It’s Okay Even If It’s Hurts Part 4

img_2180

|| It’s Okay Even If It’s Hurts || Part 4 ||

 

Main Cast         : Son Ye Jin (OC), Park Chanyeol (EXO-K

 

Authors             : Applexopie

 

Support Cast     : Lee Ho Jung (Actris)

 

Length               : Multichapter

 

Genre                : Family, Sad, Romance(?) and

 

Rating               : PG+15

Happy Reading!!!

 

Aku tidak pernah tahu isi hatimu yang sebenarnya. Aku juga tidak pernah tahu kau menganggapku apa, tetapi aku ingin kau mengetahui satu hal.

Aku mencintaimu dengan hatiku.

 

-xXx-

Apa yang kau inginkan? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk menjauhi putraku? Kenapa kau masih menjalin hubungan dengan putraku!!?

Itu karena aku masih mencintai Putramu. Dan aku tidak akan melepaskannya. Dia hanya milikku, bukan milik orang lain.

 

-xXx-

 

Ye Jin melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu dengan perlahan. Otaknya tengah menerna kalimat yang sungguh tidak pernah ia duga. Kalimat itu terucap dengan tanpa dosanya oleh mulut Chan Yeol. Chan Yeol meminta maaf padanya? Sungguh sulit untuk dipercaya. Tetapi bukankah ia tengah mabuk? Apa ­­­permintaan maaf itu adalah permintaan maaf yang tulus dari hatinya? “Tidak mungkin.” Ye Jin menggeleng kemudian berjalan seraya memijit pelipisnya pelan. Malam ini ia memutuskan untuk tidur di sofa ruang tamu. Ia benar-benar bingung dengan sikap Chan Yeol sekarang. Pulang dalam keadaan kacau dan mabuk. Apa yang ia lakukan seharian bersama Ho Jung?

Ye Jin menghela napasnya berat. Kebingungan tengah melandainya sekarang. Seluruh otaknya dipenuhi dengan tanda tanya. Ia memutuskan untuk merebahkan tubuhnya diatas sofa yang empuk. Menatap langit-langit apartement miliknya dengan tenang. Namun, jemari lentiknya reflect memegang bibirnya. Disini..bibir ini bertemu dengan bibir Chan Yeol. Sebuah ciuman pertamanya bersama Chan Yeol. Ada rasa bahagia, sedih dan bingung bercampur menjadi satu. Ia sungguh tidak mengerti apa maksud Chan Yeol menciumnya lalu mengucapkan ‘maaf’.

“Akh..dia tengah mabuk Ye Jin. Jangan berpikir macam-macam.” Ujarnya pada diri sendiri. Ia bertekad untuk melupakan kejadian ini. Menganggapnya hanyalah sebuah kecelakaan kecil dan ketidaksadaran Chan Yeol. Semua itu memang benar. Chan Yeol menciumnya dibawah kesadarannya. Hanya sebuah ciuman tanpa arti. Ciuman biasa..tanpa rasa cinta dan kasih.

Setelah sekian lama bergulat dengan pikirannya, Ye Jin memutuskan untuk tidur. Hanya itulah yang ia butuhkan saat ini. Tubuhnya benar-benar penat, terlebih lagi perasaannya. Perlahan Ye Jin mencoba untuk memejamkan matany. Tak lama kemudian ia sudah berada dialam bawah sadarnya. Alam dimana ia bisa melupakan sejenak masalahnya di dunia nyata.

 

-xXx-

 

The next day…

Park Chan Yeol POV

Akh..aku merasakan pening dikepalaku. Apa ini? Seperti ada yang menusuk kedua mataku? Aku membuka kedua mataku secara perlahan.

“Eung..” lenguhku. Aish..sudah pagi ternyata. Aku mencoba bangun dari tidurku. Tunggu dulu!

“ Bagaimana bisa aku diapartement? Siapa yang membawaku ke kamar?” tanyaku bingung. Aku melihat pakaianku masih sama seperti kemarin. Akh..aku baru ingat. Kemarin Ho Jung mengajakku ke club dan kami minum banyak sekali. Aish..aku benar-benar lupa. Jadi..siapa yang membawaku kekamar? Apa mungkin Ho Jung? Tapi…aku mengantarnya lebih dulu. Apa mungkin…Ye Jin?

“Tidak mungkin.” Mana mungkin Ye Jin yang membawaku kekamar. Tapi..aku tidak melihatnya dikamar ini. Eh? Kenapa aku perduli padanya? Sama sekali tidak penting. Aku menggelengkan kepalaku kemudian beranjak dari tempat tidur. Aku lupa kalau hari ini sudah masuk kerja. Semoga Appa tidak memarahiku. Aku berjalan menuju kamar mandi dikamarku. Membersihkan diri kemudian berangkat ke kantor.

Beberapa menit kemudian…

Setelah selesai dan rapi, aku berjalan keluar kamar. Aku melirik jam tangan ditangan kiriku. Hampir jam 7.00. Sepertinya aku tidak akan telat pagi ini. Aku berjalan seraya tersenyum tipis. Orang bilang aku akan bertambah tampan jika aku tersenyum, benar kan? Terus berjalan dan berjalan, ketika melewati ruang makan, aku melihatnya lagi. Kedua tangannya tampak sibuk membenahi makanan-makanan yang sudah tersaji diatas meja. Aku malas melihatnya.

“Ah Chan Yeol oppa..ayo sarapan. Aku sudah menyiapkannya.” Langkahku terhenti ketika ia memanggil namaku. Aku menatapnya sekilas.

“Aku tidak lapar.” Jawabku sinis. Lagi-lagi ia menundukkan kepalanya. Ya, itu sudah menjadi kebiasaannya jika berbicara denganku.

“Sebaiknya kau—“

TING TONG!

Ucapanku terhenti ketika mendengar bunyi bel. Kulihat Ye Jin mengangkat kepalanya dengan bingung.

“Siapa yang datang?” tanyaku sendiri. Aku meletakkan tas kantorku diatas meja kemudian berjalan menuju pintu depan. Benar-benar tidak tahu malu. Siapa orang gila yang menekan bel apartement orang sepagi ini?

Ceklek…

“Nuguse—yo~ Eomma!!?” mataku terbelalak ketika melihat siapa yang datang. Eomma tersenyum senang melihatku.

“Eomma apa yang kau lakukan disini?”tanyaku berbisik dengan panik.

“Chan Yeol-ah, kau tidak mempersilahkan Eomma-mu untuk masuk?” ujarnya. Belum sempat aku menjawabnya, Eomma sudah masuk duluan. Aigoo~~ aku menutup pintu apartementku kemudian ikut masuk kedalam.

“Ye Jin-ah~ Eomma rindu padamu..” Eomma langsung memeluk Ye Jin mesra. Aku memutarkan bola mataku malas. Aku yang anaknya saja tidak pernah diperlakukan seperti itu. Dasar!

“Eo? Eomma kenapa datang kemari pagi sekali? Chan Yeol oppa baru saja mau berangkat.” Tanya Ye Jin kepada Eomma. Baiklah, sebaiknya aku duduk saja. tetapi percuma saja..aku masih memiliki telinga. Aku tidak ingin mendengar obrolan mereka

“Chan Yeol-ah.. hari ini Appa memberimu cuti lagi,”

“MWO!!?” tanyaku kaget mendengar ucapan Eomma. Bagaimana mungkin Appa memberiku cuti lagi?

“Eomma jangan bercanda.” Ujarku seraya tertawa renyah. Baiklah, ini aneh sekali. Eomma menatapku kemudian berjalan kearahku.

“Mana mungkin Eomma berbohong padamu, Chan Yeol-ah. Kami sudah mempunyai rencana yang bagus untuk kalian. Sebaiknya kalian cepat mengemasi pakaian kalian.” Aku semakin terkejut lagi mendengar ucapan Eomma. Aku berdiri dari kursi meja makan.

“Eomma jangan bercanda, ini sama sekali tidak lucu. Untuk apa Appa memberiku cuti lagi? Aku sudah ingin masuk kerja kembali, tapi kenapa disuruh cuti? Lalu..apa maksud Eomma menyuruh kami untuk mengemaskan pakaian?” tanyaku kemudian menuangkan segelas air putih digelasku. Entah mengapa tenggorokkan-ku menjadi kering akibat obrolan ini.

“Kalian harus Honey Moon.

“Uhuk uhuk!!” sial! Aku tersedak mendengar jawaban Eomma. Kulirik Ye Jin juga sama terkejutnya dengan diriku. Tapi tidak mungkin,,ini pasti rencana mereka berdua. Ish, mereka benar-benar pandai berakting.

“Eomma,, mana mungkin kami berbulan madu.” Sahutku asal. Eomma menautkan kedua alisnya.

“Kenapa kau bilang begitu, Chan Yeol-ah? Kalian kan sudah menikah, sudah sepatasnya kalian memiliki waktu berdua. Sudahlah, ini sudah menjadi keputusan Appa dan Eomma. Appa sudah menyiapkan keperluan kalian di Jeju.

“JEJU!!?” tanyaku serentak dengan Ye Jin. Aku menatapnya sinis. Kenapa ia dan aku kompakkan? Sial sial sial! Kenapa aku harus berbulan madu dengannya? Aku menolak keras keputusan gila kedua orangtuaku ini. Bagaimana bisa mereka mengambil keputusan tanpa berdiskusi dengan kami? Ini tidak adil. Eomma malah tertawa.

“Tapi Eomma, aku sudah—“

“Eomma tidak menerima penolakan. Cepat kemaskan pakaian kalian. Wah..Jin-ah kebetulan kau sudah menyiapkan sarapan. Apa kalian sudah sarapan? Eomma mengganggu ya?”

“Aku tidak lapar.”

Kruyuk..kruyukk..

Aku merasakan perutku bergetar dan ngilu. Aku melirik Eomma dan Ye Jin. Mereka menatapku dengan pandangan aneh. Bodoh kau Chan Yeol!! tidak bukan aku! Ya!! Cacing perut, berhentilah meraung-raung! Tiba-tiba..mereka berdua tertawa.

“Hahahaha… Chan Yeol-ah katanya kau tidak lapar,lalu..bunyi apa itu?” tanya Eomma seraya tertawa lepas. Aku benci hari ini. Tanggal berapa ini? SIAL SEKALI!!!

-xXx-

Pagi itu Chan Yeol terlihat kesal, marah dan juga..malu. Ketika ia bilang ‘tidak lapar’ tiba-tiba saja perutnya berbunyi. Akh..sungguh memalukkan. Akhirnya setelah mengemaskan pakaian, mereka menunggu diruang tamu. Chan Yeol dengan amat terpaksa mengikuti keputusan kedua orangtuanya itu. Jika saja Appa Chan Yeol tidak menelpon, pasti Chan Yeol tidak akan mau. Eomma Chan Yeol masih berada disatu apartement dengan mereka. Ia sengaja karena ingin memantau menantu dan anak laki-lakinya. Chan Yeol mengenakan pakaian santai (casual). Ye Jin memakai sebuah dress berwarna putih membuat ia cantik sekali. Tapi tentu saja Chan Yeol tidak terpesona dengan kecantikan Ye Jin. Hatinya sudah dibutakan oleh cinta milik Ho Jung. Chan Yeol menghentak-hentakkan kakinya. Ia benar-benar kesal.

“Chan Yeol-ah..kau kenapa? Kalian senang, kan?” tanya Eomma Chan Yeol tiba-tiba. Ye Jin yang tadinya menundukkan kepalanya kini mengangkat kepalanya. Ia melirik Chan Yeol sesaat kemudian tersenyum tipis kearah Eommanya.

“Ne Eommoni. Jeongmal gomawo~” jawab Ye Jin tersenyum. Eomma Chan Yeol berjalan menghampirinya kemudian duduk disebelah Ye Jin. Ia memeluk Ye Jin erat sambil tersenyum.

“Ah..senangnya bisa mempunyai menantu sepertimu Jin-ah. Eomma merasa sangat beruntung.” Mendengar ucapan Eommanya itu membuat Chan Yeol semakin bad mood. Tiba-tiba seorang lelaki berpakaian hitam masuk kedalam ruangan itu. Ia membungkukkan badannya.

“Mobilnya sudah tiba, Nyonya.”

“Geuraeyo? Tolong bawa koper ini kedalam mobil.” Pinta Eomma Chan Yeol. Pria berstatus sebagai pengawal itu mengangguk kemudian membawa koper milik Chan Yeol dan Ye Jin. Mereka semua berdiri kemudian berjalan keluar apartement. Tidak terlalu lama menunggu, setidaknya mereka tidak harus berdiri didepan gedung apartement, kan? Setelah semua barang ditempatkan dibagasi, mereka berpamitan.

“Chan Yeol-ah..tolong jaga istrimu baik-baik disana ya? Jangan terlalu sering terkena angin malam, nanti kalian bisa sakit, arrasseo?” pinta Eomma Chan Yeol. Chan Yeol mengangguk malas.

“Ne Eommoni.” Jawab keduanya berbarengan. Chan Yeol menatap Ye Jin dingin. Ye Jin berusaha mengalihkan pemandangannya dengan tersenyum kearah Eomma Chan Yeol. tidak mungkin dia menundukkan kepalanya didepan Eomma Chan Yeol. Bisa-bisa semuanya terbongkar.

“Pergilah.. selamat bersenang-senang.”

Eomma Chan Yeol melambaikan tangannya seraya tersenyum bahagia. Dibalik kaca mobil itu kelihatan Ye Jin juga membalas lambaian tangannya. Dipandangnya mobil audi berwarna hitam itu sampai menghilang dari balik tembok. Senyum yang tadinya menghiasi wajah Nyonya Park pudar seketika.

“Kau tidak akan bisa menghancurkan rumah tangga anakku, dasar wanita licik!”

-xXx-

Setelah mobil yang di tumpangi oleh Chan Yeol dan Ye Jin keluar dari apartement mereka, Chan Yeol masih memasang wajah dingin dan errr mengerikan. Sedangkan Ye Jin tidak berani membuka suara. Ia memutuskan untuk menikmati jalanan Seoul di pagi hari.

“Kau dan Eomma pasti merencanakan ini, kan?”

Sebuah suara mengejutkan Ye Jin. Ia melirik sebentar kearah Chan Yeol yang menatapnya dengan sinis.

“Bukan aku yang merencanakannya. Bahkan aku tidak tahu kalau Eomma akan ke apartement pagi tadi.” Ye Jin sedikit menundukkan kepalanya. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Chan Yeol akan menuduhnya seperti itu.

“Geotjimal!”

Chan Yeol mendesis pelan. Ternyata selain membenci Ye Jin, ia juga hobby berprasangka buruk kepada orang lain. Ye Jin bungkam. Percuma saja kalau dia bicara, Chan Yeol tidak akan percaya dengan perkataannya. Selama perjalanan menuju Airport, kesunyian menyelimuti keduanya. Bahkan ketika tiba di bandara, mereka masih saja bungkam. Kecuali, ketika sang sopir menurunkan barang-barang mereka. Chan Yeol dan Ye Jin terlihat akrab dan akur, bahkan mereka saling tersenyum. Mereka harus melakukan itu supaya sopir itu tidak curiga dan tidak melaporkan hal yang aneh-aneh kepada orang tua dari keduanya. Ketika sopir suruhan Eomma Chan Yeol pergi, barulah mereka bersikap seperti semula. Tidak, bukan mereka. Tetapi Chan Yeol saja. Ia bahkan berjalan lebih dulu meninggalkan Ye Jin sendirian. Ye Jin hanya menghela napasnya kemudian membawa kopernya sendirian. Pada saat di bandara, kedua bola mata Ye Jin menyapu kesegala arah. Ye Jin banyak melihat sepasang suami istri yang saling bergandengan tangan dan tersenyum bahagia. Andaikan aku dan Chan Yeol oppa seperti itu, aku pasti akan bahagia, batin Ye Jin. Namun beberapa detik kemudian, Ye Jin menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Tidak tidak..itu tidak akan terjadi Ye Jin, sadarlah. Kau pasti bermimpi jika hal itu terjadi.” Ye Jin memukul pelan kepalanya. Sungguh bodoh!

“Ya!! Ppaliwa!! Lama sekali jalannya.” Teriak Chan Yeol membuat Ye Jin terkejut. Ia mengangguk kemudian mempercepat langkahnya. Setelah mengurus semuanya, kini mereka berada di dalam pesawat. Jarak Seoul dan Pulau Jeju tidak terlalu jauh, tetapi karena ini bukanlah rencana Chan Yeol maupun Ye Jin, jadi mereka hanya bisa pasrah mengikuti kemauan orang tua mereka.

 

@Saat penerbangan menuju Pulau Jeju

 

Semua penumpang pesawat XO2305 itu terlelap dalam alam bawah sadar mereka, tak terkecuali Chan Yeol dan Ye Jin. Mereka duduk di kursi yang bersebelahan. Kenapa? Tentu saja. Ini semua sudah direncanakan dengan matang oleh kedua orang tua mereka. Mereka tampak tidur dengan lelap. Bahkan kepala Ye Jin yang sudah terjatuh-jatuh beberapa kali tetap menutup matanya. Kepala Chan Yeol menyandar pada kursinya. Namun tanpa disadari Ye Jin, kepalanya terjatuh tepat di bahu Chan Yeol yang sedang tertidur. Chan Yeol tidak menyadarinya, apalagi Ye Jin. Kini mereka sudah terlihat seperti sepasang suami-istri yang mesra. Bahkan ketika mereka tertidur.

Namun setelah beberapa menit kemudian, suara pramugari yang mengatakan bahwa pesawat ini akan segera mendarat di pulau Jeju. Semua penumpang tampak mengerjap-ngerjapkan mata mereka dan membuka lebar mata mereka. Begitupula halnya dengan Chan Yeol dan Ye Jin. Ye Jin yang menyadari menyandar dibahu Chan Yeol langsung mengangkat kepalanya dan menundukkan kepalanya. Chan Yeol menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ye Jin mengalihkan pandangannya dengan melihat ke jendela di sampingnya. Kedua bola matanya berbinar ketika melihat keindahan pulau Jeju dari atas awan seperti ini. Semuanya tampak biru muda, putih dan hijau. Sungguh pemandangan yang menyejukan mata.

Chan Yeol yang daritadi diam tiba-tiba teringat sesuatu. Ia mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu disana. Ye Jin yang terlalu terpesona dengan pemandangan pulau Jeju sampai lupa dengan Chan Yeol yang tadi menatapnya horror.

Semua penumpang pesawat XO2305 diharapkan untuk bersiap-siap karena pesawat akan mendarat beberapa menit lagi. Terima Kasih.

Suara pramugari itu membuat keduanya tersadar dari kegiatan mereka masing-masing. Chan Yeol segera memasukan ponselnya kedalam saku celananya dan Ye Jin kembali duduk seperti semula. Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya pesawat yang mereka tumpangi sudah mendarat. Semua penumpang terlihat turun dari pesawat dengan hatu-hati. Tetapi Chan Yeol dengan teganya keluar lebih dulu dan meningalkan Ye Jin dalam pesawat. Ye Jin ingin memanggil, namun ia urungkan niatnya itu. Percuma saja. Chan Yeol tidak akan mendengar ucapannya.

Ye Jin menghela napasnya kemudian beranjak keluar dari pesawat. Ketika turun, ia dapat melihat Chan Yeol yang jaraknya belum terlalu jauh dengannya. Ia mempercepat langkahnya supaya tidak tersesat. Tidak lucu kan jika seorang istri tersesat karena di tinggalkan oleh suami yang sadis di bandara? Ckckc, berita yang konyol.

“Ya!! ppaliwa~” Chan Yeol berteriak kepadanya dengan nada yang tidak terlalu nyaring. Ye Jin mengangguk kemudian berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Chan Yeol. Sungguh sulit bagi Ye Jin, karena langkah kaki Chan Yeol yang besar dan lebar membuatnya kesusahan. Ia juga tidak terlalu tinggi, bahkan tingginya hanya sebatas bahu Chan Yeol. Meskipun demikian, ia akhirnya bisa menyamai langkahnya dengan Chan Yeol.

Ketika mengurus barang-barang dan keperluan lainnya, disana sudah ada yang menjemput mereka. Benar-benar keren. Bahkan rumah tangganya saja harus di urus dengan kedua orang tua mereka. Pasti sangat membuat Chan Yeol tertekan. Orang-orang yang mengenakan pakaian berwarna hitam itu langsung membungkuk hormat kepada Chan Yeol dan Ye Jin. Mereka dengan sigap membawa koper milik keduanya. Namun saat ingin pergi dari bandara itu, ponsel Chan Yeol berdering membuat semuanya menatap kearahnya, kecuali Ye Jin. Chan Yeol meraih ponselnya dan menatap ID si penelpon.

“Kalian duluan saja. Aku akan menyusul.” Ujar Chan Yeol yang mendapat anggukan dari pengawal itu. Ye Jin yang mendengar itu langsung melengangkan kakinya meninggalkan Chan Yeol. Ye Jin mengetahuinya. Itu pasti Ho Jung. Di dalam perjalanan menuju parkiran mobil, Ye Jin terus menerus membuang napasnya kasar. Ia menggenggam dadanya. Rasanya sangat sesak. Sesuatu mendesak ingin keluar dari matanya namun ia menahannya sekuat tenaga. Pengawal ini tidak boleh melihat Ye Jin menangis. Mereka pasti akan melapornya kepada kedua orang tua Chan Yeol dan Ye Jin. Bisa-bisa kebohongan mereka semua akan terbongkar. Ye Jin memutuskan untuk bersikap seperti biasa dan tetap menyunggingkn senyum terbaiknya. Ini bukanlah pertama kalinya bagi Ye Jin. Ia sudah bertahan lama hanya karena ia mencintai Chan Yeol. Satu alasannya yang kuat. Ia juga sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menikah satu kali selama semasa hidupnya. Karena ia sudah bertemu dengan pria itu. Namun..ujian tak pernah berhenti menghampirinya. Ia hanya bisa mencoba sabar dan menunggu. Menunggu hingga saatnya tiba. Saat dimana Chan Yeol hanya melihat ke satu arah, melihat siapa perempuan yang selama ini benar-benar mencintainya dengan setulus hatinya.

Waktu yang akan menjawab semuanya

-xXx-

“Yeoboseyo Chan Yeol oppa..”

“Ne, waeyo Ho Jung-ah?”

“Kau dimana? Kenapa sulit sekali menghubungimu hari ini?”

“Mianhaeyo Ho Jung-ah. Aku sekarang sedang di Pulau Jeju.”

“Mwo?? Pulau Jeju? Dengan siapa? Jangan bilang kalau bersama perempuan itu.”

“Mianhae, ini semua diluar kendaliku. Appa, Eomma dan kedua orang tuanya yang merencanakan ini semua. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Sungguh aku sama sekali tidak menginginkan hal ini terjadi.”

“Tidak apa-apa. Kabari aku jika Oppa sudah kembali.”

 

Chan Yeol menutup percakapan singkatnya dengan Ho Jung. Ia sempat heran ketika Ho Jung bilang’tidak apa-apa’. Apa maksudnya? Apakah ia tidak marah atau cemburu kepada Ye Jin? Apakah Ho Jung mengetahui rencana ini? Tidak mungkin. Itu mustahil. Chan Yeol memasukan ponselnya kedalam saku celananya dan berjalan menuju parkiran mobil. Namun sebelumnya, ia sempat menjauh untuk mengangkat telepon dari Ho Jung karena ada satu pengawal yang menunggunya. Chan Yeol berjalan lebih dulu dan diikuti oleh pengawal itu. Ia benar-benar tidak mengharapkan ini terjadi. Honey Moon bersama Ye Jin adalah peristiwa yang paling ia hindari. Ia tidak mau menyakiti perasaan Ho Jung. Sungguh keterlaluan. Bahkan ia tidak memikirkan perasaan istrinya sendiri, seorang istri yang sesungguhnya. Chan Yeol tidak akan pernah memikirkan itu selama ia masih membenci Ye Jin.

Ia terus melangkahkan kakinya menuju tempat tujuannya. Namun kakinya terhenti ketika melihat benda berwarna putih terjatuh dilantai bandara itu. Entah dorongan darimana, Chan Yeol malah berjongkok dan mengambil benda itu. Sebuah gelang perak. Chan Yeol mengernyitkan dahinya ketika melihat gelang itu. Gelang itu terlihat tidak asing baginya. Ia seperti pernah melihatnya. Chan Yeol memutar-mutar gelang berbentuk bintang itu. Chan Yeol menemukan sesuatu. Sebuah inisial nama.

“YJ?”

-xXx-

“SIAL!!”

Ho Jung membanting ponselnya keatas tempat tidurnya. Napasnya memburu. Wajahnya memerah.

“KENAPA HARUS PEREMPUAN ITU? KENAPA PEREMPUAN ITU SELALU MENGHALANGI JALANKU?? KENAPAAA!!!???” Ho Jung berteriak didalam apartementnya sendiri. Ia membanting semua yang ada didalam kamarnya. Meja rias yang tadinya rapi dengan perlengkapan kecantikannya kini sudah berhamburan kelantai. Ho Jung murka. Ia tertawa hambar kemudian.

“Jika aku tidak bisa memiliki Chan Yeol oppa, maka kau juga tidak boleh memilikinya.” Ho Jung menyeringai. Senyum licik menghiasi wajahnya saat ini. Ia tertawa lagi.

“Aku akan menyingkirkanmu, Son Ye Jin-ssi.. Aku akan melenyapkanmu dari muka bumi ini!!!”

-xXx-

Setelah beberapa menit menempuh perjalanan menuju Villa keluarga Park, akhirnya mobil audi berwarna hitam itu berhasil mempijaki ban mobilnya di halaman villa. Chan Yeol keluar lebih dulu dan meninggalkan Ye Jin yang baru saja ingin membuka pintu. Ia menghela napasnya kemudian membuka pintu mobil. Para pengawal-pengawal berbaju hitam ini tampak sibuk menurunkan barang-barang. Ye Jin menghampiri salah satu pengawal itu.

“Jogiyo~ biar aku saja yang membawa kopernya.” Ucap Ye Jin ramah sambil tersenyum.

“Tapi Nyonya..”

“Tidak apa-apa. Lagipula koper yang kami bawa tidak banyak. Terima kasih sudah membantu.” Ye Jin mengambil koper yang berada di tangan pengawal itu. Pengawal itu hanya bisa menurut dan membungkuk hormat. Setelah koper sudah berada di tangan Ye Jin, ia membawanya masuk kedalam Villa. Ketika memasuki Villa tersebut, Ye Jin sangat dibuat terpukau. Villa itu benar-benar bagus. Ye Jin menyapukan pandangannya mencari kamar. Ia berjalan pelan seraya memperhatikan bangunan villa itu, very amazing!.

“Kau cari apa?”

Sebuah suara mengejutkan Ye Jin. Ia langsung melirik ke sebelah kanannya. Ternyata sebelah kanannya itu adalah ruang tamu. Chan Yeol terbaring diatas sofa dengan menutup kedua matanya. Mungkin lelah. Ye Jin menundukkan kepalanya.

“Aku—aku mencari kamar.” Jawabnya terbata-bata.

“Sebelah kiri di depanmu.” Chan Yeol memberitahu Ye Jin letak kamarnya. Ye Jin menatap ke depannya. Memang benar. Kamarnya ada disebelah kiri. Bagaimana bisa Ye Jin tidak melihatnya? Ia melirik kearah Chan Yeol masih dengan kepala sedikit tertunduk.

“ Ne.”

“Dasar bodoh!”

Chan Yeol mengumpat. Ye Jin mendengarnya. Ya, ucapan Chan Yeol memang benar. Sebenarnya apa yang di pikirkan Ye Jin sampai-sampai ia tidak melihat kamar didepan kamarnya? Ye Jin semakin menundukkan kepalanya dan berjalan menuju pintu kamar di depannya. Membuka pintu kemudian meletakkan koper disana. Lagi-lagi Ye Jin dibuat takjub dengan desain kamar yang ia pijaki itu. Balkon kamarnya langsung berhadapan dengan pantai. Ah ya, kalian jangan salah. Kamar yang di masuki Ye Jin itu berada di lantai dua. Jadi, semuanya tampak terlihat jelas dari balkon kamarnya. Ye Jin yang tadinya berniat ingin mengutuk dirinya karena bersikap bodoh akhirnya lenyap. Ia dibuat takjub dengan pemandangan pantai di Jeju.

Ye Jin membuka pintu balkon kamarnya kemudian menikmati sejuknya angin yang menerpa tubuhnya. Ye Jin sedikit kedinginan karena ia hanya mengenakan dress berwarna pastel selutut.

“Indah sekali~” Ye Jin masih asyik melihat lautan biru di depannya. Namun sesuatu mengusiknya. Bunyi suara ponselnya. Ye Jin tampak berpikir kemudian masuk kedalam kamar lagi. Ia mengambil tas kecilnya dan meraih ponselnya. Ye Jin tersenyum ketika melihat id si penelpon. Ia berjalan menuju balkon lagi kemudian mengangkat teleponnya.

“Yeoboseyo Baekkie-ya~”

“Ne, Jin-ah. Kau dimana sekarang? Aku ingin mengembalikkan barangmu.” Kening Ye Jin mengkerut.

“Barang milikku? Apa?”

“Jepit rambutmu tertinggal didalam mobilku. Aish,, kau benar-benar ceroboh. Apa kau ada di apartement?” Ye Jin terkekeh pelan.

“Mianhaeyo Baekkie-ya membuatmu repot. Mana aku tahu kalau jepit rambutku tertinggal. Aku juga tidak menyadarinya.”

“Neo eoddiya?”

“Aku tidak di apartement Baekki-ya. Aku berada di Jeju sekarang.”

“MWOO!!?? JEJU?? Apa yang kau lakukan disana? Kau dengan siapa kesana? Chan Yeol?” Ye Jin sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya.

“Jangan teriak-teriak. Telingaku bisa tuli. Ne, aku bersama Chan Yeol oppa. Aku juga tidak tahu Baekkie-ya. Pagi tadi Eommoni datang ke apartement dan menyuruh kami berbulan madu. Beliau juga menyuruh kami mengemaskan pakaian. Aku juga terkejut dan tidak bisa melakukan apapun. Maaf tidak memberi kabar padamu.”

“Oh, gwaenchana Jin-ah. Semoga bulan madumu indah.”

“Bulan maduku indah? Aku tidak yakin.”

“Kenapa kau pesimis seperti itu?

“Kau tahu kan bagaimana Chan Yeol oppa? Dia sangat membenciku.”

“Aigoo~~ jangan seperti itu Jin-ah. Perasaan seseorang itu bisa berubah-berubah seiring berjalannya waktu. Kau masih mempunyai kesempatan. Sudahlah, aku tutup ya. Jaga dirimu baik-baik. Jangan terlalu lama di luar pada saat malam hari, arrasseo?”

“Ucapanmu sama persis dengan Eommoni. Ne arraseo Baekki-ya.”

“Annyeong~”

 

Ye Jin menarik ponsel dari telinganya. Senyum menghiasi wajahnya. Baek Hyun seperti malaikat tanpa sayap baginya. Hanya Baek Hyun yang bisa membuat Ye Jin tersenyum. Sosok Baek Hyun yang hangat dan mempunyai selera humor yang baik dapat membuat hati Ye Jin menjadi tenang. Seperti saat ini.

“Aku akan merindukanmu, Baekkie-ya.”

–xXx-

Park Chan Yeol POV

Aku memejamkan mataku sejenak. Melihat Ye Jin yang sangat bodoh itu membuatku ingin menertawakannya. Bagaimana bisa ia bodoh seperti itu? Aku menggelengkan kepalaku kemudian kembali istirahat. Saat ingin menutup mata lagi, aku mendengar suara ponsel. Aku terduduk. Itu bukan suara ponselku. Suara ponsel siapa?

“Yeoboseyo Baekkie-ya”

Aku terkejut ketika mendengar suara itu. Suara itu terdengar nyaring di telingaku. Suara Ye Jin. Aku melangkahkan kakiku menuju kamar yang tadi ia masuki. Kebetulan pintu kamarnya tidak di tutup. Aku melihat pintu balkon terbuka dan ia berdiri disana seraya menggenggam ponsel di tangannya.

“Baekkie-ya?? Nugunde?” tanyaku pada diriku sendiri. Aku mendengar jelas suaranya dan sesekali ia tertawa. Aku memutuskan untuk berdiri di depan pintu dan menguping pembicaraannya. Tunggu!! Kenapa aku jadi peduli dengannya?

“Apa yang kulakukan? Aish..pabo!” aku merutuk diriku sendiri. Aku menegakkkan tubuhku kemudian berbalik badan.

“Jangan teriak-teriak. Telingaku bisa tuli. Ne, aku bersama Chan Yeol oppa. Aku juga tidak tahu Baekkie-ya. Pagi tadi Eommoni datang ke apartement dan menyuruh kami berbulan madu. Beliau juga menyuruh kami mengemaskan pakaian. Aku juga terkejut dan tidak bisa melakukan apapun. Maaf tidak memberi kabar padamu.”

Aku menghentikan langkahku. Aku membalikkan badanku lagi menatap punggungnya di kejauhan.

“Jadi bukan dia yang merencanakan ini dengan Eomma?” aku memutuskan untuk mendengr lebih jauh. Lagipula posisinya membelakangiku. Jadi dia tidak akan tahu kalau aku menguping.

“Bulan maduku indah? Aku tidak yakin.”

“Kau tahu kan bagaimana Chan Yeol oppa? Dia sangat membenciku.”

Ucapannya memang benar. Aku memang benci padanya. Ternyata ia menceritakan kebencianku kepada orang lain. Cih. Tukang ngadu. Aku menggelengkan kepalaku melihat tingkahnya. Ucapan awalku memang benar. Mengetahui urusannya itu tidak penting. Aku memutar badanku lagi kembali ke sofa. Cih. Dia pikir siapa dia? Menceritakan kejelekanku kepada orang lain??

“Baekki-ya?? Siapa dia ? Kenapa dia terlihat akrab dengan Ye Jin? Pacarnya kah?” gumamku. Ah, tidak penting. Untuk apa aku memikirkannya? Aku melirik jam ditangan kananku. Masih jam 10 pagi. Daripada tidak ada melakukan apa-apa, lebih baik aku jalan-jalan saja ke pantai. Aku mengambil ponselku dan beranjak keluar. Ketika keluar, aku melihat para pengawal di depan villa. Mereka membungkukkan badannya padaku.

“Apa yang kalian lakukan disini? Pulanglah~” ujarku pada mereka semua. Mereka semua saling pandang dan tidak ada yang menjawab.

“Maaf Tuan, kami ditugasi mengawasi dan menjaga Villa ini supaya aman.” Jawab salah satu dari mereka. Aku menatap mereka semua kemudian menghela napas. Tidak berguna juga memberitahu mereka.

“Terserah. Aku akan keluar sebentar. Dan jangan mengikutiku!” ancamku. Mereka semua menundukkan kepala mereka.

“Bagaimana dengan Nyonya Ye Jin, Tuan?”

Langkahku terhenti ketika mendengar pertanyaan dari pengawal yang sama. Gawat. Kalau aku bilang yang sebenarnya mereka akan curiga. Aku memutarkan badanku.

“Ye Jin ada didalam. Dia sedang istirahat. Jadi aku memutuskan untuk pergi sendirian.” Jawabku asal. Aku melihat pengawal itu menganggukkan kepalanya kemudian membungkukkan badannya lagi. Aku memutarkan badanku. Kalau begini terus, aku bisa gila. Aish..Appa dan Eomma benar-benar keteraluan.

Aku melangkahkan kakiku menuju  pantai yang jaraknya tidak jauh dari Villa. Bahkan pantainya ada di belakang villa. Pemandangannya sangat indah. Andaikan aku bersama Ho Jung, dia pasti akan senang. Astaga Ho Jung! Aku lupa menghubunginya lagi. Dengan segera aku mengambil ponsel di saku celanaku. Menekan nomor satu dan menekan tombol hijau. Nada tersambung.

“Yeboseoyo oppa~”

“Yeoboseyo Ho Jung-ah. Mian aku baru menghubungimu lagi.” Ujarku menyesal seraya berjalan di tepi pantai.

“Gwaenchanayo oppa. Ah, kau sedang di pantai ya? bersama Ye Jin?” aku terkekeh pelan.

“Ne, aku sedang berjalan-jalan sebentar di pantai. Ye Jin?? Tentu saja tidak. Aku sama sekali tidak berniat mengajaknya. Kenapa? Kau cemburu?”

“YA!! tingkat kenarsisanmu semakin jadi Oppa. Mwo? Cemburu? Tentu saja aku cemburu kau dengan perempuan yang sudah merusak hubungan kita. Aku membencinya. Dia juga yang sudah membuatmu HARUS berbulan madu denganmu, kan?”

“Mengenai itu bukan Ye Jin, Ho Jung-ah. Kurasa ini memanglah rencana kedua orang tuaku dan kedua orang tuanya. Dia sama sekali tidak terlibat.”

“Kenapa oppa membelanya? Bagaimana oppa tahu kalau dia tidak terlibat?”

“Aku menguping pembicaraannya di telepon dengan pacarnya.” Aku menendang angin.

“Mwo? Jadi dia punya pacar? Ck. Ternyata dia sama saja dengan kita.” Kudengar Ho Jung tertawa renyah disana. Aku tersenyum tipis.

“Ne. Neo eoddiseo? Mwohaneun geoya?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Aku berada di suatu tempat oppa. Sedang…menjalankan aksiku.” Aku menghentikan langkahku kemudian mengernyitkan dahiku.

“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.”

“Gwaenchana oppa. Abaikan saja ucapanku. Aku baik-baik saja disini. Ku harap kau dan..perempuan itu baik-baik saja. INGAT! Jaga jarak dengannya. Aku tidak mau kau jatuh cinta dengannya.” Aku tertawa.

“Tidak akan, Ho Jung-ah.”

“Hati-hati oppa..ku dengar disana banyak kejahatan yang tak terduga. Jaga dirimu. Aku tidak ingin kau terluka.” Mendengar ucapannya yang ini membuatku takut. Aku tersenyum.

“Ne, aku akan menjaga diriku. Kau juga disana, arraseo?”

“Ne arrayo. Aku tutup ya, annyeong~”

Aku tersenyum kemudian menarik ponsel dari telingaku. Aku senang melihatnya cemburu, haha. Tetapi.. kenapa ucapan terakhirnya membuat perasaanku menjadi tidak enak? Dia bahkan bilang semoga Ye Jin baik-baik saja. Kurasa ada yang aneh dengan otaknya. Ye Jin..kenapa perasaanku menjadi benar-benar tidak enak sekarang? Aku melirik balkon kamarku. Dari sini bahkan aku bisa melihat pintu balkon dimana Ye Jin membukanya. Balkon itu sepi. Ye Jin bahkan tidak ada disana. Mungkin ia sudah masuk. Sudahlah, mungkin aku hanya terlalu banyak pikiran mengenai rencana honey moon  ini.

Aku kembali melangkahkan kakiku. Menundukkan kepalaku dan menatap kedua kakiku yang terendam air. Pasir putih bergerak maju dan mundur mengikuti arus ombak. Hidup pasir itu sangat menyedihkan. Ia bahkan bisa terombang-abing hanya karena sebuah ombak. Apa itu sama seperti hidupku ya?

“TUAN MUDA..TUAN MUDA!!”

Sebuah teriakan membuatku terkejut. Aku memutar badanku dan menatap dua orang pengawal yang tadi berada di depan villaku. Kenapa mereka kemari?

“Apa yang kalian lakukan disini? Aku sudah bilang untuk tidak mengikutiku!”

“Maaf Tuan, ini berbahaya Tuan.”

“Apa maksudmu?”

“Ny-nyonya Ye Jin menghilang.”

“MWO!!??”

 

 

 

 

 

To Be Continue~

 

7 thoughts on “It’s Okay Even If It’s Hurts Part 4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s