The Night Mistake – Part.7

sehun chanyeol

The Night Mistake – Part.7

By : Ririn Setyo

Park Chanyeol || Song Jiyeon || Oh Sehun

Other Cast : Kim Jongin || Yang Yoojin || Xiumin

Genre : Romance ( PG – 16)

Length : Chaptered

FF ini juga publish di blog pribadi saya dengan cast yang berbeda http://www.ririnsetyo.wordpress.com

Jongin meraih minuman dingin di atas meja untuk menutupi rasa gugup, merasa tubuhnya sekarat saat harus kembali berhadapan dengan Im Jinhwan. Sosok Jinhwan selalu berhasil membuat Jongin bergidik ngeri, membuat bulu-bulu halus di tengguknya meremang. Jongin benar-benar menyesal, mengutuk diri karena sudah terlibat dalam masalah rumit ini. Masalah ciptaan dari Lee Sehun yang membawa petaka untuk dirinya dan kini sukses mengejar ditiap langkah hidupnya.

“Sepertinya ada hal yang kau lewatkan dan tidak kau beritahukan padaku, Jongin.”

“Apa maksudmu? Aku sudah mengatakan semua hal yang aku ketahui padamu.”

“Laki-laki yang membayarmu, siapa dia?”

Mata Jongin mendelik, meletakkan minumannya di atas meja, segera mengelak dari tatapan Jinhwan sebelum pria kejam itu menangkap keterkejutannya. Tapi sayangnya Jinhwan sudah terlatih untuk itu, mengartikan semua ekspresi wajah dan pandangan mata adalah keahliannya. Dia tahu jika Jongin mencoba berbohong padanya.

“Aku tidak tahu, dia hanya—-“

“Sehun. Apa laki-laki itu Oh Sehun?”

“Apa?” Jongin hampir saja tersedak napasnya sendiri, laki-laki itu melebarkan matanya, menatap Jinhwan yang hanya tersenyum dingin.

“Apa Sehun ada di balik ini semua, Jongin?”

Dari kerongkongannya yang terasa tercekat, Jongin mencoba tertawa walau hasilnya sumbang dan gemetar, Jongin kalut, takut, bahkan tangannya pun sudah membeku. Jongin benar-benar tidak menyangka jika Jinhwan akan mencurigai Sehun secepat ini, dalam kekalutannya Jongin berpikir cepat, membolak balik otak kecilnya untuk menemukan jawaban yang masuk akal, guna terhindar dari kekejaman Jinhwan yang mungkin akan diterimanya sebentar lagi.

“Sehun? Yang benar saja, mereka sudah seperti saudara kandung, bagaimana bisa kau mencurigai Sehun, Jinhwan-ssi.”

Jongin menelan salivanya susah payah saat Jinhwan bergeming, laki-laki itu menajamkan tatapannya, ia mencodongkan tubuhnya ke depan, satu tangannya ada di bawah meja, seringai menakutkan kini terulas di ujung bibir pria kejam itu. Dalam sepersekian detik Jongin yang masih menatap Jinhwan, tiba-tiba dia sudah menjerit tertahan, merasa jika tempurung lutut kaki kanannya sakit. Semakin sakit hingga Jongin yakin jika tempurung kakinya retak. Jongin menahan rasa sakit yang teramat sangat hingga wajahnya memerah, urat lehernya terlihat, matanya berair, memohon pada Jinhwan yang tetap duduk nyaman di posisinya, laki-laki itu tersenyum samar, tenang namun menyeramkan.

“Aku akan mencari bukti yang menyeret namamu dan Sehun, aku akan mengampunimu jika kau mengaku sebelum aku menemukan semua bukti-buktinya. Jika tidak, maka aku berjanji akan membuat kaki kananmu ini, benar-benar tidak bisa lagi digunakan untuk berjalan, kau mengerti?”

Cengkraman Jinhwan semakin kuat.

“Arrghhh!!!”

“Kau mengerti, Kim Jongin?!”

“AARGGHH!!! IYA IYA AKU MENGERTI!!”

Senyum tenang namun kejam terulas di bibir Jinhwan, melepaskan cengkraman dan kembali memundurkan tubuhnya. Dia memperhatikan Jongin yang mengusap tempurung lututnya, terlihat menahan rasa sakit luar biasa karena cengkramannya barusan. Tepat di menit berikutnya, laki-laki itu menegakkan tubuh tingginya, mengusap pelan pundak Jongin dan tidak peduli pada kaki kanan Jongin yang sudah bisa dipastikan akan pincang dalam dua hari ke depan. Jinhwan kembali tersenyum dingin, berjalan meninggalkan Jongin dalam langkah diamnya yang tenang dan mencekam.

~000~

“Aku sudah mendengar semuanya dari putriku, Nyonya Park Seo, dan aku memutuskan untuk membatalkan pertunangan mereka.”

Seojung tersenyum samar atas penuturan yang terlontar dari Yang Yonghee calon besannya, menahan rasa kesal untuk semua rasa malu yang akan ditanggungnya sebentar lagi. Seojung mengusap genggaman tangannya yang kian mengerat, berdehem sebentar guna melonggarkan tenggorokannya yang tersumbat. Wanita konglomerat itu menegakkan posisi duduknya, menatap Yonghee, melayangkan senyum samar, tenang namun dingin mematikan.

“Masalah ini hanyalah sebuah kesalahpahaman Nyonya Yang, kau jangan bertindak gegabah dan mempermalukan kita semua. Kau tentu tahu, jika semua orang sudah menunggu berita baik dari hubungan anak-anak kita. Apa kata mereka jika kita membatalkannya begitu saja, apa kau mau menanggung malu, hanya karena mengikuti emosi anak-anak kita?”

“Iya aku tahu itu, tapi Yoojin sudah memutuskan untuk mengakhirinya, dan putramu Chanyeol juga sudah sepakat tentang hal itu.”

Seojung menghela napas sebentar, memijat pelipisnya untuk mengusir rasa berdenyut yang tiba-tiba menyerang kepalanya. Mencari jalan keluar terbaik guna menjaga nama baiknya di depan halayak dan koleganya. Seojung benar-benar tidak ingin menanggung malu karena acara pertunangan yang sudah dipersiapkan hancur berantakan, hanya karena sifat keras Chanyeol dan Yoojin, juga karena sosok asing yang tiba-tiba datang dan merusak semuanya.

“Belum sepenuhnya sepakat Nyonya Yang. Aku akan menanyakan kembali pada Chanyeol dan membicarakannya, aku minta jangan dibatalkan sebelum aku mendapat penjelasan yang masuk akal dari putraku.”

“Tapi semuanya memang sudah berakhir, aku dan Chanyeol sudah memutuskannya, Bibi Park Seo.” suara serak Yoojin mengalihkan pandangan Seojung dan Yonghee, menatap Yoojin yang berdiri di ambang pintu berpelitur merah marun, pucat dan ekspresi wajahnya sangat datar.

“Yoojin.”

“Bibi Park Seo, aku mohon jangan memaksaku, aku benar-benar tidak bisa melanjutkannya lagi.”

“Yoojin…,”

“Sudah tidak ada jalan lain selain mengakhirinya, dia… lebih membutuhkan Chanyeol dibanding aku.”

Yoojin membungkuk hormat ke arah Seojung dan ibunya. Membalikkan badan sesegera mungkin dan meninggalkan ruang kerja ibunya begitu saja, mengabaikan tatapan murka Seojung di balik iris cokltanya yang tajam.

~000~

Chanyeol terlihat sangat sibuk, beberapa saat yang lalu pria itu baru saja menyelesaikan rapat panjang selama hampir lima jam bersama jajaran direksi. Kini dia sudah kembali di ruang kerjanya, setumpuk berkas perusahaan tampak memenuhi meja kerjanya yang luas, mengecek beberapa dokumen penting yang terbengkalai karena dia sudah tidak bekerja lebih dari sepekan. Tapi untungnya saja Chanyeol memiliki staf yang bisa dipercaya dan diandalkan, membuat dia bisa sedikit bernapas lega dan tidak perlu mengkhawatirkan banyak hal. Mereka semua bekerja dengan baik, mengurus segala sesuatu yang dibutuhkan perusahaan propertynya tanpa kesalahan sedikitpun.

Suara ketukan dari arah pintu menghentikan kegiatan Chanyeol sejenak, dia menegakkan kepala dan menemukan sesosok gadis cantik yang membuat iris sipit Chanyeol melebar. Tidak menduga atas kunjungan gadis yang seketika membuat hatinya terasa nyeri, gadis yang sangat dia cintai namun sejak dulu selalu disakiti pula olehnya.

“Yoojin?”

Chanyeol beranjak dari bangku kuasanya, berjalan mendekati Yoojin yang masih mematung di ambang pintu. Ia ingin sekali merengkuh tubuh gadis itu dalam pelukan rindu yang sudah Chanyeol tahan sejak hubungan mereka kandas, melafalkan kembali kata maaf untuk semua goresan pesakitan, yang telah dia torehkan, untuk kehidupan gadis yang selalu Chanyeol klaim sebagai malaikat hatinya. Chanyeol menatap lekat sosok Yoojin yang pucat, mata indah gadis itu terlihat sayu dan kosong, tidak seperti yang biasa Chanyeol lihat selama ini. Namun samar Chanyeol masih mampu melihat luapan cinta yang tersirat di mata Yoojin, rasa yang dulu sama-sama mereka kumandangkan sebelum mengikat hati satu sama lain.

Chanyeol merasa dadanya nyeri saat Yoojin memundurkan langkahnya, tepat sesaat sebelum Chanyeol ingin merengkuh gadis itu dalam pelukannya. “Jangan mendekat!” hardik Yoojin, suaranya gemetar. Selanjutnya gadis itu sudah menegadahkan tangannya di depan Chanyeol, memperlihatkan sebuah cincin bertahta berlian di sana.

“Aku ke sini hanya untuk mengembalikan ini, aku hampir menghilangkannya kemarin.”

“Yoojin….”

“Aku tidak ingin menyimpannya.”

“Yoojin… tidakkah kau ingin mendengarkan aku dulu?”

“Tidak!”

“Aku mencintaimu.”

“Aku membencimu….”

Chanyeol menyambar bibir Yoojin yang setengah terbuka, melumatnya kasar tanpa memperdulikan Yoojin yang terkejut dan memukul-mukul dadanya. Chanyeol mendorong tubuh Yoojin hingga membentur tembok ruang kerjanya, memenjarakan tubuh Yoojin yang masih menolak, tetap memagut bibir gadis itu tanpa jeda bernapas. Yoojin sama sekali tidak membalas ciuman Chanyeol, ciuman itu sarat kekecewaan, penyesalan dan keputusasaan atas semua yang terjadi dihubungan mereka. Chanyeol juga merasa sangat takut kehilangan gadis itu, dia benar-benar tidak tahu apa yang seharusnya dia perbuat untuk hubungannya dengan Yoojin. Merasa jika pipi Yoojin mulai basah, Chanyeol melepaskan bibir panasnya, memandang gadis itu yang tersengal disela-sela isaknya, bibirnya pun sudah memerah.

Oppa….” Yoojin menatap Chanyeol yang terlihat putus asa, gadis itu membiarkan air mata mengaliri pipinya yang pucat.

“Aku benar-benar tidak sengaja melakukannya, aku mencintaimu dan aku hanya akan bertanggungjawab pada bayi itu. Aku….,”

Ucapan Chanyeol terputus saat tiba-tiba Yoojin merengkuh wajahnya, membawanya mendekat seraya kembali menyatukan bibir mereka. Mengecupnya hangat, saling melumat dalam dekapan yang mengerat, meluapkan semua rasa yang sejatinya tak pernah menguap di antara keduanya. Chanyeol menggulum permukaan bibir Yoojin tanpa jeda bernapas, semakin tak terkendali saat tangan Yoojin mengalung di lehernya, menahan tengkuknya, hingga Chanyeol semakin melumat penuh-penuh bibir Yoojin sampai gadis itu mendesah.

Ciuman itu terus berlanjut hingga Chanyeol yang menjauhkan bibirnya lebih dulu, mengusap wajah hangat Yoojin lalu mengecup lama kening gadis itu, lalu membawa Yoojin masuk ke dalam pelukan eratnya. Chanyeol tersenyum, merasakan Yoojin yang balas memeluk pinggangnya, menyandarkan kepalanya di dada Chanyeol yang terasa hangat dan nyaman. Tangan kanan Chanyeol mengusap kepala dan helaian rambut jingga Yoojin yang tergerai, sesekali dia juga mengecup puncak kepala Yoojin, meluapkan semua rasa sayang dan cintanya pada gadis yang telah memenangkan seluruh hati dan pikirannya.

“Aku dan Sehun sedang merayakan tender besar di hotel Jongin, aku menenggak banyak wine dan merasakan hal aneh di tubuhku. Bukan karena wine tapi karena sesuatu hal yang lain, suatu hasrat yang berbeda yang memaksa ku melakukannya. Gadis itu ada di sana dan…,”

“Kau melakukannya.”

“Maaf.” Chanyeol mengeratkan pelukannya, menundukkan wajahnya menatap Yoojin yang kini sudah mendongak.

“Dia gadis baik-baik?”

“Dia bekerja sebagai pelayan di hotel Jongin.”

Yoojin melepaskan pelukannya, menatap wajah Chanyeol yang sarat akan ribuan penyesalan atas perbuatannya. Tangan Yoojin bergerak membelai wajah Chanyeol lembut, membawanya untuk bersandar di bahunya, mengusap lembut bahu Chanyeol, air matanya menetes. Yoojin mencintai Chanyeol, seberapapun besarnya kesalahan yang telah dilakukan pria itu, Yoojin tetap saja tidak bisa menjauh dan selalu memaafkannya.

“Dia membenciku, dia sangat membenciku.” Chanyeol memeluk tubuh Yoojin erat, mencari penopang untuk hatinya yang kalut. “Aku bisa melihat dari tatapan matanya tiap kali dia menatapku, dia selalu berteriak dan memukulku, murka akan apa yang sudah aku perbuat padanya. Bahkan, dia pernah ingin mengakhiri hidupnya.”

Tanpa Chanyeol ketahui air mata Yoojin kembali mengalir, merentas hati yang perlahan namun pasti mulai menghancurkan perasaan Yoojin hingga berkeping-keping. Gadis itu merasakan kesakitan yang belum dia rasakan sebelumnya, dia ingin sekali melepaskan pria brengsek ini, namun Yoojin juga tahu dia akan sangat hancur jika kehilangan Chanyeol. Tapi sekarang Yoojin juga tidak bisa mengabaikan gadis malang yang menjadi inti permasalahan, dia juga seorang wanita, dia tahu betapa tersiksanya gadis itu untuk perbuatan keji yang telah Chanyeol lakukan.

“Aku harus bagaimana, Yoojin? Aku tidak mungkin membiarkan gadis itu menanggung semuanya sendirian, aku tidak mungkin meninggalkan Jiyeon dan bayinya begitu saja. Aku yang sudah menyeret gadis itu dalam masalah ini, aku…,”

“Cukup!”

Yoojin merasa tak sanggup, mendengar kata bayi sudah membuat Yoojin merasa dilempari puluhan bola tenis tepat di wajahnya, lalu jatuh ke dalam danau tenang yang dalam, menghisap habis udara untuk paru-parunya. Yoojin melepaskan pelukannya, terisak pelan saat Chanyeol mengusap air mata di pipinya yang kian pucat. Yoojin tahu jika Chanyeol juga tersakiti seperti apa yang dia rasakan, dia juga tahu jika sejatinya dibalik semua kebiasaan buruk yang kerap dilakukan Chanyeol, dia tetaplah laki-laki yang baik, bukan pengecut, Chanyeol tidak pernah lari dari tanggung jawab.

“Apa yang kau lakukan sudah benar Oppa, kau… harus bertanggungjawab pada gadis itu.”

“Lalu kita?”

Yoojin kembali terisak, memandang Chanyeol, membiarkan lelehan air mata kembali membasahi pipinya. Yoojin menunduk, menatap cincin yang masih digenggamnya erat. Pelan gadis itu meraih jemari Chanyeol, meletakkan cincin itu di atas telapak tangan Chanyeol yang gemetar. Chanyeol menggeleng lemah, tidak siap untuk kehilangan gadis yang dia cintai secepat ini. Dalam rasa kalut yang kian membunuhnya secara perlahan, Chanyeol kembali memaikan cincin itu di jari manis Yoojin. Menarik Yoojin yang terkejut dalam pelukan erat, napas Chanyeol tersengal, panik dan kalut, dia benar-benar tidak bisa melepaskan Yang Yoojin.

“Kita akan tetap menikah, aku janji tidak akan melakukan kesalahan lagi.”

Oppa….”

“Kau hanya perlu memaafkanku dan semuanya akan kembali baik-baik saja.”

“Lalu gadis itu? Bayi itu? Dia mengandung anakmu, Oppa.”

“Aku tahu, tapi tidak akan ada gadis yang mau hidup selamanya dengan laki-laki yang telah merenggut paksa kehormatannya.”

“Apa?”

“Aku akan tetap bertanggungjawab, menjaganya hingga dia melahirkan. Dia tidak pernah menginginkan bayi itu, jadi jika perlu aku sendiri yang akan mengasuh anakku kelak. Aku akan menyokong kebutuhan finasial gadis itu seumur hidup, hingga dia menemukan seseorang yang tepat untuk menemani sisa hidupnya.” Chanyeol kembali mengeratkan pelukannya.

“Yang aku butuhkan sekarang hanya kau Yoojin, bertahanlah bersamaku hingga akhir.”

Yoojin kembali terisak di balik lengan Chanyeol, tak mampu menolak meski sekeras apapun dia ingin melakukannya. Bukankah cinta itu memaafkan, bukankah cinta itu bertahan selama mungkin bersama orang yang paling kau inginkan di dunia ini? Tidak peduli sakit ataupun terluka dan Yoojin memutuskan untuk memilih kedua opsi tersebut.

~000~

Chanyeol masih berdiri di ambang pintu kaca otomatis yang ada di lobi kantornya, memandang mobil mewah berwarna kuning yang baru saja membawa Yoojin pulang ke rumah, hingga hilang di ujung jalan pelataran depan kantornya. Chanyeol menghembuskan napasnya, tersenyum sarat kelegaan yang meringankan langkah kakinya. Setidaknya kini Chanyeol hanya memikirkan kelanjutan Jiyeon dan bayinya, tanpa dibebani kisah cintanya pada Yoojin yang sudah terselesaikan. Sedangkan sang ibu? Chanyeol tidak mau repot-repot memikirkannya, lebih tepatnya Chanyeol tidak peduli karena tanpa ibunya pun dia bisa merajai dunia dengan keahlian berbinisnya yang mumpuni.

“Park Chanyeol.”

Chanyeol membalikkan tubuhnya, menahan langkah untuk masuk ke dalam lift yang dikhususkan untuk dirinya. Chanyeol tersenyum, menyapa laki-laki tinggi yang semakin berjalan mendekatinya. Chanyeol mengamati wajah laki-laki yang sudah lupa bagaimana caranya tertawa. Seperti biasa kaku, dingin, tanpa ekspresi, dan tak tersentuh, selayak seseorang yang selama hidupnya hanya menyesapi kejam dan pahitnya dunia. Tak pernah merasakan apa yang namanya kebahagian, bahkan cinta yang bisa membuat manusia mabuk kepayang dan melakukan segala cara untuk mendapatkannya.

“Berhentilah memasang wajah sekaku itu Hyung, kau tahu… jika selama ini karyawanku selalu merasa takut padamu?” mereka melangkah bersama memasuki lift, laki-laki yang diajak Chanyeol bicara tidak menjawab, diam, seperti yang biasa Chanyeol kenal selama ini.

“Aku yakin jika kau tertawa sekali saja, maka wajah dinginmu itu akan terlihat lebih manusiawi.” Chanyeol tertawa sesaat sebelum pintu lift tertutup, membawa mereka menuju lantai tiga belas tempat dimana ruang kerjanya berada.

“Apa ibu memerintahkan sesuatu padamu, hingga kau mengunjungiku di kantor?” Chanyeol mendudukkan tubuhnya di sofa hitam di tengah ruang kerjanya, tidak terlalu panjang, berhadapan dengan sofa putih berukuran sama, diduduki oleh laki-laki yang sejak tadi belum mengeluarkan suaranya.

“Kau mau minum sesuatu, Jinhwan Hyung?” baru saja Chanyeol ingin memanggil sekretrasinya, Jinhwan mengeluarkan suaranya.

“Jika aku mengatakan tentang seseorang yang aku curigai, sebagai biang brengsek yang menyeretmu dan Jiyeon dalam masalah pelik ini, apa kau akan mempercayainya?”

Chanyeol diam, melayangkan pandangan serius pada sosok Jinhwan di depannya. “Maksudmu, kau sudah menemukan siapa orang yang berlaku curang dibelakangku?”

“Belum sepenuhnya, tapi aku sangat yakin jika dialah pelakukanya, dia yang mempunyai praduga paling kuat. Menjebakmu malam itu, menggunakan obat perangsang yang dia tambahkan di minumanmu.”

“Obat perangsang?” Chanyeol terperanjat. “Jadi benar dugaanku, malam itu tubuhku tidak normal karena obat perangsang itu, Hyung.” Jinhwan mengangguk pasti, mata tajamnya menangkap kelegaan di balik bola mata hitam pekat milik Chanyeol. Itu membuatnya bahagia.

“Lalu siapakah orang yang kau curigai, Hyung?”

“Menurutmu?”

Chanyeol menaikkan bahunya, memiringkan kepala, terlihat berpikir. “Entahlah. Aku tidak pernah berpikir jika aku punya musuh.”

“Naif.”

“Aku hanya terlalu percaya jika tidak ada yang mengajakku berperang dari belakang, mereka yang tidak suka padaku hanya perlu melawanku dari depan. Aku akan menerimanya dengan sukarela.”

“Tapi tidak selamanya orang berpandangan seperti itu, Chanyeol. Kau terlihat seperti ayahmu, selalu mengangap semua orang adalah orang baik.”

“Aku memang putranya, Hyung.” Chanyeol tertawa pelan, kembali menatap Jinhwan serius. “Lalu, siapa yang kau curigai? Jongin?” tanya Chanyeol ragu.

“Tidak.”

Heemm… ibuku? Aish! Mana mungkin dia.”

Chanyeol mengacak rambut hitamnya, tertawa sumbang untuk dugaannya yang tidak masuk akal. Chanyeol tahu pasti jika ibunya yang kaku itu, tidak akan pernah menikamnya dari belakang. Park Seojung adalah sosok wanita terpelajar, keras, dan tanpa kompromi, namun tidak suka dengan kecurangan. Satu sifat baik yang menurun dan Chanyeol pelajari dari wanita itu.

“Dia sangat dekat denganmu, hingga aku tak paham kenapa dia menjebakmu. Hanya kau yang tahu alasan dia melakukan ini.”

“Siapa? Siapa dia Hyung, jangan membuatku menduga-duga.”

“Dia….”

Tepat saat Jinhwan ingin membuka mulutnya, seorang laki-laki datang, masuk ke dalam ruang kerja Chanyeol. Wajahnya tampan luar biasa bak seorang malaikat, putih seperti susu, tegab, tinggi, tersangga dalam kerangka otot yang terbentuk dari latihan berjam-jam di ruang kebugaran. Mengenakan setelan Jas hitam, kemeja putih sebagai dalaman, satu kancing paling atas dibiarkan terbuka. Di hidung mancungnya bertengger kacamata hitam, bibir tipisnya melengkung membuat senyuman hangat, ramah dan menyenangkan.

“Sehun? Wuah, kejutan.” sambut Chanyeol riang, bangkit berdiri dan memeluk erat sepupu dekatnya itu.

“Aku hanya berkunjung,” jawab Sehun, menundukkan kepala sekilas ke arah Jinhwan yang duduk diam di posisinya.

Ah, hari ini aku banyak sekali mendapat kunjungan.” Chanyeol tertawa, tak menangkap tatapan Jinhwan pada Sehun. Dingin dan penuh selidik.

Chanyeol kembali duduk di depan Jinhwan, Sehun mengambil tempat di sebelah Chanyeol. Laki-laki itu menatap wajah serius Chanyeol, bergantian menatap Jinhwan yang masih bungkam seperti biasa. Sejurus Sehun berpikir, menduga apa yang sebenarnya tengah Chanyeol dan Jinhwan bicarakan sebelum kedatangannya. Mereka terlihat serius.

“Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?”

“Jinhwan Hyung menemukan orang yang memberi obat perangsang di minumanku malam itu.”

“Apa?” Sehun terkesiap, memalingkan wajahnya cepat ke arah Chanyeol.

“Dia bilang orang itu sangat dekatku,” Chanyeol menatap Sehun sekilas.

“Sangat dekat?” Sehun kaku, sedikit pucat tanpa alasan yang jelas. Dia sangat yakin jika Jinhwan tidak mencurigainya. Belum lebih tepatnya, setidaknya tidak secepat ini.

“Katakan siapa dia Hyung, kami ingin mengetahuinya.”

Jinhwan menyeringai menyeramkan, pandangannya tenang namun mematikan. Merentas Sehun hingga laki-laki itu panik dan kalut. “Aku belum terlalu yakin, aku akan mengatakannya jika aku telah menemukan bukti otentik yang memberatkan tokoh jahat ini, Chanyeol.”

“Apa?”

“Bersabarlah, aku pasti akan menyeret orang itu kehadapanmu. Hidup ataupun mati!”

Sekali lagi Jinhwan menatap Sehun, tak menghiraukan raut kecewa Chanyeol karena berita tertundanya ini. Dengan tenang Jinhwan menegakkan tubuhnya, merapikan jas hitam yang melekat nyaman di tubuhnya. Wajah tegasnya mengeras, laki-laki yang dididik dengan semua kekejaman yang ada di muka bumi, hanya punya dua alasan untuk tersenyum. Pertama untuk almarhum ibunya dan satu lagi untuk Park Chanyeol.

“Berhati-hatilah Chanyeol, terkadang musuh terbesarmu adalah orang yang tidak pernah kau pikirkan, orang yang sangat dekat dan orang yang sangat kau sayangi didunia ini.”

Sepeninggalan Jinhwan, Chanyeol kembali melanjutkan pekerjaannya. Sehun mengamati, menyisir ruang kerja Chanyeol dan berharap Chanyeol menjabarkan pemikirannya saat ini. Pendapat laki-laki itu tentang dugaan yang Jinhwan katakan pada mereka barusan. Sehun tahu cepat atau lambat semuanya akan terbongkar, dia benar-benar lupa dan tidak memperhitungkan Jinhwan. Laki-laki yang rela mati untuk Chanyeol. Dia terlalu focus untuk menghancurkan Chanyeol secara perlahan, merampas sesuatu yang paling Chanyeol inginkan dan sangat berharga. Mempermalukan bibinya Park Seojung, hingga Chanyeol tak mampu memaafkan dirinya sendiri.

Sehun terlalu mengenal Chanyeol, laki-laki otoriter, mendominsi dengan ide jenius tanpa kompromi jika sedang bekerja, membuatnya disegani dikalangan pengusaha hebat di Korea bahkan dunia. Tak kenal takut untuk alasan apapun, tak punya kelemahan, kecuali tiga orang penting di hidupnya. Ibunya, tunangannya dan terakhir sepupu dekat yang selalu Chanyeol klaim sebagai adik kandungnya, Oh Sehun. Ia tahu jika menghancurkan dua wanita penting itu adalah langkah awal membuat Chanyeol terpuruk, lalu hancur tanpa sisa jika tahu dialah yang menjadi dalangnya. Sempurna.

 

Chanyeol terlalu naif dan melangkolis, sayang sekali.

 

“Ada apa Sehun, kenapa kau terlihat tidak nyaman?”

“Aku?”

Sehun menunjuk wajahnya dengan jari telunjuk, terkekeh pelan lalu berjalan ke sisi meja kerja Chanyeol. Memandang ke arah luar jendela, menatap atap-atap sombong gedung pencakar langit, saling adu ketinggian dibawah naugan langit yang hari ini tidak berawan.

“Kau tidak berpikir tentang siapa yang Jinhwan maksud? Maksudku, kau mencurigai siapa?”

“Entahlah, aku benar-benar tidak suka menduga-duga.”

Sehun mengangguk paham. Lagi-lagi dia hafal sifat Chanyeol yang satu ini, selalu mempercayai semua orang. Bodoh. Pikir Sehun dalam benaknya.

“Aku belum mengatakan sesuatu hal padamu. Aku menghubungi Bibi Park Seo, mengatakan hubunganmu dan Yoojin telah berakhir.”

Kepala Chanyeol terangkat, alis tebalnya mengernyit. “Apa?”

“Hey, tenanglah. Aku hanya ingin Bibi tahu sebelum orang lain yang memberitahunya, kau tahukan ibumu itu paling tidak suka dibodohi. Dia tidak mempan dimanipulasi. Dia pasti akan lebih mengamuk jika para mata-matanya yang memberitahukannya.”

“Aku berniat memberitahukannya,”

“Benarkah? Kalau begitu maaf jika aku lancang.”

“Kau adikku, penyambung lidah untukku. Sama saja jika ibu tahu berita itu dariku ataupun darimu, jadi… tidak masalah.” Chanyeol memberi jeda pada ucapannya, tersenyum sangat tulus dan hangat. “Terima kasih.”

Sehun tertegun, meremas jemarinya yang tiba-tiba gemetar, terlintas rasa tidak tega dan ingin menyudahi rencana liciknya pada Chanyeol. Namun ego berselimut dendam yang dia ciptakan mengalahkannya, membuat Sehun mati rasa untuk semua rasa sayang yang Chanyeol curahkan untuknya. Sehun akan tetap melanjutkan rencananya, menghancurkan Chanyeol tanpa sisa.

Oiya, besok kita akan ke Macau. Peresmian Casino milikku akan diadakan besok malam, kau akan datangkan?”

Eoh, sudah siap rupanya. Tidak terasa.” Chanyeol terkekeh, menertawakan dirinya yang lupa waktu karena terbelit masalah pelik dengan dua wanita.

“Aku juga mengundang Jongin, sudah lama sekali kita tidak berkumpul bersama.” Chanyeol mengangguk setuju. “Kita akan berangkat besok pagi dengan pesawat pribadiku.”

“Pagi?”

“Kita akan bersenang-senang terlebih dahulu, sebelum masuk ke acara inti.”

Hey, terakhir kita bersenang-senang bertiga, aku mendapat masalah, Sehun. Jadi kali ini kau harus memastikan tidak ada lagi orang licik yang akan menjebakku.” Senyum tipis Chanyeol terulas, ia menatap Sehun sekilas dengan pandangan mata yang tak terbaca.

“Tenanglah, kali ini tidak akan ada lagi kesalahan.” Sehun mengantungkan ucapannya, menimang sebentar kata-kata yang sudah dia susun sejak tiba di kantor Chanyeol. “Chanyeol, bisakah….”

“Tentu saja.”

“Apa?”

“Kau ingin mengajak Yoojin ‘kan?”

“Darimana kau tahu?”

Chanyeol tertawa pelan. “Terbaca di keningmu. Dan ah, aku lupa mengatakan satu hal… aku dan Yoojin sudah baik-baik saja.”

“Apa?” Sehun terkejut, dia tidak menduga dengan apa yang didengarnya barusan. Yoojin dan Chanyeol kembali menjalin hubungan, bagaimana bisa?

“Dia memaafkanku dan begitulah… kini semuanya kembali baik-baik saja.”

Sehun ingin memaki saat ini juga, wajahnya memerah saat semua darah naik dan berkumpul di kepalanya. Tangannya mengepal kuat, rahangnya mengeras, napasnya berhembus kasar menahan amarah. Namun dengan cepat Sehun mengendalikan dirinya, tersenyum palsu hingga Chanyeol tidak pernah tahu, kebencian yang tersirat dibalik sepasang mata sendunya yang memicing tak suka.

“Baguslah.”

~000~

Matahari mulai merangkak untuk bersembunyi di balik cakrawala, menyisakan lapisan jingga di ufuk barat yang tampak menggantung di ujung mega. Mengosongkan langit yang membentang luas di atasnya, berwarna kelabu nyaris hitam tanpa ada niat rembulan ataupun bintang kecil yang peduli pada kesendirian langit, apalagi untuk kesendirian yang tengah dirasakannya. Song Jiyeon berdiri di ujung balkon beranda, memegang pagar tembok pembatas, dia terus menatap ke arah pintu gerbang. Berdiri angkuh, menjulang dan kokoh di bawah sana. Beberapa puluh meter dari air mancur besar, tepat di depan pintu utama rumah besar Park Chanyeol.

Jiyeon tidak peduli dia sudah menghabiskan hampir 120 menit, tidak peduli pada tubuhnya yang hanya terbalut dress berlengan pendek, dengan panjang sebatas lutut, sudah sangat kedinginan, dia pucat dari ujung kaki hingga wajahnya. Jiyeon mengerjab seraya memandang hamparan langit yang menaunginya, terlihat kian gelap dan menandakan jika malam akan segera datang. Lampu teras, lampu dinding, bahkan lampu di dalam air mancur dan rumput taman sudah di hidupkan. Menimbulkan semburat cahaya cantik kekuningan di halaman luas di bawahnya, termasuk juga lampu di dalam rumah, kini terang benderang.

Namun seseorang yang ditunggunya sejak tadi, yang membuatnya kedingingan, tidak nafsu makan seharian, bahkan membuatnya menangis diam-diam di kamar mandi, belum juga menampakkan diri walau itu hanya sebagian ujung hidungnya saja. Laki-laki yang membuat Jiyeon mengigit-gigit ujung kukunya, hilir mudik di dalam kamar dengan buncahan rasa asing yang menyakiti hatinya. Sakit. Rasanya sangat sakit dan menyesakkan.

Rindu… sebuah kata ajaib yang belakang ini selalu menghantui Jiyeon, mengejarnya setiap saat hingga Jiyeon pun merasa tidak punya tempat untuk bersembunyi. Dan hal yang paling penting dari rasa asing itu, adalah tokoh utamanya. Tokoh utama berpredikat antagonis yang seharusnya hanya pantas untuk dibenci, dicaci, bahkan mungkin dibinasakan tanpa nyawa yang tersisa di dalam raga. Namun lagi-lagi untuk kesekian kalinya, bahkan dia pun tidak punya daya unyuk mengartikan ini semua, lagi-lagi merindukan tokoh utama itu. Sangat merindukannya. Amat sangat merindukannya.

 

Ah! Ini Gila. Jiyeon benar-benar sudah gila.

 

“Jika kau tetap berdiri di sini, kau bisa sakit, Jiyeon.”

Usapan lembut di bagian bahu juga sebuah selimut tebal sudah membungkus tubuh dingin Jiyeon, tersirat rasa khawatir di wajahnya yang mulai menua, dia mengusap wajah Jiyeon yang belum memberikan reaksi apapun, diam, menerawang, bibir gemetar namun terkatup begitu rapat.

“Masuklah Jiyeon….”

Terdengar memohon wanita paruh baya itu mengapit bahu Jiyeon, menarik pelan gadis itu untuk mengikuti langkahnya masuk ke dalam rumah. Namun Jiyeon menahan lengannya, menatap penuh harap, bahkan mata bening Jiyeon sudah dilapisi selaput embun tipis yang siap semakin tebal dan akan berubah menjadi butiran kristal lalu menetes sebentar lagi.

“Kapan dia kembali, Dokter Kang?”

“Apa?”

“Kapan dia kembali? Ini sudah hampir malam, kenapa dia belum kembali juga?”

Kang Jihye terpaku, dia menatap wajah cemas dan sedih Jiyeon, ekspresi gadis itu sangat berbeda dari yang biasa Jiyeon perlihatkan selama ini. Terlihat putus asa, kacau, gusar dan penuh harap.

“Aku tidak tahu, mungkin sebentar lagi.” Jihye kembali mencoba menarik Jiyeon untuk masuk ke dalam rumah, namun lagi-lagi Jiyeon keras kepala, tetap bertahan di tempatnya.

“Kalau begitu aku akan menunggu di sini, sampai dia kembali.”

“Jiyeon….”

Sekarang Jihye yang terlihat putus asa, hari ini Jiyeon benar-benar tidak seperti biasanya. Keras kepala, tidak bisa diatur dan uring-uringan. Gadis itu tidak makan apapun sejak pagi, tidak mau minum susu hamil, vitamin kehamilan, hanya minum air putih, itu juga tidak lebih dari tiga gelas selama seharian ini. Jiyeon bahkan berani berteriak kepada para pelayan yang membawakannya makan siang, memerintahkan dokter kandungan termasuk Jihye untuk keluar dari kamar, saat memaksa gadis itu yang kembali menolak makan hingga sore hari, melarang pengawal mengawasinya yang sejak dua jam lalu berdiri di balkon.

Jiyeon terlihat berbeda. Jihye hanya berpikir mungkin faktor hormon di awal kehamilan, yang membuat emosi gadis itu berubah dalam hitungan menit.

“Apa dokter tahu dia bekerja dimana? Memangnya apa yang dia lakukan, hingga seharian tidak pulang.”

Mengalihkan pembicaraan Jiyeon kembali beranjak ke ujung beranda, berdiri di tempatnya semula. Jihye hanya bisa menghembuskan napasnya, memilih mengalah dan menemani Jiyeon di beranda, seraya mencari cara agar Jiyeon mau masuk ke dalam rumah dan memakan sesuatu. Jihye sangat cemas, terlalu berbahaya jika Jiyeon tetap mogok makan seperti ini, karena bukan hanya tubuhnya yang akan kelaparan dan dehidrasi, tapi juga janin yang mulai tumbuh di rahim gadis itu.

“Hemelsky Enterprise, perusahaan Properti terbesar yang ada di Korea Selatan dan Park Chanyeol adalah Presiden Direkturnya.” Jiyeon menolehkan wajahnya, menatap Jihye yang hanya tersenyum hangat kepadanya.

“Ingat, jika beberapa waktu belakangan ini kau membuat Presiden Direktur tersibuk di Korea Selatan itu masuk rumah sakit, membuat wajahnya lebam dan membuat lengan kanannya mendapat jahitan?”

Jiyeon tidak menjawab, hanya menunduk, dia terlihat menggigit ujung bibirnya. Gusar dan menyesal.

“Tuan Park sudah tidak bekerja lebih dari sepekan, bisa kau bayangkan sebanyak apa pekerjaan dan urusan yang harus dia selesaikan hari ini. Perusahaannya membangun rumah-rumah mewah dan apartement eksklusif dengan harga selangit, Chanyeol bahkan membutuhkan waktu lebih dari 24 jam dalam sehari. Kau juga harus tahu, jika dia juga memiliki deretan hotel mewah yang tersebar hampir di seluruh dunia, belum lagi dengan perusahaan kaluarganya Shinhwa Corporation, pengusaha resort mewah dan telekomunikasi, Chanyeol adalah pewaris tunggalnya.”

“Jadi karena itulah aku tidak bisa memperkirakan kapan dia pulang.” Jihye membelai wajah Jiyeon yang kian pucat. “Aku mohon masuklah ke dalam, makan dan istirahat. Aku janji akan memberitahumu jika Tuan Chanyeol kembali, bagaimana?”

Jiyeon menimang sebentar, mengusap perutnya yang tiba-tiba terasa sedikit nyeri lalu menganguk pelan. Wajah Jihye cerah seketika, menuntun Jiyeon masuk ke dalam rumah, memerintahkan beberapa koki untuk memasak apapun yang Jiyeon inginkan.

Satu jam pun berlalu, Jiyeon sudah duduk di depan meja makan yang sudah menyajikan makanan enak sesuai yang diinginkannya, dari koki handal yang sudah bekerja di rumah Chanyeol sejak beberapa tahun yang lalu. Namun lagi-lagi Jiyeon tak menemukan nafsu makannya sama sekali, walaupun perutnya sudah meraung dan memelas pada Jiyeon untuk berbaik hati memberinya makan. Jiyeon hanya menopang dagunya di atas tangan kanan yang dia letakkan di meja.

Jihye yang berdiri tak jauh dari meja makan hanya mampu menghembuskan napasnya, berharap jika Chanyeol cepat kembali hingga Jiyeon bisa teratasi. Jihye benar-benar tidak menyangka, Jiyeon mengalami perubahan perilaku yang sangat drastis. Gadis itu benar-benar tidak lagi merasa takut, merasa murka dan benci jika menyebut nama Chanyeol, bahkan kini Jiyeon bisa merindukan Chanyeol. Sosok yang sejak kejadian kelam itu, selalu menjadi orang paling dibenci oleh Song Jiyeon.

 

Apa mungkin Jiyeon sudah memaafkan Chanyeol?

 

Suara langkah kaki beralas pantofel mahal terdengar samar di telinga Jihye, semakin terdengar jelas seiring aroma maskulin yang menyegarkan tercium dan menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya. Sosok lelah Chanyeol tampak di ujung selasar, berjalan tenang, tegab, masih mengenakan pakaian lengkapnya tadi pagi, terlihat guratan angkuh yang terpancar dari wajah tegasnya. Tersenyum lembut saat mata sipitnya yang tajam, menangkap Jihye yang sudah membungkuk hormat ke arah pria itu.

“Bagaimana hari ini, Dokter Kang? Apa dia baik-baik saja?” tanya Chanyeol, kini dia berdiri di depan Jihye, mengikuti arah pandang wanita itu yang tertuju ke arah meja makan. Jihye juga terdengar mendesah gelisah.

“Dia sakit?” tanya Chanyeol, dia masih memandang ke arah meja makan, memperhatikan Jiyeon yang terlihat tidak bersemangat, lesu dan pucat.

“Jiyeon mogok makan sejak pagi, uring-uringan dan mengamuk seharian penuh.”

“Tidak mau makan?” mata sipit Chanyeol melebar, terlihat khawatir.

“Eoh! Dia meninggalkan sarapannya, sesaat setelah Tuan pergi tadi pagi. Jika Tuan tidak lelah, maukah kau menemani Jiyeon makan sekarang?”

“Aku?” Chanyeol terkejut sekaligus tidak mengerti saat Jihye justru mengangguk. “Bukankah nafsu makannya akan semakin hilang jika dia melihat wajahku?” ucap Chanyeol, tersenyum simpul untuk permintaan Jihye barusan. Dia tahu pasti jika Jiyeon membencinya dan makan dengan orang yang dibenci, tentu bukanlah pilihan yang tepat.

“Tidak untuk saat ini, seharian ini dia selalu menanyakanmu, menunggu kepulanganmu,”

Kening Chanyeol mengernyit, menatap Jiyeon sekali lagi lalu kembali menatap Jihye. “Kau yakin dia sedang tidak sakit? Bagaimana mungkin dia menungguku?”

“Aku juga tidak tahu, mungkin bayi kalian yang menginginkannya.” Jihye menatap Chanyeol yang menegang.

 

Bayi? Ah! Chanyeol selalu merasa bersalah hingga dadanya nyeri, jika mengingat hal brengsek yang sudah dia lakukan pada Jiyeon, membuat Jiyeon harus menangung benihnya yang terus tumbuh dan berkembang di rahim gadis itu.

 

“Percayalah jika sekarang dia benar-benar ingin melihat wajahmu dan aku yakin, dia akan bersedia untuk makan asalkan kau ada di hadapannya. Aku mohon.”

“Besok aku ada rapat penting dan harus pergi ke Macau, jadi kau harus yakin dia tidak akan menyerangku lagi malam ini?”

“Iya aku sangat yakin.”

“Baiklah.” Jawab Chanyeol, dia memiringkan kepalanya, meragu namun tetap berjalan mendekati meja makan.

Chanyeol berjalan hingga berhenti di depan meja makan, tepat di hadapan Jiyeon yang belum menyadari kehadirannya. Gadis itu terlihat semakin pucat hingga ke bagian kukunya, matanya cekung dan tangannya sedikit gemetar. Hanya bertopang dagu, mengerjabkan matanya pelan, tak menghiraukan hidangan lezat yang mulai dingin di atas meja.

Dengan ragu dan keyakinan seadanya Chanyeol memberanikan diri untuk menyapa, mengeluarkan suaranya yang tiba-tiba berubah serak karena gugup yang tanpa perintah sudah menyergabnya. Ini bukan hal yang mudah untuk Chanyeol, mengingat hal-hal yang sudah terjadi di antara meraka, kemarahan dan ketakutan Jiyeon selalu membuat Chanyeol merasa khawatir, jika kehadirannya akan kembali membuat kondisi gadis malang itu memburuk.

Hi!”

Hanya kata itu yang mampu keluar dari kerongkongan Chanyeol yang kelu, melepaskan jas hitam yang di kenakannya lalu meletakkannya asal di sandaran kursi, mengulung kedua lengan kemeja putihnya dalam satu tarikan, melepaskan satu kancing kemeja paling atas, seraya melonggarkan dasi hitam yang melilit di lehernya, duduk di hadapan Jiyeon yang terkejut.

Jiyeon mengerjabkan matanya pelan, mulutnya sedikit terbuka, terlalu terpana dengan kedatangan Chanyeol yang tiba-tiba. Gadis itu tersenyum samar, pandangannya tidak teralihkan dari sosok Chanyeol walau hanya satu detik, dia ingin berteriak dan menghambur memeluk sosok yang membuatnya hampir saja mati hari ini karena terlalu merindu. Jiyeon menggenggam kuat tangannya sendiri, menahan dengan segenap jiwa niat hati yang memerintahkannya untuk mendekati Chanyeol, menyentuh dan memeluk laki-laki itu. Jiyeon bahkan menghentakkan kakinya, memejamkan mata, bergumam samar saat rasa itu kian tak mampu di tahannya.

Ya Tuhan Jiyeon benar-benar sudah gila.

“Kau baik-baik saja?”

Suara Chanyeol yang terdengar begitu merdu di telinga Jiyeon mengalun, memenuhi indra pendengaran dan meresap hingga ke dalam jiwa, bagaikan suara dari surga yang menyejukkan sekaligus menenangkan. Jiyeon kembali menatap Chanyeol, tak berkedip saat wajah pria itu terlihat berpedar di bawah cahaya lampu yang menyorotnya. Begitu memikat dan memabukkan untuk Jiyeon. Hidung mancungnya, rambutnya yang sedikit berantakan, bibirnya yang setengah terbuka membuat Jiyeon semakin putus asa, jangan lupakan juga rahang tegasnya, mata sipitnya yang memandang Jiyeon hangat, memberi sensasi mendebarkan hati hingga Jiyeon benar-benar yakin jika sekarang dia sudah tidak waras. Dia gila.

 

“Ah! Haruskah Chanyeol semenarik itu malam ini?” gumam Jiyeon dalam erangan putus asanya yang kian menyiksa.

 

“Dokter Kang bilang padaku, kau tidak makan seharian ini, benarkah?”

Jiyeon mengerjab saat Chanyeol kembali bersuara, terdengar nada khawatir disana. Membuat Jiyeon terbangun dari pikiran tidak warasnya sesaat lalu, kembali menemukan dirinya yang terkejut seperti orang bodoh, hingga membuat senyum tipis terulas di sudut bibir Chanyeol. Senyum yang sialnya membuat keadaan Jiyeon semakin tidak baik, semakin ingin memeluk pria itu detik ini juga.

“Aku tidak nafsu makan,” jawab Jiyeon asal, dia mengusap gelisah kedua tangannya di bawah meja, ingin menunduk namun dia urungkan saat Chanyeol kembali bersuara.

“Kalau begitu kita makan sekarang, aku juga belum makan seharian ini.” ucap Chanyeol, lalu membalik piring yang ada di depannya.

Jiyeon tersentak, rasa khawatir tiba-tiba menghambur di permukaan hatinya. “Apa? Kau juga belum makan seharian?”

Chanyeol yang tidak menyangka Jiyeon akan bertanya dengan nada semengherankan itu mengernyit, menganguk pelan, dia menelitik air muka gadis itu.

 

Heran!

 

Ya heran. Chanyeol bahkan sangat heran dengan perubahan sikap Jiyeon, gadis yang selalu menyiratkan rasa benci di balik mata beningnya itu, kini menatapnya dalam tatapan yang berbeda. Jika Chanyeol tidak salah mengartikan, saat ini Jiyeon menatapnya khawatir yang terlihat begitu jelas dan tulus. Tatapan yang membuat Chanyeol berpikir mungkin Jiyeon mulai membuka hati untuk memaafkannya, memaafkan perbuatan bejat yang dia lakukan pada gadis itu. Walau Chanyeol pun tidak begitu yakin, tapi setidaknya Chanyeol bisa sedikit bernapas lega, melihat Jiyeon yang tidak lagi mengamuk atau berteriak jika sedang berhadapan dengannya.

“Banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan, jadi aku lupa makan.”

Chanyeol menjawab enteng dan mulai menyiapkan sumpit di tangannya. Laki-laki yang biasanya makan dengan elegan bersama sendok, garpu dan sedikit piring itu, terlihat binggung. Banyak sekali magkuk dan piring di atas meja, termasuk sumpit yang kini ada di jari kanannya.

Seorang pelayan bersama nampan di tangan datang dan menyisihkan piring di depan Chanyeol, mengantinya dengan sepiring steak daging berbumbum, potongan kentang dan kacang polong di sisi kanan daging yang bahkan masih mengepulkan asap tipis, membuat rasa lapar Jiyeon kembali naik ke permukaan. Jiyeon yang melihat itu memajukan lehernya, menatap Chanyeol yang sudah memegang pisau dan garpu di kedua tangannya.

“Kau mau ini?” tanya Chanyeol, Jiyeon menggeleng.

“Kau tidak makan nasi?” Jiyeon balik bertanya, menyambar mangkok nasi di tangan kirinya. “Makan nasi dan daging asap ini lebih akan membuatmu kenyang, ayam goreng dan sayur ini juga lezat. Paman koki yang memasaknya, kau harus mencobanya. Makan dengan sumpit bahkan sesekali melipat kedua kaki di atas balai, akan terasa lebih menyenangkan dari pada makan dengan kedua alat di tanganmu itu. Makanlah seperti orang Korea, bukan seperti orang berkulit bintik-bintik dan berambut nilon yang membuat mataku sakit.” Ucap Jiyeon panjang lebar, tak menyadari jika Chanyeol sudah menatapnya, tersenyum untuk semua celotehnya.

Chanyeol terlalu senang dengan sikap Jiyeon yang sekarang, dia bahkan merasa jika baru mengenal Jiyeon hari ini. Mungkin inilah sosok Song Jiyeon yang sebenarnya, gadis yang cerewet dan menyenangkan, berbicara sesuka hati tanpa peduli siapa orang yang di ajaknya bicara. Chanyeol pun memerintahkan pelayan untuk menyingkirkan piring steaknya, menyambar sumpit dengan tangan kanan dan mangkuk nasi di tangan kiri, seperti apa yang ada di tangan Jiyeon sekarang.

Chanyeol pun mulai memasukkan satu suapan nasi ke mulutnya, ikut memakan apa saja yang dia lihat dimakan oleh Jiyeon. Namun gerakan tangan Chanyeol terhenti saat Jiyeon meletakkan potongan daging ke mangkuk nasinya, gadis itu tersenyum dengan tetap mengunyah makanannya. Chanyeol memutuskan untuk memperhatikan cara makan Jiyeon, gadis itu terlihat sangat lahap membabat habis makanan di atas meja. Jiyeon sudah menghabiskan tiga mangkok nasi, satu piring daging asap, lima potong dada ayam, dua mangkok sayur, satu piring potongan ikan tanpa tulang, satu mangkok Kimchi dan lima gelas air. Chanyeol bahkan hanya mampu mendelik saat gadis itu mengeluarkan suara berat dari kerongkongannya, tanda jika Jiyeon benar-benar kekenyangan sekarang.

 

“Apa semua wanita hamil makan sebanyak ini?” pikir Chanyeol dalam benaknya.

 

“Tidak makan seharian membuatku sangat lapar.” Gumam Jiyeon, dia mengelus perutnya yang tampak membuncit.

“Maka dari itu, besok kau juga harus makan sebanyak malam ini.” jawab Chanyeol, dia tersenyum samar.

“Apa besok kau akan pulang selarut ini lagi?”

Chanyeol menatap jam tangan yang melingkar di tangannya. “Ini belum larut, biasanya aku pulang ke rumah lebih dari jam sepuluh malam.”

“Semalam itu?”

“Yah, besok aku tidak pulang, aku harus ke Macau dan mungkin akan kembali ke Korea dua hari setelahya.”

Cahaya di wajah Jiyeon meredup seketika, gadis itu bahkan terlihat ingin menangis. “Haruskah?” tanya Jiyeon lirih, dia merasa tidak rela karena Chanyeol akan meninggalkannya dalam dua hari.

“Kau bilang sesuatu?”

“Haruskah kau tidak pulang? … maksudku kau akan tidur di mana?” tanya Jiyeon ragu, Chanyeol menatapnya binggung.

“Yang pasti aku tidak akan tidur di jalanan, kau tenang saja.” Chanyeol tersenyum lebar, merasa ingin tertawa keras, karena wajah Jiyeon saat ini terlihat sangat lucu.

Jiyeon memaku di tempatnya, tak punya daya untuk beranjak, bahkan dia tidak punya niat ikut tertawa saat melihat Chanyeol yang sudah tersenyum lebar di depannya. Jiyeon benar-benar tidak ingin berjauhan dari Chanyeol lebih dari satu hari, seharian tidak bertemu saja sudah membuatnya sekarat, apalagi harus menunggu pria itu kembali dalam dua hari, Jiyeon benar-benar bisa mati.

“Apa kau masih ingin makan sesuatu?” Jiyeon geming, dia hanya menunduk. “Kau baik-baik saja?”

Jiyeon memejamkan matanya, tiba-tiba saja dia mual dan perutnya nyeri. Sangat nyeri hingga Jiyeon merasa mulai sesak, berkeringat hingga kepalan tangannya memutihkan buku-bukunya. Gadis itu meringis menahan sakit yang kian melanda perutnya tiba-tiba, bergumam memanggil Chanyeol yang masih duduk di kursinya.

“Chanyeol-ssi perutku… perutku sakit sekali.”

Chanyeol segera mendorong bangku yang di dudukinya hingga menimbulkan suara dencitan, memanggil Jihye dan memerintahkan wanita itu memanggil tim dokter kandungan untuk mengecek keadaan Jiyeon. Dalam kepanikan Chanyeol berjongkok di depan Jiyeon, memandang wajah Jiyeon yang sudah kembali pucat, napasnya satu-satu, keringat membahasi wajahnya yang kian memucat.

“Jiyeon?”

“Aku… aku mau muntah.”

Tanpa pikir panjang Chanyeol langsung mengangkat tubuh Jiyeon dengan kedua tangannya, berjalan tergesa menuju kamar mandi terdekat lalu mendudukkan tubuh gadis itu di atas wastafel persis seperti yang dia lakukan tadi pagi. Namun tidak seperti tadi pagi Jiyeon yang langsung memuntahkan semua isi perutnya, kali ini gadis itu tidak memuntahkan apapun, hanya terlihat seperti orang ingin muntah dan pucat.

“Bagaimana?” tanya Chanyeol binggung, kalut dan khawatir.

Jiyeon hanya menggeleng lemah, “Rasa mualnya sudah hilang.” Jawab gadis itu senang, tidak begitu mengerti karena tiba-tiba dia sudah tidak ingin muntah, mengusap peluh yang tertinggal di wajahnya.

Ah, syukurlah.” Chanyeol menarik napas lega.

Jiyeon memandangi Chanyeol yang tersenyum lebar, mengacak rambut hitamnya, terlihat menawan dalam balutan kemeja putih dan dasi, walau sudah melilit longgar di lehernya. Dan rasa asing itu kembali datang, rasa rindu yang ingin sekali merengkuh tubuh tegab itu dalam pelukan. Rasa yang membuat Jiyeon harus mengerjabkan matanya, menggeleng cepat seraya bergumam, memaki diri sendiri yang tidak tahu diri karena merindukan pria yang telah menyakitinya. Ya Jiyeon masih sangat ingat dengan kejadian kelam itu, masih sangat ingat saat Chanyeol merenggut paksa kehormatannya, masih sangat ingat jika saat ini sudah tumbuh janin dari benih pria yang berdiri di hadapannya. Pria yang sialnya justru sangat dia rindukan akhir-akhir ini.

Jiyeon menatap lantai yang ada di bawah kakinya, menimang seraya berpikir cara untuk turun dari atas meja marmer wastafel. Tadi pagi karena panik Chanyeol kembali menurunkan tubuhnya dari meja wastafel, sekarang di saat semuanya normal, Jiyeon tidak mungkin membiarkan Chanyeol menyentuh tubuhnya lagi. Jiyeon melirik Chanyeol yang berdiri binggung di depannya, laki-laki itu terlihat hanya menggaruk tengkuk, menendang udara kosong di depannya wajahnya sedikit menunduk. Jiyeon merasa inilah kesempatan untuk turun dari meja wastafel, tanpa bantuan pria itu, tidak akan berbahaya karena hanya berjarak dua jengkalan tangan.

Namun tanpa diduga tangan Jiyeon terpeleset karena batu marmer wastafel yang agak licin, membuat gadis itu terkejut dan menjerit tertahan. Terhuyung ke depan dan hampir beringsut ke lantai, jika saja Chanyeol tidak sigap melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu. Jiyeon selayak es, membeku, mematung dengan tangan yang sudah melingkar erat di sekeliling bahu Chanyeol. Aroma tubuh Chanyeol yang maskulin menelusup ke indra penciuman Jiyeon, masuk memenuhi paru-paru, mengelitik sekaligus mendebarkan hingga Jiyeon tidak sadar jika kini tubuhnya sudah mendarat di lantai.

Perlahan Jiyeon merasakan Chanyeol melepaskan rangkulannya, menjauhkan tubuhnya hingga mau tidak mau dia harus melepaskan rangkulan di bahu Chanyeol, walau dia merasa sangat tidak rela. Jiyeon menunduk, merasa jika wajah pucatnya sudah berubah merah muda, tangannya dingin, napasnya nyaris putus karena jantungnya berdetak terlalu cepat. Jiyeon bahkan berpikir jika mungkin sekarang jantungnya sudah mulai rusak dan perlu tranplantasi jantung secepat mungkin.

Chanyeol yang tak kalah terkejut karena Jiyeon hampir saja terjatuh, terlihat memandang cemas gadis itu. “Kau baik-baik saja?” tanya Chanyeol pada akhirnya, tetap memandangi Jiyeon yang kian menunduk.

“Jiyeon.”

Jiyeon mendongak, menatap Chanyeol yang berdiri beberapa langkah di depannya. Memandanginya lekat dan tanpa sadar kaki Jiyeon bergerak, namun saat baru saja Jiyeon ingin melangkah Jihye sudah menyeruak masuk dari balik pintu kamar mandi yang terbuka, menatap Jiyeon dengan cemas seraya menghampiri gadis itu.

“Kau baik-baik saja Jiyeon?” Jihye mengusap wajah Jiyeon sekilas. “Dokter kandunganmu sudah siap, kita ke kamar sekarang, eoh?” Jiyeon hanya diam, tak menolak saat Jihye menuntunnya keluar dari kamar mandi. Rasa bahagia yang menaunginya tadi sudah lenyap, semangatnya hilang diterkam badai kesedihan hingga langkahnya lunglai, ia terlalu sedih saat membayangkan harinya yang akan terasa sepi selama dua hari ke depan.

~000~

Keesokan harinya, seperti yang sudah terencana Chanyeol dan Sehun bersiap untuk terbang ke Macau. Chanyeol terlihat memukau dalam balutan pakaian kasual yang dikenakannya. Dia mengenakan jelana jins belel dengan sedikit robekan dinamis dibeberapa sisi, kaos polos berwarna hitam dilapisi jaket kulit yang juga berwarna hitam, kemeja kotak-kotak berwarna merah hitam melilit disekeliling perutnya yang berotot. Terlihat berkali-kali lebih memikat, di tambah kacamata hitam yang membingkai wajah tegasnya dan sebuah topi hitam beraksen putih di atas kepalanya. Tampak kontras dengan apa yang dikenakan Sehun, ia mengenakan jins hitam, kaos polos hitam, mantel merah sebatas paha sebagai luarannya. Sedangkan Yoojin dan Jongin memutuskan untuk menyusul, karena harus menyelesaikan beberapa pekerjaan. Mereka berjalan beriringan menuju landasan pesawat yang berjarak beberapa meter, dari tempat Chanyeol memakirkan mobilnya

“Dia bisa bertahan hingga sekarang karena kau mengurungnya, Chanyeol. Aku yakin keadaannya tidak sebaik sekarang, jika kau mengajaknya melihat dunia luar.”

Chanyeol mendesah untuk topik pembicaraan yang terasa terlalu berat jika disantap sepagi ini, Chanyeol membalikkan tubuhnya, menatap Sehun yang terlihat hanya menggaruk tengguk. Sadar jika kalimat yang dia lontarkan terlalu sensitive untuk dibahas.

“Haruskah kita membahasnya sekarang? Bukankah hari ini jadwalnya kita untuk bersenang-senang.”

“Maaf… aku hanya ingin memperingatkanmu.”

Mereka kembali meneruskan langkah kaki, menerima bungkukan hormat dari tiga orang pengawal yang ada di ujung tangga pesawat. Menaiki tangga dan menghilang di balik pintu kabin. Dua orang pramugari cantik menyambut mereka, terlihat ramah dalam balutan senyum terprogram yang akan terlayang jika sedang berada di depan si pemilik Jet mewah. Pesawat Jet yang dibeli Sehun beberapa tahun lalu, berharga ratusan juta Dollar, berdesain minimalis namun sangat eksklusif. Perlahan pesawat pun lepas landas, membawa mereka terbang diketinggian ribuan kaki di atas permukaan laut.

Sehun meminta dua pramugarinya menghidangkan menu sarapan yang sudah ia siapkan, Jongin duduk dihadapan Chanyeol, membicarakan beberapa hal ringan yang akan mereka lakukan selama di Macau sebelum Chanyeol meneruskan terbang ke Eropa. Menemui rekan bisnis yang memajukan deadline mereka, membahas perkembangan hotel-hotel mewah miliknya di sana.

“Jangan lupakan orangtua gadis itu, mereka masih mengincarmu. Jika kau menikahi Yoojin saat Jiyeon masih mengandung anakmu, aku yakin mereka akan kembali meradang.”

Chanyeol mengangguk, memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan sensitive ini. “Kau ada benarnya, aku akan membicarakannya dengan Yoojin. Kau tahu, Yoojin bersedia mengasuh bayi itu, jika nanti kami sudah menikah.”

“Apa?”

“Iya Sehun, Yoojin….”

“Tidakkah kau merasa jika Yoojin terlalu baik untukmu, Chanyeol?”

Heemm….”

“Berhati-hatilah karena itu bisa menjadi bumerang untukmu. Ingat, sekarang kau hidup dengan dua wanita, satu wanita bahkan sedang mengandung penerusmu.”

Chanyeol hanya tersenyum, sangat tipis, melanjutkan acara sarapan mereka dalam diam. Dia paham apa yang ingin Sehun sampaikan, dia juga sedang memikirkannya. Setidaknya mencari jalan agar semuanya tetap berjalan baik, tanpa ada yang tersakiti. Sehun tersenyum dibalik tatapannya yang menajam, otak culasnya tertawa hingga terbahak, bahagia dalam sindrom kepuasan karena hingga saat ini, Chanyeol tidak pernah tahu tipu muslihat yang sedari tadi coba diutarakan Sehun lewat penuturan liciknya.

~TBC~

 

 

19 thoughts on “The Night Mistake – Part.7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s