Bittersweet : Stupid, Dumb, Idiot

bittersweet

Author : Iefabings

Main Cast :

  • EXO’s Kai as Kim Jongin
  • Red Velvet’s Seulgi as Kang Seulgi
  • EXO’s Sehun as Oh Sehun

Supporting Cast : f(x)’s Krystal as Jung Soojung

Genre : Romance, hurt, college life, friendship

Rating : PG-13

Length : Multi Chaptered, currently 8

Previous chapters : The CircleHe’s My BoyfriendI Hate YouA Weird DreamApologyWhat IfShe’s My Girlfriend |

Author Note : Chapter ini juga pendek. Udah itu aja wkwk

^^Selamat Membaca^^

***

I know I’m stupid.

But not stupid enough to let you walk out my life.

I know I’m dumb.

Too dumb to realize that I made a mistake and hurt you.

I know I’m idiot.

An idiot who can’t do anything when you’re not around.

I need you here… always.

***

Ada kalanya Jongin merasa iri pada orang lain. Tak rela sesuatu yang diinginkannya terengkuh. Melihat Seulgi berada dalam dekapan Sehun membuat tangannya terkepal. Dia merasa dirinyalah yang seharusnya berada di sana, bukan Sehun. Bukan berarti dia pria bejat yang suka merusak hubungan orang lain. Hanya saja, pemandangan ini terasa tidak benar. Jongin tahu Sehun dan Seulgi saling mencintai. Dia sendiri juga telah memiliki Soojung. Lalu kenapa ada ganjalan di hatinya yang mengatakan bahwa dia ‘menginginkan’ Seulgi?

Jongin mulai berandai-andai. Kalau saja Soojung itu seperti Seulgi. Kalau saja Soojung adalah Seulgi.

“Bodoh,” dia menggumam pelan seraya tersenyum miring. Tidak ingin berlama-lama menyaksikan kedua sejoli itu berpelukan, Jongin berbalik dan melangkahkan kakinya menjauh.

***

Soojung membukakan pintu dengan tergesa dan langsung tersenyum senang saat melihat Jongin berdiri di depan pintu.

“Jongin-ah, tumben datang—“ ucapannya terpotong karena Jongin langsung menghambur ke pelukannya. Tidak hanya itu, Jongin mulai menciumi leher dan pundaknya. “Hey, kau kenapa?” tampaknya Soojung menyadari bahwa Jongin sedang mabuk berat. Biasanya kalau keadaannya begini ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

“Hahaha, tidak ada,” jawab Jongin sambil tertawa pelan, masih dalam keadaan mabuk. “Aku menginginkanmu.”

Soojung mengerti, menutup pintunya rapat dan membiarkan Jongin menciumnya. Kali ini terasa kasar dan sangat menuntut, membuatnya sedikit kesulitan mengimbangi. Berbagai pertanyaan ingin dia utarakan. Mungkin nanti. Setelah Jongin melakukan apa pun yang dia mau atas dirinya dan merasa lebih baik.

***

“Kau tidak suka biologi? Sungguh?”

“Iya—aku tidak ingin kuliah kedokteran, tapi ayahku yang menginginkannya.”

“Lalu selama beberapa hari ini apa yang kau lakukan….?”

“Apa ya? Merenung?”

Seulgi memukul pelan dada Sehun, dan pemuda itu hanya tertawa. Sudah 3 jam—sejak sore sepulang kuliah tadi—mereka berpelukan di atas tempat tidur Seulgi, membicarakan banyak hal dari hati ke hati. Kini mereka makin mengenal satu sama lain. Seulgi tahu poin-poin penting tentang Sehun yang sebelumnya dia tak tahu, begitu juga dengan Sehun.

“Kau mengabaikan semua pesan yang ku kirim,” protes Seulgi, mengerucutkan bibirnya.

“Maafkan aku, sayang,” Sehun mempererat pelukannya. “Aku juga sangat kesulitan. Sungguh, aku merindukanmu.”

“Tapi kenapa mendadak kau bersikap seperti itu?”

Sehun dan Seulgi memang telah terbuka tentang semuanya. Kecuali satu hal. Sehun tidak mengatakan alasan yang membuat pikirannya kalut belakangan ini. Dia tidak ingin membahas apa pun yang berhubungan dengan Jongin. Terlebih karena dia bisa merasakan, pemuda itu menginginkan gadisnya. Yang paling penting sekarang Seulgi hanya mencintainya. Hanya dirinya.

“Aku—“ Sehun berpikir sejenak. “Sebenarnya ada masalah di rumah. Kalau memaksakan diri bertemu denganmu, aku takut nanti malah menumpahkan kekesalanku padamu,” jawab Sehun, berbohong.

“Tapi kau kan bisa bercerita padaku….”

“Aku tidak mau terlihat buruk di depanmu.”

“Bodoh, bodoh, bodoh!”

“Iya, aku sangat bodoh tapi kau mencintaiku,” Sehun terkekeh.

“Menyebalkan!” Seulgi mengerucutkan bibirnya lagi, membuat Sehun tidak bisa menahan diri untuk mengecupnya.

“Cerewet sekali,” Sehun mendekap Seulgi lagi setelah ciuman singkat itu. “Ayo terus seperti ini sampai esok hari,” ucapnya dengan mata terpejam.

“Tidak mauuu! Aku harus belajar,” protes Seulgi, mencoba berontak.

“Khusus malam ini tidak boleh.”

“Aku mau belajar, Oh Sehun!”

“Besok saja di kampus. Malam ini kau milikku.”

Sehun tidak mempedulikan usaha Seulgi untuk bisa melepaskan diri, hingga gadis itu pun menyerah dan balas memeluknya. Sampai pagi.

***

Semuanya membaik. Sehun tidak keberatan saat Seulgi meminta izin untuk kembali ke The Circle, walau dia menekankan untuk tidak pergi jika ada rapat di luar area kampus. Di sini Sehun bertingkah seperti ayah baginya. Persiapan event The Circle terus berjalan. Waktu dan tempat belum bisa mereka pastikan karena perlu berkoordinasi dengan jadwal kuliah masing-masing anggota. Sepertinya mereka baru bisa mengadakan acara bakti sosial ini saat liburan semester nanti. Lalu Soojung—yang benar-benar berubah sejak berkencan dengan Jongin—kini lebih terlihat ramah dan banyak tersenyum. Bahkan dia mulai menyapa Seulgi saat tanpa sengaja bertemu di suatu tempat. Ternyata perkiraan Seulgi tentang dirinya salah. Soojung adalah gadis yang baik dan ramah, hanya butuh waktu untuk bisa dekat dengannya.

Namun, keadaan itu berbanding terbalik dengan hubungannya dan Jongin. Memang tidak ada masalah apa-apa, setiap kali bertemu mereka akur-akur saja. Tapi Jongin tidak mengiriminya pesan sesering dulu. Entah Seulgi yang terlalu berlebihan atau memang benar Jongin sedikit menjaga jarak dengannya. Dia merasa ada yang hilang. Seulgi menganggap itu bukan sesuatu yang patut dipikirkan lebih dalam karena sekarang yang terpenting adalah Sehun kembali seperti dulu. Dia telah memantapkan hatinya bahwa hanya Sehun yang dia butuhkan. Hanya Sehun.

“Sebenarnya kau kenapa?”

“Aku lelah.”

Seulgi terpaku di tempatnya berdiri, menatap pasangan yang sedang berinteraksi. Jongin dan Soojung. Wajah mereka terlihat tidak baik-baik saja. Jongin meninggalkan Soojung begitu saja di belakangnya, sementara Soojung menghela nafas panjang, tampak pasrah. Sebagai orang ketiga—di tempat itu—Seulgi bingung harus bagaimana. Dia hendak masuk basecamp The Circle untuk meletakkan proposal yang telah diterima oleh pihak rumah sakit, tidak mungkin dia berbalik. Tapi jika tetap di sana dan mereka menyadari keberadaannya, dia tidak enak sendiri. Jongin terus berjalan menjauh dari basecamp—sama sekali tidak tahu keberadaan Seulgi. Sementara Soojung kini menoleh dan mendapati dia berdiri dengan wajah polosnya.

“Seulgi?”

“Ma-maaf, aku baru saja datang kok. Mau meletakkan ini di dalam….”

“Tidak apa-apa,” Soojung tersenyum pada Seulgi. “Masuk saja, aku juga sedang beres-beres tadi.”

“Baiklah,” ucap Seulgi kemudian melangkah masuk dengan ragu. Dia membuka laci tempat semua dokumen disimpan dan meletakkan proposalnya di sana.

“Apa pun yang kau lihat tadi…” Soojung mulai bicara lagi. “Jangan bilang siapa-siapa ya.”

Seulgi tertegun. Sepertinya Soojung tahu kalau dia sempat menonton—tanpa sengaja—sebentar kejadian tadi.

“Apa kalian ada masalah?” dia memberanikan diri untuk bertanya.

“Aku juga tidak tahu,” Soojung tersenyum simpul, duduk di salah satu kursi dan menangkup wajahnya. “Dia semakin berubah belakangan ini. Cepat marah, semakin kasar, bahkan saat melakukan sex, dia seperti sedang emosi.”

Seulgi terbatuk saat Soojung mengucapkan kata ‘sex’ tanpa canggung sedikit pun. Rupanya mereka biasa melakukan itu. Iya, Seulgi baru mengetahuinya. Dan harusnya dia tidak perlu terkejut dengan hal itu.

“Oh—maaf, apa kau masih merasa tabu dengan sex?” tanya Soojung setelah melihat respon Seulgi.

“Tidak, itu tidak masalah. Aku bisa memahaminya kok,” Seulgi berusaha meyakinkan.

“Berarti kau belum pernah melakukannya dengan pacarmu?” tanya Soojung lagi, sedikit terkejut.

“Be-belum pernah… tentu saja,” jawab Seulgi lirih. Kenapa sekarang dia yang merasa malu?

“Pantas saja banyak orang yang menyukaimu.” kata Soojung. “Ternyata kau benar-benar polos.”

“Kenapa jadi membicarakan ini?”

“Sebenarnya aku iri padamu, Seulgi-ah,” aku Soojung. Seulgi hanya mengerjapkan matanya.

“Memangnya apa yang ku punya hingga membuatmu iri?”

“Semuanya. Kau memimiliki semua yang terbaik yang bisa membuat orang-orang menyukaimu. Kau tidak sadar, kan? Dan itu justru semakin membuatmu menarik.”

Sungguh, dia jadi salah tingkah. Belum pernah ada seseorang yang mengatakan ini padanya. Terlebih sesama perempuan. Terlebih orang ini adalah Soojung, yang sebelumnya tidak terlalu dekat dengannya. Padahal dia sempat merasa iri pada Soojung juga—sedikit.

“Kau terlalu memuji—“

“Hanya mengatakan fakta yang ada,” potong Soojung. “Kau dekat dengan Jongin, kan?”

Seulgi kaget dengan pertanyaan Soojung yang tiba-tiba. “Ti-tidak sedekat itu, kok. Kami hanya pernah berkirim pesan, dan tanpa sengaja bertemu di cafe. Ya, dia pernah membantuku berbaikan dengan Sehun.”

“Wah, aku bahkan tidak tahu kalian sedekat itu.”

“Tidak—itu tidak seperti yang kau pikirkan,” kata Seulgi cepat.

“Kau kenapa?” Soojung tertawa geli melihat wajah Seulgi. “Aku hanya ingin meminta bantuanmu. Sebagai teman.”

Teman? Entah kenapa Seulgi merasa senang saat Soojung menganggapnya teman.

“Apa yang bisa ku bantu?”

“Bicara pada Jongin. Siapa tahu dia akan terbuka padamu.”

Permintaan yang aneh. Sebelumnya, Jongin pernah mengatakan bahwa hubungan mereka sangat terbuka satu sama lain. Sekarang malah Soojung memintanya bicara pada Jongin. Ternyata masalahnya serumit ini.

“Aku tidak tahu bisa membantu atau tidak—“

“Aku punya firasat hanya kau yang bisa membantuku. Yah, dia memang punya orang terdekat lain—Chanyeol-oppa. Tapi aku tidak bisa membicarakan ini dengannya karena dia pasti akan membela Jongin dan menganggap aku yang terlalu posesif.”

“Baiklah, aku akan bicara dengannya,” putus Seulgi. “Dia sudah membantuku memperbaiki hubungan dengan Sehun. Ku rasa ini bisa jadi balas budi.”

“Terima kasih, Seulgi-ah.”

“Ini bukan apa-apa, sungguh. Aku senang melihat kalian akur.”

“Aku juga merasa iri kau punya pacar yang baik dan sangat perhatian.”

“Kau ini—“

“Pacarmu sedang menunggumu di depan pintu,” tangan Soojung menunjuk pintu basecamp. Seulgi menoleh dan ternyata benar, Sehun berdiri di sana.

“Sehun-ah….”

“Aku mengganggu obrolan para gadis?” tanya Sehun sambil mengangkat bahu.

“Tidak, kami sudah selesai. Maaf, mencegat gadismu hingga membuatmu menunggu,” jawab Soojung sambil terkekeh.

“Tidak masalah.”

Seulgi menghampiri Sehun dan langsung berpamitan pada Soojung. Entah bagaimana Sehun bisa sampai di basecamp The Circle tanpa tersesat. Mereka bergandengan turun dari gedung student center.

“Dia siapa? The Circle juga?”

Seulgi mengangguk. “Namanya Soojung, pacar Jongin.”

“Oh—“ mendengar itu, hati Sehun terasa beribu kali lebih lega. “Jadi itu pacar Kim Jongin.”

“Iya, mereka pasangan yang manis.”

“Kita jauh lebih manis lagi,” Sehun merangkul Seulgi agar lebih dekat dengannya. “Mau eskrim?”

“Tentu,” jawab Seulgi dengan senyum bulan sabitnya.

***

Secara kebetulan—atau mungkin sudah ditakdirkan—dua hari setelahnya Seulgi melihat punggung Jongin sedang mengantri di restoran cepat saji tak jauh dari kampus. Dia sendiri berencana makan siang sendirian karena Seungwan ada jadwal praktikum—mereka berbeda kelompok. Jadi Seulgi menggunakan kesempatan itu untuk berbicara pada Jongin, sesuai janjinya tempo hari. Mula-mula dia berdiri tepat di belakang Jongin, kemudian menepuk-nepuk pundaknya hingga menoleh.

“Oh—hai, Seulgi,” sapa Jongin setelah berbalik, hanya sekilas sebelum dia kembali menghadap kasir untuk membayar pesanannya.

“Makan siang? Aku boleh duduk denganmu kan?”

“Boleh saja,” jawab Jongin, kemudian membawa nampannya ke sebuah meja kosong. Seulgi maju selangkah untuk memesan, dan tak lama setelahnya menyusul Jongin.

“Kenapa tidak makan di kantin?” tanya Seulgi setelah duduk berhadapan.

“Malas.”

“Bukannya makan di luar lebih merepotkan ya? Kau harus berjalan jauh untuk mencapai gerbang kampus—“

“Malas bertemu Soojung,” potong Jongin, sebelum mulai menggigit burgernya.

Seulgi mengernyit, “Sebenarnya kalian kenapa?”

“Tidak apa-apa, ini masalah kami berdua.”

“Oh—ku kira kita teman,” Seulgi mencoba mengingatkan Jongin akan ucapannya sendiri saat dia curhat soal Sehun.

Jongin tertawa pelan. “Kau akan berpikir aku pria bejat kalau mendengarnya.”

“Hah? Kau selingkuh?” tanya Seulgi dengan mata melebar.

“Tidak begitu,” tawa Jongin makin lebar setelah melihat respon Seulgi. “Hanya… sepertinya aku mulai bosan.”

“Bosan ya,” Seulgi manggut-manggut. “Padahal dia sangat mencintaimu.”

“Aku tahu,” sahut Jongin.

“Lalu kenapa?”

“Entahlah, aku merasa dari awal seharusnya tidak menjalin hubungan lebih dari sex-friend dengannya.” Seulgi tersedak cola dan langsung batuk-batuk. “Gwenchana?” tanya Jongin sembari menepuk-nepuk pelan punggung Seulgi.

“Iya, sudah tidak apa-apa,” jawab Seulgi setelah batuknya reda.

“Kau merasa kaget karena ucapanku tentang sex-friend tadi?”

“Ti-tidak juga, Soojung telah menceritakannya padaku.”

“Ah… rupanya dia menceritakannya padamu lalu memintamu bicara padaku?”

“Aku benar-benar ingin membantu kalian,” kata Seulgi ngotot. “Kau kan sudah membantuku baikan dengan Sehun.”

“Iya, aku lupa mengucapkan selamat.”

“Karena itu… bersikaplah lebih baik pada Soojung. Sebagai perempuan, aku bisa merasakan kesedihannya juga. Memangnya apa yang kurang dari dia hingga kau merasa bosan?”

“Sudah ku katakan kan tadi. Sepertinya memang lebih baik menjadi ‘teman’,” Jongin membentuk tanda kutip pada kata ‘teman’.

“Aku tidak tahu bagaimana pola pikir seorang namja. Dengan bersikap seperti ini hanya akan semakin menyakitinya. Kau ingin berakhir? Segera akhiri, agar dia tidak terlalu lama menunggu dan merasa cemas. Tapi kalau kau masih menginginkannya di sisimu, jangan pernah sakiti dia. Aku tahu, dia akan tetap tersenyum padamu dan menerima semua perlakuan burukmu. Dan jika kau memang punya hati, seharusnya kau menjaga perasaan seseorang yang kau miliki. Terlebih dia sangat mencintaimu,” entah dari mana kalimat-kalimat ‘sok’ bijak itu ia dapatkan. Meluncur begitu saja dari bibir Seulgi.

“Maafkan aku,” kata Jongin lirih, dengan ekspresi yang sulit ditebak.

“Minta maaf pada Soojung.”

“Iya, aku akan bicara padanya.”

“Bagus,” Seulgi mengulurkan kedua tangannya dan menepuk-nepuk kedua pipi Jongin. “Biar impas. Hahaha.”

“Bodoh,” gumam Jongin, menatap Seulgi dan membiarkan gadis itu terus menepuk pipinya. Dia bahkan menggenggam tangan Seulgi agar tetap berada di sana.

“Kau bilang apa?”

“Sehun bodoh, jika dia melepaskanmu.”

Lalu jeda dalam ruang dan waktu itu terjadi lagi. Mereka terus bertatapan selama beberapa saat. Seolah hanya ada mereka berdua di tempat itu, waktu itu, suasana itu. Jongin tidak ingin jeda ini berakhir. Begitu juga dengan Seulgi.

‘Bodoh,’ suara batin mereka bersamaan.

***TBC***

31 thoughts on “Bittersweet : Stupid, Dumb, Idiot

  1. Ih aku tetap seulhun stan yaaah walau disini kai manis banget, hiks hikshiks hahaha aku aja galau, gimana seulgi coba hahahah

    Dibayang bayangi dua pemuda tampan exo wkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s