahu betul akan hal itu. Tapi apa mau di kata, bukankah cinta bisa membutakan segalanya?

Yoojin merasa jika isak tangisnya kian terasa menyakiti dadanya, tangan gemetarnya perlahan menarik cincin cantik itu dari jari manisnya, melemparnya asal seraya berteriak kencang untuk meluapkan semua kebodohannya selama ini. Kebodohan dalam mencintai seorang Park Chanyeol.

“AARRGGHHH!!! AKU MEMBENCIMU CHANYEOL, AKU MEMBENCIMU!!!”

~000~

Chanyeol berjalan pelan nyaris tertatih menelusuri beranda rumahnya, merasa jika semuanya terlalu berat hingga kakinya terasa lemas. Tak ayal Chanyeol pada akhirnya terduduk begitu saja di tengah beranda, meneteskan air mata akan batas akhir dari hubungannya dengan Yoojin. Ya semua sudah berakhir, semua sudah terlalu sulit untuk diperbaiki, semua sudah terlalu menyakiti hati sang terkasih hingga Chanyeol benar-benar tidak mampu lagi menemukan, kata-kata untuk menjelaskan semua kelakuan bejatnya.

“Maafkan aku,”

Gumaman serak Chanyeol terdengar sangat lirih, tenggelam di dalam tetesan air mata yang mengaliri wajahnya yang pucat, tersembunyi di dalam kedua kaki yang terlipat. Chanyeol tidak ingin meratap, namun nyatanya suara asing itu mulai terdengar samar keluar dari bibirnya yang beku. Chanyeol juga tidak ingin menyesali perbuatannya, perbuatan yang jelas-jelas dia lakukan dengan sadar, hasil dari pikiran liar yang selama ini selalu menaungi langkahnya.

 

Laki-laki brengsek sepertinya, tidak pantas untuk menangis bukan?

 

Dalam tawa yang mengaisi nasibnya Chanyeol mendongak, merasakan usapan di bagian bahu yang sejujurnya tanpa menoleh pun, Chanyeol tahu siapa yang kini tengah menatapnya iba. Chanyeol tak suka dengan tatapan itu, terlebih karena tersirat dari sepasang mata tajam yang terkenal dengan kekejamannya. Namun semua terasa sia-sia saat laki-laki itu justru menarik Chanyeol untuk berdiri, menepuk pundaknya dengan satu tangan yang menyatu di balik lengannya. Tanpa persetujuan laki-laki itu menyeret Chanyeol, memaksanya untuk melangkah menuju kamar tidur di ujung serambi.

Lagi laki-laki menarik selimut setelah meminta Chanyeol untuk berbaring di atas ranjang, dia menarik sudut bibirnya hingga senyum samar terlayang pada sosok Chanyeol yang menatapnya, tatapan yang menyiratkan dukungan walau tanpa lisan yang terjabar. Pria itu membalikkan tubuhnya setelah Chanyeol menyerukan satu kalimat.

“Terima kasih, Jinhwan Hyung.”

~000~

Seojung duduk di atas kursi kuasanya, wajah tegasnya terlihat murka, kepalan tangan sudah terbentuk sejak beberapa waktu berjeda. Hari ini Seojung sangat marah karena ketidak hadiran Chanyeol di rapat direksi tanpa kabar berita, membatalkan niatnya untuk menyerahkan saham perusahaan pada putra tunggalnya itu. Seojung meraih tas berlebel merk ternama dengan harga ratusan juta won warna merah terang yang ada di ujung meja, menjejalkan tangannya ke dalam tas untuk selanjutnya mengeluarkan handphone layar sentuh berteknologi canggih dari dalam sana. Satu kerutan halus tercetak samar di dahinya, menatap satu nama yang memenuhi inbox, berjejer dengan puluhan pesan singkat lainnya dari teman dan kolega.

“Oh Sehun?“

Gumam Seojung, dia sedikit tidak percaya mendapati keponakan yang tidak begitu dekat dengannya itu mengirim pesan singkat. Namun saat Seojung baru saja hendak membuka pesan singkat itu, seorang laki-laki tinggi memasuki ruanganya, dia menahan diri untuk membaca pesan singkat Sehun, mengalihkan pandangan pada sosok dingin yang baru saja memberikan salam hormat padanya.

“Apa semua masih berjalan baik, Jinhwan?”

“Ya Direktur Park Seo. Kemarin bahkan Nona Yoojin datang mengunjungi Tuan Muda.”

“Syukurlah aku senang mendengarnya, aku harap Chanyeol tidak akan menyusahkanku karena gadis pembawa sial itu.” Seojung kembali menatap layar ponselnya. “Eoh! Apa kau tahu, dimana Chanyeol saat ini? Dia tidak hadir di rapat direksi hari ini?”

“Tuan Muda sedang beristirahat di rumah, memulihkan kondisi agar dapat segera menyelesaikan urusan yang tertunda pada gadis itu.”

“Tunggu—-“ Ucapan Jinhwan berjeda tanpa rencana, menatap Seojung yang terlihat menajamkan matanya, dia kembali mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih.

“Direktur—-“

“Sepertinya ada yang kau lewatkan Im Jinhwan!” Seojung menatap Jinhwan tajam. “Bukankah aku sudah bilang, jika aku tidak mau gadis itu mengacaukan hidup Chanyeol?”

“Kau dan aku tahu pasti jika Chanyeol kerap membuatmu lemah, aku juga tahu jika kau selalu melindunginya karena menjalankan amanat dari suamiku.” Seojung berdiri dari tempat duduknya, menunjukkan pesan singkat yang baru saja selesai dibacanya.

 

Bibi Seojung, Yoojin baru saja mengakhiri hubungannya dengan Chanyeol, dia sudah tahu tentang gadis yang ada di rumah Chanyeol.

 

“Maafkan saya Direktur, saya terlalu lengah untuk masalah ini.” Seojung mengangguk sekilas, menuntaskan kalimat perintah hingga Jinhwan mengangguk patuh sesaat sebelum berlalu dari hadapannya.

“Bereskan semuanya!”

Ne, algesseumnida.”

~000~

Mata bening Jiyeon yang terasa berat dan lengket perlahan mulai terbuka, kembali tertutup untuk sejenak saat cahaya mentari dari balik tirai jendela datang menyapa. Jiyeon tertidur selama hampir tiga jam lebih setelah lelah menangis dan menelan satu butir obat tidur dalam dosis sangat rendah yang Jihye berikan untuk menenangkannya. Jiyeon memutar pandangan ke penjuru kamar setelah mata beningnya mampu berdamai dengan cahaya di sekitar, dia memegangi kepalanya yang berputar, pandangannya sedikit mengabur. Jiyeon mengerjab dan berusaha mengumpulkan kepingan kesadaran yang tercecer, karena efek obat tidur yang masih bersarang di tubuhnya.

Saat semuanya menjadi lebih jelas, Jiyeon bangkit dari posisi tidurnya, gadis itu seketika menatap ke arah perutnya yang rata. Dia kembali merasa dikejar rasa takut, saat sadar jika kini telah tumbuh satu nyawa di dalam rahimnya, nyawa dari seorang bayi yang tidak pernah diinginkanya sedikit pun. Jiyeon meremas pakaiannya di bagian perut, beranjak turun dari ranjang, berjalan dengan rasa kalut yang kembali datang mengepungnya, menuju beranda di depan kamar, sebuah kolam renang berada tepat di bawahnya.

Jiyeon terus melangkah hingga berdiri di pembatas beranda, menatap dunianya yang kian kelabu untuk mendapati satu fakta baru yang Jiyeon rasa tidak akan bisa dijalaninya. Semua semakin terasa berat, semua terasa semakin benar-benar tidak sanggup untuk dipikulnya. Jiyeon terisak pelan untuk semua garis hidup yang dijalaninya, menatap air tenang kebiruan di bawah sana, tetesan air mata semakin deras mengaliri wajahnya yang pucat. Dan dalam beban hati yang kian menguburnya, dalam kekalutan yang kian menguncinya, Jiyeon mulai berpikir jika mungkin mengakhiri hidup dalam air kolam yang dingin di bawah sana, bisa menolongnya kali ini. Membebaskan diri dari deraan pesakitan yang perlahan namun pasti, kian terasa semakin membunuh hari-harinya.

 

BBYUUURRRR!!!—-

 

Jiyeon tergagap saat suhu dingin berhasil mengepungnya, dia menerawang dunia di atasnya yang kian memudar ketika puluhan liter air memenuhi hidung dan paru-parunya. Menyesakkan jantung hingga terasa tidak lagi bekerja dengan semestinya, tubuh Jiyeon terus menyusut ke dasar kolam, sisa nyawa terasa berada di ujung napas terakhirnya. Namun saat Jiyeon baru saja percaya jika penderitaannya akan berakhir, seseorang tiba-tiba datang dan menceburkan diri ke dalam kolam, dia bisa merasakan jika ada sepasang tangan meraih tubuhnya, membawanya ke atas, menyelamatkan Jiyeon dan mencegah gadis itu untuk meninggalkan dunia fana yang di bencinya.

~000~

Dalam napas yang masih memburu, tetesan air dari bajunya yang basah kuyup masih menetes, Chanyeol menatap Jiyeon yang sudah tertidur di atas ranjang dari ujung kamar. Dia kembali mengingat kejadian beberapa saat lalu hampir saja merenggut nyawa Jiyeon, jika Chanyeol yang tidak sengaja terjaga dari tidurnya, mendengar suara tak lazim dari arah kolam renang. Chanyeol yang ingin mencari udara segar di beranda belakang mendatangi kolam renang, dia sangat terkejut saat tahu jika seseorang baru saja terjun bebas dan tenggelam ke dasar kolam yang dingin.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Chanyeol pada Jihye yang datang menghampirinya.

“Sudah lebih baik Tuan Park, para dokter bekerja cepat dan berhasil mengeluarkan semua cairan yang bersarang di paru-parunya.” Jihye menatap Chanyeol yang terlihat tersenyum lega, bibir laki-laki itu bergetar nyaris biru menahan suhu dingin dari tubuhnya yang basah.

“Ganti pakaianmu Tuan Park, kau bisa sakit jika terus bertahan dengan pakaian basahmu itu.”

Chanyeol mengangguk pelan menatap sekali lagi sosok Jiyeon di atas ranjang, sebelum akhirnya membalikkan tubuhnya dan berlalu dari hadapan Jihye. Meninggalkan Jihye yang menatap punggung Chanyeol dengan senyum samarnya, menatap sosok yang selalu terlihat tegar guna menutupi semua sakit dan rapuhnya dari orang lain.

“Aku harap Jiyeon akan segera memaafkanmu Park Chanyeol, karena aku rasa—- kau masih pantas untuk mendapatkan kata maaf darinya.” Gumam Jihye lalu kembali mendekati ranjang di mana Jiyeon masih terbaring lemah di sana.

~000~

Yoojin masih duduk meringkuk di sebuah sofa besar tanpa sepatah kata, menekuk kedua kaki, menatap menerawang pada tetesan hujan yang meninggalkan percikan di atas jendela kaca. Jarinya yang pucat menghapus jejak air mata yang masih saja tertinggal di pipinya, walau Yoojin sudah ribuan kali menyekanya bahkan sebelum butiran bening itu terjun bebas dari mata coklatnya yang sembab. Yoojin putus asa, tak tahu apa yang harus dilakukan dan memilih terpuruk, diam tak bergerak ataupun beranjak dari pesakitan yang tertinggal di ujung hati. Di luar masih hujan, semakin menegaskan bahwa alam pun seakan menertawakan nasib sial yang ditanggungnya kali ini.

“Yoojin.”

Usapan lembut di puncak kepala mengalihkan pandangan Yoojin, dia menatap sepasang mata teduh yang menatapnya hangat, lalu menarik tubuhnya yang entah mengapa kembali bergetar ingin menangis, setelah terperangkap dalam pelukan erat dari sosok laki-laki di depannya.

“Sehun Oppa–— aku—- aku telah mengakhiri semuanya,”

Yoojin terisak pelan, dia mengigit ujung jari-jarinya, meredam isak tangis yang sudah tidak ingin lagi Yoojin perdengarkan pada alam semesta. Sudah cukup banyak air mata yang dia tumpahkan untuk sosok brengsek Chanyeol hingga detik ini, sosok yang tidak layak untuk di tangisi mengingat semua kelakukan kejamnya yang selalu merentas hati.

“Jangan mengambil keputusan terburu-buru, pikirkan sekali lagi.”

Pelukan menenangkan Sehun kian mengerat, belayan lembut di atas kepala dan punggung membuat Yoojin merasa sedikit lebih baik. Gadis itu mengerjab pelan, melonggarkan pernapasan untuk semua rasa sesak yang masih menghimpit dadanya. Yoojin menguatkan tekat awal untuk mengakhiri semuanya tanpa kembali berkompromi, tanpa kembali bertanya pada hati yang Yoojin yakini akan kembali membuatnya memaafkan Chanyeol, seperti yang biasa dia lakukan selama ini.

“Aku tahu. Tapi dia sudah keterluan, bagaimana jika setelah ini ada lebih banyak lagi gadis yang mengandung anaknya, Oppa?”

Chanyeol hanya melakukan satu kesalahan, percayalah padaku.”

Yoojin menggeleng lemah, menolak pembelaan Sehun atas Chanyeol yang telah menyakitinya terlalu banyak. Yoojin menyerah dalam memenangkan Chanyeol, menyerah dalam bersabar menghadapi tingkah buruk Chanyeol di luar sana. Dia menyerah menunggu Chanyeol yang hanya akan menempatkan dirinya, sebagai satu-satunya gadis yang menemani malam panjang Chanyeol di peraduan mereka yang hangat. Dalam kedua matanya yang tertutup Yoojin bersandar kian rapat di dada Sehun, meluncurkan tetesan air mata terakhir untuk kandasnya hubungan yang terjalin bersama Chanyeol. Meminta batin dan hatinya untuk sejalan dengan otaknya, sejalan untuk benar-benar lepas dari sosok yang dicintai tanpa berniat menoleh, berbalik dan kembali mengizinkan laki-laki itu mengoreskan jejak di dalam hidupnya.

“Aku melepaskannya Oppa, aku—- sudah tidak sanggup untuk meneruskannya lagi.” Bisik Yoojin dari dalam pelukan Sehun yang kian mengerat.

Sehun mengangguk pelan lalu mendaratkan kecupan hangat di atas kepala, lalu menarik kedua sudut bibir tipisnya hingga seringai kejam tercetak di sana. Laki-laki itu bahkan ingin sekali berteriak kencang, untuk merayakan semua kemenangannya yang ada di depan mata. Dan sekarang Sehun hanya akan menunggu sebentar lagi untuk hasil akhir yang sempurna, Chanyeol akan hancur tanpa sisa di atas telapak tangannya.

~000~

Jihye mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, membelai pelan wajah pucat Jiyeon dengan rasa sayang yang tersirat nyata di balik sentuhannya saat ini. Wajah Jiyeon terlihat mirip dengan almarhum putrinya.

“Jiyeon kenapa kau lakukan ini? Apa kau tidak merasa kasihan pada orang-orang yang menyayangimu?” Jihye kembali membelai wajah pucat Jiyeon, menatap lekat wajah Jiyeon dengan mata yang mulai berembun. Jihye tidak sadar jika Jiyeon baru saja membuka mata.

“Dokter Kang,”

Jihye terkejut sekaligus lega.

“Kau sudah sadar?”

Jiyeon hanya mengangguk lemah.

“Siapa yang menyelamatkanku, Dokter? Kenapa dia tidak membiarkanku mati?” air mata mengalir dari sudut mata bening Jiyeon yang sayu, gadis itu terisak pelan mendapati jika dia masih hidup dan masih bisa menghirup udara untuk paru-parunya.

“Chanyeol! Dia menyelamatkanmu dan bayimu.”

Jiyeon tidak menjawab, gadis itu hanya memalingkan wajahnya.

“Jiyeon aku tahu jika ini sangat berat untukmu, aku tahu jika kau sangat tersiksa untuk semua kesakitan ini. Tapi kau juga harus memikirkan kedua orangtuamu dan sekarang—- telah ada nyawa lain di rahimmu, kau tidak boleh membunuhnya.”

“Aku tidak menginginkan bayi ini.”

Dia tidak bersalah sedikit pun dalam hal ini, Jiyeon.” tanpa sadar Jihye sudah meneteskan air mata, dia melihat Jiyeon yang sudah terisak hingga gadis itu merasa sesak.

“Aku—- aku tidak sanggup jika harus mengandung bayi laki-laki itu, Dokter.“ Jiyeon menatap memohon pada Jihye, menangis dalam gulungan putus asa yang kian membuatnya tidak berdaya.

Jiyeon tidak bisa meneruskan ini semua, Jiyeon sudah tidak punya kekuatan menghadapi jabang bayi dari laki-laki yang sangat di bencinya. Jiyeon benar-benar tidak sanggup. Jiyeon memiringkan tubuhnya, membekab mulutnya, isanya kian terdengar nyata. Begitu juga dengan Jihye, wanita itu juga semakin tidak tahan, melihat semua penderitaan Jiyeon yang terasa tidak pernah berakhir. Hingga suara langkah seseorang memecah isak tangis mereka, wajahnya dingin, menatap sosok Jiyeon yang telah menyadari kedatangannya, menatapnya datar saat laki-laki itu pada akhirnya mengeluarkan kalimat perintah yang terdengar begitu mencekam.

“Gugurkan bayimu dan segera pergi menjauh, Song Jiyeon!”

Sementara itu disalah satu ruangan lain, Seojung sudah menatap menghujam pada sosok Chanyeol yang duduk diam di atas sofa, depan meja kaca yang menjadi pembatas di antara mereka. Pengusaha sibuk yang dulu selalu Chanyeol banggakan pada teman-temannya itu, mengeratkan kepalan tangannya di atas pangkuan hingga buku-bukunya memutih. Dia menatap Chanyeol yang terlihat sangat pucat, bibir sedikit membiru, luka lebam menghiasi beberapa bagian di wajahnya. Seojung juga bisa melihat dari balik kemeja putih yang Chanyeol kenakan, jika di lengan sebelah kanan terdapat perban putih. Seojung memejamkan matanya, membuang rasa khawatir pada keadaan putranya sekuat yang dia bisa, mengembalikan keadaan mereka yang sesungguhnya, kaku dan berbatas tembok tebal tanpa pernah bisa dirobohkan.

Seojung kembali mengingat pesan singkat dari Sehun tadi siang, pesan yang memberitahunya jika Yoojin baru saja memutuskan hubungannya dengan Chanyeol. Seojung marah hingga kilatan merah di mata dinginnya menguar, dia tidak habis pikir untuk semua kekacauan yang sudah Chanyeol lakukan. Ini semua mengancam harga diri beserta nama baik perusahaan, jika pihak media di luar sana mengetahui prihal pembatalan pertunangan yang sudah di umumkan akan di laksanakan beberapa bulan ke depan. Di tambah satu masalah memalukan tentang gadis yang ada di rumah Chanyeol, masalah yang Seojung pun belum tahu jalan keluarnya hingga kerutan di dahi wanita itu bertambah. Semua terlihat benar-benar sempurna di mata Seojung, Chanyeol baru saja mengibarkan bendera perang pada dirinya.

“Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu, Chanyeol? Apa kau sengaja ingin mempermalukanku, begitu?” Seojung angkat bicara, memecah suasana dingin di atara mereka.

“Langsung saja katakan apa tujuan ibu datang kemari, aku sangat lelah dan ingin segera beristirahat.”

“Park Chanyeol!” Seojung mengepalkan tangannya semakin kuat, menahan emosi yang mulai tersulut karena tanggapan Chanyeol yang begitu dingin.

“Kenapa?”

“Yoojin membatalkan pertunangan denganmu karena gadis yang kau bawa ke rumah ini, apa kau lupa dengan kesepatakan kita di awal kau membawa gadis itu kemari?”

Tidak ada raut terkejut di wajah Chanyeol mendapati jika Seojung sudah mengetahui prihal hubungannya dengan Yoojin, terlalu banyak kaki tangan sang ibu yang mengawasi semua gerak geriknya tanpa terlewat sedikit pun. Jadi tidak heran jika ibunya tahu semuanya secepat ini.

“Jangan pernah menyakitinya ibu!”

Seojung tertawa sumbang, menatap tajam Chanyeol yang menatapnya dingin. “Hebat! Kau bahkan membelanya, membela gadis yang bahkan tidak kau kenal. Mengorbankan Yoojin yang jelas-jelas mencintaimu dan menjadi pihak paling tersakiti disini.”

“Apa Ibu pikir aku tidak sakit?”

Chanyeol mensejajarkan matanya dengan sang ibu, menatap wanita yang dulu selalu menjadi orang pertama yang Chanyeol lihat, saat dia membuka mata di awal harinya. Menatap wanita yang jauh sudah berubah dan tidak lagi Chanyeol kenal.

“Aku mencintai Yoojin Ibu, aku limblung seakan setengah nyawaku menguap saat dia meninggalkanku, aku lemah tak berdaya saat tahu jika aku baru saja kehilangan duniaku. Tapi sialnya anak brengsekmu ini juga tidak bisa melepaskan Jiyeon, gadis yang tidak berdosa yang harus menanggung derita karena kelakuan bejat putra ini.”

Chanyeol menghembuskan napasnya kasar, tertawa sumbang untuk semua ketidakberdayaan yang ditanggungnya, karena sebuah kesalahan fatal yang diperbuatnya di malam kelam bersama Jiyeon.

“Lalu sekarang! Apa aku juga harus memikirkan harga dirimu yang tanpa celah itu? Apa aku juga harus memikirkan nama baikmu di depan orang-orang busuk yang menjilatmu, demi ekstitensi mereka di dunia artifisialmu yang aku benci? Apa aku juga harus bertanggung jawab atas dirimu, Ibu?”

“Park Chanyeol! Omong kosong apa ini?”

“Seperti yang Ibu tahu sejak awal, aku akan tetap bertanggungjawab pada gadis itu.”

“Kau—-“ Seojung bangkit dari posisi duduknya. “Jika ayahmu masih hidup, dia pasti akan sangat kecewa padamu, Chanyeol.”

“Ibu yang membuatku jadi seperti ini, Ibu meninggalkanku lebih dari ayah meninggalkanku,”

Seojung mengepalkan tangannya kuat, rahangnya mengeras, dia menahan lidahnya yang tiba-tiba teras begitu kelu. Tak mampu berucap sebaris kalimat yang tertahan di ujung lidahnya, Seojung menatap Chanyeol yang menatapnya tajam dalam senyap, menatap putra tunggalnya yang menjadi satu-satunya alasan Seojung masih mampu berdiri tegak hingga detik ini. Seojung ingin sekali berteriak dan mengatakan betapa dia menyayanyi Chanyeol, ingin mengatakan jika puluhan tahun lalu bahkan hingga kini, tiada malam tanpa air mata penyesalan, karena tak bisa menemani Chanyeol kecil untuk rasa kehilangannya kala itu. Jika tiada malam tanpa kerinduan, saat Chanyeol memutuskan untuk pergi dari rumah dan lebih memilih tinggal di kediaman adik iparnya.

Saat itu Seojung tidak ingin Chanyeol melihatnya terpuruk, melihatnya rapuh saat ditinggalkan sosok suami untuk selamanya. Seojung menutup diri untuk semua sedihnya kala itu, menyibukkan diri hingga bisa mengabaikan rasa kehilangan yang membunuh setengah dari jiwanya. Hingga tanpa sadar mengubah pemikiran putranya, walau sejatinya Seojung hanya ingin Chanyeol menjadi anak yang kuat, karena tidak ada lagi sosok Park Jaebin yg bisa mengayomi mereka berdua. Tapi Chanyeol tidak tahu dan tidak akan pernah tahu. Kini Seojung merasa jika semuanya sudah terlalu beku, sudah terlalu rusak untuk diperbaiki dan sudah tidak memungkinkan untuk mengembalikan semua hubungan hangatnya dengan Chanyeol seperti dulu lagi.

“Aku tidak akan meminta maaf untuk semua kehilangan yang kau gunakan untuk menyalahkanku, Chanyeol, aku tidak akan mengubah apapun demi memperbaiki hubungan kita. Yang aku inginkan adalah kau tidak mengusik ketenanganku, apapun alasannya.” Seojung membalikkan tubuhnya, bersiap melangkah seraya melanjutkan kalimatnya.

“Perbaiki hubunganmu dengan Yoojin dan singkirkan gadis itu secepatnya,”

“Tidak!”

Seojung menahan langkahnya, geram dengan semua sikap keras Chanyeol selalu tidak pernah bisa dia patahkan. Seojung menunggu kata-kata Chanyeol yang belum tuntas, kata-kata yang pada akhirnya membuat Seojung terdiam di tempatnya berpijak, merasa tubuhnya beku dengan kata akhir yang serasa menguliti harga dirinya hidup-hidup.

“Dia hamil! Dia mengandung anakku dan aku tidak mungkin menyingkirkannya, Direktur Park Seo!”

~000~

“Apa maksudmu, Im Jinhwan? Bagaimana mungkin kau ingin membunuh bayi ini?” Jihye berseru, wanita paruh baya itu menempatkan tubuhnya di depan Jiyeon yang masih terpaku. Berdiri berhadapan dengan Jinhwan yang hanya menatap lurus-lurus, Jiyeon terlihat mulai meragu.

“Bukankah kau tidak menginginkan bayi itu, Song Jiyeon?”

Jinhwan mendekat satu langkah, tak mengalihkan pandangan saat Jiyeon mendongak, mensejajarkan mata mereka, beradu dalam pemikiran yang sama. Jiyeon hampir saja mengangguk setuju jika bukan karena suara Jihye yang mengintrupsi pemikirannya, wanita itu menguncang bahu Jiyeon kuat, berusaha untuk menyadarkan Jiyeon dari pemikiran kejamnya saat ini.

“Jiyeon sadarlah, dia bayimu—-“

“Dia bukan bayiku! Aku tidak menginginkannya!”

“Mengugurkannya sama saja membunuh satu nyawa manusia Jiyeon, apa sekarang kau ingin menjadi seorang pembunuh?”

Jiyeon mendorong Jihye menjauh, gadis itu menggeleng kuat dalam pikiran kacaunya. Jiyeon tidak menginginkan bayi Chanyeol, tapi dia juga bukan pembunuh, dia tidak mungkin menjadi seorang pembunuh. Membunuh Chanyeol yang jelas-jelas pantas mati saja Jiyeon tidak sanggup, apalagi jika harus membunuh segumpal darah bernyawa yang bahkan tidak tahu apa-apa dalam masalah ini. Napas Jiyeon mulai berpacu, beradu dalam tetesan air mata yang lagi-lagi turun tanpa perintah dari sepasang mata sembabnya. Gadis itu bergumam, memundurkan tubuh terhuyungnya dan hampir terjungkal, saat kakinya membentur pinggiran ranjang tidurnya.

“Aku—- aku—-,” Jiyeon terus bergumam, bergolak dalam perang batin yang membuat sekujur tubuhnya mendingin.

“Jiyeon aku mohon.”

“Aku—-,”

Hyung!” ucapan Jiyeon terputus saat suara lain memenuhi ruangan itu, semua mata beralih, menatap sosok Chanyeol yang sudah berdiri di ambang pintu.

Laki-laki itu melangkah memasuki kamar, wajahnya sangat pucat hingga selayak pualam, berkilau saat cahaya lampu menerpa wajahnya. Chanyeol mengerjapkan matanya pelan, menahan rasa pening yang berdenyut di kepalanya. Mata sayu Chanyeol menatap Jinhwan yang berdiri diam di depannya, tersenyum samar saat mendapati Jiyeon yang terlihat baik-baik saja di sisi ranjang.

“Sudah cukup Hyung! Ibu—- sudah menarik perintahnya darimu.” Chanyeol mengalihkan pandangannya pada Jiyeon. “Dan apapun yang akan Ibu perintahkan lagi padamu, aku—- tidak akan membiarkan kau menyakitinya walau itu hanya seujung kuku.”

Mata bening Jiyeon bergerak seketika, menatap sosok pucat Chanyeol yang berjarak beberapa langkah di depannya. Pelan tapi pasti Jiyeon merasa jika perutnya sedikit nyeri, merasa mual dan merasakan satu rasa yang dibencinya kembali datang menghampiri, rasa yang bahkan menguapkan sederet kata makian yang lagi-lagi terasa tertahan di ujung lidahnya yang kelu. Mata bening Jiyeon enggan berpaling dari sosok Chanyeol yang terlihat tidak baik-baik saja, Jiyeon bahkan ingin melangkah mendekati Chanyeol, tapi tertunda ketika sosok justru laki-laki itu berjalan mendekatinya..

“Maafkan aku, Song Jiyeon, aku—-aku—-“

Jiyeon memaku saat Chanyeol menatapnya penuh penyesalan, dia merasa sangat khawatir hingga napasnya serasa terhenti, saat tiba-tiba tubuh tegab Chanyeol limblung, jatuh ke depan, ke arah Jiyeon sesaat sebelum pada akhirnya ambruk bersama Jiyeon di atas ranjang. Jiyeon menjerit tertahan, tubuh Chanyeol ada di atas tubuhnya dengan suhu tubuh yang sangat panas.

“PARK CHANYEOL!!!”

Dengan cepat Jinhwan meraih tubuh lemah Chanyeol dari atas tubuh Jiyeon, mengangkatnya dengan kedua tangan dan berteriak memerintahkan pelayan rumah untuk memanggil dokter. Sementara Jiyeon masih diam di posisinya, terlalu terkejut mendapati suhu tubuh Chanyeol yang sangat panas, Jiyeon bahkan merasa jika tubuhnya kini juga terasa panas.

“Jiyeon, kau baik-baik saja?”

Jiyeon tersadar dari lamunannya, menatap Jihye yang sudah duduk di sisi tubuhnya. Gadis itu mengangguk lalu ikut duduk di tepi ranjang, meremas jemari, rasa khawatir kini mendominasi hatinya. Jiyeon takut bahkan sangat takut hal buruk menimpa Chanyeol, walau Jiyeon tidak mengerti kenapa dia harus merasa sekhawatir itu pada sosok yang dia benci.

“Aku akan melihat keadaan Chanyeol, kau istirahatlah aku akan memanggil beberapa perawat untuk menemanimu,”

Jihye beranjak menuju pintu kamar, bermaksud untuk memanggil perawat yang ada di luar. Namun langkah Jihye tertahan saat tiba-tiba Jiyeon sudah berdiri di sampingnya, menahan lengannya, Jihye terkejut.

“Bolehkah aku ikut?”

“Apa?”

“Maksudku, aku—-“

“Tinggallah di kamar Jiyeon, jangan menyiksa dirimu sendiri dengan melihat kembali orang yang kau benci.”

Seketika Jiyeon memaku membiarkan Jihye mendorong tubuhnya untuk kembali masuk ke dalam kamar, ditemani tiga orang perawat yang datang menghampiri. Jiyeon tertatih menuju ranjangnya, meraba perutnya yang kembali terasa nyeri, napasnya sedikit sesak butiran air mata tiba-tiba saja sudah datang memenuhi iris beningnya. Jihye benar Chanyeol adalah sosok yang Jiyeon benci, untuk apa dia melihat sosok brengsek itu, apalagi mengkhawatirkannya. Seharusnya Jiyeon berdoa agar laki-laki itu cepat sekarat dan segera meninggalkan dunia fana, seharusnya seperti itu kan?

Namun yang terjadi berbeda, Jiyeon merasa sangat takut, merasa sangat khawatir hingga membuatnya terisak pelan. Dia beranjak dari ranjang, berjalan mondar mandir, mengigit ujung kukunya. Berusaha meredam rasa takut yang kian membelengu, menyingkirkan semua perasaan lain yang selama ini menaugi hati tentang seorang Park Chanyeol. Jiyeon mengabaikan para perawat yang memintanya untuk tidur, sebentar lagi tengah malam akan datang. Jiyeon justru berjalan menuju jendela kaca, menatap langit malam yang hitam pekat, dingin tanpa satu bintang berkelip yang menemani. Perlahan jemari Jiyeon mengepal, kembali mencoba menahan rasa yang sampai kini Jiyeon pun tidak tahu dari mana datangnya, perasaan yang mengepungnya seiring rasa nyeri yang menyerang perutnya.

Jiyeon benar-benar cemas dan ingin melihat keadaan Park Chanyeol.

~000~

Pagi ini Jiyeon terbangun lebih awal, lebih tepatnya Jiyeon tidak benar-benar bisa tidur nyenyak semalaman. Mata beningnya terlihat bengkak, terlalu sering menangis ditambah tidak tidur semalam, Jiyeon berhasil menghasilkan lingkaran hitam di bawah matanya. Dia terlihat gelisah dan tidak tenang, wajahnya pun terlihat kalut dan sejak tadi Jiyeon belum mengeluarkan sepatah kata pun. Jiyeon tidak berselera untuk makan dan hanya memainkan menu sarapan paginya sejak tadi, menatap Jihye yang duduk di depannya, di sofa panjang yang ada di beranda. Jiyeon mendesah, menahan gejolak rasa yang belum juga mau beranjak dari hatinya, rasa yang membuatnya sangat kalut, jantungnya berdetak cepat, jemarinya bergetar, bahkan pagi ini semuanya terasa semakin sulit dan menyiksa batinnya. Jiyeon semakin mengkhawatirkan Chanyeol, lebih dari yang sebelumnya.

“Dokter Kang, kemana laki-laki itu membawa Chanyeol semalam?”

Semakin tak tahan pada akhirnya Jiyeon bertanya, membuat Jihye mengerjab, mensejajarkan pandanganya pada Jiyeon dan menyisakan kerutan halus di keningnya, menyadari jika wajah Jiyeon saat ini terlihat sangat cemas.

“Ke kamarnya, Jinhwan sudah memanggil dokter keluarga untuk menangani Chanyeol. Dan yang aku tahu keadaan Tuan Park sudah jauh lebih baik.” Jihye menahan kalimatnya, menyadari satu kesalahan yang membuat Jiyeon terkejut.

“Tuan Muda? Ke kamarnya? Bukankah ini rumahmu?”

“Bukan.” Jihye meraih jemari Jiyeon di atas meja, menggenggamnya hangat. “Maafkan aku karena tidak mengatakan hal yang sebenarnya, Jiyeon. Ini rumah Chanyeol, dia membawamu ke sini untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya padamu.”

Jiyeon memutar sebaris ingatan yang beberapa minggu ini berhasil direkam otaknya, Jiyeon mengerjab, dia baru menyadari jika pertemuannya dengan Chanyeol bukanlah kebetulan, seperti apa yang selama ini Jiyeon pikirkan, tapi semata-mata karena ini adalah rumah pria brengsek itu. Ini rumah Park Chanyeol, dia tinggal di rumah Chanyeol. Jiyeon ingin sekali marah dan keluar dari rumah Chanyeol sekarang juga, namun entahlah Jiyeon merasa jika rasa khawatirnya pada Chanyeol sekarang jauh lebih besar dari apapun, menguapkan rasa kesal hingga Jiyeon hanya terdiam.

“Ibumu menyetujui kau dibawa kemari, agar kau mendapatkan perawatan intensif untuk traumatic yang kau alami. Maafkan aku karena baru memberitahumu sekarang, Jiyeon.” Jihye mengusap wajah Jiyeon yang masih saja terlihat cemas.

“Kau marah padaku?” Jihye bertanya dengan hati-hati, Jiyeon hanya menggeleng pelan. “Dan masalah kandunganmu—-“

“Dokter Kang.” Ucapan Jihye terputus seketika. “Saat ini aku sedang sangat cemas, aku tidak bisa memikirkan apapun sekarang.” Jiyeon menatap Jihye yang terlihat binggung.

“Apa? Cemas?”

“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku, mungkin—- aku sudah gila.” Jiyeon terlihat semakin kalut. “Aku mencemaskannya! Aku sangat mencemaskannya, jadi—- bisakah aku melihatnya sebentar saja?”

~000~

Jiyeon berjalan pelan memasuki kamar tidur Chanyeol untuk pertama kalinya, memandang kamar berpelitur hitam putih tanpa perabotan berlebihan. Hanya sebuah ranjang sangat besar di tengah kamar, nakas di samping kanan dan sebuah sofa panjang yang juga berwarna hitam di depan ranjang. Tepat di samping pintu kaca menuju beranda, terdapat meja kaca dan sofa beludru yang juga berwarna hitam. Tanpa sadar Jiyeon kini sudah berdiri di sisi ranjang, Chanyeol tertidur dalam selimut tebalnya. Laki-laki itu terlihat masih sangat pucat, peluh juga menghiasi wajahnya dengan kerutan di bagian dahi. Jiyeon mengernyit, apa saat tidur Chanyeol menggunakan otaknya untuk berpikir, hingga membuat tidurnya tidak nyenyak dan gelisah.

Tubuh Jiyeon memaku saat samar terdengar Chanyeol mengumamkan sebuah nama asing yang tidak dikenalnya, Jiyeon merasa jika perutnya kembali terasa nyeri hingga Jiyeon mendudukkan tubuhnya di pinggiran ranjang. Gadis itu meringis, kedua tangannya mengepal, menahan rasa sakit yang kian membuatnya ingin merintih.

“Yoojin maafkan aku, maafkan aku—-“

Rasa nyeri di perut Jiyeon semakin memuncak saat Chanyeol kembali bergumam, menyebut satu nama yang sama sejak tadi, keringat juga telah membahasi wajah Jiyeon yang perlahan juga ikut memucat. Jiyeon ingin sekali bangkit dan menjauh untuk meminta pertolongan pada dokter Kang, namun rasa asing di hatinya melarangnya untuk beranjak. Rasa khawatir dan rasa rindu yang semakin mengikatnya begitu kuat, rasa yang membuatnya ingin selalu melihat Chanyeol dari jarak sedekat ini.

“Apa aku sudah gila sekarang?” gumam Jiyeon dalam benaknya, saat tiba-tiba dirinya ingin sekali menyentuh Chanyeol.

Jemari Jiyeon bergerak tanpa bisa dicegah, mengusap peluh yang masih menghiasi wajah pucat Chanyeol yang terasa hangat. Membelai pelan ujung rambut Chanyeol yang terasa sangat halus di jari-jarinya. Senyum lebar pun kini sudah terlukis di wajah Jiyeon tanpa pernah gadis itu menyadarinya, rasa nyeri di perutnya juga sudah lenyap entah ke mana. Yang tertinggal hanyalah rasa bahagia yang membuncah, memenuhi relung hati hingga Jiyeon merasa taman hatinya bergemuruh, menerbangkan dirinya bersama ribuan kupu-kupu cantik yang datang mengelilinginya.

“Kenapa aku justru sangat merindukanmu? Kenapa aku sangat mengkhawatirkanmu hingga aku ingin menangis, saat dokter Kang melarangku untuk melihat keadaanmu,” Jiyeon bergumam pelan, jemarinya kini sudah beralih menelusuri wajah Chanyeol, meluncur dari hidung, pipi hingga ke rahang tegas milik Chanyeol.

“Seharusnya aku membencimu ‘kan? Seharusnya saat ini aku mengambil seutas tali lalu meilitkannya di lehermu, seharusnya seperti itu ‘kan?”

Ucapan Jiyeon terputus di udara saat tiba-tiba tangan Chanyeol bergerak, menggenggam tangannya yang berada di atas pipi laki-laki itu. Jiyeon memaku, jantungnya serasa tidak berdetak dalam beberapa detik. Dia sangat terkejut hingga pupilnya melebar tanpa sempat untuk mengerjab, bahkan rotasi dunianya terhenti, terdiam dalam puluhan detik berlalu bersama tautan tangan yang terjadi untuk pertama kalinya, sejak kejadian di malam kelam itu.

Jiyeon ingin sekali menarik tangannya, namun Chanyeol menggenggamnya sangat kuat. Jiyeon pun menenangkan dirinya, bernapas senormal mungkin dan kembali berusaha melepaskan genggaman Chanyeol di jemarinya. Namun tetap saja tidak bisa. Jiyeon mendesah pelan, mata beningnya menatap Chanyeol yang masih tertidur, merasa jika suhu tubuh Chanyeol perlahan terasa normal dan tidak demam lagi. Laki-laki itu bahkan terlihat sudah bernapas normal tanpa kerutan gelisah di keningnya. Dan pada akhirnya Jiyeon pun memutuskan untuk tetap diam di tempatnya, mengusap perutnya yang rata, pandangannya tidak berpaling dari Chanyeol. Dia membiarkan Chanyeol menggenggamnya jemarinya, entah sampai kapan.

~000~

Jiyeon mengerjabkan matanya, membiasakan dengan cahaya terang yang menerpa wajahnya. Gadis itu seketika terkejut mendapati tubuhnya tertidur di ranjang, selimut menutupi hingga sebatas dada. Jiyeon semakin terkejut saat menyadari jika dia tidur bukan di atas ranjangnya, namun di atas ranjang Chanyeol yang besar. Bola mata Jiyeon melebar, memutar pandangan ke segala penjuru kamar.

 

Nihil!

 

Tidak ada siapapun di kamar itu, tidak ada Chanyeol yang tadi jelas-jelas masih terbaring lemah di atas ranjang. Jiyeon mengusap wajahnya, mengingat segala sesuatu sebelum dirinya merasa sangat mengantuk, dan membuatnya berakhir di atas ranjang Chanyeol tanpa pernah dia sadari. Samar Jiyeon mendengar suara gemericik air dari arah pintu di sebelah kiri, pintu yang Jiyeon yakini sebagai kamar mandi. Jiyeon pun bergegas turun dari ranjang saat kesadarannya sudah terkumpul penuh, berniat meninggalkan kamar sebelum Chanyeol mendapati dirinya masih berada di atas ranjangnya. Namun sekali lagi perutnya terasa nyeri hingga membuat Jiyeon tidak bergerak, dia hanya mampu duduk dengan kaki yang menjuntai di ujung ranjang. Gadis itu meringis menahan sakit yang lagi-lagi mendera perutnya, merasa sangat mual hingga Jiyeon merasa jika semua isi perutnya keluar sebentar lagi.

“Jiyeon?”

Jiyeon tidak menjawab ataupun berpaling ke sumber suara, gadis itu hanya membekab mulutnya dengan satu tangan dan tangan yang lain meremas pakaiannya di bagian perut. Jiyeon tidak sadar, Chanyeol sudah berdiri di depannya, dalam balutan handuk yang menutupi tubuhnya dari pingga hingga lutut. Jiyeon mendongak, dia masih merintih, mengabaikan keterkejutan Chanyeol saat ini.

“Perutku—-“

“Ap—apa?”

“Perutku sakit sekali, aku—- aku—- ingin muntah,”

Jiyeon menatap Chanyeol yang telah berjongkok di depannya, wajah laki-laki itu terlihat panik tetesan air masih jatuh dari ujung rambutnya yang basah. Tanpa pikir panjang Chanyeol segera menyambar tubuh Jiyeon dengan kedua tangannya, saat gadis itu memberi ekspresi ingin muntah. Mengangkat Jiyeon menuju kamar mandi, mendudukkan gadis itu di atas wastafel, Chanyeol menoleh ke kanan dan ke kiri, mencoba menemukan sesuatu yang mampu menampung apa yang ingin Jiyeon keluarkan dari perutnya. Namun gerakan Chanyeol terhenti saat melihat Jiyeon membungkuk ke arah wastafel, memuntahkan semuanya di sana.

Chanyeol tersenyum untuk kebodohannya sesaat lalu, dia mendekati Jiyeon yang masih bergulat di depan wastafel. Chanyeol ingin sekali memijit tengkuk Jiyeon agar gadis itu merasa lebih baik, namun dia merasa tidak pantas untuk menyentuh gadis itu, dia merasa takut jika sentuhannya akan membuat Jiyeon kembali merasa takut padanya. Jiyeon menarik napasnya saat berhasil membuang semua yang ada di dalam lambungnya, gadis itu menghidupkan keran air dan membasuh mulutnya. Jiyeon merasa tubuhnya kini sangat lemas hingga hampir saja terhuyung jika Chanyeol tidak menahan bahunya, Jiyeon mengerjap saat wajah Chanyeol yang hanya sejauh helaan napas menatapnya, terlihat jelas jika laki-laki itu sangat panik.

“Kau baik-baik saja?”

Jiyeon hanya mampu mengangguk lemah, merasa tak punya daya untuk menjawab lebih dan Jiyeon juga merasa sangat lapar sekarang. Jiyeon memperhatikan Chanyeol yang pada akhirnya melepaskan tangannya dari lengan Jiyeon, ketika gadis itu tidak sengaja menatap ke arah sana. Chanyeol merasa sangat binggung, dia hanya terlihat mengaruk tengkuk, bergumam tanpa sepatah kata tambahan hingga membuat puluhan detik berlalu di antara mereka dalam kesenyapan.

“Chanyeol-ssi.”

“Yah.” Chanyeol terlihat kembali terkejut, mendapati Jiyeon memanggilnya dengan nada biasa. Bukan nada marah ataupun benci, seperti yang biasa gadis itu ucapkan selama ini.

“Aku—- aku lapar,”

Dalam sepersekian detik dunia berputar, Chanyeol merasa jika rotasi hidupnya terhenti untuk beberapa detik. Merasa jika ada sesuatu yang menelusup ke dalam hatinya, rasa tidak percaya berbalut kelegaan. Karena sekarang, detik ini, tepat di depan matanya, Song Jiyeon, gadis yang selama Chanyeol mengenalnya selalu menangis, selalu memakinya dalam kebencian yang membara, kini tengah tersenyum padanya. Senyum yang terasa begitu tulus, senyum yang membuat beban di sanubarinya sedikit menguap.

~000~

“Kau yakin dia tidak akan mengamuk, karena sekarang dia tahu jika tinggal di rumahku?”

Chanyeol bertanya sekali pada Jihye yang berdiri di depannya, laki-laki yang kini sudah terbalut rapi dalam stelan kemeja putih dan jas hitam sebagai luarannya. Chanyeol melirik sebentar ke arah Jiyeon yang duduk di meja makan, gadis itu terlihat bersiap untuk menyantap makanan yang sudah tersaji penuh di depan mejanya.

“Dia baik-baik, Dokter Kang?”

“Sepertinya begitu.”

“Aku masih sangat terkejut saat mendapatinya di kamarku,” Chanyeol masih menatap Jiyeon, kembali teringat saat dirinya menemukan Jiyeon yang mengantuk di sisi tubuhnya beberapa jam yang lalu. “Aku pikir dia ingin membunuhku.”

“Dia mengkhawatirkanmu.”

“Apa?” Chanyeol menatap Jihye, pupilnya melebar.

“Mungkin karena perubahan hormon di tubuhnya,” Jihye tersenyum. “Tenanglah dia masih sangat membencimu, hanya saja sekarang dia sedang berada di siklus pertama kehamilan,”

“Eoh!” Chanyeol tersenyum samar.

Jiyeon masih membencinya? Tentu saja, mana mungkin gadis itu memaafkan dirinya secepat ini bukan?

“Dokter Kang, aku sudah meminta tim dokter kandungan yang terbaik untuk datang dan mematau kehamilan gadis itu, laporkan semuanya padaku, jangan sampai ada yang terlewat.” Jihye mengangguk.

“Tadi dia sempat mengeluh perutnya sakit dan merasa mual,” Jihye tersenyum dan kembali mengangguk. “Aku percayakan Jiyeon dan bayinya padamu, terima kasih.” Ucap Chanyeol dengan tulus, lalu melangkah menjauh, berjalan keluar dari rumah besarnya.

Meninggalkan Jiyeon yang tanpa Chanyeol sadari sudah menatap ke arahnya, menatap kepergiannya dengan wajah kecewa. Kepergian yang membuat nafsu makan Jiyeon hilang begitu saja, kepergian yang membuat Jiyeon merasa kembali—- merindu.

~000~

“Kenapa anda melepaskan masalah ini, nyonya Park Seo?”

Seojung yang baru saja hendak menandatangi berkas penting yang ada di atas meja berpaling, menatap sosok Jinhwan yang sejak tadi ada bersamanya, dia tersenyum samar.

“Melawan Chanyeol saat ini adalah hal yang sia-sia Jinhwan, kau tahu kan jika dia sangat keras kepala sama sepertiku.” Seojung tertawa pelan mendapati jika Chanyeol mempunyai sifat yang hampir sama dengan dirinya, dia kembali menatap ke arah berkas perusahaan. “Biarkan saja! Biarkan semuanya hingga kembali tenang, lalu setelah itu kita akan menyingkirkan gadis pengganggu itu.”

Jinhwan mengerakkan mata tajamnya pada sosok Seojung yang masih berkutat dengan pekerjaannya, menimang sebentar sebaris kalimat yang tertahan di ujung kerongkongannya.

“Tapi Nyonya Park Seo, saat ini Tuan Yang sudah mengetahui semuanya, beliau bahkan ingin menemui anda siang ini juga.”

Seojung menghentikan gerakan tangannya, dia menatap lurus-lurus, rahangnya mengeras. “Bagaimana mungkin mereka tahu secepat ini?” Seojung menekan pulpen dalam genggaman dengan sangat kuat.

“Nona Yang Yoojin pulang ke rumahnya setelah kejadian itu,”

“Apa mereka juga sudah mengetahui tentang gadis itu?”

“Belum Nyonya,”

Seojung menajamkan pandangannya, “Bagus! Katakan pada Tuan Yang aku akan menemuinya siang ini dan kau—-“ Seojung menatap Jinhwan, menguarkan perintahnya yang terasa sangat dingin. “Pastikan berita gadis itu tidak tercium media, ingatkan Chanyeol untuk berhati-hati atau aku tidak akan tinggal diam.”

Ne, algesseumnida.”

~000~

Jinhwan melangkah pelan meninggalkan Shinhwa Corporation, menatap langit luas yang menaunginya. Matahari mulai merangkak naik, menyisakan terpaan sinarnya yang mulai terasa panas menyapa kulit wajahnya. Jinhwan menerawang, mengingat pesan singkat yang Seojung terima dari Sehun, berpikir alasan laki-laki itu mengirimi Seojung pesan yang seharusnya dia jaga dari siapapun termasuk Seojung. Jinhwan bisa menjamin Sehun mengenal sifat dan watak Seojung dengan baik, jadi terlihat sedikit aneh jika dia memberitahukan hal itu pada Seojung tanpa membicarakannya terlebih dahulu pada Chanyeol. Ya yang Jinhwan tahu Chanyeol menyangka jika sang ibu mengetahui hal tentang kandasnya hubungan Chanyeol dan Yoojin adalah dari dirinya. Jinhwan memandang jalanan ramai di depannya, berjalan lurus menuju mobil hitamnya terparkir. Mengeluarkan hanphone layar sentuh dari balik jas hitamnya, menekan beberapa nomor untuk tersambung dengan seseorang di seberang sana.

“Aku ingin bicara denganmu, Kim Jongin.”

~000~

Jiyeon bangkit dari posisi terlentang di atas ranjang ke posisi duduk bersandar, gadis itu baru saja selesai diperiksa oleh dokter kandungan. Memastikan jika kehamilannya baik-baik saja, kehamilan yang sekarang justru membuat gadis itu merasa bahagia.

 

Aneh?
Jiyeon bahkan merasa sangat aneh dan tidak percaya, merasa jika semuanya tidak masuk akal sama sekali. Baru kemarin dia merasa ingin membuang bayi di rahimnya, kini gadis itu sudah merasa tidak ingin dan lupa dengan niat awalnya itu. Jiyeon mulai percaya, mungkin saja dia sudah gila sekarang. Benar-benar sudah gila. Jiyeon tahu ini aneh dan dia juga merasakan hal itu, Jiyeon ingin sekali menghilangkan rasa ini tapi sungguh dia tidak bisa. Jika Jiyeon harus mendatangi neraka terlebih dahulu agar rasa ini hilang, Jiyeon pasti akan melakukannya suka rela. Jiyeon tidak suka rasa ini, benar-benar sangat tidak suka.

“Dokter apa aku baik-baik saja?”

“Kau sangat baik-baik saja, bayimu sehat dan tidak ada masalah.”

“Bukan— bukan itu,” Jiyeon terlihat gugup, sedikit meragu dengan pertanyaan yang akan terlontar sebentar lagi.

“Lalu?”

“Perutku—-“ Jiyeon mengusap perutnya.

“Perutmu sakit?” sang dokter bertanya, menatap Jiyeon yang sedari tadi mengusap perutnya.

“Sedikit nyeri.”

“Aku akan memberimu obat penguat kandungan, jadi kau tenang saja.”

“Bukan—- maksudku adalah,” Jiyeon menatap Jihye yang sejak tadi ada di sisi ranjang, berdiri di sana menemani Jiyeon selama gadis itu diperiksa oleh dokter kandungan.

“Aku baru menyadari jika perutku hanya akan terasa nyeri, jika aku tidak melihat wajahnya. Semakin sakit jika aku berusaha mengusir rasa rindu yang tiba-tiba datang, dan sakitnya baru akan hilang jika aku sudah melihatnya.”

“Maksudmu… kau merindukan suamimu?”

“Tuan Park Chanyeol, Dokter Nam Ryuyoung.” Jihye bersuara, menekan tiap kata yang di ucapkannya.

Eoh maafkan aku, maksudku Tuan Park. Itu wajar-wajar saja, karena perubahan hormon yang ada di tubu mu. Wanita hamil akan mengalami rasa yang tidak nyaman, merasa emosinya naik turun, merasa sangat sensitive dan merasakan hal-hal baru yang terdengar aneh dan tidak masuk akal.”

“Di awal masa kehamilan wanita sering merasakan hal aneh seperti, sangat membenci suaminya dan tidak ingin melihat wajahnya sama sekali. Namun ada juga yang merasakan hal kebalikannya, merasa jika selalu merindukan suaminya, ingin terus melihat wajahnya dan bahkan bisa menangis jika tidak kunjung melihat sosok sang suami.”

“Benarkah?” Jiyeon bertanya sangat antusias.

“Ya, tentu saja.”

“Jadi maksud dokter ini semua terjadi hanya karena perubahan hormon dan bukan karena aku benar-benar merindukannya?”

“Bisa dikatakan seperti itu atau bisa juga karena bayimu yang menginginkannya.”

Jiyeon terdiam sesaat, menatap ke arah perutnya yang masih terlihat rata. “Bayi ini?”

“Eoh! Mungkin bayimu merindukan ayahnya.”

Jiyeon kembali duduk bersandar di pinggiran ranjang, tersenyum lalu mengusap perutnya. Dia merasa sangat senang sekarang, merasa lega karena semua rasa aneh yang dia rasakan hanyalah efek dari perubahan hormon di masa awal kehamilan. Bukan karena rasa yang datang dari hatinya, karena Jiyeon sangat yakin jika dia masih membenci Chanyeol.

Bahkan masih sangat membenci laki-laki itu.

~000~

Jongin meraih minuman dingin di atas meja dengan gugup, dia merasa hidupnya sekarat karena saat ini kembali harus berhadapan dengan Im Jinhwan. Laki-laki yang selalu berhasil membuatnya bergidik ngeri, bulu-bulu halus di tengguknya meremang. Jongin benar-benar menyesal, benar-benar mengutuk diri karena sudah terlibat masalah rumit ini, masalah ciptaan dari Oh Sehun yang membawanya menjadi petaka yang kini sukses mengejar tiap langkahnya.

“Sepertinya ada hal yang kau lewatkan dan tidak kau beritahukan padaku, Kim Jongin.”

“Apa maksudmu? Aku sudah mengatakan semua hal yang aku ketahui padamu.”

“Laki-laki yang membayarmu, siapa dia?”

“Aku tidak tahu, dia hanya—-“

“Sehun. Apa laki-laki itu Oh Sehun?”

“Apa?” Jongin hampir saja tersedak minumannya, laki-laki itu melebarkan matanya, menatap Jinhwan yang hanya tersenyum dingin.

“Apa Sehun ada di balik ini semua, Jongin?”

~ TBC ~

 

Hi… masih ada yang ngikutin cerita ini? Terima kasih untuk semua yang udah baca dan kasih komen.

18 thoughts on “The Night Mistake (Chapter 6)

  1. Waaah kurang ajar bngrt eomma nya s ceye minta ngeggurin,,iihh emng bnr” pikasebeln yahh,,seneng itu las jiyeon kawatir sma kwadaan ceye,,wiihh baknlan seru nih kdepan nya

  2. hormon nya bikin senyum2 sendiri😀
    jadi ada rencana lain yg di susun omma nya chanyeol?? kirain dia seneng karna jiyeon hamil ternyata…

  3. Wow, tajem bgt insting im jinhwan yah, nancem sasaran bgt keren
    Mampus lo hun, ntar lagi kbongkar tu rahasia jahat lu selama ini *evil laugh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s