A Story About Alice The Whale

img_2185

Title: A Story About Alice The Whale

Author: Primrose Deen

Cast: Kim Jongin / Kai (EXO) & Lu Han

Genre: Friendship

Rating: T

Length: Oneshot

Disclaimer: Do not repost without my permission. This story is for entertaining purpose only.

***

Sudah lebih dari lima jam kedua mata Kai terpapar cahaya komputer dengan layar ukuran besarnya tanpa jeda. Jemarinya yang beberapa waktu lalu masih tampak kaku mengoperasikan instrumen yang ada di hadapannya kini sudah mampu bergerak lincah bagai seseorang yang sudah mencumbuinya selama bertahun-tahun.

Kai sedang membuat lagu pertamanya.

Ia sangat bersemangat ketika di kepalanya tiba-tiba terputar sebuah melodi yang mungkin kedengarannya sederhana, namun tak ada salahnya mencoba, bukan? Lagi pula ini adalah kali pertamanya.

“Istirahatlah sejenak, Kai.” Luhan meletakkan segelas macchiato panas yang selalu menjadi pilihan utama Kai kala mengunjungi sebuah coffee shop. ”Jangan terlalu memaksakan diri.”

Kai menatap sekilas sesuatu yang menguarkan gelombang panas ke punggung tangannya sebelum mengangkat wajah untuk menatap pelaku yang baru saja meletakkannya di sana. Kai mengurai senyum di bibirnya yang sejak tadi telah mengering. “Terima kasih, Hyung,” tuturnya pelan sebelum menyesap macchiato-nya, tanpa menyahut saran Luhan baru saja.

“Sudah sejauh mana progress-nya?” Luhan menyesap kopinya sendiri, lalu mencondongkan tubuhnya ke layar besar di hadapan Kai.

“Belum banyak. Tapi sejauh ini, aku senang.”” Kai kembali menggerak-gerakkan mouse-nya. ““Coba dengarkan ini, Hyung.””

Sebuah melodi bertempo pelan teputar. Diawali dengan empat ketukan pelan, lalu diikuti suara petikan gitar untuk periode yang cukup lama.

Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sulit kupercaya bahwa melodi ini lahir dari tangan seorang pemula. “Ia mendesah pelan, lalu melanjutkan dengan tangan dilipat di depan dada,”Aku bertaruh, bahwa lagu ini akan all-kill di semua acara musik.”

Kai tergelak hingga kedua matanya menyipit, nyaris membentuk suatu garis melengkung. Ia tahu bahwa lagunya tak mungkin akan sebagus itu, tapi rongga dadanya dipenuhi dengan semangat dan kebahagiaan kala Luhan mengatakannya. Memang benar bahwa ini terasa menyenangkan ketika orang terdekatmu memiliki satu suara dan jalan pemikiran yang sama denganmu.

***

Jarum kembar pada jam dinding menunjuk ke angka dua dan tiga. Pukul dua pagi lewat lima belas menit. Sudah dua jam berlalu sejak para member EXO selesai menghapus make up dan membersihkan diri mereka—dan saling berebut kamar mandi tentunya—setelah menggelar konser di Gocheok Sky Dome—dome pertama di Korea—namun Kai belum bisa merasakan lelah pada kedua matanya. Walaupun di sisi lain, tak bisa dipungkiri bahwa kedua kantung matanya kian membesar dan kedua matana mulai sayu. Setelah berkutat selama satu jam lebih dengan lagu pertama yang sedang digarap olehnya, Kai melangkahkan kakinya ke ruang tengah, mencoba untuk menjemput kantuk dengan beberapa acara televisi yang membosankan—biasanya dia akan cepat mengantuk dengan melakukan hal itu—dan sekaleng bir di tangan.

Lampu utama di  ruang tengah masih menyala, menandakan bahwa masih ada orang lain selain dirinya yang belum terlelap. ”Luhan Hyung?” panggil Kai, hampir menyerupai gumaman ketika melihat figur berambut hitam duduk tegak membelakanginya di sofa ruang tengah.

Sosok yang merasa dipanggil namanya pun langsung membuat gerakan setengah memutar pada tubuhnya, lalu mengulum senyum tatkala menangkap raut kebingungan di wajah Kai. Tak berusaha memancing hal-hal yang tak ingin ia bahas, Luhan berujar,”Akhirnya kau keluar dari gua persembunyianmu.”

Kai mendengus kecil seraya menunjukkan deretan gigi putihnya, menyeringai. Ia menyeruput bir kalengannya sebelum menjatuhkan diri di tempat kosong yang ada tepat di sebelah Luhan dan mengembuskan napas panjang. “Belum mengantuk?”

“Belum,” jawab Luhan, tanpa mengalihkan manik matanya dari buku yang ada di tangannya. Ia mengangkat buku itu pada ketinggian sedang agar Kai dapat melihat sampul bukunya. “Aku masih membaca buku ini.”

Ini bukan kali pertama Kai melihat buku tersebut dan mendapati Luhan membacanya. Buku itu tak terlalu tebal, tapi Luhan selalu membacanya seakan-akan tak pernah mencapai akhirnya. Sampul buku itu tampak familiar baginya karena ia sering melihat Luhan membacanya—namun belum pernah sekali pun ia tahu tentang isi buku tersebut.

“Itu…,” Kai mengangkat jari telunjuknya ke arah buku yang telah berpindah ke pangkuan Luhan, lalu melanjutkan, “sebenarnya itu buku apa, Hyung? Kurasa kau sudah membacanya berulang kali.”

Kali ini Luhan mengalah dengan menutup bukunya dan mengangkat wajahnya seraya menatap Kai dengan senyum terlukis di wajah yang tak sedikit pun tampak layu walaupun waktu sudah mencapai dini hari. “A Story About Alice The Whale.”

Kai memutar bola matanya dengan disertai dengusan pelan. “Aku juga bisa membaca judulnya, Hyung. Maksudku, siapa Alice The Whale? Ada apa dengan paus itu? Apa yang sangat menarik dari ceritanya sampai kau bisa membacanya berulang-ulang sepertinya tanpa merasa bosan?”

“Alice adalah nama paus yang konon merupakan paus yang paling kesepian di dunia ini.”

Kai menaik napas tipis dan mengalihkan iris cokelat gelapnya ke sampul buku yang ada di pangkuan Luhan. Telinganya terus terbuka lebar mendengarkan penuturan Luhan.

“Ia disebut-sebut sebagai satu-satunya spesies paus yang tak ada duanya. Pada tahun 1989, ia mengeluarkan gelombang suara pada frekuensi 52 Hz, sedangkan umumnya paus berkomunikasi pada frekuensi antara 12 hingga 25 Hz. Tak ada satu pun paus lain yang dapat mendengar suara Alice.”

Mulai terhisap pada dunia Alice yang dibuka oleh Luhan, berbagai pertanyaan mulai memenuhi otak Kai. Bagaikan seorang anak kecil dengan rasa ingin tahu yang begitu besar, ia bertanya, “Lalu, apa yang terjadi?””

Kini, giliran Luhan yang menatap gambar paus yang ada di sampul bukunya. “Setiap rintihan dan tangisnya tak pernah tedengar, setiap pertanyaan dalam benaknya tak pernah terjawab. Tak ada yang mengetahui mengapa Alice melalui jalan yang berbeda ketika bermigrasi. Ia tak pernah mengikuti rombongan paus lainnya. Beberapa orang berpikir bahwa mungkin Alice adalah spesies yang aneh, unik, dan berbeda dengan spesies paus yang lain. Mungkin terjadi mutasi pada Alice—entahlah. Tak pernah ada yang tahu. Alice terus menjalani kehidupannya; makan, berenang, bersuara, bertemu dengan makhluk laut lainnya, namun tak satu pun dari mereka yang dapat ia ajak berkomunikasi.”

Ini tak lebih dari sekadar cerita mengenai seekor paus, namun baik Luhan maupun Kai sama-sama sebaik mungkin menahan air mata yang meleleh di pelupuk mata mereka, dan mulai memburamkan pandangan. Cerita ini—entah bagaimana—begitu menyedihkan. Membuat mereka merasa terenyuh, tak mampu membayangkan apabila hal tersebut terjadi pada diri mereka.

Kai menatap gambar paus tersebut, tak ada kecacatan yang kasat mata pada paus tersebut. Menurutnya, ukurannya mungkin normal untuk paus pada umumnya. Warnanya sama dengan paus yang sering ia lihat di televisi. Ia memiliki sirip, ekor, mata, dan mulut yang sama.

“Suatu hari, hidrofon National Oceanic Atmospheric Administration merekam suara unik Alice untuk terakhir kalinya. Dan lagi, suara itu tetap tak mendapat respon dari mana pun dan dari siapa pun.” Luhan menyerah, kelopak matanya tak mampu lagi menahan lebih banyak air mata lagi yang telah menggenang di sana. “Cerita Alice sama dengan apa yang terkadang terjadi dalam hidup manusia.”

Kai mengangkat wajahnya, menatap Luhan yang telah berlinangan air mata, tanpa memecahkan suara apa pun dalam pikiannya yang kalut melalui bibirnya.

“Setiap orang dalam hidup mereka pasti akan menemui titik terendah. Saat itu mereka akan merasa menjadi orang yang paling kesepian dan terasingkan dari tempat mereka berada sekarang. Oleh sebab itulah mengapa keluarga dan sahabat diciptakan, Kai.”

***

Sudah satu setengah jam Kai berbaring di atas tempat tidurnya yang nyaman, yang selama beberapa hari terakhir begitu ia rindukan ketika jadwalnya sedang sangat padat. Ia telah menggosok giginya— kebiasaannya sebelum tidur—dan membungkus dirinya dengan selimut tebal. Ia telah mencoba memejamkan matanya, namun segala suara yang ada di pikirannya enggan untuk dipadamkan. Alih-alih mengantuk, mata Kai justru semakin terjaga. Menyerah, Kai melipat kedua tangannya di antara bantal dan kepalanya, menatap langit-langit kamarnya—walaupun ia tak benar-benar menatapnya. Pikirannya melayang kembali pada cerita Alice si paus paling kesepian di dunia yang diceritakan oleh Luhan tadi. Baik Kai maupun Luhan sama-sama tak tahu, apakah Alice benar-benar pernah ada. Namun, sejak selesai mendengarkan cerita yang dituturkan oleh Luhan tadi, sebuah pikiran terus menggema dalam ruang spekulasinya. Lalu, kenapa Luhan membaca cerita sedih itu secara berulang-ulang? Apakah ia merasakan apa yang Alice rasakan? Apakah dia merasa kesepian, begitu sendiri, dan terasingkan?

Kai beranjak dari tempat tidurnya setelah sesuatu melintasi kepalanya lagi. Ia tahu ia harus menuliskan lirik apa untuk lagu perdananya.

***

Tak berbeda dengan hari-hari sebelumnya, para member EXO berlatih vokal dan koreografi lagu-lagu mereka untuk world tour kedua EXO yang akan digelar sebentar lagi. Di sela-sela waktu istirahat, potongan demi potongan candaan yang disertai gelak tawa membahana di seluruh ruang latihan tetap bergulir. Chanyeol dan Baekhyun tetap menjadi yang paling banyak bicara, ditambah dengan Chen ang akhir-akhir ini juga lebih banyak bicara daripada biasanya. Tao masih dengan bahasa Koreanya yang berlogat kaku, Xiumin masih dengan kebiasaannya bersikap menggemaskan, Suho yang masih sering diabaikan ketika sedang berbicara, dan kebiasaan-kebiasaan lainnya. Pun Luhan tak banyak bicara, tetap menyimak konversasi antara para member, namun tawanya urung terdengar. Ia lebih banyak bergeming, sesekali tersenyum tipis, nyaris tak terlihat seperti sebuah senyum. Detik itu, Kai tahu ada sesuatu yang terjadi pada Luhan, namun ada sesuatu yang menahannya untuk tahu lebih jauh. Ia yakin, Luhan akan menceritakan padanya jika waktunya tiba.

“Kai, bagaimana lagu perdanamu? Sudah selesai?” Chanyeol, yang selalu menghabiskan hampir setiap hari-harinya dengan menulis lagu, akhirnya menjadikan Kai sebagai topik pembicaaran selanjutnya.

“Sudah sembilan puluh persen. Mungkin besok pagi aku bisa menunjukkannya pada kalian,” Kai menyahut dengan kepercayaan diri yang sedikit kentara.

Serentetan siulan dan tepuk tangan memenuhi ruangan. Pujian dan senyum lebar terus mengalir untuk Kai, tak terkecuali Luhan yang kali ini tersenyum lebih lebar dari tempat duduknya. Ia mengangkat ibu jari kanannya ke arah Kai dan menggerakkan bibirnya tanpa bersuara, “Aku bangga padamu, Kai.”

***

Malam ini Kai bertekad untuk menyelesaikan lagunya. Ia ingin memenuhi janjinya pada para member-nya bahwa ia akan menunjukkan lagu ciptaannya yang pertama kali pada mereka besok pagi. Ia tak ingin hasil dari apa yang ia upayakan selama ini berakhir mengecewakan. Sesekali ia menguap dan meregangkan otot-ototnya, namun tak sedikit pun berpikir untuk bergeser dari tempat duduknya barang satu senti pun. Aku harus menyelesaikan lagu ini malam ini juga.

Lembar demi lembar kertas ia terbangkan ke lantai dengan sembarangan. Tangannya bergerak lincah dan berpindah-pindah dari mouse ke bolpoin yang tanpa henti ia gores-goreskan di kertas yang ada di hadapannya. Sesekali ia menggumam, menyelaraskan dan mencari harmoni yang tepat antara lirik lagu dan melodi yang ia ciptakan. Ketika membuat lagu ini, yang ada di kepalanya hanyalah Luhan dan member EXO yang lainnya. Kai ingin lagu pertamanya adalah lagu untuk keluarganya saat ini, keluarga yang telah membantunya menjadi seorang Kai yang telah mencapai titik ini.

Kai berhasil menyelesaikan lagunya hingga titik terakhir. Ia memutar lagunya berulang-ulang hingga kepuasan itu membuncah dan memenuhi rongga dadanya. Rajutan senyum lebar terus menghiasi bibirnya. Matanya kini benar-benar menyerupai garis melengkung karena senyumnya yang terlalu lebar. Ia tak sabar lagi menunggu pagi dan menunjukkannya pada teman-temannya yang telah menjadi salah satu alasannya membuat lagu itu. Untuk saat ini, Kai akan tidur nyenyak sembari menunggu matahari muncul di horizon timur.

***

Sinar keemasan mencuri jalan masuk melalui celah-celah yang tanpa sengaja tercipta di antara tirai di kamarnya. Kai membuka matanya perlahan-lahan ketika sinar tersebut mencapai kelopak matanya. Ia melirik jam beker yang bertengger di nakas tempat tidurnya. Pukul enam tepat. Pagi ini Kai tak memasang alarm, tapi ia dapat bangun tepat waktu. Ini adalah suatu prestasi; atau mungkin karena seluruh tubuhnya terlalu bersemangat untuk menyambut hari ini dan menunjukkan lagu barunya pada para member EXO lainnya.

Teringat tentang Alice, Kai mengambil ponselnya yang teronggok di samping tempat tidur dan bermaksud mencari ceritanya di internet. Namun niatnya terdistraksi ketika bar notifikasinya terus berkedip dan suara penanda notifikasinya terus berbunyi secara berentetan. Tulisan-tulisan iu bergerak telalu cepat, membuat Kai sulit mengikuti pembicaraan apa yang sebenarnya membuat ponselnya begitu ramai di waktu sepagi ini.

Jantungnya seakan-akan berhenti selama beberapa detik ketika matanya menangkap sebuah baris pecakapan; apakah Luhan benar-benar akan keluar dari EXO?

Tiba-tiba Kai tak dapat merasakan jari-jarinya yang berkeringat dingin, membuat ponselnya seketika jatuh ke lantai karena tangannya berubah licin. Tak memikirkan apa pun lagi, Kai beranjak dari tempat tidurnya untuk mengambil ponselnya dan mencari nama Luhan di mesin pencarian internet. Hasilnya mencengangkan; banyak artikel dari berbagai portal berita memuat headline yang nyaris sama; EXO Luhan mengajukan tuntutannya terhadap SM Entertainment pada pengadilan negeri Seoul.

Dengan lutut yang melemah dan kaki yang mulai gemetaran, Kai melangkah dengan sedikit terhuyung-huyung menuju ruang tengah. Di sana, seluruh member EXO lainnya telah berkumpul diselimuti sunyi. Mereka hanya duduk di sana seperti mayat hidup, tanpa suara, tanpa ekspresi. Semuanya membisu, tak ada satu pun yang tak bergeming ketika Kai memasuki ruang tengah. Semuanya ada di sana, kecuali Luhan.

Kai berdiri di sana selama beberapa detik, memandangi wajah teman-temannya satu per satu, mengharapkan suatu petunjuk dari ekspresi wajah mereka, namun hasilnya nihil. Tak tahan dengan monster yang mulai meluluhlantakkan perasaannya saat ini, akhirnya Kai mengangkat ponselnya ke arah teman-temannya yang sedang duduk berdampingan, “Ada apa ini sebenarnya? Apa yang terjadi pada Luhan Hyung?

Suho, sang leader, akhirnya menjadi satu-satunya orang yang mengangkat wajah dan menatap Kai seraya menggigit bibirnya keras-keras. Matanya tampak dikerumuni air mata yang perlahan-lahan meleleh. “Luhan Hyung keluar dari EXO.”

Kali ini, Kai baru mengerti bahwa Luhan adalah Alice si paus yang paling kesepian itu.

***

“Selamat, juara satu jatuh kepada… EXO dengan lagunya Sing For You!”

Tampaknya kalimat itu sudah keluar-masuk telinga Kai selama beberapa minggu belakangan ini sampai-sampai ia merasa bahwa ia mampu mengatakannya ketika ia sedang tidur.

Ucapan selamat terus mengalir padanya dan member EXO lainnya. Pujian pun terus dielu-elukan padanya, mengatakan bahwa ia berbakat menulis lagu sendiri. Kai tak henti-hentinya merasa bahwa ini seperti mimpi, bahwa lagu ciptaannya dapat menyabet posisi pertama pada seluruh acara musik.

Aku bertaruh, bahwa lagu ini akan all-kill di semua acara musik.

Begitu saja, suara itu tiba-tiba kembali terputar di kepala Kai. Suaranya masih terdengar jelas, ingatannya masih segar, seakan-akan baru saja terjadi semalam yang lalu.

***

“Luhan, kau mendapat sebuah kiriman dari Korea.” Seorang staf tiba-tiba menyambangi Luhan yang baru saja selesai di-make up dan sedang duduk di depan meja riasan, bersiap untuk tampil di sebuah acara di salah satu stasiun televisi swasta di Beijing. Staf tesebut menyodorinya sebuah kotak kecil, menyerupai buku atau album entahlah.

Luhan menatap kotak tesebut sekilas sebelum mengucapkan terima kasihnya dan tersenyum. Luhan membolak-balik kotak yang masih terbungkus sampul hitam bertuliskan namanya di sana, namun tanpa nama pengirim. Mungkin dari salah satu penggemar, pikirnya.

Ia membuka pembungkusnya dengan hati-hati, dan napasnya terhenti beberapa detik ketika melihat apa yang ada di balik sampul hitam tersebut. Itu adalah sebuah album. Album bergambar paus yang sama dengan paus yang ada di sampul buku ceritanya—paus Alice—dan seorang astronot. Di sana tertuliskan simbol nama yang tak asing lagi baginya—EXO dan sebuah judul yang Luhan yakini sebagai judul album tersebut; Sing For You.

Tak hanya itu, Luhan menemukan secarik kertas berukuran kecil. Pada kertas tesebut, terdapat beberapa patah kata yang ditulis dengan tinta hitam.

Maaf, apabila aku tak pernah menjadi seseorang yang mampu menangkap suara hatimu ketika kau menangis dalam diam. Kini, ketika kau sedang merasa sendirian, dengarkanlah lagu ini. I sing for you, I will always be with you. Even us, the rest of EXO’s members.

Salam,

Kim Jongin

***

My fingertips strum to the beat of the guitar, tainted by the pure white of loneliness

Today I must finish telling the unfinished story

Worries piling up like snow, humming how much I miss you into a song

Can you hear, I’ll sing for you

Maybe I’m too fearful of failure, not able to express the love I have for you

Deeply afraid of confessing, you’ll disappear into a sea of faces

I finally mustered up the courage, to be honest with this secret

Even if you don’t realize, I’ll sing for you

The way you cry, the way you smile

You entered the frame that’s etched in my brain

The love I want to say, the love I’m unable to say

If I confess now, I ask for you to listen

I’ll sing for you, sing for you

Really want to have your smiling answer

Please don’t laugh at how I’m boring, in my world there’s only you

Actually, I’m not carefree like others

When you slowly approach me, really want to embrace you in my arms

Melting away this season of below-zero loneliness

The way you cry, the way you smile

You entered the frame that’s etched in my brain

Turning away will only leave regrets

Blame me for not being brave, I ask for you to listen in the distance

I’ll sing for you, sing for you

One day you’ll understand my love

Thankful for the miracle of fate, guiding me to meet you

You are my most beautiful miracle

Possibly after tonight, I’ll become the cowardly me again

That’s why tonight I must say it to you

Please use your heart to listen

The way you cry, the way you smile

You entered the frame that’s etched in my brain

The love I want to say, the love I’m unable to say

If I confess now, in this moment I want to say to you

Just want you to listen, I’ll sing for you, sing for you

Just want you to listen, I’ll sing for you…

End.

Hello guys. First of all, I want to say to not feel offended with this fanfic. Okay? I made this in one night only for a competition (but I failed HAHA) and it should be about friendship between Kai and his pairing (anyone). I can’t think any single thing about friendship and I remembered about how I didn’t understand EXO’s Sing For You music video, and then I found out if that MV was actually about their friendship. And yeah.

For EXO-L, This story’s plot was totally fiction, don’t take it seriously. Believe me, I always support OT12 and yes I miss Luhan very much T_T But he is doing well now, so let’s just support everything that he does!

This story is originally posted on my blog http://primrosedeen.wordpress.com. See you there!

13 thoughts on “A Story About Alice The Whale

  1. Bener2 gk bisa buat gk nangis waktu baca ff ini…..😭😭😭😃😃…kak author hebat…..au tnggu karya mu slanjutnya kak…faithinggg…😁

  2. aku suka momennya kai lu (duo visual ini jarang dicouple sih padahal unyu), tapi di tengah ceritanya tertebak sehingga aku skip bbrp part, maafkan.. still ini adalah kisah yg menyakitkan krn menyinggung kepergian mas lu.
    pilihan katanya juga bagus sih, cuman plotnya mungkin agak terlalu dramatis? kyk kailu, waktu menuturkan kisah alice mereka langsung kaca2, sedangkan menurutku ‘apa mereka gak terlalu dewasa untuk termakan cerita macam itu?’ bahkan sekalipun mereka terbawa, mereka bisa bersikap lebih mature menyikapi itu.
    *tapi sejujurnya part luhan cerita soal alice itu paling fav di sini ^^ manis kayak kakak ke adiknya beneran
    ada typo juga, byk spasi yg hilang dari peradaban.
    nice fic anyway, keep writing!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s